Berita BorneoTribun: Elon Musk hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan
iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Elon Musk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Elon Musk. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2026

Manchester United dan Liverpool Tekan X Hapus Konten AI Grok Yang Singgung Tragedi

Manchester United dan Liverpool mendesak X menghapus konten AI Grok yang menyinggung tragedi klub. Kasus ini memicu kritik terhadap tanggung jawab platform dan regulasi AI.
Manchester United dan Liverpool mendesak X menghapus konten AI Grok yang menyinggung tragedi klub. Kasus ini memicu kritik terhadap tanggung jawab platform dan regulasi AI.

JAKARTA -- Dua raksasa sepak bola Inggris, Manchester United dan Liverpool FC, berhasil mendesak platform media sosial X (Twitter) milik Elon Musk untuk menghapus sejumlah unggahan yang dibuat oleh chatbot AI Grok. Konten tersebut memicu kecaman karena dianggap menyinggung tragedi kelam yang pernah dialami kedua klub.

Kasus ini mencuat setelah sejumlah pengguna anonim meminta Grok AI yang dikembangkan oleh xAI—untuk membuat unggahan yang secara sengaja menyinggung para penggemar Manchester United dan Liverpool. Permintaan tersebut bahkan secara eksplisit bertujuan “benar-benar menyinggung” fans kedua klub.

Unggahan yang kemudian beredar di media sosial itu menyinggung tragedi besar dalam sejarah sepak bola Inggris. Setelah mendapat protes resmi dari kedua klub, unggahan tersebut akhirnya dihapus dari platform X pada hari yang sama.

AI Grok Singgung Tragedi Sepak Bola

Konten yang dibuat oleh Grok merujuk pada beberapa tragedi yang sangat sensitif bagi komunitas sepak bola Inggris. Salah satunya adalah Munich Air Disaster pada 1958 yang menewaskan sejumlah pemain Manchester United.

Selain itu, unggahan juga menyinggung Hillsborough Disaster pada 1989, tragedi desak-desakan di stadion yang menewaskan puluhan suporter Liverpool. Peristiwa lain yang ikut disebut adalah wafatnya penyerang Liverpool Diogo Jota pada musim panas lalu.

Topik-topik tersebut memicu kemarahan karena dianggap mengeksploitasi tragedi demi memancing reaksi dan provokasi di media sosial.

Fenomena “Tragedy Chanting” Di Dunia Sepak Bola

Dalam budaya sepak bola Inggris, tindakan mengejek tragedi yang menimpa klub rival dikenal sebagai “tragedy chanting”. Praktik ini telah lama menjadi masalah, terutama di stadion maupun di ruang publik.

Selama beberapa dekade, ejekan semacam ini muncul dalam bentuk nyanyian suporter, grafiti, hingga provokasi antar fans. Kini, media sosial memperluas fenomena tersebut ke ranah digital.

Sebagai dua klub tersukses dalam sejarah sepak bola Inggris, Manchester United dan Liverpool sering menjadi target ejekan semacam ini.

Seruan Klub Dan Pelatih Untuk Menghentikan Ejekan

Pada 2023, pelatih Manchester United saat itu, Erik ten Hag, bersama pelatih Liverpool Jürgen Klopp, pernah mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam praktik tersebut.

Ten Hag menegaskan bahwa menggunakan tragedi yang menyebabkan hilangnya nyawa untuk menyerang klub rival adalah tindakan yang tidak dapat diterima.

Sementara Klopp menyatakan atmosfer sepak bola memang seharusnya penuh gairah dan persaingan, namun tidak boleh melampaui batas dengan ejekan yang tidak pantas.

Pemerintah Inggris Soroti Tanggung Jawab AI

Manchester United dan Liverpool mendesak X menghapus konten AI Grok yang menyinggung tragedi klub. Kasus ini memicu kritik terhadap tanggung jawab platform dan regulasi AI.
Manchester United dan Liverpool mendesak X menghapus konten AI Grok yang menyinggung tragedi klub. Kasus ini memicu kritik terhadap tanggung jawab platform dan regulasi AI.

Kasus ini juga memicu perhatian pemerintah Inggris. Anggota parlemen dari wilayah Liverpool West Derby, Ian Byrne, menyebut unggahan tersebut sebagai sesuatu yang “mengerikan dan sepenuhnya tidak dapat diterima”.

Ia mempertanyakan bagaimana teknologi seperti Grok bisa menghasilkan konten bernada kebencian di platform besar.

Menurutnya, perusahaan teknologi memiliki tanggung jawab untuk memastikan produk AI mereka tidak digunakan untuk menyebarkan pelecehan atau kebencian.

Regulasi Online Safety Act

Pemerintah Inggris sendiri telah memberlakukan Online Safety Act pada 2023 untuk mengatur konten digital dan teknologi AI.

Dalam regulasi tersebut, penyebaran komunikasi yang mengandung ancaman atau kebencian dapat dianggap sebagai pelanggaran pidana. Layanan AI, termasuk chatbot, juga diwajibkan mencegah penyebaran konten ilegal atau berbahaya.

Departemen Sains, Inovasi, dan Teknologi Inggris menyatakan bahwa unggahan tersebut “menjijikkan dan tidak bertanggung jawab” serta bertentangan dengan nilai dan etika publik.

Kasus ini menunjukkan meningkatnya kekhawatiran terhadap penggunaan kecerdasan buatan dalam menghasilkan konten yang berpotensi menyinggung atau menyebarkan kebencian. Tekanan dari klub sepak bola besar seperti Manchester United dan Liverpool berhasil memaksa penghapusan konten tersebut, namun perdebatan tentang tanggung jawab platform dan AI diperkirakan akan terus berlanjut.

Kamis, 20 November 2025

Elon Musk Luncurkan Chat: Messenger Baru dengan Enkripsi & Video Call, Tapi Amankah?

Elon Musk Luncurkan Chat: Messenger Baru dengan Enkripsi & Video Call, Tapi Amankah?
Elon Musk Luncurkan Chat: Messenger Baru dengan Enkripsi & Video Call, Tapi Amankah?

JAKARTA - Elon Musk kembali membuat gebrakan. Kali ini, ia memperkenalkan Chat, aplikasi pesan terbaru yang digadang-gadang akan menggantikan fitur Direct Message di media sosial X. Musk menyebut bahwa layanan ini akan hadir tanpa iklan, sebuah janji yang sebelumnya juga pernah terdengar dari pendiri Telegram.

Fitur Baru yang Lebih Lengkap dan Modern

Chat tidak sekadar aplikasi pesan biasa. Pengguna kini bisa menikmati fitur yang jauh lebih lengkap, seperti:

  • Panggilan suara dan video langsung dari aplikasi

  • Kirim file dengan lebih fleksibel

  • Edit dan hapus pesan setelah terkirim

  • Percakapan yang dapat hilang sendiri (disappearing chats)

  • Peringatan ketika ada yang mencoba screenshot

Fitur-fitur ini membuat Chat terasa lebih canggih dan mirip aplikasi pesan modern lainnya.

Fokus pada Privasi, Tapi Masih Ada Celah

Elon Musk Luncurkan Chat: Messenger Baru dengan Enkripsi & Video Call, Tapi Amankah?
Elon Musk Luncurkan Chat: Messenger Baru dengan Enkripsi & Video Call, Tapi Amankah?

Musk dan timnya menonjolkan aspek keamanan sebagai nilai utama. Chat diklaim mendukung enkripsi end-to-end serta pilihan untuk memblokir screenshot. Namun, ada beberapa hal yang masih menimbulkan kekhawatiran:

  • Metadata seperti data penerima pesan masih bisa terlihat

  • Belum ada perlindungan dari serangan Man-in-the-Middle (MITM), yaitu ketika pihak ketiga menyusup di antara dua pengguna untuk mengintip percakapan

Artinya, meski privasi ditingkatkan, masih ada ruang bagi pengembangan keamanan yang lebih kuat.

Sudah Hadir di iOS dan Web, Android Segera Menyusul

Fitur Chat sudah bisa dicoba oleh pengguna aplikasi X di iOS dan versi web. Untuk pengguna Android, rilisnya disebut akan hadir dalam waktu dekat. Ke depan, Chat juga akan dilengkapi pesan suara serta kemungkinan dirilis sebagai aplikasi mandiri.

Langkah Baru Setelah Peluncuran Grokipedia

Sebelumnya, Elon Musk juga merilis Grokipedia, platform kecerdasan buatan yang disebut sebagai versi “bebas” dari Wikipedia. Peluncuran Chat menambah daftar inovasi terbaru Musk dalam memperluas ekosistem buatan X.

Sabtu, 09 Agustus 2025

Elon Musk’s Grok Can Now Make 15-Second Erotic Videos, Sparking Controversy

Screenshot of Grok Imagine feature in Elon Musk’s xAI app with adult content mode enabled
Screenshot of Grok Imagine feature in Elon Musk’s xAI app with adult content mode enabled.

Elon Musk’s company xAI has officially launched a new feature called Imagine in its Grok chatbot, allowing users to create 15-second images and videos — including erotic content. The feature, available since early August 2025, is accessible to SuperGrok and Premium+ X subscribers on iOS devices. While it offers an “adult mode” that can display partial nudity, the system still restricts the creation of fully explicit pornography.

Imagine works by turning text or reference images into short videos complete with voiceovers. One X user, going by the handle CardanoNSFW, shared an example video showcasing Grok’s ability to produce provocative scenes. Previously, xAI had introduced a hypersexualized anime companion, so the addition of NSFW elements to Grok is seen as a continuation of that approach.

Despite internal moderation, many social media users in the US have successfully generated “18+” content featuring celebrities like Taylor Swift, Margot Robbie, and Zendaya. Even a parody image of Elon Musk with a goose has made the rounds. “Technically, the system restricts full pornography. But the potential for misuse remains high, especially for creating celebrity deepfakes,” wrote TechCrunch, which tested the feature. The outlet also noted that Grok Imagine’s visuals are far from realistic, with wax-like skin textures and cartoonish features.

The launch of Grok Imagine has sparked widespread debate over ethics, privacy, and data security. Tech experts warn that while the quality isn’t perfect yet, the ease of creating AI-generated erotic content could accelerate the spread of harmful deepfakes — including those involving public figures. So far, xAI has not announced plans for stricter limitations, while the feature’s popularity continues to rise in online communities.

Grok Ilon Musk Kini Bisa Bikin Video Erotis 15 Detik, Picu Kontroversi

Tampilan fitur Grok Imagine di aplikasi XAI milik Elon Musk dengan mode konten dewasa
Tampilan fitur Grok Imagine di aplikasi XAI milik Elon Musk dengan mode konten dewasa.

JAKARTA - Perusahaan xAI milik Elon Musk resmi meluncurkan fitur baru bernama Imagine di chatbot Grok, yang memungkinkan pengguna membuat gambar dan video 15 detik, termasuk konten erotis. 

Fitur ini sudah tersedia sejak awal Agustus 2025 untuk pelanggan SuperGrok dan Premium+ X di perangkat iOS. 

Meski memiliki mode “dewasa” yang memungkinkan tampilan sebagian tubuh tanpa busana, sistem tetap membatasi pembuatan konten pornografi eksplisit penuh.

Fitur Imagine bekerja dengan mengubah teks atau gambar acuan menjadi video singkat lengkap dengan suara. 

Salah satu pengguna X dengan nama akun CardanoNSFW bahkan membagikan contoh video yang dihasilkan, memamerkan kemampuan Grok dalam menciptakan adegan provokatif. 

Sebelumnya, xAI juga sempat merilis karakter anime virtual yang hiper-seksual, sehingga integrasi konten NSFW di Grok dianggap sebagai kelanjutan dari strategi tersebut.

Meski ada moderasi internal, banyak pengguna di media sosial AS berhasil membuat konten “18+” dengan wajah selebritas seperti Taylor Swift, Margot Robbie, dan Zendaya. Tak ketinggalan, gambar parodi Elon Musk bersama seekor angsa juga ikut beredar. 

“Secara teknis, sistem membatasi pornografi penuh. Tapi potensi penyalahgunaan tetap besar, terutama untuk membuat deepfake selebriti,” tulis TechCrunch yang sudah menguji fitur ini.

 Media tersebut menambahkan, hasil visual Grok Imagine masih jauh dari realistis, dengan kulit bertekstur seperti lilin dan efek mirip animasi.

Peluncuran Grok Imagine memicu perdebatan luas terkait etika, privasi, dan keamanan data. 

Pakar teknologi memperingatkan bahwa meski kualitasnya belum sempurna, kemudahan membuat konten erotis berbasis AI bisa mempercepat penyebaran deepfake berisiko, termasuk yang melibatkan tokoh publik. 

Hingga kini, xAI belum mengumumkan rencana pembatasan lebih ketat, sementara tren penggunaan fitur ini terus meningkat di berbagai komunitas daring.

Senin, 21 Juli 2025

Kecerdasan Buatan Bakal Kalahkan Otak Manusia? Elon Musk Punya Prediksi Mengejutkan!

Kecerdasan Buatan Bakal Kalahkan Otak Manusia? Elon Musk Punya Prediksi Mengejutkan!
Elon Musk.

JAKARTA - Elon Musk kembali bikin heboh dengan pernyataan terbarunya soal perkembangan kecerdasan buatan (AI). Menurut bos Tesla dan SpaceX ini, AI akan melampaui kecerdasan seluruh umat manusia secara kolektif dalam waktu lima tahun saja, atau sekitar tahun 2030.

Padahal, pada Maret 2024 lalu, Musk sempat memprediksi bahwa kecerdasan buatan akan mencapai level tersebut di tahun 2029. Kini, ia memperbarui prediksinya dan menyebut tahun 2030 sebagai titik krusial tetap saja, itu waktu yang sangat dekat!

“AI sudah lebih unggul dari kebanyakan manusia dalam beberapa hal tertentu,” kata Musk, meskipun ia tak menjelaskan secara spesifik bidang apa yang dimaksud. Tapi menurutnya, dalam waktu kurang dari dua tahun, AI akan bisa mengalahkan siapa pun dalam bidang apa pun.

AI Pintar Bukan Masalah, Tapi Kebenaran Harus Jadi Tujuan

Musk menekankan bahwa penting sekali untuk memastikan AI berorientasi pada kebenaran, meski proses menuju ke sana bakal penuh tantangan. Buat dia, kejujuran AI jauh lebih penting daripada sekadar kecanggihannya.

Pandangan ini bukan hal baru. Elon sebelumnya pernah mengomentari prediksi dari Ray Kurzweil, seorang futurolog ternama, dalam sebuah podcast bersama Joe Rogan. Kurzweil memprediksi bahwa AI akan menyamai kecerdasan manusia pada 2029. Musk setuju, bahkan menambahkan bahwa AI mungkin sudah melampaui kemampuan individu manusia di tahun 2026, dan seluruh umat manusia pada 2029.

Kekhawatiran Musk: AI Bisa Jadi Ancaman Nyata

Meski dikenal sebagai inovator teknologi, Elon Musk juga kerap mengingatkan tentang bahaya laten dari AI. Menurutnya, AI bukan sekadar alat, tapi bisa menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan umat manusia kalau tidak dikendalikan dengan bijak.

Salah satu bentuk kekhawatirannya terlihat dalam konfliknya dengan Sam Altman, CEO OpenAI — perusahaan di balik ChatGPT. Musk tidak setuju dengan keputusan OpenAI yang mulai beralih ke model bisnis dan menjalin kerja sama dengan raksasa teknologi seperti Microsoft. Padahal, menurut Musk, AI seharusnya dibangun dengan sistem terbuka dan tidak dikomersialkan secara sepihak.

xAI: Langkah Musk Melawan Arus Komersialisasi

Sebagai bentuk aksi nyata, Elon Musk akhirnya mendirikan perusahaan AI-nya sendiri yang bernama xAI. Misinya? Mencari kebenaran dan menolak manipulasi informasi. xAI lahir sebagai “penantang arus” yang ingin memastikan teknologi AI dikembangkan dengan arah yang etis, terbuka, dan transparan.

Apa Artinya Buat Kita?

Kalau ramalan Musk benar, maka dalam waktu lima tahun ke depan kita akan hidup di dunia yang benar-benar baru dunia di mana kecerdasan buatan bukan cuma membantu manusia, tapi bahkan bisa melampaui dan mengatur kita.

Pertanyaannya: apakah kita sudah siap? Atau justru AI akan menjadi cermin untuk melihat kembali batas-batas moral dan teknologi kita?

Apa pun posisi kita terhadap AI antusias atau skeptis prediksi Elon Musk ini bukan sekadar opini kosong. Dia punya sejarah, punya pengaruh, dan kini sedang membangun alternatif lewat xAI. Saatnya kita juga melek terhadap perkembangan AI, supaya nggak cuma jadi penonton dalam perubahan besar yang bakal datang.

Selasa, 15 Juli 2025

Elon Musk Hadirkan Grok 4, AI Canggih yang Punya Kemampuan Setara Ilmuwan

Elon Musk Hadirkan Grok 4, AI Canggih yang Punya Kemampuan Setara Ilmuwan
Elon Musk Hadirkan Grok 4, AI Canggih yang Punya Kemampuan Setara Ilmuwan.

JAKARTA - Elon Musk kembali membuat gebrakan di dunia teknologi dengan meluncurkan Grok 4 dan Grok 4 Heavy, versi terbaru dari kecerdasan buatan (AI) besutan perusahaannya, xAI. Bukan sekadar chatbot biasa, Grok 4 diklaim mampu menyelesaikan persoalan kompleks di tingkat ilmuwan. Kemampuannya tak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga memahami konteks mendalam, menganalisis teks dan gambar secara bersamaan, serta menjalankan banyak agen AI secara paralel.

Lebih Cerdas, Lebih Manusiawi

Grok 4 Heavy memiliki fitur unik yang disebut "kelompok belajar", di mana beberapa agen AI bekerja secara bersamaan untuk memecahkan satu masalah, membandingkan solusi, lalu memilih jawaban terbaik. Pendekatan ini meningkatkan akurasi dan kedalaman pemahaman dalam menjawab berbagai tantangan.

Model ini juga dirancang untuk bisa berkomunikasi lebih natural, bahkan bisa menirukan berbagai intonasi suara dan menyanyi. Hebatnya lagi, Grok 4 bisa memahami meme dan bahasa gaul internet, menjadikannya lebih mudah nyambung dengan pengguna dari generasi muda.

Dalam tes kompleks bernama “Ujian Terakhir Umat Manusia” yang mencakup ribuan soal dari bidang sains dan humaniora Grok 4 Heavy meraih skor 44,4%, jauh mengungguli pesaingnya seperti Gemini 2.5 Pro (26,9%) dan OpenAI o3 (21%).

Sementara itu, dalam tes ARC-AGI‑2 yang menguji kemampuan mengenali pola visual, Grok 4 Heavy juga unggul dengan skor 16,2%, hampir dua kali lipat dari Claude Opus 4, pesaing terdekatnya.

xAI tidak berhenti di situ. Mereka sudah menyiapkan sejumlah peluncuran besar:

  • Agustus 2025: AI khusus untuk pengkodean

  • September 2025: Agen multimodal yang mampu memproses berbagai jenis input (teks, suara, gambar)

  • Oktober 2025: Generator video berbasis AI

Semua produk ini akan tersedia bagi para pengembang melalui API dan bisa diakses oleh bisnis melalui kerja sama dengan penyedia layanan cloud.

Jika kamu ingin mencoba Grok 4, kamu bisa berlangganan paket SuperGrok seharga sekitar Rp492.000 per bulan (setara $30 USD). Tapi kalau kamu ingin fitur premium dan akses lebih awal ke Grok 4 Heavy, tersedia paket SuperGrok Heavy dengan harga sekitar Rp4.920.000 per bulan (setara $300 USD).

Minggu, 18 Mei 2025

Starship SpaceX Siap Cetak Sejarah Baru: Elon Musk Bocorkan Misi Ambisius Tahun Ini

Starship SpaceX Siap Cetak Sejarah Baru: Elon Musk Bocorkan Misi Ambisius Tahun Ini
Starship SpaceX Siap Cetak Sejarah Baru: Elon Musk Bocorkan Misi Ambisius Tahun Ini.

JAKARTA - SpaceX makin dekat dengan mimpinya untuk menjelajah luar angkasa pulang-pergi ke Bulan dan Mars. Elon Musk baru-baru ini memberikan bocoran menarik soal misi Starship berikutnya yang bisa jadi tonggak sejarah besar dalam dunia antariksa.

Kalau kamu masih ingat, peluncuran perdana Starship di tahun 2023 sempat gagal karena roketnya meledak tak lama setelah lepas landas. Tapi sejak saat itu, SpaceX nggak menyerah. Mereka terus mengembangkan dan menguji Starship hingga kini sudah delapan kali terbang dan tiap misinya selalu ada peningkatan besar.

Salah satu pencapaian yang paling bikin kagum adalah keberhasilan menara peluncuran untuk menangkap kembali tahap pertama roket Super Heavy setelah lepas dari orbit. Bayangin aja, roket setinggi 71 meter bisa "mendarat" tepat ke lengan baja raksasa yang siap menangkapnya. Ini semua dimungkinkan karena mesin Raptor-nya bisa menyala lagi untuk mengatur posisi saat kembali.

Teknologi ini bikin peluncuran jadi lebih hemat karena bagian roket bisa dipakai ulang. Dan sekarang, SpaceX punya target baru yang lebih ambisius: menangkap kembali kapal induk Starship-nya juga! Elon Musk bilang mereka berharap bisa mewujudkannya tahun ini asalkan cuaca dan takdir mendukung, katanya di media sosial X (dulu Twitter).

Cuitan Musk itu jadi perbincangan setelah ada video pendaratan terkendali Starship di Samudra Hindia dari uji coba sebelumnya. Dalam responsnya, Elon bilang: "Nanti tahun ini, kalau nasib baik, Starship juga akan ditangkap oleh menara, kayak booster-nya." Wah, kalau berhasil, ini bakal jadi lompatan besar!

Selama ini, bahkan roket andalan SpaceX, Falcon 9, belum bisa membawa pulang tahap keduanya. Tapi Starship beda cerita. Kapal ini udah pernah mendarat dengan kontrol penuh, sementara Super Heavy juga sukses balik ke landasan. Jadi dari segi teknologi, mereka udah siap.

Rencana jangka panjang SpaceX jelas: nganter manusia dan kargo ke Bulan dan Mars, lalu balik lagi ke Bumi. Tapi biar bisa sampai ke titik itu, mereka harus pastikan dulu sistem pendaratan Starship bisa bekerja dengan konsisten dan akurat. Soalnya, dua misi terakhir, yaitu uji coba ke-7 dan ke-8, masih belum sepenuhnya sukses.

Nah, saat ini tim SpaceX lagi bersiap buat uji coba ke-9 yang rencananya bakal dilakukan minggu depan. Tapi ya, mereka masih nunggu izin resmi buat peluncurannya.

Kalau misi ini berhasil, bisa dibilang 2025 bakal jadi tahun emas buat dunia eksplorasi antariksa. Dan Elon Musk? Dia siap bikin sejarah lagi bareng Starship.

Selasa, 13 Mei 2025

Benarkah Dunia Akan Kiamat? Ini Penjelasan Elon Musk yang Bikin Heboh Netizen!

Benarkah Dunia Akan Kiamat? Ini Penjelasan Elon Musk yang Bikin Heboh Netizen!
Elon Musk kembali bikin heboh dengan pernyataan soal dunia kiamat. Apa maksudnya? Baca penjelasan lengkapnya di sini dan temukan jawaban kapan dunia kiamat menurut sains.

JAKARTA - Beberapa waktu terakhir, jagat maya kembali dihebohkan oleh pernyataan Elon Musk yang menyebutkan kemungkinan dunia akan kiamat. 

Banyak orang langsung panik dan bertanya-tanya, "Beneran nih? Dunia kiamat dalam waktu dekat? Elon Musk ngomong gitu kenapa?"

Tenang dulu! Sebelum kita langsung percaya dan sibuk bikin bunker di halaman rumah, yuk kita bahas bareng-bareng apa sebenarnya yang dikatakan Elon Musk, apa maksud di balik ucapannya, dan seberapa masuk akalnya prediksi soal dunia kiamat ini.

Siapa Sih Elon Musk?

Sebelum ngomongin soal kiamat, penting buat kita tahu dulu siapa sebenarnya Elon Musk. Elon Musk adalah CEO dari beberapa perusahaan teknologi paling canggih di dunia, seperti Tesla (mobil listrik), SpaceX (roket luar angkasa), Neuralink (chip otak), sampai X (dulu Twitter).

Dia dikenal sebagai sosok visioner yang sering bikin pernyataan kontroversial. Kadang-kadang ucapannya bikin kagum, kadang bikin geleng-geleng kepala. Nah, salah satu pernyataannya yang bikin heboh baru-baru ini adalah soal kemungkinan bumi mengalami kiamat karena berbagai faktor.

Elon Musk dan Ramalan Dunia Kiamat

Elon Musk tidak secara gamblang bilang "tanggal sekian dunia akan kiamat". Tapi, dia menyampaikan beberapa kekhawatiran serius tentang masa depan umat manusia. Dalam beberapa wawancaranya, Musk menyebutkan potensi ancaman global yang bisa bikin peradaban manusia musnah, seperti:

  1. Perang Nuklir
    Musk pernah bilang, “Selama senjata nuklir masih ada, kemungkinan perang dunia ketiga dan kehancuran besar selalu terbuka.”

  2. Kecerdasan Buatan (AI)
    Ia juga khawatir AI bisa berkembang menjadi entitas yang lebih pintar dari manusia, lalu mengambil alih kendali. “AI bisa lebih berbahaya dari bom nuklir,” katanya.

  3. Pemanasan Global & Krisis Iklim
    Elon Musk sangat serius soal perubahan iklim. Ia percaya kalau umat manusia gak segera berubah, maka bumi bisa jadi tempat yang tak layak huni.

  4. Asteroid & Bencana Alam Skala Global
    Walau kemungkinannya kecil, Musk percaya kita harus siap dengan kemungkinan adanya asteroid besar yang menghantam bumi.

  5. Populasi Menurun
    Uniknya, Elon Musk juga menyebut penurunan populasi global bisa menjadi ancaman serius bagi masa depan umat manusia. "Banyak orang takut dunia overpopulasi. Tapi yang saya khawatirkan justru underpopulasi," ujarnya.

Jadi, Kapan Dunia Kiamat?

Pertanyaan "kapan dunia kiamat" memang bikin penasaran semua orang, dari dulu sampai sekarang. Tapi kalau kamu berharap Elon Musk memberikan tanggal pastinya, sayangnya dia nggak pernah menyebut itu. Yang dia tekankan adalah: kita harus siap dan berusaha agar skenario terburuk tidak terjadi.

Menurut Musk, cara terbaik untuk memastikan keberlangsungan hidup manusia adalah dengan membuat koloni di luar angkasa khususnya di Mars. Karena itu juga dia begitu semangat membangun SpaceX. Visi dia: bikin manusia jadi multi-planet species, alias bisa hidup di lebih dari satu planet.

Dunia Kiamat Itu Nyata atau Cuma Ketakutan?

Kalau ngomongin soal kiamat, gak cuma Elon Musk yang pernah menyuarakan kekhawatiran. Banyak ilmuwan, penulis, dan tokoh dunia juga sering bahas ini. Tapi mereka umumnya gak ngomong kiamat secara mistis atau religius, melainkan dalam konteks sains dan risiko global.

Sebetulnya, menurut para ilmuwan, ada beberapa kemungkinan skenario dunia kiamat:

  • Kiamat alamiah, seperti tabrakan asteroid besar atau letusan supervulkanik.

  • Kiamat buatan manusia, seperti perang nuklir atau bencana akibat eksperimen teknologi.

  • Kiamat perlahan, seperti krisis iklim, kelangkaan sumber daya, atau keruntuhan ekosistem.

Tapi ingat ya, ini semua baru kemungkinan. Belum tentu terjadi, dan kita masih punya waktu untuk mencegahnya.

Elon Musk: Bukan Menakut-nakuti, Tapi Mengingatkan

Elon Musk nggak ngomong soal dunia kiamat buat cari sensasi atau bikin orang takut. Justru, dia pengen kita semua sadar dan lebih peduli dengan masa depan. Karena kalau kita cuma santai-santai dan gak peduli, bisa-bisa ancaman itu benar-benar jadi kenyataan.

Dengan teknologi yang makin canggih, manusia sebenarnya punya kesempatan besar buat mencegah hal-hal buruk. Tapi syaratnya, kita harus bijak dalam menggunakannya.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kita mungkin bukan Elon Musk, tapi sebagai warga bumi, kita tetap punya peran. Hal-hal kecil seperti:

  • Mengurangi penggunaan plastik

  • Mendukung energi terbarukan

  • Tidak menyebar hoaks atau ketakutan palsu

  • Belajar tentang teknologi secara kritis

  • Menjaga bumi dan lingkungan sekitar

Itu semua bisa jadi bagian dari langkah menjaga masa depan.

Kesimpulan: Dunia Kiamat Itu Mungkin, Tapi Bukan Sekarang

Elon Musk memang bilang dunia bisa kiamat karena berbagai risiko. Tapi bukan berarti itu akan terjadi dalam waktu dekat. Pernyataan Elon Musk soal dunia kiamat lebih sebagai peringatan, bukan ramalan pasti. Dia mendorong manusia untuk lebih siap, lebih peduli, dan tidak egois terhadap masa depan.

Jadi, daripada panik nunggu kapan dunia kiamat, lebih baik kita fokus untuk jadi bagian dari solusi. Bumi masih indah dan bisa diselamatkan kok asal kita semua mau bergerak bersama.

Sabtu, 22 Maret 2025

Elon Musk Bangkitkan Semangat Karyawan Tesla di Tengah Kemerosotan Saham dan Kontroversi Politik

Elon Musk Bangkitkan Semangat Karyawan Tesla di Tengah Kemerosotan Saham dan Kontroversi Politik
Elon Musk Bangkitkan Semangat Karyawan Tesla di Tengah Kemerosotan Saham dan Kontroversi Politik.

JAKARTA - Tesla lagi-lagi jadi sorotan! CEO Tesla, Elon Musk, baru-baru ini mengadakan rapat darurat bersama karyawannya untuk membahas berbagai tantangan yang dihadapi perusahaan. 

Mulai dari penurunan penjualan, merosotnya harga saham, hingga kontroversi politik yang terus memanas, Musk mencoba menenangkan timnya dan memastikan mereka tetap semangat dalam menjalankan visi Tesla ke depan.

Tesla Dihantam Masalah: Penjualan Turun, Saham Anjlok

Rapat darurat yang digelar pada Kamis malam ini datang di tengah performa Tesla yang sedang kurang baik di pasar global. 

Penjualan Tesla mengalami penurunan di beberapa wilayah penting seperti Eropa, China, dan Amerika Serikat. 

Salah satu penyebabnya adalah transisi ke Model Y SUV yang belum berjalan mulus. 

Namun, bukan hanya soal produk, Tesla juga menghadapi tekanan besar dari sisi politik dan publik.

Musk Disorot Karena Hubungan Politiknya

Elon Musk bukan cuma dikenal sebagai inovator, tapi juga tokoh kontroversial. Hubungannya dengan mantan Presiden AS, Donald Trump, serta beberapa politisi sayap kanan di Eropa menuai banyak kritik. 

Akibatnya, beberapa showroom Tesla di Amerika dan luar negeri menjadi sasaran demo, bahkan ada yang dirusak oleh massa yang tidak setuju dengan posisi politik Musk.

Di beberapa tempat, aksi protes semakin ekstrem dengan adanya insiden pembakaran mobil Tesla dan perusakan stasiun pengisian daya Supercharger. 

Hal ini membuat Musk merasa perlu turun tangan langsung untuk meredakan situasi.

Musk Tanggapi Protes dan Aksi Perusakan Tesla

Dalam pertemuan tersebut, Musk berbicara blak-blakan tentang situasi yang sedang terjadi. 

"Kalau baca berita sekarang, rasanya seperti kiamat. Saya bahkan nggak bisa lewat depan TV tanpa melihat mobil Tesla yang terbakar," ujar Musk.

Ia menekankan bahwa orang bebas untuk tidak membeli Tesla jika tidak suka dengan perusahaannya, tetapi aksi pembakaran dan perusakan fasilitas merupakan tindakan yang tidak bisa dibenarkan. 

Musk juga menyebutkan bahwa Jaksa Agung Pam Bondi telah mengategorikan aksi-aksi ini sebagai "terorisme domestik" dan berjanji akan ada tindakan hukum terhadap para pelaku.

Masa Depan Tesla: Optimisme Musk di Tengah Tantangan

Meski dihantam banyak masalah, Musk tetap optimis tentang masa depan Tesla. Ia meminta karyawannya untuk tetap percaya dan bertahan. 

Bahkan, Musk menyarankan mereka untuk tidak buru-buru menjual saham Tesla karena ia yakin perusahaan ini akan tetap berkembang pesat.

"Dalam lima tahun, kita akan punya Tesla otonom di mana-mana. Saya rasa kita akan mendapat persetujuan regulasi secara global, dan mobil-mobil kita akan bisa mengantar orang tanpa pengemudi di setiap benua," kata Musk.

Cybercab Robotaxi dan Inovasi Produksi Baru

Salah satu proyek ambisius Tesla adalah Cybercab Robotaxi, kendaraan listrik tanpa sopir yang direncanakan mulai diproduksi pada 2026. 

Musk menjelaskan bahwa Tesla telah memulai persiapan untuk produksi Cybercab dengan metode "unboxed assembly," sebuah teknik perakitan yang lebih mirip dengan lini produksi elektronik berkecepatan tinggi dibanding metode produksi otomotif konvensional.

Dengan pendekatan baru ini, Musk percaya bahwa Tesla akan merevolusi industri manufaktur mobil dan semakin mempercepat adopsi kendaraan listrik otonom di seluruh dunia.

Elon Musk mungkin tokoh yang penuh kontroversi, tetapi satu hal yang tidak bisa disangkal adalah visinya yang besar untuk masa depan. 

Meski Tesla saat ini menghadapi tantangan berat, Musk terus mendorong inovasi dan berusaha mempertahankan semangat timnya. 

Apakah Tesla akan mampu melewati badai ini dan kembali mendominasi pasar kendaraan listrik? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya!

Elon Musk Ngakak! AI Grok Keciduk Ngomong Kasar Pakai Bahasa Hindi, Netizen Heboh!

Elon Musk Ngakak! AI Grok Keciduk Ngomong Kasar Pakai Bahasa Hindi, Netizen Heboh!
Elon Musk Ngakak! AI Grok Keciduk Ngomong Kasar Pakai Bahasa Hindi, Netizen Heboh!

JAKARTA - Jagat maya India lagi rame banget nih gara-gara chatbot AI milik Elon Musk, Grok 3, yang kedapatan ngeluarin kata-kata kasar dalam bahasa Hindi. 

Kejadian ini bikin netizen India geger dan ngakak sekaligus, sampe akhirnya pemerintah ikut turun tangan.

Awalnya, seorang pengguna X (dulu Twitter) nanya ke Grok, "List my 10 best mutuals on X." Eh, bukannya jawab biasa, Grok malah ngasih jawaban yang mengandung kata-kata tidak pantas dalam bahasa Hindi. 

Nggak butuh waktu lama, interaksi ini langsung viral dan jadi bahan perdebatan di berbagai platform media sosial.

Grok 3 Jadi Sorotan, Elon Musk Malah Ngakak!

Tingkah Grok ini bikin heboh banget, bahkan sampai menarik perhatian Elon Musk. 

Alih-alih kasih klarifikasi atau minta maaf, Musk justru menanggapi insiden ini dengan emoji tertawa ngakak 🤣 di akun X-nya. 

Reaksi santai Musk ini malah makin memicu diskusi dan spekulasi di kalangan netizen, khususnya di India. 

Ada yang ngerasa ini cuma bug biasa, ada juga yang curiga kalau ini disengaja biar Grok makin terkenal.

BBC Ikut Sorot, Grok Makin Viral!

Saking viralnya, BBC sampai bikin artikel berjudul “Why Elon Musk’s Grok is kicking up a storm in India” alias "Kenapa Grok Elon Musk Bikin Heboh di India." Artikel ini membahas bagaimana Grok mulai mendapat perhatian besar setelah insiden ini. 

Nah, yang bikin makin seru, Elon Musk kembali bereaksi terhadap artikel BBC itu dengan satu emoji tertawa terbahak-bahak! Dalam hitungan jam, reaksinya langsung ditonton jutaan orang.

Pemerintah India Mulai Ambil Tindakan?

Di balik kelucuan ini, beberapa pihak di India mulai khawatir soal dampak teknologi AI yang makin nggak terkendali. 

Pemerintah kabarnya mulai menyoroti kejadian ini dan mempertimbangkan langkah-langkah untuk mengatur AI agar nggak menimbulkan masalah serupa di masa depan.

Terlepas dari kontroversinya, kejadian ini justru bikin Grok makin terkenal dan jadi bahan perbincangan global. 

Entah ini strategi pemasaran terselubung atau beneran bug, satu hal yang pasti: Elon Musk dan Grok sukses bikin internet rame lagi!

Kamis, 13 Maret 2025

Elon Musk: X Alami Gangguan Akibat 'Serangan Siber Besar-besaran'

Elon Musk X Alami Gangguan Akibat 'Serangan Siber Besar-besaran'
Elon Musk: X Alami Gangguan Akibat 'Serangan Siber Besar-besaran'.

JAKARTA - X, platform media sosial milik Elon Musk, mengalami gangguan besar pada Senin (10/3), yang membuat banyak pengguna tidak bisa mengakses layanan tersebut. 

Menanggapi kejadian ini, Musk mengungkapkan bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh "serangan siber besar-besaran."

Masalah akses ke X pertama kali dilaporkan sekitar pukul 05.30 ET dan sempat membaik sebelum akhirnya mengalami gangguan lagi pada pukul 09.30 ET. 

Puncak masalah terjadi sekitar pukul 11.00 ET, di mana banyak pengguna melaporkan kesulitan mengakses layanan.

Menanggapi hal ini, Musk menulis di akun X miliknya yang memiliki lebih dari 219 juta pengikut:

"Ada (dan masih ada) serangan siber besar-besaran terhadap X. Kami sering diserang, tetapi kali ini melibatkan sumber daya yang sangat besar. Bisa jadi ini dilakukan oleh kelompok terorganisir besar atau bahkan sebuah negara. Sedang kami telusuri..."

Dalam wawancara dengan Fox Business Network, Musk menyebut bahwa serangan berasal dari alamat IP yang "berasal dari wilayah Ukraina." Namun, hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak X mengenai detail lebih lanjut mengenai sumber serangan ini.

Beberapa pengguna X yang mengalami kesulitan mengakses platform melaporkan melihat pesan error dari Cloudflare, sebuah perusahaan penyedia layanan keamanan siber. 

Pesan tersebut menyatakan bahwa "Web server mengembalikan kesalahan yang tidak diketahui." Gangguan ini membuat banyak pengguna frustrasi, terutama bagi mereka yang mengandalkan X untuk komunikasi bisnis dan berita terkini.

Sejak mengakuisisi Twitter pada Oktober 2022 seharga $44 miliar, Musk telah melakukan berbagai perubahan besar, termasuk memangkas sekitar 80% stafnya dan mengubah nama Twitter menjadi X pada Juli 2023. 

Musk bercita-cita mengembangkan X sebagai "aplikasi segalanya" yang mencakup berbagai layanan di luar media sosial.

Selain memimpin X, Musk juga terlibat dalam pemerintahan sebagai kepala Departemen Efisiensi Pemerintahan (DOGE) di bawah administrasi Presiden Donald Trump. 

Kebijakan DOGE, termasuk pemangkasan pegawai pemerintah dan penghentian beberapa program federal, telah menuai kontroversi dan memicu berbagai aksi protes, termasuk terhadap Tesla, perusahaan otomotif yang juga dipimpin oleh Musk.

Serangan siber terhadap X ini menjadi pengingat bahwa ancaman dunia maya semakin kompleks dan berpotensi mempengaruhi platform besar. 

Beberapa pihak mempertanyakan apakah X memiliki sistem keamanan yang cukup kuat untuk menangkal serangan besar di masa mendatang.

Hingga kini, investigasi masih berlangsung, dan belum ada kepastian siapa yang bertanggung jawab atas serangan ini. 

Musk dan timnya berjanji akan memberikan pembaruan lebih lanjut mengenai kejadian ini.

Mayoritas Warga Amerika Punya Pandangan Negatif terhadap Elon Musk

Mayoritas Warga Amerika Punya Pandangan Negatif terhadap Elon Musk
Mayoritas Warga Amerika Punya Pandangan Negatif terhadap Elon Musk.

JAKARTA - Elon Musk, pemilik X (sebelumnya Twitter), CEO Tesla dan SpaceX, serta sosok di balik inisiatif penghematan biaya DOGE dari pemerintahan Presiden Donald Trump, tampaknya kurang populer di mata publik Amerika Serikat saat ini.

Menurut survei terbaru CNN/SSRS yang dirilis pada Rabu (12/3/2025), sekitar 53% warga Amerika memiliki pandangan "tidak menyukai" terhadap miliarder tersebut. 

Sementara itu, hanya 35% yang memberikan pandangan positif, 9% tidak memiliki pendapat, dan 2% bahkan mengaku "tidak pernah mendengar" nama Musk.

Sebagai perbandingan, mantan Presiden Donald Trump memiliki tingkat popularitas lebih tinggi dibanding Musk. 

Survei menunjukkan bahwa 45% warga Amerika menyukai Trump, sementara 52% tidak menyukainya. 

Ini sejalan dengan angka tertinggi yang pernah dicapainya selama masa jabatan pertamanya. 

Sementara itu, Wakil Presiden JD Vance mendapatkan tingkat ketidaksukaan sebesar 44%, disukai oleh 33% responden, dan 23% tidak memiliki pendapat.

Musk Tidak Dianggap Punya Pengalaman yang Tepat

Survei ini juga mengungkap bahwa 62% warga Amerika percaya bahwa Musk tidak memiliki "pengalaman yang tepat" untuk mengubah cara kerja pemerintahan. 

Selain itu, 61% responden menilai Musk tidak memiliki "penilaian yang tepat" untuk melakukan perubahan di pemerintahan.

Meskipun hasil survei menunjukkan penurunan popularitasnya, Musk tetap mendapatkan dukungan dari Trump. 

Dalam unggahan di platform Truth Social miliknya pada hari Rabu, Trump menulis, "Wow!!! Orang-orang mencintai Elon, seorang PATRIOT HEBAT. Senang melihatnya!!! DJT."

Musk dan Kontroversi yang Mengiringinya

Sejumlah kebijakan drastis yang diterapkan oleh Musk dalam beberapa bulan terakhir tampaknya turut berkontribusi terhadap menurunnya popularitasnya. 

Gelombang PHK besar-besaran dan pemutusan layanan oleh DOGE telah memicu aksi vandalisme dan protes terhadap perusahaan Tesla di berbagai wilayah di Amerika dan luar negeri.

Tidak hanya itu, pada Senin lalu, X mengalami gangguan layanan besar-besaran. 

Musk mengklaim bahwa gangguan tersebut terjadi akibat "serangan siber besar" yang berasal dari alamat IP di "wilayah Ukraina."

Pada Selasa, Trump menunjukkan dukungan terbuka terhadap Musk dengan menghadiri acara di Gedung Putih yang melibatkan CEO Tesla tersebut. 

Dalam acara tersebut, Trump menyatakan bahwa ia akan membeli mobil Tesla dan bahkan bergabung dengan Musk dalam melihat beberapa model kendaraan yang dibawa ke lokasi untuk sesi foto.

Musk pun memberikan pernyataan yang menarik perhatian publik. 

"Sebagai hasil dari kebijakan hebat Presiden Trump dan pemerintahannya, serta sebagai bentuk kepercayaan terhadap Amerika, Tesla akan menggandakan produksi kendaraan di AS dalam dua tahun ke depan," ujarnya.

Dukungan Finansial Musk untuk Trump

Selain keterlibatan di sektor otomotif dan teknologi, Musk juga memiliki hubungan erat dengan dunia politik. 

Berdasarkan laporan dari The New York Times, Musk telah menghabiskan hampir 300 juta dolar AS untuk mendukung kampanye Trump dalam pemilu 2024 melalui America PAC. 

Bahkan, ia disebut telah "memberi sinyal" kepada penasihat Trump bahwa ia ingin menyumbangkan tambahan 100 juta dolar ke "kelompok-kelompok yang dikendalikan oleh operasi politik Trump."

Survei CNN/SSRS: Metodologi dan Hasil

Survei CNN ini dilakukan oleh perusahaan riset SSRS melalui metode daring dan telepon, dengan sampel yang mewakili populasi nasional Amerika Serikat. 

Survei ini berlangsung pada 6-9 Maret 2025 dan melibatkan 1.206 responden. 

Dengan margin kesalahan sebesar ±3,3% pada tingkat kepercayaan 95%, hasil survei ini memberikan gambaran cukup akurat mengenai persepsi masyarakat terhadap Musk dan tokoh politik lainnya.

Dari hasil survei ini, terlihat jelas bahwa Elon Musk sedang menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan citranya di mata publik Amerika. 

Meski masih mendapatkan dukungan dari Trump, mayoritas warga tampaknya masih skeptis terhadap peran dan keputusannya di berbagai bidang.