Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Bontang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bontang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Mei 2026

Investasi Bontang Tembus Rp3,08 Triliun, Industri Kimia Jadi Andalan

Investasi Kota Bontang 2025 mencapai Rp3,08 triliun atau 123,23 persen dari target. Industri kimia masih menjadi sektor dominan penopang ekonomi daerah.
Investasi Kota Bontang 2025 mencapai Rp3,08 triliun atau 123,23 persen dari target. Industri kimia masih menjadi sektor dominan penopang ekonomi daerah.

Bontang, Kaltim - Iklim investasi di Kota Bontang terus menunjukkan tren positif sepanjang 2025. Realisasi investasi daerah industri di Kalimantan Timur itu melampaui target tahunan hingga mencapai 123,23 persen.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang Muhammad Aspian Nur menyebut target investasi awal sebesar Rp2,5 triliun berhasil terlampaui dengan capaian realisasi mencapai Rp3,08 triliun.

Muhammad Aspian Nur menjelaskan, pencapaian tersebut sekaligus mencatat pertumbuhan investasi sebesar 13,66 persen dibandingkan realisasi tahun 2024. Kondisi itu dinilai menjadi sinyal meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dan industri di Kota Bontang.

Mayoritas investasi masih berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dengan nilai mencapai Rp3,02 triliun. Sementara Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sebesar Rp54,11 miliar.

Sepanjang 2025, investasi tersebut terealisasi melalui 323 proyek yang dijalankan oleh 81 pelaku usaha besar. Aktivitas investasi itu memperlihatkan geliat pembangunan sektor industri yang masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah.

Pada sektor PMA, investasi paling besar mengalir ke bidang perumahan, kawasan industri, dan perkantoran. Muhammad Aspian Nur menilai perkembangan tersebut menunjukkan Kota Bontang mulai berkembang tidak hanya sebagai kota industri, tetapi juga memiliki daya tarik pada sektor jasa dan hospitality.

Di sisi lain, struktur PMDN masih didominasi sektor industri pengolahan. Industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi menjadi kontributor terbesar dengan porsi mencapai 85,96 persen.

Sektor perdagangan dan reparasi menyusul dengan kontribusi 5,18 persen. Kemudian industri logam dasar dan barang logam bukan mesin sebesar 3,16 persen, usaha jasa lainnya 2,32 persen, serta hotel dan restoran sebesar 1,12 persen.

Muhammad Aspian Nur menegaskan dominasi industri kimia memperkuat posisi Bontang sebagai kawasan industri strategis di Kalimantan Timur. Keberadaan industri besar dan ekosistem pendukung dinilai menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas investasi di daerah tersebut.

Sebaran investasi terbesar berada di Kecamatan Bontang Utara dengan nilai mencapai Rp1,17 triliun atau sekitar 98,94 persen. Sementara Kecamatan Bontang Barat mencatat realisasi Rp9,36 miliar atau 0,79 persen, sedangkan Kecamatan Bontang Selatan sebesar Rp3,2 miliar atau 0,27 persen.

FAQ

1. Berapa realisasi investasi Kota Bontang pada 2025?
Realisasi investasi Kota Bontang pada 2025 mencapai Rp3,08 triliun.

2. Berapa target investasi awal Bontang pada 2025?
Target investasi awal dipatok sebesar Rp2,5 triliun.

3. Sektor apa yang paling mendominasi investasi di Bontang?
Sektor industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi menjadi sektor dominan dengan kontribusi 85,96 persen.

4. Apakah investasi asing juga masuk ke Bontang?
Ya, investasi asing atau PMA tercatat sebesar Rp54,11 miliar.

5. Kecamatan mana yang menerima investasi terbesar?
Kecamatan Bontang Utara menjadi wilayah dengan realisasi investasi terbesar.

Jumat, 01 Maret 2024

Presiden Jokowi Buka Pabrik Amonium Nitrat di Bontang, Kaltim

Presiden Jokowi Buka Pabrik Amonium Nitrat di Bontang, Kaltim
Presiden Jokowi meresmikan pabrik amonium nitrat PT Kaltim Amonium Nitrat, di Kota Bontang, Kalimantan Timur, Kamis (29/02/2024) pagi. (Foto: BPMI Setpres)
BONTANG - Presiden Joko Widodo resmi membuka pabrik amonium nitrat PT Kaltim Amonium Nitrat di Kota Bontang, Kalimantan Timur pada Kamis (29/02/2024) pagi. Dalam sambutannya, Presiden menggarisbawahi bahwa pendirian pabrik ini memiliki dampak strategis dalam menghadapi krisis pangan global serta meningkatkan kemandirian pangan di Indonesia.

"Dulu kalau kita impor yang namanya beras, yang namanya gandum, begitu sangat mudahnya kita cari. Sekarang ini semua negara, 22 negara yang biasanya gampang kita beli berasnya, sekarang ngerem semuanya, bahkan ada yang setop untuk bisa dibeli berasnya. Artinya, pangan ke depan menjadi sangat penting sekali bagi semua negara dan produktivitas pangan kita memerlukan yang namanya pupuk," ujar Presiden.

Presiden Jokowi juga menyatakan bahwa Indonesia masih bergantung pada impor beberapa komponen pupuk, termasuk amonium nitrat, yang merupakan bahan baku penting. Dia berharap dengan kehadiran pabrik ini, impor amonium nitrat dapat berkurang drastis.

"Saya sangat mengapresiasi, sangat menghargai upaya keras pembangunan industri amonium nitrat ini. Ini penting karena 21 persen amonium nitrat kita masih impor. Dengan dibangunnya Pabrik Kaltim Amonium Nitrat ini, akan mengurangi dari 21 persen impor dikurangi 8 persen, artinya masih juga 13 persen kita masih impor," ujarnya.

Pabrik dengan investasi Rp1,2 triliun tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan ketersediaan bahan baku pupuk di dalam negeri, tetapi juga mendorong kemandirian dan produktivitas pangan Indonesia.

"Saya minta ekspansi ini diteruskan sehingga substitusi barang-barang impor itu bisa kita lakukan," tegas Presiden.

Presiden menekankan pentingnya upaya berkelanjutan untuk mencapai kemandirian dalam produksi barang dan produk lainnya, bukan hanya terbatas pada amonium nitrat. Dengan demikian, Indonesia diharapkan dapat mengendalikan kebutuhan domestiknya sepenuhnya dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.

"Tidak hanya urusan amonium nitrat, tetapi juga barang-barang dan produk-produk kita yang masih impor. Harus semuanya bisa diproduksi di dalam negeri karena kita memiliki kekuatan untuk itu," tandasnya.

Acara peresmian juga dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, Ketua Wantimpres Wiranto, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Pj. Gubernur Kalimantan Timur Akmal Malik, dan Wali Kota Bontang Basri Rase. Turut hadir pula sejumlah Direktur Utama perusahaan terkait, seperti Bobby Rasyidin dari DEFEND ID, Rahmat Pribadi dari Holding Pupuk Indonesia, Wildan Widarman dari PT Dahana, dan Budi Wahju Susilo dari PT Pupuk Kaltim.