Berita BorneoTribun Hari ini

Headline

Dunia

Hukum

Lifestyle

Selasa, 10 Maret 2026

Netherlands To Send Frigate To Mediterranean To Support French Naval Mission

The Netherlands will send a frigate to the Mediterranean at France’s request to support security operations and protect maritime routes amid rising Iran tensions.
The Netherlands will send a frigate to the Mediterranean at France’s request to support security operations and protect maritime routes amid rising Iran tensions.

The Netherlands will send a frigate to the Mediterranean amid rising tensions in the Middle East linked to the Iran conflict. The move comes after France requested support to strengthen regional security and help protect allies, including Cyprus.

On Monday, the Dutch government confirmed that the frigate will assist in safeguarding maritime traffic and supporting security operations in the Mediterranean. The deployment is part of broader military coordination among European allies as geopolitical tensions continue to escalate.

The request for the frigate came from France. Previously, the French government asked the Netherlands to provide an air-defense and command frigate to support operations involving the aircraft carrier Charles de Gaulle.

France plans to deploy the aircraft carrier Charles de Gaulle to the Mediterranean. President Emmanuel Macron said the mission is aimed at reinforcing regional stability and strengthening readiness to respond to potential security threats.

With the support of the Dutch frigate, maritime security operations in the Mediterranean are expected to become more effective, particularly in protecting international shipping routes that are vital for global trade. The presence of allied naval forces is also intended to provide additional protection for partner countries in the region.

Security conditions in the Middle East have drawn international attention in recent weeks, as rising tensions could affect regional stability and global shipping lanes. For that reason, military cooperation among European countries is seen as an important step in maintaining security in the region.

Belanda Kirim Kapal Fregat Ke Mediterania Untuk Dukung Operasi Prancis

Belanda mengirim kapal fregat ke Mediterania atas permintaan Prancis untuk mendukung operasi keamanan dan melindungi jalur maritim di tengah ketegangan Iran.
Belanda mengirim kapal fregat ke Mediterania atas permintaan Prancis untuk mendukung operasi keamanan dan melindungi jalur maritim di tengah ketegangan Iran.

Belanda akan mengirimkan kapal fregat ke kawasan Mediterania di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait konflik dengan Iran. Langkah ini dilakukan setelah adanya permintaan dari Prancis untuk memperkuat keamanan regional dan melindungi sekutu, termasuk Siprus.

Pemerintah Belanda pada Senin menyampaikan bahwa kapal fregat tersebut akan membantu menjaga lalu lintas maritim serta memperkuat operasi keamanan di kawasan Mediterania. Penempatan kapal ini juga merupakan bagian dari koordinasi militer dengan sekutu Eropa di tengah situasi geopolitik yang semakin sensitif.

Permintaan pengerahan kapal fregat tersebut datang dari Prancis. Negara itu sebelumnya meminta Belanda mengirimkan kapal fregat pertahanan udara dan komando untuk mendukung operasi militer yang dipimpin Prancis di kawasan tersebut.

Belanda mengirim kapal fregat ke Mediterania atas permintaan Prancis untuk mendukung operasi keamanan dan melindungi jalur maritim di tengah ketegangan Iran.
Belanda mengirim kapal fregat ke Mediterania atas permintaan Prancis untuk mendukung operasi keamanan dan melindungi jalur maritim di tengah ketegangan Iran.

Langkah ini berkaitan dengan rencana Prancis yang akan mengirim kapal induk Charles de Gaulle ke Mediterania. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan pengerahan kapal induk tersebut bertujuan memperkuat stabilitas regional dan meningkatkan kemampuan respons terhadap potensi ancaman keamanan.

Dengan dukungan kapal fregat Belanda, operasi keamanan di Mediterania diharapkan dapat lebih optimal, terutama dalam menjaga jalur pelayaran internasional yang menjadi jalur penting perdagangan global. Selain itu, kehadiran kapal perang sekutu juga dimaksudkan untuk memberikan perlindungan tambahan bagi negara-negara mitra di kawasan tersebut.

Situasi keamanan di Timur Tengah sendiri sedang menjadi perhatian banyak negara, menyusul meningkatnya ketegangan yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan dan jalur perdagangan internasional. Karena itu, kerja sama militer antarnegara Eropa menjadi salah satu langkah untuk menjaga keamanan regional.

Zelensky Says Moscow Is Trying To Exploit Iran Conflict For Strategic Gain

Zelensky says Moscow is trying to exploit the Iran conflict to strengthen its war against Ukraine and challenge Western countries.
Zelensky says Moscow is trying to exploit the Iran conflict to strengthen its war against Ukraine and challenge Western countries.

Ukrainian President Volodymyr Zelenskyy said on Monday that Moscow is attempting to take advantage of the conflict involving Iran for its own strategic interests. The statement was delivered through a post on the social media platform X.

According to Zelensky, Russia is trying to manipulate the situation in the Middle East and the Persian Gulf region. He suggested that Moscow is seeking to turn the escalating tensions into a strategic opportunity connected to the ongoing war in Ukraine.

In his remarks, Zelensky argued that Russia is attempting to transform attacks carried out by Iran’s regime against neighboring countries and U.S. military bases into what he described as a “second front.” Such a development, he warned, could effectively expand Russia’s confrontation with Ukraine.

He also stressed that the move could broaden the conflict beyond Ukraine, potentially involving Western countries more directly. For that reason, Zelensky called for stronger international coordination to prevent further escalation.

“We see that Russia is now trying to manipulate the situation in the Middle East and the Persian Gulf region for the benefit of its aggression,” Zelensky wrote in his post.

He added that the situation should not be allowed to develop unchecked. According to him, the international community must act together to ensure that the protection of human life and regional stability remains a shared priority.

Zelensky emphasized that acts of aggression should not be given the opportunity to coordinate or reinforce one another. He urged countries affected by the tensions to strengthen cooperation in addressing the increasingly complex geopolitical landscape.

His comments come as global attention remains focused on rising tensions in the Middle East, including developments involving Iran and their potential impact on regional stability and relations with Western nations.

Zelensky Tuduh Moskow Manipulasi Konflik Iran Demi Perang Ukraina

Zelensky menuding Moskow mencoba memanfaatkan konflik Iran untuk memperkuat perang melawan Ukraina dan Barat serta memperluas dinamika konflik global.
Zelensky menuding Moskow mencoba memanfaatkan konflik Iran untuk memperkuat perang melawan Ukraina dan Barat serta memperluas dinamika konflik global.

Ukraina, Kyiv -- Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menuding Rusia berupaya memanfaatkan konflik yang melibatkan Iran untuk kepentingannya sendiri. Pernyataan itu disampaikan Zelensky pada Senin melalui unggahan di platform media sosial X.

Menurut Zelensky, Moskow diduga mencoba memanipulasi situasi di kawasan Timur Tengah dan Teluk Persia. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya Rusia untuk memperluas dinamika konflik yang saat ini juga berkaitan dengan perang di Ukraina.

Dalam pernyataannya, Zelensky menyebut bahwa Rusia berupaya mengubah serangan yang dilakukan rezim Iran terhadap negara-negara tetangganya dan pangkalan militer Amerika menjadi semacam “front kedua”. Front tersebut, menurutnya, dapat dimanfaatkan untuk memperkuat posisi Rusia dalam perang melawan Ukraina.

Ia juga menilai langkah tersebut berpotensi memperluas konflik yang tidak hanya melibatkan Ukraina dan Rusia, tetapi juga negara-negara Barat secara lebih luas. Karena itu, Zelensky menekankan pentingnya koordinasi internasional untuk mencegah eskalasi lebih jauh.

“Kita melihat bahwa Rusia sekarang mencoba memanipulasi situasi di Timur Tengah dan kawasan Teluk untuk kepentingan agresi mereka,” tulis Zelensky dalam unggahannya.

Ia menambahkan bahwa upaya tersebut tidak boleh dibiarkan berkembang tanpa respons dari komunitas internasional. Menurutnya, koordinasi global diperlukan untuk memastikan perlindungan terhadap kehidupan dan stabilitas kawasan.

Zelensky juga menegaskan bahwa tindakan agresif tidak boleh diberi ruang untuk berkembang atau saling mendukung satu sama lain. Ia mendorong negara-negara yang terdampak konflik untuk memperkuat kerja sama dalam menghadapi dinamika geopolitik yang semakin kompleks.

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya perhatian global terhadap ketegangan di Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Iran dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan serta hubungan dengan negara-negara Barat.

IRGC Sebut Serangan Rudal Iran Ke Depan Gunakan Hulu Ledak Lebih Dari Satu Ton

IRGC menyatakan Iran akan menggunakan hulu ledak lebih dari satu ton pada serangan rudal di masa depan serta meningkatkan intensitas dan cakupan peluncuran rudal.
IRGC menyatakan Iran akan menggunakan hulu ledak lebih dari satu ton pada serangan rudal di masa depan serta meningkatkan intensitas dan cakupan peluncuran rudal.

Teheren, Iran -- Pernyataan terbaru dari Garda Revolusi Iran memicu perhatian internasional setelah muncul sinyal peningkatan kapasitas serangan rudal negara tersebut. 

Komandan kedirgantaraan IRGC, Majid Mousavi, menyebut bahwa Iran berencana menggunakan hulu ledak lebih dari satu ton dalam serangan rudal di masa mendatang.

Dalam pernyataan yang disampaikan pada Senin, Mousavi mengatakan Iran tidak lagi akan meluncurkan rudal dengan hulu ledak yang beratnya kurang dari satu ton. 

Pernyataan itu menunjukkan kemungkinan peningkatan kekuatan dan skala serangan dalam strategi militer Iran.

Menurutnya, perubahan tersebut merupakan bagian dari penguatan kemampuan serangan rudal Iran

Dengan hulu ledak yang lebih berat, daya hancur setiap rudal diperkirakan akan meningkat dibandingkan dengan sistem yang digunakan sebelumnya.

Mousavi juga menjelaskan bahwa bukan hanya berat hulu ledak yang akan berubah. 

Ia menyebut intensitas peluncuran rudal juga akan meningkat, yang berarti jumlah dan frekuensi serangan dapat menjadi lebih besar.

Selain itu, ia menyinggung soal “panjang gelombang” peluncuran rudal yang akan diperluas. 

Istilah tersebut merujuk pada pola dan jangkauan serangan yang bisa mencakup wilayah lebih luas dibandingkan sebelumnya.

Pernyataan ini menambah perhatian global terhadap perkembangan program militer Iran, khususnya terkait teknologi hulu ledak rudal yang terus diperbarui. 

Para pengamat menilai kebijakan tersebut bisa memengaruhi dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah.

Langkah yang diumumkan oleh IRGC itu menunjukkan bahwa Iran tengah menyiapkan strategi baru dalam penggunaan serangan rudal Iran, baik dari sisi daya hancur maupun intensitas operasional. 

Perkembangan ini kemungkinan akan terus dipantau oleh berbagai negara yang berkepentingan terhadap stabilitas regional.

Trump Disebut Siap Dukung Pembunuhan Mojtaba Khamenei Jika Tolak Tuntutan AS

Trump dilaporkan siap mendukung pembunuhan Mojtaba Khamenei jika Iran menolak tuntutan AS menghentikan program nuklir, menurut laporan The Wall Street Journal.
Trump dilaporkan siap mendukung pembunuhan Mojtaba Khamenei jika Iran menolak tuntutan AS menghentikan program nuklir, menurut laporan The Wall Street Journal.

AMERIKA SERIKAT -- Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan setelah laporan terbaru menyebut kemungkinan langkah keras terhadap pemimpin baru Iran. 

Laporan tersebut menyebut bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, disebut siap mendukung tindakan ekstrem terhadap pemimpin tertinggi Iran jika tuntutan Washington tidak dipenuhi.

Informasi ini pertama kali dilaporkan oleh The Wall Street Journal yang mengutip pejabat Amerika Serikat saat ini dan mantan pejabat pemerintah. 

Dalam laporan itu disebutkan bahwa Trump mengatakan kepada sejumlah penasihatnya bahwa ia akan mendukung langkah untuk membunuh pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, jika ia menolak memenuhi tuntutan Amerika Serikat.

Salah satu tuntutan utama Washington adalah penghentian program nuklir Iran yang selama ini menjadi sumber ketegangan internasional. 

Pemerintah Amerika Serikat menilai program tersebut berpotensi digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir, sesuatu yang selama ini dibantah oleh Teheran.

Nama Mojtaba Khamenei muncul sebagai pemimpin baru Iran setelah perubahan besar dalam struktur kepemimpinan negara tersebut. 

Ia merupakan putra dari pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ali Khamenei, dan selama ini dikenal memiliki pengaruh kuat di lingkaran elite politik serta militer Iran.

Laporan yang sama menyebut bahwa pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan berbagai opsi untuk menekan Iran agar bersedia memenuhi tuntutan Amerika Serikat. 

Opsi tersebut mencakup tekanan diplomatik, sanksi ekonomi tambahan, hingga kemungkinan langkah militer jika situasi terus memburuk.

Ketegangan terkait program nuklir Iran sendiri telah berlangsung selama bertahun-tahun dan melibatkan sejumlah negara besar dunia. 

Amerika Serikat dan sekutunya menuntut transparansi penuh dari Iran, sementara Teheran bersikeras bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan energi dan penelitian sipil.

Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran terkait laporan tersebut. 

Namun pernyataan yang beredar itu berpotensi meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah jika benar-benar menjadi kebijakan resmi Washington.

Situasi ini membuat hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi perhatian komunitas internasional. 

Banyak pihak menilai bahwa langkah diplomasi tetap menjadi jalan penting untuk mencegah konflik yang lebih luas.

Day Nine Of Iran War Marks Official Leadership Announcement Of Mojtaba Khamenei

Mojtaba Khamenei is officially announced as Iran’s new leader as the ongoing Iran war escalates and global oil prices rise amid growing geopolitical tensions.
Mojtaba Khamenei is officially announced as Iran’s new leader as the ongoing Iran war escalates and global oil prices rise amid growing geopolitical tensions.

The war involving the United States and Israel against Iran entered its ninth and tenth days with a significant development. The most notable event was the official announcement of Mojtaba Khamenei’s leadership as Iran’s new leader, as the conflict continues to escalate and pushes oil prices higher in global markets.

Mojtaba Khamenei, 56, was officially introduced Sunday night as the third leader of the Islamic Republic of Iran. The announcement came despite earlier warnings from the President of the United States, Donald Trump, regarding the ongoing conflict.

Iran International had previously reported on March 2 that the Assembly of Experts was under pressure from the Islamic Revolutionary Guard Corps to appoint Mojtaba Khamenei as the successor to his father, Ali Khamenei, who was reported killed.

In the city of Isfahan, supporters of the government gathered in the city’s historic square while the sound of explosions could be heard nearby. The gathering reflected continued support from pro-government groups despite the tense security situation.

Several Iranian politicians and state institutions later issued statements declaring loyalty to the new leader. In a statement, the country’s Defense Council said it would obey the orders of the commander-in-chief “until the last drop of blood.”

Meanwhile, the U.S. president offered only a brief response to the announcement. Speaking to the Times of Israel on Sunday evening, Donald Trump simply said, “We’ll see what happens.”

Military strikes continued on Sunday and Monday across multiple Iranian cities. At the same time, Iran launched retaliatory attacks against Israel and several countries in the region.

Inside Iran, reports from citizens pointed to disruptions in fuel distribution. Messages sent to Iran International said several gas stations in Karaj, Tehran, and nearby areas had closed, while gasoline rationing began to appear in some locations.

Residents reported that the Dadman and Yadegar fuel stations in Tehran were closed Monday due to a lack of gasoline, leaving drivers unable to refuel.

A resident also reported that fuel stations in Lavasan had shut down, while long lines of vehicles formed outside the remaining open stations.

Another citizen said some gas stations in eastern and northeastern Tehran had been closed since the evening of March 6.

Beyond Iran’s borders, the conflict also affected neighboring countries. The government of Turkey announced Monday that NATO air defense systems had shot down a ballistic missile fired from Iran after it entered Turkish airspace. It marked the second such incident since the war began.

At the same time, the government of Israel reiterated that the objective of the war is to bring down Iran’s ruling government, signaling a further escalation in political tensions surrounding the conflict.

Concerns about global energy stability have also intensified. Reuters reported, citing a source in the government of France, that members of the Group of Seven are considering a joint release of emergency oil reserves.

Finance ministers from G7 countries — the United States, the United Kingdom, Canada, Japan, France, Italy, and Germany — are scheduled to meet Monday to discuss the proposal.

In Europe, European Commission President Ursula von der Leyen said there should be no sympathy for Iran’s government. Speaking at the annual meeting of European Union ambassadors in Brussels, she urged leaders to focus on current realities.

Meanwhile, U.S. Secretary of State Marco Rubio referenced the conflict during a flag-raising ceremony marking the U.S. Day of Hostages and Wrongfully Detained Americans.

Rubio said that when it comes to hostage-taking, there has been no worse offender than the regime of ayatollahs in Tehran. He added that leaders of the regime are now being targeted and that the government’s power is weakening day by day.

Rubio also mentioned the anniversary of the disappearance of Robert Levinson in Iran on March 9, saying the case reflects the nature of the government in Tehran.

As the war continues, the announcement of Mojtaba Khamenei’s leadership and the prolonged conflict are increasing global geopolitical tensions while pushing oil prices higher amid uncertainty in the global energy market.

Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Iran Saat Konflik Meningkat dan Harga Minyak Naik

Mojtaba Khamenei resmi diumumkan sebagai pemimpin baru Iran di tengah perang yang terus memanas dan kenaikan harga minyak dunia akibat konflik kawasan.
Mojtaba Khamenei resmi diumumkan sebagai pemimpin baru Iran di tengah perang yang terus memanas dan kenaikan harga minyak dunia akibat konflik kawasan.

Teheran, Iran -- Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki hari kesembilan dan kesepuluh dengan perkembangan besar. Salah satu peristiwa paling menonjol adalah pengumuman resmi kepemimpinan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru Iran, di tengah konflik yang terus meluas dan berdampak pada kenaikan harga minyak di pasar global.

Mojtaba Khamenei, yang berusia 56 tahun, secara resmi diumumkan sebagai pemimpin ketiga Republik Islam Iran pada Minggu malam. Pengumuman ini tetap dilakukan meskipun sebelumnya Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sempat memberikan peringatan terkait situasi konflik yang sedang berlangsung.

Media Iran International sebelumnya melaporkan pada 12 Esfand bahwa Majelis Ahli Kepemimpinan berada di bawah tekanan Islamic Revolutionary Guard Corps untuk menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pengganti ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas.

Mojtaba Khamenei resmi diumumkan sebagai pemimpin baru Iran di tengah perang yang terus memanas dan kenaikan harga minyak dunia akibat konflik kawasan.
Mojtaba Khamenei resmi diumumkan sebagai pemimpin baru Iran di tengah perang yang terus memanas dan kenaikan harga minyak dunia akibat konflik kawasan.

Di kota Isfahan, sejumlah pendukung pemerintah berkumpul di alun-alun bersejarah kota meskipun suara ledakan terdengar di sekitar wilayah tersebut. Beberapa politisi dan lembaga pemerintahan Iran kemudian mengeluarkan pernyataan dukungan terhadap pemimpin baru tersebut.

Dalam pernyataan Dewan Pertahanan Iran disebutkan bahwa mereka akan mematuhi perintah panglima tertinggi hingga titik darah terakhir. Pernyataan ini menegaskan kesetiaan institusi keamanan terhadap kepemimpinan Mojtaba Khamenei.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat hanya memberikan tanggapan singkat terkait penunjukan tersebut. Dalam wawancara dengan media Times of Israel pada Minggu malam, Donald Trump mengatakan, “Kita akan melihat apa yang akan terjadi.”

Serangan militer juga terus berlanjut pada Minggu 17 Esfand dan Senin 18 Esfand. Serangan dilaporkan terjadi di berbagai kota di Iran, sementara Republik Islam Iran juga melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan sejumlah negara di kawasan.

Di dalam negeri Iran, sejumlah warga melaporkan gangguan distribusi bahan bakar. Pesan yang dikirim warga kepada Iran International menyebutkan beberapa SPBU di wilayah Karaj, Teheran, dan sekitarnya ditutup serta mulai terjadi pembatasan penjualan bensin.

Beberapa warga menyebut SPBU Dadman dan Yadegar di Tehran ditutup pada Senin 18 Esfand karena kehabisan stok bensin. Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di kawasan Lavasan, di mana antrean kendaraan terlihat panjang di depan stasiun pengisian bahan bakar.

Warga lainnya mengatakan beberapa SPBU di wilayah timur dan timur laut Teheran mulai ditutup sejak malam 16 Esfand.

Di sisi lain, konflik juga berdampak pada wilayah negara tetangga. Pemerintah Turkey pada Senin menyatakan bahwa sistem pertahanan udara NATO berhasil menembak jatuh rudal balistik yang diluncurkan dari Iran setelah memasuki wilayah udara Turki. Ini merupakan insiden kedua selama perang berlangsung.

Pemerintah Israel juga kembali menegaskan bahwa tujuan utama perang adalah menjatuhkan pemerintahan Iran. Pernyataan tersebut memperlihatkan eskalasi politik yang semakin tajam dalam konflik tersebut.

Kekhawatiran terhadap stabilitas energi global juga meningkat. Reuters melaporkan, mengutip sumber dari pemerintah France, bahwa negara-negara anggota Group of Seven sedang mempertimbangkan rencana pelepasan cadangan darurat minyak secara bersama-sama.

Pertemuan para menteri keuangan negara G7 yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Jepang, Prancis, Italia, dan Jerman dijadwalkan berlangsung pada Senin 18 Esfand untuk membahas langkah tersebut.

Di Eropa, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan bahwa tidak ada alasan bagi dunia untuk bersimpati kepada pemerintah Iran. Dalam pidatonya pada pertemuan tahunan para duta besar Uni Eropa di Brussels, ia menegaskan bahwa dunia harus melihat realitas yang terjadi saat ini.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio juga menyinggung konflik tersebut dalam acara pengibaran bendera untuk memperingati Hari Sandera dan Tahanan Tidak Adil Amerika Serikat.

Ia menyatakan bahwa ketika berbicara tentang penyanderaan, tidak ada pelaku yang lebih buruk dibanding rezim ayatollah di Teheran. Rubio menambahkan bahwa para pemimpin rezim tersebut kini menjadi sasaran dan kekuatan pemerintah Iran disebut semakin melemah setiap hari.

Rubio juga menyinggung peringatan hilangnya Robert Levinson di Iran pada 9 Maret. Menurutnya, kasus tersebut mencerminkan karakter pemerintahan di Teheran.

Dalam situasi perang yang masih berlangsung, pengumuman kepemimpinan Mojtaba Khamenei dan ketidakpastian konflik terus memicu ketegangan politik global serta mendorong harga minyak dunia naik di tengah kekhawatiran pasar energi.

Assembly Of Experts Declares Mojtaba Khamenei As Iran’s New Leader

Assembly of Experts appoints Mojtaba Khamenei as Iran’s new leader after Ali Khamenei was killed during military strikes in Tehran.
Assembly of Experts appoints Mojtaba Khamenei as Iran’s new leader after Ali Khamenei was killed during military strikes in Tehran.

Tehran – Assembly of Experts has announced the appointment of Mojtaba Khamenei as the new leader of Iran. The clerical body responsible for selecting the country’s supreme leadership said the decision was made during an emergency meeting with overwhelming support from its members.

In an official statement released Sunday night, the Assembly of Experts said the appointment was made to prevent a leadership vacuum in the country. Mojtaba Khamenei was introduced as the successor following the death of Iran’s previous leader, Ali Khamenei.

According to reports from Tasnim News Agency, the Assembly held extensive discussions before finalizing the decision. Members reportedly reviewed the political and security situation before agreeing on the new leadership.

The statement also referenced military attacks carried out by the United States and Israel against Iran. The developments were cited as part of the broader context surrounding the leadership change.

Israel had earlier declared that it would pursue whoever replaced Ali Khamenei as Iran’s leader. The statement came amid escalating military tensions in the region.

Ali Khamenei was reported killed on the ninth day of the Iranian month of Esfand during U.S. and Israeli strikes in Tehran. The military operation has now entered its ninth consecutive day.

The appointment of Mojtaba Khamenei marks a new chapter in the leadership of the Islamic Republic of Iran, taking place amid heightened geopolitical tensions across the Middle East.

Mojtaba Khamenei Ditetapkan Sebagai Pemimpin Iran Oleh Majelis Khobregan

Majelis Khobregan menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin Iran menggantikan Ali Khamenei yang tewas dalam serangan militer di Teheran.
Majelis Khobregan menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin Iran menggantikan Ali Khamenei yang tewas dalam serangan militer di Teheran.

Teheran – Majelis Khobregan mengumumkan penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru negara tersebut. Lembaga ulama yang berwenang memilih pemimpin tertinggi di Iran itu menyatakan keputusan diambil melalui rapat darurat dengan dukungan suara mayoritas anggota.

Dalam pernyataan resminya pada Minggu malam, 17 Esfand menurut kalender Iran, lembaga tersebut menyebut penunjukan dilakukan untuk memastikan negara tidak mengalami kekosongan kepemimpinan. Mojtaba Khamenei disebut sebagai penerus setelah kematian pemimpin sebelumnya, Ali Khamenei.

Media pemerintah Tasnim News Agency melaporkan bahwa Majelis Khobregan menggelar pembahasan intensif sebelum menetapkan keputusan tersebut. Dalam rapat itu, para anggota menilai situasi politik dan keamanan yang berkembang di Iran memerlukan kepemimpinan baru secepatnya.

Dalam pernyataan yang sama, Majelis Khobregan juga menyinggung serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Serangan tersebut dikaitkan dengan situasi yang memicu perubahan kepemimpinan di negara tersebut.

Sebelumnya, Israel menyatakan akan memburu siapa pun yang menggantikan Ali Khamenei sebagai pemimpin Iran. Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan.

Ali Khamenei dilaporkan tewas pada 9 Esfand dalam serangan militer Amerika Serikat dan Israel di Teheran. Operasi militer tersebut hingga kini disebut telah memasuki hari kesembilan sejak pertama kali dilancarkan.

Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru menandai babak baru dalam kepemimpinan Republik Islam Iran, sekaligus menjadi momen penting di tengah situasi geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah.

Daerah

Nasional

Dunia

Hukum

Sepakbola

Lifestyle