Iklan Tutup X

BERITA TERBARU 1-13

TEMPAT CADANGAN

Berita 15-21

YOUTUBE

Berita 22-25

Berita 25-34

Berita 40-43

Kamis, 09 Juli 2026

AMSI Kalbar Gelar UKJ di Tengah Krisis Kepercayaan Media Global, Fokus pada Integritas dan Etika

AMSI Kalbar Gelar UKJ di Tengah Krisis Kepercayaan Media Global, Fokus pada Integritas dan Etika
AMSI Kalbar Gelar UKJ di Tengah Krisis Kepercayaan Media Global, Fokus pada Integritas dan Etika.
PONTIANAK – Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Kalimantan Barat resmi menyelenggarakan Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ) tahun 2026 yang diikuti sebanyak 23 jurnalis di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat, di Pontianak pada Kamis (9/7/2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis para pekerja media di daerah untuk menjawab tantangan krisis kepercayaan terhadap institusi pers yang kini melanda dunia.

Ketua AMSI Kalbar, Muhlis Suhaeri, dalam sambutannya menegaskan bahwa UKJ adalah sarana bagi jurnalis untuk terus meningkatkan kapasitas diri agar tetap relevan sebagai pilar keempat demokrasi. Ia mengingatkan peran krusial jurnalis sebagai pengawas dalam kehidupan berbangsa.

"Kita sebagai jurnalis harus terus meneguhkan diri sebagai bagian dari empat pilar kebangsaan, empat pilar yang menjadi penjaga kekuasaan. Sehingga kita harus selalu memperbaharui diri, selalu meningkatkan kapasitas kita, selalu belajar hal-hal yang baru," ujar Muhlis.

Kondisi industri media saat ini memang sedang berada dalam situasi krusial. Ketua Penguji dari Lembaga Penguji Kompas, Johanes Heru Margianto, memaparkan data memprihatinkan dari laporan Reuters Digital Institute yang menunjukkan tingkat kepercayaan global terhadap media berada di bawah 50 persen. Di Indonesia, angkanya bahkan lebih rendah, yakni di kisaran 3,8 hingga 3,9.

Heru menyebutkan bahwa audiens kini mulai beralih ke media sosial, influencer, hingga teknologi Artificial Intelligence (AI) seperti Gemini dan Meta untuk mencari informasi. Oleh karena itu, integritas menjadi satu-satunya benteng terakhir bagi insan pers.

"Apa kemudian yang tersisa dari kita kalau kepercayaan terhadap media secara global maupun lokal itu tidak melebihi dari separuh. Yang bisa kita pertahankan adalah integritas dan kredibilitas," tegas Heru dalam sambutannya.

Menanggapi fenomena tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Kalimantan Barat, Harisson, yang hadir membuka acara secara resmi, menekankan pentingnya standar profesi yang ketat. Ia membandingkan proses sertifikasi jurnalis dengan profesi kedokteran yang memerlukan tahapan panjang untuk memastikan layanan yang aman bagi masyarakat.

Harisson menyatakan bahwa di era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) yang penuh ketidakpastian, masyarakat membutuhkan informasi yang benar-benar akurat dari sumber terpercaya.

"Begitu juga rekan-rekan wartawan. Wartawan ini harus memiliki benar-benar kompetensi. Jadi kalau misalnya pemberitaan untuk menginformasikan kepada masyarakat itu benar-benar yang namanya akurasi pemberitaan, kedalaman, dan etika dalam pemberitaan itu harus benar-benar terjaga. Jika Anda menjaga ini, maka kepercayaan masyarakat itu saya rasa akan tinggi," ungkap Harisson.

Kegiatan UKJ AMSI Kalbar 2026 ini menghadirkan lima penguji dari Kompas dan didukung oleh berbagai mitra strategis, termasuk Pemerintah Provinsi Kalbar, Polda Kalbar, BPJS Ketenagakerjaan, PT Dharma Inti Bersama (DIB), Sinar Mas Agribusiness and Food, PT. Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW), PLN, GAPKI Kalbar, PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), Wilmar, Indosat, dan Aming Coffee.

Ratusan Massa BPM Kalbar Demo di Kantor PLN UID Kalbar, Desak Hentikan Pemadaman Bergilir

Foto: Massa BPM Kalbar Demo di Kantor PLN UID Kalbar

KUBU RAYA - Kekecewaan masyarakat terhadap pemadaman listrik bergilir di Kalimantan Barat memuncak. Ratusan massa Barisan Pemuda Melayu (BPM) Kalimantan Barat menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor PT PLN (Persero) UID Kalimantan Barat, Jalan Adisucipto KM 7, Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Rabu 8 Juli 2026 sore.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 15.05 WIB itu dipimpin Ketua Umum BPM DPP Provinsi Kalbar, Gusti Edy. Sekitar 200 massa menyampaikan orasi terkait dampak pemadaman terhadap roda ekonomi warga.

BPM Kalbar membawa empat tuntutan utama: 

1. Hentikan Pemadaman Brutal: Mendesak pemulihan total pasokan listrik tanpa penundaan.

2. Jangan Bebani Rakyat: Menolak kenaikan tarif di tengah pelayanan yang buruk. 

3. Kompensasi Nyata untuk UMKM dan Warga: Menuntut pembebasan biaya beban, potongan tarif, dan ganti rugi kerusakan alat elektronik milik warga, PKL, dan warung.

4. Jaminan Fasilitas Publik: Memastikan listrik untuk rumah sakit, tempat ibadah, dan instalasi pengolahan air bersih tidak terganggu.

Massa juga mendesak publikasi mekanisme kompensasi, evaluasi kinerja Manajer Komunikasi PLN UID Kalbar, pencopotan pimpinan PLN Kalbar oleh Pemerintah Pusat, serta pengusutan penyebab gangguan kelistrikan oleh APH dan Forkopimda.

Menanggapi aksi, manajemen PLN UID Kalbar menemui demonstran dan menjelaskan teknis gangguan, progres percepatan pemulihan sistem, serta rencana kompensasi bagi pelanggan terdampak.

Pengamanan aksi dilakukan 115 personel Polres Kubu Raya yang dipimpin Kabagops AKP Samidi. Pengamanan turut dibantu TNI, Ditpamobvit Polda Kalbar, Tim Tanggap Darurat PLN, dan PMI Kota Pontianak. 

Kabagops AKP Samidi melalui Kasubsi Penmas Aiptu Ade menegaskan pendekatan humanis dikedepankan agar penyampaian aspirasi berjalan tertib. 

“Kami mengapresiasi kerja sama massa yang menjaga ketertiban. Alhamdulillah aksi selesai aman dan terkendali,” ujarnya. (Red/Jm)


Pembangunan Jalan Poros Desa Sungai Jawi Dimulai, Warga Batu Ampar Antusias

Foto: Progres pembangunan jalan poros kabupaten di Desa Sungai Jawi, Kecamatan Batu Ampar

KUBU RAYA - Kabar dimulainya pembangunan jalan poros kabupaten di Desa Sungai Jawi, Kecamatan Batu Ampar, disambut antusias masyarakat. Infrastruktur yang lama dinantikan warga pesisir itu diharapkan membuka akses transportasi sekaligus memperlancar roda perekonomian.

Salah seorang warga Desa Sungai Jawi, Sulaiman, menyampaikan apresiasi kepada Bupati Kubu Raya H. Sujiwo, S.E., M.Sos., atas realisasi pembangunan jalan tersebut.

“Alhamdulillah, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati Kubu Raya, H. Sujiwo. Jalan poros kabupaten di Desa Sungai Jawi tahun ini sudah mulai dikerjakan. Ini kabar sangat menggembirakan bagi masyarakat,” ujar Sulaiman, Rabu 8 Juli 2026.

Menurutnya, pembangunan jalan merupakan kebutuhan mendesak bagi masyarakat pesisir. Jalan tersebut akan memudahkan akses transportasi, mempercepat distribusi hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan, serta meningkatkan aktivitas ekonomi warga.

Sulaiman juga mengajak masyarakat menjaga keamanan dan kelancaran proses pembangunan.

“Saya mengajak seluruh masyarakat Desa Sungai Jawi untuk bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, serta material proyek. Mari dukung pembangunan ini agar berjalan lancar dan selesai tepat waktu,” katanya.

Ia menegaskan keberhasilan pembangunan tidak hanya tanggung jawab pemerintah dan kontraktor, tetapi juga butuh dukungan seluruh elemen masyarakat. Partisipasi warga penting agar proyek menghasilkan kualitas jalan yang baik dan manfaat jangka panjang bagi desa-desa pesisir di Batu Ampar.

“Jalan ini sudah lama jadi dambaan masyarakat pesisir. Kami berharap pembangunan sesuai target dan berkualitas sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan,” ungkapnya.

Warga berharap jalan poros ini menjadi awal pemerataan infrastruktur di wilayah pesisir Kubu Raya, sehingga konektivitas antarwilayah semakin baik dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat. (Tim/Jm)


Kantor PT KSP Agro di Sekadau Terbakar, Tidak Ada Korban Jiwa

Foto: Kantor PT KSP Agro di Maboh Permai Terbakar

SEKADAU - Kebakaran menghanguskan kantor PT KSP Agro (Kalimantan Sanggar Pusaka) di Desa Maboh Permai, Kecamatan Belitang, Kabupaten Sekadau, Rabu 8 Juli 2026 sekitar pukul 18.00 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Kerugian material masih dalam proses pendataan dan penyelidikan.

Kapolres Sekadau AKBP Andhika Wiratama melalui Kapolsek Belitang IPDA Fahrurrazi mengatakan, personel Polsek Belitang segera ke lokasi setelah menerima laporan untuk mengamankan TKP dan meminta keterangan saksi.

“Berdasar keterangan karyawan, api pertama kali diketahui saat ia datang untuk absensi. Saat mendekati bangunan, api sudah membesar dan membakar kantor perusahaan,” kata IPDA Fahrurrazi, Kamis 9 Juli.

Saksi kemudian menghubungi pihak perusahaan. Bersama warga, karyawan berupaya memadamkan api menggunakan APAR milik perusahaan dan mesin pompa air milik warga. 

Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 22.00 WIB. Tidak ada korban jiwa maupun luka, namun bangunan kantor mengalami kerusakan.

IPDA Fahrurrazi menjelaskan, dugaan sementara penyebab kebakaran berasal dari korsleting arus listrik. Namun penyebab pasti masih menunggu hasil penyelidikan dan olah TKP.

“Personel Polsek Belitang telah mengamankan TKP dan meminta keterangan saksi. Olah TKP akan dilakukan bersama Unit Inafis Satreskrim Polres Sekadau untuk memastikan penyebab kebakaran,” tutupnya. (Rls)


Selasa, 07 Juli 2026

Pemerintah Kubu Raya Perkuat Peran FKUB dalam Menjaga Toleransi Antarumat Beragama

Foto: Bupati Kubu Raya, Sujiwo Jalin Komitmen Bersama Ketua FKUB Kubu Raya Ustaz K.H. Ahmad Sudi.

KUBU RAYA - Pengukuhan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Kubu Raya periode 2026–2031 di Ruang Rapat Bupati, Selasa 7 Juli 2026, menjadi komitmen bersama pemerintah daerah dan tokoh agama untuk memperkuat persatuan, toleransi, serta stabilitas sosial di Kubu Raya.

Bupati Kubu Raya H. Sujiwo, S.E., M.Sos., menegaskan Pemkab memberikan dukungan penuh kepada FKUB sebagai mitra strategis menciptakan kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis.

“Pembangunan tidak akan berjalan optimal tanpa adanya persatuan dan kerukunan. Pemerintah akan terus mendukung program-program FKUB, termasuk penyediaan sarana pendukung dan operasional organisasi,” ujar Sujiwo.

Ketua FKUB Kabupaten Kubu Raya Ustaz K.H. Ahmad Sudi mengatakan kepengurusan baru akan mengedepankan komunikasi, dialog, dan penyelesaian persoalan melalui musyawarah. 

“FKUB hadir untuk seluruh umat beragama tanpa membedakan latar belakang,” katanya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kubu Raya Dr. M. H. Ekhsan, S.Ag., M.Si., menyampaikan penguatan moderasi beragama butuh kolaborasi seluruh pihak. Penyuluh agama yang tersebar di kecamatan menjadi ujung tombak menjaga kerukunan hingga tingkat desa.

“Kami berharap FKUB Kubu Raya mampu menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun kehidupan masyarakat yang rukun dan toleran,” ujarnya.

Kepala Badan Kesbangpol Kubu Raya Drs. Amini Maros, M.Si., menambahkan pembentukan kepengurusan FKUB telah sesuai Peraturan Menteri Agama dengan menyesuaikan komposisi jumlah pemeluk agama di Kubu Raya.

Pemkab Kubu Raya berharap FKUB semakin aktif dalam pembinaan, edukasi, mediasi, serta dialog lintas agama agar persatuan dan kerukunan tetap terjaga sebagai modal utama pembangunan daerah. (Jm)


Nelayan Pulau Pelapis Kayong Utara Dapat Bantuan dari PT DIB Penebang

Salah seorang nelayan Pulau Pelapis Kayong Utara menunjukan bantuan yang didapat dari PT DIB Penebang

KAYONG UTARA - PT Dharma Inti Bersama (DIB) dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat terutama bagi nelayan yang berada di wilayah terdekat operasional perusahaan kembali menyalurkan bantuan alat tangkap. 

Bantuan yang diberikan ini berupa jaring insang dan 2.500 kail pancing rawai kepada kelompok nelayan di Desa Pelapis, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. 

External Relation Manager PT DIB Sugeng Sulistiyo mengatakan bantuan alat tangkap. tersebut merupakan hasil komunikasi dan identifikasi kebutuhan masyarakat yang dilakukan tim CSR bersama kelompok nelayan Desa Pelapis.

"Program ini bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi menghadirkan alternatif alat tangkap yang dapat dimanfaatkan nelayan sesuai kondisi di lapangan. Selama ini sebagian besar nelayan masih bergantung pada kelong. Kami berharap jaring insang maupun pancing rawai dapat menjadi pilihan tambahan untuk meningkatkan hasil tangkapan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga nelayan," ujar Sugeng Sulistiyo. 

Menurut Sugeng, bantuan tersebut diberikan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan sebagai upaya mendukung produktivitas dan ketahanan ekonomi masyarakat nelayan.

Penyaluran bantuan merupakan bagian dari Program Perikanan Tangkap CSR DIB yang menyasar masyarakat di sekitar Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP). 

Bantuan diserahkan kepada kelompok nelayan penerima jaring insang dan kelompok nelayan penerima pancing rawai sesuai kebutuhan yang telah diidentifikasi sebelumnya.

Menurut Sugeng, diversifikasi alat tangkap menjadi penting karena dapat memberikan pilihan bagi nelayan ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan penggunaan metode tangkap tertentu. Dengan semakin banyak pilihan alat tangkap, nelayan diharapkan tetap dapat melaut dan memperoleh penghasilan.

la juga mengingatkan agar bantuan dimanfaatkan secara optimal, dirawat dengan baik, serta tidak dipindahtangankan maupun diperjualbelikan. 

Evaluasi terhadap pemanfaatan bantuan, lanjutnya, akan menjadi dasar penyusunan program pemberdayaan berikutnya.

"Kami berharap para nelayan juga dapat memberikan masukan mengenai manfaat bantuan ini. Evaluasi tersebut menjadi bekal bagi kami untuk terus menyusun program-program yang benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat. Komitmen kami adalah terus tumbuh dan melangkah bersama masyarakat Pelapis," tambah Sugeng. 

Jaring insang (gill net) merupakan alat tangkap berbentuk jaring yang dipasang secara vertikal di perairan untuk menangkap ikan yang melintas. 

Ketua kelompok nelayan penerima bantuan jaring insang, Hamsyah, mengatakan bantuan tersebut memberikan alternatif alat tangkap bagi kelompok nelayan yang selama ini hanya mengandalkan kelong.

"Alhamdulillah, bantuan ini sangat membantu. Dulu kami cuma punya satu cara menangkap ikan, pakai kelong. Sekarang kami punya cara lain dengan jaring insang sehingga peluang mendapat hasil tangkapan jadi lebih besar," ujarnya.

Selain membantu aktivitas penangkapan ikan, Hamsyah menilai berbagai program CSR DIB juga membuka ruang komunikasi yang lebih baik antara perusahaan dan masyarakat.

"Kami merasa lebih mudah berkomunikasi. Kalau ada kebutuhan atau usulan, sekarang ada tempat untuk menyampaikan. Kami merasakan perusahaan benar-benar hadir bersama masyarakat," katanya.

Hal senada disampaikan Ketua Kelompok Nelayan penerima bantuan pancing rawai, Sandi. la mengatakan bantuan tersebut merupakan hasil usulan bersama para nelayan yang membutuhkan alternatif alat tangkap di tengah kondisi cuaca yang sering berubah.

"Kami berterima kasih kepada CSR DIB yang sudah membantu kami. Selama ini kami lebih banyak menggunakan kelong, tetapi sekarang kami bisa mencoba metode lain dengan pancing rawai. Bantuan ini memang sesuai kebutuhan yang kami usulkan bersama," ungkapnya.

Menurut Sandi, keberadaan bantuan tersebut diharapkan mampu mendukung perekonomian rumah tangga para nelayan ketika kondisi laut tidak memungkinkan penggunaan alat tangkap yang biasa digunakan.

Program bantuan alat tangkap ini menjadi salah satu bentuk komitmen PT DIB dalam mendukung pemberdayaan masyarakat pesisir. Selain sektor perikanan tangkap, perusahaan juga menjalankan berbagai program CSR di bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur bagi masyarakat di sekitar Kawasan Industri Pulau Penebang, Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikelola PT Dharma Inti Bersama. (Jdn).

Senin, 06 Juli 2026

Kodim 1204/Sanggau Bangun Jembatan Aramco Non Bencal di Sungai Belimbing

Kodim 1204/Sanggau membangun Jembatan Aramco Non Bencal di Sungai Belimbing, Tayan Hulu, Sanggau, untuk meningkatkan konektivitas, mobilitas warga, dan distribusi hasil pertanian.
Kodim 1204/Sanggau membangun Jembatan Aramco Non Bencal di Sungai Belimbing, Tayan Hulu, Sanggau, untuk meningkatkan konektivitas, mobilitas warga, dan distribusi hasil pertanian.

SANGGAU - Kodim 1204/Sanggau membangun Jembatan Aramco Non Bencal di Sungai Belimbing, Desa Berakak, Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau, pada Senin (5/7/2026). Pembangunan tersebut dilakukan sebagai dukungan TNI Angkatan Darat terhadap percepatan pembangunan infrastruktur di daerah.

Pembangunan jembatan menjadi bagian dari upaya mendukung program prioritas pemerintah dalam meningkatkan konektivitas antarwilayah sekaligus mendorong pemerataan pembangunan hingga ke kawasan pedalaman.

Keberadaan Jembatan Aramco Non Bencal diharapkan dapat memperlancar mobilitas masyarakat, baik untuk aktivitas sehari-hari maupun distribusi barang. Infrastruktur ini juga ditujukan untuk mempermudah pengangkutan hasil pertanian dan perkebunan yang menjadi sumber penghidupan warga setempat.

Selain itu, akses menuju fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, serta pusat kegiatan ekonomi diharapkan menjadi lebih mudah sehingga dapat mendukung aktivitas masyarakat secara lebih efektif.

Kodim 1204/Sanggau Bangun Jembatan Aramco Non Bencal di Sungai Belimbing
Kodim 1204/Sanggau membangun Jembatan Aramco Non Bencal di Sungai Belimbing, Tayan Hulu, Sanggau, untuk meningkatkan konektivitas, mobilitas warga, dan distribusi hasil pertanian.

Melalui pembangunan tersebut, Kodam XII/Tanjungpura melalui Kodim 1204/Sanggau menegaskan komitmennya untuk terus mendukung percepatan pembangunan nasional sekaligus memperkuat kemanunggalan TNI dengan masyarakat melalui penyediaan infrastruktur yang memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan warga.

Informasi pembangunan Jembatan Aramco Non Bencal ini disampaikan oleh Pendim 1204/Sanggau.

Dengan hadirnya jembatan tersebut, konektivitas di wilayah Desa Berakak dan sekitarnya diharapkan semakin baik. Infrastruktur itu juga diproyeksikan mendukung kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat serta meningkatkan akses terhadap berbagai layanan publik di Kabupaten Sanggau.

Merinding Lihat Lautan Manusia di Tehran Jelang Pemakaman Ali Khamenei

Merinding Lihat Lautan Manusia di Tehran Jelang Pemakaman Ali Khamenei
Merinding Lihat Lautan Manusia di Tehran Jelang Pemakaman Ali Khamenei.
Kalau kalian menonton video lautan manusia yang memenuhi jalan-jalan Tehran, mungkin dada kalian ikut sesak. Bukan karena angka-angka begitu besar, tetapi karena menyaksikan bagaimana jutaan manusia menangis bersama. Sulit membayangkan seperti apa rasanya ketika sebuah kota berubah menjadi hamparan duka, ketika suara tangisan jauh lebih nyaring dari suara kendaraan, ketika setiap langkah seolah mengantar sebuah babak sejarah menuju liang lahat. Begitu besar penghormatan sebagian warga Iran kepada almarhum Ali Khamenei hingga pemandangan itu membuat bulu kuduk berdiri dan hati dipenuhi rasa pilu.

Di bawah langit Tehran yang muram, jutaan orang berjalan dengan wajah basah oleh air mata. Mereka datang bukan sekadar menghadiri sebuah pemakaman, melainkan mengantarkan seseorang yang selama 37 tahun menjadi wajah paling dominan dalam perjalanan Republik Islam Iran. Diperkirakan 15 hingga 20 juta orang mengikuti rangkaian prosesi pemakaman selama enam hari yang berlangsung di lima kota di dua negara. Angka sebesar itu nyaris tak sanggup diterjemahkan oleh logika. Yang bisa dipahami hanyalah satu hal, kehilangan, bagi mereka, telah menjelma menjadi lautan manusia.

Grand Mosalla Tehran tak lagi mampu menampung lautan kesedihan itu. Kapasitas ruang salat telah penuh berjam-jam sebelum doa jenazah dimulai. Gerbang ditutup bukan karena acara usai, melainkan karena tak ada lagi sejengkal tanah tersisa. Puluhan juta pasang mata memerah. Jutaan bibir bergetar melantunkan doa. Jutaan tangan terangkat memohon ampun bagi sosok yang telah pergi. 

Reza, seorang profesor berusia 37 tahun, mengucapkan kalimat yang membuat hati siapa pun tercekat, "Kami datang karena kami berjanji pada pemimpin tertinggi untuk berdiri di sisinya sampai akhir. Untuk waktu yang lama, kami berteriak, kami akan mengorbankan hidup kami untuk pemimpin, tetapi dialah mengorbankan dirinya untuk kami." Di balik kalimat itu tersimpan ironi yang begitu getir. Janji kesetiaan akhirnya hanya bisa dibayar dengan air mata di depan peti jenazah.

Di atas panggung tinggi Grand Mosalla, jenazah Ayatollah Ali Khamenei terbaring bersama empat anggota keluarganya di dalam peti kaca. Mereka dilaporkan gugur dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari, termasuk menantu, putri, menantu perempuan, dan seorang cucu perempuan yang baru berusia 14 bulan. Bayi yang belum sempat mengenal kerasnya dunia kini harus berbaring dalam keheningan abadi bersama sang kakek. Tidak ada pidato politik yang mampu menghapus luka itu. Tidak ada slogan dapat menghidupkan kembali seorang anak kecil yang belum sempat memahami arti kehidupan. 

Namun di tengah kesedihan itu, sejarah kembali memperlihatkan wajahnya. Seorang pemimpin sepanjang hidupnya begitu akrab dengan retorika pengorbanan dan perjuangan akhirnya pulang ke peristirahatan terakhir bersama cucunya sendiri. Arash Rahimi, 40 tahun, mengatakan kepada Reuters, "Blood feud... kita memiliki pertikaian darah dengan Amerika Serikat." Kalimat itu terdengar seperti ratapan yang berubah menjadi dendam. Betapa menyedihkannya ketika kematian pun gagal mengakhiri lingkaran kebencian. Bahkan di depan liang lahat, perang masih menemukan alasan untuk terus hidup.

Prosesi pemakaman berlangsung seperti perjalanan panjang menguras jiwa. Pada Minggu, 5 Juli, Salat al-Mayyit dipimpin Ayatollah Jafar Sobhani di Grand Mosalla Tehran sejak pukul 06.00 waktu setempat. Tiga kali doa dipanjatkan, masing-masing untuk sang pemimpin, tiga anggota keluarganya, dan khusus bagi bayi mungil yang turut menjadi korban. Esok harinya, 6 Juli, iring-iringan jenazah menempuh perjalanan sekitar 10 kilometer dari Lapangan Imam Hossein menuju Lapangan Azadi. Pada 7 Juli, jenazah dibawa ke kota suci Qom, kemudian diterbangkan ke Najaf dan Karbala di Irak pada 8 Juli, sebelum akhirnya dimakamkan pada 9 Juli di samping Makam Imam Reza di Mashhad, sesuai wasiat terakhirnya. Begitu panjang perjalanan menuju tanah peristirahatan, seolah sejarah sendiri enggan melepaskan sosok yang telah begitu lama menguasai panggung politik Iran.

Namun di balik kemegahan prosesi itu, ada ironi yang menusuk lebih dalam dari ribuan pidato. Mojtaba Khamenei, putra almarhum yang kini disebut sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, tidak dijadwalkan hadir dalam acara publik karena alasan keamanan. Seorang anak tak dapat mengantar ayahnya menuju pemakaman. Sebuah kenyataan terasa begitu pahit. Rezim selama puluhan tahun berbicara lantang tentang keberanian, pengorbanan, dan keteguhan justru harus menyembunyikan pewarisnya di saat rakyat memenuhi jalan-jalan dengan air mata. Sejarah terkadang memang lebih kejam dari musuh mana pun.

Di sisi lain, 14.000 jurnalis, termasuk 900 reporter asing, meliput prosesi ini. Sebanyak 50 juta potong roti dipanggang untuk memenuhi kebutuhan para pelayat. Angka-angka itu terdengar megah, tetapi sekaligus menyisakan satire pahit. Sebuah negeri bertahun-tahun hidup di bawah tekanan sanksi dan kesulitan ekonomi mampu menghadirkan panggung duka begitu kolosal. Dunia menyaksikan, sebagian dengan simpati, sebagian lagi dengan sinisme, sementara rakyat tetap berdiri berjam-jam di bawah matahari hanya untuk mengucapkan salam perpisahan.

Nuan bayangkan berdiri di tengah 15 juta orang yang menangis. Dengarkan pekikan "Kematian bagi Amerika!" bersahutan di antara isak tangis tak kunjung reda. Lihat para ibu menggendong anak-anak mereka di bawah terik Juli, sementara petugas memasang 6.000 penyemprot air demi mendinginkan jutaan pelayat. Pemandangan itu begitu memilukan sekaligus terasa absurd. Mereka datang membawa cinta, kehilangan, keyakinan, bahkan kemarahan. Namun mereka bawa pulang mungkin hanyalah tubuh letih dan hati tetap berlubang.

Pada akhirnya, yang tersisa bukan sekadar kisah wafatnya seorang pemimpin, melainkan potret sebuah bangsa sedang bergulat dengan sejarahnya sendiri. Sebagian orang benar-benar menangis karena kehilangan sosok mereka hormati. Sebagian mungkin menangis karena perang tak kunjung selesai, karena sanksi memiskinkan, karena anak-anak tumbuh dalam bayang-bayang konflik, atau karena masa depan terasa semakin jauh. Di situlah tragedi terbesar berada. Ketika air mata rakyat bercampur dengan propaganda, ketika duka bertemu politik, ketika kematian seorang pemimpin berubah menjadi panggung bagi pertanyaan yang tak pernah selesai dijawab.

Biarkan mereka menangis. Sebab kadang-kadang, tangisan bukan hanya untuk seseorang yang telah pergi. Tangisan adalah bahasa terakhir sebuah bangsa terlalu lama hidup di antara perang, pengorbanan, harapan, dan kehilangan yang tak pernah benar-benar menemukan ujungnya.

“Merinding nonton videonya, kok bisa manusia sebanyak itu menghadiri pemakaman.”

“Saya juga begitu, wak. Gimana dengan pemimpin kita, apakah akan dihadiri jutaan warga juga ya?” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Brazil Nangis Darah Dihancurkan Norwegia 2-1

Brazil Nangis Darah Dihancurkan Norwegia 2-1
Brazil Nangis Darah Dihancurkan Norwegia 2-1
Erling Haaland benar-benar menjadi mimpi buruk Brazil. Dua golnya ke gawang Alisson, membuat Tim Samba angkat koper. Rakyat Brazil pasti nangis darah ni. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Meadowlands Stadium, East Rutherford, mendadak berubah menjadi panggung komedi. Wasit Ismail Elfath dari Amerika meniup peluit. Brazil, ranking 6 FIFA bersama Carlo Ancelotti, datang penuh percaya diri. Di seberang, Norwegia ranking 31 FIFA bersama Ståle Solbakken, pelatih asli Norwegia, bukan impor. Julukan mereka Løvene alias Singa, tapi malam itu mereka lebih mirip gerombolan Viking yang baru turun dari kapal perang sambil membawa buku pelajaran berjudul "Cara Membuat Brazil Bingung."

Baru menit ke-4 Patrick Berg sudah menjebol gawang Brazil. Tribun Norwegia meledak seperti dapat bonus gaji sepuluh tahun. Untung wasit menganulir gol karena offside. Pendukung Brazil langsung mengusap dada. Jantung yang tadi mau kabur akhirnya balik lagi ke tempatnya.

Menit ke-10 Matheus Cunha dijatuhkan di kotak penalti. VAR dipanggil. Semua pemain mengelilingi wasit seperti warga mengejar mobil gas. Menit ke-13, penalti diberikan. Bruno maju dengan gaya pahlawan film laga. Seluruh pendukung Brazil sudah bersiap joget samba. Duk..! Orjan Nyland menepis bola. Stadion langsung sunyi. Bahkan burung yang terbang di atas stadion seolah ikut geleng-geleng kepala.

Setelah itu Brazil menyerang tanpa henti. Vinicius Junior, Gabriel Martinelli, Rayan, hingga Casemiro silih berganti menembak. Nyland malah berubah menjadi pintu brankas yang password-nya lupa dibocorkan. Sementara Norwegia santai menguasai permainan. Statistik menunjukkan penguasaan bola 67 persen milik mereka. Brazil cuma 33 persen. Rasanya pemain Samba sedang ikut les sepak bola gratis yang gurunya Martin Ødegaard.

Babak pertama berakhir tanpa gol.

Di ruang ganti, Ancelotti memberi tausiyah, "Main yang benar. Jangan seperti proyek besar, anggarannya triliunan, hasilnya cuma pagar seng." Di ruang sebelah, Solbakken tersenyum, "Tetap tenang. Jangan seperti politik, hitungannya belum selesai, pesta kemenangan sudah duluan." Dua pelatih, dua nasihat, satu tujuan, bikin penonton senyum-senyum sendiri.

Babak kedua dimulai. Oscar Bobb dan Andreas Schjelderup masuk memperkuat Norwegia. Brazil membalas dengan Endrick, Neymar, dan Danilo. Serangan datang bertubi-tubi, tetapi Nyland masih seperti satpam galaksi yang menolak semua tamu tanpa undangan.

Menit ke-79, Andreas Schjelderup mengirim umpan lambung sempurna. Erling Haaland melompat tinggi. Duarrr... Goooool! Sundulannya membuat skor menjadi 0-1. Tribun Norwegia berubah menjadi festival Viking. Ada yang memukul panci, meniup peluit, sampai memeluk orang asing seolah saudara kandung yang baru ditemukan.

Belum selesai. Menit ke-90, Schjelderup kembali menyodorkan umpan matang. Haaland menerima bola di batas kotak penalti lalu melepaskan tembakan datar ke pojok kanan bawah gawang. Goooooool! 0-2! Stadion berguncang. Pendukung Norwegia menari seperti baru menemukan harta karun peninggalan leluhur Viking.

Brazil terus menyerang. Ederson sempat mendapat peluang pada menit 90+3, Danilo mengirim crossing, Vinicius terus menusuk, tetapi semuanya mentok di benteng Norwegia.

Lalu datang menit 90+10. Wasit menunjuk titik putih. Neymar maju sebagai algojo. Stadion kembali menahan napas. Gooool! Neymar mengeksekusi penalti dengan tembakan akurat ke sisi kanan gawang. Skor berubah menjadi 1-2. Pendukung Brazil sempat berteriak seolah keajaiban akan datang, tetapi itu hanya gol hiburan. Sesaat kemudian peluit panjang berbunyi.

Pertandingan selesai. Brazil tetap angkat koper. Norwegia melaju, Haaland menjadi mimpi buruk baru bagi Samba. Seluruh rakyat Brazil larut dalam kesedihan. Ada yang memandangi lima trofi Piala Dunia sambil menghela napas, ada yang mematikan televisi sebelum komentator selesai bicara, bahkan mungkin ada menyalahkan arah angin di New Jersey. Sementara para Viking berpesta pora. Malam itu mereka bukan sekadar menang, tetapi sukses membuat raksasa sepak bola dunia pulang lebih cepat sambil membawa koper penuh evaluasi.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Teganya KPK, Bupati Langkat Belum Sempat Makan Durian Malah Ditangkap

Teganya KPK, Bupati Langkat Belum Sempat Makan Durian Malah Ditangkap
Teganya KPK, Bupati Langkat Belum Sempat Makan Durian Malah Ditangkap.
Kita lanjutkan kisah ditangkapnya Bupati Langkat, Ondim. Rupanya saat penangkapan, ia mau makan durian. Eh..KPK menciduk duluan. Tega benar dah, kan kemponan. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Ini bukan sekadarn OTT. Ini tragedi gastronomi nasional. Ini luka kolektif pecinta durian se-Asia Tenggara. Ini peristiwa membuat para penggemar Musang King, Montong, Bawor, Petruk, Jemongko hingga Durian Kampung mendadak berkabung tiga hari tiga malam sambil menghirup aroma kulit durian bekas.

Nuan bayangkan. Lebih dari 200 kepala daerah dari seluruh Indonesia sedang berkumpul di Lubuk Pakam, Deli Serdang. Forum resmi Forbisda APKASI bersama KADIN sudah selesai sekitar pukul lima sore. Saatnya masuk agenda paling ditunggu para pemimpin daerah, pesta durian. Bukan pesta babi ya.

Jam enam malam. Meja sudah dipenuhi durian. Ada durian montong yang badannya segede koper haji plus. Ada musang king yang wajahnya seperti bangsawan kerajaan buah-buahan. Ada bawor yang bentuknya mirip granat zaman Majapahit. Ada petruk yang aromanya sanggup membuat tetangga tiga gang mendadak datang silaturahmi.

Suasana hangat, akrab, dan penuh persaudaraan. Para bupati saling ngobrol, tertawa, bertukar pengalaman pembangunan daerah, berbagi cerita APBD, mungkin juga diam-diam membandingkan siapa paling kuat makan durian tanpa takut kolesterol naik.

Namun tiba-tiba...Ondim menghilang. Syah Afandin, Bupati Langkat periode 2025–2030, lenyap.

Para bupati mulai panik. “Mana Ondim?” “Tadi ada.” “Kok sekarang hilang?” “Jangan-jangan dia sudah duluan nyerbu durian premium.”

“Jangan-jangan lagi cari Musang King ukuran kambing.”

Ternyata bukan. Bukan ke toilet. Bukan ke parkiran. Bukan pula sedang bertapa di bawah pohon durian.

Tim KPK datang lebih cepat dari semut menemukan durian pecah. Lebih agresif dari lalat yang baru dapat kabar ada durian busuk. Lebih presisi dari  tendangan Messi ke gawang Cape Varde.

Lalu, byurrr! Bupati Langkat langsung diamankan. Katanya terkait dugaan suap proyek di Pemkab Langkat.

Astaga. Durian belum dibelah. Durian belum dibuka. Durian belum disendok. Durian belum difoto untuk status WA bertuliskan, “Nikmat mana lagi yang kau dustakan.” Malah sudah harus berhadapan dengan prosedur hukum.

Lae bayangkan sedihnya durian-durian itu. Mereka sudah matang sempurna. Sudah rela jatuh dari pohon. Sudah siap mengorbankan kulit berduri demi membahagiakan umat manusia. Namun calon penikmatnya justru berangkat menuju Jakarta. "Kasian, kemponan die," kata budak Pontianak.

Ini benar-benar kisah paling pahit sejak seseorang membeli durian mahal ternyata isinya cuma tiga pongge dan dua biji.

Syah Afandin sendiri bukan tokoh sembarangan. Ia adik mantan Gubernur Sumut, Syamsul Arifin. Politikus PAN. Kariernya melesat dari DPRD, menjadi Plt Bupati, lalu terpilih penuh sebagai Bupati Langkat periode 2025–2030.

Namun kini sejarah mungkin akan mengenangnya dengan gelar baru. "Bupati yang ditangkap sebelum makan durian."

Sebuah gelar yang terdengar seperti judul film festival buah internasional. Kronologinya pun seperti sinetron ijazah. OTT dilakukan di Binjai. Lalu merembet ke Medan. Kemudian menyentuh Deli Serdang. Total tujuh orang diamankan di tiga lokasi berbeda.

Wakil Ketua KPK, Fitroh Rohcahyanto, ketika dikonfirmasi hanya menjawab singkat, “Benar.” Selesai. Tidak ada tambahan.

Tidak ada penjelasan apakah durian akhirnya disita sebagai barang bukti. Tidak ada keterangan apakah tersangka sempat mencium aromanya. Tidak ada informasi apakah ada kompensasi berupa durian frozen.

Sementara itu, para bupati lain kemungkinan tetap makan durian sambil termenung. Ada yang menyendok perlahan. Ada yang mengunyah sambil geleng kepala.

Ada yang berkata lirih, “Kasihan Ondim. Padahal duriannya fresh.” Yang lain mungkin berbisik, “Jangan-jangan KPK datang karena tidak kebagian durian.”

Tentu saja korupsi harus diberantas. Tidak boleh ditawar. Tidak boleh dikompromikan. Tetapi rakyat kecil tetap berhak bertanya dengan nada dramatis ala sinetron jam tujuh malam.

Kenapa harus pas pesta durian? Kenapa tidak sesudah dua pongge. Atau minimal sesudah satu biji Musang King?

Karena kini sejarah Indonesia bertambah satu bab baru. Ada orang kehilangan jabatan. Ada orang kehilangan kebebasan. Ada pula orang yang kehilangan kesempatan menikmati durian terbaik Sumatera Utara.

Sungguh tragis. Sungguh epik. Sungguh montong sekali.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM