Iklan Tutup X

BERITA TERBARU 1-13

TEMPAT CADANGAN

Berita 15-21

YOUTUBE

Berita 22-25

Berita 25-34

Berita 40-43

Selasa, 07 Juli 2026

Pemerintah Kubu Raya Perkuat Peran FKUB dalam Menjaga Toleransi Antarumat Beragama

Foto: Bupati Kubu Raya, Sujiwo Jalin Komitmen Bersama Ketua FKUB Kubu Raya Ustaz K.H. Ahmad Sudi.

KUBU RAYA - Pengukuhan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Kubu Raya periode 2026–2031 di Ruang Rapat Bupati, Selasa 7 Juli 2026, menjadi komitmen bersama pemerintah daerah dan tokoh agama untuk memperkuat persatuan, toleransi, serta stabilitas sosial di Kubu Raya.

Bupati Kubu Raya H. Sujiwo, S.E., M.Sos., menegaskan Pemkab memberikan dukungan penuh kepada FKUB sebagai mitra strategis menciptakan kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis.

“Pembangunan tidak akan berjalan optimal tanpa adanya persatuan dan kerukunan. Pemerintah akan terus mendukung program-program FKUB, termasuk penyediaan sarana pendukung dan operasional organisasi,” ujar Sujiwo.

Ketua FKUB Kabupaten Kubu Raya Ustaz K.H. Ahmad Sudi mengatakan kepengurusan baru akan mengedepankan komunikasi, dialog, dan penyelesaian persoalan melalui musyawarah. 

“FKUB hadir untuk seluruh umat beragama tanpa membedakan latar belakang,” katanya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kubu Raya Dr. M. H. Ekhsan, S.Ag., M.Si., menyampaikan penguatan moderasi beragama butuh kolaborasi seluruh pihak. Penyuluh agama yang tersebar di kecamatan menjadi ujung tombak menjaga kerukunan hingga tingkat desa.

“Kami berharap FKUB Kubu Raya mampu menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun kehidupan masyarakat yang rukun dan toleran,” ujarnya.

Kepala Badan Kesbangpol Kubu Raya Drs. Amini Maros, M.Si., menambahkan pembentukan kepengurusan FKUB telah sesuai Peraturan Menteri Agama dengan menyesuaikan komposisi jumlah pemeluk agama di Kubu Raya.

Pemkab Kubu Raya berharap FKUB semakin aktif dalam pembinaan, edukasi, mediasi, serta dialog lintas agama agar persatuan dan kerukunan tetap terjaga sebagai modal utama pembangunan daerah. (Jm)


Nelayan Pulau Pelapis Kayong Utara Dapat Bantuan dari PT DIB Penebang

Salah seorang nelayan Pulau Pelapis Kayong Utara menunjukan bantuan yang didapat dari PT DIB Penebang

KAYONG UTARA - PT Dharma Inti Bersama (DIB) dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat terutama bagi nelayan yang berada di wilayah terdekat operasional perusahaan kembali menyalurkan bantuan alat tangkap. 

Bantuan yang diberikan ini berupa jaring insang dan 2.500 kail pancing rawai kepada kelompok nelayan di Desa Pelapis, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. 

External Relation Manager PT DIB Sugeng Sulistiyo mengatakan bantuan alat tangkap. tersebut merupakan hasil komunikasi dan identifikasi kebutuhan masyarakat yang dilakukan tim CSR bersama kelompok nelayan Desa Pelapis.

"Program ini bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi menghadirkan alternatif alat tangkap yang dapat dimanfaatkan nelayan sesuai kondisi di lapangan. Selama ini sebagian besar nelayan masih bergantung pada kelong. Kami berharap jaring insang maupun pancing rawai dapat menjadi pilihan tambahan untuk meningkatkan hasil tangkapan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga nelayan," ujar Sugeng Sulistiyo. 

Menurut Sugeng, bantuan tersebut diberikan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan sebagai upaya mendukung produktivitas dan ketahanan ekonomi masyarakat nelayan.

Penyaluran bantuan merupakan bagian dari Program Perikanan Tangkap CSR DIB yang menyasar masyarakat di sekitar Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP). 

Bantuan diserahkan kepada kelompok nelayan penerima jaring insang dan kelompok nelayan penerima pancing rawai sesuai kebutuhan yang telah diidentifikasi sebelumnya.

Menurut Sugeng, diversifikasi alat tangkap menjadi penting karena dapat memberikan pilihan bagi nelayan ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan penggunaan metode tangkap tertentu. Dengan semakin banyak pilihan alat tangkap, nelayan diharapkan tetap dapat melaut dan memperoleh penghasilan.

la juga mengingatkan agar bantuan dimanfaatkan secara optimal, dirawat dengan baik, serta tidak dipindahtangankan maupun diperjualbelikan. 

Evaluasi terhadap pemanfaatan bantuan, lanjutnya, akan menjadi dasar penyusunan program pemberdayaan berikutnya.

"Kami berharap para nelayan juga dapat memberikan masukan mengenai manfaat bantuan ini. Evaluasi tersebut menjadi bekal bagi kami untuk terus menyusun program-program yang benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat. Komitmen kami adalah terus tumbuh dan melangkah bersama masyarakat Pelapis," tambah Sugeng. 

Jaring insang (gill net) merupakan alat tangkap berbentuk jaring yang dipasang secara vertikal di perairan untuk menangkap ikan yang melintas. 

Ketua kelompok nelayan penerima bantuan jaring insang, Hamsyah, mengatakan bantuan tersebut memberikan alternatif alat tangkap bagi kelompok nelayan yang selama ini hanya mengandalkan kelong.

"Alhamdulillah, bantuan ini sangat membantu. Dulu kami cuma punya satu cara menangkap ikan, pakai kelong. Sekarang kami punya cara lain dengan jaring insang sehingga peluang mendapat hasil tangkapan jadi lebih besar," ujarnya.

Selain membantu aktivitas penangkapan ikan, Hamsyah menilai berbagai program CSR DIB juga membuka ruang komunikasi yang lebih baik antara perusahaan dan masyarakat.

"Kami merasa lebih mudah berkomunikasi. Kalau ada kebutuhan atau usulan, sekarang ada tempat untuk menyampaikan. Kami merasakan perusahaan benar-benar hadir bersama masyarakat," katanya.

Hal senada disampaikan Ketua Kelompok Nelayan penerima bantuan pancing rawai, Sandi. la mengatakan bantuan tersebut merupakan hasil usulan bersama para nelayan yang membutuhkan alternatif alat tangkap di tengah kondisi cuaca yang sering berubah.

"Kami berterima kasih kepada CSR DIB yang sudah membantu kami. Selama ini kami lebih banyak menggunakan kelong, tetapi sekarang kami bisa mencoba metode lain dengan pancing rawai. Bantuan ini memang sesuai kebutuhan yang kami usulkan bersama," ungkapnya.

Menurut Sandi, keberadaan bantuan tersebut diharapkan mampu mendukung perekonomian rumah tangga para nelayan ketika kondisi laut tidak memungkinkan penggunaan alat tangkap yang biasa digunakan.

Program bantuan alat tangkap ini menjadi salah satu bentuk komitmen PT DIB dalam mendukung pemberdayaan masyarakat pesisir. Selain sektor perikanan tangkap, perusahaan juga menjalankan berbagai program CSR di bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur bagi masyarakat di sekitar Kawasan Industri Pulau Penebang, Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikelola PT Dharma Inti Bersama. (Jdn).

Senin, 06 Juli 2026

Kodim 1204/Sanggau Bangun Jembatan Aramco Non Bencal di Sungai Belimbing

Kodim 1204/Sanggau membangun Jembatan Aramco Non Bencal di Sungai Belimbing, Tayan Hulu, Sanggau, untuk meningkatkan konektivitas, mobilitas warga, dan distribusi hasil pertanian.
Kodim 1204/Sanggau membangun Jembatan Aramco Non Bencal di Sungai Belimbing, Tayan Hulu, Sanggau, untuk meningkatkan konektivitas, mobilitas warga, dan distribusi hasil pertanian.

SANGGAU - Kodim 1204/Sanggau membangun Jembatan Aramco Non Bencal di Sungai Belimbing, Desa Berakak, Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau, pada Senin (5/7/2026). Pembangunan tersebut dilakukan sebagai dukungan TNI Angkatan Darat terhadap percepatan pembangunan infrastruktur di daerah.

Pembangunan jembatan menjadi bagian dari upaya mendukung program prioritas pemerintah dalam meningkatkan konektivitas antarwilayah sekaligus mendorong pemerataan pembangunan hingga ke kawasan pedalaman.

Keberadaan Jembatan Aramco Non Bencal diharapkan dapat memperlancar mobilitas masyarakat, baik untuk aktivitas sehari-hari maupun distribusi barang. Infrastruktur ini juga ditujukan untuk mempermudah pengangkutan hasil pertanian dan perkebunan yang menjadi sumber penghidupan warga setempat.

Selain itu, akses menuju fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, serta pusat kegiatan ekonomi diharapkan menjadi lebih mudah sehingga dapat mendukung aktivitas masyarakat secara lebih efektif.

Kodim 1204/Sanggau Bangun Jembatan Aramco Non Bencal di Sungai Belimbing
Kodim 1204/Sanggau membangun Jembatan Aramco Non Bencal di Sungai Belimbing, Tayan Hulu, Sanggau, untuk meningkatkan konektivitas, mobilitas warga, dan distribusi hasil pertanian.

Melalui pembangunan tersebut, Kodam XII/Tanjungpura melalui Kodim 1204/Sanggau menegaskan komitmennya untuk terus mendukung percepatan pembangunan nasional sekaligus memperkuat kemanunggalan TNI dengan masyarakat melalui penyediaan infrastruktur yang memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan warga.

Informasi pembangunan Jembatan Aramco Non Bencal ini disampaikan oleh Pendim 1204/Sanggau.

Dengan hadirnya jembatan tersebut, konektivitas di wilayah Desa Berakak dan sekitarnya diharapkan semakin baik. Infrastruktur itu juga diproyeksikan mendukung kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat serta meningkatkan akses terhadap berbagai layanan publik di Kabupaten Sanggau.

Merinding Lihat Lautan Manusia di Tehran Jelang Pemakaman Ali Khamenei

Merinding Lihat Lautan Manusia di Tehran Jelang Pemakaman Ali Khamenei
Merinding Lihat Lautan Manusia di Tehran Jelang Pemakaman Ali Khamenei.
Kalau kalian menonton video lautan manusia yang memenuhi jalan-jalan Tehran, mungkin dada kalian ikut sesak. Bukan karena angka-angka begitu besar, tetapi karena menyaksikan bagaimana jutaan manusia menangis bersama. Sulit membayangkan seperti apa rasanya ketika sebuah kota berubah menjadi hamparan duka, ketika suara tangisan jauh lebih nyaring dari suara kendaraan, ketika setiap langkah seolah mengantar sebuah babak sejarah menuju liang lahat. Begitu besar penghormatan sebagian warga Iran kepada almarhum Ali Khamenei hingga pemandangan itu membuat bulu kuduk berdiri dan hati dipenuhi rasa pilu.

Di bawah langit Tehran yang muram, jutaan orang berjalan dengan wajah basah oleh air mata. Mereka datang bukan sekadar menghadiri sebuah pemakaman, melainkan mengantarkan seseorang yang selama 37 tahun menjadi wajah paling dominan dalam perjalanan Republik Islam Iran. Diperkirakan 15 hingga 20 juta orang mengikuti rangkaian prosesi pemakaman selama enam hari yang berlangsung di lima kota di dua negara. Angka sebesar itu nyaris tak sanggup diterjemahkan oleh logika. Yang bisa dipahami hanyalah satu hal, kehilangan, bagi mereka, telah menjelma menjadi lautan manusia.

Grand Mosalla Tehran tak lagi mampu menampung lautan kesedihan itu. Kapasitas ruang salat telah penuh berjam-jam sebelum doa jenazah dimulai. Gerbang ditutup bukan karena acara usai, melainkan karena tak ada lagi sejengkal tanah tersisa. Puluhan juta pasang mata memerah. Jutaan bibir bergetar melantunkan doa. Jutaan tangan terangkat memohon ampun bagi sosok yang telah pergi. 

Reza, seorang profesor berusia 37 tahun, mengucapkan kalimat yang membuat hati siapa pun tercekat, "Kami datang karena kami berjanji pada pemimpin tertinggi untuk berdiri di sisinya sampai akhir. Untuk waktu yang lama, kami berteriak, kami akan mengorbankan hidup kami untuk pemimpin, tetapi dialah mengorbankan dirinya untuk kami." Di balik kalimat itu tersimpan ironi yang begitu getir. Janji kesetiaan akhirnya hanya bisa dibayar dengan air mata di depan peti jenazah.

Di atas panggung tinggi Grand Mosalla, jenazah Ayatollah Ali Khamenei terbaring bersama empat anggota keluarganya di dalam peti kaca. Mereka dilaporkan gugur dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari, termasuk menantu, putri, menantu perempuan, dan seorang cucu perempuan yang baru berusia 14 bulan. Bayi yang belum sempat mengenal kerasnya dunia kini harus berbaring dalam keheningan abadi bersama sang kakek. Tidak ada pidato politik yang mampu menghapus luka itu. Tidak ada slogan dapat menghidupkan kembali seorang anak kecil yang belum sempat memahami arti kehidupan. 

Namun di tengah kesedihan itu, sejarah kembali memperlihatkan wajahnya. Seorang pemimpin sepanjang hidupnya begitu akrab dengan retorika pengorbanan dan perjuangan akhirnya pulang ke peristirahatan terakhir bersama cucunya sendiri. Arash Rahimi, 40 tahun, mengatakan kepada Reuters, "Blood feud... kita memiliki pertikaian darah dengan Amerika Serikat." Kalimat itu terdengar seperti ratapan yang berubah menjadi dendam. Betapa menyedihkannya ketika kematian pun gagal mengakhiri lingkaran kebencian. Bahkan di depan liang lahat, perang masih menemukan alasan untuk terus hidup.

Prosesi pemakaman berlangsung seperti perjalanan panjang menguras jiwa. Pada Minggu, 5 Juli, Salat al-Mayyit dipimpin Ayatollah Jafar Sobhani di Grand Mosalla Tehran sejak pukul 06.00 waktu setempat. Tiga kali doa dipanjatkan, masing-masing untuk sang pemimpin, tiga anggota keluarganya, dan khusus bagi bayi mungil yang turut menjadi korban. Esok harinya, 6 Juli, iring-iringan jenazah menempuh perjalanan sekitar 10 kilometer dari Lapangan Imam Hossein menuju Lapangan Azadi. Pada 7 Juli, jenazah dibawa ke kota suci Qom, kemudian diterbangkan ke Najaf dan Karbala di Irak pada 8 Juli, sebelum akhirnya dimakamkan pada 9 Juli di samping Makam Imam Reza di Mashhad, sesuai wasiat terakhirnya. Begitu panjang perjalanan menuju tanah peristirahatan, seolah sejarah sendiri enggan melepaskan sosok yang telah begitu lama menguasai panggung politik Iran.

Namun di balik kemegahan prosesi itu, ada ironi yang menusuk lebih dalam dari ribuan pidato. Mojtaba Khamenei, putra almarhum yang kini disebut sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, tidak dijadwalkan hadir dalam acara publik karena alasan keamanan. Seorang anak tak dapat mengantar ayahnya menuju pemakaman. Sebuah kenyataan terasa begitu pahit. Rezim selama puluhan tahun berbicara lantang tentang keberanian, pengorbanan, dan keteguhan justru harus menyembunyikan pewarisnya di saat rakyat memenuhi jalan-jalan dengan air mata. Sejarah terkadang memang lebih kejam dari musuh mana pun.

Di sisi lain, 14.000 jurnalis, termasuk 900 reporter asing, meliput prosesi ini. Sebanyak 50 juta potong roti dipanggang untuk memenuhi kebutuhan para pelayat. Angka-angka itu terdengar megah, tetapi sekaligus menyisakan satire pahit. Sebuah negeri bertahun-tahun hidup di bawah tekanan sanksi dan kesulitan ekonomi mampu menghadirkan panggung duka begitu kolosal. Dunia menyaksikan, sebagian dengan simpati, sebagian lagi dengan sinisme, sementara rakyat tetap berdiri berjam-jam di bawah matahari hanya untuk mengucapkan salam perpisahan.

Nuan bayangkan berdiri di tengah 15 juta orang yang menangis. Dengarkan pekikan "Kematian bagi Amerika!" bersahutan di antara isak tangis tak kunjung reda. Lihat para ibu menggendong anak-anak mereka di bawah terik Juli, sementara petugas memasang 6.000 penyemprot air demi mendinginkan jutaan pelayat. Pemandangan itu begitu memilukan sekaligus terasa absurd. Mereka datang membawa cinta, kehilangan, keyakinan, bahkan kemarahan. Namun mereka bawa pulang mungkin hanyalah tubuh letih dan hati tetap berlubang.

Pada akhirnya, yang tersisa bukan sekadar kisah wafatnya seorang pemimpin, melainkan potret sebuah bangsa sedang bergulat dengan sejarahnya sendiri. Sebagian orang benar-benar menangis karena kehilangan sosok mereka hormati. Sebagian mungkin menangis karena perang tak kunjung selesai, karena sanksi memiskinkan, karena anak-anak tumbuh dalam bayang-bayang konflik, atau karena masa depan terasa semakin jauh. Di situlah tragedi terbesar berada. Ketika air mata rakyat bercampur dengan propaganda, ketika duka bertemu politik, ketika kematian seorang pemimpin berubah menjadi panggung bagi pertanyaan yang tak pernah selesai dijawab.

Biarkan mereka menangis. Sebab kadang-kadang, tangisan bukan hanya untuk seseorang yang telah pergi. Tangisan adalah bahasa terakhir sebuah bangsa terlalu lama hidup di antara perang, pengorbanan, harapan, dan kehilangan yang tak pernah benar-benar menemukan ujungnya.

“Merinding nonton videonya, kok bisa manusia sebanyak itu menghadiri pemakaman.”

“Saya juga begitu, wak. Gimana dengan pemimpin kita, apakah akan dihadiri jutaan warga juga ya?” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Brazil Nangis Darah Dihancurkan Norwegia 2-1

Brazil Nangis Darah Dihancurkan Norwegia 2-1
Brazil Nangis Darah Dihancurkan Norwegia 2-1
Erling Haaland benar-benar menjadi mimpi buruk Brazil. Dua golnya ke gawang Alisson, membuat Tim Samba angkat koper. Rakyat Brazil pasti nangis darah ni. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Meadowlands Stadium, East Rutherford, mendadak berubah menjadi panggung komedi. Wasit Ismail Elfath dari Amerika meniup peluit. Brazil, ranking 6 FIFA bersama Carlo Ancelotti, datang penuh percaya diri. Di seberang, Norwegia ranking 31 FIFA bersama Ståle Solbakken, pelatih asli Norwegia, bukan impor. Julukan mereka Løvene alias Singa, tapi malam itu mereka lebih mirip gerombolan Viking yang baru turun dari kapal perang sambil membawa buku pelajaran berjudul "Cara Membuat Brazil Bingung."

Baru menit ke-4 Patrick Berg sudah menjebol gawang Brazil. Tribun Norwegia meledak seperti dapat bonus gaji sepuluh tahun. Untung wasit menganulir gol karena offside. Pendukung Brazil langsung mengusap dada. Jantung yang tadi mau kabur akhirnya balik lagi ke tempatnya.

Menit ke-10 Matheus Cunha dijatuhkan di kotak penalti. VAR dipanggil. Semua pemain mengelilingi wasit seperti warga mengejar mobil gas. Menit ke-13, penalti diberikan. Bruno maju dengan gaya pahlawan film laga. Seluruh pendukung Brazil sudah bersiap joget samba. Duk..! Orjan Nyland menepis bola. Stadion langsung sunyi. Bahkan burung yang terbang di atas stadion seolah ikut geleng-geleng kepala.

Setelah itu Brazil menyerang tanpa henti. Vinicius Junior, Gabriel Martinelli, Rayan, hingga Casemiro silih berganti menembak. Nyland malah berubah menjadi pintu brankas yang password-nya lupa dibocorkan. Sementara Norwegia santai menguasai permainan. Statistik menunjukkan penguasaan bola 67 persen milik mereka. Brazil cuma 33 persen. Rasanya pemain Samba sedang ikut les sepak bola gratis yang gurunya Martin Ødegaard.

Babak pertama berakhir tanpa gol.

Di ruang ganti, Ancelotti memberi tausiyah, "Main yang benar. Jangan seperti proyek besar, anggarannya triliunan, hasilnya cuma pagar seng." Di ruang sebelah, Solbakken tersenyum, "Tetap tenang. Jangan seperti politik, hitungannya belum selesai, pesta kemenangan sudah duluan." Dua pelatih, dua nasihat, satu tujuan, bikin penonton senyum-senyum sendiri.

Babak kedua dimulai. Oscar Bobb dan Andreas Schjelderup masuk memperkuat Norwegia. Brazil membalas dengan Endrick, Neymar, dan Danilo. Serangan datang bertubi-tubi, tetapi Nyland masih seperti satpam galaksi yang menolak semua tamu tanpa undangan.

Menit ke-79, Andreas Schjelderup mengirim umpan lambung sempurna. Erling Haaland melompat tinggi. Duarrr... Goooool! Sundulannya membuat skor menjadi 0-1. Tribun Norwegia berubah menjadi festival Viking. Ada yang memukul panci, meniup peluit, sampai memeluk orang asing seolah saudara kandung yang baru ditemukan.

Belum selesai. Menit ke-90, Schjelderup kembali menyodorkan umpan matang. Haaland menerima bola di batas kotak penalti lalu melepaskan tembakan datar ke pojok kanan bawah gawang. Goooooool! 0-2! Stadion berguncang. Pendukung Norwegia menari seperti baru menemukan harta karun peninggalan leluhur Viking.

Brazil terus menyerang. Ederson sempat mendapat peluang pada menit 90+3, Danilo mengirim crossing, Vinicius terus menusuk, tetapi semuanya mentok di benteng Norwegia.

Lalu datang menit 90+10. Wasit menunjuk titik putih. Neymar maju sebagai algojo. Stadion kembali menahan napas. Gooool! Neymar mengeksekusi penalti dengan tembakan akurat ke sisi kanan gawang. Skor berubah menjadi 1-2. Pendukung Brazil sempat berteriak seolah keajaiban akan datang, tetapi itu hanya gol hiburan. Sesaat kemudian peluit panjang berbunyi.

Pertandingan selesai. Brazil tetap angkat koper. Norwegia melaju, Haaland menjadi mimpi buruk baru bagi Samba. Seluruh rakyat Brazil larut dalam kesedihan. Ada yang memandangi lima trofi Piala Dunia sambil menghela napas, ada yang mematikan televisi sebelum komentator selesai bicara, bahkan mungkin ada menyalahkan arah angin di New Jersey. Sementara para Viking berpesta pora. Malam itu mereka bukan sekadar menang, tetapi sukses membuat raksasa sepak bola dunia pulang lebih cepat sambil membawa koper penuh evaluasi.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Teganya KPK, Bupati Langkat Belum Sempat Makan Durian Malah Ditangkap

Teganya KPK, Bupati Langkat Belum Sempat Makan Durian Malah Ditangkap
Teganya KPK, Bupati Langkat Belum Sempat Makan Durian Malah Ditangkap.
Kita lanjutkan kisah ditangkapnya Bupati Langkat, Ondim. Rupanya saat penangkapan, ia mau makan durian. Eh..KPK menciduk duluan. Tega benar dah, kan kemponan. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Ini bukan sekadarn OTT. Ini tragedi gastronomi nasional. Ini luka kolektif pecinta durian se-Asia Tenggara. Ini peristiwa membuat para penggemar Musang King, Montong, Bawor, Petruk, Jemongko hingga Durian Kampung mendadak berkabung tiga hari tiga malam sambil menghirup aroma kulit durian bekas.

Nuan bayangkan. Lebih dari 200 kepala daerah dari seluruh Indonesia sedang berkumpul di Lubuk Pakam, Deli Serdang. Forum resmi Forbisda APKASI bersama KADIN sudah selesai sekitar pukul lima sore. Saatnya masuk agenda paling ditunggu para pemimpin daerah, pesta durian. Bukan pesta babi ya.

Jam enam malam. Meja sudah dipenuhi durian. Ada durian montong yang badannya segede koper haji plus. Ada musang king yang wajahnya seperti bangsawan kerajaan buah-buahan. Ada bawor yang bentuknya mirip granat zaman Majapahit. Ada petruk yang aromanya sanggup membuat tetangga tiga gang mendadak datang silaturahmi.

Suasana hangat, akrab, dan penuh persaudaraan. Para bupati saling ngobrol, tertawa, bertukar pengalaman pembangunan daerah, berbagi cerita APBD, mungkin juga diam-diam membandingkan siapa paling kuat makan durian tanpa takut kolesterol naik.

Namun tiba-tiba...Ondim menghilang. Syah Afandin, Bupati Langkat periode 2025–2030, lenyap.

Para bupati mulai panik. “Mana Ondim?” “Tadi ada.” “Kok sekarang hilang?” “Jangan-jangan dia sudah duluan nyerbu durian premium.”

“Jangan-jangan lagi cari Musang King ukuran kambing.”

Ternyata bukan. Bukan ke toilet. Bukan ke parkiran. Bukan pula sedang bertapa di bawah pohon durian.

Tim KPK datang lebih cepat dari semut menemukan durian pecah. Lebih agresif dari lalat yang baru dapat kabar ada durian busuk. Lebih presisi dari  tendangan Messi ke gawang Cape Varde.

Lalu, byurrr! Bupati Langkat langsung diamankan. Katanya terkait dugaan suap proyek di Pemkab Langkat.

Astaga. Durian belum dibelah. Durian belum dibuka. Durian belum disendok. Durian belum difoto untuk status WA bertuliskan, “Nikmat mana lagi yang kau dustakan.” Malah sudah harus berhadapan dengan prosedur hukum.

Lae bayangkan sedihnya durian-durian itu. Mereka sudah matang sempurna. Sudah rela jatuh dari pohon. Sudah siap mengorbankan kulit berduri demi membahagiakan umat manusia. Namun calon penikmatnya justru berangkat menuju Jakarta. "Kasian, kemponan die," kata budak Pontianak.

Ini benar-benar kisah paling pahit sejak seseorang membeli durian mahal ternyata isinya cuma tiga pongge dan dua biji.

Syah Afandin sendiri bukan tokoh sembarangan. Ia adik mantan Gubernur Sumut, Syamsul Arifin. Politikus PAN. Kariernya melesat dari DPRD, menjadi Plt Bupati, lalu terpilih penuh sebagai Bupati Langkat periode 2025–2030.

Namun kini sejarah mungkin akan mengenangnya dengan gelar baru. "Bupati yang ditangkap sebelum makan durian."

Sebuah gelar yang terdengar seperti judul film festival buah internasional. Kronologinya pun seperti sinetron ijazah. OTT dilakukan di Binjai. Lalu merembet ke Medan. Kemudian menyentuh Deli Serdang. Total tujuh orang diamankan di tiga lokasi berbeda.

Wakil Ketua KPK, Fitroh Rohcahyanto, ketika dikonfirmasi hanya menjawab singkat, “Benar.” Selesai. Tidak ada tambahan.

Tidak ada penjelasan apakah durian akhirnya disita sebagai barang bukti. Tidak ada keterangan apakah tersangka sempat mencium aromanya. Tidak ada informasi apakah ada kompensasi berupa durian frozen.

Sementara itu, para bupati lain kemungkinan tetap makan durian sambil termenung. Ada yang menyendok perlahan. Ada yang mengunyah sambil geleng kepala.

Ada yang berkata lirih, “Kasihan Ondim. Padahal duriannya fresh.” Yang lain mungkin berbisik, “Jangan-jangan KPK datang karena tidak kebagian durian.”

Tentu saja korupsi harus diberantas. Tidak boleh ditawar. Tidak boleh dikompromikan. Tetapi rakyat kecil tetap berhak bertanya dengan nada dramatis ala sinetron jam tujuh malam.

Kenapa harus pas pesta durian? Kenapa tidak sesudah dua pongge. Atau minimal sesudah satu biji Musang King?

Karena kini sejarah Indonesia bertambah satu bab baru. Ada orang kehilangan jabatan. Ada orang kehilangan kebebasan. Ada pula orang yang kehilangan kesempatan menikmati durian terbaik Sumatera Utara.

Sungguh tragis. Sungguh epik. Sungguh montong sekali.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Minggu, 05 Juli 2026

DPC Partai Demokrat Kayong Utara Gelar Rakercab, Tegaskan Komitmen Dukung Visi Misi Bupati dan Wakil Bupati

 

Foto bersama pengurus, kader dan simpatisan partai Demokrat Kayong Utara dalam rangkaian kegiatan Rakercab tahun 2026 di hotel Mahkota Kayong Sukadana Minggu (5/7/2026)
Kayong Utara - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kayong Utara menggelar Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Tahun 2026 yang digelar di hotel Mahkota Kayong Sukadana, Minggu (5/7/2026).

Dalam sambutanya, ketua DPC partai Demokrat Kayong Utara Sarnawi SH mengatakan kegiatan ini menjadi salah satu cara sebagai wadah silturahmi bagi seluruh pengurus, kader maupun simpatisan guna memperteguh semangat soliditas dan kebersamaan demi kebesaran partai. 

Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan Rakercab juga sebagai bagian dari kewajiban pengurus sebagaimana amanat dalam AD/ART partai. 

"Dalam AD/ART, Rakercab adalah kegiatan wajib yang diselenggarakan oleh DPC agar para kader dan simpatisan tetap solid dan menjadi wadah silaturahmi bersama," kata Sarnawi saat menyampaikan sambutanya.

Di momen itu Sarnawi juga menegaskan bahwa partai Demokrat Kayong Utara mendukung penuh kepemimpinan Bupati dan wakil Bupati Kayong Utara saat ini. 

Sebagai salah satu partai pengusung, menurut dia bahwa partai Demokrat Kayong Utara berharap agar Pemerintah Daerah lebih menguatkan ikhtiar pada bidang penguatan ekonomi masyarakat, serta mendukung investasi. 

Ia menambahkan pogram unggulan daerah yang sudah berjalan selama ini seperti Pendidikan dan Kesehatan gratis menurut partai Demokrat untuk dapat diteruskan. Peningkatan infrastukrur juga diharapkan lebih dapat menunjukan hasil nyata.

"Saat ini partai Demokrat mendukung Pemerintah Daerah agar fokus pada bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan serta inprastuktur. Semua hal itu bertujuan itu demi kepentingan masyarakat luas," kata Sarnawi. 

Rakercab ini dihadiri utusan dari Dewan Pengurus Daerah (DPD) partai Demokrat provinsi Kalimantan Barat, ketua DPC Demokrat kabupaten Ketapang serta anggota dewan maupun struktur dan simpatisan partai.(*/)

KORMA Kalbar 2026 Resmi Ditutup, Perkuat Silaturahmi dan Lahirkan Atlet Madrasah Berprestasi

Foto: Malam Penutupan Kompetisi Olahraga Madrasah (KORMA) Tingkat Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2026

KUBU RAYA - Kompetisi Olahraga Madrasah (KORMA) Tingkat Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2026 resmi ditutup Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kalbar Dr. H. Muhajirin Yanis, M.Pd.I., di halaman MAN 1 Kubu Raya, Kecamatan Rasau Jaya, Sabtu 4 Juli 2026 malam.

Ajang yang berlangsung 1-4 Juli 2026 itu diikuti 14 kontingen kabupaten/kota se-Kalbar. Cabang yang dipertandingkan meliputi bola voli putra-putri, bulu tangkis, dan tenis meja di MAN 1 Kubu Raya, MTs Al Muhajirin, MTsN Kubu Raya, MIN 2 Kubu Raya, dan GOR Omber Sport Limbung.

Sebelumnya, KORMA 2026 dibuka Wakil Bupati Kubu Raya H. Sukiryanto pada 1 Juli 2026 di halaman Kantor Bupati Kubu Raya. Persiapan panitia dimulai sejak 3 Juni 2026 meliputi pembentukan panitia, rakor, sosialisasi, audiensi, technical meeting, hingga finalisasi sarana.

Kepala Kanwil Kemenag Kalbar Muhajirin Yanis menyebut KORMA sebagai wadah strategis bagi peserta didik madrasah mengembangkan potensi olahraga sekaligus membentuk karakter sportif dan berdaya saing.

“Dengan adanya pertandingan tingkat provinsi, motivasi siswa untuk terus berlatih dan meningkatkan prestasi semakin besar. Kami berharap lahir atlet madrasah yang harumkan nama Kalbar di tingkat regional, nasional hingga internasional,” ujarnya.

Ia juga berharap pemerintah daerah terus mendukung pembinaan. “Anak-anak ini aset daerah yang dapat dipersiapkan untuk PORDA maupun kejuaraan lainnya,” katanya.

Wabup H. Sukiryanto mengapresiasi suksesnya KORMA yang mempererat silaturahmi antarsiswa madrasah se-Kalbar. 

“Kegiatan ini membuktikan siswa madrasah tidak hanya belajar agama, tetapi juga berprestasi di bidang olahraga. Olahraga membangun karakter, disiplin, sportivitas, dan ukhuwah Islamiyah,” ujarnya.

Pemkab Kubu Raya, lanjutnya, mendukung penuh mulai pembukaan, penyambutan kontingen, fasilitas, hingga penyerahan hadiah.

Kepala Kemenag Kubu Raya Dr. M. H. Ekhsan, S.Ag., M.Si., bersyukur seluruh rangkaian berjalan aman dan tertib. Ia mencontohkan nilai madrasah saat pertandingan voli dihentikan saat azan Magrib untuk salat berjamaah.

“Keberhasilan ini hasil kerja sama panitia, Kemenag kabupaten/kota, KKM, pengawas, Dharma Wanita, dan relawan,” ujarnya.

Upacara penutupan diakhiri penyerahan trofi dan pelepasan kontingen. Dengan tema “Madrasah Sehat, Sportif, dan Juara”, KORMA 2026 diharapkan menjadi momentum lahirnya atlet berprestasi sekaligus memperkuat persaudaraan warga madrasah di Kalbar. (Tim/Red)


Sabtu, 04 Juli 2026

Gubernur Ria Norsan Minta PLN Segera Perbaiki Mesin Rusak, Pemadaman 5-6 Jam Ganggu Masyarakat

Foto: Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan 

PONTIANAK - Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan akhirnya buka suara terkait pemadaman listrik berjam-jam yang terjadi di Kalbar.

Dalam keterangannya, Norsan mengaku telah berkoordinasi dengan PLN dan Pertamina untuk memastikan penyebab gangguan tersebut. Berdasarkan informasi yang diterimanya, pemadaman disebabkan adanya mesin yang mengalami kerusakan.

“Kita udah menyampaikan kepada PLN, juga kepada Pertamina, takut ada hubungannya minyak. Ternyata katanya mesinnya ada yang rusak,” ujar Ria Norsan.

Ia meminta PLN segera mempercepat perbaikan karena pemadaman yang berlangsung 5–6 jam telah mengganggu aktivitas masyarakat.

“Saya minta tolong kepada pimpinan PLN, untuk segera mungkin perbaiki mesin yang rusak,” tegasnya. (Tim/Rh)


Dua Kubu PWI Kalbar Bersatu, Ria Norsan Siap Sinergi Bangun Daerah

Dua Kubu PWI Kalbar Bersatu, Ria Norsan Siap Sinergi Bangun Daerah
Dua Kubu PWI Kalbar Bersatu, Ria Norsan Siap Sinergi Bangun Daerah.
Pontianak, Jumat, 3 Juli 2026 - Kota Pontianak menjadi saksi sejarah runtuhnya tembok pemisah internal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Barat. 

Jumat, 3 Juli 2026, Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, secara terbuka menyatakan dukungan penuh atas rekonsiliasi total lembaga pers tertua tersebut. Sinergi kuat pemerintah daerah bersama nakhoda baru pers kini siap mengakselerasi kemajuan wilayah.

Konflik panjang kini berganti kolaborasi instansi. Momentum epik ini menandai berakhirnya masa kelam dualisme kepengurusan lokal. Riak perpecahan melebur demi kepentingan publik bumi khatulistiwa.

"Sangat baik bagi Kalbar. Kami siap bersinergi dengan segenap insan pers dalam membangun daerah," tutur Ria Norsan penuh optimisme.

Pernyataan strategis tersebut meluncur langsung kala menerima kunjungan fungsionaris teras organisasi. 

Kehadiran figur penting membawa angin segar bagi iklim keterbukaan informasi publik. Pemerintah daerah membutuhkan mitra kritis, objektif, sekaligus solutif guna mengawal program strategis provinsi.

Persatuan ini diyakini mampu meningkatkan kualitas jurnalisme lokal secara masif. Wartawan daerah dapat kembali fokus menjalankan fungsi kontrol sosial tanpa sekat friksi internal. 

Energi positif kepengurusan baru diproyeksikan mempercepat penyebaran berita edukatif, akurat, bebas hoaks ke seluruh pelosok Kalimantan Barat.

SK Pusat Resmi
Legalitas kepengurusan baru kini berdiri kokoh tanpa keraguan hukum. Keputusan mufakat tertuang melalui Surat Keputusan PWI Pusat Nomor: 086-PGS/PP-PWI/VII/2026. 

Dokumen resmi tersebut menjadi landasan yuridis kuat, sekaligus memvalidasi struktur kepemimpinan rekonsiliatif.

Ketua PWI Kalbar Kundori ,Jauhari Sekertaris dan bendahara , Wawan Suwandi, beresrta jajaran pengurus  PWI Kalbar  sepakat dan menegaskan bahwa momentum penyatuan langkah merupakan amanat suci Kongres Persatuan PWI Cikarang, Jawa Barat, tahun 2025 silam. 

Komitmen tersebut akhirnya tuntas terwujud nyata wilayah Kalimantan Barat. Ego kelompok runtuh, digantikan semangat pengabdian profesi tanpa batas.

Langkah maju ini diprediksi memicu domino positif bagi ekosistem media nasional. 

PWI Kalbar kini bertransformasi menjadi role model penyelesaian konflik organisasi pers tanah air. 

Penguatan kompetensi wartawan lewat jurnalisme sastrawi, pelatihan digital, serta sertifikasi resmi kini kembali menjadi prioritas utama kerja kepengurusan.

Masyarakat menaruh harapan besar pundak kepengurusan bersatu. Pers sehat, pemerintahan kuat, masyarakat sejahtera bukan lagi sekadar impian kosong. Babak baru perjuangan pena Kalimantan Barat resmi dimulai hari ini.