Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Gas Melon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gas Melon. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Mei 2026

LPG 3 Kg Langka dan Mahal di Sekadau, DPRD Soroti Rantai Distribusi dan Biaya BBM

Kelangkaan LPG 3 Kg di Sekadau membuat harga gas melon di tingkat pengecer mencapai Rp40 ribu per tabung. DPRD menilai kondisi ini dipengaruhi rantai distribusi dan biaya BBM.
Kelangkaan LPG 3 Kg di Sekadau membuat harga gas melon di tingkat pengecer mencapai Rp40 ribu per tabung. DPRD menilai kondisi ini dipengaruhi rantai distribusi dan biaya BBM.

SEKADAU — Kelangkaan dan lonjakan harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) bersubsidi ukuran 3 kilogram terus dikeluhkan masyarakat di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Pada Selasa (5/5/2026), warga melaporkan harga gas melon di tingkat pengecer mencapai Rp40.000 per tabung, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Kondisi tersebut dinilai semakin membebani masyarakat yang bergantung pada LPG 3 kilogram untuk kebutuhan sehari-hari. Selain harus membeli dengan harga lebih mahal, warga juga mengaku kesulitan mendapatkan pasokan gas sehingga harus berkeliling mencari ke berbagai tempat.

Salah satu warga Desa Setawar, Agam, mengatakan masyarakat kehilangan banyak waktu produktif hanya untuk mendapatkan LPG bersubsidi.

“kami selalu kewalahan mencari kemana-mana dan harganya pun sampai 40 ribu rupiah. Ini bukan hanya kerugian materi karena harga mahal, tetapi juga kerugian waktu produktif. Banyak masyarakat kehilangan kesempatan bekerja karena harus antre atau berkeliling mencari gas,” ujarnya.

Menurut Agam, kelompok yang paling terdampak adalah ibu rumah tangga dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang aktivitasnya sangat bergantung pada ketersediaan gas melon.

Ia meminta Pemerintah Kabupaten Sekadau dan DPRD segera turun ke lapangan untuk memastikan distribusi LPG berjalan normal serta menindak jika ditemukan praktik yang merugikan masyarakat.

“Kami sangat berharap agar pemerintah daerah Sekadau dan juga para anggota DPRD supaya secepatnya bertindak atau melakukan sidak. Jangan sampai ada permainan oknum-oknum nakal yang sengaja menimbun dan mempermainkan harga LPG yang sangat merugikan masyarakat ini,” katanya.

Menanggapi keluhan warga, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Sekadau, Yohanes Ayub, menyebut persoalan kelangkaan dan tingginya harga LPG 3 kilogram merupakan masalah yang sudah lama terjadi di daerah tersebut.

Menurut Ayub, kenaikan harga kemungkinan dipengaruhi oleh panjangnya rantai distribusi dari SPBE hingga ke tangan konsumen. Selain itu, biaya operasional yang meningkat juga turut berkontribusi terhadap kenaikan harga di lapangan.

“Kita tidak menuduh ya, tapi faktor penyebab langka dan harga makin mahal di lingkungan masyarakat itu efek dari segi bisnis atau perdagangan. Strukturnya dari SPBE ke agen, lanjut ke pangkalan, lanjut lagi ke pengecer, baru ke masyarakat. Nah, kemungkinan kenaikan harga itu terjadi di lingkaran itu dengan berbagai alasan, termasuk biaya operasional dan faktor mahalnya BBM,” jelas Ayub.

Ia menambahkan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam beberapa waktu terakhir turut memengaruhi biaya transportasi distribusi LPG. Kondisi tersebut berdampak pada naiknya harga gas di tingkat konsumen sekaligus menekan daya beli masyarakat.

“Memang tidak kita pungkiri bahwa dampak dari kenaikan harga BBM sekarang ini daya beli masyarakat turun signifikan. Dan termasuk mahalnya harga LPG 3 kg itu kan salah satu efek domino dari kenaikan BBM tadi,” pungkasnya.

Hingga kini, masyarakat berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk memastikan pasokan LPG 3 kilogram kembali tersedia dengan harga yang sesuai ketentuan.

Penulis: Delova