Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label KaltimKutai Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KaltimKutai Timur. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juni 2026

Kutai Timur Kirim Perdana 12 Ton Kakao Fermentasi, Tanda Lompatan Diversifikasi Ekonomi Daerah

Kutai Timur kirim 12 ton kakao fermentasi ke Bandung, langkah diversifikasi ekonomi dari batu bara ke hilirisasi perkebunan kakao. (Gambar ilustrasi)
Kutai Timur kirim 12 ton kakao fermentasi ke Bandung, langkah diversifikasi ekonomi dari batu bara ke hilirisasi perkebunan kakao. (Gambar ilustrasi)

KUTAI TIMUR - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, mengirimkan perdana 12 ton biji kakao fermentasi ke PT Rasantara Cipta Pangan di Bandung pada Rabu (17/6) lalu di Sangatta, sebagai bagian dari penguatan hilirisasi dan diversifikasi ekonomi daerah yang selama ini bergantung pada batu bara dan CPO.

Pengiriman perdana tersebut menjadi langkah awal kerja sama berkelanjutan dengan rencana distribusi rutin setiap bulan berkisar 25 hingga 30 ton kakao fermentasi. Produk ini berasal dari Kecamatan Karangan yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra kakao di Kutai Timur.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menyebut keberhasilan ini sebagai lompatan besar dalam upaya mengurangi ketergantungan ekonomi daerah pada sektor ekstraktif. Menurutnya, masuknya produk kakao Kutim ke pasar industri di Pulau Jawa menunjukkan besarnya potensi sektor pertanian sebagai motor baru ekonomi kerakyatan.

Ia menambahkan, keberhasilan ini tidak lepas dari peningkatan standar mutu oleh kelompok tani dan pelaku usaha lokal yang telah menerapkan proses fermentasi secara konsisten hingga memenuhi kebutuhan pasar industri.

“Selama ini Kutim lebih dikenal sebagai daerah penghasil batu bara dan minyak sawit mentah (CPO), karena itu dengan keberhasilan melakukan diversifikasi ekonomi berupa fermentasi kakao ini tentu menjadi lompatan besar,” kata Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman di Sangatta, Minggu.

Ardiansyah juga menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus mengawal pengembangan kakao mulai dari budidaya, standardisasi pascapanen, hingga perluasan akses pasar.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Kutim Arief Nur Wahyuni menyatakan optimisme terhadap keberlanjutan pasar kakao fermentasi tersebut. Ia menilai kepastian pembelian akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan masyarakat desa.

“Adanya pasar tetap dan pengolahan kakao secara modern dari hulu ke hilir, maka perkebunan kakao berpotensi menjadi lapangan kerja menjanjikan,” ujarnya.

Dengan terbukanya akses pasar ke industri di Jawa dan adanya skema pengiriman rutin, komoditas kakao fermentasi dari Kutai Timur diproyeksikan menjadi salah satu penggerak ekonomi baru berbasis perkebunan, sekaligus memperkuat struktur ekonomi desa di wilayah sentra produksi.