Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Kemenperin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemenperin. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juni 2026

Sertifikasi Halal Jadi Fokus Pengembangan UMKM Kutim hingga 2026

Kemenperin dan Pemkab Kutai Timur memfasilitasi sertifikasi halal bagi 150 UMKM pada 2025 guna meningkatkan daya saing serta memperluas akses pasar nasional dan global.
Kemenperin dan Pemkab Kutai Timur memfasilitasi sertifikasi halal bagi 150 UMKM pada 2025 guna meningkatkan daya saing serta memperluas akses pasar nasional dan global.

SANGATTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Balai Standarisasi dan Pelayanan Jasa Industri Samarinda berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) untuk memfasilitasi pelatihan sertifikasi halal bagi pelaku usaha lokal. Program yang dijalankan pada 2025 ini ditargetkan membantu 150 UMKM memperoleh sertifikat halal di Kutim.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kutim, Nora Ramadani, mengatakan kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan UMKM di daerah.

"Balai Standarisasi dan Pelayanan Jasa Industri Samarinda Kemenperin RI dan Pemkab Kutim menjalin kerja sama untuk pengembangan UMKM ke depan," ujar Nora di Sangatta, Selasa.

Kerja sama tidak hanya mencakup pelatihan sertifikasi halal bagi pelaku usaha, tetapi juga peningkatan kompetensi laboratorium aparatur serta penerapan konsep industri hijau sebagai standar pembangunan industri di masa mendatang.

Program sertifikasi halal tersebut masuk dalam Program Sehati (Sertifikasi Halal Terpadu Industri Halal) yang dijalankan oleh Pusat Industri Halal Kemenperin. Sasaran program meliputi UMKM dan industri kecil menengah (IKM) yang bergerak di sektor makanan, minuman, kosmetik, kerajinan, hingga tekstil.

Menurut Nora, sertifikasi halal menjadi faktor penting untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Dari 250 UMKM yang terdaftar di Kutim, hingga 2025 baru 80 UMKM yang telah mengantongi sertifikat halal. Sementara itu, target hingga 2026 mencapai 230 UMKM bersertifikat halal. Karena itu, pemerintah menargetkan tambahan 150 UMKM dapat memperoleh sertifikasi melalui program kerja sama tersebut pada tahun ini.

Dalam pelaksanaannya, peserta akan mendapatkan sosialisasi dan pelatihan pengurusan dokumen, pendampingan dari tenaga ahli halal, pemeriksaan dan audit produk, hingga proses penerbitan sertifikat.

Nora mengapresiasi dukungan Kemenperin yang turun langsung ke Kutim untuk membantu pengembangan potensi usaha daerah. Ia meyakini langkah tersebut akan memperkuat sektor UMKM sekaligus meningkatkan pengenalan produk lokal ke pasar yang lebih luas.

Selain dikenal memiliki beragam pelaku UMKM, Kutim juga memiliki produk unggulan pertanian yang telah menembus pasar ekspor, salah satunya pisang kepok grecek. Keberhasilan tersebut dinilai menjadi modal penting untuk mendorong lebih banyak produk lokal bersaing di pasar nasional maupun global melalui sertifikasi halal.

Selasa, 14 April 2026

OIKN Perkuat Budaya Lokal Lewat Pelatihan Rotan dan Ukir Kayu Di IKN

OIKN menggelar pelatihan anyaman rotan dan ukir kayu bagi warga IKN pada 13–17 April 2026 untuk melestarikan budaya lokal sekaligus membuka peluang usaha baru.
OIKN menggelar pelatihan anyaman rotan dan ukir kayu bagi warga IKN pada 13–17 April 2026 untuk melestarikan budaya lokal sekaligus membuka peluang usaha baru.

IKN, Kaltim - Upaya melestarikan budaya lokal sekaligus membuka peluang usaha baru terus dilakukan oleh Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN). Salah satunya melalui pelatihan menganyam rotan dan mengukir kayu yang digelar bagi warga di wilayah delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN).

Pelatihan ini berlangsung selama lima hari, mulai 13 hingga 17 April 2026, bertempat di Tower D Rusun ASN 1 Nusantara. Kegiatan tersebut diikuti oleh 20 peserta yang merupakan perwakilan dari setiap kecamatan di wilayah delineasi IKN.

Direktur Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif OIKN, Muhsin Palinrungi, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari strategi penguatan kapasitas masyarakat berbasis budaya lokal.

"Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan budaya lokal," ujar Muhsin di Nusantara, Senin.

Materi Lengkap Dari Teori Hingga Praktik Langsung

Pelatihan ini menghadirkan narasumber dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin), yakni Edi Eskak, Hadi Sumarto, Nova Retnawati, dan Zuriyah yang telah berpengalaman dalam pengembangan industri kerajinan berbasis bahan alam.

Peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga praktik langsung mulai dari:

  • Pengolahan bahan baku rotan dan kayu

  • Teknik produksi kerajinan

  • Pengembangan desain produk

  • Strategi meningkatkan nilai jual produk

Pendekatan praktik langsung ini diharapkan mampu membuat peserta lebih siap menghasilkan produk secara mandiri yang layak dipasarkan.

Muhsin menegaskan, pembangunan IKN tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada pembangunan sumber daya manusia yang produktif dan kreatif.

"Melalui pelatihan ini, IKN tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi masyarakat berbasis budaya lokal, menuju ekosistem yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan," katanya.

Transfer Ilmu Ke Generasi Muda Jadi Harapan Peserta

Antusiasme peserta terlihat dari harapan besar mereka terhadap manfaat pelatihan ini. Salah satu peserta, Daniel, yang juga guru di SMPN 02 Kabupaten Penajam Paser Utara, menilai kegiatan ini dapat menjadi sarana penting untuk transfer ilmu kepada generasi muda.

Menurut Daniel, keterampilan yang didapat selama pelatihan akan sangat berguna untuk diajarkan kembali kepada siswa di sekolah.

"Saya berharap ilmu dari pelatihan yang saya ikuti saat ini, ke depan bisa saya ajarkan kembali kepada para siswa. Pengembangan ekonomi kreatif tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus melibatkan generasi berikutnya," ujarnya.

Ia juga menyoroti potensi rotan di wilayah sekitar IKN yang dinilai masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Dengan pelatihan ini, masyarakat diharapkan lebih terdorong untuk mengolah potensi tersebut menjadi produk bernilai ekonomi.

Peluang Pengembangan Usaha Lokal Semakin Terbuka

Hal serupa disampaikan oleh Dina, pelaku usaha perabotan dari Kecamatan Sepaku. Ia menilai pelatihan ini menjadi kesempatan penting untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas jaringan pemasaran.

"Saya berharap pelatihan ini bisa membantu saya meningkatkan kualitas produk dan memperluas pemasaran. Saya yakin dalam pelatihan selama lima hari ini akan banyak keterampilan dan pengetahuan yang saya peroleh," katanya.

Dengan dukungan pelatihan semacam ini, masyarakat diharapkan mampu menciptakan produk kerajinan yang tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga bernilai ekonomi tinggi.

Strategi OIKN Bangun Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya

Pelatihan kerajinan rotan dan ukir kayu ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang OIKN dalam mengembangkan sektor ekonomi kreatif di wilayah IKN.

Pendekatan berbasis budaya lokal dinilai memiliki potensi besar karena:

  • Memanfaatkan sumber daya lokal seperti rotan

  • Menjaga keberlanjutan tradisi kerajinan

  • Membuka peluang usaha baru

  • Mendorong lahirnya pelaku ekonomi kreatif

Langkah ini juga dinilai selaras dengan visi pembangunan IKN yang menekankan keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian budaya lokal.

Dengan adanya pelatihan ini, masyarakat tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi juga pelaku aktif dalam pertumbuhan ekonomi daerah.

FAQ

Apa tujuan pelatihan rotan dan ukir kayu oleh OIKN?
Tujuannya untuk melestarikan budaya lokal sekaligus meningkatkan keterampilan masyarakat agar mampu membuka usaha baru di sektor kerajinan.

Kapan pelatihan ini dilaksanakan?
Pelatihan berlangsung pada 13–17 April 2026.

Siapa saja peserta pelatihan?
Sebanyak 20 peserta yang merupakan perwakilan dari setiap kecamatan di wilayah delineasi IKN.

Siapa narasumber pelatihan ini?
Narasumber berasal dari Kementerian Perindustrian, yaitu Edi Eskak, Hadi Sumarto, Nova Retnawati, dan Zuriyah.

Apa manfaat pelatihan bagi masyarakat?
Masyarakat mendapatkan keterampilan produksi kerajinan, pengembangan desain, hingga peluang membuka usaha baru berbasis rotan dan kayu.