Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Kementerian Pertahanan Rusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kementerian Pertahanan Rusia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Mei 2026

Moskow Catat 23.802 Pelanggaran Gencatan Senjata oleh Pasukan Ukraina

Rusia mengklaim Ukraina melanggar gencatan senjata hingga 23.802 kali selama periode truce Hari Kemenangan, termasuk serangan drone dan artileri.
Rusia mengklaim Ukraina melanggar gencatan senjata hingga 23.802 kali selama periode truce Hari Kemenangan, termasuk serangan drone dan artileri.

MOSKOW — Kementerian Pertahanan Rusia pada Senin menyatakan pasukan Ukraina telah melanggar gencatan senjata sebanyak 23.802 kali selama periode penghentian sementara operasi militer yang diberlakukan Rusia dalam peringatan Hari Kemenangan ke-81 pada 8 Mei.

Dalam pernyataannya, kementerian menyebut seluruh pasukan Rusia di zona operasi militer khusus tetap mematuhi gencatan senjata dan bertahan di posisi masing-masing sesuai instruksi Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Meski demikian, Rusia menuduh pasukan Ukraina tetap melancarkan serangan menggunakan drone dan tembakan artileri ke posisi tentara Rusia selama masa truce berlangsung.

“Selama periode gencatan senjata di zona operasi militer khusus, tercatat total 23.802 pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Ukraina,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia.

Menurut data yang dirilis Moskow, pasukan Ukraina melakukan 12 upaya serangan serta 767 kali penembakan menggunakan peluncur roket ganda, artileri, dan mortir.

Selain itu, Rusia juga mengklaim terjadi 6.905 serangan drone yang diarahkan ke posisi mereka.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan tentaranya merespons serangan tersebut dengan tindakan “secara simetris”, termasuk membalas tembakan ke posisi artileri, mortir, pusat komando, hingga lokasi peluncuran drone milik Ukraina.

Rusia juga melaporkan kerugian di pihak Ukraina dalam berbagai sektor pertempuran. Moskow mengklaim lebih dari 320 tentara Ukraina tewas dalam pertempuran melawan kelompok tempur Vostok.

Sementara itu, lebih dari 305 personel Ukraina disebut tewas akibat operasi kelompok tempur Tsentr. Rusia juga mengklaim 90 tentara Ukraina tewas di sektor Sever, lebih dari 90 di wilayah Zapad, lebih dari 70 di sektor Yug, serta hingga 45 personel di area Dnepr.

Pernyataan ini disampaikan di tengah konflik Rusia-Ukraina yang masih berlangsung dan belum menunjukkan tanda mereda, meski beberapa kali upaya penghentian sementara pertempuran diumumkan kedua pihak.

Jumat, 08 Mei 2026

Rusia Klaim Ukraina Langgar Gencatan Senjata Ribuan Kali Di Zona Operasi

Rusia menuduh Ukraina melanggar gencatan senjata hingga 1.365 kali di zona operasi militer, membuat ketegangan kedua negara kembali meningkat.
Rusia menuduh Ukraina melanggar gencatan senjata hingga 1.365 kali di zona operasi militer, membuat ketegangan kedua negara kembali meningkat.

BorneoTribun - Rusia kembali melontarkan tuduhan terhadap Ukraina terkait dugaan pelanggaran gencatan senjata di wilayah operasi militer khusus. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim pihak Ukraina telah melakukan ribuan pelanggaran dalam periode penghentian sementara pertempuran yang sebelumnya diumumkan. Jumat, (8/5/2026).

Menurut keterangan resmi yang disampaikan pihak militer Rusia, tercatat ada sekitar 1.365 pelanggaran yang disebut terjadi di berbagai titik garis depan. Klaim tersebut langsung memicu perhatian publik internasional karena situasi konflik antara kedua negara memang masih sangat sensitif.

Pihak Rusia menyebut pelanggaran itu mencakup serangan artileri, penggunaan drone, hingga aktivitas militer lain yang dianggap bertentangan dengan kesepakatan penghentian serangan sementara. Meski begitu, belum ada verifikasi independen yang memastikan angka maupun detail tuduhan tersebut.

Di sisi lain, Ukraina belum memberikan tanggapan lengkap terkait tuduhan terbaru tersebut. Selama konflik berlangsung, kedua negara memang kerap saling menuduh melakukan pelanggaran kesepakatan di medan perang.

Situasi ini memperlihatkan bahwa upaya menciptakan stabilitas di kawasan masih menghadapi tantangan besar. Pengamat menilai, ketegangan yang terus terjadi membuat peluang terciptanya perdamaian permanen masih cukup sulit dalam waktu dekat.

Konflik Rusia dan Ukraina sendiri sudah berlangsung cukup lama dan berdampak besar terhadap kondisi geopolitik dunia. Selain memicu krisis kemanusiaan, perang juga memengaruhi sektor ekonomi global, energi, hingga keamanan kawasan Eropa.

Sejumlah negara dan organisasi internasional terus mendorong kedua pihak agar menahan diri dan kembali membuka jalur diplomasi. Namun hingga kini, situasi di lapangan masih menunjukkan tensi yang belum benar-benar mereda.

Masyarakat internasional kini menunggu perkembangan terbaru terkait klaim pelanggaran gencatan senjata tersebut, termasuk kemungkinan adanya langkah lanjutan dari kedua negara dalam beberapa hari ke depan.