Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Konflik Gaza. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konflik Gaza. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Mei 2026

Israel Konfirmasi Pemimpin Militer Hamas Izz al-Din al-Haddad Tewas

IDF mengonfirmasi kepala sayap militer Hamas di Gaza, Izz al-Din al-Haddad, tewas dalam operasi militer Israel yang melibatkan intelijen dan Angkatan Udara.
IDF mengonfirmasi kepala sayap militer Hamas di Gaza, Izz al-Din al-Haddad, tewas dalam operasi militer Israel yang melibatkan intelijen dan Angkatan Udara.

TEL AVIV — Militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) pada Sabtu mengonfirmasi telah menewaskan kepala sayap militer Hamas di Jalur Gaza, Izz al-Din al-Haddad, dalam operasi militer yang melibatkan Komando Selatan, intelijen militer, Angkatan Udara Israel, dan badan keamanan Israel (ISA).

Dalam pernyataan resminya, IDF menyebut operasi tersebut sebagai pencapaian operasional signifikan di tengah konflik yang masih berlangsung di Gaza.

“Dalam setiap percakapan saya dengan para sandera yang kembali, nama teroris utama Izz al-Din al-Haddad selalu muncul berulang kali. Hari ini kami berhasil melenyapkannya,” demikian pernyataan IDF.

Menurut militer Israel, Al-Haddad merupakan salah satu tokoh yang disebut terlibat dalam serangan Hamas pada 7 Oktober lalu. Ia juga memimpin sayap militer Hamas setelah kematian pemimpin sebelumnya di Gaza, Muhammad Sinwar.

IDF menyatakan Al-Haddad belakangan berupaya membangun kembali kemampuan militer Hamas serta merencanakan serangan terhadap warga sipil Israel dan personel militer Israel.

Konfirmasi ini menjadi perkembangan terbaru dalam operasi militer Israel di Gaza yang masih terus berlangsung sejak pecahnya perang antara Israel dan Hamas. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Hamas terkait klaim tersebut.

Senin, 16 Maret 2026

Serangan Udara Israel Hantam Kamp Pengungsi Gaza, Wanita Hamil dan Anak Jadi Korban

Serangan udara Israel di Gaza menewaskan 12 warga Palestina termasuk anak dan polisi setelah rumah di kamp pengungsi Nuseirat serta kendaraan polisi menjadi sasaran serangan. (Gambar ilustrasi AI)
Serangan udara Israel di Gaza menewaskan 12 warga Palestina termasuk anak dan polisi setelah rumah di kamp pengungsi Nuseirat serta kendaraan polisi menjadi sasaran serangan. (Gambar ilustrasi AI)

Gaza, Paletina -- Ketegangan di Jalur Gaza kembali memanas. Serangan udara Israel pada Minggu dilaporkan menewaskan sedikitnya 12 warga Palestina, termasuk anak-anak, seorang wanita hamil, serta sejumlah petugas kepolisian.

Peristiwa ini menambah daftar panjang korban dalam konflik yang hingga kini masih menyisakan luka mendalam bagi warga sipil di Gaza.

Rumah Warga Di Kamp Nuseirat Jadi Sasaran

Serangan udara pertama menghantam sebuah rumah di kamp pengungsi Nuseirat, wilayah padat penduduk di Gaza bagian tengah. Ledakan besar terjadi saat sebagian warga sedang beristirahat di rumah mereka.

Akibat serangan tersebut, empat orang dilaporkan meninggal dunia. Korban terdiri dari pasangan suami istri berusia sekitar 30 tahun dan anak laki-laki mereka yang baru berusia 10 tahun.

Korban lainnya adalah seorang remaja berusia 15 tahun yang merupakan tetangga keluarga tersebut.

Menurut laporan tenaga medis di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa, wanita yang meninggal dalam serangan tersebut diketahui sedang hamil dan mengandung anak kembar.

Jenazah para korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Awda di Nuseirat untuk proses identifikasi lebih lanjut.

Warga Terbangun Oleh Ledakan Mendadak

Mahmoud al-Muhtaseb, seorang warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi kejadian, menceritakan momen mencekam saat serangan terjadi.

Ia mengatakan ledakan datang secara tiba-tiba tanpa peringatan apa pun.

"Kami sedang tidur lalu tiba-tiba terbangun karena suara ledakan rudal. Serangannya sangat kuat dan tidak ada peringatan sebelumnya," ujarnya.

Bagi warga sekitar, kejadian seperti ini bukan hanya menimbulkan rasa takut, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam.

Banyak keluarga yang kini hidup dalam ketidakpastian, khawatir serangan berikutnya bisa terjadi kapan saja.

Serangan Kedua Hantam Kendaraan Polisi

Pada hari yang sama, serangan udara lainnya terjadi di jalur utama Salah al-Din, tepatnya di pintu masuk kota Zawaida di Gaza tengah.

Serangan tersebut menargetkan sebuah kendaraan polisi yang sedang melintas di kawasan tersebut.

Kementerian Dalam Negeri Gaza menyatakan bahwa delapan petugas polisi tewas dalam insiden tersebut.

Salah satu korban yang meninggal adalah Kolonel Iyad Ab Yousef, seorang pejabat kepolisian senior yang bertugas di wilayah Gaza tengah.

Peran Polisi Gaza Di Tengah Konflik

Selama perang berlangsung, sebagian besar aparat kepolisian Gaza sempat menghilang dari jalanan.

Hal ini terjadi setelah pasukan Israel mengambil alih sejumlah wilayah di Gaza.

Namun setelah tercapainya gencatan senjata pada Oktober lalu, aparat kepolisian mulai kembali bertugas dan terlihat di beberapa kawasan.

Mereka berupaya menegakkan kembali keamanan di wilayah yang tidak berada di bawah kendali militer Israel.

Kehadiran polisi ini dinilai penting untuk menjaga ketertiban masyarakat di tengah situasi yang masih penuh ketegangan.

Dampak Konflik Terhadap Warga Sipil

Serangan udara yang kembali terjadi menunjukkan bahwa kondisi keamanan di Gaza masih sangat rapuh.

Warga sipil menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Rumah yang hancur, keluarga yang kehilangan anggota tercinta, hingga anak-anak yang tumbuh dalam bayang-bayang konflik menjadi gambaran nyata kehidupan di wilayah tersebut.

Bagi banyak keluarga di Gaza, setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan hidup.

Situasi ini juga memicu perhatian dunia internasional yang terus memantau perkembangan konflik di kawasan tersebut.

Meski konflik terus berlangsung, harapan akan perdamaian tetap menjadi keinginan banyak pihak.

Warga sipil di Gaza berharap situasi bisa segera membaik agar mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih aman dan stabil.

Bagi mereka, perdamaian bukan sekadar kata-kata, melainkan kebutuhan nyata agar generasi berikutnya dapat tumbuh tanpa rasa takut.