Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Konflik Habitat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konflik Habitat. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2026

37 Orangutan Dievakuasi di Awal 2025, Tanda Tekanan Hutan Kaltim Kian Berat

Orangutan morio di Kalimantan Timur makin sering muncul di area tambang dan permukiman. Evakuasi meningkat akibat fragmentasi habitat di Lanskap Kutai.
Orangutan morio di Kalimantan Timur makin sering muncul di area tambang dan permukiman. Evakuasi meningkat akibat fragmentasi habitat di Lanskap Kutai.

Penajam Paser Utara, Kaltim — Orangutan morio (Pongo pygmaeus morio) di Kalimantan Timur kian sering muncul di jalan tambang, kawasan industri, hingga permukiman sepanjang 2024 hingga awal 2025, seiring tekanan besar akibat ekspansi pertambangan, perkebunan, dan kehutanan di wilayah tersebut.

Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA Kalimantan Timur) mencatat sedikitnya 31 individu orangutan dievakuasi sepanjang 2024 dari berbagai lokasi konflik. 

Jumlah itu meningkat menjadi 37 individu hanya dalam dua bulan awal 2025.

Lonjakan ini menunjukkan tekanan terhadap habitat semakin kuat, terutama karena banyak kawasan hidup orangutan berada di luar kawasan konservasi formal.

Conservation Action Network (Conservation Action Network) menyebut sekitar 80 persen keanekaragaman hayati penting di Indonesia berada di luar kawasan konservasi. 

Untuk orangutan, sekitar 76 persen populasinya hidup di area non-lindung seperti hutan produksi, perkebunan, hingga pertambangan.

Indonesia memiliki sekitar 14 juta hektare habitat orangutan, namun hanya 24 persen yang masuk kawasan konservasi.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Ari Wibawanto, menyebut orangutan morio di Lanskap Kutai yang membentang dari Sungai Mahakam hingga Sungai Kelay dengan luas sekitar 4,2 juta hektare, kini menghadapi tekanan serius akibat fragmentasi habitat.

“Di kawasan itu terdapat berbagai bentuk penggunaan lahan, tetapi justru di wilayah tersebut populasi orangutan masih tinggi sehingga potensi konflik juga meningkat,” ujarnya.

Ketua Forum Konservasi Orangutan Terpadu Lanskap Keraitan, Yaya Rayadin dari Universitas Mulawarman, mencontohkan kawasan konservasi komunal 49 hektare di perkebunan sawit mampu meningkatkan populasi orangutan dari enam menjadi sebelas individu.

Sekitar 70 persen konflik orangutan di Kalimantan Timur terjadi di Lanskap Keraitan, yang menjadi salah satu sub-kawasan penting dalam Lanskap Kutai.

Karena itu, Forum Konservasi Orangutan Terpadu bersama pemerintah, akademisi, perusahaan, dan lembaga konservasi mendorong pendekatan berbasis lanskap. 

Konsep ini menekankan konektivitas habitat agar satwa tetap memiliki ruang jelajah dan jalur pakan.

Area preservasi yang diusulkan mencakup sekitar 101 ribu hektare dengan tutupan vegetasi hingga 94 persen. 

Pendekatan ini diharapkan mampu menekan konflik sekaligus menjaga pertukaran genetik antar populasi orangutan.

Ke depan, Lanskap Keraitan diproyeksikan menjadi model nasional bahwa pembangunan ekonomi dan pelestarian keanekaragaman hayati dapat berjalan beriringan melalui tata kelola terpadu.