Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Kutai Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kutai Timur. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2026

“Ini Bukan Sekadar Tradisi” Bupati Kutim Tegaskan Budaya Jadi Kekuatan Warga

Kutai Timur perkuat budaya nusantara sebagai modal pembangunan. Bupati Ardiansyah Sulaiman tekankan budaya jadi perekat persatuan di tengah keberagaman masyarakat.
Kutai Timur perkuat budaya nusantara sebagai modal pembangunan. Bupati Ardiansyah Sulaiman tekankan budaya jadi perekat persatuan di tengah keberagaman masyarakat.

KUTAI TIMUR - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, terus memperkuat pelestarian budaya nusantara yang tumbuh di tengah masyarakat multietnis, sebagai upaya mempererat persatuan sekaligus menjadi bagian dari pembangunan daerah. Hal itu disampaikan Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman di Sangatta, Senin.

Ardiansyah menegaskan keberagaman budaya yang hidup di Kutai Timur bukan pemisah, melainkan kekuatan yang menyatukan masyarakat. Ia menyebut interaksi antar-suku telah melahirkan saling pengertian, pertukaran informasi, hingga sikap saling menghargai.

“Beragam seni dan budaya nusantara yang dilestarikan penduduk Kutim di desa-desa maupun kelurahan adalah aset tak ternilai, sekaligus menjadi modal penting dalam membangun daerah,” ujar Ardiansyah.

Ia menambahkan, budaya memiliki peran penting dalam pembangunan karena menjadi pendorong semangat dan perekat sosial di tengah masyarakat yang majemuk.

“Budaya pun tidak terpisahkan dari pembangunan, karena keberadaannya justru menjadi pendorong semangat dan perekat sosial,” lanjutnya.

Pernyataan itu juga disampaikan saat menghadiri Hari Jadi ke-26 Paguyuban Margo Kencono di Lapangan Margo Sentoso II, Sangatta Utara, Sabtu (20/6) malam.

Dalam kesempatan tersebut, Pemkab Kutim menegaskan komitmen untuk terus membuka ruang bagi pegiat seni, paguyuban, lembaga adat, dan tokoh budaya agar terus berkarya. Dukungan itu diwujudkan melalui festival budaya serta penguatan kelembagaan adat.

Ketua Paguyuban Margo Kencono, Andi Satyo, mengatakan organisasi tersebut berdiri sejak 1998 dan resmi terdaftar pada 2000 melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kutai Timur. Selama 26 tahun, mereka konsisten melestarikan kesenian Reog Ponorogo.

“Selama ini kami menjaga Reog Ponorogo sebagai bagian dari identitas budaya dan warisan leluhur,” kata Andi Satyo.

Peringatan hari jadi mengusung tema “Menjaga Tradisi, Menguatkan Identitas Budaya” dengan menampilkan lima kelompok seni reog yang disambut antusias masyarakat.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menegaskan budaya adalah aset dan perekat sosial yang tidak terpisahkan dari pembangunan daerah. Sementara Ketua Paguyuban Margo Kencono Andi Satyo menyebut pelestarian Reog Ponorogo menjadi bagian dari identitas budaya yang terus dijaga.

Pemkab Kutim menegaskan akan terus memperkuat ruang ekspresi budaya melalui festival dan penguatan lembaga adat. Upaya ini diharapkan memperkuat persatuan masyarakat sekaligus mendorong kreativitas dan kemandirian komunitas budaya di daerah.

Minggu, 21 Juni 2026

Saat Batu Bara Tak Selamanya Ada, Kutai Timur Mulai Bertaruh pada Kakao

Kutai Timur mengirim perdana 12 ton kakao fermentasi dari Karangan ke Bandung. Harga premium naik hingga 40 persen dan menjadi langkah diversifikasi ekonomi daerah.
Kutai Timur mengirim perdana 12 ton kakao fermentasi dari Karangan ke Bandung. Harga premium naik hingga 40 persen dan menjadi langkah diversifikasi ekonomi daerah.

Kutai Timur Mulai Keluar dari Ketergantungan Batu Bara, Kakao Fermentasi Jadi Harapan Baru Ekonomi Daerah

KUTAI TIMUR - Selama bertahun-tahun, Kutai Timur dikenal sebagai daerah yang pertumbuhan ekonominya ditopang oleh sektor pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit. Kedua sektor tersebut menjadi sumber utama pendapatan daerah sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Namun, di tengah dominasi industri ekstraktif, Kabupaten Kutai Timur mulai membangun fondasi ekonomi baru yang lebih berkelanjutan. Salah satu sektor yang kini mendapat perhatian serius adalah perkebunan kakao, khususnya melalui pengembangan biji kakao fermentasi yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Langkah tersebut mulai menunjukkan hasil. Pada 17 Juni 2026, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melepas pengiriman perdana 12 ton biji kakao fermentasi premium dari Kecamatan Karangan menuju industri pengolahan pangan di Bandung, Jawa Barat.

Momentum ini menjadi tonggak penting bagi upaya diversifikasi ekonomi daerah. Bukan sekadar pengiriman komoditas, tetapi juga bukti bahwa produk perkebunan rakyat mampu menembus pasar industri dengan kualitas yang bersaing.

Kakao Karangan Mulai Menjadi Komoditas Bernilai Tinggi

Kecamatan Karangan selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi kakao terbesar di Kutai Timur. Ribuan keluarga petani menggantungkan penghasilan dari tanaman yang telah dibudidayakan secara turun-temurun tersebut.

Sayangnya, selama bertahun-tahun sebagian besar hasil panen hanya dijual dalam bentuk biji kering biasa. Kondisi tersebut membuat petani sangat bergantung pada fluktuasi harga pasar dan memperoleh keuntungan yang terbatas.

Perubahan mulai terjadi ketika pemerintah daerah bersama kelompok tani memperkenalkan teknik fermentasi. Metode ini terbukti mampu meningkatkan kualitas biji kakao sekaligus menghasilkan aroma dan cita rasa yang dibutuhkan industri makanan dan minuman.

Hasilnya, harga kakao fermentasi mengalami peningkatan signifikan. Jika biji kakao biasa dijual dengan harga standar, kakao fermentasi premium dari Karangan kini memiliki nilai jual sekitar Rp38 ribu hingga Rp42 ribu per kilogram atau naik sekitar 35-40 persen.

Peningkatan harga tersebut memberikan dampak langsung terhadap pendapatan petani.

Proses Fermentasi Menjadi Kunci Peningkatan Mutu

Fermentasi merupakan tahapan penting dalam pengolahan kakao. Proses ini memungkinkan terbentuknya karakter rasa dan aroma khas cokelat yang menjadi standar industri.

Selain mengurangi rasa pahit, fermentasi juga meningkatkan kualitas biji sehingga lebih diminati pasar. Selama beberapa tahun terakhir, petani di Karangan mendapat pendampingan teknis untuk menerapkan metode tersebut secara benar.

Perubahan pola pengolahan memang tidak berlangsung instan. Pada awalnya, sebagian petani masih ragu karena khawatir hasil panen rusak atau sulit dipasarkan.

Namun setelah melihat kualitas yang dihasilkan dan harga jual yang lebih tinggi, semakin banyak petani mulai beralih ke sistem fermentasi.

Industri di Bandung Mulai Melirik Kakao Kutai Timur

Keberhasilan memasok kakao fermentasi ke perusahaan pengolahan pangan di Bandung menjadi pencapaian penting bagi petani Karangan.

Kerja sama tersebut memberikan kepastian pasar yang selama ini menjadi tantangan utama para petani. Dengan adanya pembeli tetap, petani tidak lagi bergantung pada tengkulak atau fluktuasi harga yang tidak menentu.

Pemerintah daerah juga menargetkan peningkatan volume pengiriman menjadi 25 hingga 30 ton setiap bulan mulai semester kedua 2026.

Jika target tersebut tercapai, maka sektor kakao berpotensi menjadi salah satu penopang ekonomi baru bagi masyarakat di luar sektor pertambangan dan kelapa sawit.

Diversifikasi Ekonomi Menjadi Strategi Jangka Panjang

Ketergantungan terhadap sumber daya alam yang tidak terbarukan menjadi tantangan yang dihadapi banyak daerah penghasil tambang, termasuk Kutai Timur.

Karena itu, pengembangan komoditas perkebunan bernilai tambah dinilai menjadi strategi penting untuk menjaga keberlanjutan ekonomi daerah di masa depan.

Kakao menjadi salah satu pilihan yang menjanjikan. Selain memiliki pasar yang luas, tanaman ini juga dapat menghasilkan dalam jangka panjang apabila dikelola dengan baik.

Keberhasilan Karangan diharapkan dapat menjadi contoh bagi kecamatan lain di Kutai Timur yang memiliki potensi serupa.

Peluang Hilirisasi Kakao Masih Terbuka Lebar

Pengembangan kakao di Kutai Timur tidak berhenti pada produksi biji fermentasi. Pemerintah daerah juga membuka peluang hilirisasi melalui pengembangan produk olahan.

Mulai dari bubuk cokelat, cokelat batangan hingga aneka makanan berbahan dasar kakao memiliki potensi ekonomi yang besar.

Jika industri pengolahan dapat berkembang di daerah, maka nilai tambah yang diperoleh masyarakat akan semakin besar. Selain meningkatkan pendapatan petani, sektor ini juga berpotensi membuka lapangan pekerjaan baru bagi generasi muda.

Dengan dukungan pasar, pendampingan teknis, dan komitmen pemerintah daerah, kakao perlahan mulai mengambil peran penting dalam wajah baru perekonomian Kutai Timur.

Keberhasilan pengiriman perdana dari Karangan menunjukkan bahwa diversifikasi ekonomi bukan lagi sekadar wacana. Perlahan tetapi pasti, Kutai Timur mulai membangun masa depan yang lebih beragam, berkelanjutan, dan tidak semata bergantung pada batu bara.

Sabtu, 20 Juni 2026

Kalau Batu Bara Dibatasi, Nasib Pekerja Kutai Timur Bakal Bagaimana?

Pemkab Kutai Timur siapkan antisipasi PHK sektor batu bara lewat pelatihan kerja dan koordinasi dengan Kementerian ESDM akibat wacana pembatasan produksi.
Pemkab Kutai Timur siapkan antisipasi PHK sektor batu bara lewat pelatihan kerja dan koordinasi dengan Kementerian ESDM akibat wacana pembatasan produksi.

Kutai Timur Mulai Hitung Dampak PHK Batu Bara, Ini Langkah yang Disiapkan

Kutai Timur, Kaltim - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur mulai menyiapkan berbagai langkah antisipasi menghadapi potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor batu bara pada Sabtu, 20 Juni 2026, di Sangatta, Kalimantan Timur. Langkah ini dilakukan menyusul wacana pembatasan produksi komoditas batu bara yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi daerah.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menegaskan bahwa kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan dampak besar, tidak hanya pada sektor industri, tetapi juga terhadap stabilitas sosial dan ketenagakerjaan di wilayah penghasil batu bara.

Menurutnya, daerah seperti Kutai Timur sangat bergantung pada aktivitas pertambangan sebagai penggerak utama ekonomi lokal. Karena itu, setiap perubahan kebijakan di sektor ini akan langsung berdampak pada tenaga kerja dan perputaran ekonomi masyarakat.

Pelatihan Kerja Jadi Strategi Utama Hadapi Risiko PHK

Salah satu strategi utama yang disiapkan pemerintah daerah adalah menggandeng perusahaan tambang untuk memperluas program pelatihan keterampilan bagi para pekerja. Program ini dirancang agar pekerja tambang memiliki kemampuan tambahan di luar sektor batu bara.

Pelatihan tersebut diarahkan ke berbagai bidang produktif seperti pertanian, perkebunan, perikanan, hingga pelatihan kewirausahaan. Tujuannya agar pekerja tetap memiliki peluang kerja meskipun terjadi pengurangan aktivitas di sektor tambang.

Bupati Ardiansyah menyebut bahwa beberapa perusahaan sebenarnya sudah mulai menjalankan program serupa sebagai bentuk antisipasi jangka panjang terhadap perubahan industri.

Salah satu contoh yang disorot adalah program pelatihan yang dilakukan oleh PT Pamapersada Nusantara di Kecamatan Bengalon. Program tersebut dinilai menjadi contoh konkret bagaimana dunia usaha ikut berperan dalam meningkatkan keterampilan tenaga kerja tambang.

“Pelatihan keterampilan atau kecakapan hidup ini sudah mulai dilakukan beberapa perusahaan. Ini menjadi salah satu solusi nyata,” ujar Ardiansyah di Sangatta.

Transformasi Tenaga Kerja Jadi Fokus Jangka Panjang

Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menilai bahwa peningkatan kompetensi tenaga kerja merupakan langkah penting dalam menghadapi perubahan struktur ekonomi. Ketergantungan pada sektor tambang dinilai tidak bisa terus menjadi satu-satunya tumpuan dalam jangka panjang.

Dengan adanya pelatihan lintas sektor, tenaga kerja diharapkan dapat beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan pasar kerja. Hal ini juga diharapkan dapat mencegah lonjakan angka pengangguran jika terjadi penurunan produksi batu bara.

Selain itu, langkah ini juga dipandang sebagai bagian dari upaya transformasi ekonomi daerah agar lebih beragam dan tidak terlalu bergantung pada sumber daya alam yang sifatnya terbatas.

Koordinasi dengan Kementerian ESDM Jadi Langkah Lanjutan

Selain pelatihan tenaga kerja, Pemkab Kutai Timur juga menyiapkan langkah strategis lain dengan melakukan koordinasi langsung ke tingkat pusat. Pemerintah daerah telah menjadwalkan pertemuan dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk membahas dampak kebijakan pembatasan produksi batu bara terhadap daerah penghasil.

Pertemuan tersebut sebelumnya direncanakan berlangsung pada 18 Juni 2026, namun mengalami penjadwalan ulang ke pekan berikutnya.

Dalam pertemuan itu, pemerintah daerah akan menyampaikan berbagai potensi dampak yang mungkin terjadi jika kebijakan pembatasan produksi benar-benar diterapkan. Mulai dari perlambatan ekonomi daerah, penurunan aktivitas usaha, hingga risiko meningkatnya angka pengangguran.

Pemkab Kutai Timur juga menyoroti potensi dampak lanjutan seperti meningkatnya angka kemiskinan dan munculnya persoalan sosial baru jika tidak ada mitigasi yang tepat dari pemerintah pusat.

Dampak Ekonomi Jadi Sorotan Utama

Sektor batu bara selama ini menjadi salah satu penggerak utama ekonomi di Kutai Timur. Aktivitas pertambangan tidak hanya menciptakan lapangan kerja langsung, tetapi juga menggerakkan sektor pendukung seperti transportasi, logistik, perdagangan, hingga jasa.

Jika terjadi pembatasan produksi dalam skala besar, efek domino diperkirakan akan terasa pada berbagai sektor tersebut. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi masyarakat secara luas.

Oleh karena itu, Pemkab Kutai Timur menilai penting adanya kebijakan yang seimbang antara kepentingan nasional dan kondisi daerah penghasil sumber daya alam.

Upaya Mitigasi dan Harapan Pemerintah Daerah

Langkah antisipasi yang dilakukan Pemkab Kutai Timur menunjukkan upaya serius dalam menghadapi dinamika kebijakan energi nasional. Pemerintah daerah tidak hanya fokus pada penanganan jangka pendek, tetapi juga menyiapkan strategi jangka panjang melalui peningkatan keterampilan tenaga kerja.

Kolaborasi dengan perusahaan tambang dan pemerintah pusat diharapkan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Dengan adanya sinergi tersebut, dampak negatif dari perubahan kebijakan di sektor batu bara diharapkan dapat diminimalkan.

Pemkab Kutai Timur juga berharap agar lebih banyak perusahaan tambang yang mengikuti langkah pelatihan tenaga kerja seperti yang sudah dilakukan beberapa pihak, sehingga pekerja memiliki kesiapan menghadapi perubahan industri di masa depan.

Rabu, 03 Juni 2026

Sertifikasi Halal Jadi Fokus Pengembangan UMKM Kutim hingga 2026

Kemenperin dan Pemkab Kutai Timur memfasilitasi sertifikasi halal bagi 150 UMKM pada 2025 guna meningkatkan daya saing serta memperluas akses pasar nasional dan global.
Kemenperin dan Pemkab Kutai Timur memfasilitasi sertifikasi halal bagi 150 UMKM pada 2025 guna meningkatkan daya saing serta memperluas akses pasar nasional dan global.

SANGATTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Balai Standarisasi dan Pelayanan Jasa Industri Samarinda berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) untuk memfasilitasi pelatihan sertifikasi halal bagi pelaku usaha lokal. Program yang dijalankan pada 2025 ini ditargetkan membantu 150 UMKM memperoleh sertifikat halal di Kutim.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kutim, Nora Ramadani, mengatakan kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan UMKM di daerah.

"Balai Standarisasi dan Pelayanan Jasa Industri Samarinda Kemenperin RI dan Pemkab Kutim menjalin kerja sama untuk pengembangan UMKM ke depan," ujar Nora di Sangatta, Selasa.

Kerja sama tidak hanya mencakup pelatihan sertifikasi halal bagi pelaku usaha, tetapi juga peningkatan kompetensi laboratorium aparatur serta penerapan konsep industri hijau sebagai standar pembangunan industri di masa mendatang.

Program sertifikasi halal tersebut masuk dalam Program Sehati (Sertifikasi Halal Terpadu Industri Halal) yang dijalankan oleh Pusat Industri Halal Kemenperin. Sasaran program meliputi UMKM dan industri kecil menengah (IKM) yang bergerak di sektor makanan, minuman, kosmetik, kerajinan, hingga tekstil.

Menurut Nora, sertifikasi halal menjadi faktor penting untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Dari 250 UMKM yang terdaftar di Kutim, hingga 2025 baru 80 UMKM yang telah mengantongi sertifikat halal. Sementara itu, target hingga 2026 mencapai 230 UMKM bersertifikat halal. Karena itu, pemerintah menargetkan tambahan 150 UMKM dapat memperoleh sertifikasi melalui program kerja sama tersebut pada tahun ini.

Dalam pelaksanaannya, peserta akan mendapatkan sosialisasi dan pelatihan pengurusan dokumen, pendampingan dari tenaga ahli halal, pemeriksaan dan audit produk, hingga proses penerbitan sertifikat.

Nora mengapresiasi dukungan Kemenperin yang turun langsung ke Kutim untuk membantu pengembangan potensi usaha daerah. Ia meyakini langkah tersebut akan memperkuat sektor UMKM sekaligus meningkatkan pengenalan produk lokal ke pasar yang lebih luas.

Selain dikenal memiliki beragam pelaku UMKM, Kutim juga memiliki produk unggulan pertanian yang telah menembus pasar ekspor, salah satunya pisang kepok grecek. Keberhasilan tersebut dinilai menjadi modal penting untuk mendorong lebih banyak produk lokal bersaing di pasar nasional maupun global melalui sertifikasi halal.

Minggu, 10 Mei 2026

Pemkab Kutim Siapkan Beasiswa untuk 1.000 Anak Penghafal Al-Quran

Pemkab Kutim menyiapkan beasiswa bagi 1.000 anak penghafal Al-Quran sebagai upaya membangun generasi qurani yang berakhlak dan unggul di bidang pendidikan agama.
Pemkab Kutim menyiapkan beasiswa bagi 1.000 anak penghafal Al-Quran sebagai upaya membangun generasi qurani yang berakhlak dan unggul di bidang pendidikan agama.

Kutim, Kaltim - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, menyiapkan program beasiswa bagi 1.000 anak penghafal Al-Quran sebagai upaya membentuk generasi qurani yang berakhlak mulia. Program tersebut disampaikan Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman di Sangatta, Ahad.

Ardiansyah mengatakan program beasiswa tahfiz menjadi bagian dari 50 program unggulan pemerintah daerah di sektor pendidikan. Program itu ditujukan untuk mendukung lahirnya generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki pemahaman agama yang kuat.

Menurutnya, hafalan Al-Quran tidak sekadar untuk diingat, tetapi juga dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Pemerintah Kabupaten Kutim berkomitmen dalam mendukung lahirnya generasi qurani melalui program pendidikan yang saat ini dilaksanakan di berbagai jenjang pendidikan baik sekolah negeri maupun swasta,” ujar Ardiansyah.

Ia menambahkan, teknis pelaksanaan program beasiswa bagi 1.000 penghafal Al-Quran akan diatur lebih lanjut oleh Dinas Pendidikan.

Sehari sebelumnya, Ardiansyah juga menghadiri kegiatan Khatmul Quran di SD Islam Terpadu Daarussalam Sangatta. Dalam kesempatan itu, ia berharap kegiatan serupa ke depan dapat digelar pula di sekolah-sekolah negeri.

Menurut dia, kegiatan keagamaan seperti khataman menjadi bentuk dukungan terhadap pembentukan karakter siswa agar seimbang antara pendidikan akademik dan nilai keagamaan.

“Kegiatan seperti khataman merupakan bentuk dukungan agar lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam pendidikan agama,” katanya.

Khatmul Quran di SD Islam Terpadu Daarussalam menjadi momen bagi para santri yang telah menyelesaikan pembelajaran Al-Quran dengan capaian tartil, turjuman, serta tahfiz juz 1–16, juz 29, dan juz 30.

Sebanyak 220 santri dari kelas II hingga kelas VI mengikuti khataman dan ujian kandungan Al-Quran. Dalam kegiatan tersebut, para santri menampilkan kemampuan membaca hingga menerjemahkan ayat Al-Quran yang dibacakan.

Program beasiswa dan dukungan terhadap kegiatan keagamaan itu diharapkan menjadi langkah berkelanjutan Pemkab Kutim dalam memperkuat pendidikan karakter dan agama di lingkungan sekolah.

Selasa, 05 Mei 2026

Kutim Beralih Ke Bus Listrik Pelajar, Tantangan Infrastruktur Jadi Sorotan

Pemkab Kutai Timur uji coba bus listrik sekolah di Sangatta untuk kurangi emisi, kemacetan, dan biaya transportasi pelajar.
Pemkab Kutai Timur uji coba bus listrik sekolah di Sangatta untuk kurangi emisi, kemacetan, dan biaya transportasi pelajar.

Kutim, Kaltim - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur mulai menguji penggunaan bus listrik sebagai angkutan pelajar di wilayah Sangatta. Langkah ini menjadi bagian dari strategi daerah dalam mendorong transportasi ramah lingkungan sekaligus menjawab kebutuhan mobilitas siswa.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menyampaikan bahwa kehadiran bus listrik tidak hanya berorientasi pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pelajar dalam perjalanan ke sekolah.

Menurut Ardiansyah Sulaiman, program ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi yang selama ini menjadi salah satu penyumbang kemacetan, terutama pada jam sibuk pagi dan siang hari.

Selain aspek lingkungan, keberadaan bus listrik juga diharapkan mampu meringankan beban ekonomi keluarga. Orang tua tidak lagi harus mengeluarkan biaya tambahan untuk antar-jemput anak setiap hari.

Uji coba tahap awal menghadirkan satu unit bus dengan kapasitas sekitar 30 penumpang. Meski jumlahnya masih terbatas, pemerintah daerah berencana menambah armada secara bertahap, dengan mempertimbangkan kemampuan fiskal daerah.

Antusiasme terlihat dari siswa, orang tua, dan pihak sekolah yang menyambut positif kehadiran moda transportasi baru ini.

Penggunaan bus listrik saat ini difokuskan untuk kawasan perkotaan seperti Sangatta. Ardiansyah Sulaiman menilai kondisi geografis Kutai Timur yang berbukit dan tersebar menjadi tantangan tersendiri dalam pemerataan layanan.

Untuk wilayah dengan akses yang lebih sulit, pemerintah mempertimbangkan penggunaan bus berbahan bakar minyak sebagai solusi sementara agar seluruh pelajar tetap mendapatkan layanan transportasi yang layak.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur Mulyono menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari implementasi program unggulan daerah.

Mulyono menyebut Dinas Pendidikan berperan sebagai penyedia manfaat program, sementara operasional teknis dijalankan oleh Dinas Perhubungan. Perencanaan program ini telah dimulai sejak 2024 dan baru dapat direalisasikan pada tahun ini.

Pada tahap awal, bus listrik akan melayani pelajar SMA Negeri 2 Sangatta Utara yang selama ini belum terjangkau angkutan umum.

Rute perjalanan dimulai dari kawasan Hotel Pinang menuju sekolah. Pemerintah daerah akan melakukan evaluasi berkala untuk memastikan efektivitas layanan tanpa mengganggu aktivitas belajar siswa.

FAQ

1. Apa tujuan utama bus listrik di Kutai Timur?
Mengurangi emisi karbon, kemacetan, serta meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pelajar.

2. Berapa jumlah bus yang tersedia saat ini?
Saat ini baru tersedia satu unit untuk tahap uji coba.

3. Siapa yang mengelola program ini?
Program dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Dinas Perhubungan Kutai Timur.

4. Apakah semua wilayah akan menggunakan bus listrik?
Tidak, penggunaan bus listrik difokuskan di wilayah perkotaan, sementara daerah lain menggunakan bus berbahan bakar minyak.

5. Siapa yang menjadi prioritas pengguna bus ini?
Pelajar, khususnya yang belum terlayani angkutan umum seperti di SMA Negeri 2 Sangatta Utara.

Jumat, 24 April 2026

Ritual Erau Kutai Akan Digelar Tahun Ini, Upaya Jaga Identitas Generasi Muda

Pemkab Kutai Timur memastikan Ritual Erau Kutai tetap digelar tahun ini sebagai upaya menjaga budaya lokal sekaligus mendorong sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Pemkab Kutai Timur memastikan Ritual Erau Kutai tetap digelar tahun ini sebagai upaya menjaga budaya lokal sekaligus mendorong sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.

Kutim, Kaltim - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, tengah mematangkan persiapan pelaksanaan ritual adat Erau Kutai yang dijadwalkan berlangsung pada tahun ini. Tradisi tahunan tersebut dinilai penting sebagai sarana menjaga keberlangsungan budaya lokal di tengah pesatnya arus modernisasi.

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menyebutkan bahwa Erau Kutai merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Kutai yang secara rutin digelar setiap tahun dengan beragam kegiatan bernuansa adat dan seni tradisional.

Menurutnya, meski jadwal pasti masih dalam tahap pembahasan, pemerintah daerah memastikan rangkaian kegiatan Erau tetap akan dilaksanakan pada tahun ini.

Pemerintah daerah saat ini mempertimbangkan dua opsi waktu pelaksanaan. Erau Kutai kemungkinan digelar bersamaan dengan peringatan hari jadi Kabupaten Kutai Timur pada Oktober, atau diselenggarakan secara terpisah sebagai agenda budaya tersendiri.

Keputusan tersebut akan diambil setelah mempertimbangkan berbagai aspek teknis dan kesiapan panitia.

Meski jadwal belum ditetapkan, sejumlah rangkaian kegiatan tradisional telah direncanakan, di antaranya:

  • Pelas Tanah

  • Pelas Pijak Tanah

  • Pelas Laut

  • Festival seni budaya Kutai

  • Pertandingan olahraga tradisional

Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan mampu menghadirkan nuansa adat yang kuat sekaligus menjadi daya tarik bagi masyarakat dan wisatawan.

Sebagai bagian dari persiapan menuju pelaksanaan Erau Kutai, pemerintah daerah juga telah melakukan pengukuhan pemangku adat Kutai di wilayah Kutai Timur.

Prosesi tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Ardiansyah Sulaiman, disertai penyerahan Sabda Pandita Ratu dari Sultan Aji Muhammad Arifin, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21.

Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat kelembagaan adat sekaligus memastikan keberlanjutan tradisi lintas generasi di tengah perubahan zaman.

Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menekankan bahwa pelaksanaan Erau Kutai tidak hanya bertujuan sebagai kegiatan seremonial semata. Tradisi ini diharapkan mampu memperkuat identitas budaya daerah serta menumbuhkan rasa bangga generasi muda terhadap warisan leluhur.

Selain itu, pelibatan generasi muda dalam berbagai kegiatan adat dan seni tradisional dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan nilai-nilai budaya lokal.

Partisipasi aktif dari kalangan pelajar, komunitas seni, dan masyarakat umum diharapkan menjadi bagian penting dalam kesuksesan acara tersebut.

Pelaksanaan Erau Kutai juga diproyeksikan memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat lokal.

Festival budaya berskala daerah seperti Erau dinilai mampu menarik kunjungan wisatawan, yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan usaha kecil, sektor kuliner, hingga kerajinan tradisional.

Pemerintah daerah pun mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk sektor swasta dan pelaku seni budaya, untuk mendukung penyelenggaraan Erau Kutai agar berjalan lancar dan memberikan manfaat nyata.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga menekankan pentingnya peran pemangku adat dalam menjaga nilai-nilai budaya serta menjadi pengayom masyarakat.

Para pemangku adat diharapkan mampu menjalankan tugas secara konsisten, sekaligus menjadi penjaga tradisi agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

Dengan dukungan berbagai pihak, pelaksanaan Erau Kutai diharapkan tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga memperkuat citra Kutai Timur sebagai daerah yang kaya akan nilai budaya.

Festival Lom Plai Kian Mendunia Usai Terpilih Dalam KEN 2026

Festival Lom Plai Kutai Timur resmi masuk kalender KEN 2026, memperkuat potensi wisata budaya dan ekonomi lokal berbasis tradisi masyarakat Dayak Wehea.
Festival Lom Plai Kutai Timur resmi masuk kalender KEN 2026, memperkuat potensi wisata budaya dan ekonomi lokal berbasis tradisi masyarakat Dayak Wehea.

Festival Lom Plai Kutai Timur Masuk KEN 2026, Peluang Wisata Budaya Kian Terbuka

Kutai Timur, Kaltim - Pengakuan terhadap tradisi lokal kembali datang dari tingkat nasional. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur berhasil membawa Festival Lom Plai masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, sebuah program nasional yang menyoroti agenda pariwisata unggulan di berbagai daerah.

Keberhasilan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat citra Kutai Timur sebagai destinasi wisata budaya berbasis kearifan lokal.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur, Ririn Sari Dewi, menyampaikan bahwa pengakuan ini merupakan hasil dari konsistensi masyarakat adat dalam menjaga warisan budaya yang telah berlangsung turun-temurun.

Menurutnya, Festival Lom Plai bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari filosofi kehidupan masyarakat adat Dayak Wehea yang sarat nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap alam.

Festival Lom Plai merupakan pesta adat pasca panen padi yang memiliki makna spiritual bagi masyarakat Dayak Wehea. Tradisi ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian sekaligus penghormatan kepada leluhur.

Rangkaian kegiatan dimulai secara sakral melalui prosesi Ngesea Egung, yaitu pemukulan gong yang menandai dimulainya seluruh ritual adat.

Selanjutnya, masyarakat melaksanakan tradisi Laq Pesyai, yakni perjalanan menuju hulu Sungai Wehea untuk mengambil berbagai hasil hutan seperti rotan dan buah-buahan yang akan digunakan dalam upacara.

Ritual berlanjut dengan Naq Pesyai Duq Min dan Wet Min, yang melambangkan penetapan batas wilayah adat antara hulu dan hilir kampung menggunakan anyaman rotan.

Pada tahapan berikutnya, perempuan adat menjalankan ritual Ngelwung Pan, sebuah kegiatan spiritual yang dilakukan secara tertutup di bawah rumah keturunan Hepui.

Memasuki bulan April, masyarakat adat mulai mempersiapkan hari puncak dengan membangun pondok darurat di tepi sungai melalui tradisi Naq Jengea.

Puncak acara yang dikenal sebagai Bob Jengea menjadi bagian paling meriah dalam rangkaian festival. Berbagai kegiatan digelar, mulai dari pawai budaya, pertunjukan tari tradisional Hudoq, hingga atraksi perang-perangan di atas sungai yang disebut Seksiang.

Seluruh rangkaian ritual berlangsung selama kurang lebih 38 hari dan akan ditutup dengan prosesi Embos Epaq Plai, yaitu ritual pembersihan kampung yang bertujuan menolak bala serta memohon keberkahan untuk musim tanam berikutnya.

Selain kaya nilai budaya, Festival Lom Plai juga didukung oleh kondisi alam yang masih terjaga. Lanskap hutan alami dan kehidupan masyarakat adat yang unik dinilai menjadi daya tarik kuat bagi wisatawan.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melihat potensi besar dalam pengembangan wisata berbasis budaya dan ekowisata di wilayah tersebut.

Upaya kolaborasi antara pemerintah daerah dan pemangku adat menjadi faktor penting untuk memastikan keberlanjutan tradisi sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.

Dengan masuknya Festival Lom Plai dalam kalender nasional, diharapkan jumlah kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara dapat meningkat, sehingga memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi lokal.

Keberadaan Festival Lom Plai tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Dayak Wehea, tetapi juga bagian dari identitas budaya Kalimantan Timur.

Penguatan promosi dan pengelolaan yang berkelanjutan diharapkan mampu menjaga tradisi ini tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Lebih dari sekadar festival, Lom Plai menjadi simbol harmoni antara manusia, alam, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

FAQ

1. Apa itu Festival Lom Plai?
Festival Lom Plai adalah pesta adat masyarakat Dayak Wehea yang digelar setelah panen padi sebagai bentuk rasa syukur kepada leluhur dan alam.

2. Di mana Festival Lom Plai diselenggarakan?
Festival ini berlangsung di Desa Nehas Liah Bing, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

3. Apa itu Karisma Event Nusantara (KEN)?
KEN adalah program nasional yang menetapkan event unggulan daerah sebagai kalender resmi pariwisata Indonesia.

4. Berapa lama rangkaian Festival Lom Plai berlangsung?
Festival Lom Plai berlangsung sekitar 38 hari dengan berbagai ritual adat hingga acara puncak.

5. Apa dampak masuknya Lom Plai ke KEN 2026?
Masuknya Lom Plai ke KEN membuka peluang promosi nasional, meningkatkan kunjungan wisata, serta mendukung ekonomi masyarakat lokal.

Rabu, 22 April 2026

Produksi CPO Tinggi, Kutim Bidik Industri Hilir Sawit Di KEK Maloy

Kutim mempercepat hilirisasi sawit melalui KEK Maloy untuk mendukung ketahanan energi nasional dan menarik investasi industri turunan sawit.
Kutim mempercepat hilirisasi sawit melalui KEK Maloy untuk mendukung ketahanan energi nasional dan menarik investasi industri turunan sawit.

Kutim, Kaltim - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, mulai mempercepat pengembangan industri hilir kelapa sawit sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Strategi ini tidak lagi menempatkan sawit hanya sebagai bahan baku, tetapi sebagai sumber energi alternatif bernilai tinggi.

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan bahwa arah pembangunan daerah kini berfokus pada transformasi ekonomi dari sektor hulu menuju industri berbasis produk turunan. Menurutnya, hilirisasi sawit menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

Ia menjelaskan bahwa kelapa sawit tidak hanya menghasilkan minyak goreng, tetapi juga memiliki potensi besar dalam produksi bahan bakar ramah lingkungan seperti biofuel serta biomassa yang dapat diolah menjadi energi terbarukan.

Langkah tersebut juga selaras dengan kebijakan pemerintah pusat yang menetapkan kelapa sawit sebagai salah satu komoditas penting dalam mendukung ketahanan energi nasional di masa depan.

Produksi Sawit Kutim Dinilai Sangat Besar

Kabupaten Kutai Timur memiliki modal kuat untuk mengembangkan industri hilir sawit. Luas perkebunan sawit di wilayah ini mencapai sekitar 529.586 hektare, dengan produksi tandan buah segar (TBS) mencapai 7,76 juta ton.

Dari hasil produksi tersebut, volume crude palm oil (CPO) yang dihasilkan mencapai sekitar 4,6 juta ton. Angka tersebut menjadikan Kutai Timur sebagai daerah penghasil CPO terbesar di Provinsi Kalimantan Timur pada 2023.

Besarnya produksi ini dinilai sebagai peluang strategis untuk memperkuat sektor industri pengolahan di tingkat daerah, sehingga hasil komoditas tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.

KEK Maloy Jadi Pusat Industri Hilir

Untuk mendukung percepatan hilirisasi, pemerintah daerah telah menyiapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) sebagai pusat pengembangan industri berbasis sawit.

Kawasan ini dinilai memiliki keunggulan strategis dari sisi logistik karena dilengkapi fasilitas pelabuhan yang terhubung langsung dengan jalur perdagangan internasional melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI).

Keberadaan kawasan industri tersebut diharapkan dapat menarik investasi baru, khususnya untuk pembangunan pabrik pengolahan seperti kilang minyak sawit (refinery) dan pabrik biodiesel.

Perusahaan Didorong Terlibat Aktif

Pemerintah Kabupaten Kutai Timur juga menekankan pentingnya peran perusahaan perkebunan dalam mendukung proses hilirisasi. Perusahaan diharapkan tidak hanya fokus pada produksi bahan mentah, tetapi juga membangun industri pengolahan yang berkelanjutan.

Langkah ini diyakini dapat menekan biaya logistik, meningkatkan daya saing produk, serta membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal.

Selain itu, pengembangan industri turunan sawit di daerah juga dinilai mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi regional secara signifikan.

Peluang Investasi Dibuka Lebar

Pemerintah daerah menyatakan siap memberikan dukungan bagi investor yang ingin berinvestasi di sektor hilirisasi sawit di Kutai Timur.

Investasi tersebut tidak hanya terbuka bagi pelaku usaha lokal, tetapi juga investor nasional dan internasional yang ingin mengembangkan industri energi berbasis sawit di kawasan tersebut.

Dengan adanya industri pengolahan di dalam wilayah, rantai pasok diharapkan menjadi lebih efisien, sekaligus memperkuat posisi daerah dalam mendukung ketahanan energi nasional.

FAQ

1. Apa tujuan hilirisasi sawit di Kutai Timur?
Untuk meningkatkan nilai tambah kelapa sawit, memperkuat ketahanan energi nasional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

2. Apa itu KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK)?
KEK MBTK adalah kawasan industri strategis di Kutai Timur yang difokuskan untuk pengembangan industri berbasis kelapa sawit dan logistik.

3. Mengapa sawit penting untuk ketahanan energi?
Karena sawit dapat diolah menjadi biofuel dan biomassa yang berfungsi sebagai sumber energi terbarukan.

4. Berapa luas kebun sawit di Kutai Timur?
Sekitar 529.586 hektare dengan produksi TBS mencapai 7,76 juta ton.

5. Apa manfaat hilirisasi bagi masyarakat lokal?
Membuka lapangan kerja, meningkatkan ekonomi daerah, serta meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.

Senin, 13 April 2026

1.200 Hektare Sawah Kutim Dijamin Asuransi, Petani Lebih Tenang Hadapi Risiko

Pemkab Kutim mengalokasikan Rp500 juta untuk AUTP tahun 2026 guna melindungi 1.200 hektare sawah dari risiko gagal panen dan menjaga ketahanan ekonomi petani.
Pemkab Kutim mengalokasikan Rp500 juta untuk AUTP tahun 2026 guna melindungi 1.200 hektare sawah dari risiko gagal panen dan menjaga ketahanan ekonomi petani. (Ilustrasi)

SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, terus menunjukkan komitmennya dalam melindungi petani dari risiko gagal panen. Pada tahun 2026, pemerintah daerah mengalokasikan anggaran sebesar Rp500 juta untuk menjamin perlindungan terhadap 1.200 hektare sawah rakyat melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Kutim, Dyah Ratnaningrum, menegaskan bahwa AUTP merupakan instrumen penting dalam menjaga keberlangsungan usaha tani di tengah berbagai risiko produksi.

“AUTP merupakan salah satu instrumen penting dalam melindungi usaha tani dari kemungkinan gagal panen,” ujar Dyah Ratnaningrum di Sangatta, Kalimantan Timur.

Perlindungan Sawah Menyasar Wilayah Sentra Produksi

Anggaran yang disiapkan pemerintah daerah ini tersebar di sejumlah wilayah sentra produksi padi di Kutim. Dengan demikian, petani di daerah-daerah tersebut dapat memperoleh perlindungan jika terjadi gagal panen akibat faktor alam maupun gangguan tanaman.

Sebelum penetapan luasan lahan yang akan dijamin, pemerintah daerah bersama PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) telah melakukan verifikasi faktual di lapangan. Hasilnya, sebanyak 1.200 hektare sawah dinyatakan memenuhi syarat untuk mendapatkan perlindungan asuransi.

Langkah verifikasi langsung ini menjadi bagian penting untuk memastikan program berjalan tepat sasaran dan sesuai kondisi riil pertanian rakyat.

Premi AUTP Rata-Rata Rp416 Ribu Per Hektare

Dalam program AUTP ini, besaran premi asuransi ditetapkan pada kisaran Rp416 ribu per hektare. Nilai tersebut menjadi acuan utama dalam penyusunan kebutuhan anggaran daerah.

Selain itu, nilai perlindungan atau klaim asuransi yang disepakati mencapai Rp12 juta per hektare. Skema ini diharapkan mampu memberikan perlindungan finansial bagi petani saat mengalami gagal panen.

Dengan adanya jaminan tersebut, petani diharapkan tetap memiliki modal untuk kembali menanam pada musim tanam berikutnya. “Petani yang mengalami kerugian akibat bencana alam atau gangguan tanaman dapat memperoleh perlindungan finansial, sehingga mereka tetap bisa melanjutkan usaha taninya,” jelas Dyah.

Antisipasi Risiko Banjir Hingga Serangan Hama

Program AUTP dirancang untuk mengantisipasi berbagai risiko produksi yang selama ini menjadi ancaman utama bagi petani, seperti:

  • Banjir

  • Kekeringan

  • Serangan organisme pengganggu tanaman (OPT)

  • Perubahan cuaca ekstrem

Risiko-risiko tersebut seringkali menyebabkan kerugian besar bagi petani. Dengan adanya asuransi, dampak ekonomi yang ditimbulkan diharapkan dapat ditekan secara signifikan.

Selain itu, pemerintah daerah juga melihat program AUTP sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam memperkuat sektor pertanian berkelanjutan.

Dukung Ketahanan Pangan Dan Ekonomi Petani

Program AUTP tidak hanya berfungsi sebagai perlindungan saat terjadi kerugian, tetapi juga menjadi pondasi penting dalam menjaga ketahanan pangan daerah.

Dengan perlindungan asuransi, petani memiliki rasa aman dalam menjalankan usaha tani. Hal ini diyakini dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga stabilitas ekonomi masyarakat pedesaan.

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur juga membuka peluang untuk memperluas cakupan program AUTP agar lebih banyak petani yang bisa merasakan manfaatnya.

FAQ

Apa itu AUTP?

AUTP atau Asuransi Usaha Tani Padi adalah program perlindungan bagi petani dari risiko gagal panen akibat bencana alam, hama, atau faktor lain.

Berapa luas sawah yang dilindungi di Kutim tahun 2026?

Sebanyak 1.200 hektare sawah mendapatkan perlindungan melalui program AUTP.

Berapa anggaran yang disiapkan Pemkab Kutim?

Pemerintah Kabupaten Kutai Timur mengalokasikan sekitar Rp500 juta untuk mendukung program AUTP tahun 2026.

Berapa nilai klaim AUTP jika gagal panen?

Nilai perlindungan atau klaim asuransi mencapai Rp12 juta per hektare.

Siapa yang melakukan verifikasi lahan?

Verifikasi dilakukan oleh pemerintah daerah bersama PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) melalui pengecekan langsung di lapangan.

Kamis, 02 April 2026

Program Cetak Sawah 553 Hektare Di Kutim, TNI Dorong Kemandirian Pangan

TNI AD mencetak 553 hektare sawah di Kutai Timur untuk memperkuat ketahanan pangan lokal dan mendukung kemandirian ekonomi masyarakat.
TNI AD mencetak 553 hektare sawah di Kutai Timur untuk memperkuat ketahanan pangan lokal dan mendukung kemandirian ekonomi masyarakat.

Kutai Timur - Upaya memperkuat ketahanan pangan terus digencarkan oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) melalui program cetak sawah rakyat di Kabupaten Kutai Timur.

Program ini mencakup total lahan seluas 553,41 hektare yang saat ini tengah dalam proses pengolahan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari strategi nasional dalam menjaga ketersediaan pangan di tengah tantangan global.

Komandan Kodim 0909/Kutim, Ragil Setyo Yulianto, menyampaikan bahwa program ini merupakan langkah konkret untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.

“Program cetak sawah rakyat seluas 553,41 hektare yang sedang berjalan saat ini sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan lokal,” ujarnya di Sangatta, Rabu.

Fokus Ketahanan Pangan Di Tengah Tantangan Global

Ketahanan pangan menjadi isu krusial, terutama di tengah gejolak energi global yang berdampak pada kenaikan harga pupuk hingga bahan bakar alat pertanian.

Menurut Ragil, ketersediaan pangan yang stabil menjadi fondasi penting dalam menjaga kestabilan ekonomi daerah. Jika kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, maka dampak dari krisis global bisa diminimalisir.

Selain itu, pengembangan sektor pertanian juga diyakini mampu:

  • Menyerap tenaga kerja lokal

  • Menggerakkan ekonomi desa

  • Menekan biaya distribusi pangan dari luar daerah

Lokasi Dan Kolaborasi Program

Program cetak sawah ini tersebar di dua kecamatan, yakni:

  • Kecamatan Long Mesangat

  • Kecamatan Bengalon

Pelaksanaannya dilakukan melalui kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, serta petani setempat. Dukungan juga datang dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Pendekatan kolaboratif ini diharapkan mampu memastikan lahan yang dicetak dapat dikelola secara produktif dan berkelanjutan.

Tidak Hanya Cetak Sawah, Tapi Juga Edukasi Petani

Menariknya, program ini tidak berhenti pada pembukaan lahan baru saja. TNI bersama pihak terkait juga memberikan pendampingan kepada petani, meliputi:

  • Efisiensi penggunaan energi dalam bertani

  • Teknik pertanian modern

  • Penerapan sistem pertanian berkelanjutan

Pendekatan ini dinilai penting agar hasil pertanian tidak hanya meningkat, tetapi juga tetap ramah lingkungan.

Solusi Jangka Panjang Kemandirian Ekonomi

Ragil menegaskan bahwa program cetak sawah rakyat bukan sekadar proyek jangka pendek, melainkan solusi jangka panjang untuk menghadapi tantangan global.

Dengan pendekatan humanis dan kolaboratif, program ini diharapkan mampu mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan.

“Ketahanan pangan adalah fondasi ketahanan ekonomi. Jika daerah sudah swasembada, maka dampak gejolak global bisa ditekan,” tegasnya.

FAQ

1. Berapa luas sawah yang dicetak oleh TNI di Kutai Timur?
Total luasnya mencapai 553,41 hektare.

2. Di mana lokasi program cetak sawah ini?
Berada di Kecamatan Long Mesangat dan Bengalon, Kutai Timur.

3. Apa tujuan utama program ini?
Untuk memperkuat ketahanan pangan dan mendorong kemandirian ekonomi daerah.

4. Siapa saja yang terlibat dalam program ini?
TNI AD, pemerintah daerah, petani, serta Kementerian Pertanian.

5. Apakah petani mendapat pendampingan?
Ya, petani mendapatkan edukasi tentang efisiensi energi dan pertanian berkelanjutan.

Selasa, 24 Maret 2026

Pesta Adat Lom Plai 2026 Di Kaltim, Tradisi Dayak Wehea Tetap Eksis

Pesta Adat Lom Plai 2026 di Kaltim jadi bukti kuat pelestarian budaya Dayak Wehea, lengkap dengan rangkaian ritual unik dan masuk kalender KEN 2026.
Pesta Adat Lom Plai 2026 di Kaltim jadi bukti kuat pelestarian budaya Dayak Wehea, lengkap dengan rangkaian ritual unik dan masuk kalender KEN 2026.

KUTAI TIMUR – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal. Salah satunya lewat penyelenggaraan Pesta Adat Lom Plai 2026 yang digelar di Desa Nehas Liah Bing, Kabupaten Kutai Timur.

Acara ini bukan sekadar seremoni biasa. Lebih dari itu, Lom Plai jadi simbol kuat bagaimana masyarakat Dayak Wehea tetap menjaga identitas budaya mereka di tengah gempuran modernisasi.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim, Ririn Sari Dewi, menegaskan bahwa tradisi ini punya makna mendalam bagi masyarakat setempat.

“Pesta adat Lom Plai bukan hanya bentuk rasa syukur atas hasil panen, tapi juga bukti nyata keteguhan masyarakat Dayak Wehea dalam menjaga budaya,” ujarnya saat dikonfirmasi di Samarinda, Senin.

Yang bikin makin menarik, rangkaian acara Lom Plai 2026 ini juga masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Artinya, event ini punya daya tarik nasional bahkan berpotensi mendunia.

Rangkaian Ritual Sarat Makna

Tradisi Lom Plai dimulai sejak 23 Maret lewat prosesi sakral Ngesea Egung atau pemukulan gong sebagai tanda dimulainya seluruh rangkaian acara.

Setelah itu, masyarakat adat menjalankan ritual Laq Pesyai dengan berjalan bersama menuju hulu Sungai Wehea. Tujuannya? Mengambil hasil hutan seperti buah dan rotan yang nantinya dipakai dalam upacara adat.

Ritual berlanjut dengan Naq Pesyai Duq Min dan Wet Min, yang jadi simbol penegasan batas wilayah hulu dan hilir kampung menggunakan anyaman rotan.

Keunikan budaya Dayak Wehea juga terlihat dalam ritual Ngelwung Pan. Di sini, perempuan adat menjalankan prosesi spiritual tertutup di bawah rumah keturunan Hepui.

Masuk bulan April, suasana makin terasa. Warga mulai membangun pondok darurat di pinggir sungai lewat tradisi Naq Jengea sebagai persiapan menuju puncak acara.

Puncak Acara Penuh Atraksi Budaya

Momen paling ditunggu tentu saja Bob Jengea atau puncak perayaan. Di sini, berbagai atraksi budaya ditampilkan, mulai dari pawai adat, tarian Hudoq, hingga aksi perang-perangan di atas sungai yang dikenal dengan Seksiang.

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan ritual Embos Epaq Plai pada 29 April 2026. Ritual ini dipercaya sebagai proses pembersihan kampung dari hal-hal buruk sekaligus doa untuk musim tanam berikutnya.

Ririn berharap kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat adat terus terjaga agar tradisi ini tetap lestari.

“Kami ingin tradisi ini terus hidup sebagai warisan budaya bangsa,” katanya.

Potensi Besar Wisata Budaya

Dengan masuknya Lom Plai ke dalam KEN 2026, peluang untuk menarik wisatawan semakin besar. Event ini bukan cuma soal budaya, tapi juga jadi pintu masuk untuk mengenalkan kekayaan lokal Kalimantan Timur ke dunia luar.

Buat kamu yang suka wisata budaya, Lom Plai jelas jadi salah satu event yang wajib masuk wishlist tahun ini.

FAQ

1. Apa itu Pesta Adat Lom Plai?
Pesta adat tahunan masyarakat Dayak Wehea sebagai bentuk syukur panen sekaligus pelestarian budaya.

2. Di mana Lom Plai 2026 digelar?
Di Desa Nehas Liah Bing, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

3. Kapan puncak acara Lom Plai 2026?
Berlangsung hingga puncaknya di bulan April 2026, dengan penutupan pada 29 April.

4. Apa saja daya tarik utama Lom Plai?
Ritual adat, tarian Hudoq, pawai budaya, dan atraksi perang di sungai (Seksiang).

5. Apakah Lom Plai masuk event nasional?
Ya, termasuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.

Minggu, 22 Maret 2026

Bupati Kutai Timur Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan di Media Sosial Saat Idul Fitri 1447 H

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, ajak masyarakat perkuat persatuan dan etika digital di momen Idul Fitri 1447 H agar jauh dari perpecahan sosial.
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, ajak masyarakat perkuat persatuan dan etika digital di momen Idul Fitri 1447 H agar jauh dari perpecahan sosial.

Sangatta, Kutai Timur – Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, berharap perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah menjadi momentum penting bagi seluruh masyarakat untuk menghentikan segala bentuk perpecahan dan polarisasi, khususnya di media sosial.

"Di tengah derasnya tantangan digitalisasi dan maraknya penyebaran berita bohong, Idul Fitri harus menjadi titik balik menghentikan perpecahan dengan mengedepankan etika," ujar Ardiansyah dalam sambutannya di Masjid Agung Al-Faruq Sangatta, Kalimantan Timur, pada Sabtu lalu.

Ia menekankan pentingnya masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh kebiasaan saling menyalahkan yang sering muncul di berbagai platform digital. 

Kemenangan spiritual setelah berpuasa sebulan penuh, menurutnya, sepatutnya diwujudkan melalui kedewasaan dan pengendalian diri saat berinteraksi di ruang digital.

"Nilai-nilai luhur Ramadhan seperti kesabaran dan kejujuran harus terus dihidupkan sebagai fondasi utama menjaga persatuan bangsa," tambahnya. 

Kesempatan kembali kepada fitrah ini juga menjadi momen penting untuk mempererat tali silaturahim antarwarga.

Selain fokus pada etika digital, Bupati Ardiansyah menegaskan bahwa pemerintah daerah terus berkomitmen menjaga stabilitas perekonomian lokal melalui penguatan sektor UMKM

Pemberdayaan masyarakat desa menjadi prioritas agar kesejahteraan dapat dirasakan secara merata di tengah dinamika ekonomi.

Ia juga menaruh perhatian pada generasi muda Kutai Timur agar tumbuh menjadi individu yang berakhlak, disiplin, dan berdaya saing tinggi. 

Seiring dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara, daerah ini memikul tanggung jawab besar untuk menyeimbangkan pembangunan infrastruktur dengan pelestarian lingkungan.

"Tata kelola pemerintahan yang bersih serta pelayanan publik cepat terus ditingkatkan dengan berlandaskan integritas aparatur," kata Ardiansyah. 

Selain itu, semangat berbagi kepedulian melalui penyaluran zakat, infak, dan sedekah ditekankan sebagai kunci utama dalam merajut solidaritas sosial.

Dengan perayaan Idul Fitri ini, diharapkan masyarakat Kutai Timur dapat memulai kembali kehidupan sosial dan digital dengan lebih bijak, penuh empati, dan menjunjung persatuan.

Selasa, 17 Maret 2026

Amankan Mudik Lebaran, Polres Kutim Dirikan 7 Posko Layanan Strategis

Polres Kutim mengaktifkan 7 posko pelayanan Lebaran 2026 untuk memantau arus mudik, menjaga keamanan warga, serta mengawasi jalur rawan kemacetan di Kutai Timur.
Polres Kutim mengaktifkan 7 posko pelayanan Lebaran 2026 untuk memantau arus mudik, menjaga keamanan warga, serta mengawasi jalur rawan kemacetan di Kutai Timur.

SANGATTA – Kepolisian Resor Kutai Timur (Polres Kutim), Kalimantan Timur, menyiapkan tujuh posko pelayanan di sejumlah titik strategis selama periode Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kelancaran arus mudik sekaligus menjaga keamanan masyarakat.

Kapolres Kutai Timur AKBP Fauzan Arianto mengatakan, posko tersebut disebar di berbagai lokasi yang dinilai menjadi pusat aktivitas masyarakat selama momen Lebaran.

“Tujuh posko ini tersebar di sejumlah lokasi, seperti posko terpadu di Simpang 3 Pendidikan Kecamatan Sangatta Utara, kemudian dua posko di Pantai Kenyamukan dan Pantai Teluk Lombok Sangkima di wilayah Sangatta Selatan,” kata Fauzan di Sangatta, Senin.

Selain itu, Polres Kutim juga menyiapkan empat pos pelayanan tambahan di jalur strategis yang sering dilalui pemudik.

Pos tersebut berada di Jalan Poros Sangatta–Bontang, tepatnya di wilayah Teluk Pandan, Simpang 3 Perdau Bengalon, Simpang 3 Jembatan Sangkulirang, serta Bundaran SP4 di Kecamatan Kombeng.

Menurut Fauzan, keberadaan posko tersebut tidak hanya untuk memantau arus lalu lintas, tetapi juga sebagai pusat pengawasan keamanan di sejumlah objek vital selama masa mudik dan arus balik Lebaran.

Pengamanan Malam Takbiran Hingga Salat Id

Polres Kutim juga telah memetakan pengamanan kegiatan keagamaan selama Hari Raya Idul Fitri. Pengamanan dilakukan mulai dari malam takbiran hingga pelaksanaan Salat Idul Fitri.

Tercatat ada 155 masjid dan 107 lapangan di seluruh wilayah Kutai Timur yang menjadi lokasi pelaksanaan Salat Id.

Petugas kepolisian akan melakukan pengamanan di berbagai titik tersebut untuk memastikan kegiatan ibadah berlangsung aman dan tertib.

Patroli Pangan Dan Keamanan Permukiman

Selain pengamanan kegiatan keagamaan, Polres Kutim juga meningkatkan patroli rutin di berbagai lokasi.

Salah satunya dengan menurunkan Satgas Pangan yang bertugas melakukan pengawasan terhadap distribusi bahan kebutuhan pokok di gudang-gudang penyimpanan.

“Satgas Pangan melakukan pemantauan dan patroli setiap hari untuk memastikan stok bahan pokok aman serta mencegah potensi penimbunan,” jelas Fauzan.

Patroli juga dilakukan di permukiman warga yang ditinggal mudik guna mencegah tindak kriminal, seperti pencurian rumah kosong.

Tak hanya itu, pengawasan juga difokuskan di sejumlah titik strategis seperti:

  • terminal

  • bandara

  • jalur mudik

  • jalur poros antar kecamatan

  • titik rawan kecelakaan lalu lintas

  • kawasan rawan bencana

Pengawasan Pusat Keramaian

Polres Kutim juga meningkatkan pengamanan di pusat aktivitas masyarakat.

Pengawasan dilakukan di berbagai tempat keramaian, seperti:

  • pusat perbelanjaan

  • pasar tradisional

  • mal dan supermarket

  • minimarket

  • tempat wisata

  • Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU)

Langkah ini dilakukan untuk memastikan aktivitas masyarakat selama libur Lebaran tetap aman dan kondusif.

Layanan Titip Kendaraan Gratis

Dalam upaya memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat, Polres Kutim juga menyediakan layanan penitipan kendaraan gratis bagi warga yang hendak mudik.

Masyarakat dapat menitipkan kendaraan mereka di Polres, Polsek, maupun pos polisi terdekat.

Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yakni membawa KTP dan STNK asli serta fotokopinya sebagai bukti kepemilikan kendaraan.

Pantauan Lalu Lintas Real Time Dengan CCTV Dan Drone

Untuk memperkuat pengawasan lalu lintas selama masa mudik, Polres Kutim juga menghadirkan mini command center yang ditempatkan di Mapolres Kutim dan Pos Pendidikan.

Sistem ini terintegrasi dengan jaringan CCTV milik Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kutai Timur, sehingga petugas dapat memantau kondisi lalu lintas secara real time.

Tak hanya itu, pengawasan juga akan dibantu dengan patroli udara menggunakan drone.

Drone tersebut akan digunakan untuk memantau sejumlah jalur rawan kemacetan, khususnya di kawasan Sangatta hingga Teluk Pandan.

Dengan berbagai langkah tersebut, Polres Kutim berharap masyarakat dapat menjalani mudik Lebaran dengan aman, nyaman, dan lancar.