Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Juni 2026

Warga Kubu Raya Diduga Diterkam Buaya Saat Memancing, Tim Gabungan Lakukan Pencarian

Foto: Ilustrasi Pencarian Pemancing Yang Diduga Diterkam Buaya

KUBU RAYA - Seorang warga bernama Sulyadi (41) dilaporkan hilang setelah diduga diterkam buaya muara saat memancing di Perairan Sungai Dusun Karang Anyar, Desa Batu Ampar, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Senin 22 Juni 2026 sore.

Peristiwa terjadi menjelang waktu magrib. Hingga Selasa 23 Juni 2026, tim gabungan masih melakukan penyisiran di sungai untuk mencari keberadaan korban.

Kapolsek Batu Ampar IPTU Fahrizal melalui Kasubsi Penmas Aiptu Ade menjelaskan, berdasarkan keterangan saksi, kejadian bermula sekitar pukul 16.00 WIB saat Abdul Wahab berangkat menggunakan Sampan Robin untuk mengantarkan pasokan minyak dan rokok kepada korban.

“Di lokasi kejadian, korban terlihat berada di atas Sampan Robin seorang diri. Jarak antara Abdul Wahab dan korban saat itu sekitar 20 meter. Di sekitar lokasi juga terdapat Pitung yang menggunakan Sampan Robin berbeda,” jelas Ade.

Sekitar pukul 17.00 WIB, buaya berukuran besar tiba-tiba muncul dan menerkam korban. “Tanpa ampun, predator tersebut langsung menerkam dan menyambar tubuh korban. Dalam sekejap, korban diseret masuk ke dalam air,” ungkap Ade.

Abdul Wahab dan Pitung sempat berupaya melakukan pencarian di sekitar titik kejadian. Namun keterbatasan alat dan kondisi yang mulai gelap membuat upaya awal tidak membuahkan hasil. Keduanya kemudian kembali ke Desa Sungai Kerawang untuk melaporkan kejadian ke Polsek Batu Ampar dan meminta bantuan warga.

Mendapat laporan, jajaran Polsek Batu Ampar dan Pol Airud langsung bergerak ke lokasi kejadian. 

“Hingga saat ini korban belum berhasil ditemukan. Namun upaya pencarian terus dilakukan secara masif dan maksimal,” ujar Ade.

Polisi mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan warga yang beraktivitas di Perairan Sungai Dusun Karang Anyar, untuk meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta tidak beraktivitas sendirian, terutama saat hari mulai gelap. (Red)

Senin, 22 Juni 2026

Detik-Detik Penemuan Mayat di Kapuas, Warga Langsung Lapor Polisi

Kapolsek Pontianak Timur AKP Suryadi tangani penemuan mayat pria di Sungai Kapuas Banjar Serasan, polisi lakukan olah TKP dan penyelidikan penyebab kematian.
Kapolsek Pontianak Timur AKP Suryadi tangani penemuan mayat pria di Sungai Kapuas Banjar Serasan, polisi lakukan olah TKP dan penyelidikan penyebab kematian.

PONTIANAK — AKP Suryadi bersama personel Polsek Pontianak Timur dan Tim Inafis Polresta Pontianak melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) penemuan sesosok mayat pria di tepian Sungai Kapuas, Jalan Tanjung Harapan, Gang Baitussalam, Kelurahan Banjar Serasan, Minggu malam (21/6/2026).

Penemuan mayat tersebut pertama kali dilaporkan warga yang melihat sesosok pria di bantaran Sungai Kapuas. Laporan itu langsung ditindaklanjuti aparat kepolisian dengan mendatangi lokasi kejadian.

Setibanya di lokasi, polisi melakukan pengamanan area TKP untuk mencegah warga mendekat serta memastikan proses identifikasi berjalan lancar. Tim Inafis kemudian melakukan olah TKP dan mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi di sekitar lokasi.

Kapolsek Pontianak Timur AKP Suryadi menyebut pihaknya bergerak cepat setelah menerima laporan masyarakat untuk memastikan situasi tetap kondusif.

“Setelah menerima informasi dari masyarakat, personel langsung menuju lokasi untuk melakukan pengamanan TKP, berkoordinasi dengan Tim Inafis, serta melakukan penyelidikan guna mengetahui identitas korban dan penyebab pasti kematiannya,” ujar AKP Suryadi.

Jenazah korban telah dievakuasi untuk pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang. Hingga kini, kepolisian masih melakukan penyelidikan dan mengumpulkan keterangan saksi untuk mengungkap identitas serta penyebab kematian korban.

Polisi juga mengimbau masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga agar segera melapor ke Polsek Pontianak Timur atau kantor kepolisian terdekat.

Minggu, 21 Juni 2026

“Kami Akan Perbaiki Ini” Disdik Kalteng Bergerak Cepat Usai Video Pelajar di Kelas Jadi Sorotan

Disdik Kalteng evaluasi sekolah di Palangka Raya usai video pelajar viral, siapkan pengawasan CCTV dan penguatan karakter siswa di lingkungan pendidikan. (Foto ilustrasi)
Disdik Kalteng evaluasi sekolah di Palangka Raya usai video pelajar viral, siapkan pengawasan CCTV dan penguatan karakter siswa di lingkungan pendidikan. (Foto ilustrasi)

Palangka Raya, Kalteng — Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Kalimantan Tengah melakukan evaluasi terhadap sebuah sekolah di Palangka Raya pada Sabtu (Juni 2026) setelah video pelajar yang diduga melakukan tindakan tidak pantas di ruang kelas beredar luas dan memicu perhatian publik.

Kepala Dinas Pendidikan Kalteng, Reza Prabowo, mengatakan pihaknya langsung berkoordinasi dengan kepala sekolah serta memanggil orang tua dari kedua siswa yang terlibat. Langkah ini dilakukan untuk menyelesaikan persoalan secara menyeluruh sekaligus memberikan pembinaan kepada para pelajar.

Selain itu, siswa yang terlibat telah dikenai sanksi dan diwajibkan menjalani pembinaan rutin melalui guru Bimbingan Konseling (BK).

Video Viral Terjadi Saat Jam Istirahat

Video tersebut diketahui mulai beredar sejak awal Juni 2026. Peristiwa yang terekam terjadi di lingkungan sekolah saat jam istirahat, bukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung.

Meski demikian, Disdik Kalteng menilai kejadian tersebut tetap serius karena terjadi di area sekolah dan mencerminkan perlunya penguatan pengawasan serta pembinaan karakter siswa.

“Ini tentu menjadi perhatian kita bersama. Hal-hal yang tidak baik di sekolah akan kita evaluasi,” ujar Reza Prabowo di Palangka Raya.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, sesuai arahan Gubernur Agustiar Sabran, menaruh perhatian besar pada pembentukan karakter peserta didik. Siswa diharapkan tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki etika, akhlak, dan sopan santun yang baik.

Reza juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kejadian tersebut dan memastikan evaluasi menyeluruh akan dilakukan terhadap sistem pengawasan sekolah.

Sebagai langkah pencegahan, Disdik Kalteng berencana meningkatkan sistem pengawasan di lingkungan sekolah, termasuk mengusulkan pemasangan kamera CCTV di ruang kelas dan area sekolah.

“Kami akan mencoba mengusulkan agar setiap sekolah dapat dipantau melalui CCTV sehingga memberikan rasa aman, tertib, dan dapat meminimalisir kejadian serupa,” jelasnya.

Selain itu, Disdik Kalteng juga memperkuat program pembinaan karakter siswa secara berkelanjutan agar lingkungan pendidikan tetap kondusif.

Pemerintah daerah menegaskan bahwa kasus ini menjadi bahan evaluasi penting untuk memperkuat sistem pendidikan di Kalimantan Tengah, terutama dalam aspek pengawasan dan pembinaan perilaku siswa.

“Kami mohon doa dan dukungan semua pihak agar pendidikan di Kalimantan Tengah berjalan lebih baik, dan anak-anak kita memiliki adab serta etika yang sesuai harapan masyarakat,” tutup Reza.

Sabtu, 20 Juni 2026

Upaya Penyelamatan Gagal, Remaja 17 Tahun Tenggelam di Danau Biru Sintang

Remaja 17 tahun asal Baning, Kabupaten Sintang, tenggelam di Danau Biru Sintang setelah sempat meminta pertolongan dan terlepas dari pegangan warga yang berusaha menyelamatkannya. (Foto ilustrasi)
Remaja 17 tahun asal Baning, Kabupaten Sintang, tenggelam di Danau Biru Sintang setelah sempat meminta pertolongan dan terlepas dari pegangan warga yang berusaha menyelamatkannya. (Foto ilustrasi)

SINTANG - Seorang remaja berusia 17 tahun asal Baning, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, dilaporkan tenggelam di Danau Biru Sintang setelah sempat meminta pertolongan dan berusaha diselamatkan warga yang berada di sekitar lokasi.

Korban sebelumnya terlihat dalam kondisi membutuhkan bantuan. Sejumlah warga yang mengetahui kejadian itu langsung berupaya memberikan pertolongan.

Upaya Penyelamatan Gagal, Remaja 17 Tahun Tenggelam di Danau Biru Sintang
Remaja 17 tahun asal Baning, Kabupaten Sintang, tenggelam di Danau Biru Sintang setelah sempat meminta pertolongan dan terlepas dari pegangan warga yang berusaha menyelamatkannya.

Salah seorang warga bahkan berhasil menjangkau korban dan sempat memegang tubuhnya. Namun nahas, korban terlepas dari pegangan saat proses penyelamatan berlangsung.

Korban kemudian tenggelam dan menghilang di perairan Danau Biru Sintang.

Informasi yang diperoleh menyebutkan korban merupakan warga Baning, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Sebelum tenggelam, korban sempat meminta tolong kepada warga yang berada di sekitar lokasi.

Upaya Penyelamatan Gagal, Remaja 17 Tahun Tenggelam di Danau Biru Sintang
Remaja 17 tahun asal Baning, Kabupaten Sintang, tenggelam di Danau Biru Sintang setelah sempat meminta pertolongan dan terlepas dari pegangan warga yang berusaha menyelamatkannya.

Meski warga telah berupaya melakukan penyelamatan dengan cepat, korban tidak berhasil dipertahankan dan akhirnya hilang di dalam danau.(Iwan)

Pria Ditemukan Meninggal di Rumah Kosong, Polisi: Tidak Ada Tanda Kekerasan

Foto: Lokasi Penemuan Mayat Seorang Pria di Rumah Kosong 

SUNGAI RAYA - Seorang pria ditemukan meninggal dunia di teras rumah kosong di Jalan Parit Nomor 2, Gang Flamboyan 2, Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Jumat 19 Juni 2026 sekitar pukul 14.00 WIB.

Penemuan bermula dari laporan sekelompok anak yang mencium aroma tidak sedap saat bermain di sekitar lokasi. Mereka kemudian mendapati sesosok pria terbujur kaku di teras rumah kosong dan langsung melapor ke warga sekitar.

Warga yang menerima laporan segera mendatangi lokasi dan menghubungi Polsek Sungai Raya. Tim Identifikasi Polres Kubu Raya bersama personel Polsek Sungai Raya langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Kasubsie Penamas Polres Kubu Raya Aiptu Ade membenarkan peristiwa tersebut. Korban diketahui berinisial WH, 31 tahun, warga setempat.

“Saat ditemukan, jenazah WH berada dalam posisi telentang di teras rumah dengan mengenakan kaos berwarna cokelat dan celana pendek abu-abu. Di sekitar lokasi dipenuhi tumpukan sampah plastik,” ujar Ade, Sabtu 19 Juni 2026.

Hasil pemeriksaan luar Tim Identifikasi tidak menemukan luka menganga atau tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh maupun kepala korban. Dari keterangan saksi dan keluarga, diketahui korban mengalami gangguan jiwa semasa hidupnya.

Pihak keluarga telah menyatakan ikhlas dan menolak dilakukan visum maupun autopsi. Jenazah kemudian diserahkan kepada keluarga dan pengurus Yayasan Budi Bhakti Marga Chai untuk dimakamkan. Situasi di lokasi saat ini sudah kondusif. (Tim)


Jumat, 19 Juni 2026

Guru SD di Mempawah Hulu Tersambar Petir Saat Perbaiki Saluran Air

Foto Ini Hanya Ilustrasi Kejadian

LANDAK (BORNEOTRIBUN.COM), – Seorang warga bernama Ferdinan Tolan, S.TH. (50), yang berprofesi sebagai guru SD dan merupakan warga Dusun Batu Catur, Desa Sabaka, Kecamatan Mempawah Hulu, meninggal dunia pada Kamis (18/06/2026) sekitar pukul 17.00 WIB, diduga akibat tersambar petir.

Berdasarkan keterangan keluarga, sebelum kejadian korban pergi untuk memperbaiki saluran air bersih meskipun kondisi cuaca sedang hujan disertai petir. Setelah selesai memperbaiki saluran air, korban diduga berhenti di sekitar pohon durian yang berada tidak jauh dari lokasi.

Karena korban tidak kunjung pulang, pihak keluarga menyuruh anak bungsunya untuk menyusul. Setibanya di lokasi, korban ditemukan dalam keadaan tergeletak dan tidak sadarkan diri di bawah pohon durian. Korban kemudian dibawa pulang ke rumah oleh keluarga.

Bidan yang melakukan pemeriksaan awal menyatakan korban telah meninggal dunia. Pada tubuh korban ditemukan luka yang diduga akibat sambaran petir, berupa bekas luka bakar pada bagian belakang kepala serta luka melepuh pada bagian belakang pinggang.

Kapolsek Mempawah Hulu Iptu Freddy Surya Purnama menyampaikan, bahwa berdasarkan hasil pengecekan awal tidak ditemukan indikasi tindak pidana dalam peristiwa tersebut. Pihak keluarga menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan tidak menghendaki dilakukan visum maupun autopsi.

"Jenazah saat ini disemayamkan di rumah duka dan direncanakan akan dimakamkan pada Jumat (19/06/2026) besok."ujar Kapolsek.

Ia juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan saat cuaca ekstrem, khususnya menghindari aktivitas di area terbuka maupun berteduh di bawah pohon saat hujan disertai petir guna mencegah kejadian serupa.

"Intinya kita harus ekstra hati hati apalagi cuaca sedang tidak mendukung, kalau bisa jika cuaca ekstrem sebaiknya berada di rumah saja." tutup Kapolsek.

Selasa, 16 Juni 2026

Rumah Warga di Sungai Kakap Hangus Terbakar Diduga Akibat Korsleting Listrik

Foto: Puing-puing bangunan pasca kebakaran 

KUBU RAYA - Satu unit rumah tinggal milik Haryono (52) di Dusun Merak, RT 003/RW 009, Desa Sungai Kakap, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, hangus terbakar api pada Selasa 16 Juni 2026 siang.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 10.50 WIB ini mengejutkan warga sekitar setelah kobaran api cepat membesar dan meluas ke badan bangunan.

Kapolsek Sungai Kakap Iptu Widiharso melalui Kasubsie Penmas Polres Kubu Raya Aiptu Ade menjelaskan, titik api pertama kali diketahui dari teriakan histeris warga di luar rumah. 

Saat kejadian, anak pemilik rumah berada di dalam dan sedang mengerjakan tugas kuliah di ruang tengah. Setelah mendengar teriakan warga, ia menuju dapur dan mendapati api sudah membumbung tinggi dari arah belakang kulkas.

Korban sempat berupaya memadamkan api dengan air seadanya, namun material yang mudah terbakar membuat api cepat menyebar. Korban kemudian menyelamatkan diri dan menghubungi pemadam kebakaran serta Polsek Sungai Kakap.

Personel Polsek Sungai Kakap dan tim pemadam kebakaran tiba di lokasi sekitar pukul 11.00 WIB. Sebanyak 8 unit pemadam gabungan dikerahkan untuk melokalisir api agar tidak merembet ke pemukiman padat penduduk.

Aiptu Ade menegaskan kehadiran polisi di TKP untuk mengamankan lokasi, memastikan jalur evakuasi dan pergerakan armada pemadam tidak terhambat, serta mengantisipasi potensi penjarahan.

Api berhasil dipadamkan total pada pukul 11.35 WIB. Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam kejadian ini. Kerugian materil masih dalam proses pendataan.

Berdasarkan hasil olah TKP awal dan keterangan saksi, kebakaran diduga kuat akibat korsleting arus listrik pada kabel kulkas di dapur korban.

Polres Kubu Raya mengimbau masyarakat agar rutin memeriksa kelayakan instalasi listrik dan penggunaan elektronik di rumah untuk mencegah kejadian serupa. (Tim/Jm)

Sempat Terlihat Kelelahan, Abang To Ditemukan Meninggal di Jalan Botong Sekadau

Penemuan mayat Abang To di Dusun Selabi, Sekadau, ditangani Tim Inafis Polres Sekadau. Hasil olah TKP memastikan tidak ditemukan tanda kekerasan maupun unsur tindak pidana.
Penemuan mayat Abang To di Dusun Selabi, Sekadau, ditangani Tim Inafis Polres Sekadau. Hasil olah TKP memastikan tidak ditemukan tanda kekerasan maupun unsur tindak pidana.

SEKADAU – Penemuan mayat seorang pria lanjut usia di Jalan Botong, Dusun Selabi, Desa Seberang Kapuas, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, mengundang perhatian warga setempat. Korban diketahui bernama Abang To (64), warga Desa Seberang Kapuas, yang ditemukan meninggal dunia pada Senin (15/6/2026) sekitar pukul 17.30 WIB.

Peristiwa tersebut segera dilaporkan kepada perangkat desa dan diteruskan kepada pihak kepolisian. Menindaklanjuti laporan warga, Tim Inafis Satreskrim Polres Sekadau bersama personel Polsek Sekadau Hilir langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta pemeriksaan awal guna memastikan penyebab kematian korban.

Sempat Terlihat Kelelahan, Abang To Ditemukan Meninggal di Jalan Botong Sekadau
Penemuan mayat Abang To di Dusun Selabi, Sekadau, ditangani Tim Inafis Polres Sekadau. Hasil olah TKP memastikan tidak ditemukan tanda kekerasan maupun unsur tindak pidana.

Berdasarkan informasi yang dihimpun polisi, Abang To sebelumnya berangkat menuju pondok miliknya di wilayah Mungguk Botong pada Minggu (14/6/2026) sekitar pukul 07.00 WIB. Pondok tersebut biasa digunakan korban sebagai tempat beristirahat maupun bermalam saat mengurus kebun.

Sehari kemudian, korban sempat terlihat berjalan turun dari arah Mungguk Botong menuju Dusun Selabi. Kepala Dusun Selabi, Yohanes, menyebut korban terlihat melintas pada Senin (15/6/2026) sekitar pukul 13.00 WIB dan tampak dalam kondisi kelelahan setelah perjalanan dari kawasan kebun.

Beberapa jam setelah itu, warga menemukan korban dalam keadaan tidak bernyawa di Jalan Botong. Penemuan mayat tersebut sempat menimbulkan pertanyaan mengenai penyebab kematian korban sehingga polisi melakukan pemeriksaan secara menyeluruh di lokasi kejadian.

Kasat Reskrim Polres Sekadau IPTU Zainal Abidin menjelaskan, hasil olah TKP dan pemeriksaan awal tidak menemukan tanda-tanda kekerasan maupun indikasi tindak pidana pada tubuh korban.

"Dari hasil olah TKP dan pemeriksaan awal yang dilakukan, petugas tidak menemukan tanda-tanda kekerasan maupun indikasi tindak pidana pada tubuh korban," ujar IPTU Zainal.

Dalam pemeriksaan di lokasi, petugas menemukan luka lecet pada bagian kaki dan tangan kanan korban. Namun, luka tersebut diduga terjadi akibat gesekan dengan ilalang atau vegetasi di sekitar lokasi penemuan. Selain itu, petugas juga mendapati semut api mengerumuni tubuh korban saat proses identifikasi dilakukan.

Menurut IPTU Zainal, kondisi lingkungan sekitar lokasi menjadi faktor yang diduga menyebabkan munculnya luka-luka ringan tersebut. Hasil pemeriksaan tidak menunjukkan adanya bekas penganiayaan maupun tanda kekerasan lain yang mengarah pada tindakan kriminal.

"Hasil pemeriksaan tidak menemukan adanya tanda kekerasan. Luka yang ditemukan diduga dipengaruhi kondisi lingkungan di sekitar lokasi," jelasnya.

Setelah seluruh rangkaian olah TKP selesai dilakukan, jenazah korban dievakuasi dan diserahkan kepada keluarga untuk dibawa ke rumah duka di Desa Seberang Kapuas. Pihak keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan tidak mengajukan permintaan pemeriksaan lanjutan.

Penanganan cepat yang dilakukan warga, perangkat desa, Bhabinkamtibmas, hingga Tim Inafis Polres Sekadau memungkinkan proses identifikasi dan pemeriksaan berlangsung dengan lancar. Berdasarkan hasil penyelidikan awal yang dilakukan kepolisian, tidak ditemukan unsur pidana dalam kematian Abang To.

"Jenazah telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. Berdasarkan hasil pemeriksaan dan olah TKP yang dilakukan, tidak ditemukan indikasi tindak pidana terkait peristiwa tersebut," pungkas IPTU Zainal.

Minggu, 14 Juni 2026

Tragis di Luwu Timur, Gadis 21 Tahun Tewas di Sawah, Pelakunya Ternyata Tetangga Sendiri

Pelajar SMA di Luwu Timur diduga bunuh tetangganya di sawah. Polisi ungkap motif cinta bertepuk sebelah tangan dan amankan pelaku dalam 9 jam. (Foto ilustrasi)
Pelajar SMA di Luwu Timur diduga bunuh tetangganya di sawah. Polisi ungkap motif cinta bertepuk sebelah tangan dan amankan pelaku dalam 9 jam. (Foto ilustrasi)

Pelajar SMA di Luwu Timur Diduga Bunuh Tetangga, Polisi Ungkap Motif Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Seorang pelajar SMA berinisial AD (17) ditangkap polisi di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, pada Jumat (12/6/2026), setelah diduga membunuh tetangganya sendiri, Abi Limbong (21), yang bekerja sebagai cleaning service di Puskesmas Kalaena Kiri. Korban sebelumnya ditemukan tewas di area persawahan pada Kamis (11/6/2026) dini hari.

Peristiwa ini langsung menggegerkan warga sekitar karena pelaku dan korban diketahui tinggal berdampingan sebagai tetangga. Hubungan kedekatan lokasi tinggal itu justru berubah menjadi tragedi yang berujung kematian.

Berdasarkan keterangan kepolisian, korban saat itu berangkat kerja pada dini hari seperti biasanya. Dalam kondisi jalan desa yang masih gelap dan sepi, korban diduga sudah diikuti oleh pelaku sejak keluar rumah.

Saat berada di jalur persawahan, pelaku kemudian melakukan penyergapan hingga terjadi perlawanan antara keduanya. Korban sempat berusaha melarikan diri dan berteriak meminta pertolongan warga.

Namun, pelaku kembali mengejar korban hingga ke area sawah. Di lokasi tersebut, pelaku mengambil batu dan memukul bagian belakang kepala korban. Benturan keras itu membuat korban jatuh ke kubangan lumpur dan meninggal dunia di tempat.

Setelah kejadian, pelaku kembali ke rumahnya dengan kondisi tubuh dan pakaian penuh lumpur sawah. Jejak tersebut kemudian menjadi salah satu petunjuk penting yang mengarah pada penangkapannya.

Polisi dari Polsek Mangkutana berhasil mengamankan pelaku hanya sekitar sembilan jam setelah jasad korban ditemukan.

Wakapolres Luwu Timur, Kompol Hajri, menyebut motif sementara dari kasus ini berkaitan dengan obsesi pelaku terhadap korban.

“Pelaku sudah lama terobsesi dengan kemolekan tubuh korban hingga kerap mengintip saat korban mandi,” ujarnya, Jumat (12/6/2026).

Pernyataan tersebut menguatkan dugaan bahwa tindakan pelaku dipicu oleh ketertarikan sepihak yang tidak terkendali hingga berujung tindakan kriminal.

Saat ini pelaku AD telah diamankan pihak kepolisian untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Karena masih di bawah umur, proses hukum terhadap pelaku akan mengikuti ketentuan perlindungan anak yang berlaku di Indonesia.

Polisi juga masih mendalami rangkaian peristiwa untuk memastikan kronologi lengkap, termasuk dugaan adanya kekerasan lain yang terjadi sebelum korban meninggal dunia.

Kasus ini meninggalkan trauma mendalam bagi warga sekitar, terutama karena pelaku dan korban merupakan tetangga dekat. Aktivitas masyarakat di sekitar lokasi kejadian disebut sempat terganggu akibat peristiwa tersebut.

Tragedi ini juga kembali menyoroti pentingnya pengawasan sosial di lingkungan perumahan dan desa, terutama terkait perilaku remaja yang dapat berkembang tanpa kontrol yang tepat.

Pagi Air Sungai Mempawah Mendadak Jernih, Sejam Kemudian Jutaan Ikan Mulai Mengapung

Ribuan hingga jutaan ikan keramba di Sungai Mempawah mati mendadak. Pembudidaya mengalami kerugian besar dan terpaksa melakukan panen darurat dengan harga murah.
Ribuan hingga jutaan ikan keramba di Sungai Mempawah mati mendadak. Pembudidaya mengalami kerugian besar dan terpaksa melakukan panen darurat dengan harga murah.

Kematian Massal Ikan di Sungai Mempawah, Ancaman Serius bagi Pembudidaya Keramba

MEMPAWAH - Kematian massal ikan yang terjadi di Sungai Mempawah, Kalimantan Barat, menjadi pukulan berat bagi para pembudidaya keramba apung. 

Dalam waktu singkat, ratusan ribu hingga diperkirakan jutaan ekor ikan budidaya ditemukan mati mendadak, menyebabkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan air tawar.

Peristiwa yang terjadi pada Rabu (10/6/2026) pagi itu mengundang perhatian banyak pihak. 

Sepanjang aliran Sungai Mempawah, ikan mas dan ikan nila terlihat mengapung dalam kondisi lemas sebelum akhirnya mati. 

Fenomena tersebut membuat permukaan sungai tampak berbeda dari biasanya karena dipenuhi ikan yang timbul ke permukaan.

Bagi para pembudidaya, kejadian ini tidak hanya berdampak pada hasil panen saat ini, tetapi juga mengancam keberlangsungan usaha mereka dalam jangka panjang. 

Banyak ikan yang mati masih berukuran kecil dan belum layak jual. 

Artinya, modal yang telah dikeluarkan untuk bibit, pakan, dan perawatan selama berbulan-bulan berisiko hilang begitu saja.

Situasi darurat memaksa para pemilik keramba mengambil langkah cepat. Ikan yang masih hidup segera dipanen untuk menghindari kerugian yang lebih besar. 

Namun kondisi tersebut membuat harga jual turun drastis. 

Ikan hasil panen darurat hanya dilepas ke pasar sekitar Rp10 ribu per kilogram, jauh di bawah nilai yang diharapkan saat masa panen normal.

Selain kerugian ekonomi, kematian massal ikan juga menimbulkan pertanyaan mengenai kondisi lingkungan perairan Sungai Mempawah. 

Hingga kini penyebab pasti kejadian tersebut masih belum diketahui. 

Sejumlah pembudidaya mengaku melihat perubahan mendadak pada kondisi air sungai beberapa saat sebelum ikan mulai menunjukkan gejala tidak normal.

Salah seorang pengelola keramba di Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir, menyebut air sungai tiba-tiba terlihat sangat jernih pada pagi hari. 

Awalnya kondisi itu diduga akibat masuknya air laut ke aliran sungai. 

Namun setelah dilakukan pengecekan sederhana, air tetap terasa tawar sehingga dugaan tersebut belum dapat dipastikan.

Tidak lama setelah perubahan kondisi air terjadi, ikan-ikan dalam keramba mulai naik ke permukaan dan terlihat kesulitan bertahan hidup. 

Dalam kurun waktu singkat, jumlah ikan yang mati terus bertambah hingga menimbulkan kerugian besar di berbagai titik budidaya.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa usaha budidaya ikan sangat bergantung pada stabilitas kualitas lingkungan perairan. 

Perubahan mendadak pada kondisi air, baik yang disebabkan faktor alam maupun faktor lainnya, dapat berdampak langsung terhadap kelangsungan hidup ikan dalam jumlah besar.

Sementara para pembudidaya berupaya menyelamatkan ikan yang tersisa, harapan kini tertuju pada adanya penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab kematian massal tersebut. 

Kepastian mengenai sumber masalah dinilai penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang dan mengancam mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada keramba apung di Sungai Mempawah.

Peristiwa ini tidak hanya menjadi kabar buruk bagi para pelaku usaha perikanan lokal, tetapi juga menunjukkan betapa rentannya sektor budidaya terhadap perubahan kondisi lingkungan yang terjadi secara mendadak. 

Dengan kerugian yang diperkirakan sangat besar, pemulihan usaha para pembudidaya diperkirakan membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Selasa, 19 Mei 2026

Cuci Pakaian, Ibu Muda Diduga Tercebur di Sungai Pawan Desa Pangkalan Teluk

Foto warga sedang mencari Sarina, diduga tercebur di sungai Pawan pada Selasa pagi (19/05/2026)

KETAPANG - Seorang wanita bernama Maga berusia sekitar 34 tahun dilaporkan hilang terseret arus sungai di desa Pangkalan Teluk kecamatan Nanga Tayap kabupaten Ketapang pada Selasa siang (19/05/2026) sekitar jam 10 pagi. 

Berdasarkan informasi dari seorang warga desa setempat bernama Joni menyampaikan bahwa, wanita tersebut diduga tercebur ke sungai saat sedang mencuci pakaian di jamban atau disebut warga setempat dengan sebutan Lanting. 

"Dia itu menurut keluarganya  sedang mencuci sekaligus mandi di lanting sungai, dak tau bagaimane sampai mungkin terjatuh, terseret arus sungai yang sedang deras," ujarnya.

Ia menyampaikan, saat kejadian, kondisi air sungai Pawan sedang pasang tinggi. Arus sungai juga sedang deras. Korban kemungkinan terpeleset dari lanting sehingga tercabur dan terseret arus.

Keluarga korban melaporkan kejadian ini kepada perangkat desa dan meneruskan laporan kejadian kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Sampai sore ini keluarga, warga desa dan petugas BPBD masih mencari korbann. Hingga sore ini, korban belum ditemukan. 

"Keluarga, warga desa dan petugas BPBD masih mencari sampai petang ini, korban belum ketemu," ujarnya. (*)

Sungai Barabai Meluap, Ribuan Rumah Warga HST Terdampak Banjir

Banjir HST merendam ribuan rumah di Batu Benawa, Barabai, dan Pandawan akibat hujan lebat serta luapan Sungai Barabai.
Banjir HST merendam ribuan rumah di Batu Benawa, Barabai, dan Pandawan akibat hujan lebat serta luapan Sungai Barabai.

BANJARMASIN - Banjir melanda tiga kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan, Senin, setelah hujan lebat sejak dini hari menyebabkan sungai meluap. Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Batu Benawa, Barabai, dan Pandawan dengan ribuan rumah warga terendam.

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD dan Damkar HST, Fitriadi, mengatakan tim masih melakukan pemantauan di lapangan karena kondisi air di setiap wilayah berbeda-beda.

“Tim kami masih terus melakukan pemantauan di lapangan. Untuk ketinggian air bervariasi,” kata Fitriadi di Barabai.

Hujan berintensitas tinggi membuat sungai meluap hingga menggenangi jalan, pekarangan, dan rumah warga. Kondisi banjir di Kecamatan Batu Benawa mulai berangsur surut.

Sementara itu, di Kecamatan Barabai, debit air sebagian wilayah masih bertahan dan cenderung meningkat. Adapun di Kecamatan Pandawan, ketinggian air masih terus mengalami kenaikan.

Fitriadi memastikan hingga sore hari belum ada laporan korban jiwa maupun korban luka akibat banjir tersebut.

Di tengah kondisi banjir, Bupati HST Samsul Rizal turun langsung meninjau sejumlah titik terdampak. Pemerintah daerah juga mengerahkan petugas gabungan untuk membersihkan ranting, kayu, dan sampah yang menyumbat aliran sungai.

“Secepatnya kita selesaikan sampah pohon menumpuk ini. Karena kalau sungai tertutup aliran sungai lambat. Hal ini yang membuat daerah perkotaan terendam,” ujar Samsul Rizal.

Menurutnya, luapan Sungai Barabai dipicu hujan deras sejak sehari sebelumnya dan berdampak pada sejumlah kawasan seperti Simpang Ulama, Sarigading, Kampung Kadi, Pasar Murakata, dan Bungur.

Luapan sungai juga membawa ranting pohon, bambu, dan sampah yang sempat menyumbat aliran air di bawah jembatan, termasuk di Jembatan Dharma.

Bupati memastikan material yang menyumbat sungai telah dibersihkan petugas gabungan bersama relawan Balakar 654 Murakata dan masyarakat setempat.

“Sampah pohon bambu tersebut telah bersih. Aliran sungai kembali normal. Cuaca juga kembali cerah,” katanya.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi banjir susulan dan segera menghubungi petugas apabila menghadapi kondisi darurat.