Di Balik Ketegangan dengan AS, Iran Buka Suara soal Masa Depan Pengawasan Nuklir IAEA
![]() |
| Iran tegaskan kerja sama dengan IAEA tetap berlanjut sesuai aturan, di tengah dinamika negosiasi dan ketegangan dengan Amerika Serikat. |
TEHERAN — Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei menyatakan akan terus bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) berdasarkan prinsip dan kewajiban yang sama, di Teheran, Iran, pada Senin (waktu setempat), di tengah dinamika pembicaraan dengan Amerika Serikat.
Baghaei menegaskan kerja sama Iran dengan IAEA tetap mengacu pada perjanjian pengamanan (safeguards agreement), prosedur yang berlaku, serta keputusan parlemen dan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Pernyataan itu muncul setelah Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyebut inspeksi IAEA kemungkinan dapat dilakukan di Iran dalam waktu dekat.
Baghaei juga menyebut tidak ada pembahasan negosiasi nuklir dalam pertemuan Iran–AS yang berlangsung di Swiss, sebagaimana dilaporkan IRNA. Ia menambahkan bahwa akses IAEA ke fasilitas nuklir Iran yang sempat dibom akan bergantung pada hasil pembicaraan lanjutan dengan Amerika Serikat.
Namun, IAEA masih tetap memiliki akses ke Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr.
Setelah serangan Amerika Serikat ke fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025, Iran diketahui membatasi kerja sama dengan IAEA dan akses inspeksi, dengan alasan seluruh keputusan berada di bawah Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
“Cooperation with the IAEA will continue in accordance with Iran's obligations under the safeguards agreement… in accordance with the existing procedure and in accordance with the resolutions of the Parliament and decisions of the Supreme National Security Council of Iran,” kata Esmail Baghaei kepada IRNA.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan Iran akan menyetujui inspeksi senjata nuklir dalam jangka panjang melalui unggahan di Truth Social.
Di sisi lain, Baghaei juga menjelaskan bahwa pembicaraan teknis Iran–AS di Swiss tidak terganggu oleh ancaman Trump, meski sempat terjadi ketegangan saat media merilis pernyataan bernada ancaman di sela negosiasi.
Pertemuan tersebut disebut tetap berlanjut melalui jalur perantara dari Pakistan dan Qatar, meskipun delegasi Iran sempat menyatakan tidak akan mengikuti pertemuan lanjutan dalam format empat pihak.
Iran dan Amerika Serikat disebut masih melanjutkan pembicaraan teknis tidak langsung di Swiss, dengan mediator regional tetap berperan aktif. Sementara itu, kesepakatan tidak langsung sebelumnya juga disebut mencakup penghentian konflik militer dan rencana pembukaan kembali jalur pelayaran di kawasan Selat Hormuz.

