Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Teknologi AI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi AI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Mei 2026

Chat Bot Di IPhone Makin Canggih, Ini Cara Kerja Dan Fungsinya

Chat bot di iPhone kini semakin canggih dan praktis, membantu pengguna berkomunikasi lebih cepat, efisien, dan pintar dalam aktivitas sehari hari dengan teknologi terbaru.
Chat bot di iPhone kini semakin canggih dan praktis, membantu pengguna berkomunikasi lebih cepat, efisien, dan pintar dalam aktivitas sehari hari dengan teknologi terbaru.

JAKARTA - Perkembangan teknologi smartphone terus melaju cepat, terutama pada perangkat iPhone yang kini semakin mengandalkan kecerdasan buatan dalam aktivitas sehari hari. 

Salah satu fitur yang paling banyak dibicarakan adalah hadirnya chat bot yang terintegrasi langsung di dalam sistem iPhone, membuat pengalaman pengguna jadi lebih interaktif, cepat, dan terasa lebih personal.

Chat bot di iPhone bukan sekadar fitur tambahan, tetapi sudah menjadi bagian dari sistem asisten digital yang membantu berbagai kebutuhan pengguna. 

Mulai dari membalas pesan, mencari informasi, hingga membantu menjalankan perintah tertentu tanpa perlu banyak sentuhan layar. 

Kehadiran teknologi ini membuat iPhone terasa seperti memiliki asisten pribadi yang selalu siap membantu kapan saja.

Menariknya, chat bot ini dirancang agar bisa memahami percakapan manusia dengan lebih natural. Jadi pengguna tidak perlu lagi menggunakan bahasa yang kaku atau formal. 

Cukup berbicara seperti biasa, sistem akan mencoba memahami maksud dan memberikan respon yang sesuai. 

Hal ini membuat interaksi terasa lebih ringan dan tidak membingungkan, terutama bagi pengguna awam.

Selain itu, integrasi chat bot di iPhone juga membawa dampak besar pada produktivitas. Banyak pengguna kini bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, seperti membuat catatan, mengatur jadwal, hingga mengirim pesan otomatis. 

Semua bisa dilakukan hanya dengan perintah suara atau teks singkat, sehingga waktu lebih efisien dan praktis.

Di sisi lain, perkembangan ini juga menunjukkan arah baru dunia smartphone yang semakin mengarah ke sistem berbasis kecerdasan buatan. 

Apple terus mengembangkan teknologi agar perangkatnya tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga partner digital yang mampu memahami kebutuhan penggunanya secara lebih dalam.

Tidak hanya itu, keamanan juga tetap menjadi fokus utama. Setiap interaksi dengan chat bot di iPhone tetap dilindungi oleh sistem keamanan yang ketat, sehingga data pengguna tetap aman dan tidak mudah disalahgunakan. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa teknologi ini semakin dipercaya banyak orang.

Dengan semakin berkembangnya fitur chat bot di iPhone, ke depannya diperkirakan akan semakin banyak inovasi baru yang hadir. 

Pengguna bisa berharap pengalaman yang lebih pintar, lebih cepat, dan lebih intuitif dalam setiap penggunaan perangkat mereka.

Teknologi Pengenalan Wajah Semakin Canggih, Ini Dampaknya di Kehidupan Sehari Hari

Teknologi pengenalan wajah semakin canggih dan digunakan di berbagai sektor. Simak cara kerja, manfaat, serta risiko face recognition di era digital.
Teknologi pengenalan wajah semakin canggih dan digunakan di berbagai sektor. Simak cara kerja, manfaat, serta risiko face recognition di era digital.

JAKARTA - Teknologi pengenalan wajah atau face recognition kini semakin sering digunakan dalam berbagai aspek kehidupan modern, mulai dari keamanan ponsel, sistem perbankan, hingga pengawasan publik di ruang digital dan fisik. 

Sistem ini bekerja dengan cara memetakan fitur wajah seseorang menggunakan kecerdasan buatan, lalu mencocokkannya dengan data yang sudah tersimpan dalam sistem untuk verifikasi identitas. 

Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi ini berkembang pesat karena dianggap lebih cepat dan praktis dibanding metode keamanan tradisional seperti password atau kartu identitas. Jumat, (08/05/2026)

Di balik kemudahannya, teknologi ini sebenarnya bekerja melalui proses yang cukup kompleks. Kamera menangkap gambar wajah, lalu sistem mengubahnya menjadi data biometrik berupa titik-titik unik pada wajah seperti jarak mata, bentuk hidung, dan struktur rahang. 

Data ini kemudian dianalisis oleh algoritma untuk memastikan kecocokan dengan database yang ada. Semakin besar data yang dimiliki, semakin akurat pula hasil identifikasinya.

Penggunaan teknologi ini kini sudah sangat luas. Di sektor keamanan, face recognition dipakai untuk membuka kunci perangkat, akses gedung, hingga identifikasi pelaku kejahatan. 

Sementara di dunia bisnis, teknologi ini membantu perusahaan memahami perilaku pelanggan, misalnya dalam analisis demografi atau sistem pembayaran tanpa kontak. 

Bahkan di beberapa negara, sistem ini sudah terintegrasi dengan layanan publik untuk mempercepat proses administrasi.

Namun, di balik manfaatnya, muncul juga berbagai isu yang tidak bisa diabaikan. Salah satu yang paling sering dibicarakan adalah soal privasi data. 

Banyak pihak khawatir data wajah yang tersimpan bisa disalahgunakan jika tidak dikelola dengan baik. 

Selain itu, ada juga tantangan terkait akurasi, terutama pada kondisi pencahayaan buruk atau perbedaan etnis yang bisa memengaruhi hasil identifikasi.

Meski begitu, perkembangan teknologi ini diperkirakan akan terus berlanjut. Para ahli menyebut bahwa face recognition akan semakin terintegrasi dengan sistem kecerdasan buatan yang lebih luas, termasuk smart city dan perangkat Internet of Things. Artinya, di masa depan, wajah manusia bisa menjadi kunci utama untuk mengakses hampir semua layanan digital.

Dengan segala kelebihan dan tantangannya, teknologi pengenalan wajah tetap menjadi salah satu inovasi penting dalam era digital saat ini. 

Yang terpenting adalah bagaimana teknologi ini digunakan secara bijak, transparan, dan tetap memperhatikan perlindungan data pengguna agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

OpenAI Siapkan Perangkat AI Rahasia Bareng Jony Ive, Bukan Ponsel

OpenAI dan Jony Ive dikabarkan sedang mengembangkan perangkat AI baru tanpa layar yang disebut bakal mengubah cara manusia memakai teknologi.
OpenAI dan Jony Ive dikabarkan sedang mengembangkan perangkat AI baru tanpa layar yang disebut bakal mengubah cara manusia memakai teknologi.

JAKARTA - OpenAI kembali jadi sorotan setelah muncul bocoran mengenai perangkat AI pertama mereka yang sedang dikembangkan bersama mantan desainer legendaris Apple, Jony Ive. Perangkat ini disebut bakal hadir dengan konsep berbeda dari gadget yang selama ini digunakan masyarakat. Jumat, (8/5/2026)

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa perangkat tersebut tidak akan berbentuk ponsel, smartwatch, maupun kacamata pintar. OpenAI justru ingin menghadirkan pengalaman baru dalam menggunakan kecerdasan buatan tanpa terlalu bergantung pada layar.

Sam Altman selaku CEO OpenAI dikabarkan sangat optimistis dengan proyek ini. Bahkan perangkat tersebut disebut sebagai salah satu teknologi paling menarik yang pernah dibuat perusahaan AI tersebut. Kehadiran Jony Ive juga membuat proyek ini semakin menyita perhatian publik teknologi dunia.

Banyak pihak penasaran seperti apa bentuk perangkat AI tersebut. Sejauh ini, bocoran yang muncul menyebut perangkat itu akan memiliki ukuran ringkas dan mudah dibawa ke mana saja. Gadget ini juga dirancang mampu memahami lingkungan sekitar pengguna secara lebih personal lewat teknologi AI canggih.

Konsep perangkat tanpa layar menjadi salah satu hal paling menarik dalam proyek ini. OpenAI disebut ingin mengurangi ketergantungan manusia terhadap layar smartphone yang selama ini dianggap terlalu menyita perhatian pengguna sehari-hari.

Selain itu, perangkat AI tersebut diprediksi akan mampu membantu aktivitas harian seperti memberikan pengingat, menjawab pertanyaan, hingga membantu pekerjaan secara otomatis dengan pendekatan yang lebih natural.

Meski detail resminya masih dirahasiakan, proyek ini sudah memicu banyak spekulasi di industri teknologi. Sebagian analis menilai OpenAI sedang mencoba menciptakan kategori perangkat baru yang bisa menjadi pesaing smartphone di masa depan.

Jony Ive sendiri dikenal sebagai sosok penting di balik desain ikonik beberapa produk Apple seperti iPhone dan iMac. Karena itu, kolaborasinya bersama OpenAI dianggap memiliki potensi besar untuk melahirkan inovasi teknologi baru yang berbeda dari produk AI lainnya.

Saat ini pengembangan perangkat tersebut masih berlangsung dan belum ada jadwal resmi peluncuran untuk publik. Namun berbagai bocoran menyebut OpenAI ingin menghadirkan perangkat AI yang lebih personal, sederhana, dan menyatu dengan kehidupan pengguna sehari-hari.

Jika proyek ini berhasil, OpenAI bisa membuka era baru dalam dunia teknologi AI konsumen. Banyak pengamat percaya perangkat tersebut berpotensi mengubah cara manusia berinteraksi dengan teknologi di masa mendatang.

Minggu, 22 Maret 2026

Sam Altman Ingin Jadikan AI Seperti Listrik Dan Air, Solusi Atasi Kerugian OpenAI?

Sam Altman ingin menjadikan AI seperti listrik dan air. Di tengah kerugian besar OpenAI, model bayar sesuai penggunaan disebut jadi solusi masa depan teknologi.
Sam Altman ingin menjadikan AI seperti listrik dan air. Di tengah kerugian besar OpenAI, model bayar sesuai penggunaan disebut jadi solusi masa depan teknologi.

Teknologi -- Industri kecerdasan buatan (AI) sedang menghadapi tantangan besar. Di tengah euforia teknologi yang sempat memuncak, minat investor kini mulai melambat seiring meningkatnya biaya operasional perusahaan-perusahaan raksasa.

Salah satu yang jadi sorotan adalah Sam Altman, CEO OpenAI, yang mengungkapkan ide ambisius: menjadikan AI sebagai layanan utilitas, layaknya listrik dan air.

Kerugian OpenAI Diprediksi Tembus Rp224 Triliun

Berdasarkan laporan terbaru, OpenAI diperkirakan akan mengalami kerugian hingga sekitar US$14 miliar pada 2026, atau setara kurang lebih Rp224 triliun (kurs ± Rp16.000 per dolar AS).

Padahal, perusahaan ini sudah menghasilkan sekitar US$13 miliar per tahun (± Rp208 triliun) dari layanan seperti ChatGPT.

Namun, biaya operasionalnya juga tidak main-main:

  • Infrastruktur teknologi tinggi

  • Pelatihan model AI

  • Perekrutan talenta terbaik

  • Kebutuhan komputasi skala besar

Total pengeluaran bahkan bisa mencapai US$1,4 miliar (± Rp22,4 triliun) hanya untuk aspek tertentu saja.

Jika kondisi ini terus berlanjut, beberapa analis memperkirakan OpenAI bisa menghadapi tekanan finansial serius hingga potensi krisis pada 2027.

Ide Baru: AI Dibayar Sesuai Pemakaian

Dalam forum BlackRock Infrastructure Summit di Washington, Sam Altman menyampaikan gagasan yang cukup menarik.

Ia ingin menjadikan AI sebagai layanan utilitas—artinya, pengguna hanya membayar sesuai penggunaan, mirip seperti bayar listrik atau air.

Model ini dinilai punya beberapa keunggulan:

  • Pendapatan perusahaan jadi lebih stabil

  • Lebih fleksibel untuk pengguna kasual

  • Akses ke teknologi canggih tetap terbuka

Namun, ada juga sisi negatifnya.

Pengguna aktif justru bisa dirugikan karena biaya penggunaan bisa membengkak dibanding sistem langganan bulanan.

Tantangan Nyata: Data Dan Komputasi Jadi Hambatan

Para ahli menilai bahwa pertumbuhan AI saat ini mulai menemui batas.

Masalah utama meliputi:

  • Keterbatasan data berkualitas tinggi

  • Kurangnya kapasitas komputasi

  • Biaya infrastruktur yang terus meningkat

Akibatnya, perusahaan AI kemungkinan harus:

  • Menaikkan harga layanan (token)

  • Membatasi akses pengguna

  • Atau mencari model bisnis baru seperti yang diusulkan Altman

Masa Depan AI: Jadi Kebutuhan Dasar?

Jika ide ini terealisasi, AI bisa berubah dari sekadar teknologi tambahan menjadi kebutuhan dasar, seperti listrik, air, bahkan internet.

Artinya, di masa depan:

  • AI bisa digunakan hampir di semua sektor

  • Pembayaran berbasis konsumsi jadi standar

  • Kompetisi antar perusahaan AI makin ketat

Namun, apakah model ini benar-benar bisa menyelamatkan kondisi keuangan OpenAI? Waktu yang akan menjawab.

FAQ (Pertanyaan Umum)

1. Apa itu model AI seperti utilitas?
Model ini berarti pengguna membayar AI berdasarkan penggunaan, seperti listrik atau air.

2. Kenapa OpenAI mengalami kerugian besar?
Karena biaya infrastruktur, pelatihan AI, dan komputasi sangat tinggi.

3. Siapa yang diuntungkan dari sistem ini?
Pengguna kasual yang tidak sering memakai AI.

4. Siapa yang dirugikan?
Pengguna aktif yang menggunakan AI setiap hari.

5. Apakah harga AI akan naik?
Kemungkinan iya, terutama jika biaya operasional terus meningkat.

Kamis, 19 Maret 2026

Google Resmi Rilis Live Search Global, Kini Tersedia Di 200 Negara

Google resmi merilis Live Search secara global di 200 negara. Fitur AI ini memungkinkan pencarian real-time lewat kamera dengan dukungan Gemini terbaru.
Google resmi merilis Live Search secara global di 200 negara. Fitur AI ini memungkinkan pencarian real-time lewat kamera dengan dukungan Gemini terbaru.

JAKARTA -- Kabar menarik datang dari Google. Raksasa teknologi ini akhirnya memperluas akses fitur terbarunya, “Live Search”, ke lebih dari 200 negara dan wilayah di seluruh dunia. Sebelumnya, fitur canggih ini hanya tersedia terbatas di Amerika Serikat.

Dengan hadirnya fitur ini secara global, pengguna kini bisa merasakan pengalaman pencarian yang jauh lebih interaktif dan real-time.

Apa Itu Live Search Google?

“Live Search” adalah inovasi terbaru yang menggabungkan kamera smartphone dengan kecerdasan buatan (AI). Fitur ini memungkinkan pengguna untuk langsung “berinteraksi” dengan objek di dunia nyata.

Caranya simpel:

  • Arahkan kamera ke objek apa pun

  • Sistem akan langsung menganalisis

  • Pengguna bisa bertanya atau berdialog tentang objek tersebut

Misalnya, kamu lagi lihat tanaman unik, makanan asing, atau gadget tertentu tinggal arahkan kamera, dan AI akan menjelaskan secara langsung.

Didukung Teknologi AI Terbaru

Fitur ini kini ditenagai oleh model AI terbaru dari Google, yaitu Gemini 3.1 Flash.

Menurut Google, pembaruan ini membawa beberapa peningkatan signifikan:

  • Respons lebih cepat

  • Analisis lebih akurat

  • Percakapan terasa lebih natural

Dengan kata lain, pengalaman pengguna jadi lebih smooth dan terasa seperti ngobrol dengan asisten pintar.

Cara Mengakses Live Search

Buat kamu yang penasaran, fitur ini sudah bisa digunakan dengan mudah:

  • Buka aplikasi Google di Android atau iOS

  • Klik tombol “Live” di bawah kolom pencarian

  • Atau akses lewat fitur Google Lens

Di Google Lens, tombol Live juga tersedia di bagian bawah layar.

Pengalaman Pencarian Jadi Lebih Interaktif

Kehadiran Live Search ini jadi langkah besar dalam evolusi mesin pencari. Google tidak lagi sekadar menampilkan teks, tapi menghadirkan pengalaman visual yang interaktif dan real-time.

Bisa dibilang, ini adalah masa depan pencarian:

  • Lebih visual

  • Lebih personal

  • Lebih kontekstual

Buat pengguna, ini jelas memudahkan nggak perlu lagi mengetik panjang, cukup arahkan kamera dan tanya langsung.

Dengan peluncuran global Live Search, Google semakin memperkuat posisinya sebagai pemimpin inovasi di dunia teknologi pencarian. Integrasi AI dan kamera membuka cara baru dalam memahami dunia sekitar hanya lewat smartphone.

Buat kamu yang suka eksplorasi atau sering penasaran sama hal-hal baru, fitur ini wajib banget dicoba.

Senin, 16 Maret 2026

Meta AI Masuk WhatsApp, Pengguna Bisa Chatbot AI Dan Buat Gambar Langsung

Meta AI Masuk WhatsApp, Pengguna Bisa Chatbot AI Dan Buat Gambar Langsung
WhatsApp uji tab Meta AI baru di Android. Pengguna bisa chat AI, buat gambar, lihat statistik forward channel, hingga fitur pengawasan akun anak. (Gambar ilustrasi)

JAKARTA -- WhatsApp terus bergerak cepat menghadirkan inovasi baru bagi penggunanya. Melalui pembaruan versi beta, aplikasi pesan milik Meta Platforms ini mulai menguji tab khusus Meta AI yang akan menjadi pusat berbagai fitur berbasis kecerdasan buatan di dalam aplikasi.

Langkah ini menjadi sinyal bahwa WhatsApp semakin serius mengintegrasikan teknologi AI agar pengguna bisa memanfaatkan berbagai fitur cerdas tanpa perlu berpindah aplikasi.

Bagi pengguna yang gemar mencoba fitur terbaru, kabar ini tentu menarik. Pasalnya, kehadiran tab Meta AI membuat akses ke teknologi AI jadi jauh lebih praktis.

Tab Meta AI Jadi Pusat Fitur Kecerdasan Buatan

WhatsApp uji tab Meta AI baru di Android. Pengguna bisa chat AI, buat gambar, lihat statistik forward channel, hingga fitur pengawasan akun anak. (Gambar ilustrasi)
WhatsApp uji tab Meta AI baru di Android. Pengguna bisa chat AI, buat gambar, lihat statistik forward channel, hingga fitur pengawasan akun anak. (Gambar ilustrasi)

Berdasarkan laporan dari WABetaInfo, tab baru ini dirancang sebagai pusat interaksi AI di dalam WhatsApp.

Melalui menu tersebut, pengguna dapat:

  • Berinteraksi dengan chatbot Meta AI

  • Membuat gambar berbasis AI

  • Melakukan panggilan suara yang didukung AI

  • Mengeksplorasi berbagai fitur AI lainnya

Dengan konsep ini, WhatsApp mencoba menghadirkan pengalaman digital yang lebih sederhana. Pengguna tidak lagi perlu membuka aplikasi AI lain hanya untuk mencoba fitur-fitur tersebut.

Artinya, semua bisa dilakukan langsung dari WhatsApp.

Tab Communities Dihapus Dari Tampilan Utama

Untuk memberi ruang pada tab Meta AI, WhatsApp melakukan sedikit perubahan pada tampilan aplikasi.

Salah satunya adalah menghapus tab Communities dari halaman utama.

Namun pengguna tidak perlu khawatir. Fitur komunitas tersebut tidak benar-benar dihilangkan. WhatsApp tetap menyediakan akses ke komunitas melalui tab Chats, sehingga pengguna masih bisa mengelola dan berinteraksi dengan komunitas seperti biasa.

WhatsApp Uji Fitur Statistik Forward Di Channel

Selain integrasi AI, WhatsApp juga sedang mengembangkan fitur baru yang cukup menarik bagi admin channel.

Fitur tersebut adalah statistik jumlah forward.

Melalui fitur ini, admin dapat mengetahui berapa kali sebuah update channel diteruskan oleh pengguna ke percakapan lain.

Data tersebut memberikan gambaran baru tentang:

  • Seberapa luas konten menyebar

  • Seberapa menarik sebuah update

  • Potensi viral dari sebuah informasi

Sebelumnya, admin hanya dapat melihat jumlah reaksi pengguna. Namun dengan hadirnya statistik forward, admin kini memiliki metrik tambahan untuk memahami jangkauan distribusi konten.

Fitur Forward Juga Akan Terlihat Oleh Pengikut Channel

Pengembangan fitur ini tidak berhenti di situ.

Pada versi WhatsApp beta untuk iOS, WhatsApp juga mulai menguji perubahan baru. Dalam pembaruan tersebut, jumlah forward pada update channel tidak hanya bisa dilihat oleh admin, tetapi juga oleh seluruh pengikut channel.

Dengan demikian, pengguna dapat mengetahui seberapa populer atau sering dibagikan sebuah konten di dalam channel.

Hal ini diyakini dapat meningkatkan transparansi dan kepercayaan pengguna terhadap informasi yang dibagikan.

WhatsApp Siapkan Sistem Pengawasan Akun Anak

Selain fitur AI dan channel, WhatsApp juga sedang mengembangkan sistem akun yang dapat dikelola oleh orang tua atau guardian.

Konsep ini memungkinkan orang tua menghubungkan akun mereka dengan akun anak melalui proses verifikasi tertentu.

Tujuannya cukup jelas: memberikan kontrol tambahan terhadap komunikasi anak di dunia digital.

Salah satu fitur yang sedang diuji adalah kotak pesan khusus bernama Requests.

Pesan dari nomor yang tidak dikenal akan masuk ke kotak tersebut terlebih dahulu. Dengan begitu, orang tua dapat meninjau dan menyetujui pesan sebelum anak dapat membacanya.

Fitur ini diharapkan dapat membantu meningkatkan keamanan anak saat menggunakan aplikasi pesan instan.

Meta AI Berpotensi Hadir Dengan Paket Berlangganan

Di sisi lain, WhatsApp juga sedang mengeksplorasi kemungkinan menghadirkan paket berlangganan untuk layanan Meta AI.

Paket premium ini diperkirakan menawarkan beberapa keunggulan tambahan, seperti:

  • Respons AI lebih cepat

  • Akses ke model AI yang lebih canggih

  • Batas penggunaan yang lebih besar

Namun penting untuk dicatat, Meta AI tetap bisa digunakan secara gratis oleh seluruh pengguna.

Paket berlangganan hanya menjadi opsi tambahan bagi pengguna yang membutuhkan fitur AI lebih lengkap atau performa yang lebih tinggi.

WhatsApp Semakin Serius Mengembangkan AI

Jika melihat berbagai pengembangan tersebut, jelas bahwa WhatsApp sedang menuju era baru komunikasi berbasis kecerdasan buatan.

Mulai dari chatbot AI, pembuatan gambar, statistik channel, hingga pengawasan akun anak, semuanya menunjukkan bahwa WhatsApp ingin menjadi lebih dari sekadar aplikasi pesan.

Bagi pengguna, perubahan ini bisa menjadi kabar baik. Artinya, pengalaman menggunakan WhatsApp akan semakin pintar, aman, dan praktis.

Menarik untuk menunggu kapan seluruh fitur ini akan dirilis secara resmi untuk semua pengguna.

Rabu, 08 Oktober 2025

ChatGPT Kini Punya Spotify dan Canva di Dalamnya Inilah Cara Kerjanya

ChatGPT Kini Punya Spotify dan Canva di Dalamnya Inilah Cara Kerjanya
ChatGPT Kini Punya Spotify dan Canva di Dalamnya Inilah Cara Kerjanya.

JAKARTAOpenAI kembali membuat gebrakan besar. Pada konferensi DevDay 2025 yang digelar pekan ini, perusahaan resmi memperkenalkan Apps SDK, sebuah paket alat pengembang yang memungkinkan integrasi mini-aplikasi langsung di dalam ChatGPT. Artinya, pengguna kini bisa membuat playlist Spotify, mendesain poster di Canva, hingga mencari properti lewat Zillow tanpa meninggalkan jendela obrolan.

Fitur baru ini sudah mendukung sejumlah aplikasi populer seperti Spotify, Canva, Figma, Coursera, Zillow, Booking.com, dan Expedia. Melalui integrasi tersebut, pengguna bisa meminta ChatGPT membuatkan playlist berdasarkan deskripsi suasana hati, tema, atau aktivitas tertentu, dan playlist itu akan langsung muncul di akun Spotify mereka. Sementara Canva memungkinkan pengguna merancang presentasi atau poster hanya lewat instruksi teks, sedangkan Zillow membantu mencari rumah atau apartemen dengan kriteria yang disampaikan lewat chat.

ChatGPT Kini Punya Spotify dan Canva di Dalamnya Inilah Cara Kerjanya
ChatGPT Kini Punya Spotify dan Canva di Dalamnya Inilah Cara Kerjanya.

Selama sesi demo di panggung DevDay, perwakilan OpenAI memperlihatkan kecepatan integrasi ini secara langsung. Dalam satu menit, ia meminta ChatGPT membuat poster iklan layanan penitipan anjing menggunakan Canva, lalu mengubahnya menjadi presentasi profesional. Semua proses itu berlangsung di satu jendela obrolan tanpa harus membuka tab baru atau berpindah aplikasi. Fitur ini dinilai bisa mengubah cara orang bekerja dan berkreasi dengan kecerdasan buatan.

“Dengan Apps SDK, kami membuka peluang bagi pengembang di seluruh dunia untuk membangun pengalaman AI yang lebih interaktif dan bermanfaat bagi pengguna,” ujar juru bicara OpenAI dalam siaran persnya. “Tujuan kami adalah membuat ChatGPT menjadi pusat produktivitas yang bisa digunakan untuk bekerja, belajar, dan berkreasi tanpa hambatan.”

OpenAI juga mengonfirmasi bahwa ekosistem mini-aplikasi ini akan segera diperluas. Dalam beberapa minggu ke depan, layanan seperti Uber, DoorDash, Instacart, OpenTable, Target, Peloton, dan Tripadvisor akan bergabung dengan ChatGPT. Nantinya, pengguna bisa memesan makanan, memesan meja restoran, berbelanja, bahkan merencanakan liburan langsung lewat percakapan dengan asisten AI mereka.

Untuk saat ini, Apps SDK tersedia dalam mode pratinjau bagi pengembang. OpenAI berencana meluncurkan katalog aplikasi dan sistem monetisasi khusus sebelum akhir tahun. Sementara itu, pengguna ChatGPT di luar Uni Eropa sudah bisa mencoba fitur mini-aplikasi ini mulai minggu ini.

Kehadiran Apps SDK diprediksi akan mengubah ekosistem chatbot menjadi lebih dinamis dan multifungsi. ChatGPT tidak lagi sekadar alat tanya-jawab, tapi bisa berperan sebagai pusat kendali berbagai layanan digital dalam satu antarmuka. Bagi pengguna, ini berarti waktu kerja lebih efisien, pengalaman yang lebih personal, serta potensi besar dalam mengotomatisasi berbagai tugas sehari-hari.

Selasa, 07 Oktober 2025

Google Siap Gantikan Asisten Lama dengan Gemini, Sekaligus Rilis Smart Speaker Baru Tahun 2026

Gambar smart speaker Google Home baru dengan cincin cahaya LED dan dukungan AI Gemini
Gambar smart speaker Google Home baru dengan cincin cahaya LED dan dukungan AI Gemini.

JAKARTA - Google resmi mengumumkan pembaruan besar untuk ekosistem perangkat pintarnya. Mulai tahun 2026, seluruh perangkat Google Home dan Nest akan beralih dari Google Assistant ke sistem kecerdasan buatan baru bernama Gemini. 

Tak hanya itu, raksasa teknologi asal California ini juga bersiap meluncurkan smart speaker generasi terbaru Google Home dengan fitur berbasis AI dan suara 360 derajat.

Gemini akan menjadi otak utama untuk seluruh perangkat pintar Google yang telah dirilis dalam 10 tahun terakhir. 

Artinya, bahkan pemilik perangkat lawas seperti Google Home 2016 atau Nest Hub generasi pertama tetap bisa mencoba teknologi ini melalui program Early Access. 

Pembaruan ini berlaku untuk speaker, smart display, kamera, hingga bel pintu pintar milik Google.

Menurut keterangan resmi perusahaan, Gemini dirancang untuk memahami bahasa manusia secara lebih alami dan kontekstual. 

“Dengan Gemini, pengguna dapat berbicara secara bebas tanpa harus mengulang kata kunci atau frasa tertentu,” ungkap juru bicara Google dalam blog resminya.

AI ini juga mampu memberikan rekomendasi musik hanya berdasarkan deskripsi pengguna misalnya, “putar lagu yang cocok untuk bersantai sore hari.”

Salah satu fitur unggulan yang banyak ditunggu adalah Gemini Live Mode, yang memungkinkan pengguna berbicara langsung dengan perangkat tanpa perlu mengucapkan “Oke Google” terlebih dahulu. 

Namun, fitur eksklusif ini hanya tersedia melalui paket berbayar Google Home Premium, dengan biaya langganan mulai dari 10 dolar AS per bulan atau sekitar Rp160 ribu.

Selain itu, Google juga memperkenalkan smart speaker baru dengan desain yang lebih modern dan responsif. 

Perangkat ini akan dibekali chip khusus AI, dilengkapi cincin cahaya LED untuk menampilkan respons visual saat mendengar perintah suara, serta sistem audio 360 derajat untuk pengalaman mendengarkan yang lebih imersif. 

Pengguna juga bisa mengelompokkan beberapa speaker menjadi satu sistem suara yang terhubung dengan Google TV, menciptakan suasana layaknya bioskop di rumah.

Smart speaker terbaru Google Home ini dijadwalkan rilis global pada musim semi 2026 dengan harga sekitar 100 dolar AS atau setara Rp1,6 juta. 

Langkah ini menandai babak baru bagi Google dalam mengintegrasikan AI ke kehidupan sehari-hari pengguna. 

Dengan kemampuan Gemini yang lebih cerdas dan interaktif, Google berupaya menegaskan posisinya sebagai pemimpin di dunia perangkat rumah pintar bersaing langsung dengan Amazon Alexa dan Apple HomePod.

Jika pembaruan berjalan lancar, bukan tidak mungkin sistem Gemini juga akan hadir di perangkat Android dan ChromeOS di masa depan, menggantikan peran Google Assistant secara menyeluruh.

Sabtu, 09 Agustus 2025

Grok Ilon Musk Kini Bisa Bikin Video Erotis 15 Detik, Picu Kontroversi

Tampilan fitur Grok Imagine di aplikasi XAI milik Elon Musk dengan mode konten dewasa
Tampilan fitur Grok Imagine di aplikasi XAI milik Elon Musk dengan mode konten dewasa.

JAKARTA - Perusahaan xAI milik Elon Musk resmi meluncurkan fitur baru bernama Imagine di chatbot Grok, yang memungkinkan pengguna membuat gambar dan video 15 detik, termasuk konten erotis. 

Fitur ini sudah tersedia sejak awal Agustus 2025 untuk pelanggan SuperGrok dan Premium+ X di perangkat iOS. 

Meski memiliki mode “dewasa” yang memungkinkan tampilan sebagian tubuh tanpa busana, sistem tetap membatasi pembuatan konten pornografi eksplisit penuh.

Fitur Imagine bekerja dengan mengubah teks atau gambar acuan menjadi video singkat lengkap dengan suara. 

Salah satu pengguna X dengan nama akun CardanoNSFW bahkan membagikan contoh video yang dihasilkan, memamerkan kemampuan Grok dalam menciptakan adegan provokatif. 

Sebelumnya, xAI juga sempat merilis karakter anime virtual yang hiper-seksual, sehingga integrasi konten NSFW di Grok dianggap sebagai kelanjutan dari strategi tersebut.

Meski ada moderasi internal, banyak pengguna di media sosial AS berhasil membuat konten “18+” dengan wajah selebritas seperti Taylor Swift, Margot Robbie, dan Zendaya. Tak ketinggalan, gambar parodi Elon Musk bersama seekor angsa juga ikut beredar. 

“Secara teknis, sistem membatasi pornografi penuh. Tapi potensi penyalahgunaan tetap besar, terutama untuk membuat deepfake selebriti,” tulis TechCrunch yang sudah menguji fitur ini.

 Media tersebut menambahkan, hasil visual Grok Imagine masih jauh dari realistis, dengan kulit bertekstur seperti lilin dan efek mirip animasi.

Peluncuran Grok Imagine memicu perdebatan luas terkait etika, privasi, dan keamanan data. 

Pakar teknologi memperingatkan bahwa meski kualitasnya belum sempurna, kemudahan membuat konten erotis berbasis AI bisa mempercepat penyebaran deepfake berisiko, termasuk yang melibatkan tokoh publik. 

Hingga kini, xAI belum mengumumkan rencana pembatasan lebih ketat, sementara tren penggunaan fitur ini terus meningkat di berbagai komunitas daring.