Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Teknologi China. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi China. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Mei 2026

China Masuk KTT Xi-Trump dengan Keunggulan Strategis Rare Earth

China memasuki KTT Xi-Trump dengan posisi kuat berkat dominasi rare earth global yang menjadi bahan penting industri teknologi, kendaraan listrik, dan pertahanan.
China memasuki KTT Xi-Trump dengan posisi kuat berkat dominasi rare earth global yang menjadi bahan penting industri teknologi, kendaraan listrik, dan pertahanan.

Borneotribun - China memasuki pertemuan puncak antara Presiden Xi Jinping dan Donald Trump pada 2025 dengan posisi tawar yang dinilai lebih kuat, terutama karena dominasi Beijing dalam rantai pasok rare earth global yang menjadi bahan penting industri teknologi, kendaraan listrik, hingga pertahanan.

Keunggulan itu disebut mengubah dinamika negosiasi perdagangan antara China dan Amerika Serikat di tengah ketegangan tarif dan pembatasan ekspor yang masih berlangsung.

Saat ini, China menguasai sekitar 69 persen produksi tambang rare earth dunia. Negara itu juga mendominasi sekitar 90 persen proses pemurnian dan produksi magnet permanen yang dibutuhkan untuk perangkat elektronik, kendaraan listrik, dan sistem militer.

Sejak 2025, pemerintah China telah menerapkan pembatasan ekspor dalam dua gelombang. Kebijakan itu mencakup kontrol terhadap produk yang mengandung material asal China meski hanya sebesar 0,1 persen, sebagai langkah menutup celah penghindaran aturan.

Di sisi lain, Beijing disebut tidak terlalu terpengaruh oleh tarif baru dari Amerika Serikat. China menilai penguasaan rare earth menjadi jaminan strategis yang dapat memberi tekanan nyata terhadap AS jika konflik perdagangan kembali meningkat.

Kesepakatan gencatan dagang yang dicapai pada 2025 memang sempat menangguhkan sebagian pembatasan selama satu tahun. Namun, sejumlah kebijakan penting berpotensi kembali diberlakukan apabila negosiasi antara kedua negara gagal mencapai titik temu.

Laporan South China Morning Post menyebut China memandang dominasi rare earth sebagai alat tekanan ekonomi yang efektif terhadap Amerika Serikat dalam persaingan perdagangan dan teknologi kedua negara.

Hingga kini, Amerika Serikat masih belum memiliki rantai pasok alternatif yang dinilai mampu menyaingi kapasitas China dalam sektor rare earth.

Kondisi itu membuat posisi Beijing dianggap lebih siap menghadapi tekanan dagang menjelang pertemuan Xi dan Trump, terutama di tengah tingginya kebutuhan global terhadap material strategis tersebut.

Rabu, 08 Oktober 2025

Selfie Luar Angkasa Tianwen-2 Tampilkan Bumi dari Jarak 43 Juta Kilometer

Selfie Luar Angkasa Tianwen-2 Tampilkan Bumi dari Jarak 43 Juta Kilometer
Selfie Luar Angkasa Tianwen-2 Tampilkan Bumi dari Jarak 43 Juta Kilometer.

JAKARTA - Sebuah momen luar biasa terjadi di luar angkasa ketika wahana antariksa China, Tianwen-2, berhasil mengambil foto selfie dengan latar belakang Bumi yang tampak jelas dari jarak sekitar 43 juta kilometer. Foto ini diambil saat Tianwen-2 sedang dalam perjalanan menuju asteroid Kamooalewa, menggunakan kamera yang dipasang di lengan robotiknya.

Dalam gambar tersebut, Bumi terlihat sebagai titik biru bercahaya dengan formasi awan yang masih dapat dikenali, meskipun jaraknya sudah lebih dari seperempat jarak antara Bumi dan Matahari. Untuk perbandingan, jarak Bumi ke Matahari adalah sekitar 150 juta kilometer, artinya Tianwen-2 berada di posisi sekitar sepertiga jarak itu. Foto ini sekaligus menandai tahap penting dalam perjalanan panjang misi luar angkasa China yang semakin ambisius.

Menurut laporan dari media China, Tianwen-2 kini sudah mencapai setengah perjalanan menuju asteroid Kamooalewa, salah satu dari hanya tujuh kvasisatellite atau “kvasisatellite” Bumi yang dikenal para ilmuwan. Sebelum melanjutkan ke tahap utama, wahana ini telah berhasil melewati serangkaian uji orbit dan pemeriksaan sistem elektroniknya. Selain itu, perangkat untuk pengambilan sampel juga telah berhasil diuji dan dikonfirmasi siap digunakan.

Misi Tianwen-2 dijadwalkan tiba di asteroid Kamooalewa pada Juli 2026. Setelah tiba, wahana ini akan melakukan pemetaan detail permukaan asteroid serta mengumpulkan sampel batuan dan debu. Jika semua berjalan sesuai rencana, material yang dikumpulkan akan dikirim kembali ke Bumi melalui kapsul khusus pada tahun 2027. Menariknya, misi ini tidak berhenti di sana. Setelah menyelesaikan tahap pertama, Tianwen-2 akan melanjutkan perjalanan menuju objek misterius lain bernama 311P/PANSTARRS, yang ditemukan pada 2013 dan dikenal karena memiliki enam ekor seperti komet. Target kedua ini diharapkan dapat dicapai pada Januari 2035, menjadikannya salah satu misi eksplorasi terpanjang dalam sejarah China.

Langkah ini memperlihatkan keseriusan China dalam memperkuat posisinya di kancah eksplorasi ruang angkasa global. Negeri tersebut terus memperluas cakupan misinya secara mandiri, tanpa bergantung pada kerja sama dengan badan luar angkasa lain seperti NASA atau ESA. Sebelumnya, China telah sukses mengirimkan dan mengembalikan sampel tanah Bulan melalui misi Chang’e-5 dan Chang’e-6. Selain itu, pada 2021, misi Tianwen-1 berhasil menempatkan wahana orbit, pendarat, dan rover di permukaan Mars, menjadikan China negara kedua setelah Amerika Serikat yang mampu melakukan operasi kompleks tersebut.

Keberhasilan selfie Tianwen-2 di ruang angkasa bukan sekadar pencapaian visual, tetapi juga simbol kemampuan teknologi canggih China dalam navigasi, komunikasi jarak jauh, dan operasi robotik antariksa. Dengan serangkaian misi yang terus berlanjut, para ahli menilai bahwa China kini berada di jalur cepat untuk menjadi kekuatan besar di bidang eksplorasi tata surya.