Tak Mau Pulang dengan Tangan Kosong, Warga Binaan Lapas Banjarmasin Kini Bisa Bikin Lemari
![]() |
| Lapas Banjarmasin membekali warga binaan dengan keterampilan mebel melalui pelatihan pembuatan lemari. Program ini menjadi bekal kerja dan peluang usaha setelah bebas. |
Lapas Banjarmasin Bekali Warga Binaan dengan Keterampilan Mebel, Siapkan Bekal Kerja Setelah Bebas
BANJARMASIN – Lapas Kelas IIA Banjarmasin terus memperkuat program pembinaan warga binaan melalui pelatihan keterampilan kerja di bidang mebel. Melalui kegiatan pembuatan rak lemari, warga binaan tidak hanya diajarkan kemampuan teknis, tetapi juga dipersiapkan untuk memiliki bekal usaha dan pekerjaan setelah menyelesaikan masa pidana.
Program pembinaan kemandirian ini menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung proses reintegrasi sosial warga binaan. Dengan keterampilan yang memiliki nilai ekonomi dan dibutuhkan masyarakat, peluang untuk kembali produktif setelah bebas diharapkan semakin terbuka.
Keterampilan Mebel Jadi Bekal Produktif bagi Warga Binaan
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menegaskan bahwa pembinaan keterampilan kerja merupakan bagian penting dari sistem pemasyarakatan modern. Program ini dirancang agar warga binaan memiliki kemampuan yang dapat langsung diterapkan di dunia kerja maupun untuk membuka usaha mandiri.
Menurutnya, sektor mebel masih memiliki prospek yang menjanjikan karena kebutuhan masyarakat terhadap produk furnitur terus ada. Oleh sebab itu, pelatihan pembuatan rak lemari dipilih sebagai salah satu bentuk keterampilan yang aplikatif dan bernilai ekonomi.
Selain menghasilkan produk yang memiliki fungsi nyata, kegiatan ini juga memberikan pengalaman kerja yang dapat menjadi modal berharga ketika warga binaan kembali ke lingkungan sosialnya.
Pelatihan Dimulai dari Dasar hingga Produk Jadi
Dalam pelaksanaannya, warga binaan mendapatkan pelatihan secara bertahap mulai dari pengukuran bahan, pemotongan kayu, perakitan rangka, hingga tahap penyelesaian akhir produk.
Setiap proses dilakukan dengan pendampingan petugas pembinaan sehingga peserta dapat memahami teknik kerja yang benar sekaligus menerapkan standar kualitas dalam pembuatan produk mebel.
Metode pembelajaran praktik langsung seperti ini dinilai efektif karena memberikan pengalaman nyata kepada warga binaan. Mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menghasilkan produk secara mandiri.
Menanamkan Disiplin dan Tanggung Jawab
Program pembinaan kerja di Lapas Banjarmasin tidak semata-mata berorientasi pada hasil produksi. Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Bagus Paras Etika, menjelaskan bahwa pelatihan juga bertujuan membangun karakter positif.
Nilai-nilai seperti disiplin, ketelitian, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama menjadi bagian penting yang ditanamkan selama proses pelatihan berlangsung.
Budaya kerja tersebut dinilai sangat dibutuhkan ketika warga binaan nantinya kembali ke masyarakat dan memasuki dunia kerja. Kemampuan teknis tanpa didukung sikap profesional akan sulit berkembang menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan.
Dukungan Reintegrasi Sosial dan Ekonomi
Pembinaan keterampilan kerja menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung reintegrasi sosial warga binaan. Melalui peningkatan kapasitas kerja, mereka memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan atau bahkan membangun usaha sendiri setelah bebas.
Program seperti ini juga berkontribusi dalam mengurangi risiko pengangguran pasca-pembinaan. Dengan memiliki keterampilan yang jelas dan pengalaman praktik kerja, warga binaan dapat lebih percaya diri menghadapi kehidupan baru di tengah masyarakat.
Selain memberikan manfaat bagi individu, keberhasilan program pembinaan keterampilan juga berpotensi memberikan dampak positif bagi keluarga dan lingkungan sekitar melalui peningkatan kesejahteraan ekonomi.
Warga Binaan Rasakan Manfaat Langsung
Salah seorang warga binaan berinisial SR mengaku memperoleh banyak pengalaman baru selama mengikuti pelatihan mebel tersebut. Ia belajar memahami dasar-dasar pembuatan furnitur hingga mampu merakit rak lemari secara mandiri.
Baginya, keterampilan yang diperoleh tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri untuk menghadapi masa depan setelah menyelesaikan masa pembinaan.
Harapan untuk memiliki pekerjaan atau membuka usaha sendiri menjadi motivasi utama dalam mengikuti program tersebut.
Komitmen Lapas Banjarmasin Mencetak Warga Binaan yang Mandiri
Melalui pelatihan mebel dan berbagai program pembinaan kemandirian lainnya, Lapas Kelas IIA Banjarmasin menunjukkan komitmennya dalam membangun sumber daya manusia yang lebih siap menghadapi kehidupan setelah bebas.
Pembekalan keterampilan kerja tidak hanya membantu warga binaan memperoleh kemampuan teknis, tetapi juga membentuk karakter produktif yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, program pemasyarakatan tidak lagi sekadar menjalani masa hukuman, melainkan menjadi proses pembelajaran yang membuka peluang bagi warga binaan untuk membangun masa depan yang lebih baik dan mandiri.






