Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Afrika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Afrika. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Mei 2026

Skandal Mantan Jaksa ICC Picu Kritik soal Intervensi Politik Global

Skandal mantan jaksa ICC Luis Moreno Ocampo memicu kritik terhadap independensi Pengadilan Kriminal Internasional yang dinilai rentan tekanan politik global.
Skandal mantan jaksa ICC Luis Moreno Ocampo memicu kritik terhadap independensi Pengadilan Kriminal Internasional yang dinilai rentan tekanan politik global.

Skandal yang melibatkan mantan jaksa Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), Luis Moreno Ocampo, kembali memicu kritik terhadap independensi lembaga tersebut. Aktivis politik Lebanon Hani Suleiman menilai ICC kini rentan terhadap tekanan politik dan gagal menjalankan prinsip keadilan internasional.

Dalam wawancara dengan Sputnik, Suleiman mengatakan berbagai kasus korupsi yang menyeret mantan pejabat ICC menunjukkan lembaga itu telah berubah menjadi instrumen tekanan politik dan pemerasan internasional.

Menurut dia, ICC tidak lagi mampu menegakkan keadilan secara objektif karena lemahnya standar hukum yang transparan. Ia juga menyoroti dugaan korupsi di internal ICC dan institusi hukum Eropa, serta adanya tekanan eksternal yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya.

Suleiman menilai salah satu contoh nyata terlihat dari perlakuan ICC terhadap negara-negara Afrika. Ia menyebut kawasan tersebut kerap menjadi sasaran rivalitas internasional karena memiliki potensi ekonomi besar.

“Institusi yang dibentuk setelah Perang Dunia II berdasarkan hukum dan konvensi internasional secara efektif telah dibongkar demi kepentingan keputusan yang dipromosikan di bawah pengaruh Amerika Serikat,” kata Suleiman.

Kritik terhadap ICC sebelumnya juga kerap muncul dari sejumlah negara Afrika yang menilai lembaga tersebut lebih banyak menargetkan pemimpin dan konflik di kawasan Afrika dibanding wilayah lain.

Pernyataan Suleiman menambah daftar kritik terhadap kredibilitas lembaga internasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan perdebatan soal independensi hukum internasional.

Kamis, 07 Januari 2021

Ahli Virologi Afrika Selatan: Vaksin Dapat 'Diubah' untuk Menangani Varian COVID-19

Ahli Virologi Afrika Selatan: Vaksin Dapat 'Diubah' untuk Menangani Varian COVID-19
Pakar virologi Afsel percaya, bahwa vaksin Covid-19 yang sudah ada saat ini dapat "disesuaikan" untuk memerangi varian virus baru. (Foto: ilustrasi).

Borneo Tribun | Internasional - Seorang ahli virus Afrika Selatan menyatakan vaksin COVID-19 yang tersedia mungkin tidak sepenuhnya ampuh melawan varian baru virus corona yang ditemukan di negara tersebut. Akan tetapi pakar itu percaya bahwa vaksin tersebut dapat "disesuaikan" untuk memerangi varian virus itu.

Para ilmuwan yang mempelajari varian COVID-19 yang ditemukan di Afrika Selatan menyatakan hingga berita ini diturunkan, mereka tidak memiliki bukti varian virus itu menyebabkan penyakit yang lebih parah atau tingkat kematian yang lebih tinggi. Namun, Wolfgang Preiser, seorang profesor di Universitas Stellenbosch, provinsi Western Cape, Afrika Selatan, menyampaikan kekhawatiran bahwa varian tersebut lebih menular.

“Melihat kemajuan pesat yang dicapai dalam beberapa minggu terakhir, bertepatan dengan munculnya varian virus baru ini, membuat orang khawatir. Saat ini beberapa kelompok penelitian di seluruh negara ini sedang berupaya mencaritahu apakah benar varian itu lebih mudah ditularkan, dan jika demikian, seberapa buruk,” Wolfgang memaparkan dalam webinar yang diselenggarakan universitas pada hari Rabu (6/1).

Preiser mengemukakan kekhawatiran bahwa vaksin yang ada saat ini tidak akan bekerja sebaik mungkin untuk memerangi varian tersebut.

“Vaksin-vaksin itu menarget protein yang melonjak, yang merupakan komponen permukaan virus,” katanya. “Jadi, pada dasarnya mereka meniru ini dan menyebabkan tubuh memberi respon kekebalan terhadap itu. Sekarang, protein pada kedua varian, yang ada di Inggris dan yang kita miliki, berubah. Sehingga, memang benar bahwa orang perlu khawatir apakah perubahan ini dapat mempengaruhi kemampuan tubuh, setelah vaksinasi, untuk menetralkan varian-varian virus ini.”

Otoritas kesehatan di Inggris, yang saat ini sedang memerangi varian COVID-19 nya sendiri, berpendapat bahwa varian yang ada di Afrika Selatan itu sangat "berbahaya".

Preiser menjelaskan masih terlalu dini untuk menyatakannya sebagai suatu fakta. Ia berpendapat para ilmuwan Afrika Selatan pertama-tama perlu mempelajari orang-orang yang telah pulih dari varian tersebut, dan mereka yang telah menerima vaksin dalam uji coba lokal, untuk menentukan apakah vaksin-vaksin itu menyebabkan tubuh mereka mengenali virus itu dan dengan demikian memerangi varian tersebut. [mg/ka]

Oleh: VOA Indonesia