Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Gencatan Senjata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gencatan Senjata. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Mei 2026

Trump Nilai Peluang Damai dengan Iran Masih Terbuka

Trump menyatakan solusi diplomatik dengan Iran masih mungkin tercapai meski menilai gencatan senjata saat ini sangat lemah dan rawan gagal.
Trump menyatakan solusi diplomatik dengan Iran masih mungkin tercapai meski menilai gencatan senjata saat ini sangat lemah dan rawan gagal.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Senin di White House bahwa penyelesaian diplomatik konflik dengan Iran masih sangat mungkin dicapai, meski situasi gencatan senjata saat ini dinilai semakin rapuh.

Saat ditanya wartawan apakah jalur diplomasi masih memungkinkan atau situasi sudah mengarah pada opsi militer, Trump menjawab singkat bahwa peluang penyelesaian damai tetap terbuka.

“Saya pikir itu sangat mungkin,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Namun, Trump menilai kondisi gencatan senjata dengan Iran berada dalam titik terlemah sejauh ini. Ia bahkan menyebut peluang gencatan senjata bertahan hanya sekitar 1 persen.

“Gencatan senjata itu sangat lemah. Saya menyebutnya yang paling lemah saat ini,” ujarnya.

Trump juga menyinggung surat terbaru yang dikirim Iran kepada Amerika Serikat. Menurut dia, Teheran tidak memberikan komitmen tegas untuk menghentikan pengembangan maupun pembangunan senjata nuklir.

Ia mengatakan Iran sebelumnya sempat menyetujui sejumlah poin terkait uranium yang diperkaya, tetapi kemudian menarik kembali sikap tersebut dalam dokumen resmi.

“Mereka setuju dengan kami, lalu mereka menariknya kembali,” kata Trump.

Trump menambahkan pemerintah AS menginginkan jaminan jangka panjang bahwa Iran tidak akan memiliki senjata nuklir. Namun hingga kini, menurut dia, belum ada kesepakatan final yang dapat dicapai kedua pihak.

Pernyataan terbaru Trump muncul di tengah masih tingginya ketegangan terkait program nuklir Iran dan upaya diplomasi yang terus berlangsung antara Washington dan Teheran.

Trump Sebut AS Akan Hadapi Kepemimpinan Iran Saat Ini Sampai Deal Tercapai

Trump menyatakan AS akan tetap berurusan dengan pemerintah Iran saat ini hingga tercapai kesepakatan damai, di tengah ketegangan Selat Hormuz dan negosiasi yang belum tuntas.
Trump menyatakan AS akan tetap berurusan dengan pemerintah Iran saat ini hingga tercapai kesepakatan damai, di tengah ketegangan Selat Hormuz dan negosiasi yang belum tuntas.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin di Washington menyatakan akan tetap berurusan dengan kepemimpinan Iran saat ini hingga tercapai kesepakatan damai antara kedua negara.

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menegaskan pemerintahannya masih membuka jalur diplomasi dengan Teheran meski sebelumnya muncul spekulasi soal kemungkinan pergantian rezim di Iran.

“Saya akan berurusan dengan mereka sampai mereka membuat kesepakatan,” kata Trump saat ditanya apakah AS masih bisa bekerja sama dengan pemerintahan Iran yang sekarang.

Trump juga mengklaim para negosiator Iran mengatakan kepada dirinya bahwa Amerika Serikat perlu membantu membersihkan “debu nuklir” dari fasilitas Iran yang hancur akibat serangan sebelumnya. Menurut Trump, Iran disebut tidak memiliki teknologi untuk melakukan proses tersebut sendiri.

Ketegangan antara Washington dan Teheran sebelumnya berdampak besar terhadap jalur perdagangan energi global. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz sempat nyaris terhenti, memicu kenaikan harga bahan bakar dunia karena kawasan itu menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia.

Pada 3 Mei lalu, Trump mengumumkan Project Freedom untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz dan ingin keluar dari wilayah tersebut. Namun dua hari kemudian, ia memutuskan menunda operasi itu sementara waktu guna memberi ruang bagi proses perundingan damai dengan Iran.

Konflik meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran pada 28 Februari. Serangan itu menyebabkan kerusakan fasilitas dan korban sipil.

Washington dan Teheran kemudian menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada 7 April. Meski pembicaraan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan keputusan final, Trump memperpanjang penghentian sementara permusuhan untuk memberi kesempatan kepada Iran menyusun proposal baru yang lebih terpadu.

Moskow Catat 23.802 Pelanggaran Gencatan Senjata oleh Pasukan Ukraina

Rusia mengklaim Ukraina melanggar gencatan senjata hingga 23.802 kali selama periode truce Hari Kemenangan, termasuk serangan drone dan artileri.
Rusia mengklaim Ukraina melanggar gencatan senjata hingga 23.802 kali selama periode truce Hari Kemenangan, termasuk serangan drone dan artileri.

MOSKOW — Kementerian Pertahanan Rusia pada Senin menyatakan pasukan Ukraina telah melanggar gencatan senjata sebanyak 23.802 kali selama periode penghentian sementara operasi militer yang diberlakukan Rusia dalam peringatan Hari Kemenangan ke-81 pada 8 Mei.

Dalam pernyataannya, kementerian menyebut seluruh pasukan Rusia di zona operasi militer khusus tetap mematuhi gencatan senjata dan bertahan di posisi masing-masing sesuai instruksi Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Meski demikian, Rusia menuduh pasukan Ukraina tetap melancarkan serangan menggunakan drone dan tembakan artileri ke posisi tentara Rusia selama masa truce berlangsung.

“Selama periode gencatan senjata di zona operasi militer khusus, tercatat total 23.802 pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Ukraina,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia.

Menurut data yang dirilis Moskow, pasukan Ukraina melakukan 12 upaya serangan serta 767 kali penembakan menggunakan peluncur roket ganda, artileri, dan mortir.

Selain itu, Rusia juga mengklaim terjadi 6.905 serangan drone yang diarahkan ke posisi mereka.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan tentaranya merespons serangan tersebut dengan tindakan “secara simetris”, termasuk membalas tembakan ke posisi artileri, mortir, pusat komando, hingga lokasi peluncuran drone milik Ukraina.

Rusia juga melaporkan kerugian di pihak Ukraina dalam berbagai sektor pertempuran. Moskow mengklaim lebih dari 320 tentara Ukraina tewas dalam pertempuran melawan kelompok tempur Vostok.

Sementara itu, lebih dari 305 personel Ukraina disebut tewas akibat operasi kelompok tempur Tsentr. Rusia juga mengklaim 90 tentara Ukraina tewas di sektor Sever, lebih dari 90 di wilayah Zapad, lebih dari 70 di sektor Yug, serta hingga 45 personel di area Dnepr.

Pernyataan ini disampaikan di tengah konflik Rusia-Ukraina yang masih berlangsung dan belum menunjukkan tanda mereda, meski beberapa kali upaya penghentian sementara pertempuran diumumkan kedua pihak.

Biaya Operasi Militer AS terhadap Iran Tembus US$77 Miliar dalam 71 Hari

Biaya operasi militer AS terhadap Iran menembus US$77 miliar pada hari ke-71 konflik, menurut Iran War Cost Tracker di tengah perpanjangan gencatan senjata.
Biaya operasi militer AS terhadap Iran menembus US$77 miliar pada hari ke-71 konflik, menurut Iran War Cost Tracker di tengah perpanjangan gencatan senjata.

WASHINGTON — Biaya operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran telah melampaui US$77 miliar hingga hari ke-71 konflik, menurut data terbaru dari portal Iran War Cost Tracker yang diperbarui secara real time.

Portal tersebut menghitung pengeluaran untuk mempertahankan personel militer, kapal perang yang dikerahkan ke kawasan, serta berbagai kebutuhan operasional lain selama konflik berlangsung.

Metode perhitungan mengacu pada laporan Pentagon kepada Kongres AS yang menyebut enam hari pertama operasi menelan biaya sekitar US$11,3 miliar. Setelah itu, biaya diperkirakan mencapai sekitar US$1 miliar per hari.

Pada akhir April, Under Secretary of Defense (Comptroller)/Chief Financial Officer AS, Jules Hurst, mengatakan kepada anggota House Armed Services Committee bahwa biaya konflik dengan Iran berada di kisaran US$25 miliar.

Namun sehari kemudian, sejumlah media AS mengutip sumber yang menyebut angka tersebut belum memasukkan biaya pemulihan fasilitas militer Amerika dan penggantian peralatan yang rusak. Berdasarkan laporan media, total biaya sebenarnya disebut hampir dua kali lebih besar.

Konflik memanas sejak 28 Februari ketika AS dan Israel mulai melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran. Serangan itu dilaporkan menewaskan lebih dari 3.000 orang.

Pada 8 April, Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Pembicaraan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan baru, tetapi hingga kini belum ada laporan mengenai dimulainya kembali serangan militer.

Meski demikian, AS disebut mulai menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Gencatan senjata pun diperpanjang di tengah situasi yang masih tegang di kawasan.

Senin, 11 Mei 2026

Serangan Baru AS ke Iran Disebut Upaya Tekan Kesepakatan Sesuai Kepentingan Washington

Serangan terbaru AS ke Iran disebut sebagai upaya menekan Teheran agar menyetujui kesepakatan sesuai kepentingan Washington di tengah memanasnya konflik di Selat Hormuz.
Serangan terbaru AS ke Iran disebut sebagai upaya menekan Teheran agar menyetujui kesepakatan sesuai kepentingan Washington di tengah memanasnya konflik di Selat Hormuz.

AMERIKA SERIKAT - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan pada 7-8 Mei di kawasan Selat Hormuz. Pengamat politik Timur Tengah, Farhad Ibragimov, menilai langkah Washington bertujuan menekan Iran agar segera menyepakati perjanjian yang menguntungkan AS.

Dalam wawancaranya kepada Sputnik, Ibragimov mengatakan pemerintahan AS saat ini fokus mempercepat tercapainya kesepakatan dengan Teheran melalui tekanan militer dan politik.

Menurut dia, rangkaian serangan terbaru yang dilakukan AS terhadap Iran menjadi bagian dari strategi tersebut. Meski begitu, ia meragukan peluang terciptanya perdamaian jangka panjang antara kedua negara.

“Saya tidak percaya itu akan terjadi. Pada kenyataannya, peluang untuk menandatangani perjanjian yang benar-benar berarti masih sangat tidak pasti. Bahkan jika kesepakatan damai tercapai, kemungkinan besar akan dilanggar setelah beberapa waktu,” ujar Ibragimov.

Ia juga menyinggung agenda Presiden AS Donald Trump yang dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada 13-15 Mei. Menurutnya, Trump berharap isu Timur Tengah dapat diselesaikan lebih dulu agar Washington memiliki posisi tawar lebih kuat saat berhadapan dengan Beijing.

Ketegangan terbaru pecah setelah Iran menuding militer AS melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal tanker minyak Iran yang bergerak dari perairan pesisir menuju Selat Hormuz.

Sebagai respons, Angkatan Bersenjata Iran melancarkan serangan terhadap kapal militer AS di wilayah timur Selat Hormuz dan selatan Chabahar. Iran mengklaim serangan tersebut menimbulkan kerusakan signifikan pada armada militer AS.

Situasi ini kembali menambah ketidakpastian di kawasan Timur Tengah, terutama di jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.

Jumat, 08 Mei 2026

Rusia Klaim Ukraina Langgar Gencatan Senjata Ribuan Kali Di Zona Operasi

Rusia menuduh Ukraina melanggar gencatan senjata hingga 1.365 kali di zona operasi militer, membuat ketegangan kedua negara kembali meningkat.
Rusia menuduh Ukraina melanggar gencatan senjata hingga 1.365 kali di zona operasi militer, membuat ketegangan kedua negara kembali meningkat.

BorneoTribun - Rusia kembali melontarkan tuduhan terhadap Ukraina terkait dugaan pelanggaran gencatan senjata di wilayah operasi militer khusus. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim pihak Ukraina telah melakukan ribuan pelanggaran dalam periode penghentian sementara pertempuran yang sebelumnya diumumkan. Jumat, (8/5/2026).

Menurut keterangan resmi yang disampaikan pihak militer Rusia, tercatat ada sekitar 1.365 pelanggaran yang disebut terjadi di berbagai titik garis depan. Klaim tersebut langsung memicu perhatian publik internasional karena situasi konflik antara kedua negara memang masih sangat sensitif.

Pihak Rusia menyebut pelanggaran itu mencakup serangan artileri, penggunaan drone, hingga aktivitas militer lain yang dianggap bertentangan dengan kesepakatan penghentian serangan sementara. Meski begitu, belum ada verifikasi independen yang memastikan angka maupun detail tuduhan tersebut.

Di sisi lain, Ukraina belum memberikan tanggapan lengkap terkait tuduhan terbaru tersebut. Selama konflik berlangsung, kedua negara memang kerap saling menuduh melakukan pelanggaran kesepakatan di medan perang.

Situasi ini memperlihatkan bahwa upaya menciptakan stabilitas di kawasan masih menghadapi tantangan besar. Pengamat menilai, ketegangan yang terus terjadi membuat peluang terciptanya perdamaian permanen masih cukup sulit dalam waktu dekat.

Konflik Rusia dan Ukraina sendiri sudah berlangsung cukup lama dan berdampak besar terhadap kondisi geopolitik dunia. Selain memicu krisis kemanusiaan, perang juga memengaruhi sektor ekonomi global, energi, hingga keamanan kawasan Eropa.

Sejumlah negara dan organisasi internasional terus mendorong kedua pihak agar menahan diri dan kembali membuka jalur diplomasi. Namun hingga kini, situasi di lapangan masih menunjukkan tensi yang belum benar-benar mereda.

Masyarakat internasional kini menunggu perkembangan terbaru terkait klaim pelanggaran gencatan senjata tersebut, termasuk kemungkinan adanya langkah lanjutan dari kedua negara dalam beberapa hari ke depan.

Donald Trump Klaim Gencatan Senjata AS Dan Iran Masih Tetap Berlaku

Donald Trump menegaskan gencatan senjata AS dan Iran masih berlaku meski ketegangan militer kembali terjadi di Selat Hormuz.
Donald Trump menegaskan gencatan senjata AS dan Iran masih berlaku meski ketegangan militer kembali terjadi di Selat Hormuz.

Amerika Serikat - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran masih tetap berlaku meski ketegangan terbaru kembali pecah di kawasan Timur Tengah. Pernyataan itu muncul setelah terjadi insiden militer di sekitar Selat Hormuz yang membuat situasi global kembali memanas, Jumat, (8/5/2026).

Trump menyebut kondisi saat ini masih berada dalam jalur pengendalian dan proses negosiasi dengan Iran tetap berjalan. Ia bahkan menganggap bentrokan terbaru belum sampai membatalkan kesepakatan penghentian konflik yang sebelumnya sudah disepakati kedua pihak.

Ketegangan meningkat setelah sejumlah kapal perang Amerika dilaporkan mendapat serangan saat melintas di wilayah strategis Selat Hormuz. Kawasan tersebut dikenal sebagai jalur penting distribusi minyak dunia sehingga setiap konflik yang terjadi langsung memicu perhatian internasional.

Meski begitu, pemerintah Amerika menegaskan tidak ada kerusakan besar maupun korban dari pihak militernya. Sebagai respons, militer Amerika melakukan serangan balasan yang disebut sebagai langkah pertahanan diri terhadap ancaman yang muncul.

Di sisi lain, Iran menilai tindakan Amerika justru menjadi pelanggaran terhadap kesepakatan damai yang sebelumnya telah dibangun. Teheran juga mengklaim pihaknya hanya merespons tekanan militer yang dianggap mengganggu wilayah dan kepentingan nasional mereka.

Situasi ini membuat banyak pihak mulai mempertanyakan masa depan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Walau gencatan senjata masih diklaim berlaku, konflik kecil yang terus terjadi dinilai bisa memicu perang terbuka apabila tidak segera dikendalikan.

Trump sendiri tetap optimistis bahwa kesepakatan damai jangka panjang masih bisa dicapai. Pemerintah Amerika disebut terus membuka jalur diplomasi untuk mencari solusi agar ketegangan di Timur Tengah tidak semakin meluas.

Selain faktor keamanan, konflik ini juga mulai berdampak pada ekonomi global. Harga minyak dunia mengalami kenaikan karena pasar khawatir jalur perdagangan energi di Selat Hormuz terganggu apabila situasi semakin memburuk.

Sejumlah analis internasional menilai kondisi saat ini masih sangat rapuh. Meski kedua negara belum kembali ke perang besar, ketegangan militer yang terus muncul bisa menjadi ancaman serius bagi stabilitas kawasan dan ekonomi dunia.

Iran Balas Serangan AS Usai Gencatan Senjata Diklaim Dilanggar

Iran membalas aksi militer AS setelah gencatan senjata disebut dilanggar. Ketegangan di Teluk Hormuz kembali meningkat dan memicu kekhawatiran global.
Iran membalas aksi militer AS setelah gencatan senjata disebut dilanggar. Ketegangan di Teluk Hormuz kembali meningkat dan memicu kekhawatiran global.

Teheran, Iran - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Teheran menuduh Washington melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan kedua pihak. Situasi terbaru ini membuat kawasan Timur Tengah kembali berada dalam sorotan dunia. Jumat, (8/5/2026).

Pemerintah Iran mengklaim Amerika Serikat melakukan serangan terhadap sejumlah target di sekitar Teluk Hormuz, termasuk wilayah sipil dan kapal yang berada di jalur strategis tersebut. Iran menyebut aksi itu sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan damai yang sebelumnya sempat meredakan konflik.

Tak lama setelah tudingan itu muncul, militer Iran dilaporkan melakukan serangan balasan. Ketegangan pun meningkat cepat karena kedua negara saling menyampaikan versi berbeda terkait insiden yang terjadi di perairan penting dunia tersebut.

Amerika Serikat sendiri menyatakan operasi militernya dilakukan sebagai bentuk respons terhadap ancaman yang datang lebih dulu dari pihak Iran. Washington menilai tindakan yang dilakukan masih dalam batas operasi defensif dan tidak dimaksudkan untuk memulai perang baru.

Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa serangan Amerika sudah melewati batas dan membahayakan keamanan kawasan. Otoritas Iran juga menyebut beberapa wilayah pesisir mengalami dampak akibat serangan udara yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Teluk Hormuz menjadi titik paling sensitif dalam konflik kali ini. Jalur laut tersebut dikenal sebagai salah satu rute utama distribusi minyak dunia. Ketika situasi keamanan di kawasan itu terganggu, pasar global ikut bereaksi.

Harga minyak dunia dilaporkan mengalami kenaikan setelah kabar bentrokan terbaru antara Iran dan Amerika Serikat menyebar luas. Banyak pihak khawatir konflik bisa berkembang lebih besar jika kedua negara terus saling membalas serangan.

Sejumlah negara di kawasan Timur Tengah juga mulai meningkatkan kewaspadaan. Uni Emirat Arab dikabarkan memperkuat sistem pertahanan udaranya menyusul laporan adanya drone dan rudal yang melintas di wilayah sekitar Teluk.

Meski begitu, pejabat Amerika Serikat masih mengklaim gencatan senjata belum sepenuhnya runtuh. Mereka menyebut komunikasi diplomatik tetap berjalan demi mencegah konflik terbuka yang lebih luas.

Sementara itu, pengamat internasional menilai situasi saat ini sangat rawan karena kedua pihak sama-sama menunjukkan kekuatan militer di kawasan strategis. Jika tidak ada langkah diplomasi lanjutan, konflik bisa berdampak pada stabilitas ekonomi global dan keamanan internasional.

Sabtu, 25 April 2026

Ketegangan Israel Lebanon Memanas Lagi Meski Gencatan Senjata Masih Berlaku

Ketegangan Israel Lebanon kembali meningkat setelah laporan serangan IDF di tengah gencatan senjata yang disebut masih terus dilanggar berkali kali oleh berbagai pihak
Ketegangan Israel Lebanon kembali meningkat setelah laporan serangan IDF di tengah gencatan senjata yang disebut masih terus dilanggar berkali kali oleh berbagai pihak

Lebanon - Ketegangan di kawasan perbatasan Israel dan Lebanon kembali meningkat setelah muncul laporan adanya serangan militer yang dilakukan oleh pasukan Israel di wilayah Lebanon selatan. 

Situasi ini terjadi di tengah klaim adanya gencatan senjata yang sebelumnya disepakati, namun dalam praktiknya disebut sudah berkali kali dilanggar oleh berbagai pihak yang terlibat dalam konflik. 

Kondisi ini membuat situasi keamanan di kawasan tersebut kembali menjadi sorotan internasional karena dinilai semakin tidak stabil dan sulit dikendalikan. Sabtu, (25/04/2026)]

Menurut perkembangan situasi di lapangan, eskalasi ini bukanlah kejadian tunggal. Beberapa laporan menyebutkan bahwa pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata sudah terjadi dalam jumlah yang cukup signifikan. 

Hal ini kemudian memunculkan anggapan bahwa kondisi damai yang selama ini diumumkan sebenarnya masih jauh dari kata stabil, karena masih sering diwarnai aksi militer balasan dan serangan di wilayah perbatasan.

Di sisi lain, warga sipil di wilayah terdampak disebut kembali merasakan dampak langsung dari meningkatnya ketegangan ini. 

Aktivitas harian terganggu, dan rasa khawatir akan potensi eskalasi lanjutan semakin meningkat. 

Banyak pihak menilai bahwa situasi ini menunjukkan betapa rapuhnya kondisi keamanan di kawasan tersebut, meskipun secara formal terdapat kesepakatan penghentian konflik.

Pengamat konflik regional menilai bahwa kondisi seperti ini bisa terus berulang apabila tidak ada mekanisme pengawasan yang lebih kuat terhadap pelaksanaan gencatan senjata. 

Tanpa adanya kontrol yang jelas, setiap pelanggaran kecil berpotensi berkembang menjadi eskalasi yang lebih besar dan sulit dikendalikan.

Hingga kini, situasi di perbatasan Israel dan Lebanon masih berada dalam kondisi yang sangat dinamis. 

Ketegangan yang terus berulang menunjukkan bahwa upaya perdamaian masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam memastikan semua pihak benar benar mematuhi kesepakatan yang telah dibuat.

Jumat, 17 April 2026

Israel dan Lebanon Sepakat Gencatan Senjata 10 Hari, Dunia Taruh Harapan Baru

Israel dan Lebanon sepakat gencatan senjata 10 hari sebagai langkah awal menuju perdamaian dan meredakan konflik yang telah berlangsung beberapa pekan terakhir.
Israel dan Lebanon sepakat gencatan senjata 10 hari sebagai langkah awal menuju perdamaian dan meredakan konflik yang telah berlangsung beberapa pekan terakhir.

Ketegangan antara Israel dan Lebanon akhirnya menunjukkan tanda mereda setelah kedua pihak sepakat untuk memulai gencatan senjata sementara selama 10 hari. Kesepakatan ini menjadi sorotan dunia karena diharapkan bisa membuka jalan menuju perdamaian yang lebih permanen di kawasan Timur Tengah.

Kabar mengenai gencatan senjata ini diumumkan pada Kamis, (16/4/2026), setelah adanya komunikasi intensif antara para pemimpin dari kedua negara. Kesepakatan tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada Kamis malam waktu setempat dan akan berlangsung selama 10 hari ke depan.

Langkah ini dinilai sebagai upaya penting untuk menghentikan eskalasi konflik yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Dalam periode tersebut, serangan lintas perbatasan terus terjadi dan menyebabkan kerusakan besar di sejumlah wilayah, serta menimbulkan kekhawatiran internasional.

Gencatan senjata sementara ini juga diharapkan memberikan ruang bagi kedua pihak untuk melakukan pembicaraan lanjutan. Banyak pihak menilai bahwa jeda selama 10 hari ini bisa menjadi kesempatan strategis untuk meredakan ketegangan dan membangun komunikasi yang lebih konstruktif.

Selain itu, kesepakatan ini turut membuka peluang bagi pengiriman bantuan kemanusiaan ke wilayah terdampak konflik. Selama beberapa minggu terakhir, banyak warga sipil di wilayah perbatasan mengalami kesulitan akibat serangan dan kerusakan infrastruktur.

Dalam pernyataan yang disampaikan setelah kesepakatan dicapai, disebutkan bahwa kedua pihak berkomitmen untuk menahan diri dari serangan selama masa gencatan berlangsung. Meski begitu, sejumlah pihak tetap mengingatkan bahwa situasi di lapangan masih sangat sensitif dan membutuhkan pengawasan ketat.

Tidak hanya itu, gencatan senjata ini juga disebut dapat diperpanjang jika kedua pihak sepakat dan melihat adanya perkembangan positif selama periode awal. Banyak pengamat menilai bahwa kelanjutan kesepakatan akan sangat bergantung pada kepatuhan masing-masing pihak terhadap aturan yang telah disepakati.

Di sisi lain, dunia internasional menyambut baik langkah ini. Banyak negara berharap kesepakatan ini bisa menjadi titik awal menuju stabilitas kawasan yang selama ini kerap dilanda konflik.

Beberapa analis menilai bahwa keberhasilan gencatan senjata ini tidak hanya penting bagi Israel dan Lebanon, tetapi juga bagi keamanan regional secara keseluruhan. Stabilitas di kawasan Timur Tengah dianggap memiliki dampak besar terhadap kondisi geopolitik global, termasuk sektor energi dan perdagangan internasional.

Meski demikian, tantangan ke depan masih cukup besar. Proses menuju perdamaian permanen biasanya memerlukan waktu panjang, negosiasi berulang, serta komitmen yang kuat dari semua pihak terlibat.

Untuk saat ini, perhatian dunia tertuju pada pelaksanaan gencatan senjata tersebut. Apabila berjalan lancar tanpa pelanggaran besar, peluang menuju kesepakatan damai jangka panjang akan semakin terbuka.

Gencatan senjata 10 hari ini pun menjadi secercah harapan baru di tengah situasi konflik yang selama ini memanas. Banyak pihak berharap momentum ini tidak terbuang dan benar-benar dimanfaatkan untuk menciptakan stabilitas yang lebih baik di kawasan tersebut.

Senin, 13 April 2026

Data Survei CBS News: Mayoritas Publik AS Nilai Konflik Iran Berjalan Buruk

Survei YouGov dan CBS News menunjukkan mayoritas warga AS khawatir konflik Amerika dan Iran memanas serta menilai penanganan Donald Trump belum jelas.
Survei YouGov dan CBS News menunjukkan mayoritas warga AS khawatir konflik Amerika dan Iran memanas serta menilai penanganan Donald Trump belum jelas.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus memicu kekhawatiran luas di kalangan masyarakat. Survei terbaru yang dilakukan oleh YouGov bersama CBS News menunjukkan bahwa mayoritas warga Amerika merasa cemas terhadap arah konflik yang sedang berlangsung.

Hasil survei yang dirilis pada Minggu mengungkap bahwa 68 persen responden menyatakan merasa khawatir atas konflik antara kedua negara tersebut. Selain rasa khawatir, 57 persen warga mengaku merasa tertekan, sementara 54 persen menyebut mereka marah terhadap situasi yang berkembang.

Penilaian Publik Terhadap Konflik Semakin Negatif

Dalam survei yang sama, sebanyak 59 persen warga Amerika menilai konflik berjalan “agak buruk” atau “sangat buruk” bagi Amerika Serikat. Angka ini mengalami kenaikan dua poin dibanding survei sebelumnya yang dilakukan pada 22 Maret.

Temuan lain menunjukkan 62 persen responden menilai Presiden Donald Trump tidak memiliki rencana yang jelas terkait konflik dengan Iran. Bahkan, 66 persen warga menyatakan pemerintah belum memberikan penjelasan yang memadai terkait tujuan militer dalam konflik tersebut.

Kondisi ini memperlihatkan meningkatnya kekhawatiran publik terhadap arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat, terutama dalam menghadapi konflik berskala internasional.

Pernyataan Trump Dinilai Negatif Oleh Mayoritas Warga

Ancaman keras yang diunggah Presiden Donald Trump melalui platform Truth Social pada 7 April lalu turut menjadi perhatian publik.

Dalam unggahan tersebut, Trump menyebut kemungkinan untuk “menghancurkan peradaban Iran.” Pernyataan tersebut dinilai negatif oleh 59 persen responden, dengan 47 persen di antaranya menyatakan sangat tidak menyukai pernyataan tersebut.

Secara keseluruhan, 64 persen warga Amerika tidak menyetujui cara Trump menangani situasi dengan Iran, meningkat dua poin dibanding survei sebelumnya. Selain itu, 61 persen responden memberikan penilaian negatif terhadap kinerja Trump secara umum.

Konflik Memanas Sejak Serangan Februari

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran.

Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan korban sipil dan memicu respons balasan dari pihak Iran. Negara tersebut kemudian melakukan serangan ke wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Situasi ini memperlihatkan eskalasi konflik yang berpotensi memicu dampak lebih luas, termasuk terhadap stabilitas geopolitik di kawasan.

Upaya Gencatan Senjata Dua Pekan

Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Trump pada Selasa mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran.

Langkah ini dinilai sebagai upaya sementara untuk meredakan konflik dan membuka ruang dialog lebih lanjut. Namun, sebagian analis menilai masa gencatan senjata yang singkat belum cukup untuk memastikan stabilitas jangka panjang.

Metodologi Survei

Survei dilakukan pada 8–10 April terhadap 2.387 orang dewasa di Amerika Serikat. Survei ini memiliki margin kesalahan sebesar ±2,4 poin persentase, sehingga hasilnya dianggap cukup representatif dalam menggambarkan opini publik nasional.

Data survei dari lembaga kredibel seperti YouGov dan CBS News sering digunakan sebagai rujukan untuk memahami dinamika opini publik di Amerika Serikat, khususnya terkait isu kebijakan luar negeri dan keamanan nasional.

FAQ

1. Mengapa warga AS merasa khawatir terhadap konflik Iran?

Mayoritas warga menilai konflik dapat berdampak buruk bagi keamanan nasional, stabilitas global, dan ekonomi Amerika Serikat.

2. Siapa yang melakukan survei ini?

Survei dilakukan oleh YouGov bekerja sama dengan CBS News, dua lembaga yang dikenal kredibel dalam riset opini publik.

3. Berapa jumlah responden dalam survei tersebut?

Sebanyak 2.387 orang dewasa di Amerika Serikat ikut serta dalam survei yang dilakukan pada 8–10 April.

4. Apa yang membuat publik tidak puas terhadap penanganan konflik?

Sebagian besar responden menilai pemerintah belum memiliki rencana jelas dan belum menjelaskan tujuan militernya secara transparan.

5. Apakah ada upaya meredakan konflik AS dan Iran?

Ya, Presiden Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan sebagai langkah awal meredakan ketegangan.

Jumat, 14 Maret 2025

Putin Setuju dengan Usulan Gencatan Senjata, tapi Ada Syarat!

Putin Setuju dengan Usulan Gencatan Senjata, tapi Ada Syarat!
Putin Setuju dengan Usulan Gencatan Senjata, tapi Ada Syarat!

Moskow, Rusia – Presiden Rusia Vladimir Putin akhirnya buka suara soal usulan gencatan senjata dalam konflik Rusia-Ukraina. Dalam pidatonya pada Kamis (13/3) malam, Putin menyatakan bahwa Rusia menyetujui gencatan senjata, namun dengan satu syarat penting: harus ada jaminan perdamaian jangka panjang.

“Kami setuju dengan usulan untuk menghentikan permusuhan, tetapi kami beranggapan bahwa gencatan senjata ini haruslah sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan perdamaian jangka panjang dan menghilangkan akar penyebab krisis ini,” ujar Putin dalam pernyataannya.

AS Usul Gencatan Senjata 30 Hari, Rusia Skeptis

Sebelumnya, Amerika Serikat mengusulkan gencatan senjata selama 30 hari untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun. Namun, Asisten Kebijakan Luar Negeri utama Putin menolak gagasan itu. Menurutnya, jeda 30 hari hanya akan memberi kesempatan bagi militer Ukraina untuk mengatur ulang strategi mereka.

Yuri Ushakov, penasihat kebijakan luar negeri Putin sekaligus mantan Duta Besar Rusia untuk AS, mengatakan dalam wawancara dengan media Rusia bahwa tujuan Rusia bukan hanya sekadar jeda perang, melainkan penyelesaian damai jangka panjang yang mempertimbangkan kepentingan Rusia.

“Tujuan kami adalah penyelesaian damai jangka panjang. Dan kami menantikan penyelesaian damai yang mempertimbangkan kepentingan sah kami dan kekhawatiran kami yang sudah diketahui,” ujar Ushakov.

Ia juga menambahkan bahwa Rusia tidak menginginkan langkah-langkah yang hanya berpura-pura membawa perdamaian tanpa menyentuh akar permasalahan konflik.

Diplomasi Masih Berjalan, Tapi Rahasia

Dalam upaya mencari titik temu, utusan khusus AS, Steve Witkoff, telah tiba di Moskow untuk melanjutkan pembicaraan dengan pejabat Rusia. Ushakov mengonfirmasi bahwa ia telah berkomunikasi dengan Penasihat Keamanan Nasional AS, Mike Walz. Menariknya, komunikasi ini diklaim tetap bersifat rahasia.

Menurut Ushakov, AS mulai memahami bahwa ada beberapa poin yang tidak bisa dinegosiasikan, seperti keanggotaan Ukraina di NATO yang semakin sulit terwujud.

Ukraina Sambut Baik Usulan AS

Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy merespons usulan gencatan senjata AS dengan positif. Ia menyatakan bahwa Ukraina siap menerima gencatan senjata 30 hari sebagai langkah awal menuju kesepakatan damai yang lebih luas.

“Penghentian pertempuran bisa menjadi langkah awal dalam menciptakan kesepakatan damai yang lebih besar,” kata Zelenskyy.

Sementara itu, pembicaraan damai terus berlangsung, terutama setelah pertemuan antara pejabat AS dan Ukraina di Arab Saudi awal pekan ini.

Rusia Kembali Kuasai Sudzha

Di tengah negosiasi diplomatik, situasi di lapangan masih panas. Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan bahwa pasukannya telah merebut kembali kendali atas kota Sudzha di wilayah Kursk, yang sebelumnya dikuasai Ukraina sejak Agustus lalu.

Pasukan Ukraina dilaporkan telah melakukan perlawanan sengit untuk mempertahankan kota itu, namun akhirnya harus mundur setelah serangan Rusia yang semakin intens.

Gencatan Senjata atau Lanjut Perang?

Saat ini, dunia menanti apakah pernyataan Putin benar-benar akan berujung pada gencatan senjata yang nyata atau hanya sekadar strategi politik. Dengan sikap Rusia yang masih ragu terhadap usulan AS dan pertempuran yang masih terjadi di beberapa wilayah, masa depan konflik ini masih belum jelas.

Akankah Rusia dan Ukraina benar-benar duduk bersama untuk mencari solusi damai? Atau konflik ini akan terus berlanjut tanpa titik temu? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya!

Rabu, 05 Maret 2025

Masa Depan Gencatan Senjata Israel-Hamas Tidak Pasti Setelah Israel Blokir Bantuan ke Gaza

Masa Depan Gencatan Senjata Israel-Hamas Tidak Pasti Setelah Israel Blokir Bantuan ke Gaza
Truk-truk pengangkut bantuan kemanusiaan berjajar di sepanjang perbatasan Rafah dengan Jalur Gaza, 2 Maret 2025, setelah Israel menangguhkan masuknya pasokan ke daerah kantong Palestina tersebut. (AFP)

Yerusalem – Masa depan gencatan senjata antara Israel dan Hamas semakin tidak menentu setelah Israel memutuskan untuk memblokir semua bantuan kemanusiaan yang masuk ke Jalur Gaza. 

Langkah ini memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat Gaza, terutama karena terjadi tepat saat bulan suci Ramadan dimulai.

Israel mengklaim ingin memperpanjang gencatan senjata selama tujuh pekan, sementara Hamas bersikeras untuk melakukan negosiasi guna mencapai penghentian perang secara permanen. 

Namun, dengan situasi yang semakin memanas, banyak pihak meragukan keberhasilan perundingan tersebut.

Warga Gaza Panik dan Kesulitan Bertahan Hidup

Keputusan Israel untuk memblokir bantuan kemanusiaan telah menyebabkan kepanikan di pasar-pasar Gaza. 

Banyak warga yang bergegas membeli kebutuhan pokok karena khawatir persediaan akan habis.

Mai al-Khoudari, seorang mantan kepala sekolah yang terpaksa mengungsi akibat konflik, mengungkapkan kesulitannya. 

“Pemblokiran ini berdampak buruk bagi kami sebagai pengungsi. Ini bulan Ramadan, dan kami sangat membutuhkan banyak hal. Rumah saya telah dihancurkan, saya tidak punya apa-apa. Harga barang-barang melambung tinggi dan banyak yang tidak tersedia di pasar.”

Sementara itu, Israel berpendapat bahwa masih ada cukup bahan pangan di Gaza untuk bertahan selama beberapa bulan ke depan, meskipun banyak organisasi kemanusiaan membantah klaim tersebut.

Negosiasi Gencatan Senjata Alami Jalan Buntu

Negosiasi tahap kedua mengenai perpanjangan gencatan senjata dan pertukaran sandera mengalami kebuntuan. 

Hamas saat ini masih menahan sekitar 63 sandera dari total 250 orang yang diculik dalam serangan 7 Oktober 2023. 

Perang yang berlangsung lebih dari 16 bulan ini telah merenggut puluhan ribu nyawa warga Palestina dan lebih dari 1.700 warga Israel.

Sejauh ini, 147 sandera telah berhasil dikembalikan ke Israel dalam dua kesepakatan gencatan senjata sebelumnya. 

Sebagai imbalannya, Israel telah membebaskan sekitar 2.000 tahanan Palestina. 

Namun, dengan kebijakan baru Israel yang memblokir bantuan, banyak keluarga sandera khawatir langkah ini justru akan memperburuk kondisi para sandera yang masih ditahan.

Netanyahu: Hamas Gunakan Bantuan untuk Operasi Militer

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa keputusan untuk memblokir bantuan dimaksudkan untuk menekan Hamas agar kembali ke meja perundingan dan menyetujui gencatan senjata yang diajukan oleh utusan Timur Tengah Presiden AS, Steve Witkoff.

“Israel telah menghentikan masuknya barang dan pasokan ke Gaza karena Hamas mencuri dan menggunakannya untuk memperkuat operasi militer mereka. Kami tidak ingin bantuan yang seharusnya untuk warga Gaza justru digunakan untuk mendanai teror terhadap Israel,” kata Netanyahu.

Kebijakan ini mendapat dukungan dari sebagian warga Israel yang ingin melihat tindakan tegas terhadap Hamas. 

Namun, banyak keluarga sandera yang merasa pemblokiran bantuan justru memperburuk situasi. 

Zahiro Shahar Mor, seorang warga Israel yang kehilangan pamannya dalam tahanan Hamas, menyatakan kekhawatirannya. 

“Menahan bantuan kemanusiaan tidak hanya menyiksa warga Gaza tetapi juga para sandera. Mereka hidup dalam kondisi yang semakin buruk setiap harinya.”

Kecaman Internasional dan Desakan Perdamaian

Hamas, negara-negara Arab, PBB, serta organisasi hak asasi manusia mengecam langkah Israel yang dianggap melanggar ketentuan gencatan senjata. 

Liga Arab bahkan berencana mengadakan pertemuan darurat pekan ini guna membahas kemungkinan penghentian perang secara permanen.

Situasi ini membuat banyak pihak bertanya-tanya: apakah gencatan senjata masih mungkin terwujud, atau perang ini akan terus berkepanjangan tanpa kepastian kapan akan berakhir? Masa depan konflik Israel-Hamas kini berada di titik kritis, dan dunia menanti langkah selanjutnya dari kedua belah pihak.

Oleh: VOA Indonesia | Editor: Yakop

Selasa, 04 Maret 2025

Ramadan di Gaza: Ibadah Puasa di Tengah Gencatan Senjata yang Rapuh

Ramadan di Gaza: Ibadah Puasa di Tengah Gencatan Senjata yang Rapuh
Warga Palestina duduk di meja besar yang dikelilingi reruntuhan rumah dan bangunan yang hancur saat mereka berkumpul untuk berbuka puasa pada hari pertama Ramadan di Rafah, Jalur Gaza selatan, Sabtu, 1 Maret 2025 (Abdel Kareem Hana/AP)

JAKARTA - Ramadan tahun ini di Jalur Gaza dimulai di bawah bayang-bayang gencatan senjata yang rapuh. Setelah lebih dari 15 bulan perang yang menghancurkan wilayah tersebut dan menewaskan puluhan ribu warga Palestina, umat Muslim di Gaza tetap berusaha menjalankan ibadah puasa dengan penuh ketabahan.

Di antara puing-puing bangunan yang hancur di kawasan Rafah, hampir 5.000 warga Palestina berkumpul pada hari pertama Ramadan untuk berbuka puasa bersama pada Sabtu lalu. 

Duduk menghadap meja panjang di tengah reruntuhan, mereka dengan sabar menunggu azan magrib berkumandang sebelum menikmati hidangan berbuka yang telah disiapkan oleh para sukarelawan.

Buka Puasa di Tengah Reruntuhan

Walid Abdel Wahab, salah satu penyelenggara acara buka puasa bersama di Rafah, mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya kegiatan ini.

“Hari ini hari yang sangat luar biasa karena kami menjamu lebih dari 5.000 orang dengan 5.000 hidangan berbuka. Hari ini kami melukiskan kegembiraan di wajah orang-orang di sini di tengah kehancuran dan di bawah puing-puing ini,” katanya.

Ramadan tahun ini menjadi tahun kedua bagi warga Palestina menjalankan ibadah puasa dalam situasi perang yang belum sepenuhnya usai. 

Meski gencatan senjata telah diterapkan, ketegangan masih terasa di berbagai wilayah.

Dampak Perang yang Masih Terasa

Perang yang dimulai pada 7 Oktober 2023 itu telah menyebabkan penderitaan besar bagi warga Gaza. 

Konflik ini dipicu oleh serangan terhadap Israel yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 orang. 

Sebagai respons, Israel melancarkan operasi militer yang menurut Kementerian Kesehatan Gaza telah menewaskan lebih dari 48.000 warga Palestina serta menghancurkan sebagian besar wilayah di Gaza.

Ramadan di Gaza: Ibadah Puasa di Tengah Gencatan Senjata yang Rapuh
Saat matahari terbenam, warga Palestina duduk di meja besar yang dikelilingi puing-puing rumah dan bangunan yang hancur saat mereka berkumpul untuk berbuka puasa, pada hari pertama Ramadan di Rafah, Jalur Gaza selatan, Sabtu, 1 Maret 2025 (Abdel Kareem Hana/AP)

Kini, meskipun gencatan senjata telah diumumkan, banyak warga yang kehilangan tempat tinggal, akses terhadap kebutuhan dasar, serta fasilitas kesehatan yang layak. 

Ramadan yang seharusnya menjadi bulan penuh kedamaian dan refleksi justru dijalani dengan tantangan besar.

Semangat Bertahan di Tengah Kesulitan

Meskipun situasi sulit, semangat warga Gaza untuk menjalankan ibadah Ramadan tetap tinggi. Para sukarelawan dan organisasi kemanusiaan terus berusaha menghadirkan secercah harapan dengan menyediakan makanan berbuka puasa, mendistribusikan bantuan, dan memastikan anak-anak tetap bisa merasakan kebahagiaan di bulan suci ini.

Dengan kondisi yang penuh ketidakpastian, banyak yang berharap bahwa Ramadan tahun ini bisa membawa kedamaian yang lebih nyata bagi Gaza dan seluruh wilayah yang terdampak konflik.

Minggu, 23 Mei 2021

Usai Genjatan Senjata, Ini Langkah Menhan Israel

Usai Genjatan Senjata, Ini Langkah Menhan Israel

Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz.


BorneoTribun Internasional -- Usai genjatan senjata, ini langkah Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz.


Dia mengatakan akan melakukan tindakan politik untuk memulai gerakan jangka panjang.


Hal ini untuk melemahkan ekstremis dan memperkuat hubungan kaum moderat.


"Genjatan senjata telah terjadi usai desakan dari berbagai negara," ungkapnya.


Diketahui, sedikitnya 230 warga Palestina dan 12 Warga Israel telah menjadi korban.


"Pada titik ini kampanye militer telah berakhir, dan waktunya telah tiba untuk aksi politik.  Direruntuhan rumah anggota senior Hamas dan reruntuhan terowongan sepanjang lebih dari 100 km ini, akan menjadi tugas kita untuk membangun realitas yang berbeda." tutupnya.


Reporter: Er

Sabtu, 22 Mei 2021

Israel-Hamas Sepakati Gencatan Senjata di Gaza

Israel-Hamas Sepakati Gencatan Senjata di Gaza
Militer Israel menembakkan artileri dekat perbatasan dengan Jalur Gaza Rabu (19/5). Israel dan Hamas hari Kamis (20/5) menyepakati gencatan senjata di Gaza mulai Jumat (21/5) jam 2 dini hari.

BorneoTribun Internasional -- Israel dan Hamas hari Kamis (20/5) menyepakati gencatan senjata di seluruh perbatasan Jalur Gaza, mulai hari Jumat (21/5) jam 2 dini hari, demikian petikan pernyataan faksi Islamis Palestina sebagaimana diberitakan beberapa kantor berita. Gencatan senjata ini berpotensi mencegah terjadinya pertempuran paling sengit dalam puluhan tahun.

Kabinet keamanan Israel mengatakan pihaknya secara bulat telah mendukung gencatan senjata di Jalur Gaza “secara timbal balik dan tanpa syarat” sebagaimana yang diusulkan Mesir sebagai mediator, tetapi menambahkan bahwa jam pelaksanaannya belum disepakati.

Perkembangan terbaru ini terjadi setelah Presiden Amerika Joe Biden mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mengupayakan deeskalasi, dan di tengah tawaran media oleh Mesir, Qatara dan PBB.

Seorang pejabat Hamas mengatakan kepada kantor berita Reuters, gencatan senjata ini “akan saling menguntungkan dan berlaku serentak.”

Serangan roket Hamas dan sekutunya – Jihad Islam – telah kembali berlanjut setelah jeda selama delapan jam pada hari Kamis (20/5), sementara Israel terus menembaki apa yang menurutnya bertujuan untuk menghancurkan kemampuan militer faksi Hamas dan mencegah mereka melakukan konfrontasi serupa di masa depan.

Sejak pertempuran 10 Mei lalu, pejabat-pejabat kesehatan di Gaza mengatakan sedikitnya 232 warga Palestina – termasuk 65 anak-anak dan 39 perempuan – tewas; sementara lebih dari 1.900 lainnya luka-luka akibat pemboman udara Israel. Sementara Israel mengatakan telah menewaskan sedikitnya 160 kombatan di Gaza.

Sistem pertahanan udara "Kubah Besi" Israel mencegat serangan roket Hamas dari Jalur Gaza (17/5).

Perjanjian gencatan senjata ini akan mengakhiri pertempuran paling sengit antara kedua musuh ini sejak perang 50 hari pada tahun 2014, dan sekali lagi tidak jelas siapa yang memenangkannya.

Pertempuran dimulai 10 Mei lalu ketika militan Hamas di Gaza menembakkan serangkaian roket jarak jauh ke arah Yerusalem setelah bentrokan antara demonstran Palestina dan polisi Israel di kawasan Masjid Al Aqsa, satu situs suci bagi Yahudi dan Muslim. Strategi polisi menangani para demonstran di kawasan itu dan ancaman pengusiran puluhan keluarga Palestina oleh pemukim Yahudi telah ikut memanaskan situasi.

Israel melancarkan ratusan serangan udara, menarget apa yang disebutnya sebagai infrastruktur militer Hamas, termasuk sebuah jaringan terowongan bawah tanah. Hamas dan kelompok-kelompok militan lainnya di permukiman itu telah meluncurkan lebih dari 4.000 roket ke kota-kota Israel, di mana ratusan diataranya gagal mencapai wilayah Israel dan sebagian besar berhasil dicegah lewat sistem pertahanan Iron Dome.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya 230 warga Palestina tewas, termasuk 65 anak-anak dan 39 perepuan; sementara 1.710 lainnya luka-luka.

Hamas dan kelompok militan Jihad Islam mengatakan sedikitnya 20 pejuang mereka tewas, sementara Isral mengklaim menewaskan sedikitnya 130 orang.

Sekitar 58.000 warga Palestina telah melarikan diri dari rumah mereka, sebagian besar berlindung di sekolah-sekolah yang dikelola PBB di saat sedang merebaknya pandemi virus corona. Menurut badan advokasi Save the Children, sedikitnya 50 sekolah rusak dan enam lainnya hancur total. Sementara melakukan perbaikan, hampir 42.000 anak kini tidak lagi bersekolah.

Badan Kesehatan Dunia WHO mengatakan serangan Israel juga merusak sedikitnya 18 rumah sakit dan klinik, dan menghancurkan sebuah fasilitas kesehatan. Hampir separuh obat-obatan esensial juga telah habis.

Sementara di pihak Israel, sedikitnya 12 orang tewas, termasuk seorang anak laki-laki berusia lima tahun, seorang anak perempuan berusia 16 tahun dan seorang tentara. [em/ka]

Oleh: VOA

Meski Gencatan Senjata Tercapai, RI Tetap Serukan Diakhirinya Pendudukan Israel

Meski Gencatan Senjata Tercapai, RI Tetap Serukan Diakhirinya Pendudukan Israel
Menlu RI Retno Marsudi membahas situasi Palestina-Israel dengan Presiden DK PBB Zhang Jun di markas PBB, New York, Kamis, 19 Mei 2021. (Courtesy: Twitter Menlu RI).

BorneoTribun Internasional -- Genjata senjata antara Israel dan Hamas telah tercapai, tetapi Indonesia bersama sejumlah menteri luar negeri, tetap menekankan perlunya dilangsungkan perundingan untuk menjawab isu utama yang memicu aksi kekerasan sebelas hari terakhir ini, yaitu pendudukan Israel.

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi menyatakan hal itu dalam konferensi pers virtual dari New York, Kamis (20/5) malam.

“Dalam pertemuan para menteri luar negeri dengan Presiden Majelis Umum yang dipegang oleh Turki, semua menteri luar negeri menekankan pentingnya tekanan diberikan agar negosiasi dapat segera dilakukan, untuk meng-address core issue (menangani masalah utama.red), yaitu pengakhiran pendudukan,” ujar Retno.

Retno menegaskan “setelah gencatan senjata dilakukan, harus diberi tekanan agar negosiasi segera dilakukan untuk menyelesaikan isu mendasarnya.” Meski tidak menyebut nama menteri-menteri luar negeri yang sepakat dengannya, Retno mengatakan “jika core issue tidak dapat diselesaikan, para menteri luar negeri yakin situasi serupa akan terulang lagi dan terulang lagi.”

“Dalam kesempatan itu, saya sampaikan pentingnya semua negara yang hadir agar menggunakan pengaruhnya agar isu mendasarnya, yaitu penjajahan, dapat diselesaikan,” tegas Retno.

Israel pada Kamis (20/5) sore “telah menyepakati gencatan senjata bersama, tanpa syarat” dengan kelompok militan Hamas. Gencatan senjata yang dijadwalkan dimulai pada Jumat (21/5) pukul 02.00 waktu setempat ini, akan mengembalikan ketenangan di Israel dan Gaza.

Hamas meluncurkan ratusan roket ke arah Israel sejak 10 Mei lalu sebagai pembalasan atas pengusiran 28 keluarga Palestina di permukiman Sheikh Jarrah, penutupan salah satu gerbang utama menuju ke Masjid Al Aqsa, dan serangan brutal terhadap jemaah masjid pada bulan suci Ramadan.

Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh menyampaikan alasan ini dalam surat tertanggal 18 Mei yang dikirimnya pada Presiden Joko Widodo.

Israel membalas serangan itu dengan melakukan serangan udara ke infrastruktur Hamas. Namun, Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan sedkitnya 230 orang tewas, termasuk 65 anak-anak dan 39 perempuan. Lebih dari 1.700 lainnya luka-luka.

Menurut badan advokasi Save the Children, sedikitnya 50 sekolah rusak dan enam lainnya hancur total. Sementara melakukan perbaikan, hampir 42 ribu anak kini tidak lagi bersekolah.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengatakan serangan Israel juga merusak sedikitnya 18 rumah sakit dan klinik, dan menghancurkan sebuah fasilitas kesehatan. Hampir separuh obat-obatan esensial juga telah habis.

Sementara di pihak Israel, sedikitnya 12 orang tewas, termasuk seorang anak laki-laki berusia lima tahu, seorang anak perempuan berusia 16 tahun dan seorang tentara. [em/ft]

Oleh: VOA

Warga Palestina di Yerusalem Timur Rayakan Gencatan Senjata

Warga Palestina di Yerusalem Timur Rayakan Gencatan Senjata
Sejumlah warga Palestina melambaikan bendera saat merayakan gencatan senjata antara Israel dan dua kelompok bersenjata Palestina di Kota Gaza, yang dimediasi oleh Mesir, Jumat, 21 Mei 2021. (Foto: AFP)

BorneoTribun Internasional -- Warga Palestina di permukiman Beit Hanina di Yerusalem Timur, Jumat (21/5), berkumpul untuk merayakan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.

Kembang api menghiasi langit, sementara sebagian orang melambai-lambaikan bendera Palestina dan Hamas. Banyak yang membunyikan klakson mobil mereka.

Gencatan senjata dimulai pukul 02.00 waktu setempat setelah Israel dan Hamas sama-sama menerima proposal Mesir untuk mengakhiri aksi kekerasan.

Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan sedikitnya 230 warga Palestina tewas, termasuk 65 anak-anak dan 39 perempuan, dalam konflik sejak 10 Mei lalu itu. Sekitar 1.710 orang luka-luka.

Sementara di pihak Israel, 12 orang tewas, termasuk seorang anak laki-laki berusia lima taun dan seorang anak perempuan berusia 16 tahun. [em/ft]

Oleh: VOA