Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Hanif Faisol Nurofiq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hanif Faisol Nurofiq. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 April 2026

Banjar Berpeluang Jadi Percontohan Nasional Pengelolaan Sampah

Menteri LH meminta Kabupaten Banjar menyelesaikan 27 persen sisa sampah harian guna mendukung target nasional pengelolaan sampah 100 persen pada 2029.
Menteri LH meminta Kabupaten Banjar menyelesaikan 27 persen sisa sampah harian guna mendukung target nasional pengelolaan sampah 100 persen pada 2029.

BANJARMASIN - Upaya pemerintah pusat mengejar target pengelolaan sampah nasional 100 persen pada 2029 mendorong daerah untuk mempercepat pembenahan sistem persampahan. Salah satu wilayah yang mendapat perhatian adalah Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq meminta Pemerintah Kabupaten Banjar segera menyelesaikan sekitar 27 persen sisa persoalan sampah dari total timbulan harian yang mencapai kurang lebih 365 ton.

Saat ini, sekitar 265 ton sampah per hari telah ditangani melalui Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kencana dengan metode control landfill, sementara sisanya masih memerlukan penanganan lebih intensif.

Pernyataan tersebut disampaikan usai kegiatan apel dan kerja bakti lingkungan di kawasan Pasar Batuah Martapura, Senin.

Menteri Hanif menilai langkah Pemerintah Kabupaten Banjar menghentikan praktik open dumping sejak awal 2025 merupakan kemajuan penting dalam tata kelola persampahan daerah.

Menurutnya, penghentian metode pembuangan terbuka menjadi fondasi awal menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.

Langkah ini juga sejalan dengan strategi nasional yang menargetkan seluruh daerah di Indonesia mampu mengelola sampah secara menyeluruh pada 2029.

Namun, ia menegaskan bahwa upaya tersebut tidak boleh berhenti pada tahap awal.

Tahap lanjutan yang harus segera dilakukan adalah mengurangi volume sampah organik sebelum mencapai TPA.

Sampah organik seperti sisa makanan, dedaunan, dan limbah rumah tangga basah diharapkan dapat diolah langsung di tingkat rumah tangga, pasar, maupun lingkungan permukiman.

Dengan cara ini, fasilitas TPA hanya akan difungsikan untuk residu dan sampah anorganik, sehingga beban lingkungan dapat ditekan secara signifikan.

Selain itu, sistem control landfill diwajibkan berjalan konsisten, termasuk penutupan timbunan sampah secara rutin minimal satu kali setiap pekan.

Langkah ini dinilai penting untuk mencegah pencemaran udara dan tanah yang biasanya terjadi pada sistem pembuangan terbuka.

Selain perbaikan teknis di lapangan, Menteri Hanif juga menekankan pentingnya kesiapan regulasi dan dukungan anggaran.

Beberapa aspek yang harus dipenuhi pemerintah daerah meliputi:

  • Penyusunan Rencana Induk Pengelolaan Sampah

  • Peningkatan alokasi anggaran hingga sekitar 3 persen

  • Penguatan kapasitas sumber daya manusia di sektor persampahan

Ia menilai Kabupaten Banjar memiliki peluang besar untuk menjadi contoh nasional dalam pengelolaan sampah.

Jika seluruh target dapat dipenuhi, daerah tersebut bahkan berpotensi kembali meraih penghargaan Adipura pada 2026.

Bupati Banjar Saidi Mansyur menyatakan pemerintah daerah berkomitmen melanjutkan program kebersihan secara berkelanjutan.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyediaan anggaran, peningkatan sarana dan prasarana, serta penguatan peran masyarakat dalam memilah sampah dari sumber.

Menurutnya, pengelolaan sampah berbasis masyarakat mulai berkembang karena memiliki nilai ekonomi yang menarik bagi warga.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Banjar juga menyatakan kesiapan mendukung proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik di kawasan Banjarbakula.

Dalam proyek tersebut, daerah berencana menyuplai sekitar 100 ton sampah per hari sebagai bagian dari kerja sama regional pengelolaan energi berbasis limbah.

Meski menunjukkan kemajuan, tantangan pengelolaan sampah di Kabupaten Banjar masih cukup besar.

Sisa 27 persen sampah yang belum tertangani menjadi indikator penting keberhasilan program dalam beberapa tahun mendatang.

Dengan dukungan pemerintah pusat, daerah, serta partisipasi masyarakat, target nasional pengelolaan sampah tuntas pada 2029 diharapkan dapat tercapai secara bertahap.

FAQ

Apa target nasional pengelolaan sampah Indonesia?

Target nasional adalah pengelolaan sampah 100 persen pada tahun 2029 di seluruh wilayah Indonesia.

Berapa jumlah sampah harian di Kabupaten Banjar?

Total timbulan sampah mencapai sekitar 365 ton per hari.

Berapa persen sampah yang masih belum tertangani?

Sekitar 27 persen sampah masih memerlukan penanganan lebih lanjut.

Apa itu sistem control landfill?

Control landfill adalah metode pengelolaan sampah dengan penutupan timbunan secara berkala untuk mengurangi pencemaran.

Apa rencana jangka panjang Kabupaten Banjar?

Selain memperbaiki pengelolaan sampah, daerah juga menyiapkan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik.

Selasa, 07 April 2026

Pilot Project Nasional, DPRD Banjarmasin Dukung Waste To Energy Tiga Wilayah

Harry Wijaya mendukung program sampah jadi listrik di Banjarmasin bersama Banjar dan Barito Kuala sebagai solusi darurat sampah dan pilot project nasional waste to energy. (Gambar ilustrasi)
Harry Wijaya mendukung program sampah jadi listrik di Banjarmasin bersama Banjar dan Barito Kuala sebagai solusi darurat sampah dan pilot project nasional waste to energy. (Gambar ilustrasi)

BANJARMASIN — Wakil Ketua DPRD Kota Banjarmasin, Harry Wijaya, menyatakan dukungan penuh terhadap program pengolahan sampah menjadi energi listrik yang mulai dirintis Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin bersama dua daerah tetangga, yakni Kabupaten Banjar dan Barito Kuala.

Program ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menjawab persoalan darurat sampah yang saat ini dihadapi Kota Banjarmasin, sekaligus mendukung program nasional transformasi sampah menjadi energi listrik atau waste to energy.

Sinergi Tiga Daerah Jadi Kunci Sukses Program

Harry Wijaya menyambut positif pertemuan tiga kepala daerah yang bertujuan memperkuat koordinasi dan sinergi dalam mewujudkan program pengolahan sampah menjadi energi listrik.

“Kami menyambut baik pertemuan tiga kepala daerah untuk koordinasi dan sinergi mewujudkan bersama program dari pemerintah pusat tersebut,” ujar Harry di Banjarmasin, Senin.

Ia menjelaskan, Kota Banjarmasin bersama Kabupaten Banjar dan Barito Kuala telah ditetapkan sebagai salah satu lokasi pilot project nasional untuk program waste to energy.

Program tersebut digagas oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan bersama Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq sebagai bagian dari upaya nasional dalam menangani persoalan sampah secara berkelanjutan.

Volume Sampah Capai Ratusan Ton per Hari

Menurut data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin, produksi sampah di wilayah tersebut mencapai lebih dari 400 ton per hari. Jika digabung dengan dua daerah tetangga, total timbulan sampah diperkirakan mendekati 678 ton per hari.

Jumlah tersebut dinilai sangat potensial untuk diolah menggunakan teknologi modern sehingga menghasilkan energi listrik.

“Kalau bisa dimanfaatkan menjadi tenaga listrik dengan teknologi saat ini, tentu ini luar biasa dan bisa menjadi solusi penanganan darurat sampah di Kota Banjarmasin,” jelas Harry.

Ia menilai, program ini tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga berpotensi menghadirkan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.

TPAS Basirih Ditutup, Perlu Inovasi Baru

Saat ini, Pemkot Banjarmasin tengah menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah, terutama setelah Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Basirih ditutup.

Penutupan TPAS tersebut membuat pemerintah daerah harus mencari solusi inovatif dan berkelanjutan untuk mengatasi krisis pengelolaan sampah.

Menurut Harry, program pengolahan sampah menjadi energi listrik merupakan salah satu inovasi penting, meskipun pelaksanaannya membutuhkan kesiapan lahan dan biaya yang tidak sedikit.

“Program ini salah satu inovasinya. Memang tidak mudah mewujudkannya, karena perlu tempat representatif dan biaya cukup besar. Tapi kalau tiga daerah komitmen bersatu, tentu bisa lebih cepat terwujud,” tambahnya.

Pemkot Banjarmasin Siap Jadi Percontohan Nasional

Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin HR, sebelumnya menyampaikan kesiapan pemerintah kota untuk menjadi daerah percontohan dalam program nasional pengolahan sampah menjadi energi listrik.

Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas daerah, mengingat masing-masing wilayah memiliki karakteristik dan dinamika pengelolaan sampah yang berbeda.

Langkah ini dinilai sebagai strategi taktis untuk mempercepat penyelesaian persoalan sampah yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk.

Empat Opsi Lokasi Disiapkan

Dalam upaya mendukung implementasi proyek ini, pemerintah daerah telah mengusulkan empat opsi lokasi kepada Kementerian Lingkungan Hidup sebagai lokasi pengolahan sampah terpadu.

Empat lokasi tersebut meliputi:

  • TPAS Tabing Rimbah, Kabupaten Barito Kuala

  • TPAS Basirih, Kota Banjarmasin

  • Sekitar Terminal Gambut Barakat (TGB), Kabupaten Banjar

  • Belakang RSJ Sambang Lihum, Kabupaten Banjar

Seluruh lokasi tersebut nantinya akan melalui tahap kajian teknis oleh tim kementerian sebelum dipilih lokasi paling layak untuk pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik.

Solusi Jangka Panjang untuk Lingkungan

Pengolahan sampah menjadi energi listrik dinilai sebagai solusi jangka panjang yang mampu mengurangi beban tempat pembuangan akhir sekaligus mendukung ketahanan energi daerah.

Selain itu, pendekatan ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat dalam meningkatkan pengelolaan lingkungan secara modern dan berkelanjutan.

Dengan dukungan dari DPRD, pemerintah daerah, dan kementerian terkait, program ini diharapkan dapat segera direalisasikan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

FAQ

1. Apa itu program waste to energy?
Program waste to energy adalah teknologi pengolahan sampah yang mengubah sampah menjadi energi listrik atau energi lain yang bermanfaat.

2. Mengapa Banjarmasin dipilih sebagai pilot project?
Karena volume sampah di wilayah Banjarmasin dan sekitarnya cukup besar sehingga dinilai potensial untuk pengembangan teknologi pengolahan sampah modern.

3. Berapa jumlah sampah di Banjarmasin setiap hari?
Produksi sampah di Kota Banjarmasin mencapai lebih dari 400 ton per hari, sedangkan total tiga daerah mendekati 678 ton per hari.

4. Di mana lokasi rencana pengolahan sampah?
Ada empat opsi lokasi, yakni TPAS Tabing Rimbah, TPAS Basirih, sekitar Terminal Gambut Barakat, dan belakang RSJ Sambang Lihum.

5. Apa manfaat pengolahan sampah menjadi listrik?
Selain mengurangi volume sampah, program ini dapat menghasilkan energi listrik dan membantu mengatasi krisis lingkungan.