Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Hujan Lebat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hujan Lebat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juni 2026

Cuaca Kalbar 21 Juni 2026: Hujan Lebat Disertai Petir Diprediksi Melanda Sejumlah Daerah

Cuaca Kalbar 21 Juni 2026: Hujan Lebat Disertai Petir Diprediksi Melanda Sejumlah Daerah
BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca Kalbar 21 Juni 2026. Hujan lebat disertai petir dan angin kencang berpotensi meluas ke sejumlah kabupaten hingga pukul 06.30 WIB.

PONTIANAK – BMKG Kalimantan Barat memperbarui peringatan dini cuaca pada Minggu, 21 Juni 2026 pukul 03.30 WIB. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat mulai pukul 03.50 WIB.

Wilayah yang berpotensi terdampak pada periode awal meliputi Kecamatan Siantan di Kabupaten Mempawah, Kecamatan Dedai, Kayan Hulu, dan Kelam Permai di Kabupaten Sintang, serta Kecamatan Silat Hilir di Kabupaten Kapuas Hulu.

BMKG menyebut kondisi cuaca tersebut berpotensi meluas ke berbagai daerah lain di Kalimantan Barat.

Beberapa wilayah yang diprakirakan terdampak antara lain Kabupaten Kapuas Hulu, Sambas, Mempawah, Sanggau, Ketapang, Sintang, Landak, Sekadau, Melawi, Kayong Utara, Kubu Raya, Kota Pontianak, hingga Kota Singkawang.

Di Kabupaten Sekadau, potensi hujan sedang hingga lebat dapat terjadi di Kecamatan Sekadau Hilir, Sekadau Hulu, Nanga Taman, Nanga Mahap, Belitang Hilir, Belitang Hulu, dan Belitang.

Sementara di Kabupaten Melawi, wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Belimbing, Nanga Pinoh, Ella Hilir, Menukung, Sayan, Tanah Pinoh, Sokan, Pinoh Utara, Pinoh Selatan, Belimbing Hulu, serta Tanah Pinoh Barat.

Untuk Kota Pontianak, potensi hujan diprakirakan mencakup Pontianak Selatan, Pontianak Timur, Pontianak Barat, Pontianak Utara, Pontianak Kota, dan Pontianak Tenggara.

Prakirawan BMKG Kalimantan Barat menyampaikan kondisi cuaca tersebut diperkirakan masih akan berlangsung hingga pukul 06.30 WIB.

Masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan hujan lebat, petir, dan angin kencang yang dapat mengganggu aktivitas maupun perjalanan pada pagi hari.

Selasa, 19 Mei 2026

Sungai Barabai Meluap, Ribuan Rumah Warga HST Terdampak Banjir

Banjir HST merendam ribuan rumah di Batu Benawa, Barabai, dan Pandawan akibat hujan lebat serta luapan Sungai Barabai.
Banjir HST merendam ribuan rumah di Batu Benawa, Barabai, dan Pandawan akibat hujan lebat serta luapan Sungai Barabai.

BANJARMASIN - Banjir melanda tiga kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan, Senin, setelah hujan lebat sejak dini hari menyebabkan sungai meluap. Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Batu Benawa, Barabai, dan Pandawan dengan ribuan rumah warga terendam.

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD dan Damkar HST, Fitriadi, mengatakan tim masih melakukan pemantauan di lapangan karena kondisi air di setiap wilayah berbeda-beda.

“Tim kami masih terus melakukan pemantauan di lapangan. Untuk ketinggian air bervariasi,” kata Fitriadi di Barabai.

Hujan berintensitas tinggi membuat sungai meluap hingga menggenangi jalan, pekarangan, dan rumah warga. Kondisi banjir di Kecamatan Batu Benawa mulai berangsur surut.

Sementara itu, di Kecamatan Barabai, debit air sebagian wilayah masih bertahan dan cenderung meningkat. Adapun di Kecamatan Pandawan, ketinggian air masih terus mengalami kenaikan.

Fitriadi memastikan hingga sore hari belum ada laporan korban jiwa maupun korban luka akibat banjir tersebut.

Di tengah kondisi banjir, Bupati HST Samsul Rizal turun langsung meninjau sejumlah titik terdampak. Pemerintah daerah juga mengerahkan petugas gabungan untuk membersihkan ranting, kayu, dan sampah yang menyumbat aliran sungai.

“Secepatnya kita selesaikan sampah pohon menumpuk ini. Karena kalau sungai tertutup aliran sungai lambat. Hal ini yang membuat daerah perkotaan terendam,” ujar Samsul Rizal.

Menurutnya, luapan Sungai Barabai dipicu hujan deras sejak sehari sebelumnya dan berdampak pada sejumlah kawasan seperti Simpang Ulama, Sarigading, Kampung Kadi, Pasar Murakata, dan Bungur.

Luapan sungai juga membawa ranting pohon, bambu, dan sampah yang sempat menyumbat aliran air di bawah jembatan, termasuk di Jembatan Dharma.

Bupati memastikan material yang menyumbat sungai telah dibersihkan petugas gabungan bersama relawan Balakar 654 Murakata dan masyarakat setempat.

“Sampah pohon bambu tersebut telah bersih. Aliran sungai kembali normal. Cuaca juga kembali cerah,” katanya.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi banjir susulan dan segera menghubungi petugas apabila menghadapi kondisi darurat.

Sabtu, 02 Mei 2026

Proyek PLTA Upper Cisokan Dilanda Longsor

Longsor di proyek PLTA Upper Cisokan Bandung Barat dipicu hujan lebat. BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dan segera lakukan peninjauan lokasi. (Ilustrasi)
Longsor di proyek PLTA Upper Cisokan Bandung Barat dipicu hujan lebat. BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dan segera lakukan peninjauan lokasi. (Ilustrasi)

Bandung Barat — Peristiwa longsor terjadi di kawasan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Upper Cisokan, Kabupaten Bandung Barat. Meski sempat memicu kekhawatiran, otoritas setempat memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Kepala Pelaksana BPBD Bandung Barat, Asep Sehabbudin, menegaskan bahwa hingga saat ini laporan resmi tidak mencatat adanya korban. Informasi tersebut diperoleh dari hasil koordinasi intensif dengan pihak Kecamatan Rongga.

Menurut Asep Sehabbudin, komunikasi dengan pemerintah kecamatan terus dilakukan guna memastikan kondisi lapangan tetap terkendali. Langkah lanjutan juga telah disiapkan dengan rencana peninjauan langsung ke lokasi longsor.

Peninjauan tersebut dijadwalkan dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur terkait, termasuk aparat kecamatan serta pihak pengelola proyek. Tujuannya adalah untuk memetakan dampak longsor sekaligus mengantisipasi kemungkinan risiko lanjutan di area pembangunan.

Sementara itu, Camat Rongga, Asep Badrup, mengungkapkan bahwa hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut diduga kuat menjadi pemicu longsor. Kejadian dilaporkan berlangsung sekitar pukul 02.00 dini hari.

Asep Badrup memastikan bahwa tidak adanya korban jiwa juga dipengaruhi oleh kondisi hari libur, sehingga aktivitas pekerja di lokasi proyek relatif minim saat kejadian berlangsung.

Longsor terjadi di area yang dikenal warga sebagai Bukit Pasir Datar. Lokasi tersebut berada di atas jalur terowongan air yang menjadi bagian penting dari sistem PLTA, khususnya untuk mengalirkan air dari turbin menuju reservoir.

Titik longsor disebut berada di area proyek tunnel, tepatnya di zona Tailrace Tunnel Outlet (TTO). Kawasan proyek PLTA Upper Cisokan sendiri terletak di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cianjur, sekitar 50–60 kilometer dari pusat pemerintahan di Padalarang.

Hingga kini, pihak terkait masih terus memantau kondisi lapangan untuk memastikan tidak ada potensi longsor susulan yang dapat mengganggu keselamatan maupun kelangsungan proyek.

FAQ

1. Apakah ada korban jiwa dalam longsor PLTA Upper Cisokan?
Tidak ada korban jiwa berdasarkan laporan resmi BPBD Bandung Barat.

2. Apa penyebab utama longsor?
Diduga dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi sebelum kejadian.

3. Di mana lokasi tepat longsor terjadi?
Di area proyek tunnel, tepatnya di Tailrace Tunnel Outlet (TTO), Bukit Pasir Datar.

4. Kapan kejadian longsor terjadi?
Sekitar pukul 02.00 dini hari.

5. Apa langkah selanjutnya dari BPBD?
Melakukan peninjauan langsung dan pemetaan risiko untuk mencegah dampak lanjutan.