Jambu Kristal Jadi Oleh-Oleh Favorit di Jalur Mudik Pantai Selatan
![]() |
| Lapak jambu kristal di jalur Pantai Selatan Yogya ramai pemudik. Buah manis, segar, dan renyah ini jadi pilihan favorit untuk perjalanan mudik. |
Lifestyle, Borneotribun.com -- Deretan lapak buah di sepanjang jalur pantai selatan atau Pansela menuju Yogyakarta menjadi pemandangan yang sulit dilewatkan saat musim mudik. Di antara berbagai buah yang dijajakan, jambu kristal menjadi salah satu yang paling banyak diburu pemudik.
Tumpukan jambu berwarna hijau muda tersusun rapi di tepi jalan. Sebagian pengendara memperlambat kendaraan, sementara yang lain memilih berhenti untuk membeli buah segar sebelum melanjutkan perjalanan.
Jambu kristal, dikenal memiliki daging tebal dan renyah dengan biji yang sangat sedikit, kurang dari tiga persen dari bagian buah. Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, karakteristik ini menjadi keunggulan utama dibanding varietas lain. Rasanya yang manis dan kandungan air tinggi membuat buah ini praktis dikonsumsi di perjalanan, terutama saat melintasi jalur selatan yang panjang dan panas.
Salah seorang pedagang di jalur Pantai Selatan, Nariya, mengaku penjualan jambu kristal sangat bergantung pada arus kendaraan yang melintas.
“Kalau pas laris 50 kilo, kalau pas sepi paling 10 kilo,” ujarnya kepada ANTARA, Selasa (17/3).
Mayoritas pembeli berasal dari luar daerah, terutama Jakarta, yang menuju Yogyakarta atau Jawa Timur. Lapak biasanya buka sejak pagi hingga tengah malam, mengikuti pergerakan pemudik.
Harga jambu kristal cukup terjangkau, Rp15.000 per kilogram, dengan negosiasi jika membeli dalam jumlah banyak. Selain buah segar, pedagang juga menawarkan bibit jambu kristal seharga Rp20.000 per batang bagi yang ingin menanam sendiri di rumah. Pilihan lain seperti belimbing madu juga tersedia, bahkan rujak siap santap di siang hari.
Meski belum puncak arus mudik, penjualan tetap stabil, berkisar 15–50 kilogram per hari. Momentum Ramadhan hingga Lebaran menjadi periode paling menguntungkan, dengan penjualan bisa meningkat dua kali lipat.
Asal-usul Jambu Kristal
Jambu kristal bukan tanaman asli Indonesia. Varietas ini pertama kali dikembangkan di Taiwan awal 1990-an, sebelum diperkenalkan ke Indonesia melalui kerja sama hortikultura. Sejak awal 2000-an, jambu kristal dikembangkan sebagai komoditas unggulan karena produktivitas tinggi dan berbuah sepanjang tahun.
Wilayah seperti Gunungkidul menjadi sentra pengembangan karena kondisi lahan yang sesuai. Kedekatan lokasi produksi dengan jalur Pantai Selatan memudahkan distribusi, menjadikan jambu kristal mudah ditemui sepanjang jalur mudik. Ukuran besar dan tampilan menarik juga memudahkan penjualan dalam kondisi segar.
Buah ini kaya vitamin C, serat, dan antioksidan, menjadikannya pilihan tepat untuk menjaga kebugaran pemudik.
Daya Tarik Jambu Kristal di Jalur Mudik
Uniknya, jambu kristal dijual sederhana di pinggir jalan. Buah disusun di keranjang atau digantung dalam plastik tanpa kemasan khusus, namun kesegarannya menjadi daya tarik utama.
Bagi pemudik, berhenti membeli jambu kristal bukan sekadar membeli buah, tapi juga menjadi jeda perjalanan. Kesempatan untuk beristirahat sejenak, meregangkan tubuh, dan menikmati suasana jalur selatan yang relatif santai.
Tidak sedikit pemudik langsung mengonsumsi jambu di kendaraan, sementara sebagian lainnya membawanya sebagai buah tangan. Momen sederhana ini akhirnya menjadi bagian dari pengalaman mudik yang berkesan.
Jambu kristal tidak hanya menjadi komoditas hortikultura, tapi juga ikon perjalanan mudik di jalur pantai selatan, hadir di hampir setiap titik dan mengikuti arus kendaraan menuju kampung halaman.
Sumber: ANTARA / Farika Nur Khotimah
