Berita BorneoTribun: KKP hari ini

CSS/JS FIT

Kode Recentpost Grid

BANNER - Geser keatas untuk melanjutkan

Tampilkan postingan dengan label KKP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KKP. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 April 2026

Kampung Nelayan Merah Putih Jadi Andalan Penajam Tingkatkan Ekonomi Nelayan

Pemkab Penajam Paser Utara membangun koperasi perikanan tangkap terintegrasi Kampung Nelayan Merah Putih untuk memperkuat harga ikan dan meningkatkan kesejahteraan nelayan.
Pemkab Penajam Paser Utara membangun koperasi perikanan tangkap terintegrasi Kampung Nelayan Merah Putih untuk memperkuat harga ikan dan meningkatkan kesejahteraan nelayan.

Penajam, Kaltim - Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Provinsi Kalimantan Timur, terus mencari cara konkret untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan. Salah satu langkah strategis yang kini tengah disiapkan adalah pendirian koperasi perikanan tangkap yang diintegrasikan dengan program Kampung Nelayan Merah Putih.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Penajam Paser Utara, Andi Trasodiharto, menjelaskan bahwa koperasi menjadi elemen penting dalam memperkuat posisi ekonomi nelayan.

“Koperasi perikanan tangkap diintegrasikan dengan Kampung Nelayan Merah Putih,” ujar Andi saat menjelaskan rencana pengembangan sektor perikanan tangkap di Penajam, Sabtu.

Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara telah mengusulkan sejumlah lokasi yang dinilai potensial untuk pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih. Program ini diharapkan menjadi pusat aktivitas ekonomi berbasis perikanan yang lebih modern dan terorganisasi.

Dengan adanya koperasi perikanan, hasil tangkapan nelayan akan dikelola secara kolektif. Sistem ini membuat distribusi ikan menjadi lebih teratur, sekaligus menghindari praktik permainan harga oleh tengkulak yang selama ini sering merugikan nelayan.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menciptakan sistem perdagangan ikan yang lebih adil dan transparan.

Menurut Andi Trasodiharto, keberadaan koperasi akan memberikan dampak langsung terhadap stabilitas harga ikan di tingkat nelayan.

Ketika seluruh hasil tangkapan dikelola koperasi, nelayan memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam menentukan harga jual. Selain itu, koperasi juga membuka peluang bagi nelayan untuk mendapatkan berbagai dukungan program dari pemerintah, termasuk dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Pendekatan berbasis koperasi ini juga diyakini mampu meningkatkan efisiensi distribusi ikan dari nelayan hingga ke pasar.

Kajian Pembangunan TPI Di Empat Kecamatan

Tak hanya koperasi, Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara juga sedang melakukan kajian pembangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di empat kecamatan.

Pembangunan TPI dinilai sangat strategis karena menjadi pusat transaksi resmi yang dapat meningkatkan transparansi harga dan memperluas akses pasar bagi nelayan.

Jika terealisasi, keberadaan TPI di beberapa kecamatan diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi pesisir sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan secara berkelanjutan.

Jumlah Nelayan Ribuan, Produksi Ikan Ribuan Ton

Data Dinas Perikanan Kabupaten Penajam Paser Utara mencatat jumlah nelayan di wilayah tersebut mencapai 4.701 orang.

Sementara itu, total hasil tangkapan ikan yang tercatat setiap tahun berada pada kisaran 6.000 hingga 6.500 ton.

Namun, angka tersebut diyakini belum mencerminkan produksi sebenarnya. Hal ini disebabkan sebagian hasil tangkapan langsung dijual kepada pembeli di tengah laut atau di darat tanpa melalui pasar resmi.

Akibatnya, sebagian produksi ikan tidak tercatat dalam sistem pendataan Dinas Perikanan.

Selain penguatan kelembagaan melalui koperasi, pemerintah daerah juga memberikan dukungan berupa peningkatan keahlian nelayan serta bantuan peralatan tangkap.

Program pelatihan dilakukan untuk meningkatkan kemampuan nelayan dalam mengelola hasil tangkapan secara lebih efisien dan bernilai ekonomi tinggi.

Pendekatan ini diharapkan mampu mendorong produktivitas nelayan sekaligus menjaga keberlanjutan sektor perikanan di wilayah Penajam Paser Utara.

FAQ

Apa tujuan pembentukan koperasi perikanan tangkap di Penajam Paser Utara?

Tujuannya untuk memperkuat posisi tawar nelayan, menjaga stabilitas harga ikan, serta meningkatkan kesejahteraan melalui sistem distribusi yang terorganisasi.

Apa itu Kampung Nelayan Merah Putih?

Kampung Nelayan Merah Putih merupakan program pemerintah yang bertujuan mengembangkan kawasan nelayan terpadu dengan fasilitas ekonomi, sosial, dan infrastruktur perikanan.

Berapa jumlah nelayan di Kabupaten Penajam Paser Utara?

Jumlah nelayan tercatat mencapai sekitar 4.701 orang.

Berapa produksi ikan nelayan di wilayah tersebut?

Produksi ikan tercatat berkisar antara 6.000 hingga 6.500 ton per tahun, meski diperkirakan jumlah sebenarnya lebih besar.

Apa manfaat pembangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI)?

TPI membantu menciptakan sistem jual beli ikan yang transparan, memperluas pasar, serta menjaga harga ikan tetap stabil.

Sabtu, 14 Maret 2026

Nelayan Pulo Aceh Terdampar Di Sri Lanka Setelah Perahu Rusak Di Samudera Hindia

Nelayan Pulo Aceh Aceh Besar ditemukan selamat di Sri Lanka setelah perahu rusak dan hanyut di Samudera Hindia. Panglima Laot Aceh berkoordinasi dengan KBRI untuk proses pemulangan.
Nelayan Pulo Aceh Aceh Besar ditemukan selamat di Sri Lanka setelah perahu rusak dan hanyut di Samudera Hindia. Panglima Laot Aceh berkoordinasi dengan KBRI untuk proses pemulangan.

JAKARTA -- Kabar mengejutkan datang dari seorang nelayan asal Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Seorang nelayan bernama Sadiqin dilaporkan terdampar di Sri Lanka setelah perahu motor yang digunakannya mengalami kerusakan mesin saat melaut di Samudera Hindia.

Informasi tersebut disampaikan oleh lembaga adat laut Aceh, Panglima Laot Aceh, melalui Panglima Laot Aceh, Miftah Tjut Adek, di Banda Aceh, Jumat (14/3/2026).

Menurut Miftah, nelayan yang diketahui bernama Sadiqin merupakan warga Meulingge, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Ia sebelumnya dilaporkan hilang sejak 1 Februari 2026 saat pergi melaut menggunakan perahu motor tradisional yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai bot teptep.

“Pada saat berangkat melaut, Sadiqin menggunakan perahu motor kecil. Namun di tengah perjalanan, mesin perahunya mengalami kerusakan sehingga tidak dapat kembali ke daratan,” ujar Miftah.

Berdasarkan informasi yang diperoleh lembaga adat laut tersebut, kerusakan mesin membuat perahu Sadiqin tidak dapat dikendalikan. Perahu itu kemudian hanyut terbawa arus kuat di Samudera Hindia hingga akhirnya mencapai wilayah Sri Lanka.

Beruntung, nelayan tersebut berhasil ditemukan oleh pihak setempat dan langsung dievakuasi untuk mendapatkan penanganan medis.

Saat ini, Sadiqin sedang menjalani perawatan di sebuah rumah sakit yang berjarak sekitar dua jam perjalanan dari ibu kota Sri Lanka, Kolombo.

Mengetahui kabar tersebut, Panglima Laot Aceh segera melakukan koordinasi dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia di Sri Lanka guna memastikan kondisi serta proses penanganan nelayan tersebut.

Selain itu, laporan resmi juga telah disampaikan kepada Kementerian Kelautan Dan Perikanan melalui Pangkalan Pengawasan Sumber Daya Kelautan Dan Perikanan Lampulo.

Miftah menjelaskan bahwa langkah ini dilakukan agar proses pendampingan dan pemulangan nelayan asal Aceh tersebut dapat segera ditangani oleh pemerintah.

Tak hanya itu, pihak Panglima Laot juga telah melaporkan kejadian tersebut kepada Dinas Kelautan Dan Perikanan Aceh sebagai bagian dari upaya koordinasi lintas lembaga.

“Kami sudah melaporkan kejadian ini kepada instansi terkait. Saat ini kami terus berkoordinasi agar nelayan yang hanyut tersebut bisa segera dipulangkan ke Aceh,” kata Miftah.

Peristiwa ini menjadi pengingat akan risiko besar yang dihadapi para nelayan tradisional ketika melaut, terutama di perairan luas seperti Samudera Hindia yang dikenal memiliki arus kuat dan cuaca yang cepat berubah.