Nelayan Pulo Aceh Terdampar Di Sri Lanka Setelah Perahu Rusak Di Samudera Hindia

Sabtu, 14 Maret 2026

Nelayan Pulo Aceh Terdampar Di Sri Lanka Setelah Perahu Rusak Di Samudera Hindia

Nelayan Pulo Aceh Aceh Besar ditemukan selamat di Sri Lanka setelah perahu rusak dan hanyut di Samudera Hindia. Panglima Laot Aceh berkoordinasi dengan KBRI untuk proses pemulangan.
Nelayan Pulo Aceh Aceh Besar ditemukan selamat di Sri Lanka setelah perahu rusak dan hanyut di Samudera Hindia. Panglima Laot Aceh berkoordinasi dengan KBRI untuk proses pemulangan.

JAKARTA -- Kabar mengejutkan datang dari seorang nelayan asal Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Seorang nelayan bernama Sadiqin dilaporkan terdampar di Sri Lanka setelah perahu motor yang digunakannya mengalami kerusakan mesin saat melaut di Samudera Hindia.

Informasi tersebut disampaikan oleh lembaga adat laut Aceh, Panglima Laot Aceh, melalui Panglima Laot Aceh, Miftah Tjut Adek, di Banda Aceh, Jumat (14/3/2026).

Menurut Miftah, nelayan yang diketahui bernama Sadiqin merupakan warga Meulingge, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Ia sebelumnya dilaporkan hilang sejak 1 Februari 2026 saat pergi melaut menggunakan perahu motor tradisional yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai bot teptep.

“Pada saat berangkat melaut, Sadiqin menggunakan perahu motor kecil. Namun di tengah perjalanan, mesin perahunya mengalami kerusakan sehingga tidak dapat kembali ke daratan,” ujar Miftah.

Berdasarkan informasi yang diperoleh lembaga adat laut tersebut, kerusakan mesin membuat perahu Sadiqin tidak dapat dikendalikan. Perahu itu kemudian hanyut terbawa arus kuat di Samudera Hindia hingga akhirnya mencapai wilayah Sri Lanka.

Beruntung, nelayan tersebut berhasil ditemukan oleh pihak setempat dan langsung dievakuasi untuk mendapatkan penanganan medis.

Saat ini, Sadiqin sedang menjalani perawatan di sebuah rumah sakit yang berjarak sekitar dua jam perjalanan dari ibu kota Sri Lanka, Kolombo.

Mengetahui kabar tersebut, Panglima Laot Aceh segera melakukan koordinasi dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia di Sri Lanka guna memastikan kondisi serta proses penanganan nelayan tersebut.

Selain itu, laporan resmi juga telah disampaikan kepada Kementerian Kelautan Dan Perikanan melalui Pangkalan Pengawasan Sumber Daya Kelautan Dan Perikanan Lampulo.

Miftah menjelaskan bahwa langkah ini dilakukan agar proses pendampingan dan pemulangan nelayan asal Aceh tersebut dapat segera ditangani oleh pemerintah.

Tak hanya itu, pihak Panglima Laot juga telah melaporkan kejadian tersebut kepada Dinas Kelautan Dan Perikanan Aceh sebagai bagian dari upaya koordinasi lintas lembaga.

“Kami sudah melaporkan kejadian ini kepada instansi terkait. Saat ini kami terus berkoordinasi agar nelayan yang hanyut tersebut bisa segera dipulangkan ke Aceh,” kata Miftah.

Peristiwa ini menjadi pengingat akan risiko besar yang dihadapi para nelayan tradisional ketika melaut, terutama di perairan luas seperti Samudera Hindia yang dikenal memiliki arus kuat dan cuaca yang cepat berubah.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

  

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar