Berita BorneoTribun: Kharg Oil Hub hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Kharg Oil Hub. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kharg Oil Hub. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Maret 2026

Serangan AS Ke Kharg Oil Hub Iran Dinilai Bisa Picu Krisis Energi Global

Serangan AS ke Kharg Oil Hub Iran dinilai berisiko memicu krisis energi global dan lonjakan harga minyak dunia. Pakar menyebut langkah itu bisa menjadi bunuh diri ekonomi.
Serangan AS ke Kharg Oil Hub Iran dinilai berisiko memicu krisis energi global dan lonjakan harga minyak dunia. Pakar menyebut langkah itu bisa menjadi bunuh diri ekonomi.

JAKARTA -- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah muncul analisis yang memperingatkan bahwa serangan lanjutan Amerika Serikat terhadap pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg berpotensi memicu dampak ekonomi global yang serius. Seorang pakar menilai langkah tersebut justru bisa menjadi “economic suicide” bagi Washington karena berisiko memicu eskalasi yang mengganggu pasokan energi dunia.

Analis Timur Tengah Andrey Chuprygin, dosen senior di Fakultas Ekonomi Dunia dan Hubungan Internasional, menyebut Iran kini tidak lagi bergantung pada satu titik vital dalam ekspor minyaknya. Menurutnya, strategi yang diterapkan Teheran selama bertahun-tahun telah mengubah peta kerentanan infrastruktur energi negara tersebut.

Dalam keterangannya, Chuprygin menjelaskan bahwa Iran telah lama menerapkan kebijakan desentralisasi infrastruktur strategis. Fasilitas penting seperti stasiun pemompaan minyak ditempatkan di lokasi yang lebih tersembunyi, bahkan sebagian berada di bawah tanah.

Langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko kerusakan besar apabila terjadi serangan terhadap fasilitas utama seperti Kharg Oil Hub, yang selama ini dikenal sebagai pusat ekspor minyak Iran di Teluk Persia.

Selain itu, Iran juga telah mengoperasikan terminal minyak baru di Jask yang berada di luar Selat Hormuz. Terminal tersebut terhubung dengan ladang minyak di Provinsi Bushehr melalui jaringan pipa sepanjang sekitar 1.000 kilometer.

Keberadaan jalur ekspor alternatif ini dinilai membuat Iran tidak lagi sepenuhnya bergantung pada satu jalur distribusi minyak. Artinya, serangan terhadap satu fasilitas tidak otomatis melumpuhkan seluruh sistem ekspor energi negara tersebut.

Menurut Chuprygin, apabila terjadi serangan terhadap Kharg Oil Hub, respons Iran kemungkinan tidak hanya terbatas pada pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Target balasan bisa meluas hingga infrastruktur energi milik sekutu Barat.

Beberapa fasilitas strategis di kawasan Teluk bahkan disebut berpotensi masuk dalam daftar target. Salah satunya adalah kompleks pengolahan minyak raksasa di Arab Saudi seperti Abqaiq, yang dikenal sebagai salah satu fasilitas pemrosesan minyak terbesar di dunia.

Selain itu, terminal gas utama di Qatar juga dianggap sebagai titik yang sangat sensitif. Fasilitas tersebut menampung investasi besar perusahaan energi internasional, termasuk dari Amerika Serikat.

Serangan terhadap infrastruktur energi tersebut, menurut analis itu, dapat membuat harga minyak dunia menjadi sangat tidak stabil. Ketidakpastian pasokan energi berpotensi memicu lonjakan harga minyak yang berdampak langsung pada konsumen di negara Barat.

Chuprygin menilai skenario tersebut justru akan menjadi bumerang bagi ekonomi Amerika Serikat. Kenaikan harga bahan bakar dapat memicu inflasi yang lebih tinggi di dalam negeri.

Ia menambahkan, sektor industri dan transportasi di Amerika sangat bergantung pada harga energi yang stabil. Jika harga bensin melonjak drastis, dampaknya dapat terasa luas bagi aktivitas ekonomi nasional.

Di sisi lain, Iran dinilai telah cukup berpengalaman menghadapi tekanan ekonomi akibat sanksi internasional yang berlangsung selama puluhan tahun. Negara tersebut juga telah membangun jaringan perdagangan energi dengan berbagai negara di Asia.

Hal ini membuat Iran relatif memiliki alternatif pasar untuk menjual minyaknya meskipun terjadi gangguan dalam jalur ekspor tertentu.

Tidak hanya dari sisi ekonomi, potensi operasi militer terhadap Pulau Kharg juga dinilai memiliki risiko tinggi bagi militer Amerika Serikat.

Pulau tersebut berada dalam jangkauan sistem pertahanan pesisir Iran yang dilengkapi dengan baterai rudal serta armada drone tempur seperti Ababil dan Shahed.

Kombinasi sistem senjata ini disebut mampu menciptakan zona penolakan akses atau anti-access area yang luas di perairan sekitar Teluk Persia.

Jika terjadi upaya pendaratan militer, kelompok kapal induk Amerika Serikat berpotensi menjadi target utama rudal balistik anti-kapal Iran jenis Khalij-e Fars yang dirancang untuk menghancurkan kapal permukaan berukuran besar.

Chuprygin memperingatkan bahwa operasi semacam itu dapat menimbulkan kerugian besar bagi militer Amerika Serikat, baik dari sisi personel maupun peralatan tempur.

Menurutnya, upaya merebut wilayah kecil seperti Pulau Kharg justru dapat berubah menjadi jebakan militer yang berisiko tinggi.

Ia menilai langkah tersebut tidak hanya berpotensi gagal secara strategis, tetapi juga dapat merusak reputasi militer Amerika Serikat di tingkat global.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik di kawasan Teluk Persia tetap menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi stabilitas energi dunia. Ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan infrastruktur energi di kawasan tersebut berpotensi membawa dampak ekonomi yang jauh melampaui wilayah konflik itu sendiri.