Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Kutai Kartanegara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kutai Kartanegara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Mei 2026

PT PHM Perkuat Pendidikan Pesisir Lewat Program Sekolah Terapung Di Delta Mahakam

PT PHM memperkuat pendidikan wilayah pesisir Delta Mahakam melalui program sekolah terapung di Desa Sepatin, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
PT PHM memperkuat pendidikan wilayah pesisir Delta Mahakam melalui program sekolah terapung di Desa Sepatin, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Kutai Kartanegara - Akses pendidikan di kawasan pesisir Delta Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, masih menjadi tantangan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil. Kondisi geografis yang bergantung pada jalur sungai membuat aktivitas belajar mengajar membutuhkan dukungan fasilitas yang memadai.

Melihat kondisi tersebut, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) memperkuat sektor pendidikan melalui program sekolah negeri terapung di Desa Sepatin, Kecamatan Anggana. Program tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) perusahaan untuk mendukung pendidikan di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Senior Manager Relations PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), Handri Ramdhani, mengatakan program sekolah terapung difokuskan untuk memperluas akses pendidikan sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran bagi pelajar pesisir.

Handri Ramdhani menyebut dukungan tersebut juga bertujuan membangun semangat edupreneurship serta meningkatkan kesadaran generasi muda agar melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Program itu dijalankan di SMP Negeri 6 Anggana, Desa Sepatin, yang berada di wilayah ring-1 operasional South Processing Unit (SPU) PT PHM. Sekolah tersebut menjadi satu-satunya SMP di Desa Sepatin sejak berdiri pada 2012.

Pada 2026, bantuan yang diberikan perusahaan meliputi pembangunan gapura sekolah, taman belajar, hingga kegiatan penanaman mangrove bersama siswa, tenaga pendidik, dan masyarakat sekitar sebagai bagian dari pelestarian ekosistem pesisir.

Manager Communication Relations & CID PT PHI, Dony Indrawan, menegaskan perusahaan akan terus menjalankan program CSR di bidang pendidikan sebagai upaya membangun sumber daya manusia di kawasan pesisir.

Menurut Dony Indrawan, pendidikan menjadi fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang mandiri, berwawasan luas, serta memiliki masa depan yang lebih baik.

Perkembangan fasilitas belajar di SMP Negeri 6 Anggana juga mulai terlihat melalui ketersediaan laptop, listrik tenaga surya, dan akses internet yang membantu proses belajar siswa di wilayah terpencil.

Masyarakat setempat mengenal sekolah tersebut sebagai SMP terapung karena lokasinya berada di ujung Delta Mahakam dan langsung berhadapan dengan perairan Selat Makassar yang dipengaruhi pasang surut.

Perjalanan menuju Desa Sepatin pun tidak mudah. Dari Samarinda, akses ditempuh menggunakan kapal kecil menyusuri Sungai Mahakam sejauh sekitar 80 kilometer dengan waktu perjalanan kurang lebih tiga jam, tergantung kondisi air.

Kepala SMP Negeri 6 Anggana, Tandarman, mengatakan seluruh bantuan yang diberikan perusahaan berjalan baik dan memberi dampak nyata bagi dunia pendidikan di wilayah pesisir.

Tandarman menilai program TJSL dari PT PHM membuka peluang lebih besar bagi pengembangan pendidikan masyarakat Desa Sepatin dan kawasan sekitarnya.

FAQ

Apa itu program sekolah terapung PT PHM?

Program sekolah terapung merupakan bantuan pendidikan dari PT Pertamina Hulu Mahakam untuk mendukung akses belajar di wilayah pesisir dan daerah 3T di Delta Mahakam.

Di mana lokasi sekolah terapung tersebut?

Program dijalankan di SMP Negeri 6 Anggana, Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Bantuan apa saja yang diberikan PT PHM?

Bantuan meliputi pembangunan gapura sekolah, taman belajar, fasilitas pendidikan, listrik tenaga surya, akses internet, laptop, hingga penanaman mangrove.

Mengapa disebut sekolah terapung?

Sekolah dikenal sebagai SMP terapung karena berada di kawasan pesisir Delta Mahakam yang dipengaruhi pasang surut Selat Makassar.

Bagaimana akses menuju Desa Sepatin?

Perjalanan dilakukan melalui jalur sungai menggunakan kapal kecil dari Samarinda dengan waktu tempuh sekitar tiga jam.

Jumat, 01 Mei 2026

Terseret Arus Saat Menjaring Udang, Nelayan Muara Badak Ditemukan Tewas

Nelayan Muara Badak M Rizal ditemukan meninggal setelah terseret arus saat menjaring udang. Tim SAR menemukan korban di hari kedua pencarian.
Nelayan Muara Badak M Rizal ditemukan meninggal setelah terseret arus saat menjaring udang. Tim SAR menemukan korban di hari kedua pencarian.

Muara Badak, Kaltim - Upaya pencarian nelayan yang hilang di perairan Muara Badak akhirnya membuahkan hasil. Tim Search and Rescue (SAR) gabungan menemukan M Rizal (33), warga Kecamatan Muara Badak, dalam kondisi meninggal dunia setelah terseret arus sungai.

Peristiwa bermula pada Kamis pagi (30/4/2026) sekitar pukul 05.00 Wita. M Rizal bersama seorang rekan berangkat menjaring udang di area tambak milik sendiri di perairan Muara Badak Ulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Namun saat beraktivitas, M Rizal diduga kehilangan kendali akibat kuatnya arus sungai. Arus yang deras menyeret tubuh M Rizal hingga hilang dari pantauan.

Keluarga kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Kantor SAR Balikpapan sekitar pukul 11.10 Wita. Laporan itu langsung ditindaklanjuti dengan operasi pencarian oleh tim SAR gabungan sejak hari pertama.

Pencarian Hari Kedua Berbuah Hasil

Operasi pencarian memasuki hari kedua pada Jumat (1/5/2026). Tim memulai kegiatan sejak pukul 07.00 Wita dengan melakukan briefing untuk menentukan strategi penyisiran.

Area pencarian difokuskan pada radius sekitar 2 nautical mile persegi dengan arah penyisiran mengikuti aliran sungai ke hilir.

Hasilnya, M Rizal ditemukan sekitar 200 meter dari titik awal kejadian ke arah hilir. Lokasi penemuan berada pada koordinat 0°20'53.0"S dan 117°27'07.4"E.

Jenazah M Rizal kemudian dievakuasi dan dibawa ke rumah duka untuk diserahkan kepada keluarga.

Operasi SAR Ditutup, Tim Kembali Siaga

Setelah proses evakuasi selesai, seluruh unsur yang terlibat melaksanakan debriefing. Operasi SAR resmi diusulkan ditutup, dan masing-masing tim kembali ke satuan untuk bersiaga.

Tim SAR gabungan terdiri dari Basarnas Balikpapan, TNI AL Marang Kayu, BPBD Kutai Kartanegara, Disdamkar Muara Badak, relawan dari Kukar dan Samarinda, keluarga korban, serta nelayan setempat.

Tantangan Berat Selama Pencarian

Selama proses pencarian, tim menghadapi berbagai kendala di lapangan. Gelombang dari muara cukup besar dan berbahaya. Selain itu, kawasan tersebut juga dikenal memiliki potensi ancaman dari hewan liar seperti buaya dan ular.

Meski demikian, operasi berjalan lancar hingga korban berhasil ditemukan.

Peralatan Lengkap Dikerahkan

Untuk mendukung pencarian, tim mengerahkan berbagai peralatan, termasuk rescue car, rubber boat Basarnas, perahu BPBD, speed boat TNI AL, serta armada milik warga dan nelayan.

Selain itu, digunakan pula perlengkapan SAR air, peralatan selam, alat komunikasi, dan perlengkapan medis guna memastikan operasi berjalan optimal.

FAQ

1. Siapa korban dalam kejadian ini?
Korban adalah M Rizal (33), warga Kecamatan Muara Badak.

2. Kapan kejadian terjadi?
Kejadian berlangsung pada Kamis pagi, 30 April 2026.

3. Di mana lokasi kejadian?
Di perairan Muara Badak Ulu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

4. Kapan korban ditemukan?
Korban ditemukan pada hari kedua pencarian, Jumat (1 Mei 2026).

5. Apa penyebab korban terseret arus?
Diduga korban tidak mampu mengendalikan diri akibat kuatnya arus sungai.

Senin, 27 April 2026

Tradisi Nutuk Beham Diangkat Jadi Festival Budaya Andalan Kukar

Festival Nutuk Beham di Kukar menjadi upaya pelestarian budaya Kutai, dengan dukungan penuh Aulia Rahman Basri agar adat tetap lestari di tengah modernisasi.
Festival Nutuk Beham di Kukar menjadi upaya pelestarian budaya Kutai, dengan dukungan penuh Aulia Rahman Basri agar adat tetap lestari di tengah modernisasi.

TENGGARONG — Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat peran desa dan kelurahan dalam menjaga kelestarian adat sebagai bagian dari identitas daerah di tengah derasnya arus modernisasi.

Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri menegaskan bahwa pelestarian tradisi lokal harus menjadi tanggung jawab bersama, terutama di tingkat desa yang menjadi pusat tumbuhnya budaya masyarakat.

Menurut Aulia Rahman Basri, adat istiadat bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi penting yang membentuk karakter generasi masa depan. Upaya memperkenalkan budaya kepada anak-anak sekolah dinilai penting agar generasi muda memiliki kebanggaan terhadap tradisi daerah sejak dini.

Salah satu bentuk nyata pelestarian budaya ditunjukkan melalui pelaksanaan Festival Budaya Kutai Adat Lawas Nutuk Beham yang digelar di Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat.

Festival yang berlangsung selama tiga hari tersebut menjadi wadah edukasi budaya bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang mulai akrab dengan perkembangan teknologi dan gaya hidup modern.

Tradisi Nutuk Beham sendiri merupakan ritual tahunan masyarakat Suku Kutai Adat Lawas yang berkaitan dengan panen padi ketan. Kegiatan utama tradisi ini dilakukan secara bersama-sama dengan menumbuk padi ketan muda menggunakan lesung dan alu.

Ritual tersebut menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen yang melimpah, sekaligus penghormatan kepada leluhur yang telah mewariskan tradisi turun-temurun.

Kehadiran pemerintah daerah dalam kegiatan budaya dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan tradisi lokal. Dalam festival tersebut, Aulia Rahman Basri turut ambil bagian dalam prosesi menyangrai ketan sebelum ditumbuk bersama masyarakat.

Partisipasi pemerintah dalam kegiatan adat juga menjadi sinyal kuat bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat, tetapi juga pemerintah daerah.

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara bahkan berencana meningkatkan dukungan pembiayaan melalui kecamatan guna memastikan kegiatan budaya dapat berlangsung secara berkelanjutan pada tahun-tahun mendatang.

Selain sebagai bentuk pelestarian tradisi, festival budaya juga dipandang sebagai peluang pengembangan wisata daerah.

Aulia Rahman Basri mendorong agar kegiatan seperti Nutuk Beham dapat dimasukkan dalam agenda besar daerah, termasuk Festival Erau yang telah dikenal luas sebagai ikon budaya Kutai Kartanegara.

Dengan integrasi ke dalam agenda wisata daerah, tradisi lokal diharapkan mampu menarik minat wisatawan serta memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara juga menekankan pentingnya nilai adat dalam setiap kegiatan besar di daerah.

Setiap kegiatan berskala besar, termasuk konser dan acara publik, diharapkan tetap memiliki unsur budaya lokal sebagai identitas daerah.

Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memastikan modernisasi tidak menghapus karakter budaya yang telah menjadi jati diri masyarakat Kutai Kartanegara.

Jumat, 24 April 2026

231 Kasus DBD Tercatat, Pemda Kaltim Intensifkan Program 3M Dan Rujukan Cepat

Dinkes Kaltim menargetkan angka kematian DBD di bawah 0,4 persen saat jumlah kasus mencapai 231. Samarinda dan Kukar menjadi wilayah prioritas pencegahan. (Gambar ilustrasi)
Dinkes Kaltim menargetkan angka kematian DBD di bawah 0,4 persen saat jumlah kasus mencapai 231. Samarinda dan Kukar menjadi wilayah prioritas pencegahan. (Gambar ilustrasi)

Samarinda - Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur memperkuat langkah penanganan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan target menekan angka kematian di bawah 0,4 persen pada bulan ini. Upaya tersebut dilakukan menyusul tercatatnya 231 kasus DBD di wilayah tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, menegaskan bahwa keberhasilan menekan angka kematian sangat bergantung pada kecepatan tenaga kesehatan dalam memberikan penanganan awal kepada pasien yang menunjukkan gejala DBD.

Menurutnya, kesiapsiagaan fasilitas kesehatan menjadi faktor penting untuk menghindari kondisi pasien memburuk, terutama pada fase kritis penyakit.

Dinas Kesehatan mengingatkan bahwa masa peralihan musim menuju kemarau berpotensi meningkatkan risiko penyebaran DBD. Kondisi lingkungan pada masa tersebut sering memicu berkembangnya nyamuk pembawa virus dengue.

Secara kumulatif, jumlah kasus DBD di Kalimantan Timur kini mencapai 231 kasus. Angka tersebut mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan koordinasi antarwilayah, khususnya dalam mempercepat sistem rujukan pasien yang mengalami kondisi kritis.

Instruksi percepatan rujukan telah disampaikan kepada seluruh pemerintah kabupaten dan kota guna memastikan pasien mendapatkan perawatan lanjutan secara cepat dan tepat.

Kota Samarinda tercatat sebagai daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 46 kasus infeksi. Kondisi tersebut membuat wilayah tersebut menjadi fokus utama dalam langkah antisipasi.

Selain Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara juga masuk dalam daftar prioritas dengan 39 kasus yang tercatat hingga saat ini. Di wilayah tersebut, intervensi kesehatan lingkungan dilakukan secara intensif untuk mengurangi potensi penyebaran.

Program pencegahan tidak hanya difokuskan pada layanan kesehatan, tetapi juga menyasar kebersihan lingkungan masyarakat.

Upaya pencegahan DBD dilakukan melalui penguatan gerakan pemberantasan sarang nyamuk menggunakan metode 3M Plus, yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Masyarakat juga didorong untuk kembali mengaktifkan kader juru pemantau jentik di lingkungan Rukun Tetangga (RT). Peran kader dinilai penting dalam memantau potensi keberadaan jentik nyamuk di lingkungan permukiman.

Selain itu, distribusi bubuk Abate secara gratis terus dilakukan melalui puskesmas. Bahan tersebut digunakan untuk membasmi jentik nyamuk di tempat penampungan air.

Pengasapan atau fogging tetap disiapkan sebagai langkah terakhir apabila terjadi lonjakan penularan dalam skala besar. Metode ini digunakan untuk membunuh nyamuk dewasa di wilayah yang dinilai memiliki tingkat penyebaran tinggi.

Di sisi lain, pemerintah memastikan bahwa seluruh rumah sakit rujukan memiliki persediaan logistik medis yang mencukupi untuk merawat pasien DBD.

Sinergi antara pemerintah dan masyarakat dinilai menjadi faktor kunci dalam menekan angka kematian akibat penyakit tersebut.

FAQ

Berapa jumlah kasus DBD di Kalimantan Timur saat ini?

Jumlah kasus DBD di Kalimantan Timur tercatat mencapai 231 kasus berdasarkan data terbaru dari Dinas Kesehatan.

Wilayah mana yang memiliki kasus DBD tertinggi?

Kota Samarinda menempati posisi tertinggi dengan 46 kasus, diikuti Kabupaten Kutai Kartanegara dengan 39 kasus.

Apa target pemerintah dalam penanganan DBD?

Pemerintah menargetkan angka kematian akibat DBD dapat ditekan hingga di bawah 0,4 persen.

Apa itu metode 3M Plus?

Metode 3M Plus adalah upaya pencegahan DBD dengan menguras, menutup, dan mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, ditambah langkah pencegahan lainnya.

Kapan fogging dilakukan?

Fogging dilakukan sebagai langkah terakhir ketika penyebaran DBD terjadi secara luas di suatu wilayah.

Senin, 13 April 2026

Perjuangan 24 Tahun Muhmajadi, Dari Gagal Panen Hingga Kuasai Pasar IKN

Muhmajadi bangkit dari wabah KHP dan sukses mengembangkan ikan nila di Loa Kulu. Kini produksi tembus 10 ton per bulan dan siap menopang kebutuhan pangan IKN.
Muhmajadi bangkit dari wabah KHP dan sukses mengembangkan ikan nila di Loa Kulu. Kini produksi tembus 10 ton per bulan dan siap menopang kebutuhan pangan IKN.

Kutai Kartanegara - Pijakan kaki terasa bergoyang pelan mengikuti irama arus Sungai Mahakam saat melangkah meniti susunan ulin yang membingkai puluhan petak keramba jaring apung di Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Suasana di atas keramba terasa hidup. Dari bawah permukaan air, suara kecipak riuh terdengar bersahutan saat ribuan ikan nila menyambar pakan yang ditebar. Di sinilah Muhmajadi berdiri, seorang pembudidaya ikan yang sudah menekuni usaha ini selama 24 tahun.

"Nila-nila ini telah mengangkat ekonomi keluarga kami, meskipun perjalanan untuk mencapai posisi saat ini tidak mudah," ujar Muhmajadi sambil tersenyum.

Luka Lama Wabah KHP yang Tak Terlupakan

Tahun 2005 menjadi masa paling berat bagi para pembudidaya ikan di Loa Kulu. Saat itu, wabah Koi Herpes Virus (KHP) menyapu habis budidaya ikan mas di sepanjang Sungai Mahakam.

Bangkai ikan mengambang di permukaan sungai. Modal, tenaga, dan harapan para pembudidaya seakan hilang dalam hitungan minggu.

Muhmajadi yang mulai membudidayakan ikan mas sejak 2002 ikut merasakan dampak besar. Usahanya nyaris runtuh, dan banyak rekan sesama pembudidaya harus gulung tikar.

Namun, menyerah bukan pilihan baginya.

Ia bersama anggota Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Gawi Baimbai Sejahtera memutuskan untuk mengubah strategi. Komoditas utama digeser dari ikan mas ke ikan nila yang dikenal lebih tahan terhadap penyakit.

Keputusan itu terbukti menjadi titik balik.

Panen Nila Hingga Satu Ton Setiap Bulan

Kini, dari 36 petak keramba jaring apung miliknya yang dialiri arus Sungai Mahakam, Muhmajadi mampu memanen hingga satu ton ikan nila setiap bulan.

Dalam satu kelompok pembudidaya saja, produksi nila bahkan bisa mencapai lebih dari 10 ton per bulan.

Kampung Perikanan Budidaya Loa Kulu saat ini memiliki sekitar 40 kelompok pembudidaya ikan yang terbagi dalam berbagai spesialisasi, mulai dari pembibitan hingga penggemukan ikan.

Tak heran jika ikan nila dari wilayah ini menjadi salah satu komoditas unggulan untuk memenuhi kebutuhan pasar di Kalimantan Timur.

Belajar Budidaya Modern Hingga Ke Kampus

Keseriusan meningkatkan kualitas budidaya membuat pemerintah daerah mengirim Muhmajadi bersama delapan pembudidaya lainnya untuk mengikuti pendidikan intensif di Sekolah Perikanan Rakyat (SPR) Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2025.

Selama tujuh bulan, mereka mendapatkan pembelajaran menyeluruh mulai dari teknik budidaya modern, penanganan penyakit secara ilmiah, hingga manajemen bisnis berbasis kelompok.

Pengalaman tersebut menjadi lompatan besar, terutama bagi pembudidaya tradisional yang sebelumnya hanya mengandalkan pengalaman lapangan.

Kini, ilmu yang didapat tidak hanya diterapkan pada keramba miliknya, tetapi juga dibagikan kepada kelompok pembudidaya lain di wilayah sekitar.

Dampingi BUMDes Hingga Panen Perdana

Sebagai kelompok percontohan, Pokdakan Gawi Baimbai Sejahtera aktif memberikan pendampingan kepada masyarakat lain.

Salah satu hasil nyata terlihat pada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sungai Payang yang berhasil melakukan panen perdana ikan patin setelah mendapat pendampingan teknis dan manajerial selama enam bulan.

Dalam praktik budidaya sehari-hari, Muhmajadi juga menerapkan prinsip Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB). Ia memilih menggunakan ramuan herbal sebagai alternatif obat kimia untuk menjaga kesehatan ikan dan kelestarian lingkungan.

Langkah ini dinilai lebih ramah ekosistem dalam jangka panjang.

IKN Jadi Peluang Pasar Baru

Perpindahan pusat pemerintahan ke Ibu Kota Nusantara (IKN) membawa peluang baru bagi para pembudidaya ikan di Loa Kulu.

Masuknya ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pendatang membuka pasar baru yang sangat potensial.

Muhmajadi dan jaringan pembudidaya lainnya mulai memanfaatkan peluang tersebut dengan rutin memasok sekitar satu ton ikan nila setiap bulan ke sejumlah kolam pancing di wilayah Sepaku.

Ke depan, kebutuhan pasar di kawasan IKN diperkirakan mencapai sekitar 12 ton ikan per bulan.

Para pembudidaya kini menunggu terbentuknya kerja sama resmi dengan pihak Otorita IKN untuk memperluas distribusi.

Loa Kulu Jadi Benteng Ketahanan Pangan

Apa yang terjadi di sepanjang Sungai Mahakam bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang ketahanan pangan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur, Irhan Hukmaidy, menilai pengembangan Kampung Budidaya Ikan Nila di Loa Kulu memiliki peran strategis dalam mencukupi kebutuhan protein hewani di wilayah Kalimantan Timur.

Data menunjukkan Kabupaten Kutai Kartanegara menguasai sekitar 79 persen dari total produksi perikanan budidaya di Kalimantan Timur, dengan produksi mencapai 126.139 ton per tahun.

Kecamatan Loa Kulu sendiri menyumbang sekitar 10.229 ton per tahun.

Keberhasilan ini bahkan diakui secara nasional. Melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 111 Tahun 2023, Loa Kulu resmi ditetapkan sebagai Kampung Perikanan Budidaya Komoditi Nila.

Saat ini terdapat sekitar 11.582 kotak keramba di sepanjang aliran Sungai Mahakam yang menjadi sumber utama produksi ikan nila.

Selain keramba, pemerintah juga mengembangkan lahan budidaya kolam air tenang seluas 244,70 hektare untuk mendukung peningkatan produksi.

Tantangan Pakan dan Perubahan Iklim

Meski menunjukkan perkembangan positif, sektor budidaya ikan tetap menghadapi sejumlah tantangan.

Salah satu yang paling dirasakan pembudidaya adalah kenaikan harga pakan komersial yang terus meningkat dan menggerus keuntungan.

Selain itu, perubahan iklim juga menjadi ancaman serius. Kemarau panjang maupun banjir musiman kerap memengaruhi kualitas air dan memicu kematian ikan dalam jumlah besar.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mulai mendorong penggunaan teknologi tepat guna, termasuk sistem pemantauan kualitas air dan peningkatan standar budidaya.

Pendampingan juga terus dilakukan agar seluruh unit usaha di Loa Kulu dapat mengantongi sertifikat CBIB.

Langkah ini penting agar produk ikan nila dari Loa Kulu memiliki daya saing tinggi di pasar nasional.

Harapan Baru Bagi Ribuan Keluarga

Lebih dari sekadar angka produksi, sektor perikanan budidaya di Loa Kulu menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 1.000 rumah tangga.

Keramba-keramba di sepanjang Sungai Mahakam bukan hanya tempat membesarkan ikan, tetapi juga simbol ketekunan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan.

Bagi Muhmajadi, merawat ikan di Sungai Mahakam bukan sekadar profesi.

Ini adalah upaya menjaga masa depan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi generasi berikutnya, terutama di tengah tumbuhnya kawasan Ibu Kota Nusantara.

FAQ

1. Di mana lokasi Kampung Perikanan Nila Loa Kulu?
Terletak di Desa Jembayan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

2. Berapa produksi ikan nila di Loa Kulu?
Satu kelompok pembudidaya dapat menghasilkan lebih dari 10 ton ikan nila per bulan.

3. Apa tantangan utama pembudidaya ikan di Loa Kulu?
Kenaikan harga pakan dan perubahan iklim yang mempengaruhi kualitas air.

4. Mengapa ikan nila dipilih sebagai komoditas utama?
Karena ikan nila memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap penyakit dibanding ikan mas.

5. Apa peluang pasar terbesar bagi ikan nila Loa Kulu?
Kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang diperkirakan membutuhkan sekitar 12 ton ikan per bulan.

Selasa, 07 April 2026

Proyek Jalan 23,17 Km Di Kukar Bikin Perjalanan Anggana–Muara Badak Lebih Cepat

Pembangunan jalan tembus Anggana–Muara Badak sepanjang 23,17 km di Kukar memangkas waktu tempuh dari 2 jam jadi 30 menit dan mempercepat aktivitas ekonomi warga.
Pembangunan jalan tembus Anggana–Muara Badak sepanjang 23,17 km di Kukar memangkas waktu tempuh dari 2 jam jadi 30 menit dan mempercepat aktivitas ekonomi warga.

Kutai Kartanegara — Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, terus menggenjot pembangunan jalan baru sepanjang 23,17 kilometer yang menghubungkan Kecamatan Anggana dan Kecamatan Muara Badak. Proyek ini digadang-gadang bakal memangkas waktu tempuh secara drastis dan mempercepat aktivitas masyarakat.

Selama ini, warga dari Anggana menuju Muara Badak—atau sebaliknya—harus memutar melalui Kota Samarinda. Rute tersebut membuat perjalanan memakan waktu sekitar dua jam menggunakan kendaraan roda empat.

Kini, dengan hadirnya jalan tembus tersebut, waktu perjalanan diperkirakan hanya sekitar 30 menit. Efisiensi waktu ini dinilai bakal membawa dampak besar terhadap mobilitas warga dan distribusi barang.

Dorong Konektivitas Dan Perputaran Ekonomi

Wakil Bupati Kutai Kartanegara, Rendi Solihin, mengatakan pembangunan jalan ini merupakan langkah strategis pemerintah daerah untuk meningkatkan konektivitas antar-kecamatan.

"Hingga kini pembangunan jalan tembus Anggana–Muara Badak terus dikerjakan kontraktor, sebagai upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan konektivitas antar-kecamatan, mendukung percepatan perputaran ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosial dan budaya," ujar Rendi Solihin di Tenggarong, Senin.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur jalan bukan sekadar membuka akses baru, tapi juga mempercepat pergerakan masyarakat dan barang yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi daerah.

Sudah Dikerjakan Sejak 2022, Terus Dilanjutkan Hingga 2026

Proyek jalan ini mulai dikerjakan sejak tahun 2022 sebagai bagian dari proyek strategis pemerintah daerah.

Hingga tahun 2025, dari total panjang 23,17 km, sebanyak 18,24 km jalan telah terealisasi dengan kondisi baik. Proyek tersebut telah menyerap anggaran sekitar Rp154 miliar.

Sementara pada tahun 2026, proyek ini kembali mendapat tambahan bantuan keuangan sebesar Rp9,5 miliar untuk melanjutkan pekerjaan yang tersisa.

Saat melakukan peninjauan di Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana pada awal April lalu, Rendi menegaskan bahwa proyek ini menjadi salah satu prioritas dalam Program Dedikasi Kukar Idaman Terbaik, yang fokus pada penguatan infrastruktur dan pelayanan publik.

Permudah Akses Ke Rumah Sakit Dan Distribusi Pangan

Selain mempercepat mobilitas warga, pembangunan jalan ini juga mendukung akses menuju rumah sakit baru di Desa Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak.

Manfaat lainnya terasa langsung bagi sektor ekonomi masyarakat, terutama pelaku usaha lokal di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan.

"Manfaat jalan sepanjang 23,17 km ini tentu sangat banyak seperti memudahkan angkutan hasil pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan yang tersebar di dua kecamatan ini," kata Rendi.

Dengan waktu tempuh yang lebih singkat, biaya distribusi barang diperkirakan bisa ditekan. Dampaknya, harga bahan pangan berpotensi menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat.

Dampak Besar Bagi Warga Dan Perekonomian Lokal

Keberadaan jalan tembus ini dinilai bakal membawa perubahan signifikan dalam kehidupan masyarakat setempat.

Selain meningkatkan mobilitas harian warga, proyek ini juga membuka peluang ekonomi baru, seperti pertumbuhan usaha kecil, pengembangan sektor pariwisata lokal, hingga peningkatan akses pendidikan.

Pemerintah daerah berharap proyek ini bisa selesai sesuai target sehingga manfaatnya bisa segera dirasakan secara maksimal oleh masyarakat di Kecamatan Anggana dan Muara Badak.

FAQ (Frequently Asked Questions)

1. Berapa panjang jalan tembus Anggana–Muara Badak?
Panjang jalan tersebut mencapai 23,17 kilometer.

2. Berapa waktu tempuh sebelum dan sesudah jalan dibangun?
Sebelumnya sekitar 2 jam, dan setelah selesai diperkirakan hanya 30 menit.

3. Kapan proyek jalan ini mulai dibangun?
Pembangunan dimulai sejak tahun 2022.

4. Berapa anggaran yang sudah digunakan untuk proyek ini?
Hingga 2025, proyek telah menyerap dana sekitar Rp154 miliar, ditambah Rp9,5 miliar pada 2026.

5. Apa manfaat utama jalan ini bagi masyarakat?
Mempercepat mobilitas warga, menurunkan biaya distribusi barang, serta meningkatkan akses layanan kesehatan dan ekonomi.

Minggu, 05 April 2026

Rendi Solihin Ungkap Strategi Kukar Bangun Fondasi Pangan Berkelanjutan

Transformasi ekonomi Kukar dari migas ke pertanian kian nyata. Produksi padi tertinggi di Kaltim jadi bukti fondasi pangan berkelanjutan. (ilustrasi)
Transformasi ekonomi Kukar dari migas ke pertanian kian nyata. Produksi padi tertinggi di Kaltim jadi bukti fondasi pangan berkelanjutan. (ilustrasi)

TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus mempercepat transformasi ekonomi dari sektor migas dan batu bara menuju pertanian dalam arti luas. Langkah ini menjadi strategi besar untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap daerah lain.

Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, menegaskan bahwa arah pembangunan daerah kini memasuki fase baru yang lebih strategis dan berkelanjutan.

“Fokus pembangunan saat ini adalah transisi dari visi ‘Kukar Idaman 2021-2026’ menuju penguatan fondasi berkelanjutan melalui visi ‘Kutai Kartanegara Idaman Terbaik 2025-2029’,” ujarnya di Tenggarong, Sabtu.

Transformasi Menuju Ekonomi Berkelanjutan

Dalam fase terbaru tersebut, pemerintah menetapkan visi besar yakni mewujudkan fondasi pusat pangan, pariwisata, dan industri hijau yang maju serta berkelanjutan. Transformasi ini juga menjadi bagian dari kesiapan Kukar dalam menyambut kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN).

Peralihan dari sektor ekstraktif ke sektor terbarukan dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang.

Fokus Hilirisasi Dan Desa Mandiri

Rendi menambahkan, misi utama dalam fase ini adalah mendorong hilirisasi pertanian dan memperkuat kemandirian ekonomi desa. Dengan begitu, manfaat pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan langsung oleh masyarakat hingga ke tingkat desa.

Pemerintah daerah juga menggandeng pemerintah desa dalam membangun lumbung pangan, memanfaatkan alokasi minimal 20 persen Dana Desa untuk program ketahanan pangan nasional.

Langkah ini sudah mulai terlihat hasilnya sejak 2025. Salah satu contoh adalah Desa Mulawarman di Kecamatan Tenggarong Seberang yang berhasil melakukan panen pada akhir Maret lalu.

Produksi Padi Kukar Tertinggi Di Kaltim

Berkat kolaborasi antara pemerintah daerah, desa, dan Kementerian Pertanian, Kukar kini menjadi daerah dengan produksi padi tertinggi di Kalimantan Timur.

Data tahun 2025 menunjukkan:

  • Produksi gabah kering giling (GKG) Kukar mencapai 110,87 ton

  • Kabupaten Paser: 67,65 ton

  • Penajam Paser Utara: 47,58 ton

Tak hanya itu, luas panen padi Kukar juga menjadi yang terbesar:

  • Kukar: 26.287 hektare

  • Paser: 14.599 hektare

  • PPU: 13.570 hektare

Capaian ini memperkuat posisi Kukar sebagai salah satu lumbung pangan utama di Kalimantan Timur.

Analisis: Kenapa Strategi Ini Penting? (E-E-A-T)

Transformasi ekonomi ini dinilai relevan oleh para pengamat karena:

  • Mengurangi ketergantungan pada sektor tambang yang fluktuatif

  • Memperkuat ketahanan pangan regional

  • Membuka lapangan kerja di sektor produktif

  • Mendukung ekosistem ekonomi hijau

Langkah Kukar juga selaras dengan arah pembangunan nasional yang menekankan keberlanjutan dan ketahanan pangan di tengah perubahan global.

FAQ

1. Apa tujuan utama transformasi ekonomi Kukar?
Untuk mengurangi ketergantungan pada migas dan batu bara serta memperkuat ketahanan pangan daerah.

2. Kenapa Kukar fokus ke pertanian?
Karena sektor pertanian lebih berkelanjutan dan mendukung kebutuhan pangan, apalagi dengan hadirnya IKN.

3. Apakah program ini sudah berjalan?
Ya, sejak 2025 desa-desa sudah mulai menjalankan program lumbung pangan.

4. Apa bukti keberhasilan transformasi ini?
Kukar menjadi daerah dengan produksi padi tertinggi di Kalimantan Timur.

5. Apa dampaknya bagi masyarakat desa?
Meningkatkan kemandirian ekonomi dan membuka peluang usaha di sektor pertanian.

Pemprov Kaltim Percepat Proyek Sampah Jadi Listrik Di Dua Kawasan Strategis

Pemprov Kaltim percepat proyek PSEL di Samarinda dan Balikpapan Raya untuk ubah sampah jadi listrik, libatkan IKN dan daerah demi energi ramah lingkungan.
Pemprov Kaltim percepat proyek PSEL di Samarinda dan Balikpapan Raya untuk ubah sampah jadi listrik, libatkan IKN dan daerah demi energi ramah lingkungan.

Balikpapan - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) makin serius menggarap proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau Pembangkit Listrik Berbasis Sampah (PSEL) di dua kawasan besar: Samarinda Raya dan Balikpapan Raya.

Langkah ini bukan sekadar wacana. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kaltim, Joko Istanto, memastikan saat ini pemerintah tengah mempercepat penyusunan skema kerja sama agar proyek bisa segera berjalan tanpa hambatan.

“Kami memfasilitasi penyusunan perjanjian kerja sama serta kesepakatan bersama untuk kedua proyek ini agar operasionalnya kelak berjalan lancar,” ujar Joko di Samarinda, Sabtu.

Tindak Lanjut Rapat Tingkat Kementerian

Percepatan ini merupakan tindak lanjut dari rapat koordinasi terbatas di tingkat kementerian yang fokus pada pengelolaan limbah berbasis energi terbarukan. Artinya, proyek ini bukan hanya inisiatif daerah, tapi juga bagian dari strategi nasional.

Untuk mematangkan konsep, Pemprov Kaltim juga menggelar rapat koordinasi lintas daerah secara virtual yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah provinsi, kabupaten, hingga kota.

Beberapa instansi yang ikut terlibat antara lain:

  • Dinas Lingkungan Hidup Kota Samarinda

  • DLHK Kabupaten Kutai Kartanegara

Kolaborasi lintas wilayah ini jadi kunci, mengingat cakupan proyek yang cukup luas.

Dua Zona Besar: Samarinda Raya & Balikpapan Raya

Proyek PSEL ini dibagi menjadi dua zona utama:

1. Samarinda Raya

Mencakup:

  • Kota Samarinda

  • Sebagian wilayah Kutai Kartanegara:
    Anggana, Tenggarong Seberang, Loa Janan, Muara Badak, dan Marang Kayu

2. Balikpapan Raya

Meliputi:

  • Kota Balikpapan

  • Kawasan Ibu Kota Nusantara

  • Wilayah pesisir Kutai Kartanegara:
    Samboja, Samboja Barat, dan Muara Jawa

Menurut Joko, kondisi geografis dan pembagian administratif ini bikin koordinasi jadi lebih kompleks.

“Perlu koordinasi intensif antara pemerintah daerah, Otorita IKN, dan pemerintah pusat,” jelasnya.

Solusi Lingkungan Sekaligus Energi Baru

Proyek ini diharapkan bisa jadi solusi dua masalah sekaligus:

  1. Mengurangi penumpukan sampah

  2. Menghasilkan energi listrik dari sumber terbarukan

Dengan kata lain, sampah yang selama ini jadi masalah bisa diubah jadi sumber daya bernilai.

Tak cuma itu, proyek ini juga ditargetkan memperkuat ketahanan energi di Kalimantan Timur, terutama di tengah pembangunan kawasan strategis nasional seperti IKN.

Target: Lingkungan Bersih & Energi Berkelanjutan

Pemprov Kaltim optimistis, kolaborasi antarwilayah ini akan menciptakan:

  • Lingkungan yang lebih bersih

  • Sistem pengelolaan sampah modern

  • Sumber listrik alternatif yang ramah lingkungan

Jika berjalan sesuai rencana, proyek ini bisa jadi model pengelolaan sampah berbasis energi di Indonesia.

FAQ

1. Apa itu PSEL?
PSEL adalah fasilitas pengolahan sampah yang menghasilkan energi listrik melalui teknologi tertentu seperti insinerasi atau gasifikasi.

2. Kenapa proyek ini penting?
Karena bisa mengatasi masalah sampah sekaligus menghasilkan energi baru yang lebih ramah lingkungan.

3. Kapan proyek ini mulai dibangun?
Saat ini masih dalam tahap penyusunan kerja sama dan percepatan persiapan.

4. Apakah proyek ini melibatkan IKN?
Ya, khususnya dalam kawasan Balikpapan Raya yang mencakup wilayah IKN.

5. Apa dampaknya bagi masyarakat?
Lingkungan lebih bersih, potensi listrik tambahan, dan peluang ekonomi baru di sektor pengelolaan limbah.

Kamis, 02 April 2026

IKN 2026 Masuk Fase Krusial, Fokus Pada Kawasan Pemerintahan Inti

IKN 2026 fokus pembangunan kawasan legislatif dan yudikatif. Pemindahan ASN ditargetkan bertahap hingga 2028 untuk percepatan pusat pemerintahan baru.
IKN 2026 fokus pembangunan kawasan legislatif dan yudikatif. Pemindahan ASN ditargetkan bertahap hingga 2028 untuk percepatan pusat pemerintahan baru.

Samarinda - Pemerintah melalui Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) memastikan pembangunan kawasan legislatif dan yudikatif menjadi fokus utama pada 2026. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari percepatan fungsi IKN sebagai pusat pemerintahan baru Indonesia.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menegaskan bahwa pembangunan gedung perkantoran legislatif dan yudikatif beserta infrastruktur pendukung menjadi prioritas utama tahun ini.

“Pembangunan kawasan legislatif dan yudikatif salah satu prioritas pada tahun ini,” ujarnya saat ditemui di kawasan Sepaku, Penajam Paser Utara.

Fokus Infrastruktur Dan Ekosistem Pemerintahan

Selain gedung pemerintahan, Otorita IKN juga menyiapkan berbagai sarana penting, mulai dari hunian ASN, fasilitas sosial, hingga infrastruktur dasar. Kawasan superhub ekonomi dan pengelolaan lingkungan juga masuk dalam agenda strategis pembangunan 2026.

Langkah ini dinilai penting untuk memastikan IKN tidak hanya menjadi pusat administrasi, tetapi juga kawasan yang hidup dan berkelanjutan.

Pemindahan ASN Dilakukan Bertahap Hingga 2028

Proses pemindahan aparatur sipil negara (ASN) ke IKN dilakukan secara bertahap. Hingga saat ini, tercatat sekitar 2.000 ASN sudah bertugas di kawasan tersebut.

Rinciannya:

  • 1.100 ASN Otorita IKN

  • 900 ASN dari Kementerian PUPR, Kesehatan, dan Perhubungan

Pemerintah menargetkan jumlah ASN yang dipindahkan akan terus bertambah hingga mencapai sekitar 4.000 orang pada 2028.

“Kegiatan 2026 juga fokus pada perencanaan kawasan dan pembinaan ASN,” tambah Basuki.

Strategi Percepatan Fungsi IKN

Pembangunan kawasan legislatif dan yudikatif menjadi langkah krusial agar fungsi pemerintahan dapat berjalan penuh di IKN. Dengan hadirnya lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif di satu wilayah, diharapkan efisiensi pemerintahan meningkat.

IKN sendiri dibangun di sebagian wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, sebagai solusi jangka panjang menggantikan Jakarta yang selama ini menjadi pusat pemerintahan.

FAQ (Pertanyaan Umum)

1. Apa fokus utama pembangunan IKN tahun 2026?
Fokus utama adalah pembangunan kawasan legislatif dan yudikatif, termasuk infrastruktur pendukung.

2. Berapa jumlah ASN yang sudah pindah ke IKN?
Saat ini sekitar 2.000 ASN sudah bertugas di IKN.

3. Kapan target pemindahan ASN selesai?
Pemindahan dilakukan bertahap hingga 2028.

4. Apa itu superhub ekonomi di IKN?
Kawasan strategis yang dirancang untuk mendukung aktivitas ekonomi dan investasi.

5. Di mana lokasi IKN?
Di wilayah Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.