Indeks Keyakinan Konsumen Turun ke 115 pada September Tanda Optimisme Masyarakat Mulai Melemah
![]() |
| Indeks Keyakinan Konsumen Turun ke 115 pada September Tanda Optimisme Masyarakat Mulai Melemah. |
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa tingkat optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional mulai menunjukkan tanda perlambatan. Berdasarkan hasil survei BI, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada September 2025 tercatat sebesar 115.
Angka ini memang masih berada di atas batas optimistis (skor 100), namun mengalami penurunan dari posisi Agustus yang mencapai 117,2. Bahkan, capaian September ini menjadi yang terendah sejak April 2022, menandakan bahwa masyarakat mulai berhati-hati dalam memandang kondisi ekonomi ke depan.
Secara sederhana, IKK mencerminkan seberapa percaya diri konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan enam bulan ke depan. Ketika indeks berada di atas 100, artinya konsumen masih optimis. Namun jika di bawah 100, berarti masyarakat mulai pesimis.
Kondisi Ekonomi Saat Ini Mulai Dirasakan Berat
Dari data Bank Indonesia, Indeks Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat 102,7 pada September, turun dari 105,1 pada Agustus. Angka ini menggambarkan penurunan persepsi masyarakat terhadap situasi ekonomi yang sedang mereka rasakan, baik dari sisi penghasilan maupun peluang kerja.
Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang mencerminkan pandangan masyarakat terhadap ekonomi enam bulan mendatang juga menurun, dari 129,2 pada Agustus menjadi 127,2 di September. Meski masih cukup tinggi, tren penurunan ini menunjukkan mulai munculnya kekhawatiran terhadap prospek ekonomi jangka pendek.
Komponen Pendukung Turun, Lapangan Kerja Jadi Sorotan
Jika dilihat dari komponen pembentuk IKE, yakni Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI), Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG), dan Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK), ketiganya mengalami penurunan pada September.
Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja menjadi perhatian utama karena turun ke zona pesimistis, yaitu di angka 92, melemah dari 93,2 pada Agustus. Artinya, masyarakat mulai merasa sulit untuk mendapatkan pekerjaan baru atau mempertahankan pekerjaan yang ada.
Menariknya, pesimisme ini paling tinggi terjadi di kalangan masyarakat berpendidikan SMA dan Akademi/Diploma. Berdasarkan survei, indeks keyakinan terhadap lapangan kerja bagi kelompok pendidikan SMA berada di 86,4 dan bagi lulusan Diploma di 99,5.
Sementara dua komponen lainnya, IPSI dan IPDG, masih menunjukkan optimisme meski juga menurun. Indeks Penghasilan Saat Ini tercatat di 112,9, turun dari 116,9 pada bulan sebelumnya. Sedangkan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama berada di 103,2, sedikit melemah dari Agustus yang sebesar 105,1.
Apa Artinya Bagi Ekonomi dan Konsumen?
Turunnya IKK menunjukkan bahwa daya beli masyarakat kemungkinan mulai tertahan. Ketika konsumen merasa tidak yakin dengan kondisi ekonomi atau ketersediaan pekerjaan, mereka cenderung menunda pembelian barang-barang non-esensial seperti elektronik, kendaraan, atau perabot rumah tangga.
Kondisi ini bisa berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi nasional, karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Namun, BI menilai bahwa secara umum kepercayaan masyarakat masih berada di level optimistis karena skor IKK masih jauh di atas 100. Meski begitu, pemerintah perlu mewaspadai tren pelemahan ini agar tidak berlanjut pada kuartal berikutnya.
Langkah-langkah seperti menjaga stabilitas harga pangan, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat daya beli masyarakat dapat menjadi kunci untuk menjaga optimisme konsumen tetap terjaga.
Secara keseluruhan, survei Bank Indonesia pada September 2025 mencerminkan bahwa masyarakat masih optimis terhadap ekonomi Indonesia, namun dengan kewaspadaan yang meningkat. Penurunan IKK dari 117,2 ke 115 menjadi sinyal agar pemerintah dan pelaku usaha lebih fokus menjaga kestabilan ekonomi dan lapangan kerja.
Kehati-hatian konsumen di tengah ketidakpastian ekonomi global dan potensi kenaikan harga pangan menjadi tantangan tersendiri bagi pertumbuhan ekonomi domestik dalam beberapa bulan ke depan.
Jika kepercayaan masyarakat bisa dijaga melalui kebijakan yang tepat sasaran, optimisme ekonomi diperkirakan bisa pulih kembali di akhir tahun.
