Berita BorneoTribun: Pecco Bagnaia hari ini

CSS

Kode Recentpost Grid

Tampilkan postingan dengan label Pecco Bagnaia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pecco Bagnaia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 April 2026

Jorge Martin Optimistis Usai Libur Panjang, Siap Kejar Gelar MotoGP

Jorge Martin menilai jeda panjang MotoGP membantu pemulihan fisiknya dan meningkatkan performa Aprilia dalam persaingan gelar musim ini.
Jorge Martin menilai jeda panjang MotoGP membantu pemulihan fisiknya dan meningkatkan performa Aprilia dalam persaingan gelar musim ini.

JAKARTA - Pembalap asal Spanyol, Jorge Martín, menilai jeda panjang dalam kalender MotoGP musim ini bisa menjadi keuntungan besar bagi kondisi fisiknya. Meski di sisi lain, jeda tersebut juga berpotensi mengganggu momentum kuat tim Aprilia Racing yang tampil impresif di awal musim.

Jeda satu bulan antara seri di Circuit of the Americas (COTA) dan balapan di Circuito de Jerez terjadi akibat penundaan seri MotoGP Qatar Grand Prix. Situasi ini memberi waktu bagi tim-tim besar seperti Ducati Lenovo Team untuk menyusun ulang strategi dan memperbaiki performa.

Namun bagi Martin, yang masih dalam tahap pemulihan pasca operasi musim dingin akibat cedera tahun lalu, jeda ini justru sangat dibutuhkan.

“Jeda panjang ini jelas akan membantu kondisi saya. Saya selalu merasa ketika mendorong tubuh sampai batas, lalu beristirahat, saat kembali mendorong batas itu jadi lebih jauh,” ujar Martin.

Ia mengakui saat tampil di COTA, kondisi fisiknya sudah berada di ambang batas, sehingga membutuhkan waktu istirahat agar performanya tetap stabil sepanjang musim.

Strategi Hemat Energi Berbuah Manis di COTA

Saat menjalani akhir pekan di Amerika Serikat, Martin mengaku fokus utamanya bukan hanya menang, tetapi memastikan bisa menyelesaikan balapan dengan aman.

Pendekatan itu terbukti efektif. Ia berhasil mencatat kemenangan Sprint pertamanya bersama Aprilia dengan menyalip pembalap Francesco Bagnaia pada lap terakhir, berkat strategi pemilihan ban belakang yang cerdas.

Tak berhenti di situ, pada balapan utama Grand Prix, Martin kembali tampil solid dengan finis di posisi kedua di belakang rekan setimnya, Marco Bezzecchi.

Hasil tersebut membuat Martin pulang ke Eropa hanya tertinggal empat poin dari Bezzecchi yang memimpin klasemen sementara.

Dua Gaya Berbeda, Satu Tujuan Juara Dunia

Menariknya, meski berasal dari tim yang sama, Martin dan Bezzecchi memiliki pendekatan berbeda dalam meraih poin.

Bezzecchi tampil dominan dengan memenangi tiga Grand Prix berturut-turut, meski sempat terjatuh di dua Sprint Race. Sementara itu, Martin menunjukkan konsistensi tinggi dengan selalu finis di enam balapan pertama, mengoleksi satu kemenangan Sprint dan dua podium Grand Prix.

Perbedaan gaya ini berpotensi menciptakan duel internal yang menarik sepanjang musim, terutama jika keduanya bersaing ketat dalam perebutan gelar juara dunia.

Motivasi Tambahan Usai Drama Kontrak

Musim lalu menjadi periode sulit bagi Martin, bukan hanya secara profesional tetapi juga secara personal. Ia sempat menghadapi dinamika kontrak yang cukup kompleks sebelum akhirnya memutuskan tetap bersama Aprilia untuk musim 2026.

“Tahun lalu sangat berat, baik secara profesional maupun personal. Tapi saat saya membuat keputusan, saya langsung menjalankannya 100 persen,” ungkap Martin.

Ia juga menegaskan bahwa dukungan penuh dari tim Aprilia membuatnya mampu tampil maksimal sejauh ini.

Menurutnya, jika progres performa saat ini bisa terus dijaga, peluang untuk meraih pencapaian besar di akhir musim sangat terbuka.

Pengalaman Juara Jadi Modal Mental Penting

Martin bukan sosok baru dalam menghadapi tekanan tinggi. Ia sudah membuktikan kemampuannya dengan meraih gelar juara dunia MotoGP musim 2024 bersama tim Prima Pramac Racing, meski saat itu sudah menandatangani kontrak dengan Aprilia.

Pengalaman tersebut menjadi bekal mental penting dalam menghadapi musim panjang yang penuh tantangan.

Ke depan, Martin juga diperkirakan akan bergabung dengan Yamaha Factory Racing Team pada era mesin baru 850cc yang dijadwalkan mulai tahun 2027.

Dampak Jeda Panjang: Risiko dan Peluang

Jeda panjang di tengah musim memang membawa dua sisi berbeda. Di satu sisi, tim-tim rival seperti Ducati punya waktu untuk mengejar ketertinggalan. Namun di sisi lain, pembalap yang membutuhkan pemulihan fisik seperti Martin bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk kembali ke kondisi terbaik.

Jika kondisi fisiknya benar-benar pulih, bukan tidak mungkin performa Martin akan semakin stabil di paruh kedua musim.

Dan jika konsistensi tetap terjaga, peluang perebutan gelar dunia bisa menjadi lebih sengit dari yang diperkirakan.

FAQ

1. Mengapa jeda panjang MotoGP dianggap penting bagi Jorge Martin?
Karena ia masih dalam masa pemulihan cedera. Waktu istirahat tambahan membantu tubuhnya pulih dan meningkatkan performa fisik.

2. Apa pencapaian Jorge Martin di seri COTA?
Ia memenangkan Sprint Race dan finis kedua pada balapan Grand Prix utama.

3. Siapa pesaing terdekat Jorge Martin saat ini?
Rekan setimnya di Aprilia, Marco Bezzecchi, yang memimpin klasemen sementara.

4. Apakah Jorge Martin akan tetap di Aprilia?
Untuk musim 2026 ia tetap bersama Aprilia, namun diperkirakan pindah ke Yamaha pada era 850cc tahun 2027.

5. Apa dampak jeda panjang bagi tim lain?
Tim rival seperti Ducati mendapatkan waktu tambahan untuk memperbaiki performa dan strategi.

Sabtu, 28 Maret 2026

Marc Marquez Tercepat di Latihan Bebas US GP Meski Alami Kecelakaan Seram

Marc Marquez memimpin FP2 US GP setelah crash FP1. Simak performa, drama, dan rider tercepat lainnya di latihan bebas MotoGP COTA terbaru.
Marc Marquez memimpin FP2 US GP setelah crash FP1. Simak performa, drama, dan rider tercepat lainnya di latihan bebas MotoGP COTA terbaru.

JAKARTA -- Marc Marquez, sang juara dunia MotoGP, kembali bikin geger di United States Grand Prix (COTA). Meski sempat mengalami kecelakaan menegangkan di sesi FP1, rider pabrikan Ducati ini berhasil bangkit dan menutup hari sebagai yang tercepat di sesi latihan bebas.

Pada Jumat pagi, Marc Marquez mengalami highside dengan kecepatan 190 km/jam. Beruntung, ia hanya menderita memar di tangan dan bisa melanjutkan sesi latihan. Awal latihan bebas penuh drama, karena enam lap pertamanya dibatalkan akibat bendera kuning. 

Namun, Marc menunjukkan performa luar biasa di GP26-nya, mencatatkan waktu 2m00.927s dengan ban soft di menit-menit terakhir, menjadikannya yang tercepat hari itu.

Sesi satu jam itu sendiri dipenuhi kecelakaan: Fabio Di Giannantonio, Jorge Martin, Enea Bastianini, Franco Morbidelli, Pedro Acosta, dan Ai Ogura semuanya jatuh dalam 10 menit pertama. Total sembilan pembalap terjatuh saat suhu lintasan meningkat di sore hari.

Ai Ogura sempat diperiksa karena kecelakaan saat bendera kuning berkibar, tapi tidak ada sanksi lanjutan. Ogura justru finis kedua dengan 2m00.980s, sementara Di Giannantonio melengkapi podium tiga tercepat.

Pimpinan klasemen sementara Marco Bezzecchi finis keempat, diikuti Alex Marquez di posisi kelima meski sempat jatuh. Pedro Acosta berada di urutan keenam, diikuti Jorge Martin ketujuh. Pecco Bagnaia sempat tertinggal, tapi berhasil naik ke posisi kedelapan menjelang akhir sesi.

Rider Honda Luca Marini mengalami momen menegangkan di waktu terakhirnya, sementara Enea Bastianini dari Tech3 KTM berada di urutan kesembilan. Joan Mir hampir lolos ke Q2 dan akan bersaing di Q1 bersama Fermin Aldeguer dan Raul Fernandez.

Fabio Quartararo menjadi Yamaha tercepat di posisi 15, sedangkan Alex Rins tertinggal 2,1 detik dari Marc Marquez. Toprak Razgatlioglu dari Pramac mengalami kecelakaan dan menutup latihan di posisi 18.

Kejadian ini menegaskan bahwa MotoGP selalu penuh drama, bahkan untuk juara dunia seperti Marc Marquez. Dengan performa luar biasa di FP2, Marc siap kembali bersaing sengit di COTA untuk perebutan posisi pole dan podium.

Rabu, 18 Maret 2026

MotoGP 2027 Pindah ke Adelaide, Pecco Bagnaia Siap Asal Aman dan Seru

Pecco Bagnaia setuju MotoGP pindah ke Adelaide 2027 asal balapan aman, seru, dan bukan di parking lot. Simak tanggapan lengkapnya di sini!
Pecco Bagnaia setuju MotoGP pindah ke Adelaide 2027 asal balapan aman, seru, dan bukan di parking lot. Simak tanggapan lengkapnya di sini!

JAKARTA -- Ducati’s Pecco Bagnaia baru-baru ini buka suara soal rencana MotoGP memindahkan Australian Grand Prix dari Phillip Island ke sirkuit jalanan di Adelaide mulai 2027. Bagnaia mengaku santai asal balapan tetap aman dan seru, bukan sekadar di “parking lot”.

Keputusan ini sempat bikin heboh fans dan masyarakat lokal Phillip Island, karena dipastikan berdampak pada ekonomi setempat. MotoGP Sports Entertainment menegaskan bahwa sirkuit Adelaide, yang merupakan versi modifikasi dari sirkuit Formula 1 era 1980-an dan 1990-an, sudah memenuhi standar keselamatan modern.

Dalam wawancara eksklusif dengan GPOne, Bagnaia menyatakan setuju selama sirkuit tetap aman dan balapan bisa digelar dengan atmosfer menyenangkan.

“Kalau lintasannya aman dan kita bisa balapan dalam setting yang fun tanpa harus di parking lot, gue oke banget,” ujar Bagnaia.

“Gue sudah lihat layout sirkuit Adelaide; terlihat lumayan. Jelas lebih baik dari Balaton Park yang seperti parking lot.”

Meski berat melepas Phillip Island yang legendaris, Bagnaia menilai pindah ke Adelaide bisa jadi pengalaman berbeda dan menarik.

Selain membahas MotoGP, Bagnaia juga memuji Andrea Kimi Antonelli, pembalap Formula 1 baru yang sukses membawa Mercedes menang di GP China. Menurut Bagnaia, Antonelli punya potensi besar meski baru 19 tahun dan pernah latihan bareng di Valentino Rossi Academy.

“Dia keren banget, baru 19 tahun, tapi sudah masuk nama besar. Dengan Mercedes, posisinya maksimal,” ujar Bagnaia.

“Sayang di sprint kena penalti. Gue sudah nge-text dia, tapi pasti banjir pesan. Mudah-mudahan sekarang dia di San Marino, bisa ketemu lebih sering.”

Bagnaia sendiri bakal kembali balapan akhir pekan ini di Brazilian Grand Prix, setelah awal musim MotoGP yang cukup menantang di Thailand.

Rabu, 15 Oktober 2025

Pecco Bagnaia Akui Kehilangan Jati Diri di Musim 2025: “Saya Tak Mengenali Diri Sendiri”

Pecco Bagnaia Akui Kehilangan Jati Diri di Musim 2025: “Saya Tak Mengenali Diri Sendiri”

JAKARTA - Pebalap MotoGP asal Italia, Francesco “Pecco” Bagnaia, akhirnya angkat bicara soal performanya yang menurun drastis di musim 2025. Juara dunia dua kali itu mengaku sempat merasa tidak mengenali dirinya sendiri selama berjuang menemukan kembali performa terbaik di atas motor Ducati GP25.

Musim ini menjadi salah satu yang paling sulit bagi Bagnaia. Sejak awal, ia tampak kesulitan beradaptasi dengan karakter baru motor GP25 yang berbeda dari versi sebelumnya. Hasilnya pun jauh dari ekspektasi: dari 18 seri yang sudah digelar, Bagnaia hanya berhasil meraih dua kemenangan grand prix, jauh berbeda dari 11 kemenangan tahun lalu.

Sementara itu, rekan setimnya, Marc Marquez, tampil luar biasa dengan mengoleksi 11 kemenangan balapan utama dan 14 kemenangan sprint, membuatnya unggul jauh di klasemen. Dengan empat seri tersisa, Bagnaia kini tertinggal 271 poin dari Marquez sebuah jarak yang nyaris mustahil untuk dikejar.

Setelah sempat menunjukkan tanda-tanda kebangkitan di MotoGP Jepang, di mana ia menggunakan beberapa komponen dari motor GP24, termasuk perangkat pengatur tinggi motor (ride height device), Bagnaia sukses mendominasi akhir pekan tersebut. Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Di seri berikutnya, MotoGP Indonesia, performanya kembali anjlok ia tertinggal hampir 30 detik di sprint race dan terjatuh di balapan utama saat berada di posisi belakang.

Dalam wawancara bersama situs resmi MotoGP, Bagnaia mengaku masa-masa itu sangat berat baginya dan tim:

“Tim saya bekerja keras, para insinyur juga berusaha agar saya bisa menyesuaikan diri dengan motor. Tapi pada akhirnya kami bukan sedang menyesuaikan diri dengan motor, melainkan mencoba mengubah motor itu sendiri,” ungkapnya. 

“Tidak mudah ketika rekan setimmu menang terus sementara kamu gagal tampil baik. Di momen seperti itu, sulit untuk tetap percaya diri. Saya bahkan merasa tidak mengenali diri saya sendiri. Dan banyak orang mulai meragukan kemampuan saya.”

Meski demikian, Bagnaia menegaskan bahwa ia tidak pernah kehilangan kepercayaan diri maupun keyakinan terhadap tim Ducati.

“Saya tidak pernah meragukan Ducati. Saya yakin karier saya dimulai dan akan berakhir di Ducati. Jika motor saya sudah terasa pas, saya yakin bisa kembali bersaing untuk menang,” ujarnya penuh optimisme.

Meski musim 2025 berjalan berat, semangat Bagnaia belum padam. Ia bertekad menutup musim dengan hasil terbaik dan kembali menemukan performa yang membuatnya dua kali menjadi juara dunia.

Minggu, 12 Oktober 2025

Pecco Bagnaia Surprised to Be Marc Marquez’s Teammate at Ducati, But Says It’s Been a Positive Experience

Pecco Bagnaia Surprised to Be Marc Marquez’s Teammate at Ducati, But Says It’s Been a Positive Experience
Pecco Bagnaia Surprised to Be Marc Marquez’s Teammate at Ducati, But Says It’s Been a Positive Experience.

Double MotoGP world champion Pecco Bagnaia admitted he was surprised that being Marc Marquez’s teammate at the Ducati factory team in 2025 turned out to be a much more positive experience than he expected.

Marc Marquez made headlines in the rider market last year when he publicly rejected an offer to join the Pramac Ducati team for the 2025 season, insisting that he wanted a full factory bike—either with Gresini or the official Ducati team.

Eventually, Ducati gave in to his demands and signed Marquez to the factory squad, forcing the team to reverse its earlier plan to promote 2024 world champion Jorge Martin.

When Marquez joined Ducati, many expected sparks to fly between him and Bagnaia. But the reality has been quite the opposite.

This season, Bagnaia has struggled to match Marquez’s performance. The six-time MotoGP world champion has been dominant and is on track to secure the 2025 title, while Bagnaia has only managed two Grand Prix victories so far—down from 11 wins last season.

In an interview with Gazzetta dello Sport, Bagnaia dismissed claims that having Marquez as a teammate had affected him psychologically.

“At first, I was a little worried,” Bagnaia said. “He used to say that he liked to mess with his teammates, but instead, it’s been the opposite. It’s actually been very positive. My experience working with him has been really enjoyable.”

Bagnaia also shared a fun moment they had together in Japan after Marquez clinched his seventh world title. “We went to a karaoke bar, drank sake, and had a good time. Marc is one of the strongest riders in history. In recent years, he’s been dominant. You can only learn from someone like him,” he added.

Meanwhile, Marquez will miss the upcoming Australian and Malaysian Grands Prix due to a right shoulder injury sustained in a first-lap crash with Marco Bezzecchi during the Indonesian round. Ducati’s test rider Michele Pirro will fill in for Marquez, though for now, only for the Australian Grand Prix.

Bagnaia seemed to make progress in Japan when he performed strongly on a bike fitted with several GP24 parts that helped him regain lost confidence. However, in Mandalika, he struggled again, dropping down the order and recording two DNFs.

“We tried many things, but for some reason, nothing clicked. It’s been a tough season, but I’m still pushing to find a solution,” Bagnaia admitted.

Although this season hasn’t gone as planned, the good relationship between Ducati’s star riders has become one of MotoGP’s most unexpected storylines. Instead of turning into bitter rivals, Bagnaia and Marquez have shown respect and teamwork both on and off the track.

Pecco Bagnaia Akui Kaget Jadi Rekan Setim Marc Marquez di Ducati, Tapi Justru Dapat Banyak Hal Positif

Pecco Bagnaia Akui Kaget Jadi Rekan Setim Marc Marquez di Ducati, Tapi Justru Dapat Banyak Hal Positif
Pecco Bagnaia Akui Kaget Jadi Rekan Setim Marc Marquez di Ducati, Tapi Justru Dapat Banyak Hal Positif.

JAKARTA - Pecco Bagnaia, juara dunia MotoGP dua kali, mengaku terkejut karena pengalaman menjadi rekan setim Marc Marquez di tim pabrikan Ducati pada musim 2025 ternyata jauh lebih positif dari yang ia bayangkan.

Marc Marquez sempat menjadi sorotan besar di bursa pembalap tahun lalu. Ia secara terbuka menolak tawaran bergabung dengan tim Pramac Ducati untuk musim 2025 dan menuntut agar bisa membalap dengan motor pabrikan, baik di tim Gresini atau langsung di tim utama Ducati.

Akhirnya, Ducati mengabulkan keinginan Marquez dan merekrutnya ke tim pabrikan. Keputusan ini membuat Ducati harus mengubah rencana awal mereka yang sebelumnya ingin mempromosikan Jorge Martin, juara dunia 2024, ke tim utama.

Dengan bergabungnya Marquez ke Ducati, banyak yang memprediksi akan terjadi rivalitas panas antara dirinya dan Pecco Bagnaia. Namun kenyataannya justru berbeda.

Musim ini, Bagnaia memang kesulitan menandingi performa Marquez. Sang juara dunia enam kali MotoGP itu tampil dominan dan sudah hampir memastikan gelar juara dunia 2025. Sementara Bagnaia hanya mampu meraih dua kemenangan grand prix sejauh ini, jauh menurun dibanding 11 kemenangan yang ia raih musim lalu.

Dalam wawancaranya bersama Gazzetta dello Sport, Bagnaia membantah isu bahwa kehadiran Marquez membuatnya tertekan secara mental.

“Awalnya, saya sempat khawatir,” kata Bagnaia. “Dia pernah bilang kalau dia suka mengganggu bahkan rekan setimnya sendiri. Tapi ternyata berbeda, dia justru sangat positif. Pengalamanku bersamanya sebagai rekan setim sangat menyenangkan.”

Bagnaia juga menceritakan momen santai mereka di Jepang setelah Marquez meraih gelar juara dunia ketujuhnya. “Kami pergi ke bar karaoke, minum sake, dan bersenang-senang. Marc adalah salah satu pembalap terkuat dalam sejarah. Dalam beberapa tahun terakhir, dia benar-benar mendominasi. Dari dia, kamu hanya bisa belajar banyak,” tambahnya.

Sementara itu, Marc Marquez akan absen di dua seri berikutnya, yaitu Grand Prix Australia dan Malaysia. Ia mengalami cedera bahu kanan setelah terlibat insiden di lap pertama bersama Marco Bezzecchi pada balapan di Indonesia. Ducati menunjuk pembalap tes Michele Pirro untuk menggantikan Marquez, meski sejauh ini hanya untuk seri Australia.

Bagnaia sendiri sempat menunjukkan tanda-tanda kebangkitan di Jepang setelah tampil impresif dengan motor yang sudah menggunakan beberapa komponen dari GP24. Namun di Mandalika, performanya kembali menurun drastis dan gagal finis dua kali. Ia pun mengaku belum tahu apa penyebabnya.

“Kami sudah mencoba banyak hal, tapi entah kenapa semuanya terasa tidak nyambung. Ini musim yang sulit, tapi saya tetap berusaha mencari solusi,” ujar Bagnaia.

Meski musim ini tidak berjalan mulus, hubungan baik antara dua pembalap top Ducati ini menjadi cerita menarik di paddock MotoGP. Bukannya menjadi rival sengit, keduanya justru menunjukkan rasa saling menghormati dan semangat kerja sama yang tinggi.

Minggu, 24 Agustus 2025

Marc Marquez Tak Terbendung, Juara Sprint MotoGP Hungaria 2025

Marc Marquez kembali menunjukkan dominasinya di MotoGP 2025 dengan menjuarai sprint race Grand Prix Hungaria di Sirkuit Balaton, Sabtu (23/8/2025). Rider Ducati pabrikan itu mengalahkan duo VR46, Fabio Di Giannantonio dan Franco Morbidelli, lewat penampilan nyaris tanpa cela.

Sejak start dari pole position, Marquez langsung melesat meninggalkan rombongan pembalap lain. Meski sempat lolos dari insiden di tikungan pertama akibat manuver agresif Fabio Quartararo, juara dunia delapan kali itu tetap tenang dan menjaga jarak. Dalam beberapa lap awal, jarak Marquez dengan Di Giannantonio sempat di bawah satu detik, namun perlahan melebar hingga lebih dari dua detik. Sprint 13 lap itu akhirnya ditutup dengan kemenangan ke-13 Marquez musim ini, unggul 2,095 detik di depan Diggia.

Marc Marquez Tak Terbendung, Juara Sprint MotoGP Hungaria 2025
Marc Marquez Tak Terbendung, Juara Sprint MotoGP Hungaria 2025.

“Balapan ini cukup rumit di awal karena ada insiden di Turn 1, tapi saya beruntung bisa terhindar. Setelah itu ritme motor saya sangat baik dan saya bisa menjaga gap sampai akhir,” ujar Marquez seusai balapan, dikutip dari rilis resmi Ducati. “Peringatan track limits memang sempat mengganggu, tapi tidak berpengaruh pada hasil akhir.”

Sementara itu, Fabio Di Giannantonio mengaku puas bisa finis kedua di belakang rekan satu pabrikan Italia. “Saya mencoba menempel Marc di lap awal, tapi kecepatannya luar biasa. Finis podium bersama tim VR46 tetap hasil positif,” ucap Diggia. Morbidelli yang menempati podium ketiga juga menambahkan bahwa kecepatan Ducati memang sulit dilawan, meski dirinya sempat mendapat tekanan dari Luca Marini (Honda) sebelum berhasil mengamankan posisi.

Di belakang mereka, Fermin Aldeguer (Gresini Ducati) finis kelima, Joan Mir (Honda) keenam, dan Marco Bezzecchi (Aprilia) ketujuh. Alex Marquez hanya mampu finis kedelapan setelah start dari posisi 11, sementara juara bertahan Jorge Martin (Aprilia) harus puas di urutan kesembilan meski start dari posisi 17. Nasib sial dialami Pecco Bagnaia yang masih berjuang menemukan setelan motor ideal. Meski mencoba konfigurasi baru, Bagnaia hanya mampu finis ke-13.

Balapan sprint ini juga diwarnai drama besar di awal. Quartararo terlalu agresif saat masuk tikungan pertama, membuat kontak dengan Enea Bastianini (Tech3 KTM) dan memaksa Marco Bezzecchi mengerem mendadak. Tak lama setelah itu, Bastianini menabrak Johann Zarco (LCR Honda) di Turn 12 dan membuat keduanya gagal finis. Insiden-insiden tersebut kini masih dalam penyelidikan FIM Stewards.

Dengan hasil ini, Marc Marquez semakin menjauh di puncak klasemen MotoGP 2025 dengan selisih 152 poin dari adiknya, Alex Marquez. Peluang Marquez mengunci gelar juara dunia musim ini makin terbuka lebar meski balapan utama Minggu besok masih menanti.

Marc Marquez Rebut Pole Hungarian MotoGP 2025, Pecco Bagnaia Terpuruk di Posisi 15

Marc Marquez tampil luar biasa dengan merebut pole position pada kualifikasi MotoGP Hungaria 2025 di Balaton Park, Sabtu (23/8/2025). Sang pemimpin klasemen itu mengunci start terdepan usai catatan waktunya tak mampu dikejar rival, sementara rekan setimnya di Ducati, Francesco “Pecco” Bagnaia, justru terseok-seok hingga hanya mampu finis di posisi 15 hasil terburuknya sepanjang musim ini.

Kualifikasi berlangsung dramatis. Marquez sejatinya diprediksi bakal bersaing ketat dengan bintang muda KTM, Pedro Acosta, setelah keduanya tampil konsisten sejak sesi latihan Jumat. Namun duel itu batal terwujud ketika Acosta terjatuh di tikungan cepat Turn 8 saat baru memulai putaran cepatnya. Walau tidak cedera, insiden itu membuatnya kehilangan momentum dan harus puas menutup sesi di posisi ketujuh.

Marquez sendiri melesat sejak awal. Catatan waktunya 1 menit 36,822 detik langsung menempatkan dirinya di puncak, meski sempat harus membatalkan putaran kedua karena melebar melebihi track limit. Tak menyerah, ia kemudian mencetak 1 menit 36,646 detik, sebelum mengunci pole dengan torehan impresif 1 menit 36,518 detik. Itu menjadi pole kedelapan bagi Marquez musim ini dan mempertegas dominasinya di balapan tahun 2025.

Di belakangnya, kejutan datang dari Marco Bezzecchi yang sukses meloloskan diri dari Q1 dan menempati posisi kedua, hanya terpaut 0,290 detik dari Marquez. Fabio Di Giannantonio dari tim VR46 melengkapi barisan depan dengan menempati grid ketiga. KTM tetap punya wakil di barisan depan lewat Enea Bastianini yang berada di posisi keempat, sementara Franco Morbidelli (VR46) dan Fabio Quartararo (Yamaha) mengisi posisi lima dan enam.

Nasib berbeda dialami Bagnaia. Juara dunia dua kali itu kesulitan sejak awal kualifikasi dan bahkan gagal lolos dari Q1 untuk pertama kalinya musim ini. Ia hanya mampu menempati urutan ke-15, meski nantinya akan sedikit beruntung karena mendapat promosi dua posisi ke grid 13 akibat penalti pembalap lain. Namun hasil ini jelas menjadi pukulan bagi Bagnaia yang belakangan tengah berusaha mengejar ketertinggalan poin dari Marquez di klasemen sementara.

Kualifikasi juga diwarnai insiden lain. Alex Marquez yang tampil di atas Ducati Gresini hanya mampu mencatat posisi 11, namun harus menerima penalti turun tiga grid akibat menghalangi pembalap lain di sesi latihan Jumat. Pol Espargaro yang menjadi pembalap pengganti Tech3 terjatuh di akhir Q2 dan akhirnya start dari posisi 12. Sedangkan Jorge Martin, juara dunia bertahan, masih kesulitan dengan motor Aprilia-nya dan hanya mampu bertengger di posisi 17.

Jumat, 15 Agustus 2025

Pecco Bagnaia Kaget Usai Tonton Ulang Balapan Lama, Janji Bangkit di MotoGP Austria 2025

Spielberg – Juara dunia MotoGP dua kali, Francesco "Pecco" Bagnaia, mengaku terkejut setelah menonton ulang balapan-balapan lamanya saat jeda musim panas 2025. 

Pebalap Ducati Lenovo itu menemukan performanya tahun ini “tidak bisa dibandingkan” dengan musim-musim sebelumnya. 

Jelang MotoGP Austria di Red Bull Ring akhir pekan ini, Bagnaia bertekad mengembalikan kecepatannya dan kembali bersaing memperebutkan kemenangan.

Bagnaia yang kini tertinggal 168 poin dari rekan setimnya, Marc Marquez, hanya mampu meraih satu kemenangan dari 12 seri musim ini. 

Sebaliknya, Marquez sudah mengantongi delapan kemenangan dan berada di puncak klasemen. 

Masalah terbesar Bagnaia adalah ketidakmampuannya mengerem sekeras biasanya di atas motor GP25, yang membuatnya kesulitan bertarung di barisan depan.

Pecco Bagnaia Kaget Usai Tonton Ulang Balapan Lama, Janji Bangkit di MotoGP Austria 2025
Pecco Bagnaia Kaget Usai Tonton Ulang Balapan Lama, Janji Bangkit di MotoGP Austria 2025.

“Saya melihat banyak balapan dari tahun lalu dan sebelumnya. Saat itu saya sangat kompetitif, bisa mengikuti, menyalip, dan mengerem super keras. Tahun ini saya seperti Pecco yang berbeda, tidak ada yang bisa dibandingkan. Jadi saya ingin mengubah itu dan kembali seperti tahun lalu,” ujar Bagnaia dikutip dari motogp.com, Kamis (14/8).

Bagnaia juga mengakui gaya balapnya saat ini tidak cocok dengan karakter Ducati 2025. “Dengan motor ini saya tidak bisa mengerem seperti yang saya mau. Ini perbedaan terbesar sejak 2021 saat saya bergabung di tim pabrikan. Jadi saya harus beradaptasi dan mengubah sesuatu,” tambahnya. 

Pebalap Italia itu menghabiskan libur musim panas dengan beristirahat di Sardinia bersama keluarga, lalu kembali berlatih keras untuk mempersiapkan paruh kedua musim yang ia sebut akan sangat intens.

Bagnaia memiliki catatan impresif di Red Bull Ring dengan tiga kemenangan beruntun di MotoGP Austria, sementara Marc Marquez belum pernah naik podium teratas di sirkuit ini. 

Kemenangan di Spielberg bisa menjadi titik balik bagi Bagnaia untuk memangkas jarak poin dan menghidupkan kembali peluangnya di klasemen, meski tugas tersebut berat mengingat dominasi Marquez musim ini. Semua mata akan tertuju pada apakah “Pecco lama” benar-benar kembali akhir pekan ini.

Senin, 11 Agustus 2025

Pecco Bagnaia Hadapi Tantangan Rem di MotoGP Austria, Marquez Tetap Diunggulkan

JAKARTA - Francesco “Pecco” Bagnaia tiba di Red Bull Ring, Austria, akhir pekan ini (16–18 Agustus 2025) dengan misi mempertahankan rekor lima kemenangan beruntun di sirkuit tersebut. Namun, masalah pengereman pada motor Ducati GP25 yang dialaminya sepanjang musim mengancam peluangnya, apalagi sang rival Marc Marquez sedang memimpin klasemen dengan dominasi penuh.

Bagnaia, juara dunia dua kali, sebelumnya dikenal punya keunggulan besar di sektor pengereman keras kunci kemenangannya di tiga Grand Prix dan dua Sprint terakhir di Austria sejak 2022. Namun musim ini, performa itu justru melemah. Saat berbicara di Brno, ia mengaku harus mengubah gaya balapnya karena motor tidak lagi mendukung pengereman ekstrem.

Pecco Bagnaia Hadapi Tantangan Rem di MotoGP Austria, Marquez Tetap Diunggulkan
Pecco Bagnaia Hadapi Tantangan Rem di MotoGP Austria, Marquez Tetap Diunggulkan.

“Saya selalu mengandalkan pengereman. Sekarang, itu justru salah satu bagian terlemah. Kami memang mencoba beberapa solusi, seperti mengganti pompa rem untuk meniru efek cakram 355mm, dan hasilnya lebih baik, tapi belum sepenuhnya memecahkan masalah,” ujar Bagnaia.

Red Bull Ring termasuk tiga trek bersama Buriram dan Motegi yang mewajibkan penggunaan cakram rem terbesar 355mm demi alasan keselamatan. Layout sirkuit yang stop-and-go membuat sektor pengereman sangat krusial, sehingga balapan kali ini menjadi ujian apakah Ducati berhasil menemukan solusi saat jeda musim panas.

Sementara itu, Marc Marquez tampil luar biasa dengan sembilan kemenangan dari 12 Grand Prix dan mengantongi selisih 168 poin dari Bagnaia di klasemen. Jika Bagnaia gagal menemukan performa pengereman optimal, fokusnya bisa beralih ke perebutan posisi kedua melawan Alex Marquez yang kini unggul 48 poin. Balapan Austria juga akan menjadi indikator besar arah perebutan gelar MotoGP 2025, terutama jika Marquez kembali menguasai sirkuit yang biasanya menguntungkan gaya balap Bagnaia.

Penulis: Heri Yakop

Minggu, 20 Juli 2025

Kesialan Beruntun Pecco Bagnaia: Salah Sinyal, Gagal Podium

Kesialan Beruntun Pecco Bagnaia: Salah Sinyal, Gagal Podium
Kesialan Beruntun Pecco Bagnaia: Salah Sinyal, Gagal Podium.

JAKARTA - Pecco Bagnaia mengalami hari yang penuh drama di balapan sprint MotoGP Ceko. Ia awalnya tampil menjanjikan dengan meraih pole position pertamanya musim ini, tapi justru harus puas finis di posisi ketujuh akibat kesalahan teknis pada motornya.

Masalah bermula ketika dashboard motornya memberikan peringatan bahwa tekanan ban depan berada di bawah batas yang diperbolehkan. Akibatnya, Pecco pun memutuskan untuk mengalah dan membiarkan pembalap lain menyalip demi menaikkan tekanan ban—sebuah strategi yang biasa digunakan untuk menghindari hukuman. Namun sayangnya, upaya itu sia-sia.

“Sayangnya, saya dapat peringatan di dashboard kalau tekanan ban saya di bawah batas minimum,” ungkap Pecco kepada motogp.com. “Saya biarkan beberapa rider menyalip, tapi pesan itu tetap muncul. Saya benar-benar yakin akan kena penalti.”

Namun setelah balapan selesai, tim Ducati menemukan bahwa motor Pecco sebenarnya mengalami gangguan elektronik yang membuat sensor tekanan ban memberikan data yang salah. Data telemetri menunjukkan bahwa tekanan ban sudah sesuai sejak lap kedua!

Masalah Elektronik Jadi Biang Kerok

Pecco mengaku bahwa sejak awal, dashboard motornya sudah bermasalah. Timnya sebenarnya sudah mencoba memperbaiki pengaturan elektronik sebelum start, tapi kemungkinan ada konfigurasi yang tidak normal.

“Seharusnya saya tidak perlu membiarkan rider lain lewat karena tekanan ban saya sebenarnya sudah sesuai,” jelasnya. “Tapi saya tetap lakukan karena motor saya terus menyuruh begitu. Situasinya benar-benar sial.”

Perbandingan dengan Marc Marquez

Marc Marquez pun sempat mengalami situasi serupa dalam sprint tersebut. Ia terlihat membiarkan Pedro Acosta menyalip sebelum mengambil alih posisi lagi demi mengatur tekanan ban. Namun berbeda dengan Pecco, strategi Marquez berhasil dan ia justru keluar sebagai pemenang sprint.

“Marc saya lihat sempat di bawah batas tekanan, tapi dia biarkan Pedro lewat, tekanannya naik, lalu dia salip lagi. Jadi dia lakukan strategi normal. Saya coba lakukan hal sama, tapi tidak berhasil,” kata Pecco, pasrah.

Ambil Sisi Positif Meski Gagal Podium

Meski kehilangan kesempatan besar naik podium, Pecco tetap berusaha mengambil pelajaran positif dari hari itu. Ia merasa bisa memahami gaya balap Marc Marquez dengan lebih baik karena sempat mengikutinya cukup lama di lintasan.

“Kalau dipikir-pikir, saya cukup senang dengan hari ini karena untuk pertama kalinya saya bisa bertarung untuk pole,” ujarnya. “Saya berhasil dapat pole, dan sempat berada di belakang Marc cukup lama untuk memahami beberapa hal. Itu penting.”

Namun Pecco mengakui bahwa menjelang akhir sprint, ia kehilangan fokus akibat masalah tekanan ban yang tidak kunjung membaik.

Pecco masih optimistis menghadapi balapan utama. Ia menyebut akan lebih fokus mengatur grip ban belakang, terutama di awal lomba.

“Besok pasti akan berbeda. Kami harus lebih kontrol ban belakang di awal balapan, kita lihat saja nanti,” pungkasnya.

Senin, 07 Juli 2025

Ducati Hadiahi Pecco Bagnaia Motor Flat Track Spesial untuk Latihan di Ranch Valentino Rossi

Ducati Hadiahi Pecco Bagnaia Motor Flat Track Spesial untuk Latihan di Ranch Valentino Rossi
Ducati Hadiahi Pecco Bagnaia Motor Flat Track Spesial untuk Latihan di Ranch Valentino Rossi.

JAKARTA - Ducati baru saja memberikan kejutan spesial untuk pembalap andalannya, Pecco Bagnaia. Demi mendongkrak performa sang juara bertahan MotoGP yang sedang kesulitan, pabrikan asal Italia ini menghadiahkan sebuah motor flat track edisi khusus: Desmo450 MX.

Motor ini bukan sembarang motor, lho. Desmo450 MX dirancang khusus dengan suspensi dan kit roda yang sudah disesuaikan untuk lintasan flat track. Artinya, saat Bagnaia kembali berlatih di ranch milik Valentino Rossi di Tavullia, ia bakal menggunakan motor Ducati yang benar-benar unik dan beda dari yang lain.

Ini jelas jadi kabar menarik, apalagi dengan performa Bagnaia yang belum stabil di musim 2025 ini. Semua mata kini tertuju ke markas VR46—bukan hanya karena tempat latihan legendarisnya, tapi juga karena penasaran melihat aksi Bagnaia menggeber motor baru ini.

Performa Masih Naik Turun, Bagnaia Perlu Dorongan Tambahan

Sejauh ini, perjalanan Bagnaia di musim ini memang belum sesuai harapan. Ia tampak kesulitan menjinakkan motor Ducati versi terbaru (spesifikasi 2025), bahkan dibandingkan dengan rekan setim barunya, Marc Marquez, yang justru langsung nyetel dengan motor pabrikan tersebut.

Yang lebih mengejutkan, Bagnaia bahkan kalah cepat dari Alex Marquez dari tim Gresini, yang hanya memakai motor versi tahun lalu. Saat ini, Bagnaia tertinggal 126 poin dari Marc Marquez yang memimpin klasemen MotoGP, dan juga 58 poin dari Alex Marquez yang berada di posisi kedua.

Meski begitu, ada sedikit titik terang. Di seri terakhir yang digelar di Assen, Bagnaia berhasil naik podium. Hasil tersebut diharapkan bisa mengangkat kembali semangat dan kepercayaan dirinya.

Namun perjuangan belum selesai. Selanjutnya, Bagnaia akan berlaga di Sachsenring, sirkuit yang dikenal sebagai ‘kandangnya’ Marc Marquez. Tantangan ini jelas berat, tapi bisa menjadi momen pembuktian apakah latihan ekstra dengan motor flat track barunya bisa membawa perubahan nyata.

Apakah hadiah spesial dari Ducati ini akan menjadi titik balik bagi Pecco Bagnaia di sisa musim ini? Patut dinantikan!

Jumat, 20 Juni 2025

Pecco Bagnaia Siap Bertarung di Mugello Tanpa Cakram Besar, Tetap Incar Kemenangan!

Pecco Bagnaia Siap Bertarung di Mugello Tanpa Cakram Besar, Tetap Incar Kemenangan!
Pecco Bagnaia Siap Bertarung di Mugello Tanpa Cakram Besar, Tetap Incar Kemenangan!

Mugello, Italia – Francesco "Pecco" Bagnaia datang ke Grand Prix Italia 2025 dengan semangat tinggi dan rasa percaya diri, meskipun ia memilih untuk tidak menggunakan cakram rem karbon besar 355mm yang sebelumnya membantunya tampil kompetitif di Aragon.

Meski hanya finis ketiga di Aragon, performa tersebut dianggap cukup impresif. Bagnaia bahkan menyebut bahwa peningkatan performanya saat itu dipengaruhi oleh penggunaan cakram rem 355mm lebih besar dari ukuran standar 340mm. 

Namun di Mugello, rider andalan Ducati ini justru memilih untuk kembali ke cakram rem standar 340mm.

Kenapa Pecco Tak Pakai Cakram 355mm di Mugello?

Dalam konferensi pers sebelum balapan, Pecco menjelaskan alasannya dengan cukup santai dan jujur:

"330 (sambil tertawa). Tapi serius, di trek ini lebih sulit pakai cakram 355mm karena suhu rem di Mugello biasanya nggak sampai ke level optimal untuk cakram sebesar itu. Jadi kita bakal mulai pakai cakram standar 340mm Low Mass, dan semoga nggak ketemu masalah seperti sebelumnya."

Menurutnya, meski tikungan San Donato bisa menguntungkan dengan cakram besar karena datang setelah trek lurus terpanjang di kalender MotoGP, Mugello secara keseluruhan hanya punya delapan zona pengereman. 

Itu berarti, lebih sedikit kesempatan untuk menjaga suhu rem tetap panas. Selain itu, tambahan massa dari cakram besar justru bisa jadi beban di tikungan cepat khas Mugello.

Tetap Incar Kemenangan Berkat Pengalaman di Mugello

Meskipun tak pakai teknologi terbaru di bagian rem, bukan berarti Pecco kehilangan keyakinan. Rider asal Italia ini justru mengandalkan feeling dan pengalaman manisnya di Mugello, tempat di mana ia sukses menang tiga kali berturut-turut pada tahun 2022, 2023, dan 2024.

"Feeling yang gue punya di sini selalu positif. Tapi kita juga harus realistis, beberapa balapan terakhir cukup sulit buat gue. Walau di Aragon gue dapat kepercayaan diri lagi, hasilnya ya masih sama kayak awal musim posisi ketiga. Tapi ini bisa jadi titik awal buat balik ke performa terbaik, dan Mugello adalah tempat yang tepat buat mulai lagi."

Fokus Bangun Momentum di Tengah Musim

Bagnaia juga menekankan pentingnya mendapatkan hasil positif di GP Italia ini, bukan hanya karena dukungan fans tuan rumah, tapi juga untuk membangun momentum yang konsisten di pertengahan musim 2025 ini.

"Waktu yang pas buat balapan di sini. Di Aragon memang gue kompetitif, tapi feeling positif bukan cuma datang dari situ. Kita lihat nanti apakah dari awal pekan gue bisa langsung dapet set-up dan feeling yang enak. Balapan di Mugello tuh selalu spesial lihat tribun penuh fans, energinya beda banget. Gue bakal kasih segalanya, dan semoga bisa bersaing sama Marc, yang kayaknya bakal jadi lawan terkuat."

Target: Minimal Podium, Maksimal Kemenangan

Pecco Bagnaia Siap Bertarung di Mugello Tanpa Cakram Besar, Tetap Incar Kemenangan!
Pecco Bagnaia Siap Bertarung di Mugello Tanpa Cakram Besar, Tetap Incar Kemenangan!

Pecco memang tahu betul bahwa balapan di kandang selalu penuh tekanan. Tapi ia juga tahu bagaimana cara mengubah tekanan itu jadi motivasi. 

Targetnya jelas menang kalau bisa, tapi minimal tetap podium untuk menjaga peluang di klasemen dunia.

Dengan tiga kemenangan sebelumnya di sirkuit ini, Pecco bisa dibilang sudah "klik" banget sama Mugello. 

Dan meskipun tidak memaksimalkan teknologi cakram terbaru, ia memilih percaya pada feeling, pengalaman, dan strategi yang pas.

Francesco Bagnaia datang ke Mugello dengan pendekatan yang berbeda, tapi bukan berarti dia tidak siap tempur. 

Dengan strategi matang dan rekam jejak yang mentereng di sirkuit ini, Pecco masih menjadi salah satu favorit utama untuk naik podium bahkan mungkin jadi pemenang lagi di kampung halamannya.