Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Pemasyarakatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemasyarakatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Juni 2026

Tak Mau Pulang dengan Tangan Kosong, Warga Binaan Lapas Banjarmasin Kini Bisa Bikin Lemari

Lapas Banjarmasin membekali warga binaan dengan keterampilan mebel melalui pelatihan pembuatan lemari. Program ini menjadi bekal kerja dan peluang usaha setelah bebas.
Lapas Banjarmasin membekali warga binaan dengan keterampilan mebel melalui pelatihan pembuatan lemari. Program ini menjadi bekal kerja dan peluang usaha setelah bebas.

Lapas Banjarmasin Bekali Warga Binaan dengan Keterampilan Mebel, Siapkan Bekal Kerja Setelah Bebas

BANJARMASIN – Lapas Kelas IIA Banjarmasin terus memperkuat program pembinaan warga binaan melalui pelatihan keterampilan kerja di bidang mebel. Melalui kegiatan pembuatan rak lemari, warga binaan tidak hanya diajarkan kemampuan teknis, tetapi juga dipersiapkan untuk memiliki bekal usaha dan pekerjaan setelah menyelesaikan masa pidana.

Program pembinaan kemandirian ini menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung proses reintegrasi sosial warga binaan. Dengan keterampilan yang memiliki nilai ekonomi dan dibutuhkan masyarakat, peluang untuk kembali produktif setelah bebas diharapkan semakin terbuka.

Keterampilan Mebel Jadi Bekal Produktif bagi Warga Binaan

Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menegaskan bahwa pembinaan keterampilan kerja merupakan bagian penting dari sistem pemasyarakatan modern. Program ini dirancang agar warga binaan memiliki kemampuan yang dapat langsung diterapkan di dunia kerja maupun untuk membuka usaha mandiri.

Menurutnya, sektor mebel masih memiliki prospek yang menjanjikan karena kebutuhan masyarakat terhadap produk furnitur terus ada. Oleh sebab itu, pelatihan pembuatan rak lemari dipilih sebagai salah satu bentuk keterampilan yang aplikatif dan bernilai ekonomi.

Selain menghasilkan produk yang memiliki fungsi nyata, kegiatan ini juga memberikan pengalaman kerja yang dapat menjadi modal berharga ketika warga binaan kembali ke lingkungan sosialnya.

Pelatihan Dimulai dari Dasar hingga Produk Jadi

Dalam pelaksanaannya, warga binaan mendapatkan pelatihan secara bertahap mulai dari pengukuran bahan, pemotongan kayu, perakitan rangka, hingga tahap penyelesaian akhir produk.

Setiap proses dilakukan dengan pendampingan petugas pembinaan sehingga peserta dapat memahami teknik kerja yang benar sekaligus menerapkan standar kualitas dalam pembuatan produk mebel.

Metode pembelajaran praktik langsung seperti ini dinilai efektif karena memberikan pengalaman nyata kepada warga binaan. Mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menghasilkan produk secara mandiri.

Menanamkan Disiplin dan Tanggung Jawab

Program pembinaan kerja di Lapas Banjarmasin tidak semata-mata berorientasi pada hasil produksi. Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Bagus Paras Etika, menjelaskan bahwa pelatihan juga bertujuan membangun karakter positif.

Nilai-nilai seperti disiplin, ketelitian, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama menjadi bagian penting yang ditanamkan selama proses pelatihan berlangsung.

Budaya kerja tersebut dinilai sangat dibutuhkan ketika warga binaan nantinya kembali ke masyarakat dan memasuki dunia kerja. Kemampuan teknis tanpa didukung sikap profesional akan sulit berkembang menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan.

Dukungan Reintegrasi Sosial dan Ekonomi

Pembinaan keterampilan kerja menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung reintegrasi sosial warga binaan. Melalui peningkatan kapasitas kerja, mereka memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan atau bahkan membangun usaha sendiri setelah bebas.

Program seperti ini juga berkontribusi dalam mengurangi risiko pengangguran pasca-pembinaan. Dengan memiliki keterampilan yang jelas dan pengalaman praktik kerja, warga binaan dapat lebih percaya diri menghadapi kehidupan baru di tengah masyarakat.

Selain memberikan manfaat bagi individu, keberhasilan program pembinaan keterampilan juga berpotensi memberikan dampak positif bagi keluarga dan lingkungan sekitar melalui peningkatan kesejahteraan ekonomi.

Warga Binaan Rasakan Manfaat Langsung

Salah seorang warga binaan berinisial SR mengaku memperoleh banyak pengalaman baru selama mengikuti pelatihan mebel tersebut. Ia belajar memahami dasar-dasar pembuatan furnitur hingga mampu merakit rak lemari secara mandiri.

Baginya, keterampilan yang diperoleh tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri untuk menghadapi masa depan setelah menyelesaikan masa pembinaan.

Harapan untuk memiliki pekerjaan atau membuka usaha sendiri menjadi motivasi utama dalam mengikuti program tersebut.

Komitmen Lapas Banjarmasin Mencetak Warga Binaan yang Mandiri

Melalui pelatihan mebel dan berbagai program pembinaan kemandirian lainnya, Lapas Kelas IIA Banjarmasin menunjukkan komitmennya dalam membangun sumber daya manusia yang lebih siap menghadapi kehidupan setelah bebas.

Pembekalan keterampilan kerja tidak hanya membantu warga binaan memperoleh kemampuan teknis, tetapi juga membentuk karakter produktif yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, program pemasyarakatan tidak lagi sekadar menjalani masa hukuman, melainkan menjadi proses pembelajaran yang membuka peluang bagi warga binaan untuk membangun masa depan yang lebih baik dan mandiri.

Sabtu, 25 April 2026

Dari Lapas Untuk Masyarakat, Dapur MBG Samarinda Mulai Dibangun

Lapas Narkotika Samarinda membangun dapur khusus program MBG dan melibatkan warga binaan dalam pelatihan pangan serta pengembangan peternakan dan pertanian.
Lapas Narkotika Samarinda membangun dapur khusus program MBG dan melibatkan warga binaan dalam pelatihan pangan serta pengembangan peternakan dan pertanian.

SAMARINDA - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas II A Samarinda, Kalimantan Timur, mulai mengembangkan fasilitas dapur khusus sebagai bagian dari dukungan terhadap program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Pembangunan fasilitas ini sekaligus diarahkan untuk meningkatkan peran warga binaan dalam kegiatan produktif yang bermanfaat bagi masyarakat.

Kepala Lapas Narkotika Kelas II A Samarinda, Puang Dirham, menyatakan bahwa pihaknya berkomitmen mendukung penuh pelaksanaan program prioritas pemerintah melalui penyediaan sarana produksi makanan bergizi.

Menurutnya, pembangunan dapur tersebut dirancang untuk membantu kebutuhan distribusi makanan bagi kelompok sasaran program MBG di wilayah sekitar Samarinda. Selain itu, warga binaan juga akan mendapatkan pelatihan khusus agar mampu memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan.

Dalam pelaksanaannya, warga binaan pemasyarakatan (WBP) akan dilatih sebagai penjamah makanan dengan standar kesehatan yang ketat. Pelatihan ini dilakukan secara intensif dan melibatkan pendampingan dari instansi kesehatan setempat.

Langkah tersebut diharapkan dapat memastikan kualitas makanan yang dihasilkan tetap memenuhi standar gizi dan keamanan pangan.

Selain pelatihan teknis, pihak lapas juga tengah mempelajari skema kerja sama dengan sejumlah pihak eksternal guna memperkuat pelaksanaan program ini.

Pemetaan Penerima MBG Masih Dievaluasi

Untuk memastikan distribusi makanan tepat sasaran, pihak lapas saat ini masih melakukan evaluasi terhadap titik-titik penerima manfaat program MBG.

Evaluasi ini dilakukan agar alokasi bantuan gizi dapat menjangkau kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan, terutama di wilayah sekitar lapas.

Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi pengelolaan ekosistem pangan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Kembangkan Peternakan Dan Budidaya Pangan

Tidak hanya membangun dapur, pihak lapas juga merancang pengembangan sektor produksi bahan pangan di lingkungan internal.

Beberapa rencana yang sedang dipersiapkan antara lain pembangunan peternakan ayam petelur, pengembangan tanaman pangan, serta budidaya ikan air tawar.

Langkah ini diharapkan mampu mendukung ketersediaan bahan baku makanan secara mandiri, sekaligus meningkatkan keterampilan warga binaan.

Selain itu, fasilitas rumah kaca atau green house yang telah tersedia juga dioptimalkan untuk mendukung produksi bahan pangan harian.

Pembinaan Berbasis Produktivitas Sosial

Program pengembangan dapur MBG di lingkungan lapas tidak hanya berorientasi pada keamanan lembaga, tetapi juga menitikberatkan pada kontribusi sosial kepada masyarakat.

Melalui kegiatan produksi pangan, warga binaan diharapkan memiliki kesempatan untuk berkontribusi secara positif dan memperoleh keterampilan yang bermanfaat setelah menjalani masa pembinaan.

Pihak lapas menyebutkan bahwa seluruh jajaran petugas telah menyatakan komitmen untuk mendukung pelaksanaan program pemerintah, termasuk melalui berbagai inovasi pembinaan berbasis kemandirian.

FAQ

1. Apa tujuan pembangunan dapur MBG di Lapas Samarinda?
Tujuannya untuk mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis sekaligus memberikan pelatihan keterampilan bagi warga binaan.

2. Siapa yang terlibat dalam pengelolaan dapur MBG?
Warga binaan pemasyarakatan dilibatkan sebagai tenaga pengolah makanan setelah mengikuti pelatihan khusus.

3. Apakah warga binaan mendapatkan pelatihan khusus?
Ya, mereka akan mengikuti pelatihan penanganan makanan sesuai standar kesehatan yang didampingi tenaga kesehatan.

4. Selain dapur, program apa lagi yang dikembangkan?
Lapas juga merencanakan peternakan ayam petelur, budidaya ikan air tawar, serta penanaman tanaman pangan.

5. Siapa sasaran penerima makanan dari dapur MBG ini?
Kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program MBG di wilayah sekitar Samarinda.

Selasa, 24 Maret 2026

Hampir 10 Ribu Kunjungan Lebaran Warnai Lapas Dan Rutan Di Kalsel

Kunjungan Lebaran di Lapas Kalsel tembus 9.875 orang, sebanyak 4.155 warga binaan dikunjungi keluarga. Proses berlangsung tertib dan aman.
Kunjungan Lebaran di Lapas Kalsel tembus 9.875 orang, sebanyak 4.155 warga binaan dikunjungi keluarga. Proses berlangsung tertib dan aman.

BANJARMASIN — Suasana Lebaran di Kalimantan Selatan tahun ini terasa beda. Bukan cuma di rumah atau tempat wisata, tapi juga di lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan) yang dipadati kunjungan keluarga warga binaan.

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kalimantan Selatan mencatat total kunjungan selama dua hari Lebaran mencapai 9.875 orang. Angka ini menunjukkan tingginya antusiasme keluarga untuk tetap menjaga silaturahmi, meski harus bertemu di balik jeruji.

Kepala Kanwil Ditjenpas Kalsel, Mulyadi, menyebutkan bahwa dari total tersebut, sebanyak 4.155 warga binaan menerima kunjungan.

“Total warga binaan yang dikunjungi 4.155 orang,” ujarnya di Banjarmasin, Senin.

Lonjakan Tajam Di Hari Kedua

Kalau dilihat rinciannya, kunjungan di hari pertama Lebaran (Sabtu, 21 Maret) tercatat sebanyak 2.293 orang, yang datang untuk menjenguk 707 warga binaan.

Namun, lonjakan signifikan terjadi di hari kedua (Minggu, 22 Maret). Jumlah pengunjung langsung melejit jadi 7.582 orang, dengan 3.448 warga binaan menerima kunjungan.

Bisa dibilang, hari kedua jadi puncak keramaian kunjungan Lebaran di lapas dan rutan se-Kalsel.

Puluhan Lapas Dan Rutan Buka Layanan

Untuk mendukung momen ini, sejumlah lapas dan rutan membuka layanan kunjungan khusus Lebaran.

Di hari pertama, ada delapan unit yang melayani kunjungan, termasuk Lapas Kotabaru, Lapas Narkotika Karang Intan, hingga Rutan Barabai.

Sementara di hari kedua, jumlahnya meningkat jadi 15 lapas dan rutan, termasuk Lapas Banjarmasin, Lapas Perempuan Martapura, hingga Rutan Pelaihari.

Langkah ini dilakukan supaya semua keluarga tetap punya kesempatan bertemu dengan warga binaan tanpa hambatan berarti.

Situasi Tetap Aman Dan Terkendali

Meski jumlah pengunjung membludak, Mulyadi memastikan seluruh proses kunjungan berjalan lancar.

Nggak ada insiden berarti, dan semua pengunjung juga dinilai cukup kooperatif mengikuti aturan yang berlaku.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada keluarga warga binaan yang sudah tertib selama kunjungan berlangsung.

Pengorbanan Petugas Di Hari Lebaran

Di balik kelancaran ini, ada peran besar petugas lapas yang tetap bekerja saat hari raya.

Mulyadi mengungkapkan, banyak petugas yang rela tidak merayakan Lebaran bersama keluarga demi menjalankan tugas.

“Petugas sendiri rela tidak berlebaran dengan keluarga di rumah demi tugas,” katanya.

Dedikasi ini jadi bukti bahwa pelayanan kepada warga binaan dan keluarganya tetap jadi prioritas, bahkan di momen penting seperti Lebaran.

Makna Lebaran Tetap Terjaga

Meski berlangsung di dalam lapas, suasana haru tetap terasa. Banyak keluarga yang memanfaatkan momen ini untuk melepas rindu, memberi semangat, dan mempererat hubungan.

Lebaran pun tetap punya makna yang sama: kebersamaan, saling memaafkan, dan menjaga ikatan keluarga.

FAQ

1. Berapa jumlah kunjungan Lebaran di Lapas Kalsel?
Total kunjungan mencapai 9.875 orang selama dua hari Lebaran.

2. Berapa warga binaan yang dikunjungi?
Sebanyak 4.155 warga binaan menerima kunjungan dari keluarga.

3. Kapan puncak kunjungan terjadi?
Puncaknya terjadi di hari kedua Lebaran dengan 7.582 pengunjung.

4. Apakah kunjungan berjalan lancar?
Ya, seluruh proses berlangsung tertib, aman, dan terkendali.

5. Apa peran petugas selama Lebaran?
Petugas tetap bekerja dan bahkan rela tidak berlebaran demi memastikan layanan berjalan baik.