Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Pembiayaan UMKM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembiayaan UMKM. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 April 2026

Buah Naga Palangka Raya Jadi Fokus Ekonomi 2026, Pasar Mulai Disiapkan

Buah naga Palangka Raya ditetapkan sebagai fokus ekonomi daerah 2026 dengan dukungan pembiayaan Rp6,6 miliar dan kesiapan pasar dari sektor gizi dan perhotelan. (Ilustrasi)
Buah naga Palangka Raya ditetapkan sebagai fokus ekonomi daerah 2026 dengan dukungan pembiayaan Rp6,6 miliar dan kesiapan pasar dari sektor gizi dan perhotelan. (Ilustrasi)

Palangka Raya - Budidaya buah naga di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, mulai diarahkan menjadi penggerak utama ekonomi daerah pada tahun 2026. Penetapan komoditas ini tidak hanya didasarkan pada potensi produksi, tetapi juga kesiapan rantai bisnis dari hulu hingga hilir.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, menegaskan bahwa penguatan ekosistem terintegrasi menjadi kunci utama keberhasilan pengembangan ekonomi daerah (PED).

Primandanu Febriyan Aziz menjelaskan, kepastian pasar menjadi fondasi awal yang harus dipenuhi agar produksi petani dapat terserap secara berkelanjutan. Penunjukan offtaker atau agregator yang memiliki kredibilitas dinilai mampu memberikan jaminan stabilitas permintaan terhadap hasil panen.

Sentra Buah Naga Kalampangan Jadi Andalan

Pengembangan komoditas ini bertumpu pada kawasan sentra usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) buah naga di Desa Misik, Kelurahan Kalampangan, Kota Palangka Raya.

Wilayah tersebut saat ini memiliki luas lahan tanam sekitar 150 hektare dengan potensi ekspansi hingga 300 hektare. Sebanyak 120 petani terlibat aktif dalam budidaya dengan tingkat produktivitas rata-rata mencapai 1.000 kilogram per hektare.

Kapasitas produksi tersebut dinilai cukup untuk mendukung peningkatan skala usaha sekaligus memperluas jaringan distribusi.

Penguatan sektor hulu juga ditopang oleh dukungan pembiayaan dari lembaga jasa keuangan. Hingga saat ini, nilai pembiayaan yang telah disalurkan kepada petani buah naga di wilayah tersebut mencapai Rp6,6 miliar.

Nilai tersebut dinilai masih berpotensi meningkat seiring dengan berkembangnya skala usaha dan meningkatnya kebutuhan modal untuk perluasan lahan serta penguatan teknologi budidaya.

Ketersediaan pembiayaan menjadi salah satu indikator penting dalam memastikan keberlanjutan produksi dan memperluas daya saing komoditas lokal.

Pasar Mulai Terbentuk dari Sektor Hilir

Dari sisi hilir, peluang penyerapan hasil panen dinilai semakin terbuka. Badan Gizi Nasional Regional Kalimantan Tengah menyatakan kesiapan untuk menyerap produksi buah naga lokal sebagai bagian dari dukungan terhadap ketahanan pangan dan gizi masyarakat.

Selain itu, sektor perhotelan di wilayah Kalimantan Tengah juga menyatakan komitmen untuk meningkatkan penggunaan buah lokal dalam layanan konsumsi. Langkah tersebut selaras dengan kebijakan nasional yang mendorong pemanfaatan produk lokal dalam industri pariwisata.

Kesiapan sektor hilir tersebut dinilai menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan usaha petani.

Primandanu Febriyan Aziz menekankan bahwa keberhasilan pengembangan buah naga tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada kolaborasi antar pemangku kepentingan.

Sinergi antara pemerintah daerah, lembaga keuangan, pelaku usaha, dan sektor swasta dinilai mampu memperkuat jalur distribusi serta memperluas akses pasar melalui skema business-to-business (B2B).

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Otoritas Jasa Keuangan Kalimantan Tengah telah menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan berbagai pihak terkait.

Dalam forum tersebut, seluruh peserta sepakat menetapkan buah naga sebagai fokus utama pengembangan ekonomi daerah Kalimantan Tengah pada tahun 2026.

Kesepakatan ini juga mencakup komitmen bersama untuk membangun ekosistem usaha yang terintegrasi, berkelanjutan, serta mampu meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

Pengembangan buah naga sebagai komoditas unggulan diharapkan mampu membuka peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan petani, serta memperluas lapangan kerja di wilayah Palangka Raya.

Dengan dukungan pembiayaan berkelanjutan serta kepastian pasar, komoditas buah naga dinilai berpotensi menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah dalam jangka panjang.

FAQ

1. Mengapa buah naga dipilih sebagai fokus ekonomi daerah 2026?
Buah naga memiliki potensi lahan luas, produktivitas tinggi, serta dukungan pasar dari sektor gizi dan perhotelan.

2. Berapa luas lahan buah naga di Palangka Raya saat ini?
Sekitar 150 hektare dengan potensi perluasan hingga 300 hektare.

3. Berapa nilai pembiayaan yang telah disalurkan ke petani?
Total pembiayaan mencapai Rp6,6 miliar dari lembaga jasa keuangan.

4. Siapa yang akan menyerap hasil panen buah naga?
Badan Gizi Nasional Regional Kalimantan Tengah dan sektor perhotelan telah menyatakan kesiapan menyerap produksi.

5. Apa tujuan utama pengembangan ekonomi daerah berbasis buah naga?
Meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi lokal.

Minggu, 05 April 2026

Kemenkeu Salurkan Rp18,6 Miliar untuk 2.954 UMKM Ultra Mikro di Kaltim, Dorong Usaha Naik Kelas

Kemenkeu salurkan Rp18,6 miliar dana UMi ke 2.954 UMKM Kaltim untuk dorong usaha naik kelas dan perkuat ekonomi rakyat di awal 2026. (Gambar ilustrasi)
Kemenkeu salurkan Rp18,6 miliar dana UMi ke 2.954 UMKM Kaltim untuk dorong usaha naik kelas dan perkuat ekonomi rakyat di awal 2026. (Gambar ilustrasi)

Samarinda – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terus memperkuat sektor ekonomi kerakyatan melalui penyaluran pembiayaan Ultra Mikro (UMi). Sepanjang Januari hingga Februari 2026, dana sebesar Rp18,6 miliar telah disalurkan kepada 2.954 pelaku usaha ultra mikro di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Kaltim, Tjahjo Purnomo, mengatakan program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas usaha sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat kecil.

“Penyaluran UMi mempermudah akses tambahan modal usaha, sehingga pelaku usaha bisa meningkatkan kualitas produk dan pendapatan,” ujar Tjahjo di Samarinda, Ahad.

Tidak Sekadar Modal, Ada Pendampingan Usaha

Menariknya, program UMi tidak hanya memberikan pinjaman dana. Para pelaku usaha juga mendapatkan pendampingan berupa pelatihan dan pembinaan usaha.

Pendekatan ini dinilai efektif karena membantu pelaku usaha “naik kelas” dan menjaga tingkat pengembalian pinjaman tetap lancar.

Dengan kata lain, UMi bukan sekadar bantuan finansial, tapi juga strategi pemberdayaan ekonomi jangka panjang.

Sektor Perdagangan Mendominasi Penyaluran

Dari total Rp18,6 miliar yang disalurkan, sektor perdagangan menjadi penyerap terbesar:

  • Perdagangan mikro: Rp17,84 miliar (2.883 pelaku usaha)

  • Akomodasi & makan minum: Rp200 juta (20 pelaku usaha)

  • Industri pengolahan: Rp180 juta (15 pelaku usaha)

Dominasi sektor perdagangan bukan tanpa alasan. Karakter usaha yang sederhana, perputaran uang yang cepat, serta kebutuhan modal kecil membuat sektor ini paling diminati.

“Tingginya aktivitas usaha kecil seperti warung dan perdagangan hasil pertanian membuat kebutuhan pembiayaan mikro terus meningkat,” jelas Tjahjo.

Kutai Kartanegara Jadi Penyerap Terbesar

Dari 10 kabupaten/kota di Kaltim, penyaluran terbesar terjadi di:

  1. Kutai Kartanegara: Rp4,15 miliar

  2. Samarinda: Rp3,61 miliar

  3. Balikpapan: Rp3,43 miliar

  4. Penajam Paser Utara: Rp2,85 miliar

  5. Paser: Rp1,63 miliar

Tjahjo menyebut tingginya penyaluran di Kutai Kartanegara sejalan dengan banyaknya pelaku usaha ultra mikro yang tersebar hingga ke desa-desa.

Dorong Ekonomi Lokal Lebih Tangguh

Program UMi menjadi salah satu instrumen penting pemerintah dalam memperkuat ekonomi lokal, khususnya bagi masyarakat yang belum terjangkau layanan perbankan.

Dengan akses modal yang lebih mudah dan pendampingan berkelanjutan, pelaku usaha kecil diharapkan mampu berkembang, meningkatkan pendapatan, dan menciptakan lapangan kerja baru.

FAQ

1. Apa itu pembiayaan UMi?
UMi (Ultra Mikro) adalah program pembiayaan pemerintah untuk usaha kecil yang belum terjangkau kredit perbankan.

2. Berapa total dana yang disalurkan di Kaltim?
Sebesar Rp18,6 miliar untuk periode Januari–Februari 2026.

3. Siapa saja penerima manfaat UMi?
Sebanyak 2.954 pelaku usaha ultra mikro di berbagai sektor.

4. Apakah UMi hanya berupa pinjaman?
Tidak. Selain dana, pelaku usaha juga mendapat pelatihan dan pendampingan.

5. Sektor apa yang paling dominan?
Sektor perdagangan mikro dengan serapan terbesar.

Rabu, 01 April 2026

BI Kaltim Perkuat UMKM Dan Pariwisata Dengan Pembiayaan Rp16,97 Miliar

BI Kaltim fasilitasi 163 UMKM dapat pembiayaan Rp16,97 miliar lewat program Bima Etam untuk dorong ekonomi dan pariwisata daerah.
BI Kaltim fasilitasi 163 UMKM dapat pembiayaan Rp16,97 miliar lewat program Bima Etam untuk dorong ekonomi dan pariwisata daerah.

Samarinda – Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur (BI Kaltim) terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sejak tahun 2025 hingga Maret 2026, BI Kaltim telah memfasilitasi sebanyak 163 UMKM untuk memperoleh akses pembiayaan dari perbankan dengan total nilai mencapai Rp16,97 miliar.

Deputi Kepala BI Kaltim, Bayuadi Haryanto, menjelaskan bahwa fasilitasi tersebut dilakukan setelah para pelaku usaha mengikuti rangkaian pembinaan dalam program Business Matching Pembiayaan serta Edukasi dan Literasi Keuangan UMKM (Bima Etam).

“Hingga Maret 2026, program Bima Etam sudah masuk seri ke-11,” ujarnya di Samarinda, Rabu.

Lebih Dari 800 UMKM Dibina, 163 Lolos Akses Pembiayaan

Bayuadi mengungkapkan, program Bima Etam telah diikuti oleh 833 pelaku UMKM. Dari jumlah tersebut, dilakukan proses seleksi hingga akhirnya 163 UMKM dinilai layak untuk mendapatkan pembiayaan produktif dari lembaga jasa keuangan.

Program ini tidak hanya berhenti pada fasilitasi pembiayaan. BI Kaltim juga menghadirkan layanan one stop solution yang membantu pelaku usaha dalam:

  • Pengecekan SLIK OJK (Sistem Layanan Informasi Keuangan)

  • Konsultasi pembiayaan dengan lembaga jasa keuangan (LJK)

  • Pelatihan pencatatan keuangan digital

Langkah ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi keuangan sekaligus kesiapan UMKM dalam mengakses kredit secara sehat dan berkelanjutan.

Sinergi BI, OJK, Dan Pemerintah Daerah

Program Bima Etam merupakan bentuk kolaborasi antara Bank Indonesia dengan berbagai pihak, mulai dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pemerintah kabupaten/kota, hingga lembaga keuangan dan mitra strategis lainnya.

Program ini rutin digelar hampir setiap bulan dan dilaksanakan secara bergiliran di berbagai daerah di Kalimantan Timur.

Tujuannya jelas: memperluas akses pembiayaan sekaligus memperkuat daya saing UMKM lokal.

Dorong UMKM Dan Pariwisata Jadi Tulang Punggung Ekonomi

BI Kaltim juga mendorong agar struktur ekonomi daerah tidak lagi bergantung pada sektor pertambangan. Salah satu fokus utama adalah pengembangan sektor pariwisata berbasis UMKM.

Menurut Bayuadi, Kalimantan Timur memiliki potensi besar, mulai dari keindahan alam hingga kekayaan budaya seperti sarung tenun Samarinda.

Pengembangan desa wisata dinilai mampu:

  • Meningkatkan kunjungan wisatawan

  • Membuka lapangan kerja baru

  • Mendorong perputaran ekonomi lokal

  • Memperkuat identitas budaya daerah

Kampung Tenun Samarinda Jadi Contoh Nyata

Sejak 2014, BI Kaltim aktif membina UMKM di Kampung Tenun Samarinda. Dukungan yang diberikan antara lain:

  • Pengembangan produk tenun dan turunannya

  • Perbaikan galeri dan showcase UMKM

  • Dukungan kegiatan wisata dan atraksi budaya

Pada 2026, BI Kaltim kembali memperkuat program ini melalui fokus pada:

  • UMKM Subsisten

  • UMKM Hijau

  • UMKM Pariwisata

Langkah ini diharapkan mampu menciptakan UMKM yang lebih tangguh, inovatif, dan siap bersaing di pasar yang lebih luas.

FAQ (Pertanyaan Umum)

1. Apa itu program Bima Etam?
Program pembinaan dan fasilitasi pembiayaan UMKM dari BI Kaltim yang mencakup edukasi keuangan, business matching, dan akses kredit.

2. Berapa total pembiayaan yang disalurkan?
Sebesar Rp16,97 miliar kepada 163 UMKM hingga Maret 2026.

3. Apa manfaat utama bagi UMKM?
Akses pembiayaan, literasi keuangan, konsultasi bisnis, dan pelatihan pencatatan digital.

4. Siapa saja yang terlibat dalam program ini?
BI, OJK, pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan mitra terkait.

5. Apa fokus pengembangan ke depan?
UMKM berbasis pariwisata, ekonomi kreatif, dan desa wisata.

Selasa, 31 Maret 2026

KUR Kalsel 2026 Tumbuh Positif, BRI Jadi Penyalur Terbesar

Realisasi KUR Kalsel 2026 capai Rp863,99 miliar. Sektor pertanian dominan, BRI jadi penyalur terbesar, dorong pertumbuhan UMKM daerah.
Realisasi KUR Kalsel 2026 capai Rp863,99 miliar. Sektor pertanian dominan, BRI jadi penyalur terbesar, dorong pertumbuhan UMKM daerah.

BANJARMASIN — Realisasi program Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Kalimantan Selatan menunjukkan tren positif di awal 2026. Hingga periode terbaru, total penyaluran mencapai Rp863,99 miliar atau 16,76 persen dari target Rp5,15 triliun, dengan jumlah debitur mencapai 12.546 pelaku UMKM.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kalsel, Catur Ariyanto Widodo, menyebut capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah semakin terbuka.

“Penyaluran KUR di Kalimantan Selatan menunjukkan perkembangan yang cukup baik pada awal tahun ini,” ujarnya di Banjarmasin.

Dominasi KUR Konvensional dan Sektor Pertanian

Dari total penyaluran, KUR konvensional masih mendominasi dengan nilai Rp836,63 miliar atau 96,83 persen. Sementara KUR syariah tercatat sebesar Rp27,35 miliar atau 3,17 persen.

Menariknya, sektor pertanian menjadi penyerap terbesar dengan nilai Rp307,28 miliar atau 35,57 persen, menjangkau 5.609 debitur. Ini menunjukkan bahwa sektor primer masih menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Selain itu, skema mikro mendominasi dengan nilai Rp572,29 miliar atau 66,24 persen kepada 11.436 debitur, menandakan mayoritas pelaku usaha berada di level usaha kecil.

Sebaran Wilayah dan Penyalur KUR

Dari sisi wilayah, Kota Banjarmasin menjadi daerah dengan penyaluran tertinggi sebesar Rp151,27 miliar kepada 1.833 debitur.

Disusul:

  • Kabupaten Tanah Bumbu: Rp117,28 miliar (1.180 debitur)

  • Kabupaten Banjar: Rp91,87 miliar (1.469 debitur)

Untuk lembaga penyalur, Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi yang terbesar dengan penyaluran Rp571,57 miliar kepada 10.844 debitur.

Kemudian diikuti:

  • Bank Mandiri: Rp104,05 miliar

  • Bank Negara Indonesia (BNI): Rp92,48 miliar

Secara nasional, Kalsel berada di peringkat ke-17 dalam penyaluran KUR dan posisi ke-5 di regional Kalimantan.

UMi Jadi Pelengkap Pembiayaan Ultra Mikro

Selain KUR, pembiayaan Ultra Mikro (UMi) juga terus berjalan. Hingga Februari 2026, total penyaluran mencapai Rp5,38 miliar kepada 997 debitur.

Skema syariah mendominasi sebesar Rp3,35 miliar (62,27 persen), sementara konvensional Rp2,03 miliar (37,73 persen).

Penyaluran ini dilakukan oleh beberapa Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB), dengan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) sebagai penyalur terbesar.

“Pembiayaan UMi menjadi pelengkap penting bagi pelaku usaha ultra mikro yang belum terjangkau KUR,” kata Catur.

Wilayah dengan penyaluran UMi tertinggi kembali ditempati Banjarmasin sebesar Rp0,95 miliar, disusul Kabupaten Banjar dan Hulu Sungai Tengah.

Dari sisi sektor, perdagangan mendominasi hingga 94 persen, sementara skema kelompok menyumbang 93,34 persen.

Strategi Penguatan dan Outlook 2026

Untuk menjaga tren positif ini, DJPb Kalsel telah melakukan monitoring dan evaluasi (monev) bersama seluruh lembaga penyalur.

Catur menegaskan pihaknya akan terus memperkuat sinergi lintas sektor agar penyaluran lebih merata di seluruh kabupaten/kota.

“Harapannya, tren positif ini tidak hanya terpusat di wilayah tertentu, tetapi merata dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” tegasnya.

Langkah ini dinilai penting agar pembiayaan UMKM semakin optimal dan mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah secara berkelanjutan.

FAQ

1. Apa itu KUR?
KUR adalah program pembiayaan dari pemerintah untuk membantu UMKM mendapatkan akses modal dengan bunga ringan.

2. Berapa total KUR Kalsel 2026 saat ini?
Sebesar Rp863,99 miliar atau 16,76 persen dari target Rp5,15 triliun.

3. Sektor apa yang paling banyak menerima KUR?
Sektor pertanian dengan porsi 35,57 persen.

4. Bank apa yang paling banyak menyalurkan KUR?
BRI menjadi penyalur terbesar di Kalsel.

5. Apa itu pembiayaan UMi?
UMi adalah pembiayaan untuk usaha ultra mikro yang belum bisa mengakses KUR.