Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Pencegahan Stunting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pencegahan Stunting. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 April 2026

Pencegahan Stunting sebagai Gerakan Sosial, Bukan Sekadar Program Kesehatan

Kotim perkuat gerakan cegah stunting melalui 1000 HPK dengan edukasi dan intervensi gizi untuk menurunkan angka stunting hingga 17 persen pada 2026.
Kotim perkuat gerakan cegah stunting melalui 1000 HPK dengan edukasi dan intervensi gizi untuk menurunkan angka stunting hingga 17 persen pada 2026.

Kotim, Kalteng - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, memperkuat strategi penanganan stunting dengan pendekatan berbasis masyarakat yang menitikberatkan pada masa awal kehidupan anak, yakni 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Upaya ini tidak hanya dipandang sebagai program kesehatan, tetapi juga sebagai gerakan kolektif yang melibatkan keluarga, tenaga kesehatan, hingga pemerintah di tingkat paling bawah.

Penjabat Sekretaris Daerah Kotim, Umar Kaderi, menegaskan bahwa kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh pemenuhan gizi sejak dini, terutama sejak masa kehamilan.

“Anak-anak adalah aset bangsa. Mereka harus mendapatkan asupan gizi yang cukup dan seimbang agar tumbuh optimal,” ujar Umar saat kegiatan Gerakan Cegah Stunting Kotim 2026 di Puskesmas Baamang I, Kecamatan Baamang, Sampit, Rabu.

Program percepatan penurunan stunting di Kotim dilakukan secara berkelanjutan melalui edukasi dan pelibatan lintas sektor. Dinas Kesehatan setempat menggandeng camat, lurah, kepala desa, PKK, hingga kader posyandu untuk memastikan edukasi 1.000 HPK benar-benar dipahami masyarakat.

Menurut Umar, stunting tidak hanya terjadi setelah anak lahir, tetapi sudah dapat dimulai sejak masa kehamilan akibat kurangnya asupan gizi ibu.

“Karena itu intervensi harus dimulai dari keluarga. Edukasi menjadi kunci utama,” tegasnya.

Stunting masih menjadi salah satu tantangan utama pembangunan sumber daya manusia di Kotim. Dampaknya tidak hanya pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga pada perkembangan kognitif, produktivitas, hingga daya saing daerah di masa depan.

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat prevalensi stunting di Kotim berada di angka 21,6 persen. Pemerintah daerah menargetkan penurunan signifikan hingga sekitar 17 persen pada tahun 2026.

Untuk mencapai target tersebut, Pemkab Kotim mengombinasikan berbagai intervensi, termasuk pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita, serta penguatan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Penanganannya harus menyeluruh, terencana, dan berkelanjutan,” kata Umar yang juga Kepala Dinas Kesehatan Kotim.

FAQ

1. Apa itu program 1.000 HPK?
1.000 Hari Pertama Kehidupan adalah periode sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun yang sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak.

2. Berapa angka stunting di Kotawaringin Timur saat ini?
Berdasarkan SSGI, angka stunting di Kotim mencapai 21,6 persen.

3. Apa target pemerintah daerah?
Pemkab Kotim menargetkan penurunan stunting hingga sekitar 17 persen pada 2026.

4. Siapa saja yang terlibat dalam program ini?
Mulai dari tenaga kesehatan, camat, lurah, kepala desa, PKK, hingga kader posyandu.

5. Apa langkah utama yang dilakukan pemerintah?
Edukasi masyarakat, intervensi gizi, makanan tambahan, serta program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sabtu, 15 Juli 2023

Cegah Stunting, Bhabinkamtibmas Polsek Putussibau Utara Hadiri Penyerahan Bantuan Makanan Tambahan

Cegah Stunting, Bhabinkamtibmas Polsek Putussibau Utara Hadiri Penyerahan Bantuan Makanan Tambahan
Kapuas Hulu, Kalbar - Bhabinkamtibmas Polsek Putussibau Utara Polres Kapuas Hulu Polda Kalbar Bripka I Gede Suteja menghadiri penyerahan bantuan makanan tambahan untuk pencegahan stunting bayi dan balita serta perawatan ibu hamil dan menyusui di Desa Tanjung Lasa Kecamatan Putussibau Utara, Jum'at (14/7/2023).

Penyerahan bantuan makanan tambahan tersebut dilaksanakan di Kantor Desa Tanjung Lasa yang turut dihadiri oleh Ketua Tim Kesehatan stunting Desa Tanjung Lasa Agnes Idawati, A.md, Ketua BPD Tanjung Lasa Hanafi beserta anggota, Kades Tanjung Lasa Stevanus Stevens, S.E., beserta perangkatnya, Babinsa Kopda Sri Wijayani, Pendamping Lokal Desa Tanjung Lasa Hermawan dan masyarakat penerima bansos stunting serta ibu hamil/menyusui.

Kegiatan pemberian bantuan ini dilakukan sebagai bentuk perhatian dan kepedulian Pemerintah agar permasalahan stunting di wilayah Kecamatan Putussibau Utara khususnya di Desa Tanjung Lasa bisa teratasi dengan cepat dan tepat sasaran.

“Bantuan tambahan makanan ini merupakan salah satu upaya dalam menuntaskan kasus anak yang beresiko stunting dan diharapkan dapat bermanfaat untuk membantu kebutuhan asupan gizi bagi balita agar tumbuh kembang secara normal,” kata Kapolres Kapuas Hulu AKBP Hendrawan, S.I.K., M.H., melalui Kapolsek Putussibau Utara Iptu Jauhari.

Pemberian makanan tambahan ini sangatlah penting untuk pemulihan gizi bagi anak-anak yang kekurangan gizi.

“Semoga dengan adanya pemberian makanan tambahan ini dapat membantu memulihkan anak yang tergolong dalam Stunting agar dapat tumbuh sehat dalam masa pertumbuhannya sehingga dapat membantu pemerintah menurunkan angka Stunting,” kata Iptu Jauhari.

Sementara itu, Bripka I Gede Suteja berpesan agar makanan ini betul-betul diberikan kepada si anak dan juga diharapkan orang tua selalu memperhatikan pertumbuhan anak dari mulai dalam kandungan sampai tumbuh dewasa.

"Kami juga berharap untuk ibu hamil dan orang tua yang memiliki anak balita harus rajin datang ke Posyandu guna memeriksa tumbuh kembangnya anak,” kata Bripka Gede.

"Semoga dengan pemberian makanan tambahan ini, diharapkan angka anak Stunting di Desa Tanjung Lasa, Kecamatan Putussibau Utara bisa turun,” kata Bhabinkamtibmas Polsek Putussibau Utara Bripka I Gede Suteja.

(Tim Liputan)