Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Perubahan Iklim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perubahan Iklim. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Mei 2026

Pontianak Resmi Masuk UCLG ASPAC, Perluas Akses Pendanaan dan Kerja Sama Hijau

Pontianak resmi bergabung dengan UCLG ASPAC untuk memperluas kerja sama internasional dan memperkuat pembangunan berkelanjutan di tingkat Asia Pasifik.
Pontianak resmi bergabung dengan UCLG ASPAC untuk memperluas kerja sama internasional dan memperkuat pembangunan berkelanjutan di tingkat Asia Pasifik.

PONTIANAK - Kota Pontianak resmi bergabung dalam jaringan internasional United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC). Pengumuman itu disampaikan Sekretaris Daerah Kota Pontianak Amirullah saat menghadiri agenda UCLG ASPAC Executive Bureau and The Asia Pacific Forum 2026 di Hotel Claro Kendari, Jumat (8/5/2026) malam.

Amirullah mengatakan bergabungnya Pontianak ke organisasi pemerintah daerah terbesar di kawasan Asia Pasifik menjadi langkah penting untuk memperluas kerja sama global sekaligus memperkuat posisi kota tersebut di tingkat internasional.

“Atas nama Pemerintah Kota Pontianak dan masyarakat Kota Pontianak, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada UCLG ASPAC yang telah secara resmi menyambut Kota Pontianak dalam organisasi ini,” ujarnya.

Menurut dia, keanggotaan tersebut bukan hanya pencapaian administratif, tetapi juga tanggung jawab besar untuk ikut berkontribusi menghadapi tantangan global bersama kota-kota lain di Asia Pasifik.

Amirullah menilai persoalan seperti perubahan iklim, urbanisasi cepat, hingga ketimpangan sosial membutuhkan kolaborasi lintas daerah dan negara.

“Kami percaya, solusi atas tantangan global terbesar seperti perubahan iklim, ketimpangan, dan urbanisasi dibangun dari bawah, kota demi kota, komunitas demi komunitas,” katanya.

Keanggotaan di UCLG ASPAC membuka peluang bagi Pontianak untuk memperluas jejaring internasional, bertukar pengalaman, hingga mengakses dukungan teknis dan pendanaan hijau untuk pembangunan kota yang lebih ramah lingkungan.

Perjalanan Pontianak menuju jejaring global dimulai sejak akhir 2021 saat terpilih sebagai salah satu dari empat kota percontohan Indonesia dalam program Global Covenant of Mayors for Climate and Energy (GCoM).

Pontianak menjadi satu-satunya kota dari Kalimantan yang dinilai memiliki komitmen kuat terhadap aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Melalui pendampingan UCLG ASPAC sebagai sekretariat regional GCoM, Pontianak kemudian mencatat sejumlah perkembangan dalam pembangunan berkelanjutan. Kota ini juga meraih GCoM Compliance Badge pada Mei 2025 setelah memenuhi standar global dalam penyusunan rencana aksi perubahan iklim.

Selain itu, program pengelolaan sampah terintegrasi dan mitigasi banjir di Pontianak mulai dilirik sebagai contoh praktik baik bagi kota-kota menengah di Asia Tenggara.

Dengan status sebagai anggota aktif UCLG ASPAC, Pontianak kini memiliki akses lebih luas untuk berkolaborasi dengan para ahli internasional dalam memperkuat infrastruktur kota agar lebih tangguh menghadapi perubahan iklim dan ancaman lingkungan.

Keanggotaan ini juga menandai langkah Pontianak untuk memperkuat peran sebagai kota percontohan pembangunan berkelanjutan, inklusif, dan rendah emisi di kawasan Asia Pasifik.

Selasa, 07 April 2026

DLH Kalsel Dorong Aksi Iklim Terukur Melalui 559 Program Kampung Iklim

DLH Kalsel mencatat 559 lokasi ProKlim aktif memperkuat adaptasi dan mitigasi perubahan iklim guna menekan risiko banjir, kekeringan, dan kebakaran lahan.
DLH Kalsel mencatat 559 lokasi ProKlim aktif memperkuat adaptasi dan mitigasi perubahan iklim guna menekan risiko banjir, kekeringan, dan kebakaran lahan.

BANJARMASIN — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Selatan mencatat sebanyak 559 lokasi Program Kampung Iklim (ProKlim) tersebar di berbagai wilayah hingga tahun 2025. Program ini dinilai semakin optimal dalam memperkuat aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim untuk menekan risiko bencana di daerah tersebut.

Kepala DLH Kalimantan Selatan, Rahmat Prapto Udoyo, mengatakan perubahan iklim kini bukan lagi sekadar isu global, tetapi sudah dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat lokal.

“Perubahan iklim kini menjadi kenyataan yang dirasakan langsung masyarakat sehingga memerlukan respons terencana dan berkelanjutan,” ujar Rahmat saat kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Aksi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim di Banjarmasin, Senin.

Dampak Perubahan Iklim Semakin Terasa

Menurut Rahmat, dampak perubahan iklim di Kalimantan Selatan semakin nyata dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu ditandai dengan kenaikan suhu rata-rata, perubahan pola curah hujan, hingga meningkatnya intensitas cuaca ekstrem.

Kondisi tersebut memicu berbagai bencana hidrometeorologi seperti:

  • Banjir yang semakin sering terjadi

  • Kekeringan di sejumlah wilayah

  • Kebakaran hutan dan lahan

  • Penurunan kualitas lingkungan akibat alih fungsi lahan

Ia menegaskan dampak perubahan iklim tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, aktivitas sosial, serta daya dukung lingkungan.

Peran Strategis Pemerintah Daerah

DLH Kalimantan Selatan menilai pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam menurunkan emisi gas rumah kaca melalui aksi mitigasi, sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat melalui aksi adaptasi.

Aksi tersebut diharapkan dapat terintegrasi dengan perencanaan pembangunan daerah agar kebijakan lingkungan berjalan berkelanjutan dan tidak hanya bersifat jangka pendek.

Rahmat menjelaskan bahwa 559 lokasi ProKlim yang telah terdaftar sejak tahun 2014 hingga 2025 merupakan bentuk aksi nyata berbasis masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Program ini mendorong masyarakat untuk berperan aktif menjaga lingkungan, seperti melalui pengelolaan sampah, penghijauan, konservasi air, hingga penggunaan energi ramah lingkungan.

Ratusan Penghargaan ProKlim Diraih

Selain jumlah lokasi yang terus bertambah, capaian penghargaan ProKlim di Kalimantan Selatan juga menunjukkan tren positif.

Tercatat 637 penghargaan ProKlim telah diraih oleh berbagai wilayah di Kalimantan Selatan. Capaian ini mencerminkan kontribusi aktif masyarakat serta dukungan pemangku kepentingan dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Menurut Rahmat, pencatatan dan pemantauan aksi iklim kini semakin terstruktur melalui Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN PPI).

Sistem ini berfungsi sebagai instrumen penting dalam:

  • Pencatatan aksi iklim

  • Pelaporan kegiatan lingkungan

  • Pemantauan target penurunan emisi

  • Penyelarasan program dengan target nasional

Peningkatan Kapasitas Aparatur Daerah

Melalui kegiatan Bimtek yang digelar DLH Kalimantan Selatan, pemerintah daerah berharap kapasitas aparatur semakin meningkat dalam menyusun dan melaporkan aksi iklim.

Langkah ini penting agar seluruh program adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dapat dilakukan secara:

  • Sistematis

  • Terukur

  • Terintegrasi

  • Berkelanjutan

Dengan penguatan kapasitas tersebut, pemerintah daerah optimistis mampu memperkuat ketahanan wilayah terhadap ancaman bencana akibat perubahan iklim.

Komitmen Berkelanjutan Hadapi Perubahan Iklim

Program Kampung Iklim menjadi salah satu strategi utama pemerintah dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

Keterlibatan masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan dalam menekan risiko bencana dan menjaga keseimbangan ekosistem di Kalimantan Selatan.

Dengan semakin banyaknya wilayah yang terlibat dalam ProKlim, pemerintah daerah berharap langkah adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dapat berjalan lebih efektif di masa mendatang.

FAQ

Apa Itu Program Kampung Iklim (ProKlim)?

Program Kampung Iklim atau ProKlim adalah program nasional berbasis masyarakat yang bertujuan meningkatkan kemampuan adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim di tingkat lokal.

Berapa Jumlah Lokasi ProKlim Di Kalimantan Selatan?

DLH Kalimantan Selatan mencatat terdapat 559 lokasi ProKlim yang terdaftar sejak tahun 2014 hingga 2025.

Apa Dampak Perubahan Iklim Yang Terjadi Di Kalsel?

Dampaknya antara lain meningkatnya banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta perubahan pola curah hujan dan suhu.

Apa Fungsi Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN PPI)?

SRN PPI berfungsi untuk mencatat, melaporkan, dan memantau aksi perubahan iklim agar selaras dengan target nasional.

Mengapa ProKlim Penting Bagi Masyarakat?

Karena program ini membantu masyarakat meningkatkan ketahanan terhadap bencana serta menjaga kualitas lingkungan secara berkelanjutan.

Rabu, 08 Oktober 2025

Para ilmuwan bangunkan mikroba yang tertidur 40 ribu tahun di permafrost

Para ilmuwan bangunkan mikroba yang tertidur 40 ribu tahun di permafrost
Para ilmuwan bangunkan mikroba yang tertidur 40 ribu tahun di permafrost.

JAKARTA - Ilmuwan dari Universitas Colorado, Amerika Serikat, berhasil membangunkan mikroba yang telah tertidur selama puluhan ribu tahun di permafrost. 

Sampel diambil dari terowongan penelitian di Alaska yang menembus kedalaman lebih dari 100 meter. 

Di dinding terowongan, masih terlihat sisa-sisa bison dan mammoth purba.

Tristan Caro, penulis utama penelitian, menjelaskan bahwa saat memasuki terowongan, bau tidak sedap langsung terasa. 

Bagi seorang mikrobiolog, aroma seperti ini justru menarik karena seringkali menandakan aktivitas mikroorganisme

Tim peneliti mengumpulkan sampel yang berusia hingga sekitar 40 ribu tahun. 

Setelah diberi air dan diinkubasi pada suhu 4 hingga 12 °C, mikroba perlahan mulai aktif dan membentuk koloni.

Penelitian menunjukkan bahwa mikroba ini masih mampu mempertahankan kehidupan yang stabil. Mereka dapat menguraikan bahan organik dan menghasilkan karbon dioksida sebagai produk samping. 

Namun, proses "kebangkitan" tidak instan. Mikroba membutuhkan beberapa bulan untuk kembali aktif sepenuhnya. 

Tingginya kemampuan bertahan hidup organisme kuno ini menjadi perhatian para ilmuwan iklim karena mencairnya permafrost bisa melepaskan gas rumah kaca, mempercepat perubahan iklim.

Permafrost adalah lapisan tanah, es, dan batuan yang membeku dan menutupi hampir seperempat wilayah daratan belahan bumi utara. 

Lapisan ini berfungsi sebagai kapsul waktu, menyimpan sisa-sisa hewan purba, tumbuhan, serta berbagai bakteri dan mikroorganisme. 

Penemuan ini menambah pemahaman tentang bagaimana kehidupan mikroba dapat bertahan dalam kondisi ekstrem selama ribuan tahun sekaligus memperingatkan potensi dampak perubahan iklim global.