Berita BorneoTribun: Pola Makan hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Pola Makan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pola Makan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Maret 2026

Program Makan Bergizi Gratis Disebut Bisa Ubah Budaya Makan Anak Indonesia Menuju Generasi Sehat dan Cerdas 2045

60 Juta Orang Sudah Terima Manfaat Program Makan Bergizi Gratis Ini Target Besar Pemerintah
Program Makan Bergizi Gratis disebut mampu mengubah budaya makan masyarakat Indonesia. Pemerintah menargetkan generasi sehat dan cerdas menuju Indonesia Emas 2045 melalui peningkatan gizi anak.

60 Juta Orang Sudah Terima Manfaat Program Makan Bergizi Gratis Ini Target Besar Pemerintah

JAKARTA -- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah disebut mampu mendorong perubahan budaya makan dan pola hidup sehat di masyarakat. Program ini menjadi salah satu fondasi penting untuk mempersiapkan generasi Indonesia yang kuat, sehat, dan kompetitif menuju visi Indonesia Emas 2045.

Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI Hariqo Wibawa Satria mengatakan bahwa pembangunan kualitas sumber daya manusia tidak hanya bergantung pada pendidikan, tetapi juga pada pola makan sehat yang dimulai sejak usia dini.

Dalam sebuah siniar bersama ANTARA di Jakarta pada Kamis, Hariqo menjelaskan bahwa program MBG dirancang untuk membangun kebiasaan makan sehat sekaligus meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia.

Menurutnya, target jangka panjang dari program tersebut adalah menciptakan generasi muda yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga cerdas dan memiliki daya saing global.

“Pada tahun 2045 kita ingin anak-anak Indonesia memiliki pendapatan tinggi, tubuh sehat, otak cerdas, akhlak baik, serta mampu bersaing dengan generasi dari negara lain. Melalui program MBG kita sedang membangun budaya peradaban baru,” ujarnya.

Meningkatkan Kesadaran Gizi di Masyarakat

Hariqo menilai bahwa program ini juga membawa dampak positif terhadap kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang.

Ia mencontohkan bagaimana percakapan di media sosial saat ini tidak hanya dipenuhi isu geopolitik global seperti konflik Amerika Serikat dan Iran, tetapi juga mulai ramai membahas soal nutrisi, protein, dan pola makan sehat.

Meski demikian, ia mengakui bahwa kritik terhadap program tersebut tetap ada. Sebagian warganet mempertanyakan kualitas makanan hingga potensi penyimpangan anggaran.

Namun ia menilai kritik tersebut justru menjadi bagian dari proses edukasi publik.

“Sekarang jika ibu-ibu berbincang, bisa jadi mereka membahas protein atau kandungan gizi makanan. Itu hal yang patut disyukuri karena edukasi gizi mulai masuk ke kehidupan masyarakat,” katanya.

Fondasi Peradaban Baru Melalui Program Prioritas

Hariqo menambahkan bahwa MBG bukan satu-satunya program yang berfokus pada peningkatan kualitas manusia Indonesia.

Pemerintah juga menjalankan beberapa program prioritas lain seperti Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan Sekolah Rakyat yang dirancang untuk memperkuat kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat.

Menurutnya, ketiga program tersebut merupakan fondasi penting dalam membangun peradaban yang lebih berkualitas di masa depan.

“Program-program ini bukan sekadar kebijakan sosial biasa. Ini fondasi peradaban kita. Tujuannya jauh lebih besar daripada sekadar memberikan bantuan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa urgensi tersebut menjadi alasan pemerintah menjadikan MBG sebagai salah satu program utama dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Masalah Gizi Indonesia Masih Mengkhawatirkan

Meski Indonesia telah merdeka lebih dari delapan dekade, data menunjukkan bahwa masalah gizi masyarakat masih cukup serius.

Beberapa fakta yang diungkapkan antara lain:

  • Lebih dari 96 persen masyarakat Indonesia kurang mengonsumsi sayur dan buah

  • Sekitar 66 persen anak memiliki pola makan yang buruk

  • Sekitar 65 persen anak tidak sarapan sebelum berangkat sekolah

  • 32 persen remaja putri mengalami anemia

  • 21 persen balita mengalami stunting

Selain itu, sebelum masa pemerintahan saat ini, lebih dari 2.000 orang meninggal setiap hari akibat penyakit tuberkulosis dan penyakit kardiovaskular.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perbaikan pola makan dan kesehatan masyarakat masih menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah.

Sudah Menjangkau Puluhan Juta Penerima Manfaat

Melalui implementasi Program MBG, pemerintah berupaya memperbaiki kualitas gizi anak-anak Indonesia secara bertahap.

Hingga saat ini, program tersebut disebut telah menjangkau lebih dari 60 juta penerima manfaat di 24.204 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.

Pemerintah berharap, melalui langkah ini generasi muda Indonesia dapat tumbuh lebih sehat, memiliki kecerdasan optimal, dan siap menghadapi persaingan global pada masa mendatang.

FAQ

Apa itu Program Makan Bergizi Gratis (MBG)?
Program pemerintah yang menyediakan makanan bergizi bagi masyarakat, khususnya anak-anak, untuk meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan.

Apa tujuan utama MBG?
Meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia agar lebih sehat, cerdas, dan siap menghadapi persaingan global menuju Indonesia Emas 2045.

Siapa penerima manfaat program ini?
Utamanya anak-anak dan kelompok masyarakat yang membutuhkan asupan gizi lebih baik.

Berapa jumlah penerima manfaat MBG saat ini?
Program ini telah menjangkau lebih dari 60 juta penerima manfaat di berbagai wilayah Indonesia.

Mengapa program ini dianggap penting?
Karena data menunjukkan masih tingginya angka stunting, anemia, dan pola makan tidak sehat di Indonesia.

Sumber: ANTARA

Jumat, 27 Februari 2026

Berat Badan Turun Saat Ramadhan, Normal atau Berbahaya Ini Penjelasannya

Penurunan Berat Badan Saat Puasa Masih Wajar Ini Batas Aman Menurut Dokter Olahraga
Penurunan berat badan saat puasa Ramadhan normal 0,5–1 kg per minggu. Dokter olahraga jelaskan batas aman, risiko dehidrasi, sarkopenia, dan kelompok yang perlu pengawasan khusus.

Penurunan Berat Badan Saat Puasa Masih Wajar Ini Batas Aman Menurut Dokter Olahraga

JAKARTA -- Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga lulusan Universitas Indonesia, dr. Andi Kurniawan Sp.KO, menjelaskan bahwa penurunan berat badan selama bulan Ramadhan adalah hal yang normal. Dalam keterangannya kepada ANTARA pada Kamis, ia menyebut rata-rata penurunan berat badan yang masih tergolong aman berkisar antara 0,5 hingga 1 kilogram per minggu, atau maksimal 4 kilogram selama satu bulan penuh puasa.

Menurut dr. Andi, perubahan angka timbangan saat berpuasa merupakan respons fisiologis alami tubuh terhadap perubahan pola makan dan waktu asupan nutrisi. Ketika seseorang berpuasa selama 12 hingga 14 jam, tubuh akan terlebih dahulu menghabiskan cadangan glikogen otot sekitar 100–120 gram. Setelah itu, metabolisme beralih ke proses glukoneogenesis, yaitu pembentukan glukosa dari protein dan lemak, serta lipolisis atau pemecahan lemak sebagai sumber energi.

Hampir Separuh Orang Mengalami Penurunan Berat Badan

Secara umum, sekitar 44 persen orang yang menjalankan puasa mengalami penurunan berat badan. Namun, penting dipahami bahwa tidak semua penurunan berat badan berarti sehat. Kuncinya ada pada jumlah dan penyebabnya.

Penurunan berat badan yang tergolong wajar selama Ramadhan berdasarkan sejumlah kajian ilmiah, termasuk analisis yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients, berkisar antara 0,5 hingga 1,5 kilogram dalam 30 hari pada populasi umum tanpa intervensi diet khusus.

Sementara itu, bagi individu yang tetap aktif berolahraga dan menjaga pola makan seimbang saat sahur dan berbuka, penurunan hingga 2 kilogram dalam sebulan masih dianggap sehat. Penurunan tersebut umumnya berasal dari berkurangnya massa lemak dengan tetap mempertahankan massa otot.

Waspadai Jika Turun Lebih dari 2 Kg per Minggu

Drastisnya penurunan berat badan perlu diwaspadai. Jika berat badan turun lebih dari 2 kilogram per minggu, kondisi ini bisa menjadi tanda bahaya. Penyebabnya bisa berupa dehidrasi berat atau kehilangan massa otot yang dikenal sebagai sarkopenia.

Gejala yang patut diperhatikan antara lain:

  • Pusing berat yang tidak membaik setelah berbuka

  • Kulit tampak kering dan tidak elastis

  • Kelelahan ekstrem berkepanjangan

  • Tubuh terasa sangat lemas meski sudah makan

Jika mengalami tanda-tanda tersebut, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis agar tidak terjadi komplikasi yang lebih serius.

Kelompok yang Perlu Pengawasan Ketat

Tidak semua orang memiliki respons tubuh yang sama terhadap puasa. Beberapa kelompok perlu perhatian khusus dalam memantau berat badan selama Ramadhan, antara lain:

  1. Lansia di atas 60 tahun
    Kelompok ini berisiko mengalami kehilangan massa otot lebih cepat. Sarkopenia pada usia lanjut sulit dipulihkan jika tidak ditangani sejak awal.

  2. Penderita Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2 yang menggunakan insulin
    Mereka wajib memantau berat badan serta kadar gula darah secara rutin untuk mencegah hipoglikemia atau komplikasi lain.

  3. Remaja dalam masa pertumbuhan
    Kekurangan nutrisi dapat mengganggu pertumbuhan tulang dan perkembangan kognitif.

  4. Individu Overweight atau Obesitas
    Orang dengan Indeks Massa Tubuh tinggi umumnya mengalami penurunan berat badan lebih besar dibandingkan individu dengan berat badan normal. Namun tetap harus dilakukan secara sehat dan terkontrol.

Gaya Hidup Saat Berbuka Jadi Penentu

Dr. Andi menegaskan bahwa perubahan berat badan tidak terjadi secara otomatis pada semua orang. Pola makan saat berbuka dan sahur sangat menentukan.

Jika Anda mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak berlebihan saat berbuka, penurunan berat badan bisa terhambat bahkan berbalik naik. Sebaliknya, memilih makanan seimbang dengan protein cukup, serat, serta cairan yang memadai akan membantu tubuh tetap bugar selama puasa.

Puasa bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga kesempatan memperbaiki pola hidup. Dengan pengelolaan nutrisi dan aktivitas fisik yang tepat, Ramadhan dapat menjadi momentum menjaga kesehatan metabolik sekaligus mengontrol berat badan secara alami.

FAQ Seputar Penurunan Berat Badan Saat Puasa

1. Apakah turun 3 kg selama Ramadhan masih normal?
Masih dalam batas aman jika terjadi secara bertahap dan tidak lebih dari 1 kg per minggu.

2. Kenapa berat badan cepat turun di awal puasa?
Karena tubuh menghabiskan cadangan glikogen dan cairan, sehingga angka timbangan cepat berkurang.

3. Apakah puasa bisa menyebabkan kehilangan otot?
Bisa, jika asupan protein kurang dan tidak ada aktivitas fisik yang menjaga massa otot.

4. Apakah olahraga saat puasa aman?
Aman jika dilakukan dengan intensitas ringan hingga sedang dan tetap memperhatikan hidrasi saat berbuka.