Berita BorneoTribun: Raisa Fadila hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan
Tampilkan postingan dengan label Raisa Fadila. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Raisa Fadila. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 April 2026

Mahasiswa Indonesia–Filipina Perkuat Benteng Pesisir Lewat Penanaman Mangrove di Pulau Curiak

Kolaborasi ULM dan mahasiswa Filipina menanam mangrove di Pulau Curiak untuk melindungi pesisir, menjaga habitat bekantan, dan memperkuat konservasi lingkungan.
Kolaborasi ULM dan mahasiswa Filipina menanam mangrove di Pulau Curiak untuk melindungi pesisir, menjaga habitat bekantan, dan memperkuat konservasi lingkungan.

Barito Kuala, Kalsel - Kolaborasi lintas negara antara Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan Iloilo Science and Technology (ISAT) University Filipina menjadi langkah konkret dalam memperkuat ketahanan lingkungan pesisir melalui aksi penanaman mangrove di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat internasional yang melibatkan mahasiswa kedua perguruan tinggi. Fokus utama kegiatan adalah memperkuat perlindungan kawasan pesisir sekaligus mendukung kelestarian habitat satwa liar, khususnya bekantan yang menjadi ikon fauna Kalimantan.

Ketua Tim Merdeka Belajar Kampus Merdeka Terpadu (MBKT) FKIP ULM, Raisa Fadila, menjelaskan bahwa kerja sama ini merupakan bentuk tanggung jawab bersama dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Menurutnya, ekosistem mangrove memiliki peran vital sebagai pelindung alami garis pantai dari abrasi serta sebagai habitat penting bagi berbagai spesies.

Program bertema “Penanaman Mangrove untuk Keberlanjutan Lingkungan” tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa Indonesia dan Filipina untuk terlibat langsung dalam upaya pelestarian alam berbasis komunitas.

Pulau Curiak dipilih sebagai lokasi kegiatan karena kawasan ini dikenal sebagai wilayah konservasi bekantan dan memiliki ekosistem lahan basah yang sensitif terhadap perubahan lingkungan.

Selain fokus pada konservasi, kegiatan ini juga memberikan pengalaman pembelajaran lintas budaya bagi peserta internasional.

Kepala Unit Penunjang Akademik Bahasa ULM, Noor Eka Chandra, menyebutkan bahwa interaksi antara mahasiswa lokal dan internasional menjadi kesempatan penting untuk memperluas pemahaman budaya serta memperkenalkan konteks lingkungan khas Kalimantan.

Mahasiswa Filipina tidak hanya berpartisipasi dalam penanaman mangrove, tetapi juga mendapatkan pengenalan mengenai bahasa lokal dan karakteristik ekosistem lahan basah yang menjadi ciri khas wilayah Kalimantan Selatan.

Pendekatan ini dinilai efektif untuk membangun kesadaran global terhadap pentingnya konservasi lingkungan yang berkelanjutan.

Pulau Curiak diketahui memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi, namun dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan serius akibat abrasi serta aktivitas manusia.

Kepala Pusat Konservasi Bekantan ULM sekaligus pendiri Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), Dr Amalia Rezeki, menjelaskan bahwa mangrove memiliki fungsi penting dalam menjaga stabilitas wilayah pesisir.

Mangrove mampu menahan gelombang laut, memperlambat laju abrasi, serta membantu menyerap karbon dari atmosfer. Selain itu, vegetasi ini juga menjadi tempat berlindung bagi berbagai flora dan fauna di kawasan pesisir.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa dari kedua negara secara gotong royong menanam bibit mangrove di sejumlah titik yang mengalami kerusakan lingkungan.

Setelah kegiatan penanaman, peserta melanjutkan kegiatan dengan observasi habitat bekantan yang berada di kawasan konservasi Pulau Curiak.

Observasi ini memberikan pemahaman langsung mengenai keterkaitan antara mangrove dan kelangsungan hidup satwa liar di wilayah lahan basah.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga pemahaman praktis tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.

Kolaborasi internasional seperti ini diharapkan dapat menjadi model kegiatan konservasi berbasis pendidikan yang mampu memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekaligus memperkuat kerja sama antarnegara dalam menjaga kelestarian alam.

FAQ

1. Di mana lokasi kegiatan penanaman mangrove dilakukan?
Kegiatan dilaksanakan di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, yang merupakan kawasan konservasi bekantan dan ekosistem lahan basah.

2. Siapa saja yang terlibat dalam kegiatan ini?
Mahasiswa dan akademisi dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Indonesia dan Iloilo Science and Technology (ISAT) University Filipina.

3. Apa tujuan utama penanaman mangrove di Pulau Curiak?
Untuk memperkuat perlindungan pesisir dari abrasi, menjaga habitat bekantan, serta mendukung keberlanjutan ekosistem mangrove.

4. Mengapa mangrove penting bagi wilayah pesisir?
Mangrove berfungsi sebagai pelindung alami dari gelombang laut, menyerap karbon, serta menjadi habitat berbagai flora dan fauna.

5. Apa manfaat kegiatan ini bagi mahasiswa?
Mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung dalam konservasi lingkungan, pembelajaran lintas budaya, serta pemahaman tentang ekosistem lahan basah.