Berita BorneoTribun: Sahur Sehat hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Sahur Sehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sahur Sehat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Februari 2026

Tips Menjaga Berat Badan Stabil Selama Ramadhan Agar Tak Naik Drastis

Tips menjaga berat badan stabil selama Ramadhan dari dokter olahraga lulusan Universitas Indonesia dengan panduan pola berbuka, sahur sehat, aktivitas fisik, dan kontrol kalori agar puasa tetap sehat.
Tips menjaga berat badan stabil selama Ramadhan dari dokter olahraga lulusan Universitas Indonesia dengan panduan pola berbuka, sahur sehat, aktivitas fisik, dan kontrol kalori agar puasa tetap sehat.

JAKARTA -- Menjaga berat badan tetap stabil selama bulan suci Ramadhan bukan hal mustahil. Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga lulusan Universitas Indonesia, dr. Andi Kurniawan Sp.KO, membagikan panduan praktis agar puasa tetap sehat tanpa risiko kenaikan berat badan akibat pola makan berlebih saat berbuka.

Menurut dr. Andi, kunci utama ada pada cara berbuka dan konsistensi sahur. Banyak orang tergoda langsung menyantap makanan berat dalam porsi besar setelah 12–14 jam berpuasa. Padahal, kondisi hormonal tubuh sedang tidak stabil. Hormon ghrelin yang memicu rasa lapar meningkat tajam, sementara hormon leptin yang memberi sinyal kenyang menurun. Akibatnya, dorongan makan menjadi jauh lebih kuat dari biasanya.

Ia menyarankan agar berbuka diawali dengan 2–3 butir kurma dan air putih, lalu beri jeda sekitar 15–20 menit sebelum makan utama. Waktu ini penting karena tubuh membutuhkan sekitar 15–20 menit untuk mengirimkan sinyal kenyang dari lambung ke otak. Tanpa jeda tersebut, seseorang cenderung mengonsumsi kalori berlebihan sebelum merasa kenyang.

Data menunjukkan sekitar 19 persen orang mengalami kenaikan berat badan selama Ramadhan akibat pola makan yang tidak terkontrol. Risiko konsumsi gorengan tinggi lemak meningkat hingga 1,9 kali, minuman manis naik 1,7 kali, dan kurang aktivitas fisik meningkat 1,6 kali. Kombinasi ini menjadi pemicu utama berat badan melonjak setelah Lebaran.

Saat menyantap makan utama, fokuslah pada kualitas gizi, bukan sekadar jumlah porsi. Komposisi ideal yang direkomendasikan adalah setengah piring berisi sayur dan buah, seperempat protein seperti ayam, ikan, telur, tahu, atau tempe, serta seperempat karbohidrat kompleks. Protein memiliki thermic effect of food tertinggi, yakni 20–30 persen kalorinya terbakar saat proses pencernaan dan memberi rasa kenyang lebih lama.

Minuman manis juga perlu dibatasi. Satu gelas es teh manis bisa mengandung 150–250 kalori dengan nilai gizi minimal. Kalori cair seperti ini cepat diserap tubuh tanpa memberikan rasa kenyang optimal sehingga berisiko meningkatkan berat badan.

Menu khas Ramadhan di Indonesia seperti kolak, gorengan, es buah bersirup, dan takjil manis sering kali membuat asupan kalori melonjak drastis. Tanpa disadari, seseorang bisa mengonsumsi 800–1.000 kalori hanya dalam 15 menit pertama berbuka. Apalagi makan dalam jumlah besar pada malam hari cenderung lebih mudah disimpan sebagai lemak karena metabolisme tubuh secara biologis mulai melambat.

Selain mengatur pola berbuka, sahur tidak boleh dilewatkan. Asupan protein dan serat saat sahur membantu menekan rasa lapar ekstrem menjelang berbuka, sehingga mengurangi kecenderungan makan berlebihan di malam hari.

Aktivitas fisik juga tetap diperlukan. Targetkan 7.000–10.000 langkah per hari, bisa dengan berjalan kaki ke masjid, lebih sering berdiri di kantor, atau latihan beban ringan 15–20 menit setelah tarawih. Aktivitas ini membantu menjaga metabolisme tetap aktif selama bulan puasa.

Tak kalah penting, tidur cukup minimal 6–7 jam per hari, yang bisa dibagi antara tidur malam dan tidur siang singkat 20 menit. Kurang tidur terbukti mengganggu regulasi hormon lapar dan kenyang.

Dengan strategi sederhana namun konsisten, Anda tetap bisa menjalani Ramadhan dengan tubuh yang lebih sehat dan berat badan tetap terkontrol. Kuncinya bukan menahan lapar semata, melainkan mengelola pola makan dan gaya hidup secara bijak.

FAQ Seputar Menjaga Berat Badan Saat Ramadhan

1. Apakah puasa pasti membuat berat badan turun?
Tidak selalu. Jika asupan kalori saat berbuka berlebihan, berat badan justru bisa naik.

2. Berapa kalori ideal saat berbuka?
Sesuaikan dengan kebutuhan harian masing-masing, namun hindari lonjakan kalori besar dalam waktu singkat.

3. Apakah olahraga aman saat puasa?
Aman, selama dilakukan dengan intensitas ringan hingga sedang dan tidak berlebihan.

4. Mengapa sahur penting untuk berat badan?
Sahur membantu menjaga kestabilan energi dan mencegah makan berlebihan saat berbuka.

5. Apakah boleh minum minuman manis saat berbuka?
Boleh sesekali, namun sebaiknya dibatasi karena tinggi kalori dan rendah nutrisi.

Rabu, 25 Februari 2026

Tips Ampuh Agar Tidak Mengantuk di Kantor Saat Puasa Biar Tetap Produktif

Tips Agar Tidak Mengantuk di Kantor Saat Puasa dan Cara Mengatur Jam Tidur
Tips agar tidak mengantuk di kantor saat puasa dengan cara mengatur jam tidur, pola sahur sehat, dan strategi menjaga fokus kerja selama Ramadhan agar tetap produktif dan bertenaga. (Gambar ilustrasi AI)

Tips Agar Tidak Mengantuk di Kantor Saat Puasa dan Cara Mengatur Jam Tidur

JAKARTA -- Memasuki bulan Ramadhan, banyak pekerja di Indonesia mulai menyesuaikan ritme harian mereka, terutama saat sahur dan berbuka. Perubahan pola tidur dan pola makan ini sering membuat karyawan merasa mengantuk dan kurang fokus saat bekerja di kantor pada siang hari.

Rasa kantuk saat puasa bukan hal yang aneh. Bangun lebih awal untuk sahur, ditambah waktu tidur malam yang berkurang, dapat mengganggu kualitas istirahat. Namun, kondisi ini bisa diatasi dengan strategi yang tepat agar produktivitas tetap terjaga.

1. Atur Pola Tidur Lebih Awal

Salah satu kunci utama agar tidak mengantuk saat puasa adalah memajukan jam tidur malam. Jika biasanya tidur pukul 23.00, cobalah tidur pukul 21.30 atau 22.00 selama Ramadhan.

Tidur lebih awal membantu tubuh mendapatkan durasi istirahat cukup sebelum bangun sahur. Idealnya, orang dewasa membutuhkan 7–8 jam tidur per hari agar tetap bugar.

2. Manfaatkan Power Nap

Jika memungkinkan, manfaatkan waktu istirahat siang untuk tidur singkat sekitar 15–20 menit. Power nap terbukti membantu meningkatkan konsentrasi dan energi tanpa membuat tubuh terasa lemas setelah bangun.

Tidur siang terlalu lama justru bisa membuat kepala terasa berat. Jadi pastikan durasinya tetap singkat.

3. Perhatikan Asupan Sahur

Menu sahur sangat berpengaruh terhadap kondisi tubuh saat bekerja. Pilih makanan tinggi serat, protein, dan karbohidrat kompleks agar energi bertahan lebih lama.

Hindari makanan terlalu manis atau berminyak karena bisa membuat tubuh cepat lemas dan mengantuk. Minum air putih yang cukup juga membantu mencegah dehidrasi yang memicu rasa kantuk.

4. Kurangi Begadang

Begadang untuk aktivitas yang tidak penting sebaiknya dihindari selama puasa. Waktu istirahat malam yang kurang akan berdampak langsung pada produktivitas kerja keesokan harinya.

Disiplin mengatur waktu tidur adalah investasi kesehatan yang sangat berharga selama Ramadhan.

5. Tetap Aktif Bergerak di Kantor

Saat mulai merasa mengantuk, cobalah berdiri sejenak, berjalan ringan, atau melakukan peregangan sederhana di meja kerja. Aktivitas ringan ini dapat melancarkan sirkulasi darah dan membuat tubuh kembali segar.

Anda juga bisa mencuci muka dengan air dingin untuk membantu mengurangi rasa kantuk.

6. Atur Beban Kerja dengan Cerdas

Jika memungkinkan, kerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi pada pagi hari saat energi masih optimal. Sementara pekerjaan ringan bisa dilakukan menjelang sore.

Mengatur prioritas pekerjaan membantu menjaga performa tetap stabil selama puasa.

7. Batasi Konsumsi Kafein Berlebihan

Mengandalkan kopi saat sahur atau berbuka memang terasa membantu, namun konsumsi kafein berlebihan justru dapat mengganggu kualitas tidur malam. Akibatnya, keesokan hari Anda tetap merasa mengantuk.

Konsumsi secukupnya dan hindari minum kopi terlalu dekat dengan waktu tidur.

Mengapa Puasa Membuat Mudah Mengantuk

Saat berpuasa, tubuh mengalami perubahan metabolisme. Asupan energi hanya masuk saat sahur dan berbuka. Jika pola tidur tidak diatur dengan baik, tubuh akan kesulitan beradaptasi.

Selain itu, dehidrasi ringan dan kurang tidur menjadi penyebab utama rasa kantuk di siang hari. Karena itu, kombinasi pola makan sehat dan manajemen waktu tidur sangat penting.

FAQ Seputar Kantuk Saat Puasa

1. Berapa jam tidur ideal saat puasa?
Tetap 7–8 jam per hari, bisa dibagi antara tidur malam dan tidur singkat siang hari.

2. Apakah tidur siang membatalkan puasa?
Tidak. Tidur siang tidak membatalkan puasa dan justru membantu memulihkan energi.

3. Kenapa tetap mengantuk meski sudah sahur?
Bisa jadi karena kualitas tidur kurang baik atau menu sahur kurang seimbang.

4. Apakah kopi saat sahur aman?
Boleh, tetapi jangan berlebihan agar tidak mengganggu kualitas tidur malam.

Menjalani puasa bukan alasan untuk menurunkan produktivitas kerja. Dengan mengatur jam tidur, menjaga asupan sahur, dan menerapkan pola hidup sehat, Anda tetap bisa tampil prima di kantor sepanjang Ramadhan. Mulailah dari kebiasaan kecil hari ini, dan rasakan perbedaannya.