Iklan Tutup X

Rabu, 19 Agustus 2020

Pedagang Pasar di NTB Kabur Saat Didatangi Petugas Tes Swab

Ikuti kami:
Google

Ilustrasi tes swab di pasar. Sejumlah pedagang pasar di Kota Mataram, NTB, kabur meninggalkan lapak ketika petugas kesehatan datang melakukan tes swab massal. (ANTARA FOTO/ARIF FIRMANSYAH)


BORNEOTRIBUN | JAKARTA - Sejumlah pedagang pasar tradisional Kebon Roek, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) memilih kabur ketika petugas gabungan dari Dinas Kesehatan Provinsi NTB tiba untuk melakukan pemeriksaan massal.


Pemeriksaan massal dengan metode polymerase chain reaction (PCR) atau yang juga dikenal dengan swab corona itu juga bagian dari razia protokol kesehatan di pasar.


"Sudah kita rundingkan ya dengan satuan, yang jelas per orang kita targetkan," kata Kadinkes Provinsi NTB Nurhandini Eka Dewi dikutip dari siaran CNN Indonesia TV, Selasa (18/8).


Namun ketika petugas datang, para pedagang spontan meninggalkan lapak. Bahkan para petugas juga merayu pedagang untuk melakukan tes swab.


Petugas juga memberikan edukasi kepada pedagang serta warga setempat bahwa pemeriksaan ini sebagai upaya deteksi virus sekaligus penelusuran kontak demi memutus rantai penyebaran Covid-19.


Salah seorang warga negara asing (WNA) yang kebetulan melintas di pasar itu juga diwajibkan melakukan pemeriksaan swab dengan petugas.


Eka menyebut upaya ini dilakukan Pemprov NTB mengingat klaster pasar kerap kali muncul. Beberapa penelusuran kontak kasus positif di Kota Mataram juga diduga berkaitan dengan aktivitas jual-beli di pasar.


"Sebelum-sebelumnya di Mandalika pernah [pedagang positif Covid-19], tapi Mandalika sudah dilakukan contact tracing," katanya.


Temuan kasus yang berkaitan dengan pasar juga sebelumnya pernah terjadi di daerah lain dalam dua bulan terakhir, seperti di Pasar Karang Anyar Jakarta Pusat, Pasar Sumur Batu Kemayoran Jakarta Pusat.


Bukan hanya di NTB, sebelumnya pada akhir Juli lalu, sejumlah pedagang pasar Wonomulyo di Sulawesi Barat ogah melakukan tes swab meski dirinya dinyatakan reaktif usai menjalani rapid test.


Sementara itu, angka kasus positif di Provinsi NTB masih terus bertambah. Perkembangan data terakhir per Senin (17/8), setidaknya 2.480 orang terinfeksi. Dari angka itu, 1680 orang telah pulih, sementara 137 lainnya meninggal dunia.(cnn/kh/en)

Google Logo Follow
Heri Yakop
Heri Yakop
Editor / Wartawan
Wartawan dan editor berpengalaman dalam liputan berita daerah, nasional, sosial, dan politik. Aktif menyajikan informasi yang akurat, terpercaya, dan mudah dipahami pembaca.
  

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.