Kalau dulu yang semarak di negeri ini cuma baliho politik, janji kampanye, dan wajah-wajah yang mendadak ramah lima menit sebelum pemilu. Kini ada fenomena baru yang tak kalah meriah, oplas hidung. Ya, bangsa yang sejak lahir diwarisi hidung tropis nan bersahaja, kini ramai-ramai mendaftar menuju era mancung nasional. Rasanya negeri ini memang selalu punya bakat luar biasa dalam urusan pencitraan, dari panggung parlemen sampai batang hidung.
Lucunya, hidung kini seperti nasib politikus. Kalau bentuk aslinya kurang meyakinkan, tinggal direvisi. Dulu yang diubah citra lewat konsultan media, sekarang yang diubah anatomi lewat dokter estetika. Semangatnya sama. Yang penting tampak lebih meyakinkan di depan publik.
Artis-artis papan atas sudah lebih dulu jadi pionir revolusi nasal ini. Rina Nose, misalnya, terang-terangan menyerahkan hidung dan kantung matanya ke tangan dr. Tompi. Biayanya belasan hingga puluhan juta rupiah, bahkan bisa menembus Rp 70 juta. Netizen pun geger seperti sidang paripurna. Ada memuji. Ada nyinyir. Ada pula mendadak jadi ahli bedah dari kolom komentar.
Lalu hadir Ria Ricis, yang tak mau ketinggalan kereta modernitas. Dengan alasan hidung tak simetris dan masalah sinus, ia ikut melakukan perombakan. Kalau di dalam negeri biaya sudah bikin jantung berdebar, luar negeri lebih bikin dompet masuk ICU. Korea Selatan Rp 70–200 juta, Thailand Rp 40–90 juta. Angka-angka ini kalau dibaca pelan-pelan rasanya mirip nominal proyek infrastruktur skala kelurahan.
Yang bikin ngakak sekaligus miris, fenomena ini tidak berhenti di kalangan artis. Masyarakat biasa ikut antre seperti sedang berburu sembako murah menjelang Lebaran. Klinik estetika di Jakarta, Surabaya, Bandung penuh sesak oleh warga yang merasa hidupnya belum lengkap kalau garis hidung belum menyerupai poster drama Korea.
Dari Rp 15 juta sampai Rp 40 juta, hidung bisa dipanjangkan, dipertajam, dipoles, bahkan mungkin diberi visi-misi lima tahun ke depan. Kepercayaan diri pun melonjak drastis. Seolah masa depan bangsa bisa ditentukan dari seberapa tajam siluet wajah saat foto profil.
Kalau dipikir-pikir, ini sangat politis. Di negeri yang sangat mencintai kemasan, substansi sering kalah oleh tampilan. Sama seperti pemimpin yang gemar mempercantik slogan tapi lupa memperbaiki isi kebijakan. Masyarakat pun diajak percaya, perubahan bentuk luar otomatis membawa perubahan nasib. Hidung mancung seolah menjadi manifesto baru kelas sosial. Lebih tinggi batangnya, lebih tinggi pula gengsinya.
Data internasional menambah rasa satir ini. Korea Selatan mencatat lebih dari 293 ribu pasien asing pada 2022, dengan 82 ribu di antaranya operasi plastik. Thailand juga jadi magnet Asia Tenggara. Bisa dibayangkan, ribuan warga Indonesia mungkin ikut menyumbang okupansi kursi pesawat demi satu tujuan mulia, pulang dengan hidung yang lebih diplomatis.
Fenomena ini akhirnya terasa seperti miniatur politik nasional. Tuhan memberi bentuk asli, manusia merasa perlu revisi total. Yang asli dianggap kurang menjual, yang buatan dianggap lebih punya masa depan. Pesek diperlakukan seperti rakyat kecil, sering diabaikan. Mancung dipuja seperti elite, selalu tampil di depan.
Maka lahirlah generasi yang percaya, masa depan bisa diukur dari sudut hidung, bukan dari isi kepala. Pesek dianggap warisan masa lalu. Mancung adalah simbol kemajuan. Padahal, kalau mau jujur, hidung tetap dipakai untuk bernapas, bukan untuk memenangkan kontestasi sosial.
Inilah komedi paling nyeleneh negeri ini. Saat politik sibuk oplas citra, rakyat ikut oplas wajah. Semua ingin tampak lebih baik, lebih tajam, lebih menjual. Bedanya, yang satu dibayar dengan uang pribadi, yang satu lagi sering dibayar dengan harapan publik.
“Bang, hidung abang kan pesek, kenapa tak oplas juga?”
“Waduh, wak. Mau pesek atau mancung sama aja, tetap dikenal Kang Ngopi. Kecuali ada oplas mulut agar semakin asyik seruput Koptagul, boleh.” Ups
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
