Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Rosadi Jamani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rosadi Jamani. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juli 2026

Akhirnya Jebol, Polisi Resmi Menetapkan Febrie Tersangka Korupsi dan TPPU

Akhirnya Jebol, Polisi Resmi Menetapkan Febrie Tersangka Korupsi dan TPPU
Akhirnya Jebol, Polisi Resmi Menetapkan Febrie Tersangka Korupsi dan TPPU.
Wow, sebuah serangan mematikan dari cokelat muda. Panglima pemberantasan korupsi dari cokelat tua, Febrie resmi ditetapkan sebagai tersangka. Tak hanya satu tembakan, melainkan dua, yakni tersangka korupsi dan TPPU. Liga korupsi semakin panas, dan nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Sabtu, 11 Juli 2026, panggung hukum negeri MBG kembali berguncang. Mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) itu resmi ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) oleh Kortastipidkor Polri. Pengumuman disampaikan langsung Irjen Pol. Totok Suharyanto. Rasanya seperti menonton film yang baru sepuluh menit lalu menampilkan tulisan The End, eh tiba-tiba muncul lagi, "Episode Selanjutnya."

Benar-benar plot twist yang membagongkan. Si Febrie mungkin siap-siap istirahat usai menyatakan mundur, eh malah menyandang status tersangka. Mirip seperti ia menjadikan para koruptor kakap tersangka juga. Sungguh epik, wak.

Ironinya benar-benar premium. Febrie bukan nama sembarangan. Lahir di Jakarta, 19 Februari 1968, lulusan Fakultas Hukum Universitas Jambi, lalu meraih gelar doktor di Universitas Airlangga dengan disertasi tentang penyitaan aset TPPU. Kariernya dimulai sebagai jaksa di Kejari Sungai Penuh pada 1996, lalu melesat menjadi Kajari Bandung, Aspidsus Kejati Jawa Timur, Wakajati Yogyakarta dan DKI Jakarta, Kajati NTT, Kajati DKI Jakarta, hingga akhirnya duduk di kursi Jampidsus pada Januari 2022.

Selama memimpin, ia menangani sederet perkara raksasa. Mulai Jiwasraya senilai Rp16,81 triliun, Asabri Rp22,78 triliun, BTS Kominfo yang menyeret Johnny G. Plate, tata niaga timah dengan kerugian lingkungan ratusan triliun, Garuda Indonesia, impor gula, Chromebook, dugaan MBG, hingga Satgas PKH yang menyetor triliunan rupiah ke kas negara.

Kalau dunia sepak bola punya Erling Haaland sebagai mesin gol, dunia pemberantasan korupsi pernah menganggap Febrie sebagai mesin pemburu koruptor.

Lalu pertandingan berubah arah.

Kalau Inggris menghadapi Norwegia pukul 02.00 subuh nanti adalah duel hidup-mati memperebutkan tiket semifinal Piala Dunia, maka drama hukum ini seperti Inggris sedang menyerang habis-habisan, tetapi bola malah masuk ke gawang sendiri. Stadion mendadak sunyi, komentator kehilangan kata-kata, sementara penonton sibuk memastikan skor di papan benar atau layar televisinya yang rusak.

Polri menetapkan Febrie sebagai tersangka setelah memeriksa 15 saksi, dua ahli, dan melakukan gelar perkara. Bersama FA, seorang pihak swasta berinisial DR juga ditetapkan sebagai tersangka dan telah ditahan di Rutan Polda Metro Jaya.

Babak berikutnya lebih membuat kalkulator mengundurkan diri. Di rumah Sentul yang diakui milik Febrie, penyidik menemukan 74 kilogram emas batangan, USD4.767.300, SGD14.083.800, dan uang tunai rupiah. Nilainya diperkirakan mencapai Rp476 miliar.

Belum cukup. Dari Cafe de'Clan Cipete, money changer, dan sejumlah lokasi lain, kembali disita berbagai mata uang asing dan rupiah sehingga total barang sitaan diperkirakan mencapai Rp541 miliar.

Itu bukan lagi angka fantastis. Itu angka membuat mesin penghitung uang minta pensiun dini. KPK juga menduga rumah mewah di Sentul tidak tercantum dalam LHKPN 2025 dan diduga menggunakan skema nominee. Sementara kekayaan yang dilaporkan sekitar Rp18,2 miliar. Dugaan tersebut masih menjadi bagian dari proses hukum yang berjalan.

Kini Komisi III DPR berencana membentuk Panja untuk mengawal perkara tersebut.

Seheboh apa pun tepuk tangan penonton terhadap plot twist hari ini, satu aturan tetap berlaku, Febrie Adriansyah tetap berhak atas asas praduga tak bersalah hingga ada putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap. Karena dalam pertandingan hukum, peluit akhir bukan ditiup netizen, melainkan hakim. Sampai tulisan ini dibuat, Febrie belum ditahan. Semoga saja tak seperti tersangka lain, sampai sekarang tidak pernah ditahan.

“Bang, berarti skornya menjadi 2-1. Cokelat muda sempat kebobolan dengan ditetapkannya Sony dan Lalu tersangka oleh Jampidsus. Sekarang Kortastipidkor menetapan Febrie tersangka. Apakah akan ada gol lagi tercipta?”

“Sepertinya akan ada lagi. Soalnya baru half time, wak” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Senin, 06 Juli 2026

Merinding Lihat Lautan Manusia di Tehran Jelang Pemakaman Ali Khamenei

Merinding Lihat Lautan Manusia di Tehran Jelang Pemakaman Ali Khamenei
Merinding Lihat Lautan Manusia di Tehran Jelang Pemakaman Ali Khamenei.
Kalau kalian menonton video lautan manusia yang memenuhi jalan-jalan Tehran, mungkin dada kalian ikut sesak. Bukan karena angka-angka begitu besar, tetapi karena menyaksikan bagaimana jutaan manusia menangis bersama. Sulit membayangkan seperti apa rasanya ketika sebuah kota berubah menjadi hamparan duka, ketika suara tangisan jauh lebih nyaring dari suara kendaraan, ketika setiap langkah seolah mengantar sebuah babak sejarah menuju liang lahat. Begitu besar penghormatan sebagian warga Iran kepada almarhum Ali Khamenei hingga pemandangan itu membuat bulu kuduk berdiri dan hati dipenuhi rasa pilu.

Di bawah langit Tehran yang muram, jutaan orang berjalan dengan wajah basah oleh air mata. Mereka datang bukan sekadar menghadiri sebuah pemakaman, melainkan mengantarkan seseorang yang selama 37 tahun menjadi wajah paling dominan dalam perjalanan Republik Islam Iran. Diperkirakan 15 hingga 20 juta orang mengikuti rangkaian prosesi pemakaman selama enam hari yang berlangsung di lima kota di dua negara. Angka sebesar itu nyaris tak sanggup diterjemahkan oleh logika. Yang bisa dipahami hanyalah satu hal, kehilangan, bagi mereka, telah menjelma menjadi lautan manusia.

Grand Mosalla Tehran tak lagi mampu menampung lautan kesedihan itu. Kapasitas ruang salat telah penuh berjam-jam sebelum doa jenazah dimulai. Gerbang ditutup bukan karena acara usai, melainkan karena tak ada lagi sejengkal tanah tersisa. Puluhan juta pasang mata memerah. Jutaan bibir bergetar melantunkan doa. Jutaan tangan terangkat memohon ampun bagi sosok yang telah pergi. 

Reza, seorang profesor berusia 37 tahun, mengucapkan kalimat yang membuat hati siapa pun tercekat, "Kami datang karena kami berjanji pada pemimpin tertinggi untuk berdiri di sisinya sampai akhir. Untuk waktu yang lama, kami berteriak, kami akan mengorbankan hidup kami untuk pemimpin, tetapi dialah mengorbankan dirinya untuk kami." Di balik kalimat itu tersimpan ironi yang begitu getir. Janji kesetiaan akhirnya hanya bisa dibayar dengan air mata di depan peti jenazah.

Di atas panggung tinggi Grand Mosalla, jenazah Ayatollah Ali Khamenei terbaring bersama empat anggota keluarganya di dalam peti kaca. Mereka dilaporkan gugur dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari, termasuk menantu, putri, menantu perempuan, dan seorang cucu perempuan yang baru berusia 14 bulan. Bayi yang belum sempat mengenal kerasnya dunia kini harus berbaring dalam keheningan abadi bersama sang kakek. Tidak ada pidato politik yang mampu menghapus luka itu. Tidak ada slogan dapat menghidupkan kembali seorang anak kecil yang belum sempat memahami arti kehidupan. 

Namun di tengah kesedihan itu, sejarah kembali memperlihatkan wajahnya. Seorang pemimpin sepanjang hidupnya begitu akrab dengan retorika pengorbanan dan perjuangan akhirnya pulang ke peristirahatan terakhir bersama cucunya sendiri. Arash Rahimi, 40 tahun, mengatakan kepada Reuters, "Blood feud... kita memiliki pertikaian darah dengan Amerika Serikat." Kalimat itu terdengar seperti ratapan yang berubah menjadi dendam. Betapa menyedihkannya ketika kematian pun gagal mengakhiri lingkaran kebencian. Bahkan di depan liang lahat, perang masih menemukan alasan untuk terus hidup.

Prosesi pemakaman berlangsung seperti perjalanan panjang menguras jiwa. Pada Minggu, 5 Juli, Salat al-Mayyit dipimpin Ayatollah Jafar Sobhani di Grand Mosalla Tehran sejak pukul 06.00 waktu setempat. Tiga kali doa dipanjatkan, masing-masing untuk sang pemimpin, tiga anggota keluarganya, dan khusus bagi bayi mungil yang turut menjadi korban. Esok harinya, 6 Juli, iring-iringan jenazah menempuh perjalanan sekitar 10 kilometer dari Lapangan Imam Hossein menuju Lapangan Azadi. Pada 7 Juli, jenazah dibawa ke kota suci Qom, kemudian diterbangkan ke Najaf dan Karbala di Irak pada 8 Juli, sebelum akhirnya dimakamkan pada 9 Juli di samping Makam Imam Reza di Mashhad, sesuai wasiat terakhirnya. Begitu panjang perjalanan menuju tanah peristirahatan, seolah sejarah sendiri enggan melepaskan sosok yang telah begitu lama menguasai panggung politik Iran.

Namun di balik kemegahan prosesi itu, ada ironi yang menusuk lebih dalam dari ribuan pidato. Mojtaba Khamenei, putra almarhum yang kini disebut sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, tidak dijadwalkan hadir dalam acara publik karena alasan keamanan. Seorang anak tak dapat mengantar ayahnya menuju pemakaman. Sebuah kenyataan terasa begitu pahit. Rezim selama puluhan tahun berbicara lantang tentang keberanian, pengorbanan, dan keteguhan justru harus menyembunyikan pewarisnya di saat rakyat memenuhi jalan-jalan dengan air mata. Sejarah terkadang memang lebih kejam dari musuh mana pun.

Di sisi lain, 14.000 jurnalis, termasuk 900 reporter asing, meliput prosesi ini. Sebanyak 50 juta potong roti dipanggang untuk memenuhi kebutuhan para pelayat. Angka-angka itu terdengar megah, tetapi sekaligus menyisakan satire pahit. Sebuah negeri bertahun-tahun hidup di bawah tekanan sanksi dan kesulitan ekonomi mampu menghadirkan panggung duka begitu kolosal. Dunia menyaksikan, sebagian dengan simpati, sebagian lagi dengan sinisme, sementara rakyat tetap berdiri berjam-jam di bawah matahari hanya untuk mengucapkan salam perpisahan.

Nuan bayangkan berdiri di tengah 15 juta orang yang menangis. Dengarkan pekikan "Kematian bagi Amerika!" bersahutan di antara isak tangis tak kunjung reda. Lihat para ibu menggendong anak-anak mereka di bawah terik Juli, sementara petugas memasang 6.000 penyemprot air demi mendinginkan jutaan pelayat. Pemandangan itu begitu memilukan sekaligus terasa absurd. Mereka datang membawa cinta, kehilangan, keyakinan, bahkan kemarahan. Namun mereka bawa pulang mungkin hanyalah tubuh letih dan hati tetap berlubang.

Pada akhirnya, yang tersisa bukan sekadar kisah wafatnya seorang pemimpin, melainkan potret sebuah bangsa sedang bergulat dengan sejarahnya sendiri. Sebagian orang benar-benar menangis karena kehilangan sosok mereka hormati. Sebagian mungkin menangis karena perang tak kunjung selesai, karena sanksi memiskinkan, karena anak-anak tumbuh dalam bayang-bayang konflik, atau karena masa depan terasa semakin jauh. Di situlah tragedi terbesar berada. Ketika air mata rakyat bercampur dengan propaganda, ketika duka bertemu politik, ketika kematian seorang pemimpin berubah menjadi panggung bagi pertanyaan yang tak pernah selesai dijawab.

Biarkan mereka menangis. Sebab kadang-kadang, tangisan bukan hanya untuk seseorang yang telah pergi. Tangisan adalah bahasa terakhir sebuah bangsa terlalu lama hidup di antara perang, pengorbanan, harapan, dan kehilangan yang tak pernah benar-benar menemukan ujungnya.

“Merinding nonton videonya, kok bisa manusia sebanyak itu menghadiri pemakaman.”

“Saya juga begitu, wak. Gimana dengan pemimpin kita, apakah akan dihadiri jutaan warga juga ya?” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Brazil Nangis Darah Dihancurkan Norwegia 2-1

Brazil Nangis Darah Dihancurkan Norwegia 2-1
Brazil Nangis Darah Dihancurkan Norwegia 2-1
Erling Haaland benar-benar menjadi mimpi buruk Brazil. Dua golnya ke gawang Alisson, membuat Tim Samba angkat koper. Rakyat Brazil pasti nangis darah ni. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Meadowlands Stadium, East Rutherford, mendadak berubah menjadi panggung komedi. Wasit Ismail Elfath dari Amerika meniup peluit. Brazil, ranking 6 FIFA bersama Carlo Ancelotti, datang penuh percaya diri. Di seberang, Norwegia ranking 31 FIFA bersama Ståle Solbakken, pelatih asli Norwegia, bukan impor. Julukan mereka Løvene alias Singa, tapi malam itu mereka lebih mirip gerombolan Viking yang baru turun dari kapal perang sambil membawa buku pelajaran berjudul "Cara Membuat Brazil Bingung."

Baru menit ke-4 Patrick Berg sudah menjebol gawang Brazil. Tribun Norwegia meledak seperti dapat bonus gaji sepuluh tahun. Untung wasit menganulir gol karena offside. Pendukung Brazil langsung mengusap dada. Jantung yang tadi mau kabur akhirnya balik lagi ke tempatnya.

Menit ke-10 Matheus Cunha dijatuhkan di kotak penalti. VAR dipanggil. Semua pemain mengelilingi wasit seperti warga mengejar mobil gas. Menit ke-13, penalti diberikan. Bruno maju dengan gaya pahlawan film laga. Seluruh pendukung Brazil sudah bersiap joget samba. Duk..! Orjan Nyland menepis bola. Stadion langsung sunyi. Bahkan burung yang terbang di atas stadion seolah ikut geleng-geleng kepala.

Setelah itu Brazil menyerang tanpa henti. Vinicius Junior, Gabriel Martinelli, Rayan, hingga Casemiro silih berganti menembak. Nyland malah berubah menjadi pintu brankas yang password-nya lupa dibocorkan. Sementara Norwegia santai menguasai permainan. Statistik menunjukkan penguasaan bola 67 persen milik mereka. Brazil cuma 33 persen. Rasanya pemain Samba sedang ikut les sepak bola gratis yang gurunya Martin Ødegaard.

Babak pertama berakhir tanpa gol.

Di ruang ganti, Ancelotti memberi tausiyah, "Main yang benar. Jangan seperti proyek besar, anggarannya triliunan, hasilnya cuma pagar seng." Di ruang sebelah, Solbakken tersenyum, "Tetap tenang. Jangan seperti politik, hitungannya belum selesai, pesta kemenangan sudah duluan." Dua pelatih, dua nasihat, satu tujuan, bikin penonton senyum-senyum sendiri.

Babak kedua dimulai. Oscar Bobb dan Andreas Schjelderup masuk memperkuat Norwegia. Brazil membalas dengan Endrick, Neymar, dan Danilo. Serangan datang bertubi-tubi, tetapi Nyland masih seperti satpam galaksi yang menolak semua tamu tanpa undangan.

Menit ke-79, Andreas Schjelderup mengirim umpan lambung sempurna. Erling Haaland melompat tinggi. Duarrr... Goooool! Sundulannya membuat skor menjadi 0-1. Tribun Norwegia berubah menjadi festival Viking. Ada yang memukul panci, meniup peluit, sampai memeluk orang asing seolah saudara kandung yang baru ditemukan.

Belum selesai. Menit ke-90, Schjelderup kembali menyodorkan umpan matang. Haaland menerima bola di batas kotak penalti lalu melepaskan tembakan datar ke pojok kanan bawah gawang. Goooooool! 0-2! Stadion berguncang. Pendukung Norwegia menari seperti baru menemukan harta karun peninggalan leluhur Viking.

Brazil terus menyerang. Ederson sempat mendapat peluang pada menit 90+3, Danilo mengirim crossing, Vinicius terus menusuk, tetapi semuanya mentok di benteng Norwegia.

Lalu datang menit 90+10. Wasit menunjuk titik putih. Neymar maju sebagai algojo. Stadion kembali menahan napas. Gooool! Neymar mengeksekusi penalti dengan tembakan akurat ke sisi kanan gawang. Skor berubah menjadi 1-2. Pendukung Brazil sempat berteriak seolah keajaiban akan datang, tetapi itu hanya gol hiburan. Sesaat kemudian peluit panjang berbunyi.

Pertandingan selesai. Brazil tetap angkat koper. Norwegia melaju, Haaland menjadi mimpi buruk baru bagi Samba. Seluruh rakyat Brazil larut dalam kesedihan. Ada yang memandangi lima trofi Piala Dunia sambil menghela napas, ada yang mematikan televisi sebelum komentator selesai bicara, bahkan mungkin ada menyalahkan arah angin di New Jersey. Sementara para Viking berpesta pora. Malam itu mereka bukan sekadar menang, tetapi sukses membuat raksasa sepak bola dunia pulang lebih cepat sambil membawa koper penuh evaluasi.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Teganya KPK, Bupati Langkat Belum Sempat Makan Durian Malah Ditangkap

Teganya KPK, Bupati Langkat Belum Sempat Makan Durian Malah Ditangkap
Teganya KPK, Bupati Langkat Belum Sempat Makan Durian Malah Ditangkap.
Kita lanjutkan kisah ditangkapnya Bupati Langkat, Ondim. Rupanya saat penangkapan, ia mau makan durian. Eh..KPK menciduk duluan. Tega benar dah, kan kemponan. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Ini bukan sekadarn OTT. Ini tragedi gastronomi nasional. Ini luka kolektif pecinta durian se-Asia Tenggara. Ini peristiwa membuat para penggemar Musang King, Montong, Bawor, Petruk, Jemongko hingga Durian Kampung mendadak berkabung tiga hari tiga malam sambil menghirup aroma kulit durian bekas.

Nuan bayangkan. Lebih dari 200 kepala daerah dari seluruh Indonesia sedang berkumpul di Lubuk Pakam, Deli Serdang. Forum resmi Forbisda APKASI bersama KADIN sudah selesai sekitar pukul lima sore. Saatnya masuk agenda paling ditunggu para pemimpin daerah, pesta durian. Bukan pesta babi ya.

Jam enam malam. Meja sudah dipenuhi durian. Ada durian montong yang badannya segede koper haji plus. Ada musang king yang wajahnya seperti bangsawan kerajaan buah-buahan. Ada bawor yang bentuknya mirip granat zaman Majapahit. Ada petruk yang aromanya sanggup membuat tetangga tiga gang mendadak datang silaturahmi.

Suasana hangat, akrab, dan penuh persaudaraan. Para bupati saling ngobrol, tertawa, bertukar pengalaman pembangunan daerah, berbagi cerita APBD, mungkin juga diam-diam membandingkan siapa paling kuat makan durian tanpa takut kolesterol naik.

Namun tiba-tiba...Ondim menghilang. Syah Afandin, Bupati Langkat periode 2025–2030, lenyap.

Para bupati mulai panik. “Mana Ondim?” “Tadi ada.” “Kok sekarang hilang?” “Jangan-jangan dia sudah duluan nyerbu durian premium.”

“Jangan-jangan lagi cari Musang King ukuran kambing.”

Ternyata bukan. Bukan ke toilet. Bukan ke parkiran. Bukan pula sedang bertapa di bawah pohon durian.

Tim KPK datang lebih cepat dari semut menemukan durian pecah. Lebih agresif dari lalat yang baru dapat kabar ada durian busuk. Lebih presisi dari  tendangan Messi ke gawang Cape Varde.

Lalu, byurrr! Bupati Langkat langsung diamankan. Katanya terkait dugaan suap proyek di Pemkab Langkat.

Astaga. Durian belum dibelah. Durian belum dibuka. Durian belum disendok. Durian belum difoto untuk status WA bertuliskan, “Nikmat mana lagi yang kau dustakan.” Malah sudah harus berhadapan dengan prosedur hukum.

Lae bayangkan sedihnya durian-durian itu. Mereka sudah matang sempurna. Sudah rela jatuh dari pohon. Sudah siap mengorbankan kulit berduri demi membahagiakan umat manusia. Namun calon penikmatnya justru berangkat menuju Jakarta. "Kasian, kemponan die," kata budak Pontianak.

Ini benar-benar kisah paling pahit sejak seseorang membeli durian mahal ternyata isinya cuma tiga pongge dan dua biji.

Syah Afandin sendiri bukan tokoh sembarangan. Ia adik mantan Gubernur Sumut, Syamsul Arifin. Politikus PAN. Kariernya melesat dari DPRD, menjadi Plt Bupati, lalu terpilih penuh sebagai Bupati Langkat periode 2025–2030.

Namun kini sejarah mungkin akan mengenangnya dengan gelar baru. "Bupati yang ditangkap sebelum makan durian."

Sebuah gelar yang terdengar seperti judul film festival buah internasional. Kronologinya pun seperti sinetron ijazah. OTT dilakukan di Binjai. Lalu merembet ke Medan. Kemudian menyentuh Deli Serdang. Total tujuh orang diamankan di tiga lokasi berbeda.

Wakil Ketua KPK, Fitroh Rohcahyanto, ketika dikonfirmasi hanya menjawab singkat, “Benar.” Selesai. Tidak ada tambahan.

Tidak ada penjelasan apakah durian akhirnya disita sebagai barang bukti. Tidak ada keterangan apakah tersangka sempat mencium aromanya. Tidak ada informasi apakah ada kompensasi berupa durian frozen.

Sementara itu, para bupati lain kemungkinan tetap makan durian sambil termenung. Ada yang menyendok perlahan. Ada yang mengunyah sambil geleng kepala.

Ada yang berkata lirih, “Kasihan Ondim. Padahal duriannya fresh.” Yang lain mungkin berbisik, “Jangan-jangan KPK datang karena tidak kebagian durian.”

Tentu saja korupsi harus diberantas. Tidak boleh ditawar. Tidak boleh dikompromikan. Tetapi rakyat kecil tetap berhak bertanya dengan nada dramatis ala sinetron jam tujuh malam.

Kenapa harus pas pesta durian? Kenapa tidak sesudah dua pongge. Atau minimal sesudah satu biji Musang King?

Karena kini sejarah Indonesia bertambah satu bab baru. Ada orang kehilangan jabatan. Ada orang kehilangan kebebasan. Ada pula orang yang kehilangan kesempatan menikmati durian terbaik Sumatera Utara.

Sungguh tragis. Sungguh epik. Sungguh montong sekali.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Selasa, 23 Juni 2026

Taufik Hidayat "Monster Berwajah Manusia" Akhirnya Ditangkap

Taufik Hidayat "Monster Berwajah Manusia" Akhirnya Ditangkap.
Bisa dinobatkan, Taufik Hidayat ini (bukan yang itu) lelaki paling kejam abad ini. Pacarnya disiksa udah kayak binatang. Sambil menunggu laga Portugal vs Uzbekistan, siapkan Koptagulnya, dan nikmati narasinya, wak!

Tiga tahun. Bukan tiga hari, bukan tiga minggu, melainkan tiga tahun penuh YTR, seorang perempuan berusia 29 tahun asal Rancaekek, harus menanggung siksa lahir dan batin di sebuah kontrakan kumuh di Cileunyi, Kabupaten Bandung. Semua atas nama hubungan yang keliru disebut "pacaran". Di usianya terbilang muda, cakrawala YTR bukan lagi langit Bandung yang sejuk, melainkan kegelapan abadi. Karena, kedua bola matanya telah padam selamanya, buta permanen. Ini sebuah vonis dijatuhkan bukan oleh hakim, melainkan oleh tangan kekasihnya sendiri, Taufik Hidayat. 

Namun, keganasan Taufik tidak berhenti di situ. Ia merampas enam gigi depan korban hingga copot, lalu dengan sadis menyumpal bibir YTR dengan gunting hingga robek dan sumbing, seolah-olah ingin memastikan, perempuan itu tak hanya kehilangan penglihatan, tapi juga kehilangan martabat untuk tersenyum. Di sekujur tubuhnya, luka melepuh menghiasi kulit layaknya kanvas abstrak, bekas sundutan rokok menjadi ritual kekejaman rutin selama 1.095 hari. Sungguh sebuah mahakarya biadab yang membuat bulu kuduk merinding dan perut mual.

Sementara YTR terbaring luka-luka di RSHS Bandung. Ia menunggu operasi demi operasi tak kunjung selesai, publik digemparkan oleh ulah sang tersangka. Taufik Hidayat, pria berusia 30 tahun dengan nyali selubung langit ini, sempat menjadi buronan. Hal ini membuat seluruh penjuru Jabar gempar. Sampai-sampai Gubernur Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM harus menggelontorkan uang pribadinya Rp250 juta untuk sekadar sayembara. 

Ya, betapa ironisnya, harga kepalanya dihargai ratusan juta. Ini lebih mahal dari seekor sapi unggul. Padahal nyawa dan masa depan seorang perempuan hanya ia nodai dengan tiga tahun siksa tanpa bayaran. 

Ketika tim gabungan Polda Jabar akhirnya meringkusnya di kawasan Majalaya pada Selasa malam, 23 Juni 2026, apa yang dilakukan oleh monster berwajah manusia ini? Ia memotong rambutnya pendek-pendek. Sungguh strategi kabur yang brilian! Seakan-akan dengan mencukur habis surai di kepalanya, ia bisa menghapus jejak kekejaman yang tertancap di tulang korban. Seakan-akan rambut pendek adalah jubah tembus pandang yang membuatnya luput dari murka Tuhan dan manusia.

Ketika ia duduk santai di dalam mobil polisi, dengan tangan terikat namun raut muka datar tanpa penyesalan. Di situlah puncak sandiwara tragis ini. Ia tidak gemetar, tidak menangis, apalagi meminta maaf. Ia hanya duduk selayaknya penumpang angkutan kota yang kehabisan rokok. Publik dibuat naik pitam oleh sikap dinginnya yang keterlaluan. Sementara KDM memberikan apresiasi setinggi-tingginya pada Polda Jabar. 

Luar biasa! Penangkapan yang katanya hasil jerih payah tim gabungan ini memang patut dirayakan. Namun jangan lupa, hadiah ratusan juta rupiah itu kini berpindah tangan ke aparat. Sementara YTR masih buta, masih meraba-raba dinding rumah sakit mencari cahaya yang tak akan pernah ia temui lagi. Darah mendidih mendengar Taufik tidak menunjukkan setetes pun rasa bersalah. Ia seolah-olah mencabut enam gigi dan mengguntung bibir hanyalah kesalahan kecil seperti lupa mematikan kompor. 

Masyarakat bertanya, apakah hukum mampu membayar lunas keadilan untuk seorang gadis yang kini hanya bisa mendengar deru amarah kita, tapi tak pernah lagi bisa melihat wajah para pendukungnya? Jika surga punya pintu, sudah seharusnya tertutup rapat-rapat untuk Taufik. Biarkan ia merasakan bagaimana gelapnya dunia yang telah ia ciptakan untuk YTR, selama-lamanya.

Wahai kaum hawa, seandainya Taufik ada di depan kalian saat ini, ekspresi apa yang akan kalian lakukan?

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Sabtu, 20 Juni 2026

Gawat, PLN Akan Melakukan Pemadaman Bergilir

Gawat, PLN Akan Melakukan Pemadaman Bergilir
Gawat, PLN Akan Melakukan Pemadaman Bergilir.
Tahun 2016, Jepang membuat sebuah film berjudul Survival Family. Film garapan Shinobu Yaguchi itu bercerita tentang satu kejadian yang awalnya tampak sederhana, listrik tiba-tiba hilang. ATM mati. Kereta berhenti. Ponsel menjadi benda purbakala. Kota Tokyo yang modern mendadak lumpuh. Pada akhirnya, satu keluarga terpaksa meninggalkan kota dan bermigrasi ke desa demi bertahan hidup.

Saat itu banyak penonton tertawa. Ceritanya terasa terlalu berlebihan. Namun Juni 2026 ini, sebagian rakyat Indonesia mungkin mulai menontonnya dengan ekspresi yang berbeda.

Sebab ancaman pemadaman bergilir kini bukan lagi cerita layar lebar. Ia mulai menghantui dunia nyata.

Wilayah yang disebut-sebut berpotensi terdampak bukan daerah kecil yang jauh dari peradaban. Yang disebut justru kawasan paling padat dan paling produktif di Indonesia. Jabodetabek. Jawa Barat. Jawa Tengah. Jawa Timur. Hingga Bali.

Nuan bayangkan sebentar. Jakarta yang biasanya terang benderang seperti tidak pernah tidur tiba-tiba bergelap-gelapan. Bekasi mendadak lebih gelap dari masa depan pencari kerja. Bandung kehilangan cahaya yang selama ini menerangi kafe-kafe hingga dini hari.

Kawasan industri Jawa Tengah berhenti berdenyut. Pabrik-pabrik Jawa Timur mendadak sunyi seperti kuburan mesin. Bali yang hidup dari pariwisata harus menjelaskan kepada turis mengapa hotel berbintang tiba-tiba mengandalkan genset. Kalau itu benar-benar terjadi, bukan hanya lampu yang padam. Urat nadi ekonomi ikut tersendat.

Masalahnya terdengar sederhana, batu bara. PLN membutuhkan sekitar 154 juta ton batu bara tahun ini. Namun kontrak yang sudah diamankan baru sekitar 134 juta ton. Artinya terdapat kekurangan sekitar 18 hingga 20 juta ton.

Angka itu mungkin terlihat seperti deretan angka biasa di laporan rapat. Tetapi di dunia nyata, angka itulah yang bisa menentukan apakah jutaan rumah tetap terang atau berubah menjadi adegan film horor.

Ironisnya, semua ini terjadi di negara yang setiap tahun menjual batu bara ke seluruh dunia. Indonesia seperti pemilik depot air terbesar di kota, tetapi keluarganya sendiri antre membawa ember.

Di sisi lain, harga DMO yang dipatok US$70 per ton sejak 2018 dianggap tidak lagi menarik oleh sebagian perusahaan tambang. Sementara harga ekspor bisa mencapai US$84 hingga US$121 per ton.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membuka peluang kenaikan harga DMO menjadi US$80 hingga US$90 per ton agar pasokan untuk PLN tetap aman. Kalau harga dinaikkan, perusahaan tambang tersenyum. Kalau harga tidak dinaikkan, pasokan bisa seret. PLN berdiri di tengah seperti wasit yang disuruh membela dua tim sekaligus. 

Yang membuat publik semakin gelisah adalah ingatan tentang blackout besar di Sumatera bulan lalu masih sangat segar. Memang pemerintah menjelaskan, blackout tersebut terjadi akibat gangguan sistem kelistrikan, bukan karena krisis energi. Tetapi rakyat tentu berhak bertanya.

Bulan lalu Sumatera gelap. Bulan ini Jawa dan Bali diancam pemadaman bergilir. Besok wilayah mana lagi? Belum tentu ini krisis energi.

Tetapi beginilah biasanya sebuah krisis datang. Tidak memakai sirene. Tidak membawa spanduk. Tidak mengirim surat pemberitahuan. Ia datang diam-diam. Diawali satu gangguan. Lalu gangguan berikutnya.

Kemudian muncul kekurangan pasokan. Lalu muncul kebijakan darurat. Sampai akhirnya semua orang baru sadar ketika keadaan sudah telanjur kacau. Mungkin itulah bagian paling tragis dari cerita ini.

Indonesia tidak sedang kekurangan batu bara. Negeri yang dijuluki “Negeri MBG” sedang menghadapi paradoks jauh lebih menakutkan, negeri yang duduk di atas gunung energi, tetapi rakyatnya mulai khawatir menghadapi kegelapan.

Kalau “Survival Family” adalah film fiksi, maka Indonesia hari ini seperti sedang menulis naskah sekuelnya sendiri. Bedanya, yang menjadi pemeran utamanya bukan keluarga di Tokyo. Melainkan 280 juta rakyat yang hanya berharap satu hal sederhana setiap malam, saat saklar ditekan, lampu tetap menyala. Satu-satunya yang tertawa dengan kondisi tersebut, kampung yang sampai hari ini belum dialiri listrik.

“Wah, gawat kalau di Pontianak juga padam listrik, Bang. Susah nak ngopi.”

“Tenang, ngopinya siang hari, wak. Malam, di rumah ngopinya,” ups

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Udah Deh, Jangan Tandingi Demo Mahasiswa, Itu Membuat Mereka Semakin Militan

Udah Deh, Jangan Tandingi Demo Mahasiswa, Itu Membuat Mereka Semakin Militan
Udah Deh, Jangan Tandingi Demo Mahasiswa, Itu Membuat Mereka Semakin Militan.
Ada satu spesies selalu diremehkan penguasa Indonesia dari zaman ke zaman. Bukan oposisi. Bukan partai politik. Bukan influencer TikTok yang jualan affiliate sambil ngomong demokrasi. Spesies itu bernama mahasiswa.

Makhluk ini unik. Dompetnya tipis, tugasnya tebal. Makan kadang mi instan, minum kopi sachet, tidur tiga jam sehari, tapi punya hobi membuat penguasa berkeringat dingin, bertanya terlalu banyak.

Hari ini, Sabtu 20 Juni 2026, mahasiswa kembali turun ke jalan. Di Jakarta, mahasiswa dari Trisakti, Esa Unggul, Mercu Buana, HMI, hingga UGM memadati kawasan DPR/MPR dan Patung Kuda. Mereka menuntut pemulihan ekonomi, turunkan Pertamax, evaluasi total Program MBG, penolakan UU Polri, penolakan militerisme di ranah sipil, hingga kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

Di Surabaya dan Banjarmasin, mahasiswa menyuarakan keresahan ekonomi. Di Banyuwangi, sekitar 200 mahasiswa sampai mengirim surat tuntutan ke rumah Ketua DPRD karena kecewa pejabat yang ditunggu tak kunjung muncul. Ini sudah seperti pelanggan galak yang mencari pemilik warung karena pesanan tak kunjung datang. Di Kendari, demonya ricuh.

Lalu muncullah babak lebih menarik.

Ketika mahasiswa bergerak, tiba-tiba lahir aksi tandingan. Di Malang dan Pontianak, ribuan pendukung MBG dari kalangan pengusaha, UMKM, petani, dan relawan menggelar apel akbar. Mereka mengenakan pakaian putih, membawa poster bertuliskan "Prabowo Baik", mendukung penuh MBG, dan menolak penghentian program tersebut.

Di sinilah naluri politik liar mulai bekerja.

Kalau tujuannya menyampaikan dukungan kepada pemerintah, silakan. Demokrasi memang memberi ruang bagi semua pihak. Tetapi kalau tujuannya untuk menandingi gerakan mahasiswa, ini seperti menantang ikan hiu berenang di laut sambil membawa pelampung bebek.

Salah pilih lawan, Wak.

Mahasiswa itu tidak bergerak karena kontrak. Mereka tidak turun ke jalan karena ada surat tugas. Mereka tidak bangun pagi karena honor kegiatan cair. Mereka bergerak karena marah. Orang marah jauh lebih sulit dihentikan dibanding orang yang sedang bekerja atau dibayar nasbung karet dua.

Inilah yang sering gagal dipahami para ahli strategi politik yang mungkin terlalu lama melihat survei dan terlalu jarang melihat kantin kampus. Mereka mengira mahasiswa bisa dihadapi dengan metode mobilisasi massa.

Padahal sejarah Indonesia sudah berkali-kali memberi tutorial gratis. Orde Lama tumbang, mahasiswa ada di depan. Orde Baru tumbang, mahasiswa juga ada di depan. Setiap kali kekuasaan mulai merasa dirinya abadi, mahasiswa selalu muncul seperti notifikasi sistem tidak bisa di-skip.

Yang lucu, mahasiswa selalu dituduh sama. Katanya ditunggangi oligarki. Katanya ada sponsor besar. Katanya ada Soros. Katanya ada kekuatan asing, antek asing. 

Padahal sebagian besar mahasiswa yang turun ke jalan masih bingung membagi uang antara fotokopi materi kuliah atau membeli ayam geprek level lima. Kalau benar mereka dibiayai kekuatan global, minimal demonstran sudah datang naik Alphard, makan di restoran mewah, atau bagi-bagi amplop usai demo.

Masalah terbesar bagi penguasa bukanlah mahasiswa yang turun hari ini. Masalah sebenarnya adalah efek domino. Karena setiap upaya melawan gerakan mahasiswa sering menghasilkan satu hal yang tidak diinginkan, solidaritas.

Mahasiswa yang tadinya diam jadi ikut bergerak. Kampus yang tadinya netral mulai bersuara. Organisasi yang biasanya sibuk rapat internal tiba-tiba menemukan musuh bersama. Semakin ditekan, semakin rapat barisan mereka.

Nuan byangkan bila seluruh mahasiswa Indonesia benar-benar kompak. Dari Aceh sampai Papua. Dari kampus negeri sampai kampus swasta. Dari organisasi ekstra sampai BEM kampus.

Itu bukan demonstrasi lagi. Itu sudah seperti patch update nasional yang memaksa seluruh sistem politik melakukan restart.

Karena itu, kalau ada yang berpikir gerakan mahasiswa bisa dikalahkan dengan demo tandingan, mungkin perlu membuka kembali buku sejarah yang sudah berdebu di rak perpustakaan.

Mahasiswa cuma takut dua hal, nilai E dan dosen pembimbing yang berkata, “Besok revisi lagi.”

Selain itu? Mereka relatif sulit ditakut-takuti. Tak bisa dihadang dengan warter canon, kawat berduri, gas air mata. Ketika mereka sudah parah, jangan sampai ada yang kabur ke luar negeri lagi.

Itulah sebabnya, sejak republik ini berdiri, tidak pernah ada penguasa yang benar-benar menang melawan mahasiswa. Yang ada hanya penguasa yang terlambat menyadari, suara paling keras di negeri ini sering kali berasal dari anak-anak muda yang datang membawa spanduk kusut, toa rusak, dan sebotol air mineral. Namun anehnya, selalu berhasil membuat istana mendengar.

“Bang, di Bundaran Untan tadi ada juga emak-emak demo dukung MBG.”

“Biarkan saja. Kita tetap gelar tikar sambil seruput Koptagul, wak!” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Kalau MBG Salah, Perbaiki, Bukan Disetop, Apakah Kalian Percaya?

Kalau MBG Salah, Perbaiki, Bukan Disetop, Apakah Kalian Percaya?
Kalau MBG Salah, Perbaiki, Bukan Disetop, Apakah Kalian Percaya?
Kalian pasti dengar teriak para pendemo pro MBG. “Kalau ada masalah, diperbaiki." "Kalau ada kebocoran, dibenahi." "Kalau ada korupsi, pelakunya ditangkap." "Jangan programnya yang dihentikan." Begitukan? 

Sekilas terdengar masuk akal. Bahkan sangat masuk akal. Siapa juga yang tega menolak anak-anak mendapatkan makanan bergizi? Siapa yang berani terang-terangan bilang anak sekolah tidak perlu makan siang?

Masalahnya bukan di situ. Masalahnya justru ada pada pertanyaan paling sederhana yang terus dihindari, “Diperbaiki bagaimana?”

Karena yang sedang dihadapi bukan sekadar kesalahan teknis. Bukan sekadar nasi kurang matang atau lauk kurang garam. Yang sedang dihadapi adalah penyakit kronis bernama korupsi yang sudah bermetastasis ke hampir seluruh organ birokrasi. Sudah jadi budaya, local wisdom, ciri khas negeri.

Kalau pipa bocor, ya diganti. Kalau jalan berlubang, ya ditambal. Kalau mental korupsi sudah akut, mau ditambal pakai apa? Lem Korea? Lakban anti-air? Atau doa bersama tiga malam berturut-turut?

Publik sudah terlalu sering mendengar janji "perbaikan tata kelola". Kalimat itu sudah seperti ringtone lama yang diputar berulang-ulang sejak KPK ngejar Harun Masiku.

Setiap ada skandal, jawabannya sama. Perbaiki tata kelola. Perkuat pengawasan. Tingkatkan transparansi. Evaluasi menyeluruh.

Hasilnya? Koruptor baru lahir lebih cepat dari laporan evaluasinya selesai.

Lihat saja apa yang terjadi di tubuh Badan Gizi Nasional (BGN). Baru seumur jagung, belum juga program berjalan penuh ke seluruh Indonesia, publik sudah disuguhi parade tersangka. Gerombolan Haji Dadan cs betapa rakus mengeruk uang rakyat. Siswa dapat jatah MBG seharga Rp10 ribu, mereka sehari Rp1 miliar. Sudah enam jadi tersangka. 

Enam. Bukan satu. Bukan dua. Enam. Jumlah yang cukup untuk membuat satu tim futsal korupsi lengkap dengan pemain cadangan.

Lalu muncul lagi pernyataan yang lebih bikin jidat berkerut. Menurut Sony, ada sekitar 41 nama yang diduga terlibat dalam praktik jual beli titik SPPG. Empat puluh satu. Kalau angka itu benar, berarti yang terlihat sekarang mungkin baru ujung kumis tikus.

Yang ekornya masih berkeliaran di lorong-lorong gelap birokrasi sambil membawa proposal dan stempel. Yang lebih menarik, Kejaksaan Agung masih terus melakukan pendalaman.

Artinya apa? Artinya cerita ini belum tamat. Filmnya mungkin baru masuk episode pembuka. Karena itulah publik mulai kehilangan kepercayaan. Bukan karena mereka anti-gizi. Bukan karena mereka ingin anak-anak kelaparan. Bukan juga karena mereka membenci MBG. Mereka hanya sudah terlalu lelah dibohongi.

Hari ini ditemukan korupsi. Besok diumumkan perbaikan. Lusa ditemukan korupsi baru. Minggu depan diumumkan reformasi. Bulan depan muncul tersangka tambahan. Siklusnya berputar seperti komidi putar yang mesinnya tidak pernah dimatikan. Lalu ada pertanyaan yang semakin sulit dijawab oleh para pembela program.

Jika sejak awal dana triliunan rupiah saja sudah mengundang kerumunan pemburu rente, apa yang membuat publik yakin gelombang berikutnya tidak akan lebih besar? Apa yang mau diperbaiki? Sistemnya? Orangnya? Pengawasnya? Atau tikusnya yang diminta bertugas menjaga gudang beras?

Karena masalah terbesar MBG hari ini bukan lagi soal menu. Bukan soal telur atau susu. Bukan soal ayam atau tempe. Masalah terbesar MBG adalah krisis kepercayaan.

Publik tidak percaya uangnya akan sampai utuh. Publik tidak percaya nilai gizinya akan sesuai laporan. Publik tidak percaya pengawasnya mampu mengawasi. Publik tidak percaya pelakunya hanya enam orang.

Ketika kepercayaan sudah runtuh, presentasi PowerPoint setebal apa pun tidak akan cukup untuk memperbaikinya. Maka ketika ada yang berkata, "Kalau MBG salah, perbaiki, jangan disetop," publik sebenarnya ingin bertanya balik.

Baik. Diperbaiki. Tapi siapa yang memperbaiki? Orang yang sama? Sistem yang sama? Lingkaran yang sama? Atau tikus-tikus yang selama ini ikut menikmati keju?

Sebab kalau jawabannya masih itu-itu juga, jangan salahkan rakyat jika mereka mulai berpikir, yang sedang diperbaiki bukan programnya, melainkan cara membagi-bagi remahannya.

Semoga dibaca yang masih bersemangat mendukung MBG. Kalau merasa baper, yok kita seruput Koptagul, malam minggu ni, wak!

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Minggu, 14 Juni 2026

Senyum Tyo Menghadapi Dua Orang Tua yang Masih Lapar Kekuasaan

Senyum Tyo Menghadapi Dua Orang Tua yang Masih Lapar Kekuasaan
Senyum Tyo Menghadapi Dua Orang Tua yang Masih Lapar Kekuasaan.
Akhir-akhir ini nama Tyo Ardianto bikin sebagian elite politik seperti mendengar alarm kebakaran berbunyi di dalam kamar tidur. Mantan Ketua BEM KM UGM periode 2025-2026 ini kalau bicara membuat dua politisi gaek, udah tua seperti kebakaran jenggot. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Tyo ini cuma anak muda yang ngomong. Tidak membawa tank. Tidak membawa pasukan. Tidak membobol APBN. Tidak pula ketahuan mengemplang uang rakyat. Senjatanya cuma satu, mulut yang masih berfungsi normal dan keberanian yang belum dijual ke pasar Pramuka.

Yang lucu, ketika korupsi bermunculan seperti jamur setelah hujan nuklir, sebagian orang terlihat biasa-biasa saja. Ada kasus di BGN. Ada kasus di Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Ada persoalan di bea cukai. Belum lagi berbagai skandal lain yang membuat rakyat seperti sedang menonton serial "Maling Uang Negara" musim ke-78. Setiap bulan muncul episode baru, pemain baru, modus baru, tetapi korban tetap sama, rakyat.

Wakil rakyat pun kadang menunjukkan bakat luar biasa. Saat mahasiswa berteriak dari pagi sampai malam, sebagian justru terlihat lebih akrab dengan kursi empuk dari aspirasi publik. Mahasiswa kepanasan di jalan. Mereka kedinginan di ruangan ber-AC. Mahasiswa berteriak sampai suara serak. Mereka kadang tertidur dengan kualitas tidur yang membuat bayi iri.

Nah, di tengah kondisi seperti itu, muncul Tyo. Anak muda asal Kudus, Jawa Tengah, lahir 26 April, mahasiswa S1 Filsafat UGM angkatan 2021. Bukan anak dinasti politik. Bukan anak konglomerat. Bahkan jalannya menuju UGM tidak melalui SMA formal, melainkan lewat Paket C dari PKBM Omah Dongeng Marwah. Dari jalur yang sering diremehkan, ia justru berhasil menembus UGM dan memimpin organisasi mahasiswa paling bergengsi di kampus tersebut.

Lalu dia mulai bersuara keras. Mengkritik Program MBG yang dianggapnya ugal-ugalan. Mengkritik berbagai kebijakan pemerintah. Mengkritik penangkapan aktivis. Mengkritik banyak hal yang menurutnya tidak beres. Gaya bicaranya kasar, ceplas-ceplos, kadang meledak-ledak seperti petasan tahun baru yang dilempar ke gudang kembang api.

Di sinilah drama dimulai. Adhyaksa Dault, mantan Menpora, mengaku sangat geram. Berkali-kali beristigfar saat mendengar ucapan Tyo. Menurutnya, ucapan Tyo bukan lagi kritik, melainkan penghinaan terhadap Presiden Prabowo. Respons beliau viral setelah dibagikan Hotman Paris di Instagram.

Sementara itu Idrus Marham, Wakil Ketua Umum Golkar sekaligus mantan Menteri Sosial, residivis korupsi, juga ikut menyentil keras. Ia menyebut bahasa Tyo tidak pantas dan bukan contoh yang baik bagi generasi muda. Bahkan ia mempertanyakan, bayangkan kalau orang seperti Tyo menjadi pemimpin, negeri ini akan jadi apa.

Pertanyaannya justru bisa dibalik. Nuan bayangkan kalau tidak ada anak muda yang berani mengkritik. Bayangkan kalau semua mahasiswa berubah menjadi patung taman yang tugasnya hanya mengangguk. Bayangkan kalau generasi muda melihat korupsi di mana-mana lalu memilih diam. Mau jadi apa negeri ini?

Maaf saja Pak, tapi sudahlah. Kalian sudah tua. Serius. Saatnya menikmati masa pensiun dengan damai. Nimang cucu. Menyiram cabai di belakang rumah. Memelihara ikan lele. Mengawasi pohon mangga yang mulai berbuah. Atau berburu resep obat asam urat di grup WA keluarga. Jangan sampai sisa energi masa tua habis hanya untuk tersinggung oleh mahasiswa.

Ini zamannya anak muda seperti Tyo. Mereka yang nanti akan hidup paling lama dengan akibat dari setiap kebijakan hari ini. Mereka yang akan mewarisi utang, mewarisi masalah, mewarisi kerusakan, sekaligus dipaksa memperbaiki semuanya. Jadi wajar kalau mereka marah.

Yang aneh justru sebaliknya. Negeri dipenuhi berita korupsi, tetapi yang membuat sebagian orang paling geram malah mahasiswa yang bicara keras. Uang rakyat hilang miliaran bahkan triliunan, responsnya kadang santai seperti sedang membahas cuaca. Begitu ada anak muda melontarkan kritik pedas, reaksinya seperti kiamat tinggal dua jam lagi.

Banyak anak muda membela Tyo bukan karena mereka setuju dengan semua kata-katanya. Mereka juga tahu kritik bisa diperdebatkan. Tetapi mereka melihat sesuatu yang semakin langka di republik ini, keberanian. Dalam negeri yang kadang lebih alergi terhadap kritik dari terhadap korupsi, keberanian memang sering dianggap penyakit. Sementara diam justru diperlakukan seperti prestasi. Itulah ironi terbesar yang sedang dipertontonkan di depan mata kita semua.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Praktik Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Praktik Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor
Praktik Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor.
Kalau kalian mengikuti sidang bos PT Blueray Cargo, luar biasa memuakkan praktik suap di Bea Cukai. Yang disuap itu para petinggi yang nanti bisa tersentuh atau hanya habis di persidangan. Negeri ini sudah semakin parah, wajar bila mahasiswa terus demo. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Jumat lalu di Pengadilan Tipikor Jakarta, John Field, bos PT Blueray Cargo, akhirnya mengakui kesalahannya. "Ya, saya bersalah, Yang Mulia." Kalimat pendek. Tiga detik selesai. Tetapi nilai di belakangnya mencapai sekitar Rp91 miliar. Itu bukan angka. Itu sudah setara benda mistis bagi sebagian rakyat yang setiap akhir bulan berdebat dengan saldo rekening sambil berharap ada transfer dari alam gaib.

Yang membuat publik geleng-geleng kepala adalah bagian curhatnya. John mengaku sudah mengeluarkan uang dalam jumlah sangat besar tetapi tetap masuk penjara. Kalimat itu terdengar seperti perampok bank protes karena setelah membeli topeng mahal dan mobil cepat, ternyata polisi masih datang menangkapnya. Seolah tragedi terbesar dalam hidupnya bukan dugaan korupsinya, melainkan buruknya tingkat pengembalian investasi.

Menurut dakwaan, sekitar Rp63,1 miliar mengalir ke sejumlah oknum Bea Cukai. Angka yang cukup untuk membuat rakyat biasa menatap tembok selama tiga jam tanpa berkedip. Belum cukup sampai di situ. Ada pula sekitar Rp30 miliar yang disebut diberikan kepada Ahmad Dedi yang kemudian dikabarkan melarikan diri. Kalau benar demikian, ini bukan lagi cerita kucing-kucingan. Ini sudah seperti lomba lari estafet sambil membawa koper berisi reputasi yang hancur.

Nominalnya disebut mencapai Rp5 miliar per bulan. Per bulan. Sebagian rakyat menghitung diskon mi instan di minimarket. Sebagian lainnya diduga bermain di liga yang berbeda sama sekali. Liga tempat angka miliaran rupiah berpindah tangan dengan santainya seperti orang meminjam korek api.

Nama-nama yang muncul juga bukan sedikit. Djaka Budhi Utama disebut menerima Rp3 miliar. Rizal Rp2 miliar. Sisprian Rp1 miliar. Ada pula kode BC1, BC2, dan BC3. Kedengarannya seperti nama robot tempur produksi masa depan. Padahal isinya dugaan pembagian uang yang membuat rakyat ingin mengecek ulang apakah mereka masih hidup di dunia nyata atau sedang terjebak dalam serial satir politik tanpa episode terakhir.

Penyerahan uang disebut berlangsung di berbagai tempat. Ada di mal. Ada di kantor Kemenkopolkam. Rasanya seperti tur konser nasional. Bedanya, bukan penyanyi yang keliling kota, melainkan amplop yang sedang menjalani perjalanan spiritual menuju tujuan akhir.

Kisahnya lalu menjalar ke BPOM dan Kemendag. Nama Deputi Tubagus, Direktur Partomo, Aldison, Ronald, Rangga, dan Michael ikut disebut menerima aliran dana dari Andreas Budi Santoso. Bukan sekali. Dakwaan menyebut praktik itu berlangsung berulang kali sepanjang 2025. Berulang kali. Kalimat yang seharusnya membuat alarm moral berbunyi sampai baterainya habis.

Sementara itu, rakyat tetap sibuk dengan rutinitas harian yang tidak pernah mengenal angka miliaran. Bayar pajak. Bayar listrik. Bayar sekolah anak. Bayar cicilan. Bayar biaya hidup yang makin lihai bermain petak umpet dengan penghasilan. Mereka berusaha hidup lurus di lintasan yang berkelok, sementara sebagian orang diduga justru menjadikan tikungan sebagai jalan utama.

Lalu datanglah babak penyesalan. Dedy dan Andri, anak buah John, juga mengaku menyesal dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya. Tentu semua orang berhak menyesal. Namun publik juga berhak bertanya, apakah penyesalan itu lahir karena hati nurani bangun, atau karena pintu sel mulai terlihat dari kejauhan?

Kasus ini bukan cuma soal uang. Ini soal kepercayaan publik yang dicincang sedikit demi sedikit sampai bentuknya sulit dikenali. Korupsi tidak sekadar menguras kas negara. Ia menggerogoti keadilan, menghancurkan persaingan yang sehat, dan membuat rakyat merasa sedang menonton Australia yang mengalahkan Turki 2-0 yang wasitnya ikut mencetak gol. Karena itu, dibutuhkan bukan sekadar vonis. Yang dibutuhkan adalah keberanian membongkar semuanya sampai ke akar. Sebab jika akar busuk dibiarkan hidup, pohon yang tumbuh akan selalu menghasilkan buah yang sama. Rakus, licin, dan memalukan. Rakyat sudah terlalu lama dipaksa menjadi penonton sirkus ini tanpa pernah mendapat bagian dari tiketnya.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Sabtu, 13 Juni 2026

Nanik Masih Cengengesan Ke Sana Ke Mari di Saat Tiga Rekannya Masuk Bui

Nanik Masih Cengengesan Ke Sana Ke Mari di Saat Tiga Rekannya Masuk Bui
Nanik Masih Cengengesan Ke Sana Ke Mari di Saat Tiga Rekannya Masuk Bui.
Tak terasa drama skandal megakorupsi BGN sudah masuk episode 21. Cerita kali ini soal Kepala BNG yang baru. Ente lihat ndak di beranda, si Nanik cengengesan ke sana ke mari, masuk podcast ini dan itu. Seolah-olah ia paling jujur, bersih, selangkah lagi malaikat. Ia begitu menikmati peran barunya di saat Haji Dadan, Sony, dan Pusung meringkuk di penjara. Nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Di tengah gegap-gempita skandal yang menyeret petinggi Badan Gizi Nasional, tiga rekannya sudah lebih dulu menikmati fasilitas negara berupa jeruji besi. Sementara itu, Nanik S Deyang masih terlihat cengengesan ke sana ke mari menjalankan tugasnya sebagai Kepala BGN pengganti Dadan Hindayana.

Tenang dulu. Sampai hari ini Nanik belum diperiksa Kejaksaan Agung. Belum pula berstatus tersangka. Namun, publik tetap menyorot karena namanya disebut dalam BAP Sony Sonjaya, salah satu tersangka kasus tersebut. Kejagung sendiri menyatakan siapa pun yang mengetahui perkara ini berpotensi dimintai keterangan.

Bahasa rakyat sederhana saja. Surat undangan belum datang, tetapi namanya sudah mulai disebut-sebut di ruang tamu.

Yang paling menghibur tentu jurus andalan Nanik saat membela diri.

"Saya dari lahir sudah kaya."

Duarrr!

Kalimat ini langsung melesat menjadi kandidat kuat Kutipan Komedi Politik Tahun Ini.

Entah siapa yang pertama kali menciptakan teori, orang kaya otomatis kebal korupsi. Kalau teori itu benar, penjara koruptor seharusnya penuh tukang bakso, tukang tambal ban, dan penjual gorengan, termasuk kang ngopi, ups. Kenyataannya malah sering sebaliknya. Korupsi bukan olahraga rakyat miskin. Ini olahraga kaum elite dengan fasilitas lengkap dan pelatih profesional.

Data LHKPN Januari 2025 menunjukkan kekayaan Nanik mencapai Rp6,3 miliar tanpa utang. Sebagian besar berasal dari tanah dan bangunan di Depok dan Bekasi senilai lebih dari Rp5,4 miliar. Lumayan. Cukup untuk membuat rakyat biasa mendadak rajin membuka aplikasi m-banking lalu menyesali nasib.

Namun masalahnya bukan soal jumlah harta. Publik penasaran karena nama Nanik muncul dalam BAP tersangka. Ketika wartawan mencoba bertanya, Nanik beberapa kali terlihat enggan memberi penjelasan panjang. Kadang senyum. Kadang jalan cepat. Kadang mendadak sibuk. Gerakannya lincah seperti Muhammad Al Gazani Dwi Sugandi yang menjebol gawang Kamboja, dan mengantarkan Timnas U19 juara III Piala AFF.

Padahal MBG awalnya dijual sebagai program mulia. Tujuannya jelas, anak-anak Indonesia makan lebih bergizi, tumbuh sehat, dan menjadi generasi emas. Sebuah cita-cita yang sulit ditolak oleh siapa pun yang masih memiliki akal sehat.

Namun seperti biasa, negeri ini memiliki bakat unik. Apa pun programnya, selalu ada saja yang diduga melihatnya sebagai kesempatan bisnis keluarga besar Persatuan Maling Anggaran Indonesia.

Anak-anak menunggu telur. Orang tua menunggu susu. Rakyat malah mendapat bonus berita penahanan. Sungguh paket komplit.

Tentu saja, sampai saat ini tidak ada putusan hukum yang menyatakan Nanik bersalah. Asas praduga tak bersalah wajib dihormati. Tetapi rakyat juga punya hak untuk bertanya dan curiga. Apalagi mereka sudah terlalu sering menonton film dengan alur yang sama.

Awalnya semua bilang aman. Lalu bilang tidak tahu. Kemudian bilang tidak terlibat. Setelah itu... ya sudahlah, rakyat hafal sendiri episode lanjutannya.

Apakah Nanik kelak akan dimintai keterangan Kejagung? Belum ada yang tahu. Apakah namanya hanya kebetulan muncul dalam pusaran kasus? Publik juga belum tahu. Kalau Nanik tidak dimintai keterangan, tandanya ia memiliki beking super. 

Yang pasti, ketika tiga rekannya sudah lebih dulu masuk bui, Nanik masih cengengesan ke sana ke mari. Rakyat kembali menjadi penonton setia serial terpanjang republik ini, "Maling Uang Negara, Season Tak Berujung."

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Jilatan Tingkat Dewa Said Iqbal, IQ Prabowo Selevel Einstein

Jilatan Tingkat Dewa Said Iqbal, IQ Prabowo Selevel Einstein
Jilatan Tingkat Dewa Said Iqbal, IQ Prabowo Selevel Einstein.
Pagi tadi kita bicara jilatan Menteri Pendidikan, Abdul Mu’ti. Gila respons netizen, dahsyat. Baca komentar, sampai tersedak nyeruput Koptagul. Kali ini, lebih dahsyat lagi jilatan seorang pembantu presiden. Sudah masuk kategori, jilatan tingkat dewa, udah tak ada tandingannya lagi. Simak narasinya, wak!

Indonesia kembali mencatat sejarah. Bukan sejarah ekonomi. Bukan sejarah teknologi. Tapi sejarah perjilatan nasional yang levelnya sudah tidak bisa diukur memakai Richter Scale, melainkan harus memakai alat ukur milik NASA.

Baru dilantik sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh pada 8 Juni 2026, Said Iqbal langsung mengeluarkan jurus pamungkas yang membuat netizen tersedak kopi, jatuh dari motor, lalu bangun lagi hanya untuk memastikan berita itu bukan editan AI.

Dulu, setiap ada isu buruh, beliau muncul seperti Godzilla yang baru bangun setelah tidur 300 tahun. BBM naik? Demo. Upah seret? Demo. Pengusaha batuk? Demo. Angin bertiup dari arah yang salah? Hampir demo.

Pokoknya aura perlawanannya begitu kuat sampai pagar DPR punya PTSD setiap mendengar nama Said Iqbal. Tapi kini kita menyaksikan keajaiban yang bahkan Nabi Musa mungkin akan mengernyitkan dahi melihatnya.

Singa berubah jadi kucing. Harimau berubah jadi hamster. Toa demonstrasi berubah jadi pengeras suara karaoke keluarga. Lalu muncullah kalimat yang membuat internet mendidih seperti panci mi instan ditinggal emak ke warung.

Said Iqbal menyebut Prabowo memiliki kecerdasan setara Einstein. Setara Einstein!

Belum cukup sampai di situ. Katanya lagi, Prabowo membaca 50 buku sehari. Lima puluh buku. Per hari. Ya, Per Hari! Bukan 50 halaman. Bukan 50 tweet. Bukan 50 status Facebook yang isinya "selamat pagi semoga sehat selalu". Tapi 50 buku.

Perpustakaan Nasional langsung minder. Kutu buku pensiun massal. Mahasiswa yang belum selesai membaca skripsinya sejak 2023 langsung merasa hidupnya gagal.

Sementara Einstein di alam sana mungkin sedang rapat darurat dengan Newton. "Bro, katanya ada yang IQ-nya setara saya." Newton menjawab, "Santai. Katanya juga baca 50 buku sehari."

Einstein langsung menjatuhkan biola. Belum selesai rakyat tertawa sampai masuk angin, muncul lagi petuah ekonomi yang membuat para pengembang perumahan bersujud syukur.

"Kau boleh kaya tapi jangan miskinkan kami. Kau boleh punya rumah mewah tapi rakyat, buruh setidak-tidaknya punya rumah type 21 atau 30."

Wah mantap. Dulu narasinya terdengar seperti ingin membongkar ketimpangan ekonomi global. Sekarang target revolusinya terdengar seperti brosur perumahan subsidi dekat kuburan, bebas banjir, cicilan ringan, bonus galon. Netizen langsung bingung. Ini manifesto perjuangan buruh atau iklan developer?

Lalu datang episode paling epik, Pertamax. Harga Pertamax melompat dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Naiknya bukan lagi naik. Ini kabur dari gravitasi.

Publik sudah membayangkan jalanan dipenuhi lautan massa. Spanduk dicetak. Toa dicas penuh. Ban bekas mulai pemanasan. Ternyata...tidak ada kiamat, gempa demonstrasi, tsunami perlawanan. Yang muncul justru ketenangan tingkat dewa.

Said Iqbal mengatakan kenaikan itu terjadi pada BBM non-subsidi. Sementara Pertalite masih Rp10.000 dan pemerintah berjanji tidak naik sampai akhir tahun.

Netizen langsung melongo seperti ayam melihat rekening gaji anggota DPR. Dulu bensin naik recehan saja suasana seperti trailer film Armageddon. Sekarang naik Rp3.950 per liter, reaksinya seperti mendengar pengumuman diskon deterjen.

Puncak komedinya terjadi saat ribuan mahasiswa turun ke Bundaran HI pada 12 Juni 2026. Mahasiswa berteriak, berorasi, berkeringat, diblokade. Lalu rakyat bertanya, "Mana buruh?"

Jawabannya datang lembut seperti lagu pengantar tidur. "Belum ada rencana aksi." Karena fokus revisi Permenaker Nomor 7 Tahun 2026 tentang outsourcing. Dialog menjadi pilihan.  Advokasi menjadi jalan. Musyawarah menjadi kendaraan. Toa demonstrasi mungkin menangis sendirian di gudang.

Akhirnya netizen membuat kesimpulan yang beredar dari warung kopi sampai kolom komentar. Ternyata amarah buruh tidak bisa diredam polisi. Tidak bisa diredam pagar besi, gas air mata. Yang paling ampuh ternyata kursi kekuasaan. Sekali duduk, emosi turun. Dua kali rapat, tensi stabil. Tiga kali pujian, Einstein ikut terseret ke dalam obrolan.

Entah ini strategi politik tingkat galaksi atau jurus bertahan hidup tingkat naga putih bermata merah, yang jelas rakyat sedang menyaksikan sebuah fenomena langka. Perjuangan buruh yang dulu menggelegar seperti konser metal, kini terdengar selembut musik lift hotel.

Di puncak semua itu, berdirilah satu legenda baru yang akan dikenang netizen bertahun-tahun, Said Iqbal, Sang Master Jilatan Tingkat Dewa, penemu teori baru bahwa IQ Prabowo setara Einstein dan satu kursi jabatan bisa lebih ampuh dari seribu toa demonstrasi.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Jumat, 12 Juni 2026

Piala Dunia Dibuka Dengan Kekalahan Afsel 2-0 oleh Meksiko

Piala Dunia Dibuka Dengan Kekalahan Afsel 2-0 oleh Meksiko
Piala Dunia Dibuka Dengan Kekalahan Afsel 2-0 oleh Meksiko.
Lupakan kegagalan Timnas U19 ke final. Sekarang kita beralih ke Piala Dunia. Tak ada even megah di dunia selain World Cup. Even terakbar ini telah dibuka ditandai dengan kekalahan Afrika Selatan 2-0 oleh tuan rumah, Meksiko. Nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Akhirnya Piala Dunia 2026 resmi dimulai. Bukan dimulai biasa-biasa saja. FIFA tampaknya bangun pagi, minum kopi ukuran toren air, lalu berkata, "Kalau pembukaan satu negara terlalu sederhana, kenapa tidak tiga negara sekaligus?" Jadilah turnamen terbesar dalam sejarah manusia, mamalia, dan mungkin beberapa spesies alien yang kebetulan menangkap siaran satelit bumi.

Nuan bayangkan. Ada 48 tim. Ada 104 pertandingan. Ada tiga negara tuan rumah. Kalau Piala Dunia sebelumnya seperti hajatan RT, edisi 2026 ini sudah seperti pesta pernikahan galaksi yang EO-nya sedang kerasukan semangat lembur.

Meksiko mendapat giliran pertama pada 11 Juni 2026 di Estadio Azteca. Stadion berkapasitas sekitar 87 ribu orang itu mendadak berubah menjadi blender raksasa yang mengaduk musik, budaya, lampu, tarian, dan teriakan penonton menjadi satu adonan kegilaan.

Shakira naik panggung. Burna Boy ikut bergoyang. Lagu resmi "Dai Dai" menggema ke seluruh penjuru stadion. J Balvin, Tyla, Belinda, Maná, Alejandro Fernández, Danny Ocean, Lila Downs, hingga Los Ángeles Azules ikut meramaikan suasana. Salma Hayek muncul sebagai tamu spesial. Lengkap sudah. Kurang Godzilla menari salsa saja.

Budaya Meksiko ditampilkan habis-habisan. Papel picado beterbangan. Warna-warni memenuhi stadion. Penonton dibuat bingung apakah mereka sedang menonton pembukaan Piala Dunia atau sedang tersedot ke dalam piñata raksasa.

Lalu laga dimulai. Meksiko melawan Afrika Selatan.

Baru menit ke-9, Julián Quiñones mencetak gol. Stadion langsung bergetar seperti mesin cuci yang sedang mencuci batu bata. Menit ke-67, Raúl Jiménez menambah gol. Skor menjadi 2-0.

Tapi tunggu. Itu belum cukup.

Entah karena terlalu semangat atau lupa, ini sepak bola, laga itu menghasilkan tiga kartu merah. Tiga! Wasit tampaknya mengira kartu merah sedang diskon dan harus dihabiskan sebelum masa berlaku berakhir. Dua pemain Afsel keluar. Satu pemain Meksiko ikut menyusul. Rekor kartu merah laga pembuka pun tercipta.

Jumlah kartu merah ini membuat sebagian netizen Indonesia teringat berita-berita korupsi. Bedanya, pemain yang dapat kartu merah langsung keluar lapangan. Kalau yang satu lagi kadang perlu proses panjang, rapat panjang, konferensi pers panjang, dan alasan panjangnya mengalahkan antrean sembako.

Hari ini Kanada mendapat giliran. Toronto menjadi pusat perhatian dunia. Michael Bublé, Alanis Morissette, Alessia Cara, dan kemungkinan Nora Fatehi akan tampil.

Kanada terkenal sopan. Bahkan ada rumor kalau pemain Kanada menekel lawan, mereka akan berkata, "Maaf ya, tidak sengaja menjatuhkan Tuan." Lalu membantu lawan berdiri, menyuguhkan kopi, dan mengantar pulang ke hotel.

Kanada menghadapi Bosnia-Herzegovina dalam pertandingan yang diprediksi bakal seru. Meski jujur saja, banyak penonton juga penasaran apakah suhu stadion lebih dingin atau ekspresi bek Bosnia saat menghadapi serangan Kanada.

Kemudian Amerika Serikat datang membawa sifat khasnya, kalau bisa besar, kenapa tidak dibuat kelewat besar?

SoFi Stadium di Los Angeles menjadi panggung berikutnya. Katy Perry tampil sebagai bintang utama. Future hadir. Lisa Blackpink hadir. Anitta hadir. Rema hadir. Tyla hadir.

Kalau semua artis itu dikumpulkan dalam satu tempat, kemungkinan sinyal ponsel di radius 50 kilometer akan menyerah dan pensiun dini.

Laga AS melawan Paraguay menjadi penutup rangkaian pembukaan. Stadion akan dipenuhi lampu, musik, efek visual, dan mungkin cukup energi untuk menghidupkan satu kabupaten selama seminggu.

Piala Dunia 2026 akan berlangsung hingga 19 Juli dengan final di MetLife Stadium. Total 104 pertandingan siap membuat penggemar sepak bola lupa waktu, lupa pekerjaan, lupa cicilan, dan lupa besok Sabtu.

Sementara itu, di Indonesia, sebagian rakyat menyaksikan dua kompetisi sekaligus. Yang pertama Piala Dunia. Yang kedua lomba siapa paling kreatif menjelaskan hilangnya uang negara. Yang pertama mengejar trofi emas. Yang kedua kadang mengejar sesuatu yang juga berwarna emas.

Untunglah sepak bola masih memberi hiburan. Di lapangan, pemain berlari mengejar bola. Di luar lapangan, kita cukup duduk santai menikmati laga tanpa perlu memikirkan siapa yang sedang mengejar proyek, siapa yang sedang mengejar jabatan, dan siapa yang tiba-tiba mengejar pengacara.

Selamat datang di Piala Dunia 2026. Turnamen yang begitu besar sampai pembukaannya dibagi tiga negara. Kalau diperbesar lagi, kemungkinan pembukaannya harus dilakukan di Bumi, Mars, dan Jupiter sekaligus. 

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Kamis, 11 Juni 2026

Sedih, Timnas U19 Gagal ke Final, Dikalahkan Australia 1-0

Sedih, Timnas U19 Gagal ke Final, Dikalahkan Australia 1-0
Sedih, Timnas U19 Gagal ke Final, Dikalahkan Australia 1-0.
Garuda Muda turun ke gelanggang menghadapi Australia pada semifinal Piala AFF U-19 Boys Championship 2026. Misinya mulia. Menembus final. Mengibarkan panji merah putih. Sayang berakhir duka. Dihancurkan Australia 1-0. Nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Australia datang bukan sebagai tim biasa. Mereka datang seperti pasukan Kanguru Sakti. Sejak menit awal, pasukan Trevor Brian Morgan langsung mengeluarkan Jurus Hujan Audit Mendadak. Serangan datang bertubi-tubi. Untung Dafa di bawah mistar gawang sudah menguasai Jurus Tameng KPK. Semua serangan berhasil dipantulkan.

Baru beberapa menit berjalan, Alexander Lech Garbowski dikartu kuning. Dari tribun langsung terdengar teriakan sakti. "Woi bule, ini Medan, Bung!" Seketika aura stadion naik tiga tingkat.

Australia terus mengurung pertahanan Indonesia. Dafa sampai tak sempat ngopi. Padahal dalam dunia persilatan nusantara, kopi adalah sumber tenaga kedua setelah doa ibu dan gorengan hangat.

Nazril kemudian mendapat kartu kuning. Coach Nova terlihat termenung seperti guru silat yang melihat muridnya memakai Jurus Tendangan Salah Sasaran.

"Itu anak siapa yang ngajarin kasar begitu?"

Menit demi menit berlalu. Australia menyerang seperti tagihan yang datang sebelum gajian. Penonton dagdigdug. Jantung naik turun seperti grafik janji kampanye.

Menit 30 dan 34, Dafa kembali mempertontonkan Jurus Benteng Antikorupsi Bukit Kelam. Bola ditepis ke sana kemari. Seorang penonton cewek  hampir mengajukan proposal hubungan serius. "Dafa, aku milikmu!" Untung panitia belum menyediakan formulir lamaran.

Babak pertama berakhir 0-0. Australia menguasai 54 persen permainan dan lima kali menembak. Indonesia? Nol tembakan ke gawang.

Di ruang ganti, Coach Nova memberikan tausiyah tingkat dewa. "Jangan kalah sama bule. Kalian makan sambal tiap hari!" Sementara di ruang ganti Australia, Trevor Brian Morgan juga membakar semangat pasukannya. "Kalian makan roti dan keju. Masa kalah sama anak yang habis makan sambal?" Dua filosofi kuliner bertabrakan. Sambal melawan keju. Cabe melawan mentega. Nusantara versus supermarket Australia.

Babak kedua dimulai. Australia langsung mengeluarkan Jurus Serangan Anggaran Tak Bersisa. Gelombangnya tidak berhenti. Matthew Baker dan kawan-kawan sampai tak sempat menarik napas.

Menit 54, Arkan Kaka hampir mencetak gol. Seluruh Kota Medan nyaris meledak. Ada yang menumpahkan kopi. Ada yang memukul meja. Ada yang memeluk kulkas. Sayangnya bola melebar.

Australia terus menekan. Dafa terus bekerja lembur tanpa tunjangan. Menit 64, tendangan bebas Jai Diesel Rose membuat jutaan rakyat Indonesia menahan napas bersama-sama. Untung bola melenceng. Untuk beberapa detik, angka harapan hidup bangsa kembali naik.

Menit 66, Amlani Tatu menendang wajah pemain Indonesia. Tribun langsung bergemuruh. "Woi Tatu, hantu ente!" Wasit memberi kartu kuning. Keadilan masih bekerja walau kadang jalannya seperti internet desa saat hujan.

Menit 70 sampai 88 adalah episode bertahan hidup. Australia menyerang. Dafa menepis. Australia menyerang lagi. Dafa menepis lagi. Australia menyerang lagi. Dafa masih menepis.

Rasanya seperti petugas antikorupsi menghadapi seribu modus baru setiap pagi. Namun petaka datang menjelang menit 89. Neil menceploskan bola membuat gawang Dafa bergetar. Gol. VAR diperiksa. Rakyat Indonesia menatap layar seperti menunggu hasil sidang skripsi.

Dan...Gol dinyatakan sah. 1-0 untuk Australia. Stadion mendadak sunyi seperti ruang rapat ketika auditor masuk tanpa pemberitahuan. Sebagian penonton marah. Sebagian kecewa. Sebagian langsung menyalahkan takdir, cuaca, posisi bulan, hingga merek kopi yang diminum sebelum pertandingan.

Garuda Muda mencoba membalas dengan Jurus Pukulan Harapan Terakhir. Sayangnya semua mental di tembok pertahanan Australia. Peluit panjang berbunyi. Selesai.

Garuda Muda gugur. Australia melaju ke final menghadapi Thailand yang sebelumnya membantai Kamboja 4-0.

Malam ini Kanguru tersenyum. Garuda tertunduk. Yang jelas, Dafa pulang sebagai pendekar yang membuat jutaan orang bangga. Sementara rakyat Indonesia kembali ke rutinitas semula. Ngopi, mengelus dada, dan berharap suatu hari nanti ada jurus bisa menghancurkan kedigdayaan Australia.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Spesial Malam Jumat, Membedah Kitab Hukum Jima'

 
Spesial Malam Jumat, Membedah Kitab Hukum Jima'
Spesial Malam Jumat, Membedah Kitab Hukum Jima.
Disclaimer, yang belum akil baligh diharapkan jangan baca ini. "Nak, belikan abah rokok di warung dekat kantor BGN. Nanti di sana jangan dengar nyanyian Sony ya, nih duit 200, kembaliannya, ambil." Ini khusus orang dewasa. Saya mau bahas kitab legend, Hukum Jima’. Siapkan minyak wangi, dan jangan lupa dua telur ayam kampung plus madu Kapuas Hulu, ups. 

Kalau ada mengira urusan hubungan suami-istri baru ditemukan para motivator cinta modern dengan mikrofon wireless dan slide presentasi bertabur emoji hati, berarti ia belum pernah berkenalan dengan Kitab Hukum Jima' terjemahan dari kitab aslinya, Al-Ubab. Kitab tipis sekitar 28 halaman ini adalah buku panduan diplomasi bilateral paling legendaris dalam sejarah rumah tangga. Tipis memang, tetapi isinya padat seperti rendang yang dimasak tiga hari tiga malam.

Kitab itu diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu klasik sekitar abad ke-18. Lalu, dinisbahkan kepada Al-Fadhil al-Mawla Ahmad bin Sulaiman Kamal Basya, seorang ulama Turki Utsmani yang wafat sekitar tahun 1534 M. Di dunia pesantren Nusantara, kitab ini sering nongkrong satu rak dengan Fathul Izar, Qurratul Uyun, dan Uqud al-Lujain. Misinya sederhana namun mulia. Ia seperti menjaga kehormatan rumah tangga, menghadirkan pahala, serta membantu proses produksi generasi masa depan agar tidak lahir dengan sistem operasi yang masih versi beta.

Yang menarik, kitab ini tidak melihat jima' sebagai penyerbuan sepihak. Tidak ada konsep invasi mendadak atau operasi kilat. Semua harus melalui prosedur diplomatik yang santun. Sebelum konferensi tingkat tinggi dimulai, suami dan istri dianjurkan memakai wewangian. Logikanya sederhana. Tidak ada negara yang mau menandatangani kerja sama strategis dengan aroma delegasi yang mengingatkan pada gudang ikan asin saat listrik padam tiga hari.

Lalu masuk ke tahap yang lebih menarik. Suami dianjurkan bergurau, bercanda, dan melempar rayuan lembut. Dalam bahasa hubungan internasional, ini adalah fase lobi tingkat tinggi sebelum penandatanganan memorandum kesepahaman. Tidak boleh langsung mengerahkan armada tempur utama, apalagi melepas Black Mamba Diplomatik dari kandangnya tanpa lampu hijau dari mitra koalisi. Istri harus siap terlebih dahulu. Kalau belum ada persetujuan bilateral, ya tahan dulu rudalnya di hanggar.

Bahkan Syekh Zaruq dari mazhab Maliki memberikan peringatan cukup unik. Menurut beliau, hubungan dilakukan secara paksa tanpa gairah dan kesiapan pasangan berpotensi menghasilkan keturunan kurang cemerlang. Bahasa sederhananya, jangan berharap panen semangka manis kalau benih ditanam di atas trotoar beton sambil dikejar deadline.

Setelah proses negosiasi berjalan mulus, kitab ini menekankan pentingnya kepuasan bersama. Kalau bisa, kedua pihak mencapai garis finis dalam suasana harmonis. Ini bukan lomba lari di mana satu peserta sudah berdiri di podium membawa piala, sementara peserta lain masih mencari nomor dada. Jika suami selesai lebih dahulu, dianjurkan membantu istri agar turut merasakan kebahagiaan yang sama. Sebab tujuan diplomasi bukan mencari pemenang dan pecundang, melainkan menciptakan aliansi yang makin kokoh.

Posisi yang dianjurkan adalah berhadapan muka atau face to face. Mungkin karena kontak visual membuat komunikasi lebih efektif. Sulit membangun kerja sama strategis jika kedua kepala negara saling membelakangi seperti peserta rapat yang sedang ngambek karena jatah konsumsi habis duluan.

Kitab ini juga menyebut beberapa hal yang dianggap makruh, seperti jima' sambil berdiri, miring, posisi istri di atas yang menurut pandangan klasik tertentu dianggap kurang baik bagi tubuh dan keturunan, serta dilakukan pada waktu-waktu tertentu seperti lohor, asar, saat perjalanan, di kapal, atau malam dua hari raya. Sedangkan yang haram lebih tegas lagi: hubungan saat haid atau nifas, anal seks, dan membawa tulisan Al-Qur'an atau jimat ayat saat jima'.

Soal kebersihan, kitab ini sangat serius. Sebelum dan sesudah konferensi bilateral berlangsung, seluruh peserta diwajibkan menjaga standar sanitasi. Jika telah keluar mani, maka mandi janabah menjadi kewajiban. Tidak ada istilah selesai rapat lalu langsung tidur sambil berharap malaikat bagian kebersihan turun lembur.

Kitab ini juga memuat doa-doa sebelum dan sesudah jima'. Tujuannya bukan hanya kenikmatan sesaat, melainkan memohon keberkahan, perlindungan dari gangguan setan, dan lahirnya keturunan saleh yang kelak berguna bagi agama, bangsa, dan keluarga. Misi akhirnya bukan sekadar menerbangkan Black Mamba Diplomatik menuju wilayah kerja sama, melainkan memastikan hasil proyek biologis tersebut menjadi aset strategis jangka panjang.

Bab-bab penutup membahas larangan membuka rahasia ranjang kepada orang lain, kebolehan jima' saat istri hamil, hingga nama-nama anak yang dianjurkan berdasarkan hari kelahiran serta beberapa ramuan kesehatan seksual tradisional.

Pada akhirnya, Kitab Hukum Jima' menunjukkan, para ulama klasik ternyata sudah lama membahas seni menjaga hubungan suami-istri. Bedanya, mereka tidak memakai istilah "chemistry", "romantic vibes", atau "love language". Mereka menyebutnya adab, mahabbah, dan keberkahan. Sebuah diplomasi biologis mengajarkan, seekor Black Mamba Diplomatik pun harus tunduk pada protokol, etika, dan aturan main jika ingin menghasilkan kerja sama yang langgeng dan penuh manfaat. 

Ngerti ora son! Kalau ngerti, segera pasang kelambu, nikmati keseruannya. Qiqiqiq…

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar 
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Asep Yusuf Somantri Tersangka Baru Drama BGN, Kaki Tangan Sony Sonjaya

Asep Yusuf Somantri Tersangka Baru Drama BGN, Kaki Tangan Sony Sonjaya
Asep Yusuf Somantri Tersangka Baru Drama BGN, Kaki Tangan Sony Sonjaya.
Satu per satu tikus got gorong-gorong di Kantor BGN dikerangkeng. Tersangka baru, Asep Yusuf Somantri, kaki tangan dari Sony Sonjaya sudah dijebloskan. Sambil menunggu Timnas U19 vs Australia, nikmati drama BGN ke-18 sambil seruput Koptagul, wak!

Asep Yusuf Somantri, tak masuk dalam daftar 26 nama yang dinyanyikan Sony Sonjaya. Ia sosok yang menurut Kejagung, orang kepercayaan Sony “Malaikat” Sonjaya. Sony yang selalu berucap “Demi Allah” orang super bersih dan jujur, pemain penting di balik layar. Sementara Kang Asep ini diduga seperti operator remote control, mondar-mandir mengatur kanal sesuka hati.

Menurut penyidik, Asep mendapat tugas langsung dari Sony untuk mencari dan memfasilitasi mitra pelaksana Program MBG, sekaligus mengurus titik-titik SPPG atau dapur sentral. Sampai di sini masih terdengar seperti pekerjaan biasa.

Terungkap, portal pendaftaran resmi titip SPPG sudah ditutup. Normalnya, kalau pendaftaran ditutup ya selesai. Sama seperti kondangan. Kalau pengantin sudah pulang dan bersiap gituan, lalu tenda dibongkar, tamu baru tidak bisa datang sambil berkata, “Saya kenal sepupu fotografer.”

Tapi menurut dugaan Kejagung, justru setelah portal ditutup, permainan baru dimulai. Asep diduga mengintervensi tim verifikator. Mitra yang sudah dinyatakan lolos dan disetujui bisa dibatalkan. Yang sudah siap menjalankan program bisa dicoret.

Lalu masuklah pihak-pihak tertentu yang menjadi klien kesayangan meskipun masa pendaftaran sudah lewat. Ini bukan lagi pintu belakang. Ini sudah seperti menemukan gerbang rahasia menuju Narnia yang hanya bisa dibuka dengan password “orang dalam.”

Dapur-dapur seharusnya menjadi tempat lahirnya menu bergizi bagi anak-anak. Nyatanya, mendadak menjadi papan monopoli raksasa. Titik dipindah. Nama dicoret. Pemain diganti. Semua bergerak seperti bidak catur yang diduga dikendalikan dari belakang layar. 

Kalau tuduhan ini terbukti di pengadilan, yang terjadi bukan sekadar pelanggaran administrasi. Ini seperti lomba lari 100 meter, pemenangnya sudah ditentukan sebelum pistol start ditembakkan.

Belum habis rasa pusing rakyat, muncul lagi dugaan yang membuat alis naik ke ubun-ubun. Setelah mengatur urusan mitra dan dapur, Asep diduga memberikan uang secara melawan hukum kepada Sony Sonjaya.

Nah, di sinilah aroma masakan berubah. Yang tadinya rakyat berharap mencium aroma ayam, telur, susu, dan sayuran bergizi, yang tercium justru aroma transaksi. Program yang dibuat untuk anak-anak Indonesia malah diduga menjadi ladang bagi permainan para pemburu proyek.

Pada 6 Juni 2026, Kejagung resmi menetapkan Asep Yusuf Somantri sebagai tersangka. Ia langsung ditahan di Rutan Salemba cabang Kejari Jakarta Selatan selama 20 hari. Pasal yang dikenakan bukan pasal main-main: Pasal 12 huruf a dan b UU Tipikor serta Pasal 605 ayat (2) dan Pasal 606 KUHP.

Asep menjadi tersangka keempat dalam perkara yang sudah berkembang seperti serial Netflix tanpa tanda-tanda tamat. Sebelumnya sudah ada nama Dadan Hindayana, Sony Sonjaya, dan Lodewyk Pusung.

Yang membuat rakyat marah bukan sekadar jumlah tersangkanya. Melainkan pola ceritanya. Program negara. Orang kepercayaan. Akses khusus. Pengaturan proyek. Dugaan suap. Lalu tersangka. Polanya begitu berulang sampai-sampai lebih hafal dari lirik lagu “Saya Tak Kenal Sony.”

Kini Kejagung menyebut kemungkinan masih ada tersangka baru. Bahkan, Sony Sonjaya dikabarkan berpotensi menjadi justice collaborator dengan membawa daftar nama yang konon tidak pendek.

Kalau memang ada daftar itu, buka saja semuanya. Karena rakyat sudah terlalu kenyang oleh janji pemberantasan korupsi, tetapi terlalu sering kelaparan melihat hasil akhirnya.

Ironisnya, program ini bernama Makan Bergizi Gratis. Faktanya, Maling Berkedok Gizi. Saat banyak SPPG tutup, tak terdengar anak-anak kelaparan. Justru yang kelaparan para maling uang rakyat secara berjamaah ini. Si Nanik, bos BGN terbaru, masih ngeles di depan wartawan. Ia masih mengaku orang paling bersih di skandal ini. Tunggu episode ke-19 tentu lebih dramatis.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Senin, 01 Juni 2026

Hal Baru Haji Mulai Diterapkan, Penyembelihan Hewan Dam di Mega Timur Kalbar

Hal Baru Haji Mulai Diterapkan, Penyembelihan Hewan Dam di Mega Timur Kalbar
Hal Baru Haji Mulai Diterapkan, Penyembelihan Hewan Dam di Mega Timur Kalbar.
Siang tadi saya diajak makan siang oleh Direktur KBIHU Arafah, H Ahmad Khalil. Saya kira beliau mau membahas menu makan siang atau kabar jamaah haji yang sedang berjuang melawan suhu Arab Saudi. Ternyata yang dibahas justru seekor kambing. Bukan satu sih, seribu lebih tepatnya.

Dari obrolan itulah saya baru tahu ada sesuatu yang baru dalam penyelenggaraan haji tahun 2026. Namanya tidak seksi. Tidak viral. Tidak bikin netizen perang komentar. Tapi cukup menarik. Kini penyembelihan hewan dam jamaah haji mulai diterapkan di tanah air melalui Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang berada di Mega Timur, Kabupaten Kubu Raya.

Jangan remehkan berita kambing. Dalam sejarah manusia, banyak keributan besar berawal dari hal-hal yang kelihatannya kecil. Bahkan urusan dam ini sanggup membuat organisasi Islam besar di Indonesia berbeda pandangan.

Forum KBIHU Kalbar menunjuk Ahmad Khalil, direktur KBIHU Arafah menjadi panitia dam untuk mengelola program tersebut. Kurang lebih seribu ekor domba dam dari jamaah haji Kalimantan Barat ditangani melalui RPH itu. Dam domba itu berasal jamaah haji bimbingan KBIHU resmi di Kalbar. 

Yang membuat saya tertarik bukan jumlah kambingnya. Seribu kambing memang banyak, tetapi masih kalah ramai dibanding grup WA ormas menjelang Lebaran. Yang menarik adalah sistem transparansinya.

Nuan bayangkan. Jamaah sedang berada di Makkah, sementara kambingnya berada di Kubu Raya. Namun pemilik bisa melihat proses dam itu secara langsung melalui dokumentasi foto dan video. Saat dipotong, difoto. Saat dibagikan, difoto lagi. Saat disalurkan ke penerima manfaat, divideokan lagi.

Kambing-kambing ini mungkin lebih sering masuk kamera dari sebagian pejabat daerah.

Biasanya masyarakat hanya mendengar kalimat, "Tenang Pak, sudah diproses." Kalimat yang dalam sejarah Nusantara sering kali mengandung unsur misteri lebih tinggi dari cerita Segitiga Bermuda. Namun di Mega Timur, proses dam diperlihatkan dari awal sampai akhir. Jamaah bisa melihat dengan mata kepala sendiri, uang yang dibayarkan benar-benar berubah menjadi kambing, lalu berubah menjadi daging, lalu berubah menjadi manfaat bagi masyarakat.

Daging hasil dam itu disalurkan kepada masyarakat sekitar dan sebagian besar ke pondok pesantren. Di RPH juga tersedia dokter hewan dan berbagai kelengkapan teknis lainnya. Termasuk juga Juru Sembelih Halal (Juleha) bersertifikat. Memang masih ada kekurangan karena ini program baru. Namanya juga barang baru. Bahkan ponsel terbaru saja masih suka error setelah dibeli. Apalagi program sebesar ini.

Yang menarik lagi, kambing-kambing tersebut didatangkan dari Lombok. Kalimantan Barat yang wilayahnya luas ternyata belum mampu memenuhi kebutuhan dam dalam jumlah besar. Jadi ada migrasi kambing antarpulau yang mungkin lebih tertib dari sebagian perjalanan manusia.

Namun tunggu dulu. Di sinilah cerita berubah menjadi lebih seru dari sinetron ijazah 700 episode.

Muhammadiyah memperbolehkan penyembelihan dam dilakukan di Indonesia berdasarkan hasil ijtihad Majelis Tarjih. Sementara Nahdlatul Ulama melalui Munas Alim Ulama 2025 memutuskan dam wajib disembelih di Tanah Haram, meskipun dagingnya boleh didistribusikan ke Indonesia. Adapun MUI melalui Fatwa Nomor 41 Tahun 2011 menyatakan penyembelihan dam di luar Tanah Haram tidak sah.

Lihatlah. Seekor kambing ternyata mampu mengundang perdebatan yang panjang. Kalau kambing bisa bicara, mungkin dia juga bingung harus berangkat ke Makkah atau cukup ke Mega Timur.

Bagi yang mengikuti pandangan NU dan MUI, pembayaran dam dilakukan melalui Adahi, lembaga resmi yang ditunjuk Pemerintah Arab Saudi. Biayanya sekitar 720 Riyal Saudi atau sekitar Rp3,3 juta.

Adahi bukan lembaga kecil-kecilan. Kapasitasnya mampu menyembelih lebih dari 400.000 ekor hewan per hari dengan melibatkan sekitar 17.000 pekerja. Angka itu membuat sebagian rumah pemotongan hewan di dunia mungkin merasa dirinya hanya warung kelontong.

Arab Saudi menetapkan seluruh transaksi dam di luar Adahi sebagai tindakan ilegal. Alasannya cukup masuk akal. Praktik dam ilegal memang marak. Tahun 2025 enam WNI ditangkap di Madinah karena mempromosikan dam ilegal. Empat ekspatriat ditangkap di Makkah karena menjual bon kurban palsu. Tahun 2026 sepuluh WNI kembali diamankan terkait penipuan haji ilegal dan jasa dam. Tiga WNI lainnya ditangkap membawa sertifikat kurban palsu. KJRI Jeddah bahkan melaporkan sedikitnya 19 WNI diamankan pada Mei 2026, sebagian terkait kasus dam ilegal.

Luar biasa memang kreativitas manusia. Di tengah jutaan orang yang datang untuk beribadah, selalu ada saja yang melihat peluang bisnis lebih cepat dari rudal Fatah Iran.

Di tengah kondisi itulah Muhammadiyah melihat pelaksanaan dam di Indonesia sebagai jalan yang lebih aman, lebih transparan, dan lebih memberikan kepastian hukum bagi jamaah. 

Lalu muncul pertanyaan yang membuat saya hampir tersedak kopi. Kalbar tahun 2026 memberangkatkan sekitar 1.858 hingga 1.859 jamaah haji. Jumlah itu turun dibanding tahun 2025 yang mencapai 2.519 orang. Dari jumlah tersebut tentu tidak semuanya membayar dam di tanah air. Sebagian masih memilih membayar di Arab Saudi sesuai keyakinan masing-masing.

Tetapi coba bayangkan kalau skalanya nasional. Kuota haji Indonesia mencapai sekitar 221 ribu jamaah. Memang tidak semuanya wajib dam. Namun andaikan seluruh jamaah yang wajib dam membayarnya di Indonesia, apa yang terjadi?

Saya curiga para peternak kambing akan mendadak tersenyum lebih lebar dari pemain PSG juara UCL. Pondok pesantren akan kebanjiran daging. Rumah pemotongan hewan akan sibuk seperti bandara menjelang mudik. Warga yang jarang ketemu sate, inilah momen makan sepuasnya.

Bahkan bukan tidak mungkin aroma sate dan rendang menjadi salah satu indikator ekonomi nasional. Bank Indonesia mungkin suatu hari terpaksa menambahkan indeks baru bernama "Indeks Optimisme Kambing Nasional."

Tentu itu hiperbola. Jangan langsung dikutip sebagai kajian akademik.

Namun ada hal serius di balik candaan itu. Selama ini perdebatan dam sering berhenti pada soal sah atau tidak sah, boleh atau tidak boleh. Padahal ada dimensi ekonomi yang sangat besar. Ada peternak, ada pesantren, ada masyarakat miskin, ada distribusi pangan, dan ada perputaran uang yang nilainya tidak kecil.

Karena itu RPH Mega Timur bukan sekadar tempat memotong domba. Ia adalah persimpangan antara ibadah, ekonomi umat, transparansi, dan perdebatan fiqih yang panjang. Dan tahun 2026 menjadi babak baru ketika sebagian jamaah haji Kalbar bisa menyaksikan sendiri proses dam mereka dari layar telepon genggam.

Di zaman ketika masyarakat kadang lebih mudah percaya ramalan cuaca tujuh hari ke depan dari laporan pertanggungjawaban sebuah kegiatan, transparansi semacam ini terasa seperti barang mewah. Siapa sangka, pelajaran besar tentang akuntabilitas itu justru datang dari seekor kambing.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM