Hadiri Naik Dango Ke-41, Tokoh Adat Dayak Yulius Aho: Adat Adalah Pedoman Hidup

CSS/JS FIT

Kode Recentpost Grid

BANNER - Geser keatas untuk melanjutkan

Kamis, 30 April 2026

Hadiri Naik Dango Ke-41, Tokoh Adat Dayak Yulius Aho: Adat Adalah Pedoman Hidup

Foto: Yulius Aho, tengah mengenakan baju merah marun dan topi adat Dayak, hadir dalam perayaan Naik Dango ke-41 di Rumah Betang Desa Lingga, Kubu Raya

KUBU RAYA - Tokoh Masyarakat Adat Dayak Kalimantan Barat, Yulius Aho, menghadiri seluruh rangkaian perayaan budaya tahunan Naik Dango ke-41 yang digelar di Rumah Betang Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.

Perayaan berlangsung selama empat hari, 25–28 April 2026, dan secara resmi dibuka oleh Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan. Kegiatan ini turut dihadiri tokoh adat, masyarakat, serta perwakilan dari Kabupaten Kubu Raya, Landak, dan Mempawah.

Seluruh rangkaian kegiatan tahun ini dipusatkan di Rumah Betang Adat Desa Lingga sebagai simbol kehidupan komunal masyarakat Dayak. Berbagai agenda digelar meriah, mulai dari ritual adat, pertunjukan seni budaya, hingga prosesi tradisional yang sarat makna filosofis.

Yulius Aho menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia mengaku mengikuti acara sejak pembukaan hingga penutupan sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya Dayak.

“Saya sebagai bagian dari masyarakat Dayak sekaligus Penasihat Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Barat dan Bendahara Umum Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional, tentu mendukung penuh pelaksanaan Naik Dango di Kabupaten Kubu Raya,” ujarnya.

Ia juga memberikan penghargaan kepada panitia, khususnya Dewan Adat Dayak Kabupaten Kubu Raya yang bekerja sama dengan Dewan Adat Dayak Kabupaten Landak dan perwakilan dari Mempawah dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

Menurut Yulius, Naik Dango merupakan warisan leluhur bernilai seni dan budaya tinggi yang terus diwariskan turun-temurun. Tradisi ini menjadi bentuk ungkapan syukur atas hasil panen selama satu tahun.

“Naik Dango bukan sekadar perayaan, tetapi juga pengingat bahwa masyarakat Dayak hidup dan tumbuh berdasarkan adat istiadat yang kuat. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh masyarakat Dayak, khususnya generasi muda, untuk tidak hanya meramaikan kegiatan adat secara seremonial, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalamnya.

“Di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi, kita tidak boleh meninggalkan adat. Bagi masyarakat Dayak, adat adalah pedoman hidup dalam bermasyarakat,” tegasnya.

Ia pun mengimbau masyarakat Kalimantan untuk terus menjaga dan melestarikan adat serta seni budaya Dayak sebagai identitas di tengah kehidupan yang multietnis dan multiagama.

Perayaan Naik Dango merupakan tradisi tahunan masyarakat Dayak sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atau _Jubata_ atas hasil panen yang melimpah, sekaligus momentum mempererat persatuan dan kebersamaan antar masyarakat adat. (Tim)



Diterbitkan oleh: Hermanto

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Bagikan artikel ini

  
Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.