Mengenal Agnes Aditya Rahajeng, Dinobatkan Puteri Tercantik di Negeri Ini

CSS

Kode Recentpost Grid

BANNER - Geser keatas untuk melanjutkan

Senin, 27 April 2026

Mengenal Agnes Aditya Rahajeng, Dinobatkan Puteri Tercantik di Negeri Ini

Mengenal Agnes Aditya Rahajeng, Dinobatkan Puteri Tercantik di Negeri Ini
Mengenal Agnes Aditya Rahajeng, Dinobatkan Puteri Tercantik di Negeri Ini.
Cerita politik kita pinggirkan sebenar. Termasuk cerita korupsi yang tiada habisnya. Sekarang cerita kita soal Puteri Indonesia, atau makhluk tercantik di negeri ini. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Pada 24 April 2026, di panggung megah Puteri Indonesia 2026 yang digelar di Jakarta Convention Center, sejarah tidak sekadar ditulis. Ia dipahat dengan highlighter emas, glitter, dan sedikit air mata haru yang dikemas sinematik. Nama itu adalah Agnes Aditya Rahajeng, perempuan asal Banten yang tiba-tiba membuat satu provinsi berdiri tegak sambil berkata, “Akhirnya, mahkota itu pulang.”

Agnes lahir pada 13 Januari 2000 di California, Amerika Serikat. Ini sebuah detail yang terdengar seperti pembuka film Netflix. Kemudian, berbelok jadi kisah lokal penuh makna. Tingginya 172 cm, cukup untuk menjangkau mimpi, dan cukup juga untuk membuat standar insecure nasional naik dua tingkat. Putri dari Christoporus Harno dan Maria Ekawati asal Blora ini bukan datang dari ruang hampa. Ia tumbuh dalam keluarga yang sudah akrab dengan dunia pageant, dengan kakaknya, Maria Rahajeng (Miss Indonesia 2014). Ini seolah memberi spoiler panggung ini bukan sekadar kemungkinan, ini takdir yang ditunda.

Jangan salah, ini bukan kisah “anak siapa menang karena siapa.” Agnes adalah Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Pelita Harapan. Ia datang ke panggung bukan hanya dengan wajah simetris dan langkah anggun, tapi juga dengan narasi. Ya, narasi. Sesuatu yang sering dilupakan dalam dunia yang terlalu sibuk mengukur kecantikan dengan pixel dan lighting.

Ia menang. Bukan sekadar menang, tapi mencetak sejarah sebagai wakil Banten pertama yang meraih mahkota. Seperti semua kemenangan besar, tentu ada bumbu dramatis. Kompetisi ketat melawan finalis dari Bali, DKI Jakarta, hingga Papua. Di Top 4, ia berdiri bersama Victoria dari Bali, Karina dari DKI Jakarta 3, dan Gisela dari DKI Jakarta 2. Lalu di final dua besar, ia berhadapan dengan Victoria. Plot twist-nya? Agnes tidak hanya bertahan, tapi mendominasi.

Jawaban pamungkasnya bukan sekadar jawaban. Itu adalah pukulan emosional yang elegan. Ketika ditanya memilih antara melanjutkan kuliah ke luar negeri atau merawat ibu yang sakit, ia menjawab, “Saya akan memilih ibu saya. Kesempatan akan selalu datang, tapi kehidupan hanya terjadi sekali.” Dunia pageant yang sering dituduh dangkal mendadak terdiam. Karena di tengah gemerlap lampu, Agnes mengingatkan, nilai keluarga masih lebih mahal dari semua sponsor.

Seolah belum cukup. Ia juga menyabet Best Traditional Costume Award dengan kostum perak berornamen badak bercula satu. Ikon Banten yang biasanya hanya jadi bahan buku pelajaran. Kini berubah jadi simbol kebanggaan yang berjalan di catwalk. Itu bukan kostum, itu manifesto visual.

Di luar panggung, Agnes bukan sekadar ratu sehari. Ia adalah model, content creator, dan arsitek ide melalui Studio Rahajeng dan Rahajeng Closet. Sebuah inisiatif fashion berkelanjutan dengan konsep reuse. Dalam dunia yang doyan belanja impulsif lalu pura-pura peduli lingkungan di Instagram, Agnes datang dengan konsep “From Excess to Empowerment.” Ia tidak sekadar bicara sustainability, ia menggunakannya sebagai alat pemberdayaan sosial.

Tentu saja, hadiah tidak berhenti di mahkota. Ia mendapatkan beasiswa pascasarjana Program Pembangunan Berkelanjutan di Universitas Indonesia. Karena di negeri ini, kecantikan yang berpikir masih dianggap paket premium.

Sebagai Puteri Indonesia 2026, Agnes tidak akan melangkah ke Miss Universe seperti ekspektasi awam, melainkan akan mewakili Indonesia di Miss Supranational 2026 di Polandia. Ya, kadang realita memang tidak mengikuti logika penonton, tapi justru di situlah keindahannya, selalu ada panggung lain untuk bersinar.

Agnes adalah ironi yang hidup. Di tengah dunia yang sering menilai perempuan dari luar, ia menang karena isi. Di tengah hiruk-pikuk kontes kecantikan yang dituduh superficial, ia justru menghadirkan kedalaman. Ia bukan sekadar pemenang, tapi pengingat, kecantikan sejati bukan soal wajah sempurna, melainkan keberanian untuk memilih yang benar, bahkan ketika itu tidak spektakuler.

Mungkin, di situlah kita semua kalah telak dari Agnes. Karena ia tidak hanya membawa mahkota, tapi juga membawa makna.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
Diterbitkan oleh: Redaksi

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Bagikan artikel ini

  
Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.