Mohon untuk para jomblowati, jangan baca ini sendirian di malam hari. Risiko nyesek meningkat 300 persen. Inilah kisah Fina, 46 tahun, pernah nikah 14 kali, lalu dinikahi pemuda usia 24 tahun untuk pernikahan ke-15. Simak kisahnya sambil seruput Koptagul, wak!
Di Desa Waelado, Kecamatan Ajangale, Kabupaten Bone, semesta seperti sedang iseng mengetik ulang takdir pakai capslock. Muncullah Fina Marfina, 46 tahun, perempuan yang tampaknya bukan manusia biasa, melainkan fitur premium yang belum dirilis pemerintah, “Cinta Unlimited Tanpa Masa Percobaan.”
Nuan bayangkan, di saat sebagian rakyat masih stuck di status “kita lihat nanti ya,” Fina sudah menyelesaikan 15 musim pernikahan. Iya, LIMA BELAS. Bahkan sinetron pun biasanya tamat di episode 300 karena kehabisan ide, ini malah lanjut terus tanpa iklan sabun.
Pernikahan ke-15-nya? Dengan Jusman, pemuda 24 tahun, tukang batu. Bukan batu biasa, ini batu yang berhasil membangun rumah tangga sekaligus meruntuhkan mental para jomblowan nasional. Selisih usia 22 tahun itu kalau dijadikan proyek, sudah bisa bikin jalan tol dari perasaan ke kenyataan.
Acara nikahnya sederhana. Malam hari. Tanpa panggung mewah. Tanpa artis ibu kota. Tanpa drone. Bahkan kemungkinan besar, yang hadir cuma keluarga, tetangga, dan satu-dua mantan yang datang pura-pura lewat sambil batuk kecil.
“Iye, betul pernikahan yang ke-15,” kata Fina santai.
Santai, daeng. Seperti orang bilang “iya, betul itu gorengan lima ribu dapat tiga.” Tidak ada tekanan. Tidak ada overthinking. Tidak ada podcast klarifikasi.
Sementara di luar sana, ada yang baru satu kali ditinggal gebetan langsung bikin thread 25 slide di Instagram dengan caption, “Aku belajar banyak dari kamu.” Belajar apaan? Fina sudah lulus S3 Cinta Berkali-Kali dengan predikat cum laude plus luka-luka minor.
Kisah cintanya dimulai dari tempat kerja di Sengkang. Kenal, pacaran, menikah. Cepat, efisien, tanpa perlu rapat koordinasi lintas kementerian perasaan. Kalau semua urusan di negeri ini seefisien itu, mungkin ngurus KTP cukup bilang, “iye, cocok,” langsung jadi.
Tentang pernikahan sebelumnya? Jawabannya singkat tapi menghantam. “Pisah, ada juga meninggal.”
Ringkas. Padat. Tidak bertele-tele. Tidak ada drama panjang. Tidak ada kalimat, “kami sepakat berpisah secara baik-baik demi kebaikan bersama dan masa depan demokrasi rumah tangga.” Ini bukan konferensi pers, ini kehidupan nyata.
Dari 15 pernikahan, Fina punya satu anak berusia 12 tahun. Satu anak. Ini bukti, produktivitas tidak selalu diukur dari kuantitas. Negara aja sering banyak program, hasilnya kadang cuma satu yang jalan.
Lalu rahasianya apa? “Tidak ada rahasianya.”
Jawaban yang membuat seluruh motivator cinta di Nusantara langsung menghapus draft buku mereka. Tidak ada teknik tarik-ulur. Tidak ada strategi ghosting berkelas. Tidak ada “be the best version of yourself.” Yang ada Cuma, jalanin, gagal, ulangi lagi. Mirip proyek nasional.
Mahar nikahnya Rp4 juta. Di era di mana harga kopi kekinian bisa bikin dompet trauma, angka itu terasa seperti promo spesial “Cinta Hemat Berjangka Panjang.”
Warganet pun geger. Ada yang kagum, ada yang bingung, ada yang langsung uninstall aplikasi dating karena merasa kalah sebelum bertanding. Bahkan ada yang mulai curiga, ini manusia atau program uji coba “pernikahan berulang berbasis rakyat” yang nanti akan disahkan lewat undang-undang?
Kalau konsep Fina diterapkan di politik, mungkin rakyat tidak perlu lagi marah lima tahunan. Gagal? Ganti. Tidak cocok? Ulang akad. Janji tidak ditepati? Cari pasangan baru, selesai. Tanpa drama. Tanpa debat. Tanpa baliho.
Di tengah semua absurditas ini, kita hanya bisa terdiam, memegang dada, sambil bertanya, ini kisah cinta… atau masterclass bertahan hidup di negeri yang doyan mengulang episode tanpa pernah benar-benar tamat?
Satu hal pasti, Fina tidak mencari “yang terakhir.” Dia menciptakan “yang berikutnya.”
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
