Budaya Indonesia, korupsi. Cuma, belum didaftarkan sebagai warisan tak benda ke Unesco saja. Nah, bakal ada budaya baru dari orang kita, nipu atau tukang tipu. Saking suhu-nya, di tanah sucipun mereka praktik nipu. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Budaya genre baru kali ini, penipuan religi edisi premium, setting langsung di Tanah Suci. Bukan di gang sempit, bukan di ruko pinggir jalan. Ini di Mekkah, wak. Mekkah! Tempat orang nangis minta ampun, kita malah ada yang nangis… karena saldo amblas.
Tanggal 28 April, tiga WNI, yakni YJJ, JAR, AG ditangkap polisi Arab Saudi. Lalu berkembang jadi tujuh orang. Ini bukan sinetron, tapi plotnya lebih dramatis dari sinetron azab. Mereka jual paket haji ilegal lewat medsos. Paketnya bukan kaleng-kaleng. Tanpa antre, hotel dekat Masjidil Haram, transportasi VIP, sertifikat resmi. Lengkap. Tinggal tambah bonus “garansi masuk surga” mungkin makin laris.
Yang bikin tepuk jidat, dua orang pakai seragam petugas haji Indonesia. Gagah, rapi, meyakinkan. Aura-auranya kayak bisa manggil pesawat pakai peluit. Orang lihat langsung percaya. Padahal itu seragam… cuma kostum. Kayak cosplay, tapi temanya dosa.
Harga? Dibikin miring sampai akal sehat ikut jongkok. Orang-orang yang sudah lama nunggu antrean resmi, tiba-tiba lihat jalan pintas. Pikiran langsung berbisik, “Ini mungkin rezeki.” Padahal itu bukan rezeki, itu jebakan Batman versi syariah.
Pelakunya bukan orang baru di sana. Mereka mukimin di Mekkah. Ada yang terdaftar sebagai tenaga pendukung PPIH. Ini bukan pemain amatir. Ini sudah level orang dalam tapi niatnya di luar orbit. Mereka cetak kartu Nusuk palsu, bikin stempel abal-abal, dan melayani transfer dengan penuh dedikasi. Dedikasi menguras rekening orang.
Di laci mereka ditemukan duit pecahan kecil: Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000. Kayak celengan bocor yang dikumpulin pakai vacuum cleaner. Total sitaan sekitar Rp460 juta. Lumayan buat modal… menyesal seumur hidup.
Korban? Ya orang-orang yang niatnya suci. Yang ingin mendekatkan diri ke Tuhan. Tapi langkahnya dipotong oleh manusia yang lebih dulu “dekat” ke dompet mereka. Ini yang bikin dada sesak. Ibadah paling sakral dijadikan ladang paling banal.
Ini bukan pertama kali, wak. Ini sudah kayak agenda tahunan. Tinggal tunggu undangan resmi. “Festival Haji Abal-Abal Nusantara 2026—Tema: Iman Dijual, Logika Ditinggal.”
Sementara itu, jutaan orang Indonesia antre resmi bertahun-tahun. Ada yang daftar masih kuat angkat galon, berangkat sudah minta diangkatin galon. Tapi mereka sabar. Karena tahu, jalan ke sana memang bukan sprint, tapi maraton.
Di sisi lain, ada yang tergoda shortcut. “Bang, bisa cepat?” Dijawab, “Bisa, asal cepat juga kirim bukti transfer.”
Hasilnya? Ya jelas. Ditangkap. Duit hilang. Ibadah batal. Nama bangsa ikut terseret kayak sandal putus di pasar becek.
Ente bayangin, wak. Di Mekkah, polisi Saudi harus gerebek hotel gara-gara ulah WNI. Mereka buka laptop, isinya chat korban semua. Lihat seragam petugas palsu kita, mungkin mereka mikir, “Ini delegasi resmi atau rombongan prank internasional?”
KJRI Jeddah sibuk. Kemenhaj ancam pecat dan blacklist. Polisi bikin satgas. Semua bergerak cepat. Tapi sumber masalahnya? Ya… kita lagi, kita lagi. Kayak lagu lama yang diputar terus, tapi nadanya makin fals.
Akhirnya kita harus bilang, dengan nada setengah kagum setengah pengen ketawa pahit. Salut dengan warga kita. Di Tanah Suci pun mereka tetap konsisten, berkarya dalam bidang yang… tidak perlu kita banggakan.
Malu? Ada. Tapi tipis. Tipis banget. Kayak ucapan Rismon soal ijazah.
Tinggal kita pilih, mau jadi yang sabar antre menuju ibadah,
atau jadi headline berita dengan judul yang… memalukan satu negara.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
