Ikuti kami:
Kalau kalian menonton video lautan manusia yang memenuhi jalan-jalan Tehran, mungkin dada kalian ikut sesak. Bukan karena angka-angka begitu besar, tetapi karena menyaksikan bagaimana jutaan manusia menangis bersama. Sulit membayangkan seperti apa rasanya ketika sebuah kota berubah menjadi hamparan duka, ketika suara tangisan jauh lebih nyaring dari suara kendaraan, ketika setiap langkah seolah mengantar sebuah babak sejarah menuju liang lahat. Begitu besar penghormatan sebagian warga Iran kepada almarhum Ali Khamenei hingga pemandangan itu membuat bulu kuduk berdiri dan hati dipenuhi rasa pilu.
Di bawah langit Tehran yang muram, jutaan orang berjalan dengan wajah basah oleh air mata. Mereka datang bukan sekadar menghadiri sebuah pemakaman, melainkan mengantarkan seseorang yang selama 37 tahun menjadi wajah paling dominan dalam perjalanan Republik Islam Iran. Diperkirakan 15 hingga 20 juta orang mengikuti rangkaian prosesi pemakaman selama enam hari yang berlangsung di lima kota di dua negara. Angka sebesar itu nyaris tak sanggup diterjemahkan oleh logika. Yang bisa dipahami hanyalah satu hal, kehilangan, bagi mereka, telah menjelma menjadi lautan manusia.
Grand Mosalla Tehran tak lagi mampu menampung lautan kesedihan itu. Kapasitas ruang salat telah penuh berjam-jam sebelum doa jenazah dimulai. Gerbang ditutup bukan karena acara usai, melainkan karena tak ada lagi sejengkal tanah tersisa. Puluhan juta pasang mata memerah. Jutaan bibir bergetar melantunkan doa. Jutaan tangan terangkat memohon ampun bagi sosok yang telah pergi.
Reza, seorang profesor berusia 37 tahun, mengucapkan kalimat yang membuat hati siapa pun tercekat, "Kami datang karena kami berjanji pada pemimpin tertinggi untuk berdiri di sisinya sampai akhir. Untuk waktu yang lama, kami berteriak, kami akan mengorbankan hidup kami untuk pemimpin, tetapi dialah mengorbankan dirinya untuk kami." Di balik kalimat itu tersimpan ironi yang begitu getir. Janji kesetiaan akhirnya hanya bisa dibayar dengan air mata di depan peti jenazah.
Di atas panggung tinggi Grand Mosalla, jenazah Ayatollah Ali Khamenei terbaring bersama empat anggota keluarganya di dalam peti kaca. Mereka dilaporkan gugur dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari, termasuk menantu, putri, menantu perempuan, dan seorang cucu perempuan yang baru berusia 14 bulan. Bayi yang belum sempat mengenal kerasnya dunia kini harus berbaring dalam keheningan abadi bersama sang kakek. Tidak ada pidato politik yang mampu menghapus luka itu. Tidak ada slogan dapat menghidupkan kembali seorang anak kecil yang belum sempat memahami arti kehidupan.
Namun di tengah kesedihan itu, sejarah kembali memperlihatkan wajahnya. Seorang pemimpin sepanjang hidupnya begitu akrab dengan retorika pengorbanan dan perjuangan akhirnya pulang ke peristirahatan terakhir bersama cucunya sendiri. Arash Rahimi, 40 tahun, mengatakan kepada Reuters, "Blood feud... kita memiliki pertikaian darah dengan Amerika Serikat." Kalimat itu terdengar seperti ratapan yang berubah menjadi dendam. Betapa menyedihkannya ketika kematian pun gagal mengakhiri lingkaran kebencian. Bahkan di depan liang lahat, perang masih menemukan alasan untuk terus hidup.
Prosesi pemakaman berlangsung seperti perjalanan panjang menguras jiwa. Pada Minggu, 5 Juli, Salat al-Mayyit dipimpin Ayatollah Jafar Sobhani di Grand Mosalla Tehran sejak pukul 06.00 waktu setempat. Tiga kali doa dipanjatkan, masing-masing untuk sang pemimpin, tiga anggota keluarganya, dan khusus bagi bayi mungil yang turut menjadi korban. Esok harinya, 6 Juli, iring-iringan jenazah menempuh perjalanan sekitar 10 kilometer dari Lapangan Imam Hossein menuju Lapangan Azadi. Pada 7 Juli, jenazah dibawa ke kota suci Qom, kemudian diterbangkan ke Najaf dan Karbala di Irak pada 8 Juli, sebelum akhirnya dimakamkan pada 9 Juli di samping Makam Imam Reza di Mashhad, sesuai wasiat terakhirnya. Begitu panjang perjalanan menuju tanah peristirahatan, seolah sejarah sendiri enggan melepaskan sosok yang telah begitu lama menguasai panggung politik Iran.
Namun di balik kemegahan prosesi itu, ada ironi yang menusuk lebih dalam dari ribuan pidato. Mojtaba Khamenei, putra almarhum yang kini disebut sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, tidak dijadwalkan hadir dalam acara publik karena alasan keamanan. Seorang anak tak dapat mengantar ayahnya menuju pemakaman. Sebuah kenyataan terasa begitu pahit. Rezim selama puluhan tahun berbicara lantang tentang keberanian, pengorbanan, dan keteguhan justru harus menyembunyikan pewarisnya di saat rakyat memenuhi jalan-jalan dengan air mata. Sejarah terkadang memang lebih kejam dari musuh mana pun.
Di sisi lain, 14.000 jurnalis, termasuk 900 reporter asing, meliput prosesi ini. Sebanyak 50 juta potong roti dipanggang untuk memenuhi kebutuhan para pelayat. Angka-angka itu terdengar megah, tetapi sekaligus menyisakan satire pahit. Sebuah negeri bertahun-tahun hidup di bawah tekanan sanksi dan kesulitan ekonomi mampu menghadirkan panggung duka begitu kolosal. Dunia menyaksikan, sebagian dengan simpati, sebagian lagi dengan sinisme, sementara rakyat tetap berdiri berjam-jam di bawah matahari hanya untuk mengucapkan salam perpisahan.
Nuan bayangkan berdiri di tengah 15 juta orang yang menangis. Dengarkan pekikan "Kematian bagi Amerika!" bersahutan di antara isak tangis tak kunjung reda. Lihat para ibu menggendong anak-anak mereka di bawah terik Juli, sementara petugas memasang 6.000 penyemprot air demi mendinginkan jutaan pelayat. Pemandangan itu begitu memilukan sekaligus terasa absurd. Mereka datang membawa cinta, kehilangan, keyakinan, bahkan kemarahan. Namun mereka bawa pulang mungkin hanyalah tubuh letih dan hati tetap berlubang.
Pada akhirnya, yang tersisa bukan sekadar kisah wafatnya seorang pemimpin, melainkan potret sebuah bangsa sedang bergulat dengan sejarahnya sendiri. Sebagian orang benar-benar menangis karena kehilangan sosok mereka hormati. Sebagian mungkin menangis karena perang tak kunjung selesai, karena sanksi memiskinkan, karena anak-anak tumbuh dalam bayang-bayang konflik, atau karena masa depan terasa semakin jauh. Di situlah tragedi terbesar berada. Ketika air mata rakyat bercampur dengan propaganda, ketika duka bertemu politik, ketika kematian seorang pemimpin berubah menjadi panggung bagi pertanyaan yang tak pernah selesai dijawab.
Biarkan mereka menangis. Sebab kadang-kadang, tangisan bukan hanya untuk seseorang yang telah pergi. Tangisan adalah bahasa terakhir sebuah bangsa terlalu lama hidup di antara perang, pengorbanan, harapan, dan kehilangan yang tak pernah benar-benar menemukan ujungnya.
“Merinding nonton videonya, kok bisa manusia sebanyak itu menghadiri pemakaman.”
“Saya juga begitu, wak. Gimana dengan pemimpin kita, apakah akan dihadiri jutaan warga juga ya?” Ups
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
REKOMENDASI KAMI
- Memuat artikel...

