Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juni 2026

Semarak Kebersamaan, Kirab Budaya Grebeg Suro 2026 di Landak Jadi Pesta Persatuan Lintas Etnis

Foto: Ketua Umum Paguyuban Jawa Kalimantan Barat (PJKB) Dr. Purwanto, SH., MH

LANDAK - Semangat kebersamaan mewarnai pelaksanaan Kirab Budaya Grebeg Suro 2026 yang digelar Paguyuban Jawa Kabupaten Landak (PJKL), Sabtu 27 Juni 2026. Ratusan peserta dari berbagai kalangan memadati jalur kirab dengan pakaian adat dan kesenian tradisional, menjadikannya pesta budaya sarat nilai persatuan.

Kirab dihadiri Wakil Bupati Landak Eriani bersama Ketua Umum Paguyuban Jawa Kalimantan Barat (PJKB) Dr. Purwanto, SH., MH. Kehadiran keduanya menjadi bentuk dukungan pelestarian budaya dan penguatan harmoni sosial di tengah keberagaman.

Kegiatan tidak hanya diikuti warga keturunan Jawa, tetapi juga melibatkan organisasi lintas etnis di Landak. Hal itu menunjukkan kuatnya semangat toleransi dan persaudaraan di Bumi Intan.

Ketua Panitia Grebeg Suro PJKL 2026 Teguh menyampaikan, Grebeg Suro merupakan agenda tahunan sebagai pelestarian budaya dan ungkapan syukur kepada Tuhan. “Grebeg Suro menjadi wadah mempererat silaturahmi, memperkokoh persaudaraan, serta mengenalkan budaya Jawa. Tahun ini sengaja libatkan lintas etnis sebagai simbol budaya perekat persatuan,” ujarnya.

“Kami berharap tradisi ini terus lestari sebagai warisan yang mengandung nilai gotong royong, kebersamaan, dan toleransi,” tambahnya.

Wakil Bupati Landak Eriani mengapresiasi kegiatan tersebut. “Grebeg Suro bukan hanya menampilkan kekayaan budaya, tetapi juga memperlihatkan semangat persatuan masyarakat dari berbagai etnis di Landak,” ujarnya.

Ketua Umum PJKB Dr. Purwanto bersyukur atas antusiasme masyarakat. “Kegiatan ini bukan hanya milik masyarakat Jawa, tetapi milik seluruh masyarakat Kalbar sebagai media memperkuat persatuan dalam keberagaman,” ungkapnya.

Selain kirab, rangkaian Grebeg Suro 2026 dimeriahkan pertunjukan Wayang Kulit semalam suntuk sebagai hiburan sekaligus edukasi budaya bagi generasi muda.

Melalui Grebeg Suro, PJKL dan PJKB berharap tradisi budaya terus lestari dan menjadi jembatan persaudaraan antar-etnis di Kalbar, sebagai fondasi kerukunan dan pembangunan daerah yang harmonis. (Tim)

Selasa, 23 Juni 2026

Kirab Budaya Grebeg Suro Kuda Lumping Maju Tresno Pontianak Utara, Rawat Warisan Budaya Jawa

Foto: Kirab Budaya Grebeg Suro Kuda Lumping Maju Tresno Pontianak Utara

PONTIANAK - Kelompok Kesenian Kuda Lumping Maju Tresno Pontianak Utara menggelar Kirab Budaya Grebeg Suro, Minggu 21 Juni 2026 sore. 

Kegiatan meriah ini merupakan rangkaian peringatan ulang tahun ke-62 kelompok kesenian tersebut sekaligus tradisi masyarakat Jawa dalam menyambut bulan Suro dan Tahun Baru Islam.

Kirab budaya mendapat dukungan masyarakat serta Pemerintah Kota Pontianak melalui Kecamatan Pontianak Utara. Berbagai unsur masyarakat hadir dalam kegiatan yang mengangkat nilai budaya, kebersamaan, dan pelestarian tradisi.

Sekretaris Umum Paguyuban Jawa Kalimantan Barat Edi Suhairul mengatakan, Grebeg Suro merupakan bentuk nyata masyarakat menjaga dan melestarikan budaya warisan leluhur. 

“Ini adalah bagian dari merawat budaya atau nguri-uri budaya yang selalu kita gaungkan. Visi dan misi Paguyuban Jawa Kalbar adalah menjadi wadah silaturahmi dan pelestarian budaya,” ujarnya.

Edi menilai kegiatan budaya seperti Grebeg Suro penting karena tidak hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga mempererat hubungan sosial masyarakat. Ia mengapresiasi dukungan pemerintah daerah yang ikut membantu pelestarian budaya.

Gubernur Kalimantan Barat H. Ria Norsan juga memberikan apresiasi. Menurutnya, budaya adalah kekayaan bangsa yang harus dirawat bersama dan keberagaman budaya di Kalbar menjadi kekuatan untuk membangun kebersamaan dan persatuan.

“Pemerintah tentu mendukung kegiatan positif seperti ini. Budaya bukan hanya tentang tradisi, tetapi juga bagaimana kita mempererat silaturahmi dan kebersamaan,” katanya.

Camat Pontianak Utara Indrawan Tauhid, S.STP., M.Si., menyampaikan apresiasi Pemerintah Kota Pontianak terhadap kegiatan tersebut. Rangkaian acara sebelumnya juga diisi kegiatan sosial seperti sunatan massal dan senam sehat, kemudian kirab budaya sore hari dan pertunjukan wayang malam hari.

Ketua Panitia Muhammad menjelaskan, Grebeg Suro merupakan kegiatan rutin tahunan yang selama ini dilaksanakan secara swadaya oleh anggota kelompok. Ia berharap ada dukungan lebih dari pemerintah, pengusaha, dan pelaku seni agar tradisi ini terus berkembang.

Kirab Budaya Grebeg Suro Kuda Lumping Maju Tresno Pontianak Utara menjadi bukti komitmen masyarakat dalam menjaga budaya leluhur di Kalimantan Barat. (Tim)

Senin, 22 Juni 2026

“Ini Bukan Sekadar Tradisi” Bupati Kutim Tegaskan Budaya Jadi Kekuatan Warga

Kutai Timur perkuat budaya nusantara sebagai modal pembangunan. Bupati Ardiansyah Sulaiman tekankan budaya jadi perekat persatuan di tengah keberagaman masyarakat.
Kutai Timur perkuat budaya nusantara sebagai modal pembangunan. Bupati Ardiansyah Sulaiman tekankan budaya jadi perekat persatuan di tengah keberagaman masyarakat.

KUTAI TIMUR - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, terus memperkuat pelestarian budaya nusantara yang tumbuh di tengah masyarakat multietnis, sebagai upaya mempererat persatuan sekaligus menjadi bagian dari pembangunan daerah. Hal itu disampaikan Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman di Sangatta, Senin.

Ardiansyah menegaskan keberagaman budaya yang hidup di Kutai Timur bukan pemisah, melainkan kekuatan yang menyatukan masyarakat. Ia menyebut interaksi antar-suku telah melahirkan saling pengertian, pertukaran informasi, hingga sikap saling menghargai.

“Beragam seni dan budaya nusantara yang dilestarikan penduduk Kutim di desa-desa maupun kelurahan adalah aset tak ternilai, sekaligus menjadi modal penting dalam membangun daerah,” ujar Ardiansyah.

Ia menambahkan, budaya memiliki peran penting dalam pembangunan karena menjadi pendorong semangat dan perekat sosial di tengah masyarakat yang majemuk.

“Budaya pun tidak terpisahkan dari pembangunan, karena keberadaannya justru menjadi pendorong semangat dan perekat sosial,” lanjutnya.

Pernyataan itu juga disampaikan saat menghadiri Hari Jadi ke-26 Paguyuban Margo Kencono di Lapangan Margo Sentoso II, Sangatta Utara, Sabtu (20/6) malam.

Dalam kesempatan tersebut, Pemkab Kutim menegaskan komitmen untuk terus membuka ruang bagi pegiat seni, paguyuban, lembaga adat, dan tokoh budaya agar terus berkarya. Dukungan itu diwujudkan melalui festival budaya serta penguatan kelembagaan adat.

Ketua Paguyuban Margo Kencono, Andi Satyo, mengatakan organisasi tersebut berdiri sejak 1998 dan resmi terdaftar pada 2000 melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kutai Timur. Selama 26 tahun, mereka konsisten melestarikan kesenian Reog Ponorogo.

“Selama ini kami menjaga Reog Ponorogo sebagai bagian dari identitas budaya dan warisan leluhur,” kata Andi Satyo.

Peringatan hari jadi mengusung tema “Menjaga Tradisi, Menguatkan Identitas Budaya” dengan menampilkan lima kelompok seni reog yang disambut antusias masyarakat.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menegaskan budaya adalah aset dan perekat sosial yang tidak terpisahkan dari pembangunan daerah. Sementara Ketua Paguyuban Margo Kencono Andi Satyo menyebut pelestarian Reog Ponorogo menjadi bagian dari identitas budaya yang terus dijaga.

Pemkab Kutim menegaskan akan terus memperkuat ruang ekspresi budaya melalui festival dan penguatan lembaga adat. Upaya ini diharapkan memperkuat persatuan masyarakat sekaligus mendorong kreativitas dan kemandirian komunitas budaya di daerah.

Minggu, 21 Juni 2026

12 Sanggar Seni Meriahkan Peluncuran Tari Kolosal Karya UPTD Kaltim

UPTD Taman Budaya Kaltim meluncurkan Tari Kolosal 2026 bertema Mahakam di Samarinda sebagai pelestarian budaya dan penguatan kreativitas seni daerah.
UPTD Taman Budaya Kaltim meluncurkan Tari Kolosal 2026 bertema Mahakam di Samarinda sebagai pelestarian budaya dan penguatan kreativitas seni daerah.

Samarinda — Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur meluncurkan Karya Cipta Tari Kolosal 2026 di halaman UPTD Taman Budaya Kaltim, Samarinda, pada Minggu sebagai upaya pengembangan talenta seni dan pelestarian budaya daerah.

Karya cipta tari kolosal ini merupakan hasil proses kreatif selama 19 hari pada Mei lalu. Karya tersebut mengangkat tema “Dari Hulu Rimba ke Hilir Mahakam Bebaya Bangun Benua” yang menggambarkan perjalanan budaya Kalimantan Timur dari hulu hingga hilir Sungai Mahakam.

Tarian ini tidak hanya menonjolkan keindahan gerak, tetapi juga memuat pesan tentang persatuan, gotong royong, serta penguatan identitas budaya daerah. Karya tersebut juga merepresentasikan kearifan lokal dan semangat kebersamaan dalam membangun daerah.

Sebanyak 12 sanggar seni turut berpartisipasi dalam pertunjukan, termasuk Sanggar Seni Budaya Telabang dan Adya Karsa Dance Art. Acara peluncuran turut dihadiri unsur pemerintah, akademisi, pelaku seni, hingga perwakilan sanggar dari berbagai daerah di Kalimantan Timur.

Kepala UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Timur, Erna Rawaty Sinaga, mengatakan karya tari kolosal tidak hanya menampilkan keindahan gerak, tetapi juga menjadi media penyampaian pesan sosial.

“Karya tari kolosal tidak hanya menampilkan keindahan gerak, tetapi juga menjadi media penyampaian pesan tentang persatuan, gotong royong, serta kecintaan terhadap budaya daerah,” ujarnya.

Ia menambahkan, ajang ini diharapkan mampu menjadi ruang kreatif bagi generasi muda sekaligus memperkuat rasa bangga terhadap budaya nasional.

UPTD Taman Budaya Kaltim menegaskan komitmennya untuk terus menyediakan ruang ekspresi bagi pelaku seni agar dapat melahirkan karya-karya baru. Kegiatan seperti ini juga dirancang sebagai wadah kolaborasi bagi pelajar dan mahasiswa dalam mengembangkan kreativitas seni daerah.

Jumat, 19 Juni 2026

Empat DPC dan 17 DPAC Kabupaten Bengkayang Ormas Mangkok Merah Borneo Bersatu Dilantik dan Dikukuhkan

Foto : Pelantikan dan Pengukuhan Ormas MMBB di Kebupaten Bengkayang

BENGKAYANG (BORNEOTRIBUN.COM), - Organisasi Masyarakat Mangkok Merah Borneo Bersatu (MMBB) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Sambas, Kabupaten Ketapang dan Kota Singkawang. Resmi dikukuhkan dan dilantik besama 17 anak cabang atau DPAC MMBB Kabupaten Bengkayang, DPAC Kecamatan Subah Kabupaten Sambas, DPAC Kecamatan Banyuke Hulu Kabupaten Landak, dan DPAC Kecamatan Mempawah Hulu Kabupaten Landak, yang Bertempat di Ramin Betang Bengkayang. Kamis, 18 Juni 2026.

Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, mulai dari hari Rabu, 17 Juni 2026 sampai 18 Juni 2026. Acara yang diisi dengan bermacam acara tersebut seperti, pertunjukan budaya Dayak, seminar tentang organisasi, AD/ART Ormas dan lain sebagainya terlihat berjalan dengan baik dan diikuti anggota dari awal sampai akhir oleh anggota Ormas MMBB.

Ketua Umum Ormas Mangkok Merah Borneo Bersatu, Diseniman, SH saat memberikan arahan kepada anggota yang hendak di lantik mengatakan menegaskan pentingnya memegang teguh aturan dan menjaga nama baik Organisasi, ia berharap agar anggota Mangkok Merah Borneo Bersatu yang dikukuhkan dan dilantik tersebut hadir ditengah-tengah masyarakat adat untuk melestarikan adat dan budaya suku Dayak serta membantu membela hak hak masyarakat adat yang tidak mendaptkan keadilan.

"Saya ucapkan selamat kepada anggota yang telah dilantik, setelah di lantik dan dikukuhkan ini saya harap semuanya menjalankan tupoksi masing-masing bertindak sesuai kebenaran dan selaras dengan visi dan misi Ormas Mangkok Merah Borneo Bersatu," ucap Ketua Umum MMBB.

Kemudian, dalam acara tersebut Panglima Tertinggi Mangkok Merah Borneo Bersatu yakni Marselinus Mian, SE.,MM juga ikut menekankan dalam sambutanya kepada anggota bahwa dalam organisasi Mangkok Merah Borneo Bersatu tersebut ibarat pepatah duduk sama rendah berdiri sama tinggi yang artinya tidak ada perbedaan semuanya sama berjuang untuk satu tujuan.

"Singsingkan lengan baju mu kita di MMBB ini semuanya memiliki kewajiban dan hak yang sama dalam mendukung dan melestarikan adat dan budaya, jangan pernah takut dengan tantangan, sebab dengan tantangan dan rintangan jika kita mampu menghadapinya maka itu akan menjadikan kita dewasa dalam beroganisasi. Kita jadikan ormas MMBB ini cerdas dalam segala hal," kata Panglima Tertinggi MMBB, Marselinus Mian, SE.,MM.

Turut hadir dalam kegiatan Pelantiakan dan Pengukuhan Ormas Mangkok Merah Borneo Bersatu ( MMBB) di Kabupaten Bengkayang, Dewan Penasehat DPP MMBB Limen AK Lingai dan Martinus Kajot, MMBB Perwakilan Serawak Malaysia, Perwakilan Ormas Melayu, Bupati Bengkayang diwakilkan Staf Ahli Dr. Yan, Kapolres Bengkayang diwakilkan Kapolsek Bengkayang AKP Slamet Widodo, Kepala Pengadilan Bengkayang Anggalanton Boang Manulu, SH.,MH, Tokoh Masyarakat Bengkayang Suryatman Gidot, Jajaran Forkopimda, dan Pengurus DPD,DPC,DPAC dan anggota MMBB.

Rabu, 10 Juni 2026

Tradisi Ngarantek Sawa' Bahu Perkuat Perlindungan Masyarakat Adat dan Ketahanan Pangan

Tradisi Ngarantek Sawa' Bahu Perkuat Perlindungan Masyarakat Adat dan Ketahanan Pangan
Tradisi Ngarantek Sawa' Bahu Perkuat Perlindungan Masyarakat Adat dan Ketahanan Pangan. 

BENGKAYANG – Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis menegaskan pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi adat sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas budaya, perlindungan masyarakat adat, sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah.

Hal itu disampaikan Darwis saat menghadiri kegiatan Ngarantek Sawa' Bahu ke-10 yang digelar di Ramin Adat Banua Lumar, Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang, Selasa (9/6). 

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bengkayang, saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, lembaga adat, tokoh masyarakat, para donatur, serta seluruh masyarakat yang telah bergotong royong menyukseskan kegiatan ini,” kata Darwis.

Menurut dia, tema perlindungan masyarakat adat yang diangkat dalam pelaksanaan Ngarantek Sawa' Bahu tahun ini memiliki makna penting karena mengingatkan seluruh pihak bahwa adat, budaya, dan kearifan lokal tidak dapat dipisahkan dari peran masyarakat adat yang selama ini menjaga serta mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Ia mengatakan tanpa peran masyarakat adat, berbagai nilai luhur, pengetahuan tradisional, bahasa daerah, serta warisan budaya berpotensi hilang seiring perkembangan zaman.

Bagi masyarakat Dayak Bakati Lumar, lanjut Darwis, Ngarantek Sawa' Bahu bukan sekadar seremoni adat, melainkan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penghormatan terhadap warisan leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi Ngarantek Sawa' Bahu Perkuat Perlindungan Masyarakat Adat dan Ketahanan Pangan
Tradisi Ngarantek Sawa' Bahu Perkuat Perlindungan Masyarakat Adat dan Ketahanan Pangan. 

“Melalui tradisi ini kita diingatkan akan pentingnya kebersamaan, gotong royong, serta keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Darwis menilai tantangan terbesar saat ini bukan hanya mempertahankan keberadaan tradisi, tetapi memastikan generasi muda terus mengenal, mempelajari, dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, hilangnya budaya sering kali bukan disebabkan perubahan zaman, melainkan karena generasi penerus tidak lagi mengenal dan melestarikannya.

Karena itu, tradisi seperti Ngarantek Sawa' Bahu menjadi ruang penting untuk proses pembelajaran dan pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

Selain itu, pengakuan dan perlindungan masyarakat adat juga tidak hanya berkaitan dengan identitas budaya, tetapi juga penghargaan terhadap peran masyarakat adat sebagai penjaga kearifan lokal yang mengajarkan nilai kebersamaan, musyawarah, penghormatan terhadap sesama, serta keseimbangan hubungan antara manusia dan alam.

“Nilai-nilai tersebut merupakan kekayaan yang sangat berharga bagi daerah kita,” katanya.

Darwis juga menekankan bahwa tradisi Ngarantek Sawa' Bahu mengingatkan masyarakat akan eratnya hubungan masyarakat Dayak dengan sektor pertanian.

Melalui tradisi tersebut, kata dia, para leluhur telah mewariskan nilai kerja keras, gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian terhadap alam sebagai sumber kehidupan.

“Kemajuan tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh karakter dan kearifan masyarakatnya,” ujar Darwis.

Ia berharap Ngarantek Sawa' Bahu tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap adat dan budaya sekaligus mendorong generasi muda untuk menjaga serta melanjutkan warisan leluhur.

Sementara itu, Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Lumar, Esidorus, mengatakan Ngarantek Sawa' Bahu merupakan tradisi yang menandai dimulainya masa tanam baru bagi masyarakat Dayak di wilayah tersebut.

“Kalau Ngarantek Sawa' Bahu tahun 2026 dilaksanakan hari ini, artinya kita memasuki tahun tanam baru periode 2026–2027,” katanya.

Menurut Esidorus, tradisi masyarakat Dayak tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian. Namun selama ini berbagai kegiatan budaya lebih banyak menonjolkan fase pascapanen, seperti pesta padi baru, naik dango, hingga penutupan masa panen.

Sebaliknya, Ngarantek Sawa' Bahu justru mengangkat nilai budaya yang berkaitan dengan tahapan awal pertanian atau sektor hulu, mulai dari persiapan lahan, penanaman hingga perawatan tanaman.

“Di sektor hulu inilah persoalan pertanian paling banyak terjadi dan perlu mendapat perhatian,” ujarnya.

Ia menyebut sejumlah tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini antara lain penyempitan lahan pertanian, alih fungsi lahan menjadi perkebunan, dampak perubahan iklim yang memicu gagal panen, menurunnya minat generasi muda menjadi petani, serta berkurangnya produktivitas pertanian.

Karena itu, melalui Ngarantek Sawa' Bahu, masyarakat didorong untuk kembali menghidupkan semangat bercocok tanam melalui pola tanam serentak guna meningkatkan produktivitas pertanian.

Menurut Esidorus, bercocok tanam bagi masyarakat Dayak tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga menjaga keberlanjutan benih lokal, melestarikan plasma nutfah, dan mempertahankan keberlangsungan tradisi budaya.

“Kalau kita meninggalkan bercocok tanam, maka berbagai tradisi yang berkaitan dengan padi dan pertanian lambat laun juga akan hilang,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Bengkayang secara simbolis menyerahkan sejumlah perlengkapan pertanian berupa parang, tugal, dan benih kepada masyarakat sebagai simbol dimulainya masa tanam baru sekaligus dukungan pemerintah daerah terhadap upaya penguatan ketahanan pangan berbasis kearifan lokal.

Kegiatan Ngarantek Sawa' Bahu ke-10 menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, lembaga adat, dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya sekaligus mendorong keberlanjutan sektor pertanian sebagai penopang kehidupan masyarakat Dayak di Kabupaten Bengkayang.

Senin, 01 Juni 2026

Borneo Twindo Group Siapkan Beasiswa bagi Pemenang Bujang dan Dara Barape' Sawa' 2026

Panitia Barape' Sawa' 2026 mengapresiasi dukungan Pemkab Bengkayang, Forkopimda, kepolisian, sponsor, dan donatur yang membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan.
Panitia Barape' Sawa' 2026 mengapresiasi dukungan Pemkab Bengkayang, Forkopimda, kepolisian, sponsor, dan donatur yang membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan.

BENGKAYANG - Ketua Panitia Barape' Sawa' 2026 Kabupaten Bengkayang, Rudi S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Bengkayang atas dukungan penuh yang diberikan sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan baik dan lancar.

Rudi mengatakan keberhasilan pelaksanaan Barape' Sawa' tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Selain pemerintah daerah, kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari kepolisian serta Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang turut membantu kelancaran penyelenggaraan acara.

Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi faktor penting dalam memastikan seluruh agenda berjalan sesuai harapan panitia.

"Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Bengkayang yang telah mendukung penuh seluruh kegiatan ini sehingga dapat terlaksana dengan baik," ujar Rudi.

Ia juga menyoroti kontribusi para sponsor dan donatur yang turut mendukung penyelenggaraan Barape' Sawa' 2026. Salah satu di antaranya adalah Borneo Twindo Group yang disebut memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Rudi menyampaikan kabar gembira terkait pemilihan Bujang dan Dara Barape' Sawa' 2026. Para pemenang nantinya akan memperoleh beasiswa pendidikan dari Borneo Twindo Group.

"Mereka mendapatkan beasiswa untuk biaya kuliah sejak awal masuk hingga tamat," katanya.

Selain dukungan sponsor, panitia juga mengapresiasi dana hibah yang diberikan Pemerintah Kabupaten Bengkayang. Bantuan tersebut dinilai sangat membantu kebutuhan pelaksanaan kegiatan.

Menutup keterangannya, Rudi menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Kabupaten Bengkayang, masyarakat adat Dayak Bengkayang, serta masyarakat adat Dayak dari daerah sekitar apabila selama pelaksanaan Barape' Sawa' terdapat hal-hal yang kurang berkenan.

Permintaan maaf tersebut disampaikan sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat yang telah mendukung dan berpartisipasi dalam penyelenggaraan Barape' Sawa' 2026.

Laporan: Fran Asok

Senin, 18 Mei 2026

Sekadau Dibuat Meriah Semalaman, Ribuan Warga Padati Penutupan Keling Kumang Festival 2026

Penutupan Keling Kumang Festival IV 2026 di Sekadau berlangsung aman dan tertib dengan pengamanan 30 personel Polres Sekadau serta dihadiri unsur Forkopimda.
Penutupan Keling Kumang Festival IV 2026 di Sekadau berlangsung aman dan tertib dengan pengamanan 30 personel Polres Sekadau serta dihadiri unsur Forkopimda.

Keling Kumang Festival IV 2026 Ditutup Meriah, Budaya Dayak dan Antusias Warga Warnai Sekadau

SEKADAU - Penutupan Keling Kumang Festival IV Tahun 2026 di Taman Kelempiau, Desa Tapang Semadak, Kecamatan Sekadau Hilir, Sabtu (16/5/2026), berlangsung meriah dan kondusif. 

Ribuan warga memadati area festival untuk menyaksikan rangkaian acara budaya yang menjadi agenda tahunan kebanggaan masyarakat Kabupaten Sekadau.

Festival yang digelar selama tiga hari, sejak 14 hingga 16 Mei 2026 itu menjadi ruang pertemuan budaya, hiburan, sekaligus promosi pariwisata daerah. Penampilan seni tradisional, parade Bujang dan Dara, hingga penobatan Bujang Keling dan Dara Kumang Tahun 2026 menjadi daya tarik utama dalam malam penutupan.

Suasana semakin semarak ketika Wakil Bupati Sekadau Subandrio secara resmi menutup festival melalui prosesi pemukulan gong. Momen tersebut disambut tepuk tangan masyarakat yang memenuhi kawasan Taman Kelempiau.

Di balik kemeriahan acara, aparat keamanan juga memastikan seluruh kegiatan berjalan tertib. Polres Sekadau menurunkan 30 personel yang ditempatkan di sejumlah titik strategis untuk mengamankan jalannya festival dan mengatur arus lalu lintas di sekitar lokasi.

Pengamanan dipimpin Kasat Samapta IPTU Insan Malau bersama Kasikum IPTU Moh Haerudin serta didukung personel Satpol PP Sekadau. Kehadiran aparat membuat masyarakat dapat menikmati seluruh rangkaian kegiatan dengan nyaman hingga acara berakhir.

Kapolres Sekadau AKBP Andhika Wiratama melalui Kasi Humas AKP Triyono mengatakan situasi selama penutupan festival terpantau aman dan kondusif tanpa gangguan berarti.

“Selama rangkaian penutupan berlangsung hingga selesai, situasi terpantau aman, tertib, dan kondusif tanpa adanya gangguan menonjol,” ujar AKP Triyono, Minggu (17/5/2026).

Tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, Festival Keling Kumang juga memiliki peran penting dalam menjaga warisan budaya Dayak di Kabupaten Sekadau. Berbagai pertunjukan tradisional yang ditampilkan menjadi bentuk pelestarian budaya sekaligus sarana mengenalkan kearifan lokal kepada generasi muda.

Festival ini juga memberi dampak positif bagi pelaku usaha kecil dan ekonomi kreatif lokal. Kehadiran pengunjung selama tiga hari pelaksanaan turut menggerakkan aktivitas perdagangan di sekitar lokasi acara.

Dengan berakhirnya Keling Kumang Festival IV 2026, masyarakat berharap agenda budaya tahunan tersebut terus berkembang dan semakin mampu menarik wisatawan untuk datang ke Kabupaten Sekadau.

Minggu, 17 Mei 2026

Festival Ini Bukan Sekadar Acara, FBIM 2026 Bawa Rasa Pulang ke Budaya

Festival Budaya Isen Mulang 2026 resmi dibuka di Palangka Raya, Kalteng, menampilkan karnaval budaya, lomba tradisional, dan penguatan ekonomi kreatif.
Festival Budaya Isen Mulang 2026 resmi dibuka di Palangka Raya, Kalteng, menampilkan karnaval budaya, lomba tradisional, dan penguatan ekonomi kreatif.

PALANGKA RAYA - Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026 kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu ruang budaya terbesar di Kalimantan Tengah. 

Digelar di Kota Palangka Raya, pembukaan festival ini berlangsung meriah pada Minggu (17/5) pagi dengan karnaval budaya yang menjadi pusat perhatian masyarakat.

Sejak awal dibuka, FBIM tidak hanya tampil sebagai agenda seremonial tahunan, tetapi juga sebagai etalase besar kebudayaan daerah. 

Ribuan masyarakat memadati kawasan Bundaran Besar untuk menyaksikan langsung ragam atraksi budaya yang ditampilkan para peserta dari berbagai daerah di Kalimantan Tengah.

Gubernur Agustiar Sabran menegaskan bahwa FBIM kini semakin mendapat pengakuan di tingkat nasional. 

Festival ini bahkan masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara 2026, yang menandai meningkatnya daya tarik budaya Kalimantan Tengah dalam peta pariwisata nasional.

Di balik kemeriahan panggung budaya, FBIM 2026 juga membawa pesan yang lebih luas: pelestarian tradisi sekaligus penguatan ekonomi daerah. 

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mendorong agar festival ini tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memberi dampak langsung bagi pelaku usaha lokal.

Beragam kegiatan budaya menjadi daya tarik utama, mulai dari karnaval budaya, pemilihan Jagau Nyai Kalteng, hingga olahraga tradisional seperti manyipet, habayang, manjawet uwei, dan sepak sawut. 

Setiap atraksi menghadirkan kembali identitas budaya yang selama ini hidup di tengah masyarakat Dayak dan komunitas lainnya di Kalteng.

Penjabat Sekretaris Daerah Linae Victoria Aden menambahkan, FBIM 2026 juga menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-69 Kalimantan Tengah. 

Momentum ini sekaligus dimanfaatkan untuk memperkuat promosi pariwisata dan membuka ruang lebih luas bagi pelaku UMKM serta ekonomi kreatif.

Lebih dari sekadar festival, FBIM juga menjadi cerminan nilai kebersamaan dalam falsafah Huma Betang, yang menekankan hidup dalam keberagaman dengan semangat persatuan. 

Nilai ini terasa kuat dalam setiap rangkaian acara yang mempertemukan berbagai suku, seni, dan tradisi dalam satu panggung yang sama.

Rangkaian FBIM 2026 sendiri akan berlangsung hingga 23 Mei 2026 di sejumlah lokasi strategis di Palangka Raya, termasuk GOR Indoor Serbaguna, Bundaran Besar, kawasan bawah Jembatan Kahayan, Stadion Tuah Pahoe, hingga halaman kantor Disbudpar Kalteng. 

Festival ini diperkirakan terus menjadi magnet wisata sekaligus penggerak ekonomi lokal selama penyelenggaraannya.

Kamis, 07 Mei 2026

Gawai Naik Dango Bengkayang Dinilai Penting Jaga Identitas Budaya Dayak

Sebastianus Darwis mendorong pelestarian Gawai Dayak Naik Dango di Bengkayang sebagai upaya menjaga identitas budaya Dayak di tengah arus modernisasi. (FOTO ILUSTRASI)
Sebastianus Darwis mendorong pelestarian Gawai Dayak Naik Dango di Bengkayang sebagai upaya menjaga identitas budaya Dayak di tengah arus modernisasi. (FOTO ILUSTRASI)

BENGKAYANG - Perayaan Gawai Dayak Naik Dango kembali menjadi perhatian masyarakat di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Momentum budaya tahunan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai pesta adat pascapanen, tetapi juga dinilai sebagai upaya mempertahankan identitas budaya Dayak di tengah derasnya pengaruh modernisasi.

Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis menegaskan pelestarian budaya daerah harus terus dijaga agar nilai tradisi leluhur tidak hilang seiring perkembangan zaman. Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri Gawai Dayak Naik Dango ke-3 tingkat Kecamatan Monterado, Kamis.

Sebastianus Darwis menyebut Gawai Naik Dango menjadi bagian penting dalam pemajuan kebudayaan daerah. Tradisi tersebut juga dianggap selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Menurut Sebastianus Darwis, keberadaan budaya lokal memiliki peran besar dalam menjaga karakter masyarakat adat sekaligus memperkuat identitas bangsa yang berakar pada tradisi.

Selain menjadi ungkapan syukur atas hasil panen padi, Gawai Dayak Naik Dango juga dinilai mampu mempererat hubungan sosial masyarakat lintas etnis di Bengkayang. Pelaksanaan acara adat itu melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh adat, pemuda hingga pemerintah daerah.

Sebastianus Darwis turut mengapresiasi pihak-pihak yang selama ini aktif menjaga keberlangsungan tradisi Dayak melalui kegiatan budaya rutin di Bengkayang.

Pemerintah Kabupaten Bengkayang juga disebut terus memperluas ruang pelestarian budaya melalui berbagai agenda adat yang masuk Kalender Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2026.

Beberapa agenda budaya yang telah dijadwalkan antara lain Nyabak Nitik Majaka Pade Bahu pada 22 Maret, Maka’ Ka’ Pongkot pada 5 April, Barape’ Sawa’ di Ramin Bantang pada 27 hingga 30 Mei, serta Nyabakng Sungkung pada 24 hingga 25 Juni.

Sebastianus Darwis menilai rangkaian kegiatan budaya tersebut tidak sekadar seremoni tahunan. Agenda adat itu diharapkan menjadi sarana memperkuat kebersamaan masyarakat multietnis sekaligus mengangkat kearifan lokal Bengkayang ke tingkat yang lebih luas.

Melalui pelestarian budaya daerah, Pemerintah Kabupaten Bengkayang berharap tradisi Dayak tetap diwariskan kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan budaya luar.

Sebastianus Darwis juga menyampaikan harapan agar Gawai Dayak Naik Dango tetap menjadi bagian penting kehidupan masyarakat adat dan terus dilaksanakan secara berkelanjutan hingga generasi mendatang.

FAQ

Apa Itu Gawai Dayak Naik Dango?

Gawai Dayak Naik Dango merupakan tradisi adat masyarakat Dayak sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen padi yang melimpah.

Di Mana Gawai Dayak Naik Dango Digelar?

Perayaan tersebut digelar di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, termasuk tingkat kecamatan seperti Monterado.

Mengapa Gawai Dayak Penting Dilestarikan?

Tradisi ini dinilai penting untuk menjaga identitas budaya Dayak, memperkuat nilai adat, dan mempertahankan kearifan lokal di tengah modernisasi.

Apa Saja Agenda Budaya Bengkayang Tahun 2026?

Beberapa agenda budaya yang masuk kalender kebudayaan 2026 antara lain Nyabak Nitik Majaka Pade Bahu, Maka’ Ka’ Pongkot, Barape’ Sawa’, dan Nyabakng Sungkung.

Siapa Yang Mendorong Pelestarian Budaya Dayak Di Bengkayang?

Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis menjadi salah satu tokoh yang aktif mendorong pelestarian budaya Dayak melalui agenda budaya daerah.

Kamis, 30 April 2026

Hadiri Naik Dango Ke-41, Tokoh Adat Dayak Yulius Aho: Adat Adalah Pedoman Hidup

Foto: Yulius Aho, tengah mengenakan baju merah marun dan topi adat Dayak, hadir dalam perayaan Naik Dango ke-41 di Rumah Betang Desa Lingga, Kubu Raya

KUBU RAYA - Tokoh Masyarakat Adat Dayak Kalimantan Barat, Yulius Aho, menghadiri seluruh rangkaian perayaan budaya tahunan Naik Dango ke-41 yang digelar di Rumah Betang Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.

Perayaan berlangsung selama empat hari, 25–28 April 2026, dan secara resmi dibuka oleh Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan. Kegiatan ini turut dihadiri tokoh adat, masyarakat, serta perwakilan dari Kabupaten Kubu Raya, Landak, dan Mempawah.

Seluruh rangkaian kegiatan tahun ini dipusatkan di Rumah Betang Adat Desa Lingga sebagai simbol kehidupan komunal masyarakat Dayak. Berbagai agenda digelar meriah, mulai dari ritual adat, pertunjukan seni budaya, hingga prosesi tradisional yang sarat makna filosofis.

Yulius Aho menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia mengaku mengikuti acara sejak pembukaan hingga penutupan sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya Dayak.

“Saya sebagai bagian dari masyarakat Dayak sekaligus Penasihat Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Barat dan Bendahara Umum Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional, tentu mendukung penuh pelaksanaan Naik Dango di Kabupaten Kubu Raya,” ujarnya.

Ia juga memberikan penghargaan kepada panitia, khususnya Dewan Adat Dayak Kabupaten Kubu Raya yang bekerja sama dengan Dewan Adat Dayak Kabupaten Landak dan perwakilan dari Mempawah dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

Menurut Yulius, Naik Dango merupakan warisan leluhur bernilai seni dan budaya tinggi yang terus diwariskan turun-temurun. Tradisi ini menjadi bentuk ungkapan syukur atas hasil panen selama satu tahun.

“Naik Dango bukan sekadar perayaan, tetapi juga pengingat bahwa masyarakat Dayak hidup dan tumbuh berdasarkan adat istiadat yang kuat. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh masyarakat Dayak, khususnya generasi muda, untuk tidak hanya meramaikan kegiatan adat secara seremonial, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalamnya.

“Di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi, kita tidak boleh meninggalkan adat. Bagi masyarakat Dayak, adat adalah pedoman hidup dalam bermasyarakat,” tegasnya.

Ia pun mengimbau masyarakat Kalimantan untuk terus menjaga dan melestarikan adat serta seni budaya Dayak sebagai identitas di tengah kehidupan yang multietnis dan multiagama.

Perayaan Naik Dango merupakan tradisi tahunan masyarakat Dayak sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atau _Jubata_ atas hasil panen yang melimpah, sekaligus momentum mempererat persatuan dan kebersamaan antar masyarakat adat. (Tim)

Selasa, 28 April 2026

Tradisi Maka Dio Bengkayang Jadi Penggerak Ekonomi dan Pangan Lokal

Perayaan Maka Dio di Bengkayang dimanfaatkan sebagai strategi memperkuat ketahanan pangan berbasis budaya lokal dan meningkatkan ekonomi masyarakat desa.
Perayaan Maka Dio di Bengkayang dimanfaatkan sebagai strategi memperkuat ketahanan pangan berbasis budaya lokal dan meningkatkan ekonomi masyarakat desa.

BENGKAYANG - Pemerintah Kabupaten Bengkayang memanfaatkan momentum perayaan tahun baru padi Maka Dio ke-V sebagai sarana memperkuat ketahanan pangan berbasis kearifan lokal. Kegiatan tersebut digelar di Desa Cipta Karya, Kabupaten Bengkayang, dan menjadi bagian dari strategi daerah dalam menjaga ketersediaan pangan secara berkelanjutan.

Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis menegaskan bahwa pelaksanaan Maka Dio bukan sekadar tradisi budaya, melainkan bagian dari langkah konkret pemerintah daerah dalam memperkuat sektor pertanian berbasis potensi lokal.

Menurut Sebastianus Darwis, pendekatan ketahanan pangan yang diterapkan di Bengkayang tidak hanya menitikberatkan pada peningkatan hasil produksi pertanian. Pelestarian budaya serta pemanfaatan potensi lokal juga dipandang sebagai faktor penting dalam menjaga stabilitas pangan daerah.

Sebastianus Darwis menyampaikan bahwa perayaan Maka Dio menjadi ruang strategis untuk menghidupkan kembali nilai budaya sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat desa.

Pelaksanaan Maka Dio juga diarahkan sebagai wadah kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengembangkan sektor pertanian yang adaptif terhadap tantangan zaman.

Sebastianus Darwis berharap tradisi Maka Dio dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kabupaten Bengkayang untuk mengoptimalkan potensi lokal, khususnya pada sektor pangan dan pertanian.

Selain itu, keberhasilan program ketahanan pangan berbasis budaya dinilai sangat bergantung pada sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, masyarakat, hingga pemangku kepentingan lainnya.

Sebastianus Darwis menekankan bahwa keterlibatan semua unsur masyarakat akan menentukan keberlanjutan program tersebut dan memastikan manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Perayaan Maka Dio ke-V tidak hanya diisi kegiatan seremonial, tetapi juga menghadirkan berbagai kegiatan pendukung yang melibatkan masyarakat.

Sejumlah agenda digelar dalam kegiatan tersebut, di antaranya:

  • Pameran hasil pertanian lokal

  • Pertunjukan seni dan budaya tradisional

  • Kegiatan gotong royong masyarakat

Rangkaian kegiatan tersebut mencerminkan semangat kebersamaan sekaligus memperkenalkan potensi unggulan daerah kepada masyarakat luas.

Selain sebagai ajang promosi hasil pertanian, kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat identitas budaya masyarakat Bengkayang serta meningkatkan perekonomian berbasis sumber daya lokal.

Pemerintah Kabupaten Bengkayang memastikan bahwa program berbasis kearifan lokal seperti Maka Dio akan terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya mewujudkan kemandirian pangan daerah.

Melalui pendekatan yang memadukan budaya, pertanian, dan ekonomi lokal, pemerintah daerah menargetkan terciptanya sistem pangan yang tidak hanya produktif, tetapi juga berkelanjutan dan berdaya saing.

FAQ

Apa itu Maka Dio?
Maka Dio merupakan tradisi tahun baru padi yang menjadi bagian dari budaya masyarakat di Kabupaten Bengkayang.

Di mana pelaksanaan Maka Dio ke-V digelar?
Maka Dio ke-V dilaksanakan di Desa Cipta Karya, Kabupaten Bengkayang.

Apa tujuan utama perayaan Maka Dio?
Perayaan Maka Dio bertujuan memperkuat ketahanan pangan berbasis kearifan lokal sekaligus melestarikan budaya daerah.

Siapa yang memimpin pelaksanaan program ini?
Program tersebut didukung langsung oleh Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis bersama pemerintah daerah.

Apa manfaat kegiatan Maka Dio bagi masyarakat?
Kegiatan ini diharapkan meningkatkan ekonomi masyarakat, memperkuat sektor pertanian, serta menjaga identitas budaya lokal.

Senin, 27 April 2026

Naik Dango Ke-41 Di Kubu Raya Jadi Momen Bersejarah Pemersatu Dayak

Foto: Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan dan Bupati kubu Raya H Sujiwo Memukul Gong Sebanyak Tujuh Kali Dalam Pembuka Naik Dango Ke-41 di Kabupaten Kubu Raya

KUBU RAYA - Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, menyebut perayaan Naik Dango tahun ini menjadi momen bersejarah bagi masyarakat Dayak di Kalbar. Hal itu disampaikan saat membuka Naik Dango ke-41 di Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Senin (27/4/2026).

Menurut Krisantus, penyelenggaraan Naik Dango kali ini memiliki makna istimewa karena mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat Dayak dalam satu ruang kebersamaan.

“Ini adalah perayaan Naik Dango yang sangat bersejarah. Tiga kabupaten bersatu dalam satu kegiatan adat yang sakral. Ini menunjukkan bahwa budaya kita tidak hanya dijaga, tetapi juga dirayakan bersama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Naik Dango merupakan ungkapan syukur masyarakat Dayak atas hasil kerja selama satu tahun, khususnya di bidang pertanian. Tradisi ini juga menjadi titik awal untuk memulai kembali aktivitas berladang dan bersawah menghadapi musim tanam berikutnya.

Dalam kesempatan itu, Krisantus mengajak masyarakat memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam kepercayaan Dayak dikenal sebagai Jubata, agar usaha ke depan diberi keberhasilan dan keberkahan.

“Kita berdoa kepada Jubata agar kerja-kerja kita ke depan dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan panen yang lebih baik lagi,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjadikan Naik Dango sebagai momentum pelestarian budaya di tengah arus globalisasi.

“Di era globalisasi ini, suku atau bangsa yang tidak melestarikan budayanya akan perlahan hilang ditelan zaman. Oleh karena itu, kita harus terus menjaga, mencintai, dan melestarikan adat istiadat kita,” tegasnya.

Momen Kebersamaan Pada Pembukaan Naik Dango ke-41 di Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Senin (27/4/2026)

Sementara itu, Bupati Kubu Raya, H. Sujiwo, menegaskan budaya merupakan jati diri bangsa yang harus dijaga seluruh elemen masyarakat. Ia mengapresiasi pelaksanaan Naik Dango ke-41 di Desa Lingga sebagai wujud nyata pelestarian budaya Dayak.

“Budaya ini sangat penting. Budaya adalah jati diri bangsa. Hari ini budaya masyarakat Dayak bukan hanya menjadi identitas masyarakat Dayak itu sendiri, tetapi juga menjadi bagian dari jati diri bangsa Indonesia,” ujarnya.

Sujiwo mengingatkan, jika masyarakat adat tidak menjaga dan melestarikan budayanya, adat istiadat tersebut dapat hilang ditelan zaman.

“Oleh karena itu, sebagai bentuk jati diri bangsa, kita harus merawat, menjaga, dan melestarikan budaya semua etnis yang ada, baik di Kabupaten Kubu Raya maupun di Nusantara,” tegasnya.

Sebagai bentuk dukungan, Pemkab Kubu Raya mengalokasikan anggaran sekitar Rp1,22 miliar untuk Naik Dango ke-41. Rinciannya, Rp300 juta untuk pelaksanaan kegiatan dan Rp920 juta untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan.

Selain itu, Pemkab juga berencana mengembangkan kawasan Rumah Betang sebagai destinasi budaya unggulan dengan tetap mempertahankan nilai keasliannya.

“Kawasan ini memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi. Akan kita tata dan kembangkan tanpa menghilangkan keasliannya, sehingga bisa menjadi cagar budaya sekaligus destinasi wisata,” jelasnya.

Sujiwo juga menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk kembali menggelar Naik Dango di Kubu Raya pada 2029 mendatang. “Insya Allah tahun 2029 kita siap menggelar Naik Dango di Kubu Raya dengan lebih baik lagi,” pungkasnya.

Ketua Panitia Naik Dango ke-41, Lorensius, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upacara adat masyarakat Dayak Kanayatn yang dilaksanakan di tiga kabupaten di Kalbar.

“Tradisi ini bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga wujud rasa syukur serta kebersamaan dalam menjaga adat, budaya, dan kearifan lokal,” ujarnya.

Ia berterima kasih kepada pemerintah daerah dan para donatur yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Diharapkan nilai-nilai adat Dayak Kanayatn semakin kuat, tetap lestari, dan terus diwariskan kepada generasi mendatang.

Salah satu peserta, Yeheskiel Chandra, anggota kontingen dari Kecamatan Sebangki, mengaku bersyukur dapat berpartisipasi.

“Kami sangat bersyukur bisa hadir di sini. Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun pada 25 sampai 28 April. Kami mengucapkan syukur atas hasil panen yang kami persembahkan kepada Jubata, serta berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung,” ujarnya.

Ia berharap Naik Dango terus dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk pelestarian budaya dan kebersamaan masyarakat Dayak.

Perayaan Naik Dango ke-41 ini diharapkan terus menjadi warisan budaya yang lestari serta memperkuat persatuan masyarakat Dayak di Kalimantan Barat. (Jm)

535 Penari Ramaikan Hari Tari Dunia 2026, Budaya Banjar Kian Menguat

Pemprov Kalsel memperkuat pelestarian tari Banjar melalui Hari Tari Dunia 2026 dengan melibatkan ratusan penari muda sebagai langkah regenerasi budaya daerah. (Foto Ilustrasi)
Pemprov Kalsel memperkuat pelestarian tari Banjar melalui Hari Tari Dunia 2026 dengan melibatkan ratusan penari muda sebagai langkah regenerasi budaya daerah. (Foto Ilustrasi)

BANJARMASIN - Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memanfaatkan peringatan Hari Tari Dunia 2026 sebagai momentum memperkuat regenerasi penari sekaligus menjaga keberlangsungan budaya lokal, khususnya tari khas Banjar.

Langkah tersebut dijalankan melalui berbagai kegiatan seni yang melibatkan masyarakat luas, mulai dari seniman profesional hingga anak-anak penari dari sejumlah daerah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Selatan Abdul Rahim menegaskan pelestarian budaya tidak dapat berjalan tanpa partisipasi aktif masyarakat. Abdul Rahim menilai generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan seni tradisi.

Menurut Abdul Rahim, berbagai kegiatan seni yang digelar di Taman Budaya dan museum menjadi wadah strategis untuk menjaga eksistensi budaya daerah, terutama tari Banjar yang menjadi identitas masyarakat setempat.

Apresiasi juga disampaikan kepada para seniman lokal yang terus aktif menciptakan karya seni. Abdul Rahim berharap jumlah masyarakat yang terlibat dalam kegiatan seni budaya terus meningkat sehingga kesenian tradisional tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang mengikuti zaman.

Momentum peringatan Hari Tari Dunia yang jatuh setiap 29 April dimanfaatkan sebagai penguat semangat berkesenian di daerah. Kepala UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan Suharyanti menyebut kegiatan tahun ini menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

535 Penari Dari Sembilan Daerah Tampil Selama Dua Hari

Dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia 2026, UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan menggelar pertunjukan tari selama dua hari, yakni pada 25 hingga 26 April 2026.

Sebanyak 535 penari dan seniman dari sembilan kabupaten dan kota ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Peserta terdiri dari berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak yang menjadi fokus utama program regenerasi.

Menurut Suharyanti, peningkatan jumlah peserta dibanding tahun sebelumnya menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap seni tari semakin kuat.

Pada malam pertama, sembilan delegasi daerah menampilkan kekhasan budaya masing-masing. Kabupaten Tanah Laut menghadirkan tarian yang memadukan unsur berbagai etnis, sementara Kabupaten Hulu Sungai Utara menampilkan Tari Dor yang berakar dari gerakan dasar seni Mamanda.

Kabupaten Hulu Sungai Selatan turut mempersembahkan tarian bertema Nusantara yang menampilkan keberagaman budaya dalam satu panggung.

Anak-Anak Jadi Fokus Utama Regenerasi Penari

Regenerasi menjadi salah satu prioritas utama dalam penyelenggaraan kegiatan tahun ini. Suharyanti menjelaskan ruang ekspresi diberikan secara luas kepada anak-anak untuk tampil, baik dalam tarian tradisional maupun modern.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan minat generasi muda terhadap seni tari sejak dini.

Suharyanti menegaskan bahwa konsep utama tari adalah gerakan yang selaras dengan irama, sehingga tidak ada pembatasan terhadap jenis tari yang ditampilkan selama tetap memberikan ruang kreativitas bagi penari.

Selain pertunjukan seni, rangkaian kegiatan juga mencakup sarasehan seni tari pada hari pertama yang diikuti pelaku seni dari berbagai daerah. Pada hari kedua, puluhan pertunjukan seni digelar dengan target total 30 penampilan.

Strategi Jangka Panjang Menjaga Warisan Budaya Banjar

Pelibatan sanggar tari menjadi bagian penting dalam strategi menjaga keberlanjutan seni budaya daerah. Melalui aktivitas rutin di sanggar, estafet kepenarian diharapkan dapat terus terjaga.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menargetkan jumlah pelaku seni tari terus bertambah dalam beberapa tahun mendatang.

Upaya tersebut juga diharapkan memperkuat citra Kalimantan Selatan sebagai daerah yang kaya talenta seni tari sekaligus mampu menjaga warisan budaya lokal di tengah arus modernisasi.

FAQ

1. Apa tujuan utama peringatan Hari Tari Dunia 2026 di Kalimantan Selatan?
Tujuan utamanya adalah memperkuat pelestarian budaya Banjar sekaligus mendorong regenerasi penari muda melalui berbagai pertunjukan seni.

2. Berapa jumlah penari yang terlibat dalam kegiatan ini?
Sebanyak 535 penari dan seniman dari sembilan kabupaten/kota ikut serta dalam rangkaian kegiatan Hari Tari Dunia 2026.

3. Mengapa generasi muda menjadi fokus utama dalam kegiatan ini?
Generasi muda dianggap sebagai penerus seni budaya sehingga keterlibatan sejak dini penting untuk menjaga keberlanjutan tradisi tari Banjar.

4. Kegiatan apa saja yang diselenggarakan dalam peringatan ini?
Kegiatan meliputi pertunjukan tari selama dua hari, sarasehan seni tari, serta puluhan penampilan seni dari berbagai daerah.

5. Apa harapan pemerintah terhadap kegiatan seni tari di Kalimantan Selatan?
Pemerintah berharap jumlah penari terus bertambah dan Kalimantan Selatan semakin dikenal sebagai daerah dengan kekayaan seni tari yang kuat.

Tradisi Nutuk Beham Diangkat Jadi Festival Budaya Andalan Kukar

Festival Nutuk Beham di Kukar menjadi upaya pelestarian budaya Kutai, dengan dukungan penuh Aulia Rahman Basri agar adat tetap lestari di tengah modernisasi.
Festival Nutuk Beham di Kukar menjadi upaya pelestarian budaya Kutai, dengan dukungan penuh Aulia Rahman Basri agar adat tetap lestari di tengah modernisasi.

TENGGARONG — Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat peran desa dan kelurahan dalam menjaga kelestarian adat sebagai bagian dari identitas daerah di tengah derasnya arus modernisasi.

Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri menegaskan bahwa pelestarian tradisi lokal harus menjadi tanggung jawab bersama, terutama di tingkat desa yang menjadi pusat tumbuhnya budaya masyarakat.

Menurut Aulia Rahman Basri, adat istiadat bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi penting yang membentuk karakter generasi masa depan. Upaya memperkenalkan budaya kepada anak-anak sekolah dinilai penting agar generasi muda memiliki kebanggaan terhadap tradisi daerah sejak dini.

Salah satu bentuk nyata pelestarian budaya ditunjukkan melalui pelaksanaan Festival Budaya Kutai Adat Lawas Nutuk Beham yang digelar di Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat.

Festival yang berlangsung selama tiga hari tersebut menjadi wadah edukasi budaya bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang mulai akrab dengan perkembangan teknologi dan gaya hidup modern.

Tradisi Nutuk Beham sendiri merupakan ritual tahunan masyarakat Suku Kutai Adat Lawas yang berkaitan dengan panen padi ketan. Kegiatan utama tradisi ini dilakukan secara bersama-sama dengan menumbuk padi ketan muda menggunakan lesung dan alu.

Ritual tersebut menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen yang melimpah, sekaligus penghormatan kepada leluhur yang telah mewariskan tradisi turun-temurun.

Kehadiran pemerintah daerah dalam kegiatan budaya dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan tradisi lokal. Dalam festival tersebut, Aulia Rahman Basri turut ambil bagian dalam prosesi menyangrai ketan sebelum ditumbuk bersama masyarakat.

Partisipasi pemerintah dalam kegiatan adat juga menjadi sinyal kuat bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat, tetapi juga pemerintah daerah.

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara bahkan berencana meningkatkan dukungan pembiayaan melalui kecamatan guna memastikan kegiatan budaya dapat berlangsung secara berkelanjutan pada tahun-tahun mendatang.

Selain sebagai bentuk pelestarian tradisi, festival budaya juga dipandang sebagai peluang pengembangan wisata daerah.

Aulia Rahman Basri mendorong agar kegiatan seperti Nutuk Beham dapat dimasukkan dalam agenda besar daerah, termasuk Festival Erau yang telah dikenal luas sebagai ikon budaya Kutai Kartanegara.

Dengan integrasi ke dalam agenda wisata daerah, tradisi lokal diharapkan mampu menarik minat wisatawan serta memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara juga menekankan pentingnya nilai adat dalam setiap kegiatan besar di daerah.

Setiap kegiatan berskala besar, termasuk konser dan acara publik, diharapkan tetap memiliki unsur budaya lokal sebagai identitas daerah.

Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memastikan modernisasi tidak menghapus karakter budaya yang telah menjadi jati diri masyarakat Kutai Kartanegara.

Minggu, 26 April 2026

Spektakuler! Penutupan Naik Dango ke-3 Pontianak Dipadati Lebih dari 50 Ribu Pengunjung

Foto: Rangkaian kegiatan budaya Naik Dango ke-3 Kota Pontianak resmi ditutup pada Sabtu malam (25/4/2026) pukul 19.00 WIB di Rumah Radakng, Jalan Sutan Syahrir, Pontianak Selatan

PONTIANAK - Malam penutupan perayaan budaya Naik Dango ke-3 Kota Pontianak yang digelar oleh Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Kegiatan yang berlangsung sejak 17 hingga 25 April 2026 ini ditutup secara resmi pada Sabtu malam di Rumah Radakng, dengan dihadiri lebih dari 50 ribu pengunjung.

Penutupan acara dilakukan oleh Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, yang diwakili oleh Asisten I Bidang Kesejahteraan Rakyat, Ismail Abdurahman. Turut hadir sejumlah pejabat daerah dan tokoh penting, di antaranya perwakilan Gubernur Kalimantan Barat, Staf Ahli Ekonomi Pembangunan Yosafat Triadhi Andjioe, Sekjen Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) Yakobus Kumis, Sekretaris Umum DAD Provinsi Kalimantan Barat Thadeus Yus, serta Dandim 1207 - Pontianak Letkol Inf Robbi Firdaus.

Ketua DAD Kota Pontianak, Yonahes Nenes, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya penyelenggaraan Naik Dango tahun ini. Ia menegaskan bahwa rangkaian kegiatan berjalan lancar sejak hari pertama hingga penutupan, meskipun sempat diguyur hujan deras.

“Antusiasme masyarakat luar biasa. Walaupun hujan lebat, pengunjung tetap memadati area Rumah Radakng. Ini menunjukkan kecintaan masyarakat terhadap budaya,” ujarnya.

Yonahes menambahkan, berbagai agenda seperti karnaval budaya, tarian panopo, hingga perlombaan adat berjalan dengan baik. Bahkan, kegiatan ini juga menarik wisatawan mancanegara, termasuk dari Sarawak, Malaysia, dan Belanda.

Tak hanya sebagai ajang pelestarian budaya, Naik Dango juga berdampak positif terhadap sektor ekonomi masyarakat. Puluhan stan UMKM, mulai dari kuliner hingga pameran kerajinan, dipadati pengunjung selama kegiatan berlangsung.

Sementara itu, Ketua Panitia Naik Dango ke-3, Vandrektus Derek, mengungkapkan bahwa keberhasilan acara ini tidak lepas dari dukungan Pemerintah Kota Pontianak serta aparat keamanan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota Pontianak yang telah menetapkan Naik Dango sebagai kalender pariwisata. Dukungan aparat keamanan juga sangat membantu dalam menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung,” katanya.

Ia juga mengapresiasi kedisiplinan masyarakat yang turut menjaga keamanan dan kebersihan selama acara. Koordinasi intensif antara panitia, pemerintah daerah, serta pihak kepolisian dinilai menjadi kunci suksesnya penyelenggaraan event tahunan tersebut.

Selama sepekan pelaksanaan, rangkaian kegiatan Naik Dango meliputi misa syukur, ritual adat, karnaval budaya, pertunjukan seni, hingga penampilan artis Dayak di panggung utama. Partisipasi pelaku UMKM juga meningkat signifikan, bahkan mencapai dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Meski hujan turun hampir setiap hari, hal itu tidak menyurutkan minat masyarakat untuk datang dan menikmati seluruh rangkaian kegiatan,” tambah Vandrektus.

Ke depan, DAD Kota Pontianak memastikan bahwa kegiatan budaya seperti Naik Dango akan terus dilaksanakan sebagai upaya mempererat persatuan lintas etnis, agama, dan budaya di Kota Pontianak.

Perayaan Naik Dango sendiri merupakan tradisi adat Dayak sebagai ungkapan syukur atas hasil panen, yang kini berkembang menjadi agenda budaya dan pariwisata unggulan di Kalimantan Barat. (Tim/Jm)