Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Donald Trump. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Donald Trump. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2026

Delegasi Iran Tinggalkan Perundingan dengan AS di Swiss Usai Ancaman Donald Trump

Delegasi Iran meninggalkan perundingan dengan AS di Swiss setelah ancaman Donald Trump terkait kemungkinan serangan tambahan terhadap Teheran memicu protes dari tim Iran.
Delegasi Iran meninggalkan perundingan dengan AS di Swiss setelah ancaman Donald Trump terkait kemungkinan serangan tambahan terhadap Teheran memicu protes dari tim Iran.

Teheran, Iran - Delegasi Iran meninggalkan lokasi perundingan dengan Amerika Serikat di Burgenstock, Swiss, pada Minggu, setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman terkait kemungkinan serangan lanjutan terhadap Iran. Informasi tersebut dilaporkan kantor berita Tasnim dengan mengutip sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran.

Langkah itu disebut sebagai bentuk protes atas pernyataan Trump yang mengancam akan melancarkan serangan tambahan apabila Teheran gagal membujuk kelompok-kelompok pro-Iran di Lebanon agar menghentikan tindakan yang dianggap "menimbulkan masalah".

Sebelumnya, pembicaraan tingkat teknis antara Iran dan Amerika Serikat berlangsung secara tertutup di resor pegunungan Burgenstock. Pakistan dan Qatar turut terlibat sebagai negara mediator dalam perundingan tersebut.

Sejumlah laporan media sebelumnya menyebut putaran pertama pembicaraan telah selesai digelar pada hari yang sama. Namun, situasi berubah setelah muncul ancaman dari Trump yang memicu keputusan delegasi Iran untuk meninggalkan lokasi pertemuan.

Menurut laporan Tasnim yang mengutip sumber dekat dengan tim Iran, keputusan tersebut diambil sebagai bentuk penolakan terhadap tekanan yang disampaikan oleh Presiden AS.

Hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai kelanjutan pembicaraan antara kedua negara. Keberadaan Pakistan dan Qatar sebagai mediator diharapkan dapat membantu menjaga jalur komunikasi tetap terbuka di tengah meningkatnya ketegangan.

Selasa, 12 Mei 2026

Trump Nilai Peluang Damai dengan Iran Masih Terbuka

Trump menyatakan solusi diplomatik dengan Iran masih mungkin tercapai meski menilai gencatan senjata saat ini sangat lemah dan rawan gagal.
Trump menyatakan solusi diplomatik dengan Iran masih mungkin tercapai meski menilai gencatan senjata saat ini sangat lemah dan rawan gagal.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Senin di White House bahwa penyelesaian diplomatik konflik dengan Iran masih sangat mungkin dicapai, meski situasi gencatan senjata saat ini dinilai semakin rapuh.

Saat ditanya wartawan apakah jalur diplomasi masih memungkinkan atau situasi sudah mengarah pada opsi militer, Trump menjawab singkat bahwa peluang penyelesaian damai tetap terbuka.

“Saya pikir itu sangat mungkin,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Namun, Trump menilai kondisi gencatan senjata dengan Iran berada dalam titik terlemah sejauh ini. Ia bahkan menyebut peluang gencatan senjata bertahan hanya sekitar 1 persen.

“Gencatan senjata itu sangat lemah. Saya menyebutnya yang paling lemah saat ini,” ujarnya.

Trump juga menyinggung surat terbaru yang dikirim Iran kepada Amerika Serikat. Menurut dia, Teheran tidak memberikan komitmen tegas untuk menghentikan pengembangan maupun pembangunan senjata nuklir.

Ia mengatakan Iran sebelumnya sempat menyetujui sejumlah poin terkait uranium yang diperkaya, tetapi kemudian menarik kembali sikap tersebut dalam dokumen resmi.

“Mereka setuju dengan kami, lalu mereka menariknya kembali,” kata Trump.

Trump menambahkan pemerintah AS menginginkan jaminan jangka panjang bahwa Iran tidak akan memiliki senjata nuklir. Namun hingga kini, menurut dia, belum ada kesepakatan final yang dapat dicapai kedua pihak.

Pernyataan terbaru Trump muncul di tengah masih tingginya ketegangan terkait program nuklir Iran dan upaya diplomasi yang terus berlangsung antara Washington dan Teheran.

Trump Disebut Masih Optimistis soal Damai Rusia-Ukraina Meski Izin Minyak Rusia Diperpanjang

AS memperpanjang izin pembelian minyak Rusia meski sebelumnya disebut akan dihentikan. Ukraina menilai langkah itu menjadi sinyal melemahnya dukungan Washington.
AS memperpanjang izin pembelian minyak Rusia meski sebelumnya disebut akan dihentikan. Ukraina menilai langkah itu menjadi sinyal melemahnya dukungan Washington.

Pejabat Ukraina menilai keputusan Amerika Serikat memperpanjang izin pembelian minyak Rusia menjadi sinyal melemahnya dukungan Washington terhadap Kyiv. Laporan itu disampaikan The New York Times pada Senin di Washington, mengutip sejumlah pejabat Ukraina.

Menurut laporan tersebut, delegasi Ukraina sempat mendatangi Washington pada akhir April untuk meminta pemerintah AS tidak memperpanjang waiver atau izin khusus terkait transaksi minyak Rusia.

Dalam pertemuan itu, pejabat Ukraina mengaku mendapat sinyal bahwa pemerintah AS tidak berencana memperpanjang izin tersebut. Namun, kebijakan itu akhirnya tetap diperpanjang.

Perizinan tersebut sebelumnya dikeluarkan Departemen Keuangan AS pada 17 April. Lisensi umum itu mengizinkan penjualan minyak Rusia yang sudah dimuat ke kapal hingga 16 Mei.

Pada 25 April, Menteri Keuangan AS Scott Bessent sempat menyatakan Washington tidak akan memperpanjang waiver untuk minyak dan produk petroleum Rusia maupun Iran.

Saat dimintai tanggapan oleh The New York Times, Gedung Putih menyatakan Presiden AS Donald Trump masih optimistis tercapainya kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina.

“Trump tetap optimistis mengenai kemungkinan tercapainya perjanjian damai antara Rusia dan Ukraina,” tulis laporan tersebut mengutip respons Gedung Putih.

Keputusan memperpanjang izin transaksi minyak Rusia muncul di tengah upaya diplomatik untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung. Di sisi lain, langkah Washington memicu kekhawatiran di Kyiv mengenai arah dukungan AS terhadap Ukraina ke depan.

Trump Sebut AS Akan Hadapi Kepemimpinan Iran Saat Ini Sampai Deal Tercapai

Trump menyatakan AS akan tetap berurusan dengan pemerintah Iran saat ini hingga tercapai kesepakatan damai, di tengah ketegangan Selat Hormuz dan negosiasi yang belum tuntas.
Trump menyatakan AS akan tetap berurusan dengan pemerintah Iran saat ini hingga tercapai kesepakatan damai, di tengah ketegangan Selat Hormuz dan negosiasi yang belum tuntas.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin di Washington menyatakan akan tetap berurusan dengan kepemimpinan Iran saat ini hingga tercapai kesepakatan damai antara kedua negara.

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menegaskan pemerintahannya masih membuka jalur diplomasi dengan Teheran meski sebelumnya muncul spekulasi soal kemungkinan pergantian rezim di Iran.

“Saya akan berurusan dengan mereka sampai mereka membuat kesepakatan,” kata Trump saat ditanya apakah AS masih bisa bekerja sama dengan pemerintahan Iran yang sekarang.

Trump juga mengklaim para negosiator Iran mengatakan kepada dirinya bahwa Amerika Serikat perlu membantu membersihkan “debu nuklir” dari fasilitas Iran yang hancur akibat serangan sebelumnya. Menurut Trump, Iran disebut tidak memiliki teknologi untuk melakukan proses tersebut sendiri.

Ketegangan antara Washington dan Teheran sebelumnya berdampak besar terhadap jalur perdagangan energi global. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz sempat nyaris terhenti, memicu kenaikan harga bahan bakar dunia karena kawasan itu menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia.

Pada 3 Mei lalu, Trump mengumumkan Project Freedom untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz dan ingin keluar dari wilayah tersebut. Namun dua hari kemudian, ia memutuskan menunda operasi itu sementara waktu guna memberi ruang bagi proses perundingan damai dengan Iran.

Konflik meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran pada 28 Februari. Serangan itu menyebabkan kerusakan fasilitas dan korban sipil.

Washington dan Teheran kemudian menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada 7 April. Meski pembicaraan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan keputusan final, Trump memperpanjang penghentian sementara permusuhan untuk memberi kesempatan kepada Iran menyusun proposal baru yang lebih terpadu.

Putin Tegaskan Undangan untuk Trump ke Moskow Masih Berlaku

Putin menegaskan undangan kepada Donald Trump untuk berkunjung ke Moskow masih berlaku. Kremlin juga menyinggung usulan Gerhard Schroeder dalam dialog Rusia-Uni Eropa.
Putin menegaskan undangan kepada Donald Trump untuk berkunjung ke Moskow masih berlaku. Kremlin juga menyinggung usulan Gerhard Schroeder dalam dialog Rusia-Uni Eropa.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Senin di Moskow menegaskan undangan Presiden Rusia Vladimir Putin kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk berkunjung ke Moskow masih tetap berlaku.

Peskov mengatakan Putin akan dengan senang hati menyambut Trump apabila kunjungan tersebut terealisasi. Pernyataan itu disampaikan di tengah perhatian internasional terhadap hubungan Rusia dan Amerika Serikat.

Dalam keterangannya kepada media, Peskov menepis anggapan bahwa undangan tersebut sudah tidak relevan.

“Ya, tentu saja. Saya tidak ragu Presiden Rusia akan senang menyambut mitranya di Moskow,” kata Peskov.

Selain membahas hubungan dengan AS, Kremlin juga menyinggung komunikasi Rusia dengan Uni Eropa terkait usulan penunjukan mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroeder sebagai negosiator utama dalam dialog Rusia-Uni Eropa.

Menurut Peskov, hingga kini Moskow belum menerima tanggapan resmi dari pihak Uni Eropa mengenai usulan tersebut.

Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya menyebut Schroeder sebagai figur yang ia nilai cocok untuk mewakili Uni Eropa dalam pembicaraan dengan Rusia. Namun, Putin juga menegaskan keputusan akhir tetap berada di tangan negara-negara Eropa.

Putin mengatakan Eropa sebaiknya memilih sosok yang dipercaya dan tidak pernah melontarkan pernyataan ofensif terhadap Rusia.

Peskov menyebut komentar Putin soal Schroeder memicu perdebatan besar di Eropa.

“Putin ditanya siapa yang lebih ia sukai, dan ia menjawab Schroeder karena mengenal politisi itu dengan baik, yang kini telah pensiun,” ujar Peskov.

Pernyataan tersebut disampaikan kepada media Rusia dan dilaporkan Sputnik.

Belum ada tanggapan resmi dari pihak Uni Eropa terkait usulan Rusia mengenai Schroeder maupun kemungkinan perkembangan baru hubungan diplomatik Moskow dengan Washington.

Pernyataan Kremlin ini muncul saat hubungan Rusia dengan negara-negara Barat masih berada dalam fase sensitif akibat berbagai isu geopolitik yang terus berkembang.

PBB Respons Ancaman AS ke Kuba, Guterres: Tidak Ada Jalan Militer

Antonio Guterres menanggapi ancaman Amerika Serikat terhadap Kuba dengan menegaskan konflik tidak bisa diselesaikan melalui jalur militer.
Antonio Guterres menanggapi ancaman Amerika Serikat terhadap Kuba dengan menegaskan konflik tidak bisa diselesaikan melalui jalur militer.

Sekretaris Jenderal Antonio Guterres menegaskan tidak ada solusi militer untuk situasi di Cuba di tengah meningkatnya ketegangan dengan United States, Senin, di markas United Nations, New York.

Pernyataan itu disampaikan Guterres setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington akan “menangani” Kuba pada Minggu waktu setempat.

Laporan CNN kemudian menyebut penerbangan pengintaian militer AS di sekitar pesisir Kuba meningkat signifikan sejak Februari.

Menanggapi situasi tersebut, Guterres meminta agar penyelesaian dilakukan melalui jalur damai dan diplomasi.

“Kami percaya tidak ada solusi, tidak ada solusi militer, yang bisa diterapkan untuk Kuba,” kata Guterres kepada wartawan.

Pernyataan Sekjen PBB itu muncul di tengah perhatian internasional terhadap meningkatnya ketegangan antara Washington dan Havana dalam beberapa bulan terakhir.

Hingga kini belum ada tanggapan resmi lebih lanjut dari pemerintah AS maupun Kuba terkait pernyataan terbaru tersebut.

Trump Akan Kunjungi China 13-15 Mei, Fokus pada Hubungan AS-China dan Perdamaian Dunia

Xi Jinping dan Donald Trump akan membahas hubungan bilateral, perdamaian global, dan kerja sama China-AS dalam kunjungan Trump ke Beijing pada 13-15 Mei.
Xi Jinping dan Donald Trump akan membahas hubungan bilateral, perdamaian global, dan kerja sama China-AS dalam kunjungan Trump ke Beijing pada 13-15 Mei.

Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan membahas hubungan bilateral serta isu perdamaian dan pembangunan global dalam kunjungan kenegaraan Trump ke China pada 13-15 Mei. Pernyataan itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun di Beijing, Senin.

Guo mengatakan Xi dan Trump akan melakukan pertukaran pandangan secara mendalam terkait hubungan China-AS dan berbagai isu internasional.

“Presiden Xi Jinping akan melakukan pertukaran pandangan secara mendalam dengan Presiden Donald Trump mengenai isu penting terkait hubungan China-AS, serta perdamaian dan pembangunan dunia,” kata Guo dalam konferensi pers.

Pemerintah China juga menyatakan kesiapan untuk memperluas kerja sama dengan Amerika Serikat sambil menyelesaikan perbedaan yang ada di antara kedua negara.

Menurut Guo, langkah tersebut diharapkan dapat menghadirkan stabilitas dan kepastian yang lebih besar bagi situasi global.

Kunjungan Trump ke China berlangsung di tengah dinamika hubungan kedua negara yang selama beberapa tahun terakhir diwarnai isu perdagangan, geopolitik, dan persaingan pengaruh global.

Kementerian Luar Negeri China sebelumnya mengonfirmasi Trump akan melakukan kunjungan kenegaraan ke China mulai 13 hingga 15 Mei.

Senin, 11 Mei 2026

China Masuk KTT Xi-Trump dengan Keunggulan Strategis Rare Earth

China memasuki KTT Xi-Trump dengan posisi kuat berkat dominasi rare earth global yang menjadi bahan penting industri teknologi, kendaraan listrik, dan pertahanan.
China memasuki KTT Xi-Trump dengan posisi kuat berkat dominasi rare earth global yang menjadi bahan penting industri teknologi, kendaraan listrik, dan pertahanan.

Borneotribun - China memasuki pertemuan puncak antara Presiden Xi Jinping dan Donald Trump pada 2025 dengan posisi tawar yang dinilai lebih kuat, terutama karena dominasi Beijing dalam rantai pasok rare earth global yang menjadi bahan penting industri teknologi, kendaraan listrik, hingga pertahanan.

Keunggulan itu disebut mengubah dinamika negosiasi perdagangan antara China dan Amerika Serikat di tengah ketegangan tarif dan pembatasan ekspor yang masih berlangsung.

Saat ini, China menguasai sekitar 69 persen produksi tambang rare earth dunia. Negara itu juga mendominasi sekitar 90 persen proses pemurnian dan produksi magnet permanen yang dibutuhkan untuk perangkat elektronik, kendaraan listrik, dan sistem militer.

Sejak 2025, pemerintah China telah menerapkan pembatasan ekspor dalam dua gelombang. Kebijakan itu mencakup kontrol terhadap produk yang mengandung material asal China meski hanya sebesar 0,1 persen, sebagai langkah menutup celah penghindaran aturan.

Di sisi lain, Beijing disebut tidak terlalu terpengaruh oleh tarif baru dari Amerika Serikat. China menilai penguasaan rare earth menjadi jaminan strategis yang dapat memberi tekanan nyata terhadap AS jika konflik perdagangan kembali meningkat.

Kesepakatan gencatan dagang yang dicapai pada 2025 memang sempat menangguhkan sebagian pembatasan selama satu tahun. Namun, sejumlah kebijakan penting berpotensi kembali diberlakukan apabila negosiasi antara kedua negara gagal mencapai titik temu.

Laporan South China Morning Post menyebut China memandang dominasi rare earth sebagai alat tekanan ekonomi yang efektif terhadap Amerika Serikat dalam persaingan perdagangan dan teknologi kedua negara.

Hingga kini, Amerika Serikat masih belum memiliki rantai pasok alternatif yang dinilai mampu menyaingi kapasitas China dalam sektor rare earth.

Kondisi itu membuat posisi Beijing dianggap lebih siap menghadapi tekanan dagang menjelang pertemuan Xi dan Trump, terutama di tengah tingginya kebutuhan global terhadap material strategis tersebut.

Serangan Baru AS ke Iran Disebut Upaya Tekan Kesepakatan Sesuai Kepentingan Washington

Serangan terbaru AS ke Iran disebut sebagai upaya menekan Teheran agar menyetujui kesepakatan sesuai kepentingan Washington di tengah memanasnya konflik di Selat Hormuz.
Serangan terbaru AS ke Iran disebut sebagai upaya menekan Teheran agar menyetujui kesepakatan sesuai kepentingan Washington di tengah memanasnya konflik di Selat Hormuz.

AMERIKA SERIKAT - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan pada 7-8 Mei di kawasan Selat Hormuz. Pengamat politik Timur Tengah, Farhad Ibragimov, menilai langkah Washington bertujuan menekan Iran agar segera menyepakati perjanjian yang menguntungkan AS.

Dalam wawancaranya kepada Sputnik, Ibragimov mengatakan pemerintahan AS saat ini fokus mempercepat tercapainya kesepakatan dengan Teheran melalui tekanan militer dan politik.

Menurut dia, rangkaian serangan terbaru yang dilakukan AS terhadap Iran menjadi bagian dari strategi tersebut. Meski begitu, ia meragukan peluang terciptanya perdamaian jangka panjang antara kedua negara.

“Saya tidak percaya itu akan terjadi. Pada kenyataannya, peluang untuk menandatangani perjanjian yang benar-benar berarti masih sangat tidak pasti. Bahkan jika kesepakatan damai tercapai, kemungkinan besar akan dilanggar setelah beberapa waktu,” ujar Ibragimov.

Ia juga menyinggung agenda Presiden AS Donald Trump yang dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada 13-15 Mei. Menurutnya, Trump berharap isu Timur Tengah dapat diselesaikan lebih dulu agar Washington memiliki posisi tawar lebih kuat saat berhadapan dengan Beijing.

Ketegangan terbaru pecah setelah Iran menuding militer AS melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal tanker minyak Iran yang bergerak dari perairan pesisir menuju Selat Hormuz.

Sebagai respons, Angkatan Bersenjata Iran melancarkan serangan terhadap kapal militer AS di wilayah timur Selat Hormuz dan selatan Chabahar. Iran mengklaim serangan tersebut menimbulkan kerusakan signifikan pada armada militer AS.

Situasi ini kembali menambah ketidakpastian di kawasan Timur Tengah, terutama di jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.

Sabtu, 09 Mei 2026

Konflik AS-Iran Memanas, Selat Hormuz Kacau dan Harga Minyak Dunia Bergejolak

Konflik AS dan Iran di Selat Hormuz kembali memanas setelah Project Freedom diluncurkan. Harga minyak dunia ikut bergejolak sepanjang pekan. (Foto ilustrasi)
Konflik AS dan Iran di Selat Hormuz kembali memanas setelah Project Freedom diluncurkan. Harga minyak dunia ikut bergejolak sepanjang pekan. (Foto ilustrasi)

Teheran, Iran - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengguncang kawasan Timur Tengah dalam sepekan terakhir. Situasi yang sempat terlihat mereda berubah drastis setelah Washington meluncurkan operasi baru bernama “Project Freedom” di Selat Hormuz.

Langkah tersebut langsung memicu reaksi keras dari Teheran. Serangkaian ancaman militer, aksi saling serang, hingga perang pernyataan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pejabat Iran membuat pasar energi global ikut terguncang.

Harga minyak dunia bahkan bergerak liar sepanjang pekan akibat kekhawatiran terganggunya jalur distribusi energi internasional di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling vital di dunia.

Awal Mei Dibuka Dengan Gencatan Senjata Rapuh

Memasuki awal Mei 2026, kondisi di kawasan Teluk sebenarnya masih berada dalam fase gencatan senjata. Pemerintahan Donald Trump sempat menyebut permusuhan dengan Iran telah dihentikan sementara.

Di tengah situasi tersebut, Iran dikabarkan mengirim proposal perdamaian baru melalui Pakistan untuk diteruskan kepada Washington. Namun Donald Trump menilai pembicaraan belum menghasilkan titik temu.

“Pembicaraan masih berlangsung, tetapi belum ada kesepakatan,” kata Donald Trump.

Di saat bersamaan, Pentagon mengumumkan rencana penarikan 5.000 tentara Amerika Serikat dari Jerman. Sementara itu, harga bahan bakar di Amerika melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Trump Sebut Penyitaan Kapal Iran Sangat Menguntungkan

Situasi mulai berubah pada 2 Mei 2026. Donald Trump memicu kontroversi setelah memuji operasi penyitaan kapal Iran oleh Angkatan Laut Amerika Serikat.

Dalam pidato kampanye di Florida, Donald Trump secara terbuka menyebut operasi tersebut sebagai bisnis yang menguntungkan karena Amerika Serikat berhasil mengambil alih muatan minyak Iran.

“Kami mengambil alih kapal dan minyaknya. Itu bisnis yang sangat menguntungkan,” ujar Donald Trump.

Meski ketegangan meningkat, harga minyak Brent sempat turun menjadi sekitar Rp1,8 juta per barel dari sebelumnya sekitar Rp2 juta per barel dengan asumsi kurs Rp16.200 per dolar AS.

Project Freedom Jadi Pemicu Eskalasi Baru

Ketika negosiasi dianggap mandek, Donald Trump mengumumkan peluncuran “Project Freedom” pada 3 Mei 2026.

Operasi tersebut diklaim bertujuan membuka akses kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz akibat blokade Iran. Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menegaskan misi utama operasi itu adalah memandu kapal keluar dari kawasan konflik.

Namun Iran menilai langkah Washington sebagai bentuk pelanggaran gencatan senjata.

Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, memperingatkan bahwa keterlibatan militer Amerika Serikat di Selat Hormuz dapat memicu bentrokan yang lebih luas.

Bentrokan Militer Mulai Terjadi

Operasi “Project Freedom” langsung diwarnai insiden bersenjata sehari setelah dimulai.

Militer Amerika Serikat mengklaim berhasil menghancurkan enam kapal kecil Iran serta mencegat drone dan rudal jelajah. Iran membantah laporan tersebut.

Di waktu yang sama, Uni Emirat Arab melaporkan serangan rudal dan drone kembali terjadi setelah situasi sempat tenang selama beberapa minggu.

Donald Trump kemudian melontarkan ancaman keras kepada Iran.

“Pasukan Iran akan dihancurkan jika menyerang kapal Amerika Serikat,” tegas Donald Trump.

Ketegangan tersebut mendorong harga minyak Brent kembali naik menjadi sekitar Rp1,84 juta per barel.

Amerika Serikat Mendadak Hentikan Operasi

Pada 5 Mei 2026, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyatakan jalur Selat Hormuz telah berhasil diamankan.

Pete Hegseth juga menyindir Iran dengan mengatakan Teheran tidak lagi mengendalikan jalur perairan tersebut.

Namun hanya beberapa jam setelah pernyataan itu, Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan penghentian sementara “Project Freedom”.

Donald Trump menyebut penghentian dilakukan demi membuka ruang negosiasi damai setelah muncul perkembangan positif antara Washington dan Teheran.

Keputusan tersebut langsung memicu penurunan harga minyak dunia menjadi sekitar Rp1,76 juta per barel.

Ancaman Pengeboman Kembali Muncul

Harapan damai sempat muncul pada 6 Mei 2026 ketika laporan menyebut Amerika Serikat dan Iran hampir menyepakati nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik.

Meski demikian, Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman keras melalui media sosial Truth Social.

Donald Trump menyatakan operasi militer besar Amerika Serikat akan dihentikan jika Iran menerima kesepakatan. Namun jika negosiasi gagal, Washington mengancam akan melanjutkan pengeboman dengan intensitas lebih besar.

“Jika tidak ada kesepakatan, pengeboman akan dimulai lagi dengan intensitas lebih tinggi,” tulis Donald Trump.

Tidak lama setelah pernyataan tersebut, militer Amerika Serikat dilaporkan menembaki kapal tanker berbendera Iran.

Arab Saudi Disebut Tekan Washington

Faktor baru muncul pada 7 Mei 2026 setelah laporan diplomatik menyebut Arab Saudi tidak menyetujui operasi “Project Freedom”.

Riyadh bahkan disebut mengancam akan menutup pangkalan udara dan wilayah udaranya bagi pesawat militer Amerika Serikat.

Donald Trump dilaporkan sempat mencoba membujuk Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman melalui sambungan telepon, namun upaya tersebut disebut belum membuahkan hasil.

Di tengah situasi diplomatik yang rumit, bentrokan bersenjata antara pasukan Amerika Serikat dan Iran kembali terjadi di Selat Hormuz.

Meski demikian, Donald Trump tetap menilai konflik tersebut belum berkembang menjadi perang besar.

“Gencatan senjata masih berlaku,” kata Donald Trump dalam wawancara dengan ABC News.

Harga minyak Brent akhirnya bertahan di kisaran Rp1,63 juta per barel setelah pasar menunggu arah negosiasi berikutnya.

FAQ

Apa Itu Project Freedom?

Project Freedom adalah operasi Amerika Serikat untuk membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz yang disebut terganggu akibat blokade Iran.

Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting?

Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut dapat memengaruhi harga energi global.

Mengapa Harga Minyak Dunia Naik?

Harga minyak naik karena pasar khawatir konflik AS dan Iran mengganggu distribusi minyak internasional.

Apa Sikap Iran Terhadap Operasi AS?

Iran menilai keterlibatan militer Amerika Serikat di Selat Hormuz sebagai bentuk pelanggaran dan ancaman terhadap kedaulatan kawasan.

Apa Dampak Konflik Ini Bagi Dunia?

Konflik berpotensi memicu kenaikan harga energi, gangguan perdagangan internasional, hingga ketidakstabilan geopolitik global.

Jumat, 08 Mei 2026

Donald Trump Klaim Gencatan Senjata AS Dan Iran Masih Tetap Berlaku

Donald Trump menegaskan gencatan senjata AS dan Iran masih berlaku meski ketegangan militer kembali terjadi di Selat Hormuz.
Donald Trump menegaskan gencatan senjata AS dan Iran masih berlaku meski ketegangan militer kembali terjadi di Selat Hormuz.

Amerika Serikat - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran masih tetap berlaku meski ketegangan terbaru kembali pecah di kawasan Timur Tengah. Pernyataan itu muncul setelah terjadi insiden militer di sekitar Selat Hormuz yang membuat situasi global kembali memanas, Jumat, (8/5/2026).

Trump menyebut kondisi saat ini masih berada dalam jalur pengendalian dan proses negosiasi dengan Iran tetap berjalan. Ia bahkan menganggap bentrokan terbaru belum sampai membatalkan kesepakatan penghentian konflik yang sebelumnya sudah disepakati kedua pihak.

Ketegangan meningkat setelah sejumlah kapal perang Amerika dilaporkan mendapat serangan saat melintas di wilayah strategis Selat Hormuz. Kawasan tersebut dikenal sebagai jalur penting distribusi minyak dunia sehingga setiap konflik yang terjadi langsung memicu perhatian internasional.

Meski begitu, pemerintah Amerika menegaskan tidak ada kerusakan besar maupun korban dari pihak militernya. Sebagai respons, militer Amerika melakukan serangan balasan yang disebut sebagai langkah pertahanan diri terhadap ancaman yang muncul.

Di sisi lain, Iran menilai tindakan Amerika justru menjadi pelanggaran terhadap kesepakatan damai yang sebelumnya telah dibangun. Teheran juga mengklaim pihaknya hanya merespons tekanan militer yang dianggap mengganggu wilayah dan kepentingan nasional mereka.

Situasi ini membuat banyak pihak mulai mempertanyakan masa depan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Walau gencatan senjata masih diklaim berlaku, konflik kecil yang terus terjadi dinilai bisa memicu perang terbuka apabila tidak segera dikendalikan.

Trump sendiri tetap optimistis bahwa kesepakatan damai jangka panjang masih bisa dicapai. Pemerintah Amerika disebut terus membuka jalur diplomasi untuk mencari solusi agar ketegangan di Timur Tengah tidak semakin meluas.

Selain faktor keamanan, konflik ini juga mulai berdampak pada ekonomi global. Harga minyak dunia mengalami kenaikan karena pasar khawatir jalur perdagangan energi di Selat Hormuz terganggu apabila situasi semakin memburuk.

Sejumlah analis internasional menilai kondisi saat ini masih sangat rapuh. Meski kedua negara belum kembali ke perang besar, ketegangan militer yang terus muncul bisa menjadi ancaman serius bagi stabilitas kawasan dan ekonomi dunia.

Donald Trump Klaim Kapal Perang AS Keluar Dari Hormuz Di Bawah Serangan Iran

Donald Trump mengklaim kapal perang AS keluar dari Selat Hormuz di bawah serangan Iran, memicu ketegangan baru di Timur Tengah.
Donald Trump mengklaim kapal perang AS keluar dari Selat Hormuz di bawah serangan Iran, memicu ketegangan baru di Timur Tengah.

Amerika Serikta - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim tiga kapal penghancur milik Angkatan Laut AS berhasil keluar dari Selat Hormuz meski berada di bawah ancaman serangan Iran. Pernyataan tersebut langsung memicu perhatian dunia internasional karena kawasan itu merupakan jalur penting perdagangan minyak global, Jumat (8/5/2026).

Dalam pernyataannya, Trump menyebut kapal perang AS sempat mendapat tekanan berupa serangan rudal, drone, hingga ancaman dari kapal kecil milik Iran. Meski begitu, ia menegaskan tidak ada kerusakan pada armada Amerika dan seluruh kapal berhasil melanjutkan perjalanan dengan aman.

Trump juga mengatakan pihak Amerika memberikan respons keras terhadap pihak yang dianggap melakukan serangan. Ia mengklaim sejumlah target milik Iran mengalami kerusakan besar akibat balasan militer dari AS.

Situasi ini membuat ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi sorotan. Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu jalur laut paling strategis di dunia karena menjadi lintasan utama distribusi minyak internasional. Gangguan di kawasan tersebut dapat berdampak langsung terhadap harga energi global.

Di sisi lain, media pemerintah Iran menyebut armada Amerika sempat terkena serangan dan dipaksa mundur dari wilayah tersebut. Namun hingga kini belum ada kepastian independen terkait klaim dari kedua negara.

Beberapa pejabat militer Amerika juga menyebut sistem pertahanan kapal perang berhasil mencegat seluruh serangan yang datang sehingga tidak ada korban maupun kerusakan pada kapal penghancur AS.

Ketegangan antara Washington dan Teheran dalam beberapa bulan terakhir memang terus meningkat. Perselisihan terkait keamanan jalur pelayaran, sanksi ekonomi, hingga operasi militer di kawasan Teluk membuat hubungan kedua negara semakin panas.

Analis politik internasional menilai situasi di Selat Hormuz berpotensi memperbesar konflik apabila tidak segera ada langkah diplomasi. Pasalnya, jalur laut tersebut menjadi pusat kepentingan banyak negara besar, termasuk negara-negara pengimpor minyak dunia.

Meski Trump menegaskan Amerika siap menghadapi ancaman apa pun, sejumlah pihak internasional mulai mendorong adanya dialog untuk meredam eskalasi agar konflik tidak berkembang menjadi perang terbuka di kawasan Timur Tengah. (Reuters)