![]() |
| Konflik AS dan Iran di Selat Hormuz kembali memanas setelah Project Freedom diluncurkan. Harga minyak dunia ikut bergejolak sepanjang pekan. (Foto ilustrasi) |
Teheran, Iran - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengguncang kawasan Timur Tengah dalam sepekan terakhir. Situasi yang sempat terlihat mereda berubah drastis setelah Washington meluncurkan operasi baru bernama “Project Freedom” di Selat Hormuz.
Langkah tersebut langsung memicu reaksi keras dari Teheran. Serangkaian ancaman militer, aksi saling serang, hingga perang pernyataan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pejabat Iran membuat pasar energi global ikut terguncang.
Harga minyak dunia bahkan bergerak liar sepanjang pekan akibat kekhawatiran terganggunya jalur distribusi energi internasional di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling vital di dunia.
Awal Mei Dibuka Dengan Gencatan Senjata Rapuh
Memasuki awal Mei 2026, kondisi di kawasan Teluk sebenarnya masih berada dalam fase gencatan senjata. Pemerintahan Donald Trump sempat menyebut permusuhan dengan Iran telah dihentikan sementara.
Di tengah situasi tersebut, Iran dikabarkan mengirim proposal perdamaian baru melalui Pakistan untuk diteruskan kepada Washington. Namun Donald Trump menilai pembicaraan belum menghasilkan titik temu.
“Pembicaraan masih berlangsung, tetapi belum ada kesepakatan,” kata Donald Trump.
Di saat bersamaan, Pentagon mengumumkan rencana penarikan 5.000 tentara Amerika Serikat dari Jerman. Sementara itu, harga bahan bakar di Amerika melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Trump Sebut Penyitaan Kapal Iran Sangat Menguntungkan
Situasi mulai berubah pada 2 Mei 2026. Donald Trump memicu kontroversi setelah memuji operasi penyitaan kapal Iran oleh Angkatan Laut Amerika Serikat.
Dalam pidato kampanye di Florida, Donald Trump secara terbuka menyebut operasi tersebut sebagai bisnis yang menguntungkan karena Amerika Serikat berhasil mengambil alih muatan minyak Iran.
“Kami mengambil alih kapal dan minyaknya. Itu bisnis yang sangat menguntungkan,” ujar Donald Trump.
Meski ketegangan meningkat, harga minyak Brent sempat turun menjadi sekitar Rp1,8 juta per barel dari sebelumnya sekitar Rp2 juta per barel dengan asumsi kurs Rp16.200 per dolar AS.
Project Freedom Jadi Pemicu Eskalasi Baru
Ketika negosiasi dianggap mandek, Donald Trump mengumumkan peluncuran “Project Freedom” pada 3 Mei 2026.
Operasi tersebut diklaim bertujuan membuka akses kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz akibat blokade Iran. Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menegaskan misi utama operasi itu adalah memandu kapal keluar dari kawasan konflik.
Namun Iran menilai langkah Washington sebagai bentuk pelanggaran gencatan senjata.
Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, memperingatkan bahwa keterlibatan militer Amerika Serikat di Selat Hormuz dapat memicu bentrokan yang lebih luas.
Bentrokan Militer Mulai Terjadi
Operasi “Project Freedom” langsung diwarnai insiden bersenjata sehari setelah dimulai.
Militer Amerika Serikat mengklaim berhasil menghancurkan enam kapal kecil Iran serta mencegat drone dan rudal jelajah. Iran membantah laporan tersebut.
Di waktu yang sama, Uni Emirat Arab melaporkan serangan rudal dan drone kembali terjadi setelah situasi sempat tenang selama beberapa minggu.
Donald Trump kemudian melontarkan ancaman keras kepada Iran.
“Pasukan Iran akan dihancurkan jika menyerang kapal Amerika Serikat,” tegas Donald Trump.
Ketegangan tersebut mendorong harga minyak Brent kembali naik menjadi sekitar Rp1,84 juta per barel.
Amerika Serikat Mendadak Hentikan Operasi
Pada 5 Mei 2026, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyatakan jalur Selat Hormuz telah berhasil diamankan.
Pete Hegseth juga menyindir Iran dengan mengatakan Teheran tidak lagi mengendalikan jalur perairan tersebut.
Namun hanya beberapa jam setelah pernyataan itu, Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan penghentian sementara “Project Freedom”.
Donald Trump menyebut penghentian dilakukan demi membuka ruang negosiasi damai setelah muncul perkembangan positif antara Washington dan Teheran.
Keputusan tersebut langsung memicu penurunan harga minyak dunia menjadi sekitar Rp1,76 juta per barel.
Ancaman Pengeboman Kembali Muncul
Harapan damai sempat muncul pada 6 Mei 2026 ketika laporan menyebut Amerika Serikat dan Iran hampir menyepakati nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik.
Meski demikian, Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman keras melalui media sosial Truth Social.
Donald Trump menyatakan operasi militer besar Amerika Serikat akan dihentikan jika Iran menerima kesepakatan. Namun jika negosiasi gagal, Washington mengancam akan melanjutkan pengeboman dengan intensitas lebih besar.
“Jika tidak ada kesepakatan, pengeboman akan dimulai lagi dengan intensitas lebih tinggi,” tulis Donald Trump.
Tidak lama setelah pernyataan tersebut, militer Amerika Serikat dilaporkan menembaki kapal tanker berbendera Iran.
Arab Saudi Disebut Tekan Washington
Faktor baru muncul pada 7 Mei 2026 setelah laporan diplomatik menyebut Arab Saudi tidak menyetujui operasi “Project Freedom”.
Riyadh bahkan disebut mengancam akan menutup pangkalan udara dan wilayah udaranya bagi pesawat militer Amerika Serikat.
Donald Trump dilaporkan sempat mencoba membujuk Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman melalui sambungan telepon, namun upaya tersebut disebut belum membuahkan hasil.
Di tengah situasi diplomatik yang rumit, bentrokan bersenjata antara pasukan Amerika Serikat dan Iran kembali terjadi di Selat Hormuz.
Meski demikian, Donald Trump tetap menilai konflik tersebut belum berkembang menjadi perang besar.
“Gencatan senjata masih berlaku,” kata Donald Trump dalam wawancara dengan ABC News.
Harga minyak Brent akhirnya bertahan di kisaran Rp1,63 juta per barel setelah pasar menunggu arah negosiasi berikutnya.
FAQ
Apa Itu Project Freedom?
Project Freedom adalah operasi Amerika Serikat untuk membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz yang disebut terganggu akibat blokade Iran.
Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting?
Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut dapat memengaruhi harga energi global.
Mengapa Harga Minyak Dunia Naik?
Harga minyak naik karena pasar khawatir konflik AS dan Iran mengganggu distribusi minyak internasional.
Apa Sikap Iran Terhadap Operasi AS?
Iran menilai keterlibatan militer Amerika Serikat di Selat Hormuz sebagai bentuk pelanggaran dan ancaman terhadap kedaulatan kawasan.
Apa Dampak Konflik Ini Bagi Dunia?
Konflik berpotensi memicu kenaikan harga energi, gangguan perdagangan internasional, hingga ketidakstabilan geopolitik global.
- Memuat artikel...

