Berita BorneoTribun: Insinerator hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Insinerator. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Insinerator. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Maret 2026

Samarinda Perkuat Penanganan Sampah Dengan 10 TPS Modern Canggih

Samarinda siapkan 10 TPS modern berbasis insinerator ramah lingkungan dengan kapasitas hingga 600 ton sampah per hari, siap beroperasi 2026.
Samarinda siapkan 10 TPS modern berbasis insinerator ramah lingkungan dengan kapasitas hingga 600 ton sampah per hari, siap beroperasi 2026.

SAMARINDA -- Pemerintah Kota Samarinda makin serius menangani persoalan sampah yang selama ini jadi tantangan klasik di banyak daerah. Kali ini, pendekatan yang dipakai bukan cuma konvensional, tapi sudah naik level dengan sentuhan teknologi modern.

Lewat strategi inovatif, Pemkot Samarinda menyiapkan 10 Tempat Pembuangan Sementara (TPS) modern yang dilengkapi insinerator ramah lingkungan. Langkah ini diharapkan bisa jadi solusi konkret untuk mengurangi volume sampah sekaligus menjaga estetika kota.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menjelaskan bahwa teknologi insinerator yang digunakan berbeda dari sistem pembakaran biasa.

“Insinerator ini tidak mengeluarkan asap ke udara. Semua hasil pembakaran dialirkan ke bawah dan difilter menggunakan air. Airnya pun sudah dipastikan memenuhi standar sebelum dilepas,” jelasnya usai meninjau TPS di Kelurahan Baqa, Samarinda Seberang, Jumat.

Teknologi Canggih, Minim Polusi

Salah satu keunggulan utama dari sistem ini adalah tanpa cerobong asap, sehingga risiko pencemaran udara bisa ditekan semaksimal mungkin. Ini jadi jawaban atas kekhawatiran masyarakat soal dampak lingkungan dari teknologi pembakaran sampah.

Menurut Andi Harun, penanganan sampah ke depan tidak hanya fokus pada pengurangan volume, tapi juga harus memperhatikan tampilan kota agar tetap bersih dan nyaman.

Saat ini, 10 unit TPS modern tersebut sudah hampir rampung.

“Secara fungsi sudah siap. Tinggal penyelesaian kecil seperti taman dan administrasi. Insya Allah Mei atau sebelum Juni 2026 sudah bisa beroperasi penuh,” tambahnya.

Kapasitas Besar, Dampak Signifikan

Setiap unit insinerator memiliki kapasitas pengolahan sekitar 20 ton sampah per 8 jam. Jika dioperasikan dalam tiga shift, satu unit bisa mengolah hingga 60 ton sampah per hari.

Artinya, dengan 10 unit yang disiapkan, Samarinda berpotensi mengurangi hingga 600 ton sampah per hari. Angka ini tentu jadi langkah besar dalam mengatasi persoalan sampah perkotaan.

Sejalan Tren Nasional Pengolahan Sampah

Apa yang dilakukan Samarinda ini ternyata sejalan dengan tren nasional dalam pengelolaan sampah berbasis teknologi termal.

Saat ini, program insinerator di Indonesia berjalan lewat dua jalur utama:

1. Proyek Strategis Nasional (PSEL/PLTSa)

Fokus pada pengolahan sampah menjadi energi listrik di kota besar, seperti:

  • Surabaya (TPA Benowo)

  • Solo (PLTSa Putri Cempo)

  • Jakarta (FPSA wilayah Tebet)

  • Tangerang & Bekasi (TPS3R dan TPA Burangkeng)

  • Sulawesi Selatan (insinerator percontohan berizin lengkap)

2. Program Skala Kota/Kabupaten

Beberapa daerah juga bergerak mandiri, seperti:

  • Bandung dengan tambahan 25 unit insinerator

  • Yogyakarta dengan 4 unit pasca penutupan TPA Piyungan

  • Pekalongan dan Pasuruan yang mulai uji coba teknologi lokal

Selain itu, pemerintah melalui badan investasi Danantara menargetkan pembangunan fasilitas Waste to Energy di 33–34 daerah dengan produksi sampah di atas 1.000 ton per hari.

Langkah Nyata Menuju Kota Bersih

Dengan hadirnya TPS modern berbasis insinerator ini, Samarinda menunjukkan komitmen kuat dalam menciptakan kota yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Bukan cuma soal buang sampah, tapi bagaimana mengelolanya secara cerdas dan ramah lingkungan.

FAQ

1. Apa itu insinerator?
Insinerator adalah alat untuk mengolah sampah dengan cara dibakar menggunakan teknologi tertentu hingga volumenya berkurang drastis.

2. Apakah insinerator berbahaya bagi lingkungan?
Tidak, jika menggunakan teknologi modern seperti di Samarinda yang sudah dilengkapi sistem filtrasi dan tidak menghasilkan asap ke udara.

3. Kapan TPS modern di Samarinda mulai beroperasi?
Ditargetkan mulai beroperasi pada Mei atau sebelum Juni 2026.

4. Berapa kapasitas pengolahan sampahnya?
Satu unit bisa mengolah hingga 60 ton per hari, total 10 unit mencapai 600 ton per hari.

5. Apa manfaat utama program ini?
Mengurangi volume sampah, mengatasi krisis TPA, dan menjaga kebersihan serta estetika kota.

Kamis, 05 Februari 2026

Prabowo Percepat Solusi Sampah Nasional, 34 Proyek Waste to Energy Siap Jalan

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.

JAKARTA -- Pemerintah di bawah arahan Presiden RI Prabowo Subianto semakin serius membenahi persoalan sampah yang kian meresahkan masyarakat. Tak ingin masalah ini berlarut-larut, Presiden meminta agar riset dan inovasi diarahkan lebih tajam untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan, terutama soal sampah rumah tangga dan lingkungan.

Hal tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi usai mengikuti rapat koordinasi bersama sejumlah pimpinan kementerian dan lembaga di Gedung Bappenas, Jakarta. Menurutnya, Presiden ingin hasil penelitian tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

“Bapak Presiden menekankan agar penelitian difokuskan pada solusi yang cepat dan tepat untuk persoalan masyarakat, salah satunya penanganan sampah rumah tangga dan sampah lingkungan,” ujar Prasetyo.

Ia menjelaskan, sebenarnya Indonesia sudah memiliki banyak produk riset yang mampu mengatasi persoalan sampah, mulai dari skala kecil seperti rumah tangga, RT, RW, hingga desa. Inovasi-inovasi ini diharapkan bisa segera diterapkan agar masalah sampah tidak terus menumpuk tanpa solusi nyata.

Dalam pendekatan penanganan sampah, pemerintah membaginya ke dalam beberapa tingkatan. Pada skala mikro, fokusnya adalah sampah rumah tangga hingga lingkungan desa. Sementara pada skala makro, tantangan terbesar datang dari sampah perkotaan yang volumenya jauh lebih besar dan kompleks.

Sebagai langkah konkret, pemerintah tengah menyiapkan 34 proyek waste to energy, yakni program pengolahan sampah menjadi energi listrik. Proyek ini dirancang untuk mengatasi penumpukan sampah sekaligus membantu memenuhi kebutuhan listrik nasional.

Presiden Prabowo menilai program waste to energy sangat krusial, mengingat kondisi sampah di kota-kota besar sudah berada pada level yang mengkhawatirkan. Jika dibiarkan, tumpukan sampah berpotensi memicu bencana lingkungan dan masalah kesehatan masyarakat.

Melalui proyek ini, sampah tidak hanya dibersihkan dari kawasan perkotaan, tetapi juga diubah menjadi sumber energi yang bermanfaat. Prasetyo mengungkapkan, proyek tersebut akan diterapkan di 34 kabupaten dengan produksi sampah lebih dari 1.000 ton per hari.

“Jika volumenya sudah sebesar itu, maka teknologi dan peralatan yang digunakan tentu berbeda dengan skala mikro,” jelasnya.

Karena itu, pemerintah membutuhkan teknologi yang adaptif dan cepat diterapkan, seperti pembangunan insinerator yang disesuaikan dengan kapasitas sampah di tiap daerah. Namun, Prasetyo menegaskan bahwa teknologi saja tidak cukup.

Edukasi kepada masyarakat juga menjadi kunci utama keberhasilan program ini. Pemilahan sampah sejak dari rumah dinilai sangat menentukan agar sistem waste to energy bisa berjalan optimal dan berkelanjutan.

“Penyelesaian masalah sampah bukan hanya soal membangun fasilitasnya, tapi juga bagaimana kita mengedukasi masyarakat agar ikut terlibat,” tegas Prasetyo.

Dengan kolaborasi teknologi dan kesadaran publik, pemerintah optimistis persoalan sampah bisa ditangani lebih efektif, sekaligus memberi manfaat nyata berupa energi bagi masyarakat. Langkah ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang yang tidak hanya bersih, tetapi juga bernilai ekonomi dan lingkungan.