![]() |
| Samarinda siapkan 10 TPS modern berbasis insinerator ramah lingkungan dengan kapasitas hingga 600 ton sampah per hari, siap beroperasi 2026. |
SAMARINDA -- Pemerintah Kota Samarinda makin serius menangani persoalan sampah yang selama ini jadi tantangan klasik di banyak daerah. Kali ini, pendekatan yang dipakai bukan cuma konvensional, tapi sudah naik level dengan sentuhan teknologi modern.
Lewat strategi inovatif, Pemkot Samarinda menyiapkan 10 Tempat Pembuangan Sementara (TPS) modern yang dilengkapi insinerator ramah lingkungan. Langkah ini diharapkan bisa jadi solusi konkret untuk mengurangi volume sampah sekaligus menjaga estetika kota.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menjelaskan bahwa teknologi insinerator yang digunakan berbeda dari sistem pembakaran biasa.
“Insinerator ini tidak mengeluarkan asap ke udara. Semua hasil pembakaran dialirkan ke bawah dan difilter menggunakan air. Airnya pun sudah dipastikan memenuhi standar sebelum dilepas,” jelasnya usai meninjau TPS di Kelurahan Baqa, Samarinda Seberang, Jumat.
Teknologi Canggih, Minim Polusi
Salah satu keunggulan utama dari sistem ini adalah tanpa cerobong asap, sehingga risiko pencemaran udara bisa ditekan semaksimal mungkin. Ini jadi jawaban atas kekhawatiran masyarakat soal dampak lingkungan dari teknologi pembakaran sampah.
Menurut Andi Harun, penanganan sampah ke depan tidak hanya fokus pada pengurangan volume, tapi juga harus memperhatikan tampilan kota agar tetap bersih dan nyaman.
Saat ini, 10 unit TPS modern tersebut sudah hampir rampung.
“Secara fungsi sudah siap. Tinggal penyelesaian kecil seperti taman dan administrasi. Insya Allah Mei atau sebelum Juni 2026 sudah bisa beroperasi penuh,” tambahnya.
Kapasitas Besar, Dampak Signifikan
Setiap unit insinerator memiliki kapasitas pengolahan sekitar 20 ton sampah per 8 jam. Jika dioperasikan dalam tiga shift, satu unit bisa mengolah hingga 60 ton sampah per hari.
Artinya, dengan 10 unit yang disiapkan, Samarinda berpotensi mengurangi hingga 600 ton sampah per hari. Angka ini tentu jadi langkah besar dalam mengatasi persoalan sampah perkotaan.
Sejalan Tren Nasional Pengolahan Sampah
Apa yang dilakukan Samarinda ini ternyata sejalan dengan tren nasional dalam pengelolaan sampah berbasis teknologi termal.
Saat ini, program insinerator di Indonesia berjalan lewat dua jalur utama:
1. Proyek Strategis Nasional (PSEL/PLTSa)
Fokus pada pengolahan sampah menjadi energi listrik di kota besar, seperti:
Surabaya (TPA Benowo)
Solo (PLTSa Putri Cempo)
Jakarta (FPSA wilayah Tebet)
Tangerang & Bekasi (TPS3R dan TPA Burangkeng)
Sulawesi Selatan (insinerator percontohan berizin lengkap)
2. Program Skala Kota/Kabupaten
Beberapa daerah juga bergerak mandiri, seperti:
Bandung dengan tambahan 25 unit insinerator
Yogyakarta dengan 4 unit pasca penutupan TPA Piyungan
Pekalongan dan Pasuruan yang mulai uji coba teknologi lokal
Selain itu, pemerintah melalui badan investasi Danantara menargetkan pembangunan fasilitas Waste to Energy di 33–34 daerah dengan produksi sampah di atas 1.000 ton per hari.
Langkah Nyata Menuju Kota Bersih
Dengan hadirnya TPS modern berbasis insinerator ini, Samarinda menunjukkan komitmen kuat dalam menciptakan kota yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Bukan cuma soal buang sampah, tapi bagaimana mengelolanya secara cerdas dan ramah lingkungan.
FAQ
1. Apa itu insinerator?
Insinerator adalah alat untuk mengolah sampah dengan cara dibakar menggunakan teknologi tertentu hingga volumenya berkurang drastis.
2. Apakah insinerator berbahaya bagi lingkungan?
Tidak, jika menggunakan teknologi modern seperti di Samarinda yang sudah dilengkapi sistem filtrasi dan tidak menghasilkan asap ke udara.
3. Kapan TPS modern di Samarinda mulai beroperasi?
Ditargetkan mulai beroperasi pada Mei atau sebelum Juni 2026.
4. Berapa kapasitas pengolahan sampahnya?
Satu unit bisa mengolah hingga 60 ton per hari, total 10 unit mencapai 600 ton per hari.
5. Apa manfaat utama program ini?
Mengurangi volume sampah, mengatasi krisis TPA, dan menjaga kebersihan serta estetika kota.
