Berita BorneoTribun: Tumbuh Kembang hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Tumbuh Kembang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tumbuh Kembang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2026

Anak Kecanduan Gawai? Dokter IDAI Ungkap Cara Efektif Hentikan Dalam 1 Bulan

Dokter anak menyebut kecanduan gawai pada anak bisa dihentikan dalam 2–4 minggu dengan konsistensi orang tua dan pengalihan aktivitas yang tepat.
Dokter anak menyebut kecanduan gawai pada anak bisa dihentikan dalam 2–4 minggu dengan konsistensi orang tua dan pengalihan aktivitas yang tepat.

JAKARTA — Kecanduan gawai pada anak kini menjadi perhatian banyak orang tua. Namun kabar baiknya, kebiasaan tersebut sebenarnya bisa dihentikan dalam waktu relatif singkat, asalkan orang tua konsisten dan mampu mengalihkan perhatian anak ke aktivitas lain yang menarik.

Dokter Anak dan Ahli Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K), MPH menjelaskan bahwa proses menghentikan kecanduan gawai pada anak umumnya membutuhkan waktu sekitar dua minggu hingga satu bulan.

“Sebenarnya untuk menghentikan, berdasarkan pengalaman pasien-pasien, biasanya membutuhkan 1–2 minggu kalau kita hentikan sama sekali, walau itu mungkin akan membuat anak sedikit cranky atau rewel,” ujar Bernie saat ditemui di Jakarta, Selasa.

Reaksi Awal Anak Saat Gadget Dihentikan Itu Wajar

Menurut Bernie, reaksi seperti anak menjadi rewel, mudah marah, atau terlihat gelisah saat gawai dihentikan merupakan hal yang wajar. Kondisi ini terjadi karena otak anak sudah terbiasa dengan stimulasi cepat dari layar.

Aktivitas bermain gawai memicu pelepasan dopamin di otak, yaitu zat kimia yang memberi rasa senang. Hal inilah yang membuat anak ingin terus mengulang aktivitas tersebut.

“Ini yang akhirnya anak akan berusaha lagi untuk mendapatkan hal itu. Lagi dan lagi akhirnya akan terjadi kecanduan atau ketergantungan juga adiksi terhadap kegiatan tersebut,” jelas dokter yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Hubungan Masyarakat dan Kesejahteraan Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Kunci Utama: Alihkan Ke Aktivitas Yang Menarik

Menghentikan penggunaan gawai saja tidak cukup. Orang tua perlu mengganti kebiasaan tersebut dengan kegiatan lain yang lebih menarik bagi anak.

Beberapa aktivitas yang bisa menjadi alternatif antara lain:

  • Bermain permainan tradisional

  • Aktivitas fisik seperti bersepeda atau berlari

  • Menggambar atau mewarnai

  • Bermain bersama teman sebaya

  • Membantu aktivitas ringan di rumah

“Orang tua harus mengalihkan. Orang tua juga harus mengajak melakukan sesuatu yang cukup menarik juga bagi anak, sehingga anak tertarik untuk melakukannya,” ujarnya.

Menurut pengalaman klinis, setelah melewati masa awal tanpa gawai, anak biasanya mulai terbiasa dan tidak lagi mencari perangkat tersebut.

“Alihkan dengan permainan yang lain, atau kegiatan lain yang tentunya cukup menyenangkan bagi anak. Berdasarkan pengalaman, cukup sekitar dua minggu, paling lama satu bulan. Sebenarnya anak tidak akan mencari gawai lagi kalau tidak diberikan,” tambah Bernie.

Orang Tua Harus Jadi Contoh Penggunaan Gawai

Selain membatasi penggunaan gawai pada anak, orang tua juga memiliki peran penting sebagai panutan.

Jika orang tua masih sering bermain ponsel di depan anak, maka anak cenderung akan kembali meminta gawai.

“Sebisa mungkin pada saat itu orang tua jangan bermain gawai juga di depan anak, yang tentunya anak akan tertarik lagi untuk meminta gawainya kembali,” tegas Bernie.

Perilaku orang tua menjadi faktor penting dalam membentuk kebiasaan digital anak sejak dini.

Mengapa Kecanduan Gawai Perlu Segera Diatasi

Penggunaan gawai berlebihan pada anak dapat berdampak pada berbagai aspek perkembangan, seperti:

  • Gangguan konsentrasi

  • Keterlambatan bicara

  • Kurangnya aktivitas fisik

  • Gangguan pola tidur

  • Berkurangnya interaksi sosial

Karena itu, pengawasan dan pembatasan penggunaan gawai sejak dini sangat dianjurkan oleh tenaga kesehatan anak.

Tips Praktis Mengurangi Ketergantungan Gadget Pada Anak

Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan orang tua:

  1. Tetapkan jadwal penggunaan gawai harian

  2. Buat zona bebas gadget di rumah

  3. Perbanyak aktivitas fisik anak

  4. Libatkan anak dalam kegiatan keluarga

  5. Konsisten menerapkan aturan

  6. Batasi penggunaan gadget sebelum tidur

Dengan langkah yang konsisten, anak bisa beradaptasi dengan kebiasaan baru tanpa ketergantungan pada layar.

FAQ

Berapa lama waktu menghentikan kecanduan gawai pada anak?

Berdasarkan pengalaman dokter anak, umumnya membutuhkan waktu sekitar 1–2 minggu, dan paling lama hingga satu bulan, tergantung konsistensi orang tua.

Kenapa anak menjadi rewel saat gadget dihentikan?

Karena otak anak sudah terbiasa dengan stimulasi dopamin dari gawai. Saat dihentikan, anak mengalami proses adaptasi yang membuatnya mudah marah atau gelisah.

Apa cara terbaik mengalihkan anak dari gadget?

Orang tua bisa mengajak anak bermain permainan tradisional, aktivitas fisik, menggambar, atau kegiatan kreatif lainnya yang membuat anak merasa senang.

Apakah orang tua harus ikut membatasi penggunaan gadget?

Ya. Orang tua perlu menjadi contoh karena anak cenderung meniru kebiasaan orang dewasa di sekitarnya.

Apakah anak bisa benar-benar lepas dari kecanduan gadget?

Bisa. Dengan konsistensi dan pengalihan aktivitas yang tepat, anak biasanya tidak lagi mencari gadget setelah melewati masa adaptasi awal.

Jumat, 20 Maret 2026

Anak Sering Main Gadget? Waspadai Dampak Serius Pada Saraf Dan Otak

Dampak gawai berlebihan pada anak bisa ganggu saraf dan tumbuh kembang. IDAI ingatkan pentingnya pengawasan orang tua dan variasi aktivitas anak. (gambar ilustrasi)
Dampak gawai berlebihan pada anak bisa ganggu saraf dan tumbuh kembang. IDAI ingatkan pentingnya pengawasan orang tua dan variasi aktivitas anak. (gambar ilustrasi)

Jakarta — Penggunaan gawai pada anak kini jadi perhatian serius para ahli kesehatan. Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Tuty Herawati, mengingatkan bahwa penggunaan gadget secara berlebihan dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan anak, termasuk sistem saraf.

Menurut Tuty, dampak penggunaan gawai tidak hanya terlihat dari perubahan fisik seperti postur tubuh yang membungkuk. Lebih dari itu, efeknya bisa menjalar ke sistem saraf anak.

“Kalau dilihat sekilas mungkin hanya perubahan postur seperti membungkuk. Tapi, di dalamnya bisa berkaitan dengan sistem saraf, sehingga ini bukan hal yang bisa dianggap ringan,” ujarnya dalam acara buka bersama Menteri Komunikasi dan Digital di Jakarta, Selasa (17/3).

Fase Krusial Tumbuh Kembang Anak

Tuty menjelaskan, paparan gawai yang berlebihan pada usia lima hingga 15 tahun—fase penting dalam tumbuh kembang anak—dapat memengaruhi perkembangan secara keseluruhan.

Risiko gangguan ini sangat dipengaruhi oleh:

  • Intensitas penggunaan gawai

  • Durasi waktu layar

  • Keseimbangan aktivitas anak

Anak yang tetap aktif bergerak, bermain di luar, dan rutin berolahraga cenderung memiliki risiko lebih rendah dibandingkan mereka yang terus-menerus terpaku pada layar.

Potensi Gangguan Hingga Dewasa

Penggunaan gawai tanpa pengawasan dalam jangka panjang berpotensi memicu:

  • Masalah postur tubuh

  • Gangguan otot

  • Penurunan fungsi saraf

Yang lebih mengkhawatirkan, dampak ini bisa bertahan hingga anak tumbuh dewasa.

Peran Orang Tua Jadi Kunci

Tuty juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dalam mengawasi penggunaan gawai. Ia menyebut, penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 atau PP Tunas bisa menjadi langkah penting dalam melindungi anak dari dampak negatif teknologi.

Namun, aturan saja tidak cukup.

“Peran keluarga sangat penting, mulai dari mengatur, mendampingi, hingga mengawasi penggunaan gawai anak,” tegasnya.

Otak Anak Butuh Stimulasi Beragam

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, menjelaskan bahwa otak anak memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap informasi, terutama pada masa golden age.

Namun, jika anak hanya mendapatkan stimulasi yang monoton—misalnya dari game atau konten digital yang berulang perkembangan otak bisa terhambat.

“Pada masa golden age, otak anak sangat terbuka terhadap berbagai rangsangan. Tapi jika yang diterima hanya itu-itu saja, maka kemampuan lain tidak terstimulasi,” jelasnya.

Ia menyebut kondisi ini sebagai brain drop, yaitu penurunan optimalisasi perkembangan kognitif akibat kurangnya variasi stimulasi.

Teknologi Boleh, Tapi Jangan Jadi Satu-Satunya

Rose menegaskan bahwa perkembangan otak tidak ditentukan oleh ukuran, melainkan jumlah koneksi antar-saraf. Koneksi ini terbentuk dari pengalaman yang beragam.

Karena itu, anak perlu:

  • Interaksi sosial

  • Aktivitas fisik

  • Pengalaman baru di luar layar

“Teknologi bisa dimanfaatkan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya sumber stimulasi,” tutupnya.

FAQ (Pertanyaan Umum)

1. Apakah gawai berbahaya untuk anak?
Tidak selalu. Gawai aman jika digunakan secara bijak dan dengan pengawasan orang tua.

2. Berapa batas aman penggunaan gawai?
Idealnya disesuaikan usia, namun anak tetap harus punya waktu aktivitas fisik dan interaksi sosial.

3. Apa dampak utama gawai berlebihan?
Mulai dari gangguan postur, masalah saraf, hingga perkembangan kognitif yang tidak optimal.

4. Apa itu brain drop?
Kondisi ketika perkembangan otak tidak maksimal akibat kurangnya variasi stimulasi.

Rabu, 25 Februari 2026

Orang Tua Wajib Tahu Bahaya Screen Time bagi Tumbuh Kembang Anak

Bahaya Screen Time Berlebihan yang Sering Diabaikan Orang Tua
Dokter IDAI mengingatkan bahaya screen time berlebih pada anak, mulai dari speech delay, gangguan tidur, obesitas hingga risiko virtual autism. Orang tua perlu batasi dan dampingi penggunaan gawai. (Gambar ilustrasi IA)

Bahaya Screen Time Berlebihan yang Sering Diabaikan Orang Tua

JAKARTA -- Dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp.TKPS(K), mengingatkan bahwa paparan layar atau screen time berlebihan pada anak dapat mengganggu tumbuh kembang dan kesehatan. Dalam seminar media yang digelar secara daring di Jakarta pada Selasa, ia menegaskan bahwa dampak screen time tidak hanya terasa dalam waktu singkat, tetapi juga bisa berlanjut hingga bertahun-tahun.

Menurut dr. Farid, dampak jangka pendek screen time berlebih umumnya muncul dalam kurun waktu kurang dari lima tahun paparan. Risiko ini terutama mengintai balita, khususnya anak usia di bawah dua tahun. Anak dapat mengalami keterlambatan motorik, speech delay atau keterlambatan bicara, gangguan perkembangan kognitif, hingga masalah perilaku seperti hiperaktif, impulsif, dan sulit berkonsentrasi.

Ia juga menyoroti fenomena yang kerap disebut sebagai virtual autism, yaitu kondisi gangguan perilaku akibat paparan layar berlebihan yang gejalanya menyerupai autisme. Meski bukan autisme secara klinis, pola perilakunya bisa sangat mirip sehingga perlu diwaspadai sejak dini.

Tak hanya itu, screen time berlebih juga berdampak pada kualitas tidur anak. Paparan cahaya biru buatan dari gawai dapat mengganggu produksi melatonin, hormon yang berperan dalam mengatur siklus tidur. Akibatnya, anak menjadi sulit tidur, jam istirahat berkurang, dan kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun mental.

Dalam jangka panjang, paparan layar tanpa kontrol selama lebih dari lima tahun berisiko menyebabkan gangguan fokus, penurunan prestasi akademik, obesitas, hingga meningkatkan risiko penyakit tidak menular. Kurangnya aktivitas fisik akibat terlalu lama duduk di depan layar juga memperbesar kemungkinan anak mengalami masalah berat badan.

Dr. Farid menekankan bahwa screen time disebut berlebihan bukan semata-mata karena durasi, tetapi juga karena tidak adanya seleksi konten dan minimnya pendampingan orang tua. Ia mengingatkan, orang tua tidak cukup hanya duduk di samping anak. Pendampingan harus aktif, dengan membantu anak memahami apa yang ditonton dan menghubungkannya dengan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan ini penting agar penggunaan gawai tidak menggantikan interaksi sosial, aktivitas fisik, dan stimulasi langsung yang sangat dibutuhkan dalam masa emas tumbuh kembang anak. Orang tua diharapkan lebih bijak dalam mengatur waktu layar serta memastikan konten yang dikonsumsi sesuai usia dan bernilai edukatif.

Dengan pengawasan yang tepat, teknologi tetap bisa dimanfaatkan secara positif. Namun tanpa kontrol, dampaknya bisa memengaruhi masa depan anak. Karena itu, peran keluarga menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara dunia digital dan perkembangan optimal buah hati.

FAQ

Apa itu screen time pada anak?
Screen time adalah durasi waktu yang dihabiskan anak untuk menatap layar seperti ponsel, tablet, televisi, atau komputer.

Berapa batas aman screen time untuk balita?
Anak di bawah dua tahun sebaiknya sangat dibatasi atau dihindarkan dari paparan layar, kecuali untuk komunikasi video dengan pendampingan orang tua.

Apa dampak screen time berlebih pada balita?
Risikonya meliputi keterlambatan bicara, gangguan motorik, masalah perilaku, hingga gangguan tidur.

Apa yang dimaksud virtual autism?
Istilah ini merujuk pada gejala gangguan perilaku akibat paparan layar berlebihan yang menyerupai autisme.

Bagaimana cara mencegah dampak buruk screen time?
Batasi durasi, pilih konten sesuai usia, dampingi secara aktif, dan dorong anak melakukan aktivitas fisik serta interaksi sosial langsung.