![]() |
| Dampak gawai berlebihan pada anak bisa ganggu saraf dan tumbuh kembang. IDAI ingatkan pentingnya pengawasan orang tua dan variasi aktivitas anak. (gambar ilustrasi) |
Jakarta — Penggunaan gawai pada anak kini jadi perhatian serius para ahli kesehatan. Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Tuty Herawati, mengingatkan bahwa penggunaan gadget secara berlebihan dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan anak, termasuk sistem saraf.
Menurut Tuty, dampak penggunaan gawai tidak hanya terlihat dari perubahan fisik seperti postur tubuh yang membungkuk. Lebih dari itu, efeknya bisa menjalar ke sistem saraf anak.
“Kalau dilihat sekilas mungkin hanya perubahan postur seperti membungkuk. Tapi, di dalamnya bisa berkaitan dengan sistem saraf, sehingga ini bukan hal yang bisa dianggap ringan,” ujarnya dalam acara buka bersama Menteri Komunikasi dan Digital di Jakarta, Selasa (17/3).
Fase Krusial Tumbuh Kembang Anak
Tuty menjelaskan, paparan gawai yang berlebihan pada usia lima hingga 15 tahun—fase penting dalam tumbuh kembang anak—dapat memengaruhi perkembangan secara keseluruhan.
Risiko gangguan ini sangat dipengaruhi oleh:
Intensitas penggunaan gawai
Durasi waktu layar
Keseimbangan aktivitas anak
Anak yang tetap aktif bergerak, bermain di luar, dan rutin berolahraga cenderung memiliki risiko lebih rendah dibandingkan mereka yang terus-menerus terpaku pada layar.
Potensi Gangguan Hingga Dewasa
Penggunaan gawai tanpa pengawasan dalam jangka panjang berpotensi memicu:
Masalah postur tubuh
Gangguan otot
Penurunan fungsi saraf
Yang lebih mengkhawatirkan, dampak ini bisa bertahan hingga anak tumbuh dewasa.
Peran Orang Tua Jadi Kunci
Tuty juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dalam mengawasi penggunaan gawai. Ia menyebut, penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 atau PP Tunas bisa menjadi langkah penting dalam melindungi anak dari dampak negatif teknologi.
Namun, aturan saja tidak cukup.
“Peran keluarga sangat penting, mulai dari mengatur, mendampingi, hingga mengawasi penggunaan gawai anak,” tegasnya.
Otak Anak Butuh Stimulasi Beragam
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, menjelaskan bahwa otak anak memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap informasi, terutama pada masa golden age.
Namun, jika anak hanya mendapatkan stimulasi yang monoton—misalnya dari game atau konten digital yang berulang perkembangan otak bisa terhambat.
“Pada masa golden age, otak anak sangat terbuka terhadap berbagai rangsangan. Tapi jika yang diterima hanya itu-itu saja, maka kemampuan lain tidak terstimulasi,” jelasnya.
Ia menyebut kondisi ini sebagai brain drop, yaitu penurunan optimalisasi perkembangan kognitif akibat kurangnya variasi stimulasi.
Teknologi Boleh, Tapi Jangan Jadi Satu-Satunya
Rose menegaskan bahwa perkembangan otak tidak ditentukan oleh ukuran, melainkan jumlah koneksi antar-saraf. Koneksi ini terbentuk dari pengalaman yang beragam.
Karena itu, anak perlu:
Interaksi sosial
Aktivitas fisik
Pengalaman baru di luar layar
“Teknologi bisa dimanfaatkan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya sumber stimulasi,” tutupnya.
FAQ (Pertanyaan Umum)
1. Apakah gawai berbahaya untuk anak?
Tidak selalu. Gawai aman jika digunakan secara bijak dan dengan pengawasan orang tua.
2. Berapa batas aman penggunaan gawai?
Idealnya disesuaikan usia, namun anak tetap harus punya waktu aktivitas fisik dan interaksi sosial.
3. Apa dampak utama gawai berlebihan?
Mulai dari gangguan postur, masalah saraf, hingga perkembangan kognitif yang tidak optimal.
4. Apa itu brain drop?
Kondisi ketika perkembangan otak tidak maksimal akibat kurangnya variasi stimulasi.
