Berita BorneoTribun hari ini

CSS

Kode Recentpost Grid

BANNER - Geser keatas untuk melanjutkan

Senin, 27 April 2026

Sorotan Publik Beralih ke Marsha Aruan Saat El Rumi Resmi Menikah dengan Syifa Hadju

Marsha Aruan jadi sorotan saat El Rumi menikah dengan Syifa Hadju. Liburan Marsha Aruan di Maldives memicu spekulasi warganet. (Gambar Ilustrasi Edit AI)
Marsha Aruan jadi sorotan saat El Rumi menikah dengan Syifa Hadju. Liburan Marsha Aruan di Maldives memicu spekulasi warganet. (Gambar Ilustrasi Edit AI)

JAKARTA - Kabar pernikahan El Rumi dengan Syifa Hadju menjadi salah satu momen yang paling banyak diperbincangkan publik pada akhir pekan. Prosesi sakral tersebut digelar di Hotel Raffles Jakarta pada Minggu, 26 April 2026, dalam suasana yang penuh kebahagiaan dan perhatian publik.

Di tengah kabar bahagia tersebut, nama Marsha Aruan justru ikut menjadi bahan perbincangan. Perhatian warganet mengarah kepada aktivitas Marsha Aruan yang diketahui sedang menikmati waktu liburan di Maldives pada waktu yang berdekatan dengan hari pernikahan mantan kekasih tersebut.

Melalui akun Instagram pribadi @aruanmarsha, Marsha Aruan membagikan sejumlah potret saat menikmati liburan di Maldives. Beberapa unggahan memperlihatkan Marsha Aruan duduk santai di tepi pantai, menikmati suasana laut, hingga melakukan aktivitas snorkeling.

Unggahan tersebut langsung menarik perhatian warganet. Banyak komentar yang mengaitkan momen liburan tersebut dengan pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju.

Sejumlah komentar warganet memunculkan spekulasi bahwa perjalanan liburan tersebut berkaitan dengan kondisi emosional pasca hubungan lama yang pernah terjalin dengan El Rumi. Namun, tidak sedikit pula warganet yang memberikan dukungan dan melihat liburan tersebut sebagai bagian dari upaya menikmati hidup secara positif.

Dalam beberapa foto yang dibagikan, terlihat seorang pria berada di dekat Marsha Aruan. Sosok tersebut belum dijelaskan identitasnya oleh Marsha Aruan, namun kehadiran pria tersebut memicu rasa penasaran di kalangan pengikut media sosial.

Spekulasi mengenai hubungan Marsha Aruan dengan pria tersebut terus berkembang di ruang komentar. Sebagian warganet menilai kehadiran sosok pria tersebut dapat menjadi tanda bahwa Marsha Aruan telah membuka lembaran baru dalam kehidupan pribadi.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Marsha Aruan terkait identitas pria tersebut maupun tujuan utama perjalanan liburan tersebut.

Sebagai informasi, Marsha Aruan dan El Rumi pernah menjalin hubungan dalam waktu yang cukup panjang. Hubungan tersebut dimulai sekitar tahun 2014 dan berlangsung selama kurang lebih lima hingga enam tahun.

Selama menjalin hubungan, pasangan tersebut dikenal sering membagikan momen kebersamaan di media sosial. Hubungan tersebut berakhir pada akhir tahun 2019.

Meski hubungan asmara telah berakhir, hubungan baik antara Marsha Aruan dan keluarga El Rumi diketahui tetap terjaga hingga saat ini. Sementara itu, El Rumi kini memasuki babak baru kehidupan setelah resmi menikah dengan Syifa Hadju.

FAQ

1. Kapan El Rumi menikah dengan Syifa Hadju?
El Rumi menikah dengan Syifa Hadju pada Minggu, 26 April 2026 di Hotel Raffles Jakarta.

2. Di mana Marsha Aruan berada saat pernikahan El Rumi berlangsung?
Marsha Aruan diketahui sedang menikmati liburan di Maldives berdasarkan unggahan di media sosial.

3. Apakah Marsha Aruan menghadiri pernikahan El Rumi?
Tidak ada informasi resmi yang menyebutkan kehadiran Marsha Aruan dalam acara tersebut.

4. Siapa pria yang terlihat bersama Marsha Aruan di Maldives?
Identitas pria tersebut belum dijelaskan secara resmi oleh Marsha Aruan.

5. Berapa lama hubungan Marsha Aruan dan El Rumi berlangsung?
Hubungan Marsha Aruan dan El Rumi berlangsung sekitar lima hingga enam tahun sejak 2014 hingga berakhir pada 2019.

Film Terakhir Thalapathy Vijay Jana Nayagan Tayang Global 8 Mei 2026

Film Jana Nayagan yang dibintangi Thalapathy Vijay akhirnya mendapat tanggal rilis global pada 8 Mei 2026 setelah melewati proses sensor yang panjang.
Film Jana Nayagan yang dibintangi Thalapathy Vijay akhirnya mendapat tanggal rilis global pada 8 Mei 2026 setelah melewati proses sensor yang panjang.

JAKARTA - Setelah melalui proses panjang terkait perizinan sensor, film Jana Nayagan yang dibintangi aktor India Thalapathy Vijay akhirnya mendapatkan kepastian jadwal tayang global. Film bergenre aksi politik tersebut dijadwalkan hadir di bioskop pada 8 Mei 2026 di berbagai negara.

Kepastian tanggal rilis ini menjadi kabar penting bagi industri perfilman Tamil, mengingat proyek tersebut sempat mengalami sejumlah kendala administratif yang menyebabkan jadwal penayangan sebelumnya tertunda.

Film Jana Nayagan sebelumnya direncanakan tayang pada momen Pongal 2026, salah satu periode emas perfilman India. Namun, rencana tersebut batal setelah film harus menjalani proses panjang dengan otoritas sensor film.

Setelah tahapan tersebut rampung, produser dari KVN Productions akhirnya mengunci tanggal baru untuk penayangan global pada Mei 2026. Pengumuman resmi dari pihak produksi diperkirakan akan dirilis dalam waktu dekat untuk memperkuat kepastian jadwal tersebut.

Di tengah proses menuju rilis, film tersebut juga menghadapi tantangan lain setelah versi film dilaporkan sempat bocor di internet beberapa waktu lalu. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pendapatan awal film, meski popularitas Thalapathy Vijay diperkirakan tetap menjadi faktor kuat yang menarik minat penonton.

Jana Nayagan menjadi proyek yang mendapat perhatian luas karena disebut sebagai film terakhir Thalapathy Vijay sebelum fokus pada kegiatan lain di luar dunia film.

Faktor tersebut diyakini akan mendorong antusiasme tinggi dari penggemar, terutama pada hari-hari awal penayangan. Apabila film memperoleh respons positif dari penonton, peluang mencetak rekor pendapatan di wilayah Tamil Nadu terbuka cukup besar.

Selain faktor popularitas aktor utama, momentum perilisan juga berdekatan dengan hasil pemilihan umum di wilayah tersebut. Situasi politik yang melibatkan Thalapathy Vijay dan partai yang berkaitan dapat turut memengaruhi persepsi publik terhadap film tersebut.

Deretan Pemeran dan Alur Cerita

Film Jana Nayagan disutradarai oleh H. Vinoth, yang dikenal dengan karya bergenre aksi dan drama. Dalam film ini, Thalapathy Vijay dikabarkan memerankan karakter mantan polisi yang terlibat dalam konflik politik dan sosial.

Peran antagonis utama dipercayakan kepada aktor Bobby Deol, sementara aktris Pooja Hegde memerankan tokoh perempuan utama.

Selain tiga nama tersebut, film ini juga melibatkan sejumlah aktor ternama lain, di antaranya:

  • Mamitha Baiju

  • Gautham Vasudev Menon

  • Prakash Raj

  • Priyamani

  • Narain

Kehadiran sejumlah aktor berpengalaman tersebut memperkuat ekspektasi publik terhadap kualitas cerita dan produksi film.

Rekor Pemesanan Awal yang Sempat Tercapai

Sebelum penundaan jadwal sebelumnya, film Jana Nayagan dilaporkan mencatat angka pemesanan tiket awal yang mencapai lebih dari Rs 100 crore secara global.

Jika dikonversikan dengan kurs perkiraan 1 Rupee ≈ Rp190, maka nilai tersebut setara sekitar Rp19 miliar. Angka ini menunjukkan tingkat minat tinggi dari penonton bahkan sebelum film resmi dirilis.

Dengan latar belakang produksi besar, bintang papan atas, serta momentum film terakhir, Jana Nayagan diproyeksikan menjadi salah satu film yang paling dinantikan pada 2026.

FAQ

Kapan film Jana Nayagan tayang di bioskop?
Film Jana Nayagan dijadwalkan tayang secara global pada 8 Mei 2026.

Siapa sutradara film Jana Nayagan?
Film Jana Nayagan disutradarai oleh H. Vinoth.

Apakah Jana Nayagan merupakan film terakhir Thalapathy Vijay?
Jana Nayagan disebut sebagai proyek film terakhir Thalapathy Vijay sebelum fokus pada kegiatan lain.

Siapa pemeran utama selain Thalapathy Vijay?
Pemeran utama lainnya meliputi Bobby Deol sebagai antagonis dan Pooja Hegde sebagai pemeran perempuan utama.

Mengapa jadwal rilis Jana Nayagan sempat tertunda?
Penundaan terjadi karena proses panjang terkait persetujuan dari lembaga sensor film.

Sebastianus Darwis Tekankan Digitalisasi Dan Kolaborasi Di HUT Ke-27 Bengkayang

HUT ke-27 Bengkayang dimanfaatkan Bupati Sebastianus Darwis untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor guna mendorong pembangunan daerah mandiri dan berdaya saing.
HUT ke-27 Bengkayang dimanfaatkan Bupati Sebastianus Darwis untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor guna mendorong pembangunan daerah mandiri dan berdaya saing.

BENGKAYANG - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Pemerintah Kabupaten Bengkayang dimanfaatkan sebagai ruang refleksi terhadap perjalanan pembangunan sekaligus penegasan arah kebijakan masa depan daerah.

Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis menekankan pentingnya memperkuat kerja sama lintas sektor guna memastikan pembangunan berjalan konsisten menuju daerah yang mandiri dan berdaya saing.

Momentum peringatan HUT ke-27 Pemkab Bengkayang tahun 2026 berlangsung dengan kehadiran unsur pemerintah provinsi, kepala daerah se-Kalimantan Barat, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta berbagai unsur masyarakat.

Menurut Sebastianus Darwis, hari jadi daerah bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi waktu penting untuk meninjau capaian pembangunan serta memperkuat komitmen seluruh pihak dalam memajukan daerah.

Sebastianus Darwis menyampaikan bahwa perjalanan pembangunan Bengkayang merupakan kelanjutan dari perjuangan para pendiri daerah yang telah membangun fondasi pemerintahan hingga Bengkayang mampu berkembang seperti saat ini.

Tema peringatan HUT tahun ini, yaitu “Bengkayang Optimis dan Mandiri”, mencerminkan keyakinan pemerintah daerah terhadap masa depan pembangunan yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Sebastianus Darwis menjelaskan bahwa optimisme tersebut didukung oleh peningkatan kualitas sumber daya manusia serta penguatan berbagai sektor strategis.

Kabupaten Bengkayang yang terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1999 memiliki posisi penting sebagai daerah otonom dengan potensi sumber daya yang luas dan beragam.

Dalam periode pembangunan 2025–2029, pemerintah daerah mengusung visi “Sumber Daya Manusia Mantap Bengkayang Gemilang” sebagai fondasi dalam meningkatkan daya saing daerah.

Pemerintah Kabupaten Bengkayang menempatkan sejumlah sektor unggulan sebagai motor penggerak ekonomi daerah.

Sebastianus Darwis menyebut sektor pertanian, perikanan, dan perdagangan sebagai bidang prioritas yang terus diperkuat melalui berbagai program strategis.

Pengembangan sektor tersebut didukung oleh peningkatan mutu pendidikan, penguatan ekonomi lokal, serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas masyarakat.

Selain itu, pemerintah daerah juga terus mendorong pemanfaatan inovasi sebagai langkah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi serta membuka peluang usaha baru di tingkat lokal.

Transformasi digital menjadi bagian penting dalam peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan di Kabupaten Bengkayang.

Sebastianus Darwis menilai digitalisasi mampu meningkatkan efisiensi pelayanan publik sekaligus memperkuat transparansi dan akuntabilitas birokrasi.

Langkah digitalisasi diharapkan mampu mempercepat proses administrasi dan meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan pemerintah.

Upaya tersebut juga dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing daerah di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Pembangunan daerah tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dari berbagai lapisan.

Sebastianus Darwis mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus berpartisipasi dalam pembangunan melalui kerja sama dan inovasi di berbagai bidang.

Dukungan dari tokoh masyarakat, pelaku usaha, aparatur sipil negara, serta insan pers dinilai memiliki peran besar dalam menjaga keberlanjutan pembangunan daerah.

Sebastianus Darwis juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan kontribusi nyata dalam kemajuan Kabupaten Bengkayang.

Peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bengkayang diharapkan tidak hanya menjadi simbol perayaan, tetapi juga menjadi pemicu semangat baru bagi masyarakat untuk terus berkarya.

Sebastianus Darwis berharap momentum tersebut mampu menumbuhkan inspirasi bagi generasi muda serta mendorong peningkatan prestasi di berbagai bidang.

Dengan semangat kolaborasi yang terus diperkuat, Pemerintah Kabupaten Bengkayang optimistis mampu menghadirkan pembangunan yang lebih merata dan berkelanjutan di masa mendatang.

FAQ

1. Apa tema HUT ke-27 Kabupaten Bengkayang tahun 2026?
Tema yang diusung adalah “Bengkayang Optimis dan Mandiri.”

2. Apa fokus utama pembangunan Bengkayang saat ini?
Fokus pembangunan meliputi sektor pertanian, perikanan, perdagangan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

3. Mengapa digitalisasi penting bagi pemerintah daerah?
Digitalisasi membantu meningkatkan efisiensi layanan publik, transparansi birokrasi, dan daya saing daerah.

4. Apa visi pembangunan Bengkayang periode 2025–2029?
Visi pembangunan adalah “Sumber Daya Manusia Mantap Bengkayang Gemilang.”

5. Siapa yang menghadiri peringatan HUT ke-27 Bengkayang?
Acara dihadiri unsur pemerintah provinsi, kepala daerah se-Kalimantan Barat, Forkopimda, dan berbagai elemen masyarakat.

Oleh: Fran Asok

Naik Dango Ke-41 Di Kubu Raya Jadi Momen Bersejarah Pemersatu Dayak

Foto: Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan dan Bupati kubu Raya H Sujiwo Memukul Gong Sebanyak Tujuh Kali Dalam Pembuka Naik Dango Ke-41 di Kabupaten Kubu Raya

KUBU RAYA - Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, menyebut perayaan Naik Dango tahun ini menjadi momen bersejarah bagi masyarakat Dayak di Kalbar. Hal itu disampaikan saat membuka Naik Dango ke-41 di Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Senin (27/4/2026).

Menurut Krisantus, penyelenggaraan Naik Dango kali ini memiliki makna istimewa karena mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat Dayak dalam satu ruang kebersamaan.

“Ini adalah perayaan Naik Dango yang sangat bersejarah. Tiga kabupaten bersatu dalam satu kegiatan adat yang sakral. Ini menunjukkan bahwa budaya kita tidak hanya dijaga, tetapi juga dirayakan bersama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Naik Dango merupakan ungkapan syukur masyarakat Dayak atas hasil kerja selama satu tahun, khususnya di bidang pertanian. Tradisi ini juga menjadi titik awal untuk memulai kembali aktivitas berladang dan bersawah menghadapi musim tanam berikutnya.

Dalam kesempatan itu, Krisantus mengajak masyarakat memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam kepercayaan Dayak dikenal sebagai Jubata, agar usaha ke depan diberi keberhasilan dan keberkahan.

“Kita berdoa kepada Jubata agar kerja-kerja kita ke depan dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan panen yang lebih baik lagi,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjadikan Naik Dango sebagai momentum pelestarian budaya di tengah arus globalisasi.

“Di era globalisasi ini, suku atau bangsa yang tidak melestarikan budayanya akan perlahan hilang ditelan zaman. Oleh karena itu, kita harus terus menjaga, mencintai, dan melestarikan adat istiadat kita,” tegasnya.

Momen Kebersamaan Pada Pembukaan Naik Dango ke-41 di Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Senin (27/4/2026)

Sementara itu, Bupati Kubu Raya, H. Sujiwo, menegaskan budaya merupakan jati diri bangsa yang harus dijaga seluruh elemen masyarakat. Ia mengapresiasi pelaksanaan Naik Dango ke-41 di Desa Lingga sebagai wujud nyata pelestarian budaya Dayak.

“Budaya ini sangat penting. Budaya adalah jati diri bangsa. Hari ini budaya masyarakat Dayak bukan hanya menjadi identitas masyarakat Dayak itu sendiri, tetapi juga menjadi bagian dari jati diri bangsa Indonesia,” ujarnya.

Sujiwo mengingatkan, jika masyarakat adat tidak menjaga dan melestarikan budayanya, adat istiadat tersebut dapat hilang ditelan zaman.

“Oleh karena itu, sebagai bentuk jati diri bangsa, kita harus merawat, menjaga, dan melestarikan budaya semua etnis yang ada, baik di Kabupaten Kubu Raya maupun di Nusantara,” tegasnya.

Sebagai bentuk dukungan, Pemkab Kubu Raya mengalokasikan anggaran sekitar Rp1,22 miliar untuk Naik Dango ke-41. Rinciannya, Rp300 juta untuk pelaksanaan kegiatan dan Rp920 juta untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan.

Selain itu, Pemkab juga berencana mengembangkan kawasan Rumah Betang sebagai destinasi budaya unggulan dengan tetap mempertahankan nilai keasliannya.

“Kawasan ini memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi. Akan kita tata dan kembangkan tanpa menghilangkan keasliannya, sehingga bisa menjadi cagar budaya sekaligus destinasi wisata,” jelasnya.

Sujiwo juga menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk kembali menggelar Naik Dango di Kubu Raya pada 2029 mendatang. “Insya Allah tahun 2029 kita siap menggelar Naik Dango di Kubu Raya dengan lebih baik lagi,” pungkasnya.

Ketua Panitia Naik Dango ke-41, Lorensius, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upacara adat masyarakat Dayak Kanayatn yang dilaksanakan di tiga kabupaten di Kalbar.

“Tradisi ini bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga wujud rasa syukur serta kebersamaan dalam menjaga adat, budaya, dan kearifan lokal,” ujarnya.

Ia berterima kasih kepada pemerintah daerah dan para donatur yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Diharapkan nilai-nilai adat Dayak Kanayatn semakin kuat, tetap lestari, dan terus diwariskan kepada generasi mendatang.

Salah satu peserta, Yeheskiel Chandra, anggota kontingen dari Kecamatan Sebangki, mengaku bersyukur dapat berpartisipasi.

“Kami sangat bersyukur bisa hadir di sini. Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun pada 25 sampai 28 April. Kami mengucapkan syukur atas hasil panen yang kami persembahkan kepada Jubata, serta berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung,” ujarnya.

Ia berharap Naik Dango terus dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk pelestarian budaya dan kebersamaan masyarakat Dayak.

Perayaan Naik Dango ke-41 ini diharapkan terus menjadi warisan budaya yang lestari serta memperkuat persatuan masyarakat Dayak di Kalimantan Barat. (Jm)

Akhirnya Gubernur Kaltim Memecat Adiknya, Hijrah Mas'ud

Akhirnya Gubernur Kaltim Memecat Adiknya, Hijrah Mas'ud
Akhirnya Gubernur Kaltim Memecat Adiknya, Hijrah Mas'ud.
Kita update hasil demo rakyat Kaltim. Usai memaksa tujuh fraksi meneken Hak Angket, sorotan ditujukan pada adik kandung Gubernur Kaltim, Hijrah Mas’ud. Derasnya sorotan publik membuat Rudy Mas’ud memecat sang adik. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Gubernur Kaltim, Rudy Mas'ud, resmi mencopot adiknya sendiri, Hijrah Mas'ud. Iya, adik kandung. Bukan adik kelas, bukan adik ideologi, tapi adik sedarah yang tadinya duduk manis di kursi Wakil Ketua Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP). Tim yang kalau ditimbang bisa kalah sama karung beras Bulog.

Tekanan rakyat Kaltim itu sekarang bukan lagi tekanan. Ini sudah kayak kompor gas bocor disulut korek, “whoosh!” meledak di mana-mana. Setelah sebelumnya tujuh fraksi DPRD dipaksa tanda tangan pakta integritas buat gulirin hak angket, kali ini targetnya langsung ke ring satu keluarga. Boom…27 April 2026, Hijrah resmi dicopot. Satu langkah kecil buat gubernur, tapi buat rakyat? Ini seperti nemu parkiran kosong di mall pas Lebaran, langka dan bikin haru.

Padahal belum lama ini si abang masih tampil bak pendekar konstitusi. Ia membela penunjukan adiknya sebagai “hak prerogatif suci nan sakral”. Bahkan dengan penuh percaya diri, beliau membandingkan kasus ini dengan Hashim Djojohadikusumo, adiknya Prabowo Subianto. Katanya, “sama dong.” Nah loh. Ini logika yang kalau dijual kiloan, mungkin laku di Pasar Segiri. Internal Gerindra Kaltim langsung manas. 

Tapi rakyat Kaltim bukan penonton pasif, pian. Mereka turun ke jalan di Aksi Kaltim Darurat 214, 21 April lalu. Ribuan massa, tiga tuntutan sakral, yakni audit kebijakan yang boros kayak belanja pakai kartu kredit orang lain, stop KKN plus politik dinasti, dan paksa DPRD kerja bener, bukan cuma jadi penonton VIP. Demo sempat ricuh, water cannon menyemprot kayak lagi nyuci truk tambang, kawat berduri dipasang kayak dekorasi konser metal. Tapi rakyat? Tetap berdiri. Ini bukan demo, ini audisi keberanian massal.

Hasilnya? Gubernur muncul dengan video minta maaf. Janji perbaikan tata kelola dilontarkan. Yang paling epik, deklarasi mulai sekarang tidak ada lagi keluarga Mas’ud yang duduk santai di jabatan eksekutif atau tim ahli berbayar APBD. Kalimatnya manis. Manisnya kayak teh botol dingin habis panas-panasan. Tapi rakyat sudah belajar, yang manis belum tentu sehat. Kecuali, Koptagul, ups.

Soalnya cerita belum tamat. Kakaknya, Hasanuddin Mas'ud, masih duduk gagah sebagai Ketua DPRD Kaltim. Daeng bayangkan! Satu keluarga pegang eksekutif, legislatif, dan entah cabang mana lagi, ini bukan lagi dinasti, ini sudah franchise politik. Tinggal buka cabang di kabupaten sebelah, dapat bonus kursi empuk.

Publik juga belum lupa daftar belanja yang bikin alis naik, mobil dinas Rp8,5 miliar (ini mobil apa, bisa nyetir sendiri sambil ngopi?), renovasi rumah jabatan Rp25 miliar (ini rumah atau resort?), dan anggaran tim ahli yang gemuk seperti dompet pejabat habis perjalanan dinas. Semua ini sekarang masuk radar tuntutan. Bongkar, audit, telanjangi sampai transparan kayak kaca jendela baru.

Rakyat Kaltim lagi nulis sejarah. Bukan pakai tinta, tapi pakai suara serak di jalanan, spanduk “Kaltim Darurat KKN”, dan tekad yang lebih keras dari beton proyek mangkrak. Meski gubernur sudah copot adiknya dan minta maaf atas analogi yang melayang terlalu jauh ke orbit presiden, publik tetap pasang mode waspada. Jangan sampai ini cuma episode filler. Reda sebentar, lalu balik lagi ke pola lama seperti sinetron yang kehabisan ide.

Jadi begini, Bumi Etam, terus gas. Hari ini satu adik tumbang, besok siapa lagi kalau masih nekat main dinasti. Karena satu hal sudah terbukti, kalau rakyat kompak, kursi empuk pun bisa goyang kayak odong-odong kena gempa. Rakyat menang? Belum final. Tapi setidaknya, scoreboard sudah mulai bergerak. Bola panas ada di DPRD Kaltim. Rakyat menanti janji hak angket.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Fenomena Oplas Hidung yang Semakin Semarak

Fenomena Oplas Hidung yang Semakin Semarak
Fenomena Oplas Hidung yang Semakin Semarak.
Kalau dulu yang semarak di negeri ini cuma baliho politik, janji kampanye, dan wajah-wajah yang mendadak ramah lima menit sebelum pemilu. Kini ada fenomena baru yang tak kalah meriah, oplas hidung. Ya, bangsa yang sejak lahir diwarisi hidung tropis nan bersahaja, kini ramai-ramai mendaftar menuju era mancung nasional. Rasanya negeri ini memang selalu punya bakat luar biasa dalam urusan pencitraan, dari panggung parlemen sampai batang hidung.

Lucunya, hidung kini seperti nasib politikus. Kalau bentuk aslinya kurang meyakinkan, tinggal direvisi. Dulu yang diubah citra lewat konsultan media, sekarang yang diubah anatomi lewat dokter estetika. Semangatnya sama. Yang penting tampak lebih meyakinkan di depan publik.

Artis-artis papan atas sudah lebih dulu jadi pionir revolusi nasal ini. Rina Nose, misalnya, terang-terangan menyerahkan hidung dan kantung matanya ke tangan dr. Tompi. Biayanya belasan hingga puluhan juta rupiah, bahkan bisa menembus Rp 70 juta. Netizen pun geger seperti sidang paripurna. Ada memuji. Ada nyinyir. Ada pula mendadak jadi ahli bedah dari kolom komentar.

Lalu hadir Ria Ricis, yang tak mau ketinggalan kereta modernitas. Dengan alasan hidung tak simetris dan masalah sinus, ia ikut melakukan perombakan. Kalau di dalam negeri biaya sudah bikin jantung berdebar, luar negeri lebih bikin dompet masuk ICU. Korea Selatan Rp 70–200 juta, Thailand Rp 40–90 juta. Angka-angka ini kalau dibaca pelan-pelan rasanya mirip nominal proyek infrastruktur skala kelurahan.

Yang bikin ngakak sekaligus miris, fenomena ini tidak berhenti di kalangan artis. Masyarakat biasa ikut antre seperti sedang berburu sembako murah menjelang Lebaran. Klinik estetika di Jakarta, Surabaya, Bandung penuh sesak oleh warga yang merasa hidupnya belum lengkap kalau garis hidung belum menyerupai poster drama Korea.

Dari Rp 15 juta sampai Rp 40 juta, hidung bisa dipanjangkan, dipertajam, dipoles, bahkan mungkin diberi visi-misi lima tahun ke depan. Kepercayaan diri pun melonjak drastis. Seolah masa depan bangsa bisa ditentukan dari seberapa tajam siluet wajah saat foto profil.

Kalau dipikir-pikir, ini sangat politis. Di negeri yang sangat mencintai kemasan, substansi sering kalah oleh tampilan. Sama seperti pemimpin yang gemar mempercantik slogan tapi lupa memperbaiki isi kebijakan. Masyarakat pun diajak percaya, perubahan bentuk luar otomatis membawa perubahan nasib. Hidung mancung seolah menjadi manifesto baru kelas sosial. Lebih tinggi batangnya, lebih tinggi pula gengsinya.

Data internasional menambah rasa satir ini. Korea Selatan mencatat lebih dari 293 ribu pasien asing pada 2022, dengan 82 ribu di antaranya operasi plastik. Thailand juga jadi magnet Asia Tenggara. Bisa dibayangkan, ribuan warga Indonesia mungkin ikut menyumbang okupansi kursi pesawat demi satu tujuan mulia, pulang dengan hidung yang lebih diplomatis.

Fenomena ini akhirnya terasa seperti miniatur politik nasional. Tuhan memberi bentuk asli, manusia merasa perlu revisi total. Yang asli dianggap kurang menjual, yang buatan dianggap lebih punya masa depan. Pesek diperlakukan seperti rakyat kecil, sering diabaikan. Mancung dipuja seperti elite, selalu tampil di depan.

Maka lahirlah generasi yang percaya, masa depan bisa diukur dari sudut hidung, bukan dari isi kepala. Pesek dianggap warisan masa lalu. Mancung adalah simbol kemajuan. Padahal, kalau mau jujur, hidung tetap dipakai untuk bernapas, bukan untuk memenangkan kontestasi sosial.

Inilah komedi paling nyeleneh negeri ini. Saat politik sibuk oplas citra, rakyat ikut oplas wajah. Semua ingin tampak lebih baik, lebih tajam, lebih menjual. Bedanya, yang satu dibayar dengan uang pribadi, yang satu lagi sering dibayar dengan harapan publik.

“Bang, hidung abang kan pesek, kenapa tak oplas juga?”

“Waduh, wak. Mau pesek atau mancung sama aja, tetap dikenal Kang Ngopi. Kecuali ada oplas mulut agar semakin asyik seruput Koptagul, boleh.” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Keracunan MBG di Jeneponto, Siswa Bertaruh Nyawa

Keracunan MBG di Jeneponto, Siswa Bertaruh Nyawa
Keracunan MBG di Jeneponto, Siswa Bertaruh Nyawa.
Kalian kalau tengok videonya, sungguh menyayat hati. Seandainya itu anak kalian, gimana perasaan kalian? Andai terjadi pada anak pengelola MBG, masih mau makan MBG? Lebih jelasnya, nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Di Jeneponto, pagi itu seharusnya hanya berisi suara anak-anak membaca, tertawa, dan berlari mengejar masa depan yang belum mereka pahami. Tapi yang terdengar justru jerit panik, langkah kaki tergesa, dan napas yang dipinjam dari selang plastik. Video itu seperti palu yang menghantam nurani berkali-kali. Anak kecil digendong seperti tubuh tanpa jiwa, kepala terkulai, mata tertutup, bibir pucat. Sementara di dadanya hidup berusaha bertahan dengan sisa tenaga yang nyaris habis. Infus menetes pelan, seolah waktu ikut menangis, dan ambulans meraung seperti serigala yang kehilangan arah.

Ini bukan adegan film. Ini bukan latihan bencana. Ini nyata. Terjadi di SDN 07 Rumbia, ketika 27 manusia, 25 siswa dan 2 guru, tumbang setelah menyantap sesuatu yang disebut “makan bergizi gratis.” Gizi, kata yang biasanya hangat dan penuh harapan, tiba-tiba berubah menjadi ironi paling dingin. Tubuh-tubuh kecil itu bereaksi seperti diserang dari dalam, gatal menyiksa, mual menggulung perut, kepala berputar, napas tersengal, bahkan ada yang kejang seperti tubuhnya sedang berperang melawan sesuatu yang tak terlihat. Enam orang harus dilarikan ke rumah sakit, sisanya terbaring di puskesmas, dipasangi infus, seperti anak-anak yang dipaksa dewasa terlalu cepat, dewasa dalam penderitaan.

Diduga penyebabnya sepotong ikan layang goreng tepung. Ikan. Sesuatu yang mestinya memberi tenaga, kini berubah menjadi simbol betapa murahnya kehati-hatian. Entah ia sudah busuk sebelum dimasak, atau disentuh tangan yang tak pernah benar-benar peduli pada kebersihan, atau dibawa dalam rantai distribusi yang lebih longgar dari janji-janji yang sering diumbar, semuanya kini menunggu hasil laboratorium. Tapi tubuh anak-anak itu tidak menunggu. Mereka sudah memberi jawaban lebih cepat dari kertas mana pun.

Pihak sekolah bilang mereka kaget. Tentu saja kaget. Mereka hanya menerima, lalu membagikan. Seperti takdir yang dibagi rata tanpa pernah ditanya apakah layak diterima. Pihak penyedia dari SPPG menunggu hasil uji, berdiri di antara kemungkinan salah dan kebiasaan menyangkal. Sementara Badan Gizi Nasional berbicara dengan kalimat rapi tentang evaluasi, seolah tragedi ini sekadar angka dalam laporan, bukan tubuh anak-anak yang menggigil di ranjang perawatan. Pemerintah daerah Kabupaten Jeneponto bergerak, menyelidiki, menenangkan, memastikan tidak ada korban meninggal, kalimat yang terdengar seperti kabar baik, tapi di telinga orang tua, itu mungkin hanya penghiburan yang terlalu tipis.

Bagaimana rasanya melihat anak yang tadi pagi pamit sekolah dengan wajah cerah, kini terbaring dengan selang di hidung, jarum di tangan, tubuhnya dingin, napasnya dipinjam dari alat. Bagaimana rasanya ketika dunia yang selama ini dipercaya, sekolah, program negara, makanan, tiba-tiba berubah jadi ancaman. Itu bukan sekadar takut. Itu penghancuran kepercayaan sampai ke akar.

Di tengah semua ini, pertanyaan yang menggantung seperti pisau, kalau ini terjadi pada anak-anak mereka yang mengelola, yang menyusun program, yang menandatangani kebijakan, apakah mereka masih akan menyebutnya “bergizi”? Atau tiba-tiba semua standar akan berubah, semua prosedur akan diperketat, semua kelalaian akan diakui sebagai dosa yang tak bisa lagi disembunyikan?

Ini bukan sekadar insiden. Ini tragedi yang menelanjangi sistem. Program yang katanya memberi kehidupan, justru hampir merenggutnya. Anak-anak yang seharusnya dilindungi dengan segala cara, justru menjadi korban dari sesuatu yang bahkan tidak mereka pilih.

Di negeri ini, kadang yang paling mematikan bukan racun di dalam makanan, tapi keyakinan palsu,n semuanya sudah aman. Ketika keyakinan itu runtuh, ia tidak jatuh perlahan. Ia hancur sekaligus, menimpa siapa saja yang berdiri di bawahnya, termasuk anak-anak yang hanya ingin makan… lalu pulang.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama
Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama.
Apa sih yang dibanggakan dari Indonesia? Pembalap muda ini patut dibanggakan. Ente bayangkan, ia start posisi 17, saat finis, ia yang pertama. Lagu Indoensia Raya berkumandang, Merah Putih berkibar di Jerez, Spanyol. Simak narasinya dan kali ini seruput kopi boleh sedikit gula aren, wak!

Namanya Kiandra Ramadhipa. Asal Sleman. Umur masih cocok ditanya, “udah belajar belum?” Tapi yang dia pelajari bukan rumus segitiga, melainkan cara menyalip 16 orang sekaligus tanpa drama di Selat Hormuz.

Tanggal 26 April 2026 di Circuito de Jerez, Spanyol, Kiandra start dari posisi ke-17. Posisi yang dalam kehidupan sehari-hari setara dengan duduk paling belakang saat kondangan, makan duluan juga nggak, disapa juga nggak. Tapi bocah ini tampaknya punya prinsip hidup sederhana. “Kalau di belakang, ya tinggal ke depan.”

Benar saja. Dalam waktu 25 menit 48,363 detik, ia menyapu satu per satu pembalap seperti emak-emak menyapu halaman sebelum arisan. Puncaknya? Tikungan terakhir. Tempat di mana biasanya harapan orang Indonesia berakhir, Kiandra justru memulai klimaks. Ia salip Yaroslav Karpushin, Mateo Marulanda, dan Benat Fernandez sekaligus. Tiga orang. Satu tikungan. Ini bukan balapan, ini plot twist sinetron level dewa.

Indonesia Raya berkumandang. Bendera Merah Putih naik. Di suatu tempat, mungkin ada pejabat yang langsung bilang, “Ini harus kita jadikan program nasional,” padahal kemarin saja program lama belum selesai.

Kiandra ini bukan muncul dari hasil rapat koordinasi lintas kementerian dengan 17 tanda tangan dan 3 kali revisi font. Ia mulai balap sejak usia 5 tahun. Lima tahun. Di umur segitu, sebagian dari kita masih debat serius, Ultraman atau Power Rangers. Umur 9 tahun, dia juara MiniGP. Tahun 2022 menang MotoPrix Nasional. Tahun 2025 juara European Talent Cup dari posisi ke-24. Iya, dua puluh empat. Posisi yang kalau di birokrasi mungkin sudah disuruh pulang duluan karena “tidak memenuhi syarat administratif.”

Gaya balapnya tenang. Tidak reaktif. Tidak gampang terpancing. Sangat kontras dengan kebiasaan kita yang baru lihat judul berita saja sudah langsung jadi pakar. Dia simpan tenaga, jaga ban, atur ritme. Lalu di akhir, bam!, menyerang. Kalau ini diterapkan di dunia politik, mungkin kita tidak akan sering dengar kalimat sakral, “Kita bentuk tim dulu ya.”

Kiandra tidak sendirian. Ada Veda Ega Pratama yang sudah naik podium Moto3, sesuatu yang dulu terasa seperti mimpi basah pecinta balap Indonesia. Ada Mario Suryo Aji yang berjibaku di Moto2, menghadapi kerasnya kompetisi tanpa gimmick. Ada juga Fadillah Arbi Aditama yang diam-diam menanjak lewat JuniorGP dan wildcard Moto3.

Mereka ini bukan influencer. Tidak jualan skincare. Tidak bikin konten “sehari jadi pembalap”. Mereka kerja. Diam. Konsisten. Hasilnya? Dunia yang ngomong.

Sebelum mereka, ada generasi pembuka jalan, Dimas Ekky Pratama, Andi Farid Izdihar, dan Gerry Salim. Mereka ini ibarat fondasi rumah. Tidak kelihatan keren, tapi tanpa mereka, kita masih sibuk diskusi, “Bisa nggak sih orang Indonesia balapan di level dunia?”

Lucunya, di saat anak-anak ini sudah balapan lintas negara, sebagian kita masih balapan… debat. Mereka kejar podium, kita kejar komentar. Mereka fokus garis finis, kita fokus garis timeline.

Inilah Indonesia emas versi tanpa powerpoint. Kerja keras sejak kecil, jatuh bangun tanpa kamera, lalu meledak di panggung dunia. Tidak ada janji, tidak ada jargon. Cuma hasil.

Kalau ada yang masih bilang Indonesia belum siap, mungkin yang belum siap itu bukan negaranya, tapi mindset kita yang terlalu nyaman di posisi ke-17, sambil berharap tiba-tiba jadi juara tanpa pernah ngebut.

Kiandra sudah kasih contoh. Gas dulu. Menang belakangan. Sisanya? Silakan rapat.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Mengenal Agnes Aditya Rahajeng, Dinobatkan Puteri Tercantik di Negeri Ini

Mengenal Agnes Aditya Rahajeng, Dinobatkan Puteri Tercantik di Negeri Ini
Mengenal Agnes Aditya Rahajeng, Dinobatkan Puteri Tercantik di Negeri Ini.
Cerita politik kita pinggirkan sebenar. Termasuk cerita korupsi yang tiada habisnya. Sekarang cerita kita soal Puteri Indonesia, atau makhluk tercantik di negeri ini. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Pada 24 April 2026, di panggung megah Puteri Indonesia 2026 yang digelar di Jakarta Convention Center, sejarah tidak sekadar ditulis. Ia dipahat dengan highlighter emas, glitter, dan sedikit air mata haru yang dikemas sinematik. Nama itu adalah Agnes Aditya Rahajeng, perempuan asal Banten yang tiba-tiba membuat satu provinsi berdiri tegak sambil berkata, “Akhirnya, mahkota itu pulang.”

Agnes lahir pada 13 Januari 2000 di California, Amerika Serikat. Ini sebuah detail yang terdengar seperti pembuka film Netflix. Kemudian, berbelok jadi kisah lokal penuh makna. Tingginya 172 cm, cukup untuk menjangkau mimpi, dan cukup juga untuk membuat standar insecure nasional naik dua tingkat. Putri dari Christoporus Harno dan Maria Ekawati asal Blora ini bukan datang dari ruang hampa. Ia tumbuh dalam keluarga yang sudah akrab dengan dunia pageant, dengan kakaknya, Maria Rahajeng (Miss Indonesia 2014). Ini seolah memberi spoiler panggung ini bukan sekadar kemungkinan, ini takdir yang ditunda.

Jangan salah, ini bukan kisah “anak siapa menang karena siapa.” Agnes adalah Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Pelita Harapan. Ia datang ke panggung bukan hanya dengan wajah simetris dan langkah anggun, tapi juga dengan narasi. Ya, narasi. Sesuatu yang sering dilupakan dalam dunia yang terlalu sibuk mengukur kecantikan dengan pixel dan lighting.

Ia menang. Bukan sekadar menang, tapi mencetak sejarah sebagai wakil Banten pertama yang meraih mahkota. Seperti semua kemenangan besar, tentu ada bumbu dramatis. Kompetisi ketat melawan finalis dari Bali, DKI Jakarta, hingga Papua. Di Top 4, ia berdiri bersama Victoria dari Bali, Karina dari DKI Jakarta 3, dan Gisela dari DKI Jakarta 2. Lalu di final dua besar, ia berhadapan dengan Victoria. Plot twist-nya? Agnes tidak hanya bertahan, tapi mendominasi.

Jawaban pamungkasnya bukan sekadar jawaban. Itu adalah pukulan emosional yang elegan. Ketika ditanya memilih antara melanjutkan kuliah ke luar negeri atau merawat ibu yang sakit, ia menjawab, “Saya akan memilih ibu saya. Kesempatan akan selalu datang, tapi kehidupan hanya terjadi sekali.” Dunia pageant yang sering dituduh dangkal mendadak terdiam. Karena di tengah gemerlap lampu, Agnes mengingatkan, nilai keluarga masih lebih mahal dari semua sponsor.

Seolah belum cukup. Ia juga menyabet Best Traditional Costume Award dengan kostum perak berornamen badak bercula satu. Ikon Banten yang biasanya hanya jadi bahan buku pelajaran. Kini berubah jadi simbol kebanggaan yang berjalan di catwalk. Itu bukan kostum, itu manifesto visual.

Di luar panggung, Agnes bukan sekadar ratu sehari. Ia adalah model, content creator, dan arsitek ide melalui Studio Rahajeng dan Rahajeng Closet. Sebuah inisiatif fashion berkelanjutan dengan konsep reuse. Dalam dunia yang doyan belanja impulsif lalu pura-pura peduli lingkungan di Instagram, Agnes datang dengan konsep “From Excess to Empowerment.” Ia tidak sekadar bicara sustainability, ia menggunakannya sebagai alat pemberdayaan sosial.

Tentu saja, hadiah tidak berhenti di mahkota. Ia mendapatkan beasiswa pascasarjana Program Pembangunan Berkelanjutan di Universitas Indonesia. Karena di negeri ini, kecantikan yang berpikir masih dianggap paket premium.

Sebagai Puteri Indonesia 2026, Agnes tidak akan melangkah ke Miss Universe seperti ekspektasi awam, melainkan akan mewakili Indonesia di Miss Supranational 2026 di Polandia. Ya, kadang realita memang tidak mengikuti logika penonton, tapi justru di situlah keindahannya, selalu ada panggung lain untuk bersinar.

Agnes adalah ironi yang hidup. Di tengah dunia yang sering menilai perempuan dari luar, ia menang karena isi. Di tengah hiruk-pikuk kontes kecantikan yang dituduh superficial, ia justru menghadirkan kedalaman. Ia bukan sekadar pemenang, tapi pengingat, kecantikan sejati bukan soal wajah sempurna, melainkan keberanian untuk memilih yang benar, bahkan ketika itu tidak spektakuler.

Mungkin, di situlah kita semua kalah telak dari Agnes. Karena ia tidak hanya membawa mahkota, tapi juga membawa makna.

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Ini Gimana Ceritanya, KDMP di Atas Bukit Sendirian

Ini Gimana Ceritanya, KDMP di Atas Bukit Sendirian
Ini Gimana Ceritanya, KDMP di Atas Bukit Sendirian.
Lihat aja fotonya, gedung KDMP di atas bukit, sendirian. Di kelilingi hutan dan jurang. Tak ada rumah penduduk. Lantas siapa mau belanja di situ. Nah, gimana ceritanya, nikmati narasinya sambil seruput Koptaguk, wak!

Ini bukan cerita biasa. Ini kisah ketika akal sehat digeletakkan di tikar, disuruh istirahat, lalu realitas masuk pakai sepatu gunung sambil bilang, “Pegang keranjangmu, kita naik.”

Selamat datang di Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Desa Pesaren Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal. Koperasi yang seolah dibangun oleh panitia yang habis meditasi di gunung lalu mendapat wangsit, “Taruhlah pusat ekonomi rakyat… di tempat yang rakyatnya harus mikir dulu sebelum datang.”

Gedungnya merah menyala, berdiri gagah di atas bukit, dikelilingi hutan. Dari kejauhan, tampak seperti markas rahasia. Bukan koperasi, ini basecamp. Kalau ada drone lewat, mungkin mikir itu lokasi latihan militer. Padahal di dalamnya cuma ada minyak goreng, sabun, dan harapan yang sedikit ngos-ngosan.

Yang paling jujur justru tulisan di fotonya, “Koperasi Merah Putih – Jauh dari perkampungan.” Ini bukan sekadar informasi. Ini semacam peringatan dini. Seperti tulisan di kandang singa, “Masuk atas risiko sendiri.”

Netizen langsung mengamuk dalam bentuk kreativitas. Muncul nama-nama sakti, koperasi view gunung, koperasi uji nyali, koperasi cardio gratis. Ada yang bilang ini inovasi. Betul. Inovasi dalam menguji batas kesabaran manusia. Ada juga yang bilang ini destinasi wisata. Iya, wisata ekstrem, “Paket Belanja Sambil Menantang Takdir.”

Nuan bayangkan emak-emak naik motor. Di belakang ada galon, di depan ada anak, di hati ada doa. Jalan menanjak, batu berserakan, angin menusuk tulang. Sampai di atas, beli telur. Pulang, telurnya orak-arik sebelum dimasak. Gratis.

Warga lokal mulai bersuara dengan nada antara bingung dan pasrah. “Kenapa tak dibangun dekat pasar?” Pertanyaan sederhana, jawabannya… juga sederhana, tanah mahal. Maka diambil keputusan level dewa, pindah ke tengah hutan. Logika ini kalau diterapkan di tempat lain, mungkin kita bakal lihat ATM di dasar laut karena sewa ruko naik.

Pemerintah daerah tetap optimis. Katanya lokasi ini strategis. Lahan luas, parkir lega, suasana tenang. Tenang? Mas, ini bukan tenang lagi. Ini sunyi sampai suara dedaunan jatuh terdengar seperti bisikan leluhur yang bertanya, “Kau yakin datang ke sini cuma beli sabun?”

Fokusnya tetap satu, kesejahteraan rakyat. Meskipun harus menempuh perjalanan tiga kilometer, nanjak, keringat bercucuran, yang penting harga gula lebih murah Rp200. Ini bukan belanja, ini pengorbanan spiritual. Semacam ziarah ekonomi.

Pengamat ekonomi ikut geleng-geleng kepala sampai hampir copot. Mereka bilang koperasi itu hidup dari kedekatan. Kalau jauh begini, risikonya sepi. Tapi solusi tetap muncul, jadikan agrowisata! Bikin paket “Weekend Escape ke Koperasi”! Coba bayangkan turis asing datang bukan ke candi, tapi ke sini, demi merasakan sensasi beli mie instan sambil melawan angin gunung.

Ini bukan kasus tunggal. Ini bagian dari program nasional. Artinya, di luar sana mungkin ada koperasi lain yang lagi mikir, “Kita bikin di tepi jurang biar beda.” Atau di atas pohon, sekalian konsep Tarzan ekonomi kerakyatan.

Akhirnya, KDMP Pesaren ini jadi simbol. Simbol, kita ini bangsa luar biasa. Kita bisa mengubah hal sederhana jadi epik. Kita bisa menjadikan beli sabun sebagai perjalanan heroik. Kita bisa ketawa di tengah absurditas.

Orang datang ke sana bukan cuma sebagai pembeli. Mereka pulang sebagai legenda. Dengan napas tersengal, baju basah, dan plastik berisi beras, minyak, telur, mereka telah menaklukkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar jarak, mereka menaklukkan logika.

Saat turun dari bukit, satu pertanyaan menggantung di udara, lebih dingin dari anginnya, ini koperasi… atau ujian hidup?

"Bang, tujuannya bukan itu, tapi proyek cepat selesai. Soal gimana nanti, urusan belakangan."

"Sepertinya gitu sih, wak. Kalau di Kalbar, di tengah hutan sekalian." Ups

Foto dari akun Bang Ali 
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM