Iklan

Iklan

Jadi Warisan Budaya Takbenda, Inilah Sejarah Telur Asin Khas Brebes

Redaksi
17/10/20, 12:38 WIB Last Updated 2020-10-17T05:38:10Z
Jadi Warisan Budaya Takbenda, Inilah Sejarah Telur Asin Khas Brebes
Telur asin khas Brebes yang dinobatkan jadi warisan budaya takbenda Indonesia, Jumat (16/10/2020). (Imam Suripto/detikcom)


BorneoTribun | Brebes - Telur asin merupakan salah satu makanan khas Brebes Jawa Tengah yang sudah sangat terkenal. Baru-baru ini, telur asin ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Seperti apa sejarah telur asin?


Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes Wijanarto menjelaskan, telur asin bukan sekadar produk kuliner. Namun demikian mencakup pengetahuan dan keterampilan tradisional, filosofi gotong royong, dan identitas sosial masyarakat Brebes.


Wijanarto menjelaskan sejarah telur asin berawal tradisi warga keturunan Tionghoa dalam mengawetkan bahan makanan, termasuk telur. Telur asin ini kemudian bisa menjadi ikon makanan khas Brebes setelah melalui sejarah yang panjang.


"Jadi awalnya dari tradisi mengawetkan makanan dengan cara diasinkan. Peranakan Tionghoa selalu mengawetkan bahan makanan bila akan bepergian jauh sebagai bekal. Bukan hanya telur, jenis makanan lain juga diasinkan agar awet," ujar Wijanarto saat ditemui di kantornya, Jumat (16/10/2020).


Telur asin yang awalnya berasal dari sebuah tradisi, setelah sekian lama menjadi ikon makanan khas daerah. Ini berawal dari kuliner khas suku Tionghoa yang kemudian dikomersialkan sejak 1950-an.


"Sebetulnya, kalau kita lacak, telur asin ini berasal dari tradisi mengawetkan makanan dan ritus sesaji pada Sejit atau dewa bumi di klenteng-klenteng," ungkap Wijanarto.


Sebagaimana diketahui, kata Wijanarto, budaya kuliner khas Tionghoa berpengaruh terhadap budaya kuliner di nusantara. Salah satunya adalah teknologi tenaga pangan.


Teknik pengawetan makanan dengan pengasinan ini juga memberikan kontribusi paling penting dalam teknologi kuliner Nusantara, termasuk membuat telur asin.

Bermula dari sesaji dewa bumi, kemudian masyarakat Tionghoa ini menjadikan telur asin ini sebagai bagian dari kekuatan untuk bertahan pada masa transisi pasca-Kemerdekaan.


"Karena kita ketahui, selepas revolusi periode tahun 1945 sampai menjelang 1950, kondisi ekonomi saat itu dalam masa transisi setelah adanya dekolonisasi. Nah, telur asin yang sudah awet ini menjadi bagian ekonomi substansi masyarakat Tionghoa. Lama-kelamaan telur asin ini kemudian memiliki aspek ekonomis. Nah, tahun 1950-an ini mereka baru memulai untuk mengomersialkan telur asin," ulas dia.


Masyarakat Brebes mulai mengenal telur asin pada 1960-an. Bukan hanya keturunan Tionghoa, masyarakat pribumi juga sudah banyak yang mengenal cara pembuatan telur asin.


“Awalnya dari masyarakat adat yang dipekerjakan membuat telur asin oleh masyarakat Tionghoa. Setelah menyerap ilmunya, mereka membuat sendiri dan terus berkembang hingga sekarang,” jelas Wijanarto.


Dengan makin banyaknya orang yang membuat telur asin, banyak bermunculan pengusaha makanan ini. Bukan hanya Tionghoa, masyarakat pribumi juga banyak yang menjadi pengusaha telur asin. Sejak saat itulah Brebes mulai dikenal sebagai kota penghasil telur asin.


Brebes sebagai penghasil telur asin diuntungkan oleh adanya jalur Daendels atau yang dikenal dengan Pantura. Jalur ini menghubungkan kota-kota besar yang ada di Pulau Jawa. Kampung-kampung Pecinan dan kampung lain yang memproduksi telur asin berada tidak jauh dari jalur ini.


"Setelah Pantura, kemudian berkembang ke daerah tengah setelah dibukanya jalur tengah. Di situ muncul gerai-gerai telur asin yang menjadi sarana promosi dan terus berkembang hingga saat ini," sambung dia.


Pembangunan infrastruktur Trans Jawa pada awalnya sempat membuat usaha telur asin ini terjatuh. Outlet telur asin di Pantura banyak yang gulung tikar.


Bak seleksi alam, sejumlah pengusaha yang tetap mempertahankan mutu dan kualitas bisa eksis hingga sekarang. Mereka tetap diburu pembeli dari kalangan pelancong luar kota.


Pemilik gerai oleh-oleh telur asin terkemuka di Brebes, Hendra Purnomo (74), mengatakan bisnisnya ini tetap eksis meski sempat terpuruk oleh keberadaan tol Trans-Jawa. Dia menyebut kondisi itu tidak berlangsung lama dan sekarang sudah kembali normal.


"Pelanggan saya yang semula tidak mampir karena lewat tol, sekarang dibela-belain keluar tol untuk membeli di sini. Karena memang kami menjaga mutu telur asin," tutur Hendra saat ditemui terpisah. (red)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Jadi Warisan Budaya Takbenda, Inilah Sejarah Telur Asin Khas Brebes

Terkini

Iklan